Betrayal
Disclaimer : Naruto Selalu menjadi milik Masashi Kishimoto, Saya hanya memiliki plot cerita dalam fanfict ini saja.
Warning : Gaje, abal, OOC, Typo dan Miss Typo seperti biasa nya mereka masih enggan meninggalkan saya sendirian.
D'stello Bar, Tokyo Japan
Jam menunjukkan pukul dua belas malam, tapi sekumpulan anak muda itu belum beranjak dari tempat duduk mereka. Itachi dan Hana harus pamit dua jam yang lalu karena mereka harus memastikan Meiko sudah tidur sementara, Tenten dan Neji masih berada disana dengan teman-teman yang lainnya. Sakura menyesap gelas kedua untuk tequila sunrise miliknya dan sesekali tertawa saat mendengar Naruto membongkar aib memalukan milik bungsu Uchiha yang kini tengah duduk disebelahnya.
"waktu itu kami sedang berlibur ke Hawaii. Keluarga kami selalu merencanakan liburan bersama dan saat libur musim panas tiba kami memutuskan untuk pergi kesana." Naruto menahan tawa gelinya saat mendapat tatapan mematikan dari Sasuke.
"Jangan dilanjutkan." Naruto hanya membalas tatapan mematikan Sasuke dengan kerlingan jenakanya dan tidak menghiraukan bungsu Uchiha itu.
"Ayah dan ibu kami juga Itachi-nii sudah siap untuk makan malam, aku juga sama. Tapi Sasuke menolak untuk pergi, jadi kami pergi tanpa dirinya. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya tapi setelanya saat kami kembali dua jam kemudian, Sasuke sedang berada di koridor hotel hanya menggunakan pakaian dalamnya." Semua orang tertawa,
"Saat itu kalian masih anak-anak?" Sakura refleks bertanya, suara tawanya yang indah mengalun, tanpa disadari bungsu Uchiha yang duduk disebelahnya itu ikut tertawa dan tanpa di duga membuka suara
"tidak. Itu liburan musim panas sebelum masuk SMA." Kali ini gelak tawa berasal dari segala sudut meja melingkar tempat mereka berkumpul,
"Sasuke-san, aku tidak tahu kalau kau begitu percaya diri untuk berkeliaran hanya menggunakan pakaian dalammu." Sakura kembali menyesap minumannya, Sasuke tersenyum kecut dan ikut meminum Vodkanya
"Terimakasih banyak Sakura. Kau membantu sekali." Ia menggerutu sebelum mencomot sebuah nachos dan memakannya. Sakura berpaling dan kembali berbincang dengan yang lainnya sampai akhirnya sebuah panggilan menginterubsi kegiatannya. Gadis merah jambu itu mengambil ponselnya dan meminta izin keluar sebentar meninggalkan Sasuke dan yang lainnya keluar bar dan mengangkat telfonnya.
"Okaa-san…" ujarnya,
"Sakura, ini sudah hampir tengah malam. Kau akan pulang jam berapa? Besok kita harus mulai mengepak barang-barang sebelum pindah." Sakura menepuk dahinya,
"Ah… aku benar-benar minta maaf, Okaa-san. Aku akan segera pulang, tolong jangan terlalu khawatir." Ujarnya
"Segeralah pulang atau kau bisa meminta temanmu mengantarmu pulang malam ini. Ini sudah hampir dini hari, aku khawatir kalau kau pulang sendirian." Sakura menghela nafasnya sebentar
"Okaa-san, aku akan baik-baik saja. Tolong jangan terlalu khawatir dan istirahatlah. Aku akan segera pulang setelah ini. Sampai bertemu lagi nanti." Ujar gadis merah jambu itu sebelum menutup telfonya dan kembali kedalam bar.
Saat ia kembali ke meja bundar tempat mereka duduk bersama tadi, Sasuke dan yang lain masih asik membicarakan beberapa hal konyol tentang masa kecil mereka dan kenakalan yang mereka lakukan sebelum duduk di bangku universitas seperti sekarang. Sakura duduk ditempatnya dan menyesap minumannya hingga tandas sebelum meraih tasnya dan berdiri dengan sedikit terhuyung. Alkohol memang bukan kombinasi yang baik untuknya.
