Naruto (ナルト) disclaimer Masashi Kishimoto

Youkoso Jitsuryoku Shijou Shugi no Kyoushitsu e (ようこそ実力至上主義の教室へ) disclaimer Kinugasa Shougo

Mahesvara

Summary: Terbangun dari Kecelakaan Shinkansen Jepang. Namikaze Naruto seorang ahli Kenjutsu dari Jepang Modern kembali hidup di dunia lain, dia dikenal sebagai Dewa Perang Mahesvara, akan tetapi kini sang Mahesvara dipaksa menjadi seorang Pelajar Divisi Knight Celestia Akademi. Apa yang akan ditempuh oleh Naruto kedepannya.

Chara : Uzumaki Naruto, Sakura Airi, Ichinose Honami, Karuizawa Kei, Ayanokouji Kiyotaka, Horikita Suzune dan Kushida Kikyou

Rated : M

Genre : Adventure, Fantasy, Romance.

Warning : Ooc, Alternative Setting, tidak suka tidak usah dibaca

Maaf kalau ada kesamaan cerita dengan fic lainya atau kesalahan penulisan karena fic ini karena setiap manusia tak lepas dari kesalahan.

RnR please .. hehehehehe

Arc 01 : Beginning

Chapter 03 : Hal yang baru


NARUTO POV

FLASHBACK 3 TAHUN YANG LALU.

Di tanah yang hancur, reruntuhan rumah yang hancur lebur akibat kobaran api, potongan kayu berserakan dimana-mana, mungkin orang umumnya akan mengira bahwa tempat ini sudah terjadi bencana alam.

Tidak ada lagi jejak tanah yang dahulu nya sangat subur, padahal beberapa minggu lalu tempat ini sangat subur dengan banyak tanaman yang tumbuh subur di beberapa ladang milik warga, tapi kini semuanya hilang, semuanya musnahnya, yang tersisanya hanyalah sebuah potret kenangan bagi mereka yang pernah menempatinya.

Aku dapat mendengar beberapa jerit tangis, kesakitan dan keputusasaan di tempat ini. mayat-mayat gosong berserak dimana-mana, bahkan ada beberapa potongan tubuh manusia terceceran dimana-mana. Aku dapat merasakannya, aku dapat melihatnya, aku dapat mendengarnya, semua rintihan, jerit tangis, rasa kebencian dan keputusasaan.

Kenyataannya di usiaku yang baru mengijak 13 tahun, aku dapat melihat betul. Jadi inikah medan perang. Tempat dimana hanya ada kematian yang menjemputmu, tempat dimana kau hanya mendapatkan rasa keputusasaan. Tempat dimana jerit tangis dan kesakitan menguar ke udara.

Medan perang yang kuketahui kini. Seperti ini lah kenyataan, bagiku tempat ini adalah Neraka, Neraka yang baru saja aku lihat dengan mataku sendiri, dimana manusia sendiri menjadi korban dari ketidakseimbangan kekuatan dunia. Ras Iblis selalu menjadi pemenang dan Manusia selalu menjadi pecundang.

Aku berjalan menuju garis depan medan, perang disana dapat kulihat banyaknya korban dari Pasuka Kerajaan Yagumo. Aku dapat melihat seorang pria tua tengah sekarat disana, keadaannya begitu ironis, bagian perutnya terbuka lebar akibat sebuah sayatan bahkan ususnya pun terburai.

"Gahh…gahhh, ini pertama kalinya aku bertemu denganmu nak"

"Iya"

"Seperti yang diharapkan dari murid Senju Jiraiya, kau benar-benar menakjubkan sekali. Gebhookkk… meskipun aku sudah melewati pertarungan yang berat, tetapi kau dengan mudahnya mengalahkan Iblis terkutuk itu hanya dengan sekali serang"

melihat kondisinya, tak mungkin aku bisa menolongnya, jadi aku hanya terdiam melihat keadaan orang tersebut.

"Ghaaahhh.., aku hanya meminta satu hal padamu nak, tolong perjuangkan, apa yang kami perjuangkan disini. Buatlah manusia kembali merasakan kebebasan, bisakah kau melakukan hal itu nak"

"Iya, aku juga akan melakukan hal tersebut"

"Bagus, aku bersyukur akan hal itu, lakukan semuanya untuk teman seperjuangan kita, nak mulai saat ini sisanya aku serahkan padamu, kalau begitu aku akan pergi"

"Ya, aku mengerti"

setelah ia memberikan beberapa wasiatnya kepadaku, yang kulihat dia hanya tersenyum didalam kematiannya, dan yang kulakukan adalah hanya menutup mata dan mulut miliknya, setidaknya paman ini sudah berjuang melakukan hal yang terbaik bagi umat Manusia.

