Betrayal
Disclaimer : Naruto Selalu menjadi milik Masashi Kishimoto, Saya hanya memiliki plot cerita dalam fanfict ini saja.
Warning : Gaje, abal, OOC, Typo dan Miss Typo seperti biasa nya mereka masih enggan meninggalkan saya sendirian.
H&G Boutique, Tokyo Japan
Sakura menghela nafasnya sekali lagi. Kakinya rasanya pegal sekali berani bertaruh saat ini pasti sudah ada luka lecet di tumit dan ujung telapak kakinya. Heels setinggi lima belas senti ini benar-benar menyiksanya dan lagi, Hana masih belum membiarkan ia beristirahat. Ia menggeleng dan menepuk tangannya membuat Sakura berhenti dari kegiatan latihannya berjalan menggunakan Heels dengan benar. Bukan tidak pernah menggunakan high heels sama sekali, tapi berjalan diatas catwalk dengan heels dan berjalan dengan heels di jalanan biasa untuk pertemuan bisnis dan pesta adalah dua hal berbeda. Kami-sama! Setelah lulus nanti dia akan menjadi seorang designer dan bukan seorang model yang akan berlenggak lenggok diatas catwalk dan melakukan pemotretan.
"Sakura, kau terlihat kaku sekali. Maafkan aku tapi, maksudku cara mu berjalan seperti kau belum pernah menggunakan sepatu itu sebelumnya." Hana menghampirinya, memintanya duduk dan memanggil Heidi. Salah seorang model yang bekerja untuknya dan berkewarganegaraan Italia. Wanita itu dengan mudah melenggang dengan cantiknya menggunakan Heels rancangan Guilliana Mark, salah satu colega Hana. Sakura duduk di sofa letter u di tengah ruangan kerja Hana yang super besar dan mewah itu. mengamati Heidi melenggak lenggok dihadapannya, mencoba memahami apa itu artinya 'berjalan dengan benar' dan 'tidak kaku' seperti yang dikatakan Hana. Hal ini membuatnya gila.
"kau ingin istirahat sebentar?" Hana duduk di sebelahnya sementara ia meminta Heidi kembali keluar untuk melakukan fitting baju yang akan dia kenakan di Tokyo fashion week akhir minggu ini.
"aku sudah latihan selama seminggu ini dan aku masih belum menjadi yang kau inginkan. Aku benar-benar minta maaf untuk ini semua Hana-senpai." Hana tersenyum dan menegak air mineralnya.
"tidak apa-apa. Anggap saja semua ini adalah proses belajar. Beberapa designer muda menganggap jika, mereka tidak perlu tahu bagaimana model mereka melenggang diatas catwalk saat memamerkan karya mereka. Tapi itu justru point utama dari sebuah peragaan busana, pantas tidaknya harga yang kau berikan pada hasil karyamu, dan bagus tidaknya, indah atau tidaknya, semua itu tergantung dari modelnya sendiri Sakura. Jika mereka tidak pandai memainkan pakaian yang kau rancang, membuatnya terlihat pantas dengan harga yang kau sematkan, maka tidak akan ada seorang pun yang mau membelinya. Sebuah hasil karya akan tetap mati jika kau tidak memberikan jiwamu kedalamnya. Catat itu sebagai point penting pertama sebelum kita memulai debutmu sebagai seorang designer nantinya." Sakura tersenyum, wanita ini benar. Model dan karyanya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan,
"Apa Hana-nee dulu juga seorang model?" Hana tertawa pelan dan tersenyum, sepasang irish kumbangnya itu menerawang jauh kembali kemasa lalu,
"Ya, ibuku seorang designer dan ayahku pengusaha property. Salah satu rekan kerja ayah Itachi, itu kenapa kami bisa di jodohkan. Pernikahan bisnis. Tapi kami tidak mau membuatnya demikian. Kau tahu kan, aku dan Itachi berusaha untuk membuat pernikahan ini seperti yang seharusnya. Aku seorang model sejak SMA sampai debut awalku sebagai seorang designer di mulai, Itachi sering menemaniku ke pemotretan jika ia ada waktu dan datang saat peragaan busana ibuku diselenggarakan. Kami mencoba menemukan kecocokan dan kami menemukanya.