"Sakura-chan, kau mau kemana?" Naruto angkat bicara dan memandang heran kearah gadis merah jambu itu,
"Aku harus pulang sekarang , besok pagi-pagi sekali harus mengepack barang-barangku sebelum pindah ke apartement yang baru. Lagi pula ibuku sedang kurang sehat jadi, aku harus pulang duluan." Ujarnya,
"Kau akan pulang naik apa?" gadis itu terdiam sat Sasuke menginterubsinya, benar mobilnya.
"Taksi?" Sasuke berdiri dari tempat duduknya dan meraih mantelnya dan mantel milik Sakura lalu menawarkan lengannya,
"Sasuke-san. Aku bisa naik taksi." Sakura berusaha meyakinkan, tapi laki-laki bermarga Uchiha itu justru melipat tangannya dan memandang lurus kearah irish emerald miliknya,
"Apa kau sedang bercanda? Kau pergi bersamaku dan kau fikir aku akan membiarkan mu pulang naik taksi sendirian seperti pria tidak bertanggung jawab di tengah malam begini?" ujar pria itu, tapi Sakura justru masih diam di tempatnya dan orang lain di meja itu masih memperhatikan,
"Sasuke-kun aku bisa meminta supirku mengantar Sakura sampai kerumanya. Lagi pula ini adalah pestamu bukan?" Hinata kini membuka suara dan mencoba menyelesaikan masalah, Sasuke merubah arah pandangnya kearah gadis indigo itu sebentar,
"Kau tidak dengar apa yang ku katakan Hinata? Aku akan mengantarnya. Aku yang memintanya untuk pergi kepesta ini bersama ku hari ini jadi, aku yang akan mengantarnya pulang. Ayo Sakura. " Tanpa menunggu jawaban gadis merah jambu itu Sasuke menuntunnya keluar bar, sementara teman-temannya yang lain hanya bisa membeku di tempat duduk mereka.
Sasuke tidak pernah bicara dengan nada seperti itu kepada Hinata. Baginya Hinata seperti adik yang selalu harus ia lindungi tapi kali ini berbeda. Hinata memandang punggung Sasuke dan Sakura yang menghilang di balik pintu masuk dan kembali duduk di kursinya. Naruto yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya pelan. Cepat atau lambat Hinata harus menerima kalau Sasuke tidak memiliki perasaan yang sama kepadanya. Selama ini,bagi Sasuke sosok Hinata tidak lebih daripada seorang teman lama dan adik baginya, ia sudah mencoba memberikan sinyal halus kepada Hinata untuk mundur secara perlahan dan sepertinya gadis itu tidak mengerti atau bahkan tidak mau mengerti sama sekali. Naruto menggelengkan kepalanya lalu menegak blue margarita miliknya hingga tandas dan berpaling kepada Shion.
"Kau sebaiknya ku antar pulang juga, bisa-bisa ayahmu membunuhku kalau aku belum mengantarmu pulang juga." Shion mengangguk. Naruto menyampirkan mantelnya ketubuh gadis bersurai pirang yang sudah ia kencani selama dua tahun itu lalu menghampiri Hinata.
"Jangan Sedih, Sasuke bilang padaku kau adalah perencana pesta yang hebat, Hinata-chan." Ia memberikan pelukan singkat kepada Hinata yang mengantarnya keluar dari bar,
"Aku ketoilet sebentar." Shion menginterubsi dan menyelinap kembali masuk kedalam bar.
"Sasuke menghargai semua yang kau lakukan hari ini. Jangan tersinggung dengan apa yang dia katakan tadi atau sikapnya. Kau tahu Uchiha yang satu itu kan? Aku akan menendang patatnya untuk mu besok pagi. Lagi pula, menunggu seseorang yang tidak akan datang kepadamu bukanlah hal yang baik Hinata.
