"Apa kau akan melakukan sesuatu pada Mingyu? Kau tahu sendiri kan bagaimana dia tadi melawan mu?" tanya Soonyoung sedikit was was
Wonwoo mengeluarkan Smirk nya, yang membuat Soonyoung sedikit takut.
"Entah lah. Tapi sepertinya menarik jika aku bermain bersama dengannya. Aku mendapatkan mainan baru." Wonwoo semakin mengelurkan aura hitamnya
Ucapan Wonwoo membuat Soonyoung menggelengkan kepalanya.
"Dan tolong cari tahu apapun tentang dia. Dia membuatku penasaran." Ucap Wonwoo menakutkan.
LOVE IS SIMPLE
Author : Jung Minwoo96
Nilai: ? (Dinilai sendiri saja ya... karena Author pun ndak tahu berapa yang harus dinilai untuk FF ini. hehehehehehe)
Cast:
Wonwoo
Mingyu
Jungkook
Taehyung
Seulgi
Soonyoung
Cast yang lain menyusul tergantung jalan cerita!
Disclaimer : Semua Cast hanya milik Tuhan YME dan orang tua mereka. saya hanya menggunakan nama mereka karena saya sangat menyukai mereka. Cerita murni dari saya pribadi, tapi Inspirasinya dari berbagai macam – macam Author favorit, ff favorit saya, manga jepang favorite, Drakor, Drama jepang dan lain - lain.
Genre: Romantis, Brothership, Friendship, Family
Warning : BL/YAOI, jika ada Typo's atau GJ mohon dimakhlumi karena Author hanya manusia biasa, hehehehehe.
Happy Reading!
Chapter 2
Jungkook berlari di koridor sekolah menuju kearah ruang kelas Taehyung ketika istirahat sekolah, setelah sampai Jungkook membuka pintu ruang kelas itu dengan keras, hal itu membuat seluruh anak – anak di dalam kelas Taehyung terjengkit kaget.
Mereka menatap Jungkook dengan pandangan heran, kenapa anak tingkat satu bisa dengan berani masuk ke kelas anak tingkat tiga.
"Tae Hyung" panggil Jungkook sambil mengatur nafasnya. Jungkook mengedarkan pandangannya mencari kekasih eliennya itu.
Taehyung yang melihat Jungkook langsung menghampirinya
"Ada apa Bunny - ku ada disini?" goda Taehyung sambil menyeka keringat Jungkook yang ada dikeningnya
"To... Tolong aku, hyung." Jungkook terlihat panik. Melihat kepanikan Jungkook membuat Taehyung seketika merubah ekspresinya.
"Ada apa?"
"Mi... Mingyu... Mingyu dikeroyok oleh segerombolan anak – anak berandalan di dalam kelas." Jungkook benar – benar panik. Terlihat air matanya yang siap meluncur kapan saja.
Mendengar itu Taehyung bergegas menarik tangan Jungkook dan segera menuju ke kelas anak tingkat satu.
Sesampainya disana, Taehyung melihat kelas itu sudah berantakan. Kursi dan meja tidak karuan letaknya. Anak – anak kelas itu menyingkir di luar kelas dari pada harus terlibat perkelahian.
Mingyu terlihat kewalahan menghadapi beberapa orang yang mengeroyoknya, Taehyung sudah ingin maju membantu Mingyu, tapi niatan itu urung ketika melihat Wonwoo berdiri dipojok dengan santainya sambil menyilangkan tangan didadanya.
"Jadi ini ulah Jeon Wonwoo." Batin Taehyung kesal, dengan segera Taehyung mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang
"Ya. Apa yang kau lakukan? Cepat hentikan sahabat mu itu! Jika tidak ingin kau ku kuliti hidup – hidup. Kwon Soonyoung." bentak Taehyung. Lalu menutup ponselnya dengan kasar.
"Hyung, kenapa kau tidak membantu Mingyu?" Jungkook sudah takut melihat bagaimana Mingyu benar – benar kewalahan. Jungkook sebenarnya bisa taekwondo tapi tingkatannya masih rendah tidak setinggi Mingyu dan Taehyung.
"Tenang, Kookie. Masalah ini tidak akan cepat selesai jika aku ikut berkelahi dengan mereka. Jika Jeon Wonwoo yang memulainya maka yang bisa menghentikan ini hanyalah..." belum selesai Taehyung menyelesaikan ucapannya, tiba – tiba namja bermata sipit datang, meraih satu kursi dan membanting kursi kearah area perkelahian itu.
Hal itu membuat perkelahian itu berhenti seketika dan membuat Wonwoo terkejut.
"SEDANG APA KALIAN, EOH?" teriaknya lantang, hingga membuat semua orang terdiam seketika.
"INI SEKOLAH KU, KALIAN TIDAK BISA SEENAKNYA MASUK DAN BERBUAT SEPERTI INI. JIKA KALIAN TIDAK MENGHENTIKAN INI, MAKA AKU AKAN MELEMPAR KALIAN SATU PERSATU DARI JENDELA." Gertakan dan teriakan itu membuat Taehyung tersenyum sinis kearah Wonwoo.
"Kwon Soonyoung" lanjut Taehyung. Ucapan tadi yang belum selesai dianjutkan oleh Taehyung.
"Jika sudah seperti ini maka hanya Kwon Soonyoung yang dapat menghentikan Wonwoo."
Jungkook sedikit terkejut dengan ucapan Taehyung, lalu Jungkook dapat melihat bagaimana Soonyoung membereskan kekacauan yang dibuat oleh geng sahabatnya itu.
"KELUAR!" teriakan lantang itu membuat segerombolan anak – anak berandalan itu keluar dengan wajah tertunduk.
Sebelum benar – benar keluar Soonyoung membuat peringatan pada anak – anak beradalan itu.
"Jika aku melihat batang hidung kalian disekolah ku, maka akan kupastikan aku sendiri yang akan mematahkan kaki dan lengan kalian." geram Soonyoung.
Soonyoung menatap Wonwoo yang balas menatap Soonyoung dengan padangan datar dan malas.
"Kau merusak kesenangan orang" Wonwoo hendak berbalik
"Jika kau melangkah kan kaki mu selangkah saja, aku tidak akan pernah menemuimu."
Ancaman Soonyoung membuat Wonwoo menghentikan langkahnya seketika, lalu berbalik menatap Soonyoung dengan pandangan datar. Jungkook yang melihat itu menatap takjub kearah Soonyoung. Jungkook berfikir bahwa Soonyoung seperti seorang pawang dari seekor hewan buas yang mampu mengendalikan sikap dan tindakan hewan buas tersebut.
Soonyoung menghampiri Mingyu, dia melihat bagaimana kondisi Mingyu. Penuh dengan luka dan