Setelah itu, aku kemudian berjalan menuju garis depan kembali, yang kulihat disana ada beberapa monster Iblis yang tengah mengunyah makanannya, yah makanan mereka adalah bangkai manusia. Dengan lahapnya terlihat mereka memakannya dengan rakus.

SYAAAAAAAATTT

SYUUUUUUUUTT

SRAAAAASSSSHH

tak perlu waktu lama, aku pun menebas beberapa monster terkutuk tersebut dengan pedang andalan milikku, aku menebas semuanya dengan mudah menyisakan beberapa kepala dan bangkai monster yang terbujur kaku.

yah dapat dilihat pedang milikku, bercampur darah hijau yang umumnya hanya dimiliki oleh para Iblis, darahnya begitu menjijikan bagiku. Tapi aku tak mempedulikan hal tersebut, karena prioritasku adalah memusnahkan seluruh monster disini.

Jika aku bertanya dalam hati, sebenarnya kenapa manusia harus melalui semua ini, apa manusia hanyalah hama yang menganggu ibu pertiwi Elhemmendia, dan juga aku bertanya-tanya apakah Dewi Celestia terus mengawasi dunia ini?

Jawabannya hanya satu, bagiku Dewi atau apalah itu aku rasa mereka tidak ada, kemana mereka semua disaat manusia membutuhkan perlindungan. Hah aku benar-benar tertawa dalam hati. Bahkan manusia sendiri harus menghadapi sebuah kenyataan. Dimana didunia ini ketidakadilan akan terus terjadi.

Karena itulah satu-satunya jalan untuk mendapatkan kebebasan adalah mengangkat senjata, tak usah kau berdoa didunia yang tak mempunyai keadilan ini, karena itulah cara agar bisa hidup di Neraka ini.

FLASHBACK END

NARUTO POV END


Sambil melihat cakrawala langit subuh, Naruto sendiri mengingat betul kenangan pertama kalinya saat terjun menuju medan perang, sungguh masa-masa yang tak akan terlupakan baginya. Karena dari sanalah dia tumbuh menjadi penyihir terbaik se Elhemmendia. Mengingat kejadian tersebut membuat Naruto menggelengkan kepalanya. Dia setidaknya tak harus terus mengingat masa-masa tersebut. Karena baginya saat ini adalah yang terpenting mengisi kesibukan yang ada didalam masa rehatnya. Oleh karena itu dia pun berlatih pedang setiap pagi harinya sebelum berangkat sekolah.

Seperti biasa sebelum berangkat sekolah selama 1 bulan terakhir, Naruto selalu saja berlatih pedang di Arena latihan B, padahal itu adalah arena latihan pribadi salah satu 10 Elite Celestia Academy, Ichinose Honami, tapi baginya dia tak begitu peduli karena tempat ini juga merupakan Fasilitas Sekolah, jadi setiap siswa berhak berlatih dimana pun ia mau. Selama tujuannya mengasah kemampuan dirinya. Dan juga jangan lupakan Arena latihan B ini sangat terpencil dibandingkan arena latihan lainnya, dengan begitu Naruto sendiri memang terlihat rutin memakai Arena Latihan B sebagai tempat berlatihnya. Itulah yang dipikirkan Naruto.

Kali ini Naruto sedikit melakukan beberapa gerakan sword skill miliknya, hanya terus mengasahnya saja, agar ia tidak tumpul, mengingat selama disekolah dia hanya menghabiskan waktunya dengan belajar dan membaca buku kesukaannya. Berbanding terbalik dibandingkan sewaktu dibarak militer, dimana ia selalu berlatih kemampuannya pedangnya.

Dapat terlihat Naruto sedikit memperagakan Sword skill dasar dari Namikaze Style.

Seperti yang terlihat, Naruto menahan tubuhnya di posisi menebas kebawah dan menatap kearah ranting pohon yang berada 5m didepannya. Namun, gak ada tanda-tanda ranting pohon itu hancur bahkan setelah efek dari skill itu menghilang.

Hal ini sudah bisa ditebak. Jarak skill dasar Namikaze Style «Slant» hanya 2.5 meter. Kekuatan nya tidak bisa meraih jarak yang dua kali lebih jauh.

Naruto pun menghela nafasnya dan berdiri tegak. Dia pun mulai mengatur nafasnya dan masuk ke posisi untuk skill selanjut nya.

Naruto pun kemudian menebas kebawah dari atas kanan, dan tepat saat pedang hampir menyentuh tanah, dia pun menarik ujung pedang keatas kembali seolah-olah terpantul keatas dan mengayunnya keatas lagi. Skill dua-serangan-beruntun Namikaze Style «Vertical Arc». Angin dari tebasan nya lebih ganas dari sebelum nya terbang dan menggoyangkan tanah berumput dengan kasar.