Saat ini, untuk pertama kalinya aku melihat Sasuke bisa bersikap seperti itu kepada seorang gadis. Kau tahu kan, aku dan Itachi-nii sama-sama mengira kalau dia itu gay, tapi ternyata sepertinya kami salah." Naruto tertawa geli sendiri mengingat leluconnya dan Itachi,
"Pergilah berkencan, aku yakin banyak pria di Todai yang lebih baik dari pantat ayam yang satu itu. kau tahu, seseorang yang tidak akan bersikap sedingin itu atau membuatmu menunggu. Sebentar lagi yang lain akan pulang, aku juga harus mengantar Shion pulang kerumahnya. Jadi, hati-hati dalam mengemudi dan jangan minum terlalu banyak." Hinata hanya terdiam mendengar kata-kata yang di ucapkan Naruto barusan.
"Terimakasih senpai, tapi sebetulnya aku tidak sedang menunggu siapapun." Ujarnya, Naruto mengangkat sebelah alisnya, ia melihat Shion sudah berjalan kembali mendekat kearah mereka
"Kau yang tahu dirimu lebih baik, Hinata. Kau bahkan tidak bisa berbohong pada dirimu sendiri. Dewasalah dan terima semua yang ada. Kau tidak bisa memaksakan seseorang untuk mencintaimu." Shion sudah kembali, gadis pirang itu memandnag Naruto dan Hinata bergantian,
"apa yang kalian bicarakan?" Hinata mengangkat kedua bahunya dan tersenyum,
"Bukan apa-apa, Naruto-senpai hanya takut ayahmu akan menyambut kalian dengan senapan di tangannya." Shion tertawa, Naruto hanya menghela nafasnya dan memberikan pelukan kepada gadis indigo itu,
"Jangan minum terlalu banyak dan hati-hati dalam mengemudi. Shion, ayo!" ia sempat mengacak-acak pelan surai indigo Hinata sebelum meraih tangan Shion dan keluar dari bar tempat mereka berpesta.
Hinata menunduk dan menatap ujung stiletto miliknya. Apa yang Sakura miliki dan ia tidak miliki? Gadis itu menggeleng pelan, lalu kembali masuk kedalam bar dan menghampiri teman-temannya yang lain yang pastinya sudah siap untuk mengucapkan selamat tinggal.
Sakura's apartement, Tokyo
Sasuke memarkirkan mobil sport mewahnya didepan gedung apartement sederhana tempat tinggal Sakura. Ia turun dan membukakan pintu mobil untuk gadis merah jambu itu dan membantunya keluar. Sakura sudah setengah tidur saat mereka tiba di apartementnya itu dan nyaris terhuyung jatuh kalau saja Sasuke tidak menahan berat tubuhnya.
"Ayo." Ujar pria itu, ia mengulurkan tangannya kepada Sakura.
"Aku bisa sendiri." Sasuke menaikkan sebelah alisnya,
"Kau bahkan hampir jatuh terjerembab saat turun dari mobil. Kau mau berjalan atau perlu ku gendong ?" wajah gadis Haruno itu memerah.
"Sasuke-san! Kau benar-benar tidak perlu mengantarku sampai kedepan apartementku. Aku akan baik-baik saja." Sasuke memandang Sakura sesaat, gadis ini benar-benar keras kepala.
"Kalau begitu masuklah, aku akan menunggumu disini sampai kau masuk kedalam elevator." Ujarnya, Sakura menghela nafasnya
"Kau tidak perlu melakukan semua ini, Sasuke-san. Aku bukan anak-anak." Ujarnya, Sasuke hanya memandangnya dan menunjuk elevator dengan wajah tampannya yang angkuh.
"Ini sudah hampir setengah dua malam Sakura. Masuklah, kau bilang kau harus membatu ibumu untuk mempacking seluruh barang-barang kalian sebelum pindah hari minggu besok kan?" Sakura menepuk dahinya dan mengangguk.
"Baiklah, terimakasih untuk semuanya hari ini. Aku baru mengenalmu hari ini, tapi kau benar-benar orang yang baik. terimakasih banyak." Sakura tersenyum lalu berjalan dengan sesekali menoleh kebelakang menatap Sasuke.