Aku dan dia memang menikah karena perjodohan tetapi, aku ingin pernikahan ini menjadi sesuatu yang tak akan pernah ku sesali nantinya dan Itachi adalah orang yang tepat, aku bersyukur untuk itu." Sakura tersenyum dan meneguk air mineralnya,
"Bicara soal pasangan, kau sudah punya pacar?" Sakura nyaris tersedak air minumnya saat Hana melontarkan pertanyaan itu.
"Aku tidak memikirkan hal itu sekarang ini, Hana-nee." Hana tersenyum, wanita itu bersandar pada sofa empuk berwarna putih itu.
"Bagaimana dengan kau dan Sasuke? Aku dengar dari beberapa teman dekat adikku itu kalau kalian selama dua minggu ini selalu keluar bersama dan menghabiskan waktu bersama." Sakura tersenyum,
"Dilihat dari sisi manapun, Saya tidak akan pernah pantas untuk Sasuke-san. Bagaimana anda bisa berfikir demikian Hana-nee." Hana tersenyum, wanita berparas cantik itu mencondongkan tubuhnya, menahan wajahnya dengan lengan kanannya dan memandang Sakura.
"Aku tidak mengerti kenapa kau bilang kau tidak pantas untuk adik ipar kesayanganku itu. asal kau tahu saja, banyak yang mengatakan kalau kalian serasi sekali." Sakura tersenyum dan menggeleng pelan.
"Kita seharusnya memulai latihan lagi bukan, Hana-nee?" mengalihkan pembicaraan, Hana tahu itu. ia mengangguk dan kembali berdiri dan memulai sesi latihan. Hana mengamati kegigihan gadis itu, dalam hatinya ia bertanya-tanya bagaimana reaksi ibu mertuanya kalau gadis yang tengah menjadi incaran putra bungsu keluarga Uchiha ini adalah anak dari sahabat karib mertuanya. Haruno Khiazhi dan Haruno Mebuki. Mungkin Mikoto dan Fugaku akan sangat terkejut dengan fakta ini. Hana menghela nafasnya dan beranjak dari tempat duduknya, berjalan menghampiri Sakura dan kembali sibuk dengan kegiatan latihan mereka.
Namikaze mansion, Tokyo Japan
Sasuke menghela nafasnya dan menatap layar ponselnya pasrah lalu berjalan sekali lagi kearah meja gambar yang berada tepat di sebelah Naruto yang juga masih asik menggambar salah satu tugas besarnya untuk semester akhir ini. Bungsu Uchiha itu dengan kasar duduk di bangku tepat di sebelah putra tunggal Minato Namikaze itu dan mengambil drawing pen nya dan mulai menggambar garis-garis beraturan diatas lembaran kertas kalkir berukuran A0 itu. Sasuke menghela nafasnya memandang hasil kerjanya. Sial, hasilnya melenceng dari yang ia inginkan. Ia menggeleng dan melepas kertas berukuran A0 itu dan melemparnya kesembarang arah lalu kembali memasang lembaran kertas baru diatas meja gambarnya.
"Kau membuang kertas itu seolah-olah harganya sangat murah dan tidak terbuat dari pohon." Naruto menggerutu, memungut kertas tak berdosa itu dan meletakkannya di tempat sapah setelah meremukkannya dan berjalan kesudut ruangan. Mengambil beberapa kaleng beer simpanannya dari dalam kulkas di sudut ruangan.
"ini, minum ini dan tenangkan dirimu. Kau hanya akan mendapat nilai E jika kau tetap menggambar. Kau tahu kan? Asuma-sensei bukan professor yang mau mentolerir kesalahan." Sasuke beranjak dari tempat duduknya dan menghempaskan dirinya ke sofa dan meraih kaleng beer yang di sodorkan Naruto.