Sampai sekarang, Naruto telah melatih sword skillnya yang bisa dia gunakan dengan pedang kayu. Kemudian Naruto mengubah postur kakinya, menaruh pedang di pinggangnya tersebut, dan memutar tubuhnya ke kanan.

"...!'"

Dia mengumpulkan tenaga dan mengeluarkan tebasan horizontal ke kiri. Tebasan nya terlihat seperti menabrak udara yang tak terlihat didepannya, selagi gerakan horizontal tiba-tiba berhenti dan berbelok ke kanan atas. Naruto pun melangkah kedepan dan mengeluarkan tebasan jarak-pendek yang kuat kearah depan. Ini adalah skill tiga-serangan-beruntun Namikaze Style «Savage Fulcrum».

Naruto tanpa suara menatap jejak berwarna merah tua yang berbentuk seperti angka 4 Huruf Arab menghilang di udara. Dia mengangguk dan lanjut untuk menyiapkan sword skill berikut nya. Dia pun kemudian mengangkat pedangnya tepat keatasnya dan melakukan ayunan dari belakang kepala.

Terlihat Naruto melakukan tebasan level-tinggi, tebasan level-rendah, dan tebasan kedepan yang dihubungkan, dan kemudian mengangkat pedang kebelakang punggung ku sebelum melepaskan tebasan yang ganas. Cahaya biru yang melesat di udara terus berputar sambil maju kedepan. Jarak nya sangat jauh, dan hanya ada sedikit celah. Ini adalah sword skill yang ia sukai dalam seni berpedang Namikaze Style, «Vertical Square».

Tampaknya Naruto berhasil melakukan 4 jenis sword skill dengan sukses tanpa pengecualian. Sambil menghela nafas sebentar, dia pun tersenyum kecil karena kemampuannya kali ini tidaklah menumpul.

"Hah-hah.. sepertinya cukup sampai disini, sebaiknya aku istirahat sebentar, lagipula bisa mempraktekan 4 jenis sword skill Namikaze Style, aku rasa kemampuanku tak menumpul"

"Ara-ara Namikaze-kun, lagi-lagi kamu terus membuatku takjub dengan kemampuan berpedangmu itu"

Naruto sendiri yang mendengar pujian tersebut hanya berekspresi datar. Dia sudah tahu kalau senpainya yang sering berlatih sparring dengannya tersebut sudah berada disini sejak ia mengeluarkan sword skill Vertical Arc.

"Seperti biasa ya Senpai, kau selalu saja menguntitku disini"

"Mou apanya menguntit!, aku disini karena ini arena latihan pribadi ku."

"Tapi ini fasilitas Sekolah, setiap siswa berhak memakai arena latihan sesuai kepetingan yang berlaku bukan"

"Walau begitu, 10 Elite juga berhak menentukan arena khusus untuknya dalam berlatih Namikaze-kun."

"Oke, kalau begitu aku mengerti, Tapi kenapa kau selalu saja menguntitku ketika aku berlatih Senpai, itu kebiasaan yang buruk loh, apalagi Sebagai seorang bangsawan. Kebiasaan itu tak cocok denganmu. Lebih baik senpai berlatih denganku, daripada menguntiku setiap aku berlatih."

"Dan membiarkan pertunjukan pedangmu yang begitu menakjubkan ini terlewatkan, aku rasa itu sangat disayangkan Namikaze-kun"

"Terserah apa katamu Ichinose-senpai, walau begitu jujur saja dimataku Senpai mendapat nilai minus, karena kamu selalu saja menguntitku ketika berlatih, benar-benar sangat disayangkan gadis cantik sepertimu mendapat nilai minus dariku"

"Mou baka!, memangnya aku tertarik padamu Namikaze-kun, asal kamu tahu ya, gadis manapun tak akan suka dengan tipe pria kaku dan bermulut tajam sepertimu Namikaze-kun"

"Yah terserah apa katamu Senpai, lagipula aku yang sekarang ini masih belum mempedulikan hal tersebut."

"Mou Namikaze-kun no baka!, pria bermulut tajam dan dasar gak berguna!"

"Oi-oi senpai aku tidak bodoh yah, nilai ujian tertulis milikku ini tertinggi di akademi saat semester kemarin"

"Mou aku tahu hal itu Namikaze-kun!"

memang harus Ichinose Honami akui, kalau Kouhainya ini bisa dibilang salah satu murid terpintar di Celestia di Akademi, bahkan nilai Semesternya kemarin benar-benar mengejutkan. Dia bahkan bisa menyaingi seorang dari Horikita Manabu sewaktu ia berada di tahun pertama dalam ujian tertulis.

Padahal dia baru saja bergabung 1 bulan lalu, pada saat pertengahan semester 1 musim panas tahun ini, dan dia sudah menjadi Top rank dalam ujian tertulis, tentu membuat nama Namikaze Naruto tersebut menjadi bahan perbincangan, termasuk Ichinose Honami sendiri.