"Gunakan matamu dengan benar saat kau sedang berjalan, Nona Haruno." Ujarnya, Sakura hanya tergelak lalu masuk kedalam loby apartementnya, baru setelah itu menghilang diantara pintu elevator yang tertutup. Sasuke memegang dada sebelah kirinya, ini pertama kalinya setelah sekian tahun ia bisa merasakan jantungnya berdegub lebih cepat dari biasanya , ia tersenyum sendiri dan meruntuki kekonyolannya hari ini sebelum kembali mengemudikan mobilnya kearah mansion Uchiha.
Uchiha Mansion, Tokyo
Ponselnya berdering saat ia baru saja keluar dari kamar mandi dan menyelesaikan mandi air panasnya, Hana masih belum kembali dari kamar Meiko putri kecil mereka. Itachi meletakkan handuknya diatas jemuran di depan pintu kamar mandinya dan meraih ponselnya, menggeser tombol hijau dilayarnya sebelum menempelkannya di telinganya.
"Selamat malam, Itachi." Suara seorang wanita berbicara dengan Bahasa perancis yang cukup fasih terdengar menyapa indra pendengarannya.
"Guilliana." Balas Itachi,
"Aku hanya ingin tahu kapan kau dan Hana akan kembali ke paris." Itachi memasang headset Bluetooth nya melangkah masuk kedalam walk in closet miliknya dan mengganti pakaiannya dengan piama
"aku tidak tahu, ada apa?" balas sulung Uchiha itu dengan Bahasa prancis yang tak kalah fasih
"ada yang harus aku diskusikan denganmu. Bill, sudah memastikan kau adalah pemenang tender grand hotel di paris, suamiku bilang ia perlu membahas proyek ini sesegera mungkin denganmu." Itachi tersenyum, ia melangkah keluar walk in closetnya dan duduk diatas ranjangnya. Hana sudah kembali, wanita itu tengah duduk di meja riasnya dan sibuk menyisir surai coklatnya.
"aku mengerti, aku akan kembali dalam dua minggu ke Paris. Sampaikan terimakasihku kepada Bill." Ujarnya
"Akan ku sampaikan. Katakan pada Hana kami harus keluar untuk minum kopi saat ia berkunjung kesini dan aku sudah kirimkan beberapa rancangan baruku untuk acara fashion week di Tokyo bulan depan. Aku berharap bisa mengirim pakaiannya secepat mungkin. Dan sampaikan kepada putrimu kalau aku merindukannya." Itachi tergelak,
"Akan kusampaikan Guilliana, terimakasih banyak." Ujarnya sebelum menutup telfon dan memeluk Hana yang sudah meyelinap masuk kedalam selimut mereka dan memeluknya.
"Guilliana Mark?" Itachi mengangguk,
"Teman baik mu itu berhasil meyakinkan suaminya untuk bekerja sama dengan ku. Aku memenangkan tendernya dan akan keparis dua minggu lagi." Hanya tersenyum lalu mengecup suaminya itu
"Selamat sayang, kau benar-benar sudah mewujudkan impian mu." Itachi mengangguk dan engeratkan pelukannya kepada wanita yang sudah memberikannya seorang putri itu.
"Setidaknya aku juga harus menyiapkan Sasuke untuk memimpin perusahan Uchiha." Hana mengangguk setuju dengan ucapan suaminya itu.
