Chapter 2

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : NaruSasu (Naruto x Sasuke)

Genre : Friendship, Romance, Yaoi, Shounen Ai

Note : If you dont like or hate this fanfic, Dont read!

Pagi ini, hari ini, adalah hari 'Upacara Penyambutan Murid Tahun Pertama' yang dihadiri oleh seluruh siswa dan siswi di Konoha High School. Sebagai kakak kelas yang merangkap sebagai kapten tim basket, Naruto—yang menurut pemikirannya—harus tampil memukau agar mendapatkan kesan yang baik untuk adik - adik kelasnya nanti.

Maka dari itu, Sasuke yang setengah mati harus sabar menunggu Naruto berdandan di rumahnya ketika menjemputnya untuk berangkat bersama, dan harus mendengar ocehannya tentang betapa pentingnya penampilannya di hadapan para juniornya nanti.

Naruto yang berlaku biasa saja tanpa neko - neko sudah sangat keren—menurut Sasuke—tanpa banyak teori versi Naruto yang membuat kepalanya berat.

Selama dua tahun, Naruto dan Sasuke sudah resmi menjadi murid Konoha High School dan menjadi tim inti di klub basket di sekolahnya. Membuat mereka super terkenal di sekolahnya.

Dua cowok tampan yang selalu banyak di gandrungi para semua murid di KHS, dan di luar sekolah. Selain jago basket, mereka juga jago dalam akademik. Naruto yang pernah menjuarai lomba Olimpiade Matematika—berkat privat khusus dari Sasuke—dan Sasuke yang menjuarai Olimpiade Fisika se-Tokyo, mampu membuat nama sekolah bangga.

Masuk majalah dengan julukan 'Dua Pangeran Berprestasi dari KHS' membuat Naruto dan Sasuke terkenal diantara para remaja wanita. Dua pemuda dengan sifat bertolak belakang ini, yang dengan seribu sayangnya belum pernah merasakan yang namanya pacaran. Topik yang sangat harus ketika wawancara untuk suatu majalah yang akan mereka bintangi.

Ketika ditanya seperti itu, mereka hanya menjawab, jika ingin fokus pada olahraga basketnya dan pendidikannya. Tidak ingin membagi waktu untuk hal - hal yang berbau romansa. Karena menurut mereka hal itu masih sangatlah jauh untuk mereka raih. Menjadi murid Berprestasi sudah cukup untuk membuat beban yang lumayan banyak.

Sebenarnya itu hanyalah alasan klise mereka saja. Kenyataannya adalah mereka yang masih belum bisa mengutarakan atau menyatakan perasaan cinta mereka pada orang yang disukai. Sasuke yang takut ketika Naruto yang akan menjauhinya jika tahu yang sebenarnya, dan begitupun sebaliknya.

Mungkin belum waktunya kami-sama bertindak untuk cerita cinta mereka dimulai, walau pun mereka saling menyukai tapi saling tidak tahu perasaan masing - masing. Asalkan mereka berdua selalu bersama, Hidup seperti ini sudahlah sangat cukup.

Upacara penerimaan murid baru berlangsung seperti biasa seperti tahun - tahun kemarin. Ini adalah tahun ketiga Naruto dan Sasuke di KHS. Naruto yang sangat sangat sangat menyesalinya di tahun keduanya, karena tak dapat sekelas dengan Sasuke dan sangat sangat sangat tersiksa tidak dapat bersama Sasuke di kelas. Berlebihan memang, tapi begitulah Naruto.

Selama sebulan belakangan ini, Naruto rajin datang ke kuil setiap hari, meminta pada kami-sama, agar di tahun ketiga dapat sekelas bersama Sasuke. Agar waktu di tahun keduanya tidak terlulang lagi di tahun ketiga.

Jadi, hari ini, Naruto bertekat dan mempersiapkan diri untuk menuju papan pengumuman yang ada di depan mata. .

.

.
Naruto dan Sasuke tengah berjalan menuju papan pengumuman yang dari kejauhan sudah nampak para siswa dan siswi bergerombol disana. Sesampainya disana, mereka mengadahkan kepala karena kertas pengumuman dipasang terlalu atas. Sengaja menghindari perseteruan—maksudnya keributan—yang dilakukan oleh para murid untuk mengetahui dimana letak kelas mereka.