"mau menceritakan sesuatu? Aku masih punya waktu setengah jam sebelum menjemput Shion dari rumah Ino." Sasuke menaikkan kedua bahunya tak acuh dan meneguk beernya
"Kau tahu sesuatu tentang Haruno Energy Inc?" Naruto memandang heran sahabatnya itu. Sasuke bukan peminat berita harian bursa saham sama sekali, pertanyaan ini tentu saja membuatnya kaget.
"Maksudmu perusahaan milik Kiazhi Haruno, ayah Sakura?" Sasuke mengangguk,
"well, yang aku tahu mereka bergerak di bidang tambang. Minyak, gas bumi dan batu bara adalah market yang mereka kuasai. Ayah Sakura, dia adalah pengusaha yang luar biasa. Beberapa kali kami bekerja sama dalam beberapa proyek pengeboran, begitu juga dengan Uchiha Construction. Perusahaan Ayah Sakura adalah perusahaan tambang terbesar nomor satu di Jepang saat itu sampai akhirnya dua tahun yang lalu mereka di nyatakan gulung tikar." Sasuke menaikkan alisnya, ia tahu itu. Itachi sudah menjelaskan hal itu semalam.
"Dalam kurun waktu secepat itu? bagaimana bisa?" Naruto meletakkan kaleng beernya dan mengambil beberapa potong kentang goreng yang sudah mendingin lalu memakannya.
"Sabotase." Sasuke mencondongkan tubuhnya dan meletakkan beernya, memandang serius kearah pria bermarga Namikaze tersebut.
"Jadi maksudmu, salah seorang dari saingan bisnis tuan Haruno menyabotase data keuangan perusahaan dan membuatnya bangkrut dari dalam?" Naruto terlihat berfikir keras, lalu beranjak dari tempat duduknya, berdiri menatap keluar langit yang mulai gelap.
"Aku tidak tahu pasti, aku terlalu sibuk dengan tahun ketigaku di Universitas, aku menjabat ketua SENAT saat itu, ingat? Tapi kalau aku tidak salah, ayahku pernah membahasnya saat kami sedang makan malam. Lima kilang minyak milik perusahaan Haruno di Arab Saudi, Rusia dan Amerika meledak dalam kurun waktu tidak jauh berbeda, setelah itu beberapa kilang minyak mereka di timur tengah juga di tutup pasca ledakkan itu karena tidak memenuhi syarat yang seharusnya. Kau tahu, ada ketentuan-ketentuan seperti itu untuk keselamatan lingkungan sekitar. Ditambah lagi, Tuan Haruno berinvestasi dengan orang yang salah.
Salah satu rekan bisnisnya Antonio Gonzales, menawarkan bisnis yang menjanjikan. Pasca ledakan kilang minyak dan di tutupnya beberapa kilang minyak milik perushaan Haruno, pencapaian mereka turun drastis, aku tahu ayah Sakura akan melakukan apapun untuk menyelamatkan perusahaannya jadi dia menerima tawaran Antonio untuk membeli sebuah perusahaan pembuatan senjata yang biasa menyediakan senjata untuk para militer Amerika. Dia melakukan investasi itu tanpa fikir panjang dan dua bulan kemudian, kami baru tahu kalau perushaan itu bermasalah. Dengan semua permasalahan itu, perusahaan Haruno tidak bisa bertahan lama." Sasuke merenung, itu sebabnya Sakura menjadi gadis yang dingin dan tak tersentuh.
"Bagaimana dengan Sakura? Maksudku seperti apa dia sebelumnya?" Naruto menaikkan alisnya dan tersenyum jahil kearhanya,
"Kau menyukai gadis itu. iya kan?" Sasuke memberi death glare terbaiknya saat putra tunggal Minato Namikaze itu melontarkan lelucon sialan itu kepadanya.
"Jawab saja." Naruto tertawa lalu duduk di hadapan Sasuke.