"Aku tahu, aku akan membantu kalau di butuhkan. Ngomong-ngomong Itachi-kun… apa menurutmu kalau aku mencoba menjodohkan Sasuke dan Sakura, ibu dan ayah akan setuju?" Tanya Hana, Itachi menegakkan tubuhnya,
"Sakura? Maksudmu pegawai baru di boutique mu yang pergi malam ini ke pesta Hinata kan?" Hana mengangguk, sepasang iris kumbangnya menatap Itachi,
"Aku sudah mengenal tabiat Sasuke dan gerak geriknya, selama ini dari yang aku perhatikan ia berusaha membuat Hinata mengerti untuk tidak berharap terlalu banyak padanya. Ia tidak menyukai Hinata, Itachi-kun Tapi saat dia melihat dan memperlakukan Sakura mala mini. Aku yakin adik mu itu sedang jatuh cinta." Itachi terkekeh pelan,
"Aku tidak tahu Hana, kalau ayah dan ibu tidak keberatan saat aku menikahimu. Itu artinya mereka juga tidak akan keberatan dengan hubungan Sasuke dan Sakura. Tapi, pastikan jangan teralalu terlihat kalau kau berusaha menjodohkan mereka, kau bisa mencari tahu latar belakang gadis itu terlebih dahulu dan memikirkannya lagi matang-matang sebelum bertindak lebih jauh." Hana mengangguk,
"Aku tahu. Aku akan mencari tahu lebih banyak tentang Sakura nanti." Itachi hanya mengangguk dan mengiyakan kalimat istrinya itu,
Sakura's Apartement, Tokyo
Jam sudah menunjukkan tengah malam, tapi gadis merah jambu itu masih terjaga dikamarnya. Sebuah buku sketh gambar ukuran A5 berada di pangkuannya dan sebuat pensil terjepit diantara kedua jarinya. Sakura berhenti sebentar dan memandang design pakaian yang baru jadi setengahnya itu. gadis itu mengambil sebuah bantal berwarna pink yang ia letakkan disebelahnya dan memeluknya. Ia menyandarkan tubuhnya ke kepala ranjang dan memandang sinar bulan yang menyusup masuk melalui celah jendelanya yang tidak tertutup tirai.
"Aku bukan laki-laki seperti itu Sakura, aku seorang pria baik-baik dari keluarga yang terhormat. Tetapi kau tahu kan? Alkohol bisa merubah seorang pria terhormat menjadi bajingan sialan." Tanpa ia sadari senyum mengembang diwajahnya kala kalimat yang di lontarkan Sasuke tadi sore kembali membayanginya. Pria itu, dia benar-benar jenis pria yang langka. Tidak banyak pria seperti dia di muka bumi ini.
Malam ini adalah pestanya, tapi ia tidak minum terlalu banyak karena tahu sampai mana batas kekuatannya untuk menahan pengaruh alkohol. Dia juga bersikeras mengantar Sakura sampai ke apartementnya di tengah malam seperti ini. Ia menganggap gadis merah jambu itu sebagai tanggung jawabnya, seakan-akan keselamatan Sakura adalah segalanya. Tapi benarkah seperti itu atau hanya Sakura saja yang berfikir terlalu jauh dan berharap terlalu tinggi?
Saat ayahnya tengah berjaya dalam bidang bisnis dulu, ia mungkin sederajat dengan mereka. Ia memiliki segalanya yang dia inginkan tapi sekarang? Perusahaan ayahnya gulung tikar dan ayahnya sudah lama meninggal dan menyisakan banyak hutang yang harus ia bayar perlahan-lahan. Semuanya habis dan tak bersisa, setelah jatuh kelubang yang sangat dalam seperti ini, bagaimana ia bisa memimpikan kalau Sasuke akan melihatnya? Sakura, jangan bercanda!
Sakura menghela nafasnya, ia menguap sebentar dan memandang potret ayahnya yang terselip di sampul buku sketsanya. Gadis itu menghela nafasnya berat, setiap kali memandang foto itu rasanya seperti ada sebilah pisau tidak kasat mata yang kembali menyayat luka didalam hatinya, bayangan bagaimana ayahnya berusaha keras mempertahankan semua asset yang ada, bekerja keras untuk membangun kembali apa yang hilang dan selalu gagal dalam usahanya apalagi bayangan saat ayahnya harus menderita karena penyakitnya dan tidak bisa mendapatkan pengobatan lanjutan yang layak dan dari semua penderitaan itu, ia bersyukur karena setidaknya ayahnya tidak perlu merasakannya lagi.