"Anoo Namikaze-kun?"

"Ada apa Ichinose-senpai?"

"Mengenai tawaranku kemarin, bisakah kamu mempertimbangkannya kembali?"

"Apa ini mengenai tawaranmu tentang Ichinose Familia dan masuk Divisi Penyihir?"

"Iya, soal itu apa kamu bisa mempertimbangkannya kembali, Namikaze-kun?"

"Tetap saja jawabannya tidak, Ichinose-senpai, maaf saja aku tidak bisa menerimanya"

"Tapi kenapa, bukankah seharusnya kamu senang, dengan masuk kedalam Famillia milikku, kamu bisa mendapat kemudahan fasilitas disekolah ini"

"Senpai, sudah kubilang beberapa kali, itu sangat mustahil, aku ini hanya seorang siswa yang memiliki Kepintaran tetapi dalam praktek Sihir aku sangat payah, jadi Divisi Knight lah yang cocok untukku."

"Namikaze-kun apa keputusanmu itu tak bisa diubah lagi?"

"Aku rasa tidak senpai, aku belum pantas masuk kedalam Familia milikmu dan juga Divisi Penyihir, jadi maafkan aku karena aku harus menolak tawaranmu"

Honami sendiri tentu sangat kecewa mendengar penolakan dari Naruto, tapi yah mau bagaimana lagi, ajakannya ini terbilang mustahil bagi siswa Divisi Knight yang notabenenya payah dalam Pratik Sihir. Jadi keputusannya Naruto sangat masuk akal dengan menolak tawaran menggiurkan dari salah satu 10 Elite tersebut.

"Baiklah, aku mengerti Namikaze-kun, aku menghargai keputusanmu, tapi kalau kamu berubah pikiran, aku akan selalu menerimamu dengan tangan terbuka"

"Arigatou Ichinose-senpai, aku menghargai apa yang kamu tawarkan, tapi maaf saja karena inilah keputusanku"

"Iya, aku mengerti Namikaze-kun, tapi aku akan menunggumu jika kamu berubah pikiran"

"Terima kasih atas pengertianya Senpai, Kalau begitu aku pamit undur diri karena jam sekolah akan segera dimulai."

dengan alasan tersebut, akhirnya Naruto pamit undur diri, Naruto sendiri bergegas menuju asramanya untuk berganti seragam. Yah tampak nya jam sekolah akan segera dimulai. Sedangkan Honami sendiri hanya tersenyum sulit melihat kepergian Kouhai yang menarik minatnya tersebut.


SKIP TIME

Biasanya, Siswa Celestia Academy, jika menghabiskan waktu istirahat dengan makan siang Bersama di kantin atau beberapa tempat Favorit lainnya, akan tetapi untuk Naruto sendiri dia sedikit berbeda.

Terkadang dia makan siang Bersama dengan Kiyotaka dan terkadang dia juga mengunjungi perpustakaan untuk sekedar mencari referensi bacaannya, dia memang hobi membaca, bahkan selama 1 bulan terakhir dia begitu terkenal pemuda sedikit berbicara dan hanya berfokus dengan buku bacaannya, apalagi mengenai beberapa buku yang membahas Teori Sihir, dia memang sangat menggemari hal tersebut. Karena itulah terkadang Naruto sendiri secara tak sadar dijuluki teman-temannya tersebut dengan si Ikemen Kutu buku.

Kini Naruto Nampak tengah melihat-melihat buku disebuah perpustakaan, dengan santai ia memilah-milah beberapa buku yang akan dibaca nya, yah dia memang sedikit tertarik apalagi topik yang ingin baca tentang sihir terbang, yang menurutnya menarik rasa penasarannya.

Buku yang ingin Naruto baca sekarang adalah "Flying magic interference" karya Hasabe Hanzo. Ini adalah Buku yang ditulis oleh tetua klan Hasabe dan terkenal di Pengembangan Sihir. Naruto sendiri ingin melakukan penelitian ini, karena ada sesuatu hal mengganjal baginya, mengenai Interfensi Sihir terbang yang pernah di coba oleh Penyihir Kerajaan Yagumo, ternyata mengalami Kegagalan. ?

Naruto kemudian mengulurkan tangannya untuk meraih buku "Flying magic interference ", tapi disaat bersamaan dia merasakan ada seseorang yang juga ingin mengambil buku yang sama Naruto cari, nampaknya gadis itu juga ingin mengambil buku yang sama. Melihat gelagat gadis tersebut, Naruto sendiri akhirnya mengalah, dan membantu gadis tersebut dengan memberikan buku coba dicapai gadis itu.