Ketika Naruto mencari nama di lembar pertama, dia menemukan namanya. Itu berarti, Naruto masuk ke kelas 3-A. Tapi, Naruto tidak dapat menemukan nama Sasuke disana. Tidak mungkin 'kan? Dia sudah datang ke kuil setiap hari, tidak mungkin 'kan kami-sama tidak mengabulkan doanya.

Dan benar saja, Sasuke berada di kelas 3-B ketika Naruto mencari nama itu di lembar kedua di papan pengumuman. Naruto menatap Sasuke dengan muka memelas yang hampir mengeluarkan air matanya. Sasuke yang melihat itu jadi kasihan sendiri.

"Sudahlah, Naruto. Lagipula kelas kita bersebelahan kan? Tidak terlalu jauh. Kau bisa main kapan saja ke kelasku." Ujar Sasuke memberi semangat sambil menepuk punggung Naruto. Sebenarnya Sasuke juga sedikit kecewa atas keputusan ini. Bagaimanapun Sasuke juga ingin sekelas dengan Naruto. Naruto tidak menjawab dan masih memasang wajah itu, membuat Sasuke ingin menciumnya saat itu juga.

"Kalau bilang ke Sensei bisa tidak ya? Aku ingin kita sekelas, Sasuke!" Melihat Naruto yang menggoyangkan badan ke kanan dan ke kiri membuat pemuda pirang—nan tampan—ini terlihat seperti bocah umur 5 tahun. Oh ayolah. Mereka bukan anak kecil lagi. Umurnya sudah 17 tahun dan tahun ini mereka akan menginjak ke 18 tahun dan Naruto masih dengan tingkah yang kekanakannya.

'Kenapa aku bisa suka dengan pirang idiot macam ini?' Sasuke mendengus sebal mendapati hasil pemikirannya.

"N-Naruto kun!" Ucap Hinata yang ada disamping Naruto. Naruto menoleh kepalanya ke kanan dan mendapati Hinata yang berdiri tengah tersenyum canggung—tapi manis—itu. Naruto ikut tersenyum ketika tahu itu adalah Hinata.

"Oh! Hinata! Kau masuk ke kelas mana?" Tanya Naruto yang membuat Hinata salah tingkah.

"Aku berada di 3-A."

"Benarkah? Kalau begitu sama denganku. Aku juga ada di 3-A loh!" Seru Naruto dengan semangat apinya.

Oh good! Barusan dia mengeluh karena tak dapat sekelas dengan Sasuke, sekarang berubah menjadi semangat ketika tahu gadis indigo itu berada di kelas yang sama.

Sasuke tahu mereka memang tengah dekat. Sasuke tidak tahu hubungan mereka berdua, apalagi para fans Naruto yang selalu heboh menanyakan hubungan Naruto dan Hinata ke Sasuke. Membuat Sasuke benci setengah mati.

Sasuke cemburu! Tentu saja! Tapi apa yang bisa ia lakukan? Hanya diam dan mendengarkan gosip - gosip tidak enak, hanya seperti itu saja membuat hati Sasuke kesal.

Sasuke pernah bertanya pada Naruto tentang hubungannya dengan Hinata, dan Naruto bilang mereka hanya teman. Benarkah hanya berteman?

"Naruto, hari ini tidak akan ada pelajaran yang berlangsung, kau ingin langsung pulang setelah ini?" Naruto mengalihkan pandangan ke arah Sasuke.

Naruto Menggeleng. "Aku ingin ke Ichiraku Ramen nanti. Mau ikut?"

Sasuke mengangguk dan pergi meninggalkan papan pengumuman menuju loker sepatu. Naruto mengikuti dari belakang. Sepertinya Naruto lupa jika ada gadis indigo disana.

Selama di perjalanan menuju Ichiraku Ramen, Naruto dan Sasuke memulai obrolan kecil mereka dengan ringan. Tapi, ketika dirasa obrolan mereka telah berakhir, Naruto mengubah topik obrolan mereka yang membuat Sasuke agak melebarkan matanya.