"Otou-san, Apakah memikirkan seorang pria yang baru kita temui bisa dikatakan sebagai jatuh cinta? Aku tidak tahu apa yang akan kau katakan saat tahu siapa dia nanti tapi, dia pria baik. pria yang luar biasa baik, saking terlalu baiknya dia dan keluarnya, aku sampai ragu kalau aku pantas untuk memikirkan dia dalam benakku. Benarkan?" ia menghela nafasnya sekali lagi sebelu menutup buku skethnya dan menarik selimutnya, ia berbaring memandnag langit-langit kamarnya dan mendengarkan suara detak jantungnya yang berirama tidak karuan. Bahkan hanya dengan tatapan dinginnya saja, Sasuke Uchiha bisa membuat gadis-gadis rela membunuh hanya untuk bisa duduk berdekatan dengannya. Sakura menggeleng pelan. Dia bisa gila.
Next day….
Sakura bangun keesokan harinya karena suara rebut di dapur dan bau kare yang sedap. Gadis cantik itu melangkah keluar dari kamarnya dan mendapati ibunya tengah sibuk memotong bahan-bahan yang ia perlukan untuk dimasak pagi ini. Sakura berjalan masuk kedalam kamar mandi dan mencuci mukanya lalu membantu Ibunya membuat teh untuk mereka pagi ini.
"Kau tidak kuliah hari ini?" Ibunya membuka suara saat mereka sudah duduk di meja makan, Sakura hanya menggeleng,
"Tapi aku akan bekerja di boutique sampai jam makan siang, aku akan membantu ibu mengemas barang-barangnya sepulang dari boutique hari ini." Ibunya hanya tersenyum dan mengangguk.
"Ibu tidak melihat mobilmu saat belanja keluar tadi." Sakura mengangguk dan menelan makanannya,
"Lubang kuncinya membeku, aku meninggalkannya di kampus. Seorang teman mengantarku pulang semalam." Jawabnya,
"Kau akan mengambilnya hari ini?" tanya Mebuki, Sakura hanya mengangguk
"baiklah, habiskan sarapanmu." Ujar wanita itu sambil menuangkan segelas teh kedalam gelas putrinya.
Uchiha Mansion, Tokyo
Setelah sarapan selesai, Sasuke mengambil kunci mobil dan mantelnya dengan cepat dan melangkah keluar rumah setelah berpamitan secara singkat kepada ibunya. Pria itu bahkan tidak punya waktu untuk menjawab pertanyaan ibunya saat ia berpamitan tadi, satu-satunya yang menghentikan langkahnya adalah gadis indigo yang tengah berdiri didepan pintu masuk rumahnya pagi ini. Ini terlalu pagi untuk bertamu kerumah seseorangkan?
"Hinata?" Sasuke memandang bingung gadis yang kini tidak berani membalas tatapannya itu,
"Sasuke-kun." Cicitnya, Sasuke menghela nafasnya, apa lagi sekarang?
"Ada apa?" Gadis itu memandnag Sasuke sebentar lalu mengalihkan padangannya sekali lagi,
"Ano… tolong temani aku ke pameran interior hari ini. Ada tugas yang harus ku selesaikan minggu depan tentang pameran ini." Sasuke melirik jam tangannya dan Hinata bergantian,
"Aku minta maaf Hinata, tapi hari ini aku tidak bisa. Aku ada janji dengan temanku." Hinata menghela nafasnya
"Teman? Naruto –senpai?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya, dan sejak kapan ini menjadi urusan gadis berdarah Hyuga ini.
"Bukan, dan Tolong Hinata. Kau harus tahu urusan mana yang bisa kau campuri dan yang tidak bisa kau campuri. Kalau kau butuh teman, aku rasa Hana-nee bisa menemanimu atau ajak adikmu. Aku benar-benar tidak bisa pergi sekarang. Maaf." Setelah mengatakan hal itu Sasuke berlalu begitu saja, Hinata menghela nafasnya. Sasuke memang tidak memiliki perasaan khusus apapun kepadanya, tapi Sasuke tidak pernah menolak ajakkannya dan bersikap sedingin ini. Hinata kembali mengangkat wajahnya dan memandang Hana yang sudah berdiri lengkap dengan coat dan boots musim dingin di tubuhnya, wanita itu memandangnya bingung sambil menggunakan Shall rajutan tebal di sekitar lehernya.
"Hinata?" Ujarnya,
"Hana-nee, Selamat pagi." Hana tersenyum hangat seperti biasanya.