'Aku mungkin telah melakukan sesuatu yang tidak perlu ...' pikir Naruto

Sedangkan Gadis tersebut agak tertegun sebentar melihat sikap Naruto yang mengalah kepadanya. Tapi nampaknya gadis tersebut memilih menerimanya.

"Anoo. Arigatou, sudah mau mengambilkan buku ini padaku"

"Sama-sama, lagipula awalnya aku berniat mengambilnya, tapi melihatmu sedang kesusahan mengambil buku yang sama. Lantas lebih baik aku memberikannya padamu saja"

"Tapi bukankah kamu juga memerlukan buku ini?"

"Tidak, aku tidak mempunyai keperluan terhadap buku tersebut, hanya saja aku tertarik membacanya"

"Kalau begitu terima kasih, sudah mau memberikan ini padaku"

Terangnya sambil tersenyum manis, jujur saja jika pemuda normal pada umumnya, mungkin mereka akan mimisan melihat gadis ini. senyum menawan layaknya bidadari, parasnya yang memiliki kecantikan diatas rata-rata, surai rambut kepang dua layaknya bunga sakura tersebut, manik mata blue shapire yang dilengkapi dengan kacamata. Benar-benar terlihat seorang dewi, tentu bagi laki-laki biasa dia akan luluh dan bertekuk lutut dengan gadis dihadapan Naruto tersebut. Tapi bagi Naruto kali ini dia tidak begitu tertarik, hanya saja ada rasa empati ketika mengalah dengannya. Jujur ini adalah hal langka baginya melakukan perbuatan tersebut karena bagi Naruto biasa dia tidak mempedulikan apa yang dilakukan oleh orang lain.

"Yah sama-sama, kalau begitu aku pergi dulu mencari buku lain.."

"Tu-tunggu..!"

Naruto sendiri berhenti melangkah ketika, blazer miliknya ditarik oleh tangan mungil milik gadis tersebut. Dapat dilihat ekspresi gadis tersebut begitu menggemaskan ketika menarik blazer Naruto, untuk menahannya agar Naruto tidak pergi.

"Ada apa?"

"Etto-sonno, bisakah kamu memenuhi permintaanku?"

'Permintaan?, kenapa dia tiba-tiba melakukan hal itu terhadapku' pikir Naruto

"Memang ada apa?"

"Setidaknya, bolehkah aku mengajakmu makan siang bersama denganku?"

"Makan siang bersamaku?, apa kamu yakin?"

"Iya, setidaknya ini sebagai ucapan terima kasihku kepadamu, karena sudah mau memberikan buku ini"

"Apa kamu yakin, lagipula ini hanya perbuatan kecil. Jadi tak perlu repot-repot membalasnya"

"Setidaknya, biarkan aku membalas kebaikanmu, walau menurutmu ini hanya perbuatan kecil"

Melihat tatapan gadis tersebut yang bersungguh-sungguh dengan niatnya tersebut, membuat Naruto akhirnya mengangguk pasrah. mau tidak mau dia melakukan hal tersebut karena dia sebenarnya tak ingin melihat tatapan kecewa dari gadis tersebut.

"Baiklah, aku akan memenuhi permintaamu"

Sontak dapat terlihat ekspresi gadis tersebut Nampak begitu senang mendengar Naruto mau menerima ajakannya tersebut.

"Kalau begitu terima kasih sudah mau makan siang bersamaku, ettto…"

"Namikaze Naruto, kamu bisa memanggilku dengan nama Naruto."

"Kalau begitu Naruto-kun, sekali lagi aku berterima kasih padamu yang mau memenuhi permintaan egoisku ini, dan izinkan aku mempernalkan diri, namaku Sakura Airi."

Pada akhirnya Naruto sendiri, memenuhi ajakan Airi untuk makan siang bersamanya. Kebetulan Airi yang kini mentraktirnya untuk makan siang dikantin. Setelah mengobrol lebih banyak dengan Airi, Naruto baru sadar kalau Airi ini sengakatan dengannya, kali ini dia berada tingkat tahun pertama kelas 1-A Celestia Academy. Sakura Airi merupakan Siswi tercerdas seangkatannya di Divisi Penyihir. Walau begitu nilai ujian tertulis milik Naruto lebih tinggi dari Airi bahkan melebihi Horikita Manabu pada saat dia berada di tingkat tahun pertama dahulu.

Tentunya ini menjadi bahan perbincangan, ketika mereka berdua makan bersama dikantin, bahkan yang lebih mengejutkannya Airi pun rela makan bersama dengan Naruto di area timur Kantin sekolah yang notabenenya merupakan Area Divisi Knight.

Dan jangan lupakan tatapan tajam menghampiri Naruto disana, tentu banyak laki-laki yang melempar glare terhadapnya terutama dari siswa Divisi Penyihir yang menatap tajam Naruto disana. Bisa dibilang hal ini adalah reaksi wajar mengingat Sakura Airi adalah salah satu primadona disekolah.