"Sakura menembakku!" Dengan kecepatan angin, Sasuke menolehkan kepalannya menatap tidak percaya sahabatnya.

"Kaget ya?" Tanya Naruto membalas tatapan tidak percaya sahabatnya itu.

"K-kau jawab apa?" Ucap Sasuke terbata.

"Mau main tebak - tebakan? Yang kalah traktir Ramen ya?!" Sasuke menyeritkan keningnya sebal mendapati pertanyaannya dijawab oleh tantangan yang sangat basi.

"Kau menerimanya." Akhirnya Sasuke menebaknya juga.

Naruto tersenyum. "Hari ini kau traktir Ramen ya?!"

"Kau menolaknya? Bukannya kau menyukainya?"

"Itukan dulu."

Saat ini, Sasuke merasa ia masih punya kesempatan. .

.

.

Sasuke sampai sekarang masih takjub dengan kekuatan makan Naruto. Makan Ramen 3 mangkuk dan masih tambah lagi. Sasuke saja 1 mangkuk belum habis.

"Naruto, kau tidak kekenyangan makan sebegitu banyak?" Sasuke menunjuk 3 mangkuk yang bertumpuk di samping Naruto.

Naruto menggeleng. "Tidak. Kau kan tahu aku, Sasuke. Lagipula bukan aku yang makan terlalu banyak, tapi porsi makanmu yang sedikit. Pantas saja kau langsing seperti perempuan—Auww.. Itu sakit!" Sasuke melempar sumpitnya ke kepala Naruto dan melanjutkan makannya yang tertunda.

Memikirkan yang tadi, Naruto dan Hinata makin dekat saja akhir - akhir ini. Tidak mungkin mereka tidak pacaran kan?

"Apa hubunganmu dengan Hinata, Naruto?" Sasuke yang sudah sangat terlanjur penasaran akhirnya melayangkan pertanyaan yang sudah sering Sasuke tanyakan itu. Membuat Sasuke malu sendiri. Karena, pasti Naruto merasa risih akan pertanyaan Sasuke yang selalu sama dan selalu di tanyakannya itu.

Naruto mengangkat wajahnya dengan dahi berkerut memandang Sasuke yang tengah menyeruput ramennya dan menyudahi acara makannya. "Aku sudah pernah bilang kan? Kita hanya berteman."

Sasuke diam karena jawaban yang selalu sama di berikan Naruto. "Kau tidak percaya?"

"Aku hanya berasumsi bahwa kedekatan kalian tidak bisa di bilang kalau kalian hanya teman." Jawaban Sasuke terdengar seperti alasan bagi Naruto.

"Kau cemburu ya?" Selidik Naruto.

Sasuke tersedak mendengar penuturan dari Naruto barusan. "Hah?"

"Kau cemburu?"

"Memangnya kalau aku cemburu kenapa?" Tidak memungkiri kalau kata - kata yang di berikan pada Sasuke sempat membuatnya sedikit sesak di bagian dadanya.

Naruto tertawa pelan. "Kau tidak perlu begitu kok. Kalau kau suka dengan Hinata, kau bisa mendekatinya karena aku hanya menganggapnya teman."

"Hn"

'Kau salah paham, idiot!' Tapi, mendengar jawaban dari Naruto itu, membuat Sasuke tersungging senyum kecil di bibirnya. .

.

.

.
Sudah 2 minggu tahun ketiga yang mereka jalani di sekolah. Dan selama itu juga Naruto kembali tidak merasakan Sasuke di sebelahnya. Sedih sekali :'(

Di tahun ketiga ini, Naruto dan Sasuke dilarang untuk ikut klub basket lagi, mengingat 'Dua Pangeran' kita sudah berada di kelas tiga, jadi harus fokus ke pelajaran untuk mengikuti ujian masuk universitas.

Tapi walaupun begitu, tidak akan menyurutkan fans - fansnya padam, bahkan malah bertambah dari junior - junior tahun ini. Kadang sesekali, ketika sedang bosan, Naruto dan Sasuke kembali kelapangan bermain one on one.

Naruto melirik gadis indigo itu di meja sampingnya. Mengingat Hinata kemarin yang menyatakan perasaannya pada Naruto, tapi terpaksa Naruto tolak. Naruto jelas merasa bersalah pada Hinata, tapi dia tidak bisa menerima orang yang tidak ia cintai.