"Sasuke baru saja pergi." Hinata mengangguk,
"Aku sudah bertemu dengannya tadi, Ngomong-ngomong nee-chan aku permisi." Hinata membalikkan tubuhnya begitu Saja, Hana hanya menggeleng pelan. Kapan gadis indigo itu akan menyerah? Ia menghela nafasnya dan masuk kedalam mobilnya saat Kisame datang dan membukakan pintu kursi penumpang untuknya, ini mungkin hari Sabtu, tapi Tokyo Fashion Week memaksanya untuk masuk hari ini, dia berharap Sakura datang tepat waktu hari ini.
Sakura's Apartement, Tokyo
Sakura baru saja akan melangkah keluar dari apartementnya kalau saja bungsu Uchiha itu tidak membuatnya terkejut dan diam mematung di ambang pintu apartementnya. Demi Tuhan! Ada apa dengan pria ini sebenarnya?
"Sasuke-san! Kau membuatku takut, aku fikir ada pembunuh bayaran yang berniat membunuhku." Sasuke tertawa pelan mendengar respon gadis merah jambu di depannya.
"Aku minta maaf kalau membuatmu terkejut, kau benar-benar menyukai cerita detektif semacam itu eh?" Sakura hanya menggerutu, lalu menutup pintu di belakang punggungnya dan mulai berjalan,
"Ada apa pagi-pagi sekali ke sini? Dan bagaimana caranya kau bisa tahu nomer dan lantai apartement dimana aku tinggal?" Sasuke hanya mengikuti gadis merah jambu itu masuk kedalam elevator dan mendengarkan pertanyaannya, gadis ini cerewet. Dan entah kenapa dia menyukainya.
"Aku menjemputmu setelah itu aku akan ke kampus mengurus mobilmu." Sakura berbalik dan menoleh kearahnya yang tengah bersandar di diniding metal elevator,
"Kau tidak perlu melakukan semua itu." Sasuke menaikkan sebelah alisnya,
"Sebenarnya, Sakura. Aku sudah meminta Kakashi untuk mengurus mobilmu dia akan mengantarnya ke boutique sebelum makan siang dan sebagai teman yang baik hari ini aku ingin mengantarmu kesana." Ujar Sasuke, Sakura memutar bola matanya
"Aku tidak mengerti kenapa kau mau melakukan ini semua Sasuke-san. Anda benar-benar tidak perlu melakukan itu semua." Sakura melangkah keluar elevator dan Sasuke mengikutinya, Ia menghentikan langkah gadis itu saat ia berjalan melewati mobil sport mewahnya. Sakura tidak habis fikir apa yang ada didalam kepala bungsu Uchiha itu.
"Karena aku ingin. Karena aku bisa. Aku ingin melakukan semua itu dan aku mampu melakukannya. Hanya itu Saja." Sakura memandang bingung pria yang kini berdiri dihadapannya, ia tetap tidak mengerti
"Aku tetap tidak paham." Sakura melangkah lagi tapi Sasuke tetap menghalanginya,
"Tolong, sekali ini saja, mobil ku ada disana." Sasuke menunjuk mobil Sportnya.
"Aku bisa naik Bus, Sasuke-san. Aku sudah hampir terlambat." Ujar Sakura,
"Kalau begitu aku akan ikut menggunakan bus dengan mu." Sakura memutar bola matanya lagi, pria ini sudah gila. Benar-benar gila.
"Ini yang terakhir, setelah itu berhentilah bertingkah seperti ini." Ujarnya, Gadis itu akhirnya berbalik dan berjalan mendekati mobil sport mewah milik Sasuke. Dia tidak bisa membiarkan anak seorang pengusaha kaya raya naik bus umum kan? Yang benar saja.
Sasuke membukakan pintu penumpang untuk Sakura dan membiarkannya masuk kedalam dan setelah itu barulah ia masuk ke bagian pengemudi dan mulai mengemudikan mobilnya ke boutique kakak iparnya. Ia tahu Sakura kesal karena ulahnya selama dua hari ini. Sasuke tahu itu, tapi justru itu adalah hal yang menarik dari gadis itu. entahlah, tapi sepertinya mengganggu hari hari Haruno Sakura adalah hobi baru baginya.