Namanya tersebut bahkan disamakan dengan Ichinose Honami, Horikita Suzune, Sakayanagi Arisu, Hyuuga Hinata, Senju Kyuubi kedalam salah satu tujuh putri tercantik di Celestia Academy.

Melihat reaksi didapat membuat Naruto menghela nafasnya, dia sendiri sebenarnya menganggap hal ini merepotkan tapi mau bagaimana lagi karena ini memang ajakan (paksaan) dari Sakura Airi terhadapnya. Jadi dia hanya mengacuhkan berbagai tatapan tidak suka terhadapnya.

"Jadi Naruto-kun sering berkunjung diperpustakaan?"

"Yah aku sering mengunjungi perpustakaan karena ada beberapa buku yang menarik untuk kubaca"

"Pantas saja aku sering melihatmu membaca buku disana, rupannya Naruto-kun tertarik juga dengan buku"

"Memang aneh yah jika aku membaca buku?"

"Tidak kok, hanya saja jarang melihat seorang laki-laki sepertimu memiliki hobi membaca buku, biasanya teman laki-laki sekelas denganku memiliki hobi berlatih saja, jarang ada yang seperti dirimu Naruto-kun"

"Yah, sebagian besar aku membaca buku karena hobi tapi sebagian besar lagi aku membaca buku karena ada beberapa hal yang membuat ku tertarik untuk menelitinya"

"Meneliti? memang apa yang membuatmu tertarik Naruto-kun?"

"Contoh nya saja dari buku yang kamu pinjam hari ini Sakura-san, Interferensi Sihir terbang, aku sedikit tertarik dengan pengaplikasian sihir tersebut karena dizaman ini belum ada satupun penyihir yang mampu mewujudkannya"

"Bahkan penyihir no 1 sekalipun?"

"Yah bahkan penyihir no 1 sekalipun, menurutku Interferensi Sihir Terbang ini sulit dilakukan mengingat ada kesalahan fatal dalam pengaplikasian Teorinya, kamu pasti tahu bukan soal percobaan Sihir terbang yang dilakukan Klan Hasebe dibulan lalu?"

"Iya kalau percobaan sihir tersebut aku sedikit mengetahuinya, yang aku tahu mereka mengalami kegagalan besar karena mereka tak bisa mengaktifkan rangkaian sihirnya"

"Iya dan kamu tahu Sakura-san, apa penyebab kegagalan Sihir tersebut?"

"Apa sang penyihir tidak memiliki suplai mana yang cukup untuk mengaktifkan Rangkaian Sihir miliknya?"

"Tidak, menurutku justru faktor kesalahan dari eksprimen yang dilakukan Klan Hasebe adalah rangkaian sihir tersebut."

"Eh maksud Naruto-kun? seperti apa?, kenapa kesalahannya bisa berada di rangkaian sihir mereka"

"Yah kerena menurutku itu sangat tidak mungkin, sebuah rangkaian sihir keluaran bisa ditimpa dengan sebuah rangkaian sihir lainnya dalam satu pelafalan mantra sihir. Bahkan menambahkan rangkain sihir inteferensi bidang dalam sebuah rangkaian sihir, bagiku itu sangat mustahil kecuali jika kamu menghapus rangkaian sihir sebelumnya dalam suatu mantra rapalan sihir. Walau begitu tetap saja ini sangat mustahil jika kamu tetap menambahkan rangkaian anti sihir dalam pelafalan mantra interfensi Sihir terbang. "

"Kalau begitu bisa dikatakan Klan Hasabe sudah melakukan Eksperimen sia-sia karena mereka mengaktifkan Rangkaian sihir yang tidak memiliki efek sama sekali?"

"Benar, jadi menurutku banyak penyihir dari Klan Hasabe sudah salah kaprah dengan Rangkaian antisihir itu sendiri, sangat ironis sekali mereka gagal karena faktor mendasar"

Tertegun itu reaksi dari Airi mendengar penuturan Naruto, Airi sendiri dapat melihat Kepintaran Naruto sudah melebihinya bahkan melebihi seluruh siswa di Celestia Academy, yah itu sangat wajar mengingat Naruto ini berasal dari Divisi Knight yang notabenenya selalu mengutamakan keterampilan berpedang, bisa mengetahui betul tentang rangkaian sihir, bahkan memecahkan masalah yang ia angkat dalam penelitian yang Airi lakukan. Yaitu kegagalan percobaan Interferensi Sihir Terbang yang dilakukan oleh Klan Hasebe.