Naruto menyukai Hinata tapi tidak untuk mencintai gadis itu. Ia mencintai orang lain walaupun ia tidak tahu apakah orang itu juga mencintainya. Suatu hari, mungkin Naruto akan mengungkapkan isi hatinya pada Sasuke dan akan berakhir dengan penolakan tegas dari pemuda raven itu.

Tidak masalah jika ia patah hati asalkan perasaan yang selalu berkecamuk di dalam dadanya telah ia keluarkan. Tapi, apa ia siap untuk di jauhi oleh Sasuke?

Naruto menghela nafas dan mulai memandangi pemandangan luar jendela dari lantai 3, tidak mempedulikan ocehan pelajaran sejarah dari Kurenai Sensei di depan. Sekarang hatinya sedang sangat ingin mendengar suara pemuda raven yang telah mencuri hatinya.

Walau baru 2 jam berlalu, Naruto tidak bertemu dengan Sasuke, tapi Naruto merindukannya. .

.

.

Naruto memandangi Sasuke yang tengah berdiri di depannya dengan tatapan kaget dan tidak percaya sekaligus. Saat ini Naruto tengah berada di kamar Sasuke.

Awalnya, Sasuke mengajaknya bolos—Yang membuat Naruto terkejut karena seorang Uchiha Sasuke mengajaknya bolos sekolah—dan menyuruhnya mampir sebentar ke rumah Sasuke. Kebetulan orang tua Sasuke sedang keluar kota dan Itachi-nisan sedang ke kampus. Alhasil, Naruto dan Sasuke hanya berdua di rumah keluarga Uchiha yang lumayan besar ini.

Sasuke menyuruh Naruto keatas—ke kamar Sasuke—sambil menunggu Sasuke membawa camilan untuk dimakan sambil menonton film nanti.

Sambil menunggu Sasuke, Naruto ingin melihat - lihat apa yang akan di tontonnya nanti. Tapi ketika tangannya membuka rak DVD itu, Naruto kaget. Tidak percaya kalau Sasuke akan menyimpan banyak film biru di dalam rak DVDnya. Apalagi covernya semuanya laki - laki. Apa ini JAV gay, begitu?

Ketika pintu terbuka, terlihat Sasuke yang tengah membawa nampan datang kearah Naruto. Naruto yang kaget akan kedatangan tiba - tiba Sasuke belum sempat memasukan rak yang penuh dengan isi tidak jelasnya itu kembali ke tempatnya semula.

Sasuke yang melihat Naruto menggenggam DVD yang Sasuke kenal langsung menatap Naruto dengan tampang datarnya. "Kenapa tidak di setel?"

"Eh?" Naruto yang masih kaget karena kepergok mengambil DVD ini malah bingung dengan ucapan Sasuke barusan.

"Kenapa DVDnya tidak di setel? Kau bilang ingin menontonnya kan? DVD yang kau pegang itu" Ucap Sasuke sambil menunjuk DVD yang di pegang Naruto.

"Eh? Kapan aku bilang begitu?"

"Apa kepalamu terbentur sesuatu? Kenapa kau bisa lupa? Kau sendiri yang bilang padaku tadi pagi. Kau juga bilang ingin mempraktekan isi DVD itu kan? Cepatlah, kau pikir aku mempersiapkan diri juga karna siapa?" Ujar Sasuke malu - malu. Terlihat semburat merah tipis di kedua pipi putih susu itu.

Naruto berkedip dua kali, berusaha untuk menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Sasuke merebut DVD itu dari tangan Naruto dan mengeluarkan isinya. Mulai menyetel DVD itu dan menyalakan tv layar datarnya.

Layar datar itu memulai dengan latar tempat tidur di sebuah hotel dan ada dua orang laki - laki di sana. Sepertinya yang satu orang asia dan yang satu orang eropa. Sama seperti Naruto dan Sasuke. Membuat wajah Naruto memanas melihat video itu, padahal isi videonya belum masuk ke inti.

