Tidak ada yang spesial hari ini. Hanya ada Sewoon yang memainkan handphonenya dan Daniel yang sedang berbaringㅡtertidurㅡ dengan berbantalkan paha Sewoon.

Sekolah sudah berakhir sejak dua jam yang lalu, namun mereka masih berada di taman sekolah yang terletak di belakang sekolah. Beberapa kali Sewoon mengangkat kepala Daniel ketika pahanya terasa pegal.

Ketika Daniel membuka mata, hal yang menyambutnya pertama kali adalah wajah Sewoon yang tengah tersenyum lebar ke arah handphoneㅡyang menutupi sebagian wajahnya.

Daniel ikut tersenyum kemudian berpindah posisi; memeluk pinggang Sewoon kemudian membenamkan wajahnya pada perut Sewoon.

Sewoon tidak merespon, masih terlalu asik dengan dunianya.

"Lagi lihat apa, sih?"

Sewoon sedikit berjengit ketika merasakan sedikit getaran di sekitar perutnya, akibat mulut Daniel yang bergerak ketika bicara.

"A-apa, Kak?" Sewoon meminta Daniel mengulangi perkataannya. Suara Daniel terdengar samar.

Daniel sedikit menjauhkan wajahnya, "Lagi lihat apa?"

"Kwon Yuli." Jawab Sewoon disertai dengan senyuman.

"Yuri member Girl's Generation?"

Sewoon tertawa, "Bukan."

Daniel mendudukan diri di samping Sewoon, menyenderkan kepalanya pada bahu Sewoon sembari mencuri lihat pada handphone Sewoon.

"Lucu kan, Kak?" Tanya Sewoon.

"Hm," Daniel berpikir, "Cantikan Lauren, ah."

Sewoon menatap Daniel sengitㅡtanda tidak setuju, "Tapi Yuli lebih imut!"

"Enggak. Biasa aja."

"Ih, kok gitu siㅡ"

"Masih imutan lo daripada dia."

"H-hah? Masa aku disamain sama anak kecil?"

Daniel menatap Sewoon, "Tapi gue gak bohong."

Sewoon berdebar, "I-imut apanya sih, Kakㅡ"

"Waktu lo cemburu, waktu lo ngambek, waktu lo ngirim pap gak jelas, waktu loㅡ ngapain aja."

Sewoon menelan ludah dengan gugup, "J-jadi, Kak Daniel suka kalo aku ngambek?"

"Iya. Gue bilang suka, biar lo sering-sering ngambek."

Sewoon menoleh, ingin memberi tatapan tajam pada Daniel.

Alih-alih menatap Daniel dengan tajam, mata Sewoon justru membulat. Nafasnya tertahan ketika menyadari betapa dekatnya wajah Daniel.

Sewoon dengan segera membuang muka, "Kok Kak Daniel suka kalo aㅡ"

"Karenaㅡ" Daniel sengaja menggantung kalimatnya, "Apapun yang lo lakuin, gue suka."

.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.

Sewoon memeluk boneka Ponyonya dengan erat. Ia merindukan Daniel.

Sudah satu minggu ini Daniel susah sekali dihubungi. Daniel selalu membalas pesannya tigaㅡatau limaㅡ jam sekali, sehingga mereka tidak bisa mengobrol dengan bebas.

Daniel sedang berada di Los Angeles saat ini. Perbedaan waktu yang cukup jauh membuat komunikasi mereka menjadi sulit. Sewoon mengerti kepentingan Daniel disana, namun dia tidak bisa menahan diri untuk tidak merindukan Daniel.

"Gue harus pergi ke LA, Woon."

"Wih, liburan, Kak?"

Daniel menggeleng, "Nenek gue sakit. Bokap gak bisa berangkat, jadi cuma gue sama nyokap."

Sewoon mengangguk mengerti, "Berapa lama, Kak?"

"Belom tau. Tergantung keadaan nanti gimana."

"Oh, gitu. Yaudah, cepet sembuh ya, Kak, buat neneknya."

Daniel menangguk kemudian keheningan mengisi suasana di antara mereka.

"Ntar kalo gue kangen lo gimana?"

"Telpon kan biㅡ"

"Gue pengennya ketemu." Daniel menghela nafas, "Lo ikut gue aja, yuk?"

Sewoon tersenyum ketika ia mengingat percakapannya dengan Daniel. Dia masih tidak habis pikir bagaimana Daniel bisa berpikir untuk mengajaknya pergi ke Los Angeles.

Handphone Sewoon yang berbunyi membuyarkan lamunannya. Dengan cepat, tangan Sewoon meraih handphonenya dan membuka sebuah pesan masuk.