"Naruto-kun!, Sepertinya pertemuan kita hari ini memang sudah ditakdirkan oleh Dewi Celestia!"

dengan wajah antusias Airi sendiri mengepalkan tangan Naruto begitu erat dengan kedua telapak tanganya. Manik blue shapire menyorotkan sebuah antuasisme dari Sakura Airi, bahkan pandanganya semakin dekat terhadap Naruto, tentu membuat Naruto risih.

"Bahkan kamu bisa memecahkan masalah yang akan kuangkat dalam seminar minggu depan, kamu bisa mengetahui faktor kesalahannya yang bahkan aku tidak sadari!"

"Ano.. Sakura-san"

"Kamu benar-benar brillian Naruto-kun, kamu memiliki bakat yang sama denganku, tidak bahkan jauh melebihi bakat milikku, aku rasa suatu saat kamu akan menjadi pembaharu system Sihir yang menurutku perlu sebuah revolusi besar!"

"Anoo.. Sakura-san"

"Jadi menurutku kita ini adalah pasangan yang takdirkan dalam memperbaharui Sistem Sihir didunia ini, oh benar-benar menakjubkan bisa bekerja sama denganmu membuat imajinasiku menjadi nyata!"

"Maaf.. Sakura-san, bukannya bermaksud menganggu Imajinasimu, tapi bukankah ini sudah terlalu dekat"

Airi sendiri tersadar dari imajinasinya berkat teguran dari Naruto, dia sendiri menyadari kalau ia sudah sangat dekat dengan wajah Naruto, bisa dilihat posisi nya benar-benar intim, bahkan kedua dahi milik mereka menyatu baik. Orang-orang dikantin terkejut melihat keintiman Naruto-Airi disana, bahkan banyak siswi-siswi disana sudah merona merah karena mereka mengira Airi akan mencium Naruto ditempat ini.

"Fueehh-hh"

BLUSSSSSSHH

Tak berselang lama momen ini membuat Airi merona merah malu ditempat. Bahkan wajahnya kini terlihat seperti kepiting rebus.

"Gomen-nasai! Naruto-kun, saya sendiri tidak bermaksud seperti itu, berbuat amoral terhadapmu!"

"Tenanglah Sakura-san, aku tahu tadi itu cuma reaksi kelepasanmu ketika kita membahas hobimu tadi, jadi aku tak mempermasalahkannya"

"Sekali lagi aku meminta maaf Naruto-kun, sudah merepotkanmu" cicit Airi

"Tidak apa Sakura-san, lagipula aku cukup senang bisa membahas apa kugemari bersamamu tadi"

"Tapi Naruto-kun, itu tadi sangat memalukan, aku merasa ingin mengubur diriku sendiri"

"Pffftttt…"

melihat tingkah Airi barusan, tentu membuat Naruto menahan tawa, bagaimana tidak tertawa melihat gadis kelewat polos ini memiliki antusiasme besar jika menyangkut hobinya tersebut, bahkan gadis ini kepelasan karena membahas hal yang ia sukai.

"Mou Naruto-kun, kenapa kamu malah tertawa, apa kamu mengejekku?"

"Hah-ha-ha.. tidak hanya saja kamu ini benar-benar lucu, aku baru mengetahui ada gadis cantik sepertimu memiliki reaksi berlebihan tentang hal yang ia sukai"

Merona merah, itu reaksi yang terlihat dari Sakura Airi ketika Naruto memujinya dengan kata gadis cantik. Jujur baru kali ini ia baru merasakan hal berbeda ketika ia dipuji oleh seorang laki-laki, karena biasanya banyak lelaki yang memujinya akan tetapi pandanganya bukan mengarah pada mata Airi, sedangkan Naruto sendiri tetap berbicara dengannya bahkan memujinya sambil menatap matanya dengan intens.

"Mou Naruto-kun, jika kamu terus bereaksi seperti itu, itu malah membuatku ingin menguburku diriku kedalam tanah tahu!"

"Walau begitu, aku menyukai tingkahmu itu Airi, itu benar-benar menghiburku"

Sakura Airi sendiri tersenyum kecil ketika mendengar Naruto menyukai tingkah lakunya, tapi dia baru sadar ada hal yang mengejutkan baginya, tadi bukankah Naruto memanggil nama kecilnya.

"Ehhh… Naruto-kun, tadi kamu memanggilku dengan nama depanku kan?"

"Memang kamu tidak suka, jika aku memanggilmu begitu?"

"Tidak, hanya saja aku sedikit terkejut, mengingat sedari kita mengobrol kamu hanya memanggil margaku saja"

"itu adalah reaksi spontan milikku, jadi apa itu sedikit mengganggumu?"