"Kau bilang kau akan pindah apartement?" Tanya Sasuke, Sakura mengangguk
"Setidaknya tempatnya lebih baik dan lebih dekat dengan lokasi ku bekerja dan kuliah." Sasuke mengangguk,
"Kapan kau berencana akan pindah?" Sakura menoleh memandang Sasuke lalu tersenyum,
"Apa yang lucu?" Sakura hanya menggeleng,
"Aku hanya heran, kenapa seorang pria kaya seperti mu ingin tahu semua hal yan aku lakukan? Bukankah seharusnya kau memikirkan tahun terakhir mu di universitas dan mulai belajar tentang bisnis keluargamu?" Sasuke tertawa rendah,
"Aku tidak tertarik. Aku bisa melakukannya bersamaan." Sakura menaikkan sebelah alisnya
"Apa itu?" tanya gadis itu akhirnya,
"Mengganggumu, yang sekarang menjadi hobi baru untukku. Dan memikirkan tugas akhirku. Aku tidak perlu memikirkan perusahaan karena Itachi pasti akan mengambil alih seluruh bisnis Uchiha setelah ayah memutuskan mundur nantinya." Sakura menghela nafasnya,
"Bukankah untuk orang-orang sepertimu, bisnis bukanlah hanya sekedar untuk mencari keuntungan dan menjadi orang kaya semata? Bukankah kerajaan bisnis itu seperti bagian dari kehormatan dan harga diri klan mu? Aku benar kan?" Sasuke melirik gadis itu dan menghela nafasnya
"Kenapa kau sensitif sekali kalau membahas hal seperti ini, Sakura? Ada apa?" Tepat saat ia menanyakan hal itu mereka tiba di boutique milik Hana.
"Aku harus pergi, kita sudah sampai dan terimakasih untuk Segalanya Sasuke-san. Aku harap kau menikmati hari mu, hari ini." Ujar Sakura, Saaat ia akan keluar dari dalam mobil Sportnya Sasuke menahan lengan gadis merah jambu itu,
"Apa kau keberatan kalau aku dan teman-teman yang lainnya membantumu untuk pindahan dan membuat House warming party di Apartement baru mu nanti?" Sakura melepaskan tangan Sasuke yang masih menggenggam erat lengannya.
"kalian tidak perlu melakukan itu." Ujar Sakura
"Tapi kami ingin. Sakura, Sekali ini saja? Kau tidak bisa menolak orang-orang yang ingin membantumu atau lebih dekatnya, seorang pria yang tengah mencoba untuk mendekatimu." Sakura menaikkan sebelah alismu,
"Aku harus pergi, terimakasih untuk segalanya." Dengan kalimat terakhir itu Sakura berhasil keluar dari mobil Sasuke Uchiha dan memasang bowl capnya dan masuk kedalam boutique, Sasuke menghela nafasnya dan meraih ponselnya. Naruto temannya kan? Kalau begitu duren Namikaze itu harus membantunya mendapatkan gadis merah jambu itu bagaimanapun caranya, iya kan?
TBC. Saya tau ini udah lama banget setelah chapter kedua, tapi sumpah setelah UAS itu rasanya otak saya susah konek sama imajinasi beginian, jadi yah setelah tiga minggu pembuatan akhirnya ini kelar juga.
Kemarin itu sempat aku edit emang chapter duanya, makanya fictnya nongol di urutan atas kayak baru di update gitu. Maafka saya muhehehehe, tapi yang kali ini beneran kok updatenya, ini chap tiga, saya berharap ini memuaskan dan kalian gak kecewa.
Dan sekali lagi, ini adalah prequel dari Stronger, jadi ini masih berkaitan sama fict itu, masala permintaan readers yang minta untuk membuatkan sequelnya, sampai detik ini saya belum kepikiran, jadi untuk sementara ini, tolong nikmati dulu prequelnya.
Dan ini lah akhirnya, sampai berjumpa di fanfict saya yang lainnya dan juga di chapter betrayal yang berikutnya.
Much Love-Aphrodite Girl 13