Mydef
oi woon
kangen gak? wkwk

Sewoon
kaaaak
aku udah nungguin dari tadi:(

Mydef
maaf baru sempet pegang hp

Sewoon
sibuk banget ya kaak?
neneknya belom sembuh? gws ya buat neneknya:(

Mydef
disini repot woon
harusnya gue ngajak lo aja biar bisa bantu bantu wkwk

Sewoon
ih aku dimanfaatkan

Akhirnya, Sewoon dapat mengobrol dengan Daniel cukup lama. Biasanya, Daniel hanya akan membalas pesannya sekali atau dua kali, kemudian kembali menghilang.

Sewoon ingin mengatakan betapa rindunya dia pada Daniel. Ia ingin Daniel tahu bahwa Sewoon sering merelakan jam malamnya untuk menunggu Daniel. Namun, Sewoon takut perkataannya justru akan menambah beban Daniel. Toh, hanya dengan mengobrol seperti ini, rasa rindu Sewoon sudah cukup terobati.

Seakan mendapat petunjuk, tiba-tiba Daniel meminta maaf karena tidak bisa menghubungi Sewoon secara intensif. Dia menjelaskan dengan rinci apa saja yang harus ia lakukan disana ㅡsehingga ia kesusahan hanya untuk sekedar mengambil handphone dan menghubungi Sewoon.

Sewoon mengerti. Ia justru merasa tidak enak karena membuat Daniel merasa bersalah padanya.

Mydef
sesibuk apapun disini gue selalu berusaha ngehubungin lo
apa lo butuh gue
walopun cuma semenit dua menit
apa ada hal yang bisa gue lakuin buat lo, walopun dari jauh
apa ada yang mau lo ceritain ke gue
atau apapun
gue sayang lo woon

Sewoon membanting handphonenya di atas kasur.

Daniel justru semakin membuat Sewoon merindukannya.

.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.

"Kalo dia bohong, itu artinya udah gak sayang lagi, kan?"

Adalah kalimat pertama yang keluar dari mulut Sewoon setelah satu jam berlalu.

Donghyun tidak mengerti. Sewoon terlihat aneh. Dia hanya menatap meja yang memisahkan mereka dengan kosong.

"Depends." Donghyun mengangkat kedua bahunya.

"Dia bohongin aku dua kali." Sewoon menatap mata Donghyun, "Bohong. Hal yang paling aku benci."

Donghyun diam. Menunggu Sewoon menyelesaikan ceritanya.

"Apa susahnya jujur? Aku juga gak bakal marah. Kenapa malah milih bohong? Coba waktu itu aku gak nanya lagi ke dia, apa dia bakal bohong terus?"

Mata Sewoon mulai berkaca-kaca.

"Aku tau ini masalah kecil, tapi aku bener-bener benci sama orang yang bohong. Aku gak bisa percaya lagi sama orang yang pernah bohongin aku, sekecil apapun permasalahannya."

Sewoon menghela nafas, berusaha menstabilkan suaranya yang juga mulai bergetar.

"Setelah hampir dua tahun hubungan kami, kenapa dia milih bohong buat hal sekecil ini?"

Donghyun tidak bisa tetap diam ketika melihat air mata Sewoon mulai menetes, "Dia pasti punya alesan, Woon. Jangan mikir aneh-aneh dulu."

"Apapun alesannya, kenapa dia harus bohong? Toh, dia bukan selingkuh, kan."

Donghyun menghela nafas, "Kalo gak separah itu, maafin aja, Woon."

Sewoon menggeleng, "Dia udah bohong dua kali. Terus, gimana aku bisa percaya sama dia buat ke depannya? Padahal, harusnya aku terus percaya sama dia selama kami masih sama-sama."

Donghyun menatap Sewoon dengan khawatir. Dia mengerti, sebenci apa Sewoon pada kebohongan.

Sewoon bukanlah tipe orang yang mudah percaya pada orang lain. Tentu saja, ketika orang yang ia percaya justru berbohong padanya, dia akan sangat kecewa.

"Aku gak pernah marah waktu aku lihat dia jalan sama orang lain. Aku gak marah waktu dia nggak nganggep aku. Aku gak marah waktu dia tiba-tiba badmood. Aku gak marah waktu aku harus nunggu dia yang sering telat pas kami kencan. Aku berusaha ngerti, when he's older tapi lebih kekanakan dari aku."

Sewoon mengatur nafasnya. Air matanya seakan memaksa ingin kembali lolos dari kelopak matanya.

"Aku gak bisa marah, karena aku sayang dia." Sewoon menghela nafas, "Tapi kalo dia bohong, apa aku tetep harus diem?"

Donghyun berpindah tempatㅡdari depan Sewoon menjadi di samping Sewoonㅡ ketika melihat air mata yang menggenang di kelopak mata Sewoon semakin banyak.

Tanpa banyak bicara, Donghyun memeluk Sewoon. Ia mengerti, Sewoon tidak membutuhkan nasehat apapun saat ini. Sewoon hanya membutuhkan seseorang yang mendengarkannya.

Tangan Donghyun bergerak untuk mengelus kepala Sewoon ketika ia mendengar isakan pelan Sewoon. Biarlah bajunya basah untuk hari ini, yang terpenting, Sewoon telah merasa ringan.

.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.

Akhir-akhir ini Daniel merasa Sewoon berbeda. Ia lebih pendiam, terkadang menanggapi Daniel dengan singkat atau bahkan sarkas.

Daniel tidak mengerti apa yang salah, dia tidak berani bertanya. Biasanya Sewoon akan dengan sukarela menceritakan masalahnya pada Daniel, bukan berubah menjadi pendiam seperti ini.

Bahkan setelah mereka selesai menonton sebuah film seperti ini, Sewoon tidak mengatakan apapun. Berbeda sekali dengan biasanya.

"Woon,"

"Hm?"

"Lo gak papa?"

Sewoon terdiam.

"Lo sakit? Di dalem emang dingin tadi."

Sewoon masih tidak menjawab.

"Kita pulaㅡ"

"Kak, kita putus aja, gimana?"

Sewoon melirik Daniel ketika Daniel tidak kunjung memberi respon. Ekspresi Daniel saat ini tidak bisa diartikan oleh Sewoon.

"Kan Kak Daniel udah kelas tiga juga jadiㅡ"

"Oke."

"H-hah?" Sewoon mengangkat kedua alisnya tidak mengerti.

"Lo mau putus, kan? Oke."

"Akuㅡ"

"Iya, gue ngerti."

Namun Sewoon tidak mengerti.

Daniel mengiyakan ucapan Sewoon begitu saja, ia bahkan belum mendengar alasan Sewoon.

Apa Daniel marah?

Atau dia berpikir Sewoon sedang bercanda?

Atau yang terburukㅡ

ㅡDaniel memang tidak menyayangi Sewoon lagi?

.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.

Semua berjalan baik-baik saja sampai Sewoon menyadari ia tidak pernah lagi mendengar kabar Daniel.

Tidak ada yang aneh jika setidaknya Sewoon melihat Daniel sekali atau dua kali dalam seminggu di sekolah. Namun tidak, ketika tim sepak bola sekolah bertanding pun Sewoon tidak menemukan Daniel di antara para pemain.

Sewoon mencoba untuk tidak peduli, toh ia bukan siapa-siapa Daniel lagi. Tetapi disinilah dia sekarang, di ujung koridor milik kelas tiga untuk menunggu teman Daniel.

"Kakㅡ"

Tiga orang laki-laki memberhentikan langkahnya ketika merasa seseorang memanggil mereka.

Walaupun Sewoon tidak cukup sering mengobrol dengan mereka, Sewoon mengenal mereka. Tiga laki-laki yang bernama Jisung, Minhyun, dan Hyunbin itu selalu ada bersama Daniel.

"Sewoon? Ada apa?"

"Kak Daniel-nya gak ada?"

Minhyun mengerutkan dahinya, "Lo gak tau?"

"Gak tau apa, Kak?"

"Wah parah si Daniel."

Sewoon memiringkan kepalanya tidak mengerti. Apa yang ia tidak tahu?

"Gue pikir kita doang yang gak dikasih tau, ternyata lo juga?"

"Gak dikasih tau apa?"

"Dia pindah. Tapi gue juga gak tau kemana." Jawab Minhyun.

"Kok lo bisa gak tau, Woon?" Kali ini Jisung yang bertanya.

"Sebenernya aku sama dia udah putusㅡ"

"Hah serius?" Pekik Jisung, "Gila, pantesan."

"Sebelum ngilang, Daniel kerjaannya cuma ngelamun. Berarti itu gara-gara lo?"

"Kok bisa putus, sih, Woon?"

"Padahal gue pikir lo berdua bakal lanjut sampe ijab."

"Lo yang mutusin?"

Sewoon mengangguk pelan, "Tapi dia langsung bilang iya, jadi yaudahㅡ"

"Masa langsung ngeiyain? Padahalㅡ"

"Padahal Daniel sayang banget sama lo."

"Dia gak pernah cerita apapun tentang pacar-pacarnya yang dulu, tapi lo beda. Tiap hari dia bahas lo, Sewoon inilah Sewoon itulah."

"Kalo tiba-tiba dia diem doang juga udah ketebak pasti lagi berantem sama lo."

"Dia juga pernah ngotot minta diajarin nyanyi, katanya biar gak kalah sama Donghyun. Emang Donghyun itu siapa, Woon?"

Pada saat itu Sewoon tidak tahu, apakah keputusannya untuk mengakhiri hubungannya dengan Daniel adalah benar.

.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.

jadi intinya, sewoon mutusin daniel gara gara daniel bohongin dia:(

oh iya, sewoon bakal ketemu daniel (sama ong) di master key huhu aku seneng bgt, walopun gaada jaehwan:(