"Dia? Well, dia gadis yang ceria, berani dan baik hati. Kebaikannya tulus dan keberaniannya luar biasa, dia menjadi pelindung Hinata selama mereka duduk di bangku SMA, selain itu keceriaannya itu menular kepada orang-orang di sekitarnya. Dia juga sangat berbakat seperti yang kita ketahui. Tapi, bangkrutnya perusahaan ayahnya membuatnya banyak berubah.
Aku tahu dia kehilangan banyak hal, fasilitas, kemewahan, mobilnya, uang dan kehormatan keluarganya. Ayahnya menderita kanker paru-paru hanya beberapa bulan setelah mereka kehilangan segalanya, ibunya bekerja sebagai akuntan di perusahaan pengolah hasil pertanian dan ayahnya mencoba membangun bisnisnya kembali dengan sisa uang yang ada. Tapi hutang yang mereka miliki terlalu besar jadi sangat mustahil bagi ayahnya untuk membangun kembali bisnisnya. Sakura sendiri, dia lebih bayak diam dan mengambil kerja tambahan di sebuah café di dekat sekolah dan mulai menjual hasil karya rancangan busananya via online. Dia juga berusaha keras mendapat beasiswa untuk masuk kedalam universitas. Mereka bertiga bejuang keras, mereka pindah kesebuah apartement sederhana di pinggiran kota Tokyo. Apartement lama Sakura sebelum dia pindah.
Ayahnya meninggal beberapa bulan setelah ia di terima di Todai. Ayahnya adalah segalanya, Sakura terus menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa berbuat banyak untuk kesembuhan ayahnya. Dan seperti yang kau lihat sekarang, dia tumbuh menjadi Gadis yang luar biasa." Sasuke terdiam lalu menghela nafasnya,
"Aku ingin tahu kenapa dia begitu menginginkan aku untuk berhenti mendekatinya." Naruto tersenyum,
"Untuk yang satu itu, kau harus tanyakan sendiri padanya. Aku hanya menebak saja, Hinata sangat dekat dengan mu, gadis itu menyukaimu. Sakura, aku percaya selama dua minggu belakangan ini kalian sudah sering menghabiskan waktu bersama hanya ada dua alasan untuk semua itu. Sakura merasa tidak pantas untuk mu karena kondisi keluarganya sudah jauh berbeda dari yang dulu atau karena dia banyak berhutang budi pada keluarga Hinata, untuk itu lah dia berusaha menjauh dari sekarang." Sasuke terdiam mendengarkan pendapat sahabatnya itu.
"berhutang budi?" Naruto mengangguk
"Hana-nee mengenal Sakura sampai akirnya gadis itu bisa bekerja untuk kakak iparmu itu semua karena Hinata yang mengenalkan Sakura kepada Hana. Sakura bisa membayar 25% uang muka untuk apartementnya, itu semua karena Hinata yang membantunya. Ia bisa membayar sedikit demi sedikit hutang ayahnya yang masih tersisa, itu semua juga karena campur tangan dari Hinata. Jadi masuk akal jika dia mundur dan memberi Hinata kesempatan lebih banyak untuk bersama mu." Sasuke meneguk beer kalengnya hingga tandas.
"Aku lebih baik menanyakan semuanya sendiri dari pada menerka-nerka." Sasuke mengangguk
"Lakukanlah, aku harus menjemput Shion ke tempat latihan Phylatesnya. Kau mau kemana setelah ini?" Sasuke berdiri, menggulung lebaran kalkirnya dan memasukkannya kedalam tabung gambarnya.
"Boutique dan menjemput Sakura, mungkin? Dia sedang berlatih menjadi model untuk Tokyo fashion week akhir pekan ini." Naruto tersenyum dan mengambil mantlenya.
"Baiklah, Sakura adalah gadis baik-baik. pastikan kalau kau tidak akan melukainya." Sasuke hanya diam dan berguman seperti biasanya lalu mengikuti Naruto keluar dari ruang gambar pribadi milik putra tunggal Minato dan Kushina itu.
