Chapter 7

Tanpa Jaehwan sadari, ia telah menjauh sedikit demi sedikit dari Sewoon.

Ia tidak lagi menghubungi Sewoon secara insensif seperti dulu. Entah kenapa, berhubungan dengan Sewoon membuatnya merasa bersalah pada Daniel.

Jaehwan berusaha sebaik mungkin untuk terlihat biasa saja di depan Sewoon, Daniel, atau bahkan adiknya. Jika selama satu tahun ini Sewoon dan Daniel dapat menahan perasaan masing-masing, kenapa Jaehwan tidak?

Gitarnya adalah satu-satunya yang mengerti bahwa ia tidak sedang baik-baik saja.

A night couldn't change them, but a week does.

.

.

.

.

Kim Jaehwan × Jung Sewoon

Phytagor Us

Support Cast : Kim Dahyun; Kang Daniel

Warn! Containing some harsh words.

Casts are owned by theirselves and this story is owned by feazee.

[ Bashing the pair is prohibited. You can bash me, but not my cast and my ship. I'm not forcing you to read, tho. ]

.

.

.

.

"Kamu lagi ada masalah sama Kak Jaehwan?"

Sewoon menggeleng.

"Kok Kak Jaehwan akhir-akhir ini aneh, ya?"

"Aneh gimana?"

"Dia jadi jarang ngabisin makanan di kulkas, kerjaannya di kamar doang sambil main gitar. Pas diajak Kak Daniel futsal juga dia alesan capek mulu padahal dia gak ngapa-ngapain."

Sewoon terdiam sejenak, menimbang-nimbang apakah ia harus mengatakan hal ini pada Dahyun atau tidak.

"Menurutmu Kak Jaehwan kayak ngejauhin aku gitu gak, sih?"

"Jauhin gimana?"

"Ya gituㅡ Masa iya ini gara-gara Kak Daniel?"

"Kak Daniel?" Dahyun mengerutkan dahinya, "Eh iya, kamu ada apa sih sama Kak Daniel? Kak Jaehwan tuh kadang cerita sesuatu tentang kalian tapi cuma sepotong-sepotong, aku gak ngerti."

"Kak Daniel itu mantan aku."

Dahyun mengangguk mengerti sebelum akhirnya menyadari sesuatu kemudian berteriak, "Hah gimana, Woon?"

"Kak Daniel mantan aku."

"Serius?"

Sewoon mengangguk.

"Kok putus? Kak Daniel kebanyakan kencan sama buku?"

Sewoon tertawa sembari menggeleng, "Kak Daniel yang sekarang itu jauh banget sama dulu."

"Dulu gimana? Lebih nerd?"

"Nerd apanya, dulu gebetan dia banyak banget sampe aku pusing lihat dia gonta-ganti gandengan."

"Berarti putus gara-gara dia selingkuhin kamu?"

Sewoon kembali menggeleng, "Gak sampe sejahat itu, untungnya. Walopun dia emang suka tebar pesona, sih."

"Terus gara-gara apa? Cerita dong, Woon."

Sebuah helaan nafas lolos dari bibir Sewoon sebelum ia memulai ceritanya.

Dahyun akan segera menjadi orang kedua, setelah Donghyun, yang mengetahui cerita tentangnya dan Daniel dari sudut pandangnya dengan lengkap.

Sewoon menceritakan bagaimana ia bertemu dengan Daniel, bagaimana datarnya pernyataan cinta Daniel, bagaimana Daniel melakukan segala sesuatu sesuai dengan keinginannya, bagaimana tsunderenya Daniel, dan bagaimana ia merindukan Daniel ketika tiba-tiba Daniel menghilang hari itu.

.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.

Daniel tidak bodoh. Ia juga menyadari perubahan Jaehwan.

Dia sudah mencoba bertanya pada Jaehwan, apakah Jaehwan memiliki suatu masalah yang tidak bisa ia selesaikan sendiri, namun Jaehwan hanya menjawab, "Emang muka gue muka-muka orang bermasalah ya?", dengan senyum bodohnya.

Sewoon terlihat baik-baik saja, namun Daniel tahu Sewoon juga kebingungan dengan Jaehwan.

Daniel memutuskan untuk menghampiri Sewoon yang tengah duduk seorang diri di halte. Ia rasa inilah saatnya ia membicarakan segalanya dengan Sewoon.

"Woon,"

Suara Daniel membuyarkan lamunan Sewoon. Ia kemudian tersenyum ke arah Daniel yang terlihat gugup.

"Udah berapa lama?"

Sewoon mengerjap seiring dengan senyumannya yang menghilang, "Satu tahun? Satu tahun setengah?"

"Udah lama banget, ya?" Daniel tertawa, "Jadi sekarang gue harus seneng apa sedih?"

"Seneng dong, Kaㅡ"

"Iya, gue seneng. Akhirnya gue bisa ketemu lo lagi, bisa pretend like nothing was going wrong, bisa ngobrol sesantai ini sama lo. Tapi di sisi lain, lo bukan punya gue lagi. Lo punya Jaehwan."

"K-kenapa, Kak? Kok tiㅡ"

"Gue benci situasi ini. Gue tau lo juga ngerasain akhir-akhir ini Jaehwan beda. Gue rasa kita gak akan bisa biasa sama dia lagi sebelum masalah di antara kita selese."

Sewoon tersenyum, "Kak Daniel udah dewasa, ya, sekarang."

Daniel membalas senyuman Sewoon. Kenapa senyuman Sewoon masih terasa sama?

"Lo boleh tanya apapun ke gue. Gue bakal jawab. Termasuk kalo lo nanya kenapa waktu itu gue langsung bilang iya terus ngilang."

Sewoon menghela nafas kemudian terdiam sejenak, "Aku nyari kamu, Kak. Walopun aku tau aku gak mungkin nemuin kamu, aku tetep usaha. Siapa sih, Kak, yang suka digantungin? Iya, waktu itu emang kita udah putus, tapi gak tau kenapa aku ngerasa masih ada sesuatu yang belom selesai di antara kita."

Bahkan sampai sekarang.

Daniel mendengarkan Sewoon dengan seksama. Mencoba memahami kenapa dulu ia begitu kekanakan.

"Gue gak tau apa keputusan gue waktu itu bener," Ucap Daniel setelah ia menghela nafas.

Untuk beberapa saat, hanya suara mesin mobil dan motor yang mengisi ruang pendengaran mereka. Daniel hanya menatap kosong ke depan, dan Sewoon terus menatap Daniel dalam diam.

"Gue udah move on. Walaupun screenshots chat kita, foto-foto kita belom gue hapus, tapi gue rasa gue udah bisa lupain lo."

Jeda sejenak.

"Tapi ternyata gue salah. Pas gue lihat lo beberapa minggu lalu, semua masih terasa sama. Yang gue inget dari kita cumaㅡ gue masih sayang lo."

Daniel menunduk, "But then I realized, now you're so close yet so far."

"Gue minta maaf, kalo dulu gue gak bisa jadi pacar yang lo pengenin. Yang bisanya cuma maksain kehendak gue, posesif, cemburuan, childishㅡ apalagi?"

Daniel menoleh ke arah Sewoon, membalas tatapan mata Sewoon yang tidak juga berpindah darinya.

"Kak, akuㅡ"

Daniel mengangkat alisnya, menunggu Sewoon melanjutkan ucapannya.

"Aku juga sama."

Daniel terkejut, namun ia masih bisa mengendalikan ekspresinya.

"Aku juga gak tau apa keputusanku waktu itu yang terbaik buat kita. Aku gak pernah bener-bener bisa lupain kamu, Kak. Kamu tetep ada dipikiranku. Sampai akhirnyaㅡ aku kenal Kak Jaehwan."

Daniel tersenyum pahit, "Gue tau. Gue bisa lihat Jaehwan beneran tulus sama lo. Jangan sia-siain dia, ya?"

Sewoon memiringkan kepalanya. Ia tidak mengerti.

"Gue ngomong sebanyak tadi bukan buat bikin lo ngeraguin perasaan lo ke Jaehwan, apalagi ngajakin lo balikan. Gue cuma gak mau sesuatu diantara kita gak pernah selesai. Gue juga gak mungkinㅡ ngerebut orang yang disayang Jaehwan."

Hati Sewoon tersentuh. Sejak kapan Danielnya menjadi sedewasa ini?

"Gue seneng, akhirnya lo bisa nemuin orang yang bisa bikin lo bahagia, someone who is hundreds times better than me. Lo jangan kayak gue ya, yang ngakunya bisa lepas dari masa lalu yet still suffering."

Mata Sewoon memanas, sesuatu dalam dirinya seakan memaksanya untuk mengeluarkan air mata. Daniel yang berada di sebelahnya saat ini, benar-benar berbeda dengan yang dulu.

"Besok, coba lo ajak Jaehwan ngomong. Jelasin ke dia tentang semuanya, termasuk kalo kita already dealing with the past. Jangan sampe kalian jauh cuma gara-gara gue, oke?"

Sewoon tidak menjawab, matanya senantiasa mengikuti gerak Daniel yang kini tengah berdiri kemudian menepuk kepalanya dan tersenyum.

Air matanya tidak dapat ia bendung lagi setelah Daniel benar-benar meninggalkannya. Sewoon tidak mengerti, kenapa justru hatinya semakin kacau?

Terakhir kali Sewoon menangis sekencang ini adalah satu tahun yang lalu, ketika Sewoon sadar ia tidak dapat menemui Daniel lagi.

Sewoon tidak sadar, tangisannya membuat seseorang menghentikan langkahnya. Bertanya-tanya apa yang dilakukan Daniel hingga membuat Sewoon menangis.

.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.

Jaehwan berjalan dengan cepat menuju kelasnya. Setiap orang yang dilewatinya menyingkir, aura Jaehwan sedang tidak menyenangkan.

Debuman pintu yang dibanting membuat seluruh mahasiswa yang berada di dalam kelas mengalihkan fokus mereka. Jaehwan terlihat bersungut-sungut dengan mata yang menatap tajam kearah Daniel.

Baru saja Daniel menyunggingkan senyumㅡkarena akhirnya Jaehwan mendekatinyaㅡ, kepalan tangan Jaehwan telah menyapa wajahnya.

"Hwan?"

Satu tinjuan lagi berhasil mengenai hidung Daniel.

Daniel membutuhkan tiga detik untuk menyadari bahwa Jaehwan akan memukulnya lagi. Tangannya terarah menahan tangan Jaehwan yang masih terkepal erat di depannya.

"Lo kenapa?"

"Bangsat."

"Lo kenapa, gue tanya?"

"Padahal gue udah ngalah. Gue gak papa kalo lo emang mau balikan sama Sewoon, asal Sewoon seneng. Tapi ternyata gue salah?

Daniel tidak mengerti, "Ngomong pelan-pelan, Hwan."

"Lo apain Sewoon kemaren?"

Daniel mengerutkan dahinya, "Hah?"

"Gak usah pura-pura gak tau, anjing."

Kini giliran kepalan tangan kiri Jaehwan yang menyapa wajah Daniel. Tidak butuh banyak waktu untuk akhirnya terjadi pertengkaran hebat di antara mereka.

Tidak ada satupun teman sekelas mereka yang berani untuk memisahkan.

Jaehwan bukanlah tipe yang suka mencari masalah apalagi berkelahi, namun kali ini ia memukul temannya sendiri? Teman-teman mereka tidak mengerti.

.

.

.

Seorang perempuan berambut hitam panjang menghadang jalan Dahyun dan Sewoon. Penampilannya berantakan, juga nafasnya terlihat tidak beraturan.

"Lo adeknya Jaehwan, kan?"

Dahyun mengangguk pelan.

Perempuan itu kembali mengatur nafasnya sejenak, "Lo cepetan ke kelas sekarang. Jaehwan berantem sama Daniel."

Tanpa menunggu lagi, Dahyun dan Sewoon segera berlari menuju kelas Jaehwan.

Batin Dahyun bertanya-tanya, Jaehwan bertengkar? Sejak kapan?

Ketika mereka berdua sampai di kelas Jaehwan, mereka tidak melihat keberadaan Jaehwan. Hanya kondisi kelas yang berantakanㅡmeja dan kursi yang tidak lagi berada di tempatnyaㅡ, penampilan Daniel yang juga berantakan, dan mahasiswa lain yang tengah berpura-pura tidak melihat apapun.

"Kak Jaehwan dimana?"

Setelah melihat Daniel menggeleng, Dahyun segera berlari keluar kelas. Menyisakan Sewoon yang kini mendekati Daniel dalam diam.

Sewoon hanya terdiam untuk beberapa saat, ia ingin ikut Dahyun untuk mencari Jaehwan.

Tapi sepertinya, Dahyun sendiri sudah cukup?

"Kenapa berantem, Kak?"

Daniel menggeleng, "Lo kemaren nangis abis gue tinggal?"

Sewoon tersentak, "E-eh?"

"Jaehwan lihat pas lo nangis, dan dia salah paham. Kayaknya sih, gitu."

Sewoon menunduk. Semua ini karenanya?

"Woon? Lo gakㅡ"

"Kita ke ruang kesehatan yuk, Kak?"

Lima menit kemudian Daniel telah duduk di salah satu ranjang yang berada di ruang kesehatan, memperhatikan Sewoon yang sibuk mengambil obat luka untuknya.

Dengan membawa alkohol, kapas, dan hansaplast di tangannya, Sewoon menarik sebuah kursi ke depan Daniel untuk ia duduki. Matanya memperhatikan luka di wajah Daniel satu persatu.

Memar di pipi, sobek di ujung bibir, dan bekas darah di bawah hidungnya. Separah apa mereka bertengkar tadi?

"Yah, Kak, gak ada es batu."

"Gak papa, nanti beli di kantin."

Sewoon mengangguk setuju kemudian mengambil kapas untuk membersihkan darah di sekitar hidung Daniel. Setelah bersih, ia mengambil kapas lain kemudian membasahi sebagian kecil kapas tersebut menggunakan cairan alkohol. Protesan Daniel kontan terdengar ketika kapas tersebut menyentuh lukanya.

"Sakit, Kak?"

"Ya menurut lo, Woon?"

Sewoon tertawa kecil, "Berantem aja bisa, masa nahan sakit kecil gini aja gak bisa?"

Daniel terdiam. Rasa sakit yang ia rasakan di wajahnya seakan menghilang begitu saja ketika melihat wajah serius Sewoon ketika mengobati luka-lukanya.

"Woon, makasih ya udah lengkapin persahabatan gue sama Jaehwan?"

Tanpa menghentikan kegiatannya, Sewoon menjawab, "Maksudnya?"

"Kata orang, persahabatan itu belom lengkap kalo belom pernah naksir satu orang yang sama. Eheheheㅡ Aduh! Aduh, Woon! Jangan diteken!"

Seakan de javu, mereka tidak sadar ada seseorang yang memperhatikan mereka. Kali ini, mendung dihatinya yang menguasai,. Bukan lagi rasa penasaran, apalagi kemarahan.

To Be Continued

jangan tanya aku ini apa:( kata mbak taylor, the world moves on another day, another drama, jadi gaasik kalo gada dramanya. iyakan iya iya iya? xd;

anw, sewoon sama daniel di master key sukses bikin hatiku terombang-ambing : )