"Tidak, itu tidak begitu mengangguku kok, terserah Naruto-kun mau memanggilku seperti apa"

'lebih anehnya entah kenapa aku begitu nyaman ketika kamu memanggilku dengan nama kecilku'

Sebenarnya Airi sendiri tidak terlalu suka dipanggil nama depannya oleh lelaki tak ia kenal, tapi anehnya bagi Naruto, Airi merasa ia begitu nyaman ketika Naruto memanggil nama kecilnya tersebut, sepertinya Airi sendiri menganggap Naruto pemuda yang berbeda dibandingkan dengan pemuda lainnya.

Kesan awalnya Naruto adalah pemuda yang dingin dan agak tertutup, tetapi entah mengapa setelah mengalami perbincangan Panjang, ia merasa melihat sisi yang berbeda Naruto, ia memang pribadi yang kalem tapi Airi dapat melihat kalau Naruto ini pribadi yang ramah dan hangat. Bahkan ketika ia mengobrol dengan Naruto, matanya begitu lekat menatap manik blue shapire milik Airi. Berbeda dengan pemuda lainnya, selalu saja menatap bagian tertentu milik Airi sehingga ia begitu risih ketika mengobrol dengan laki-laki. Tapi bagi Naruto sendiri Airi begitu nyaman berbincang dengannya.

"Baiklah aku mengerti, jika itu maumu Airi"

Dan pada akhirnya mereka melanjutkan beberapa perbincangan mereka, selagi Naruto mengobrol bersama Airi, entah mengapa Naruto kini menjadi pribadi yang ramah, bahkan terkadang membuka percakapan konyol membuat Airi tetawa kecil. Tampaknya bersama Airi ada sensasi baru ia rasakan. Yah Naruto sendiri begitu lepas berbincang bersama Airi yang notabenenya gadis yang ia kenal baru-baru ini. jujur ini merupakan hal langka baginya selama ia hidup didunia ini.

'sudah sangat lama aku tak merasakan perasaan ini, dan ini hanya terjadi ketika aku berbincang dengan Airi, sebenarnya apa yang terjadi denganku'

renung Naruto sambil melihat Airi tertawa kecil karena beberapa lelucon miliknya tersebut. Yah Naruto sendiri tak tahu apa yang terjadi dengannnya, tapi rasanya berbincang dengan gadis bersurai layaknya bunga sakura tersebut bukanlah hal menganggu untuknya.

Jadi menurut Naruto, ia tak terlalu memikirkan apa alasannya, jadi sekarang ini ia hanya ingin menikmatinya dengan tenang, seperti menikmati lambaian angin sepoi yang membuatnya merasa sejuk. Yah tidak buruk juga merasakan hal seperti ini pikir Naruto dalam hati.


Yosh ini adalah Chapter 03 dari fic Mahesvara. Oke langsung saja sedikit ringkasan pembahasan Chapter 03.

Bisa dibilang Chapter 03 ini bukanlah Chapter yang special, karena hanya membahas sedikit kilasan masa lalu Naruto.

Tetapi di Chapter ini sudah dimunculkan Heroine baru. Yah tak lain tak bukan adalah Sakura Airi. Chapter 03 merupakan debut dari Sakura Airi di Fic ini.

Bisa dibilang Sakura Airi merupakan salah satu murid tercerdas dalam angkatannya di Divisi Penyihir, ia berasal dari Kelas 1-A Divisi Penyihir, mengenai Skill dan Kemampuannya, masih digodok serius oleh Author, tapi yang pasti Sakura Airi mempunyai kemampuan rapalan mantra sihir yang luar biasa.

Selanjutnya mengenai S-poin Sakura Airi, masih belum diungkapkan, tapi seperti yang disebutkan dalam pembahasan Chapter sebelumnya, kemungkinan Sakura Airi memiliki S-point yang sama dengan Naruto, yaitu 100k S-Point.

Dan juga kalian bisa melihat Interaksi Naru-Airi disini

Lalu kalau masalah Pairing, saya kemungkinan saya bakal mengambil Airi untuk dimasukan kedalam Pair Naruto. akan tetapi kalau Heroine lain masih akan dipertimbangkan mengingat saya masih mempertimbangkan apakah fic ini hanya memakai Single Pair atau Harem Pair.

Dan di Chapter 04 saya bakal menjanjikan pembahasan lebih serius, mengingat chapter 1-3 merupakan arc Pembuka

Tentu akan banyak kekurangan disana-sini karena itu saya membutuhkan beberapa kritik dan saran untuk pengembangan cerita ini.

Mungkin ini akan terlihat sangat membosankan bagi anda semua kerena Fic ini bertema Isekai tetapi Author sendiri berjanji akan mulai menampilkan beberapa perbedaan aspek menarik lainnya. Oleh karena itu jika kalian ingin mengikutinya silahkan ikuti terus perkembangan Fic ini.

Maaf kalau masih ada penulisan yang Typo, Ambigu, Gaje dan sebagainya. Author akan berusaha terus untuk memperbaiki hal tersebut.

Silahkan RnR Minnaa...