H&G boutique, Tokyo Japan
Hana tengah sibuk memutuskan pakaian mana yang akan di gunakan Sakura, meminta gadis merah jambu itu bolak balik ke ruang ganti untuk mencoba gaun yang pas untuk ia kenakan. Istri pewaris utama kerajaan bisnis Uchiha itu menggeleng sekali lagi saat Sakura keluar dengan crop top lengan panjang dan rok remple bernuansa vintage rancangannya, ditambah lagi heels berwarna hitam yang mengiasi kaki jenjangnya.
"Hm… yang ini juga dan coba gaun yang ini." Hana menyerahkan sebuah gaun berwarna hitam yang menunjukkan lekuk indah pinggang ramping dan kaki jenjang gadis merah jambu itu, Sakura menghela nafasnya pasrah namun tetap masuk kedalam ruang ganti dan mencoba gaunnya. Ia memilih sebuah heels bewarna abu-abu gelap dengan aksen Swarovski mewah dan biru menghiasi ujungnya, karya Guilliana Mark lagi. Diam-diam Sakura mengagumi designer sepatu asal perancis itu.
"Aku sudah menduga kau akan terlihat luar biasa dengan gaun itu." Hana berjalan mendekat kearahnya, memintanya berputar perlahan dan tersenyum puas
"Sempurna. Gaun ini sempurna ketika kau yang mengenakannya Sakura." Sakura tersenyum malu,
"Aku sudah putuskan kalau kau akan memakai gaun ini sebagai penutup peragaan busana nanti. Kau boleh mengganti pakaianmu sekarang." Sakura tersenyum lembut kepada ibu satu anak itu lalu kembali masuk keruang ganti dan mengganti gaun itu dengan pakaiannya sendiri. Dia senang jika Hana puas dengan apa yang ia lakukan.
Sasuke memarkirkan dengan anggun mobil sport biru tua miliknya itu tepat didepan bangunan mewah boutique milik kakak iparnya. Dengan cepat ia melangkah kedalam, melewati beberapa pegawai kakak iparnya dan membalas singkat sapaan mereka dengan gumaman khas Uchiha miliknya. Bungsu Uchiha itu menyusuri beberapa rak-rak berisi gaun rancangan kakaknya dan berbelok ke kiri, masuk begitu saja kedalam ruangan kakaknya tanpa mengatakan apa-apa.
Kedua kakinya mendadak diam dan sepasang onyxnya terpaku memandang pemandangan indah di hadapannya saat ini. Sakura berdiri di hadapan kakaknya mengenakan salah satu dari sekian banyak gaun indah dan mahal rancangan kakak ipar nya itu. Wanita itu mempesona. Sasuke bahkan tidak yakin kali ini ia tidak sedang ternganga memandang lurus kearah putri tunggal keluarga Haruno itu.
"Ehmmm…" Sasuke berdeham keras ketika kenyataan kembali menendang pantatnya, membuatnya sadar dan sekaligus menjadikannya pusat perhatian,
"Kalau kau ingat sopan santun, seharusnya kau mengatakan sesuatu sebelum masuk kedalam ruangan kantorku, Sasuke." Hana menggeleng begitu mendapati dirinya berjalan mendekati mereka.
"Sakura kau boleh mengganti pakaianmu." Sakura mengangguk namun sebelum gadis merah jambu itu mejauh Sasuke menahan lengan rampingnya,
"Kau sibuk?" Sakura menggeleng pelan,
"Tidak keberatan kalau aku mengajakmu keluar makan malam hari ini?" Sakura terdiam sebentar, ia ingin tapi bukankah seharusnya Sasuke tidak boleh mencintainya? Baru akan menolak ajakan bungsu Uchiha itu, Hana mendahuluinya untuk bicara.