Sasuke menarik Naruto berdiri dan menyuruhnya mempersiapkan diri. Tapi apa yang harus dipersiapkan? Apa yang harus dilakukan? Saat itu juga Naruto ingin manggali lubang untuk menguburkan diri sendiri sangking terkejut dengan apa yang dilihatnya.

Satu persatu Sasuke membuka bajunya dan celananya, sampai celana dalamnya yang tersisa masih menempel manis di tubuh Sasuke. Sasuke yang sadar akan Naruto yang malah diam saja memandang sewot ke arah Naruto.

"kenapa diam? Kau tidak ingin melakukan?" Naruto tersentak ketika tangan Sasuke menyentuhnya. Menyadarkannya dari lamunannya. Naruto menoleh menatap layar datar itu yang sudah mengeluarkan desahan - desahan khas dari Video seperti itu.

'Ini mimpi 'kan? Ini benar - benar mimpi 'kan? Kalau ini memang benar mimpi..'

Naruto memandang Sasuke sejenak, menelan ludah mempersiapkan dirinya sebelum ia melepaskan semua kain yang menempel di tubuhnya.

'...siapapun, tolong jangan bangunkan aku!'

Naruto mulai menarik Sasuke ke kasur dan menindih tubuh putih mulus itu. Mulai meraba dan menikmati tubuh yang ada di bawahnya. Naruto menelan ludah sekali lagi dan mulai menciumi setiap inci jenjang leher Sasuke.

Mendengar desahan itu, Naruto semakin semangat melakukan kegiatannya itu.

"Naruto.. "

Naruto mendongak untuk melihat ekspresi wajah Sasuke. Oh.. Lihat betapa manisnya dia. Naruto merasa, ia adalah orang yang paling beruntung di dunia karena ialah yang dapat melihat ekspresi erotis dari seorang Uchiha Sasuke ini.

Ya. Hanya Uzumaki Naruto seorang.

"Naruto.. "

Naruto melanjutkan kegiatan yang tadi sempat tertunda.

"Naruto!"

Naruto menyeritkan kening. Apa suara Sasuke memang seperti perempuan ya?

"ruto..."

Naruto merasa ada yang tidak beres disini.

"Naruto.. "

"NARUTO!" Naruto terbangun dari tidurnya yang nyaman bin senang ini setelah mendengar Kurenai Sensei menggebrak meja yang tadi menjadi sandaran Naruto tertidur.

Naruto yang masih berusaha mengumpulkan kesadarannya, mulai memahami situasi saat ini. Sekarang ia tengah berada di dalam kelas Kurenai Sensei dan tertidur di kelasnya.

Tapi, bukan itu yang penting. Yang terpenting saat ini adalah YANG TADI ITU CUMA MIMPI.

Lagipula, kenapa Sasuke yang menjadikan objek mimpi basah Naruto? Apakah sebegitu tidak kuatnya Naruto berada jauh dengan Sasuke? Jika begini terus, Naruto mungkin harus cepat - cepat menyatakan perasaannya pada Sasuke sebelum dia melakukan onani di depan kelas dengan menyebutkan nama Sasuke. Itu adalah tindakan tergila yang pernah Naruto pikirkan.

"Kenapa Pangeran Matematika kami tidur di kelas? Apa pelajaran sejarah dariku sungguh membosankan?" Kurenai Sensei menatap wajah Naruto yang masih sayu dan menampakan iler di sudut bibirnya. Setelah mengelap bibirnya, Naruto meminta maaf pada Kurenai Sensei.

Untung saja Naruto mendapat julukan Pangeran di sekolah ini, dengan modal senyuman mautnya yang bisa meluluhkan hati Kurenai Sensei dan lepas dari hukuman yang akan di berikan pada Naruto. Bukan tanpa alasan Naruto harus lepas dari hukuman Kurenai Sensei, karena 'Junior' Naruto lah alasannya. Jika sampai ia berdiri, semua orang di dalam kelasnya tahu kalau 'Pangeran Matematika dan Kapten Tim Basket' mereka sedang mimpi basah saat perlajaran sedang berlangsung. Itu akan menurunkan image seorang Uzumaki Naruto yang telah Naruto jaga selama ini.

'Tidurlah lagi 'Junior', harga diriku bergantung padamu sekarang.'

.

.

.

Tsuzuku