"Aku rasa Sakura tidak sibuk sama sekali Sasuke, dia bahkan melewatkan makan siangnya hari ini. Kau tidak keberatan kan Sakura? Anggap saja ini sebagai hadiah dariku karena hasil kerja kerasmu selama seminggu ini." Sakura memandang Hana dan Sasuke bergantian. Percuma saja, menolak mereka tidak akan ada gunanya.
"Tapi ibuku hanya sendirian aku tidak bisa…"
"kalau kau mau kita bisa membeli makanannya dan membawanya pulang. Kita bisa makan malam di apartement mu, jadi ibumu tidak akan kesepian." Sakura memandang tidak percaya saat Sasuke melontarkan kalimat itu dengan lancar dari bibirnya.
"Aku setuju. Lagi pula aku yakin ibumu tidak akan keberatan kalau salah seorang teman dari anaknya mampir kerumah untuk makan malam bersama, iya kan?" Sakura menghela nafasnya.
"Baiklah. Aku tidak akan menang kalau kalian sudah berkomplot seperti ini. Aku akan ganti pakaianku dulu, tunggu sebentar." Sasuke mengangguk dan memutuskan untuk duduk di sofa letter u berwarna putih di sudut ruangan sambil menunggu Sakura.
Market, Tokyo Japan
Langit mendung memayungi kota Tokyo sore ini. Mebuki menenteng keranjang belanjaannya yang hampir penuh, ia akan memasak makanan kesukaan almarhum suami dan putri tunggalnya hari ini. Hari ini tepat dua tahun peringatan kematian suaminya. Ia sudah membeli semua bahan makanan yang dia butuhkan dan satu botol anggur bolinger rose yang berhasil ia beli dari menabung setiap uang bulanan yang di berikan Sakura kepadanya. Mebuki mengambil dompetnya dan menghitung uangnya. Masih cukup. Tinggal ikan salmon yang harus ia beli dan dia bisa pulang kerumah. Wanita itu bergegas ke kios penjual ikan demi mendapatkan salmon terbaik untuk putrinya.
Sementara itu, seorang wanita bersurai hitam baru saja turun dari mobil mewah miliknya. Ia menenteng dompet dan tas belanjanya sementara seorang asisten rumah tangganya mengikutinya dengan tidak yakin pada keputusannya. Mikoto Uchiha, wanita berusia awal pertengahan empat puluhan itu menyambangi satu-demi satu kios pedagang sayuran dan buah, memilih sayur dan buah-buahan segar untuk keluarganya. Dia memang istri dari seorang pengusaha sukses tapi berbelanja seperti ini adalah satu-satunya kegiatan yang ia gemari.
"Nyonya, apa tidak sebaiknya kita membeli di supermarket saja?" Mikoto tetap memilih beberapa buah apel dan tomat kesukaan kedua putranya lalu membayar belanjaannya dan menyerahkannya kepada asisten rumah tangganya.
"apa bedanya? Rasa daging, ikan, buah dan sayurnya sama saja. Lagi pula, kalau kau membelinya dari sini kau tidak akan curiga mereka mencampurkan zat kimia berbahaya untuk pengusir hama kedalam sayuran yang kau beli." Mikoto berjalan kearah kios pedagang ikan segar. Salmon. Ia ingat putra bungsunya juga menyukai ikan itu. Mikoto memasuki kios itu dan tanpa ragu mengambil potongan salmon terakhir yang juga akan diambil wanita bersurai pirang yang tidak asing baginya.
"Maaf, anda bisa memilikinya saya akan mencarinya ke kios yang lain." Wanita itu membungkuk dan berbalik Sementara Mikoto, wanita itu mematung dan mengamati wanita seusianya itu
"Tunggu dulu. Mebuki? Anda Mebuki Haruno, bukan?" Mebuki menghentikan langkahnya dan berbalik. Sepasang irisnya melebar mendapati siapa yang berdiri di hadapannya,
"Mikoto." Mikoto tersenyum tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Kami-sama , akhirnya. Aku dan Fugaku mencarimu dan Khiazhi kemana-mana. Bagaimana kabar kalian? Apa yang terjadi, kau harus ceritakan semuanya kepada ku." Mebuki tersenyum getir mendengar pertanyaan sahabatnya itu,
"Aku dan putriku baik-baik saja. Khiazhi, dia sudah meninggal dua tahun yang lalu." Mikoto menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Kau harus ceritakan semuanya. Setidaknya biarkan aku membantumu, melakukan apapun yang bisa ku lakukan." Mebuki tersenyum,
"kalau kau tidak keberatan, kau bisa mampir kerumahku. Tidak senyaman yang dulu, tapi putriku membelinya dengan keringatnya sendiri." Mikoto memandang sahabatnya itu dengan pandangan sendu. Tidak terpikir sama sekali kalau kehidupan salah satu dari mereka akan berputar seperti ini.
"Baiklah. Mobilku ada disana, kita bisa menggunakan mobilku. Hikari, tolong bawa belanjaan nyonya Haruno juga." Tanpa di perintah dua kali pelayan yang sejak tadi menggerutu dan mengikutinya itu mengambil tas belanja Mebuki dan mengikuti majikannya dari belakang.
Red Velvet restaurant, Tokyo Japan
Sakura tengah menunggu Sasuke yang sedang membayar makanan mereka ketika ponselnya berdering. Ibunya. Ini masih jam enam sore dan bukan jadwal ibunya akan mengingatkan dia akan batas jam malam sama sekali. Jadi kenapa menelfon? Fikiran buruk kembali menghantuinya tanpa berfikir dua kali gadis merah jambu itu keluar dari restaurant dan mengangkat telfonnya.
"kaa-san , ada apa?" Sasuke sudah ada di sampingnya membawa dua kantung paper bag berisi makanan dan wine yang mereka pesan.
"Aku? Aku sedang bersama Sasuke, kami membeli beberapa makanan untuk makan malam bersama. Sebentar lagi kami akan ke apartement." Sasuke melirik Sakura dengan pandangan bertanya dan wanita itu menolak memberikan jawaban.
"Ah… begitu? Baiklah, aku dan Sasuke akan kesana secepatnya." Ujarnya sebelum memutus sambungan telfonya.
"Ibumu?" Sakura mengangguk sebagai jawaban, ia mencoba meminta Sasuke untuk menyerahkan kantung paper bag itu kepadanya tapi pria itu menolak. Harga dirinya sebagai seorang pria kali ini yang melarangnya. Sasuke dan Sakura berjalan menyusuri parkiran dan masuk kedalam mobil sport biru tua milik Sasuke, lalu kembali menyusuri jalan-jalan kota Tokyo menuju apartementnya.
Sakura's Apartement, Tokyo Japan
Baik Mebuki dan Mikoto juga pelayan Mikoto sudah berkutat dengan kegiatan mereka di dapur. Mikoto dengan suka rela membantu wanita paruh baya itu untuk menyiapkan makan malam setelah menelfon Itachi dan suaminya untuk begabung dengan mereka. Ia sudah menyerah menghubungi Sasuke. Ada apa dengan anak itu sampai-sampai ponselnya tidak diangkat.
"Aku bertemu dengan putra bungsumu belum lama ini," Mikoto menoleh dengan pandangan tidak percaya kearah Mebuki.
"Maksudmu Sasuke? Bagaimana bisa?" Mebuki mengaduk kuah kari yang di buatnya dan menambahkan bumbu yang ia rasa kurang,
"Ia senior Sakura. Mereka mengadakan house warming party dadakan dua minggu yang lalu disini. Lagi pula putriku bekerja untuk menantumu." Mikoto menghentikan gerakan mengiris lobaknya.
"putrimu? Bekerja untuk menantuku? Ah… Sakura… gadis yang memiliki surai merah jambu itu bukan? Mahasiswa fashion design di Todai?" Mebuki tersenyum mendengar jawaban Mikoto,
"Kalian saling mengenal?" Mikoto tersenyum dan memasukkan potongan tomat kedalam sup nya.
"Dia pernah menjadi stylist ku dua atau tiga minggu yang lalu saat Hana harus mengurus keperluan fashion linenya untuk Tokyo fashion week akhir pekan ini." Mebuki mengangguk mengerti,
"Dia memiliki selera yang hebat. Kalau dia memulai debutnya, dia pasti akan berhasil dalam bidang ini. Anak itu, dia mau belajar banyak hal baru. Belakangan ini aku dengar dari Hana dia menunjuknya sebagai model yang akan memeragakan busana utama dalam rancangan akhir pekan ini. Kau mau melihatnya?" Mebuki terdiam mendengar tawaran sahabatnya itu. dia tidak tahu mau menjawab apa, dulu menghadiri acara seperti itu dengan sesama sosialita adalah agenda wajib baginya, tapi sekarang? Berpapasan dengan mereka saja ia enggan.
"aku tidak tahu. Minggu ini ada jadwal check up untuk ku." Mikoto terlihat kecewa tapi istri dari Fugaku Uchiha itu memahami alasan sahabatnya itu.
Keduanya menoleh kearah genkan saat mendengarkan perdebatan kecil seorang gadis dan pria. Mikoto memandang bingung kearah Mebuki karena mendengar suara pria yang tidak asing di telinganya. Suara putra bungsunya.
"Sudah ku bilang kau tidak perlu datang ke acara itu kalau memang tidak bisa, Sasuke." Sasuke, benar kan dugaannya benar.
"Demi Kami-sama Sakura! Aku sudah menyelesaikan semua tugasku dan aku akan mulai magang di perusahaan ayahku besok, lalu apa salahnya? Kesibukan mahasiswa akhir adalah menyusun skripsi dan sidang akhir. Kau harus tahu itu." Sasuke melepas sepatunya dna menggantinya dengan sandal rumah lalu mengikuti Sakura kearah dapur.
"Okaa-sama," Sasuke menghentikan langkahnya begitu menyadari siapa yang berdiri dihadapannya.
"Jadi, tidak menjawab telfon ibumu dan menonaktifkan ponselmu adalah hal yang di benarkan?" Sasuke meletakkan paper bag berisi makanan yang ia beli itu diatas mini pantry yang membantasi dapur dan ruang makan.
"Baterai ponselku habis. Aku bukannya sengaja menonaktifkan ponselku." Ujarnya,
"Tetap saja Sasuke Uchiha! Untung kau sedang bersama Sakura. Jadi kau bisa datang kesini atau akan kelaparan dirumah karena aku dan Mebuki mengundang seisi rumah untuk makan malam disini." Sakura tersenyum geli mendapati wajah menyebalkan Sasuke melembut saat memandang ibunya. Anak mami. Dalam hati gadis merah jambu itu meruntuki sikap bungsu Uchiha itu.
Sakura tersadar dari lamunannya saat bell intercomnya berbunyi. Ia melihat dari layar intercomnya dan mendapati tiga orang disana. Hana dan Itachi dan dia bertaruh seorang pria berusia awal lima puluhan itu adalah Fugaku, ayah Sasuke. Ada apa dengan dunia ini, ibunya dan para kolega ayahnya yang super kaya. Kenapa lingkaran bisnis sialan ini tidak berakhir menganggunya bahkan setelah ia kehilangan segalanya. Rasanya ingin menghindar tapi akan mustahil jadinya jadi, tanpa fikir panjang gadis merah jambu itu membuka pintu apartementnya, menolak membuat tamu-tamunya menunggu. Ia bertaruh, ini akan mejadi malam yang panjang dan sebuah reuni keluarga,.
Tbc. Njang njang chapter baru di update juga, maaf untuk keterlambatannya dan terimakasih untuk level kesabaran anda yang luar biasa menunggu fict ini buat update. Well, semoga kalian suka, seperti biasa RNR minna?
-Aphrodite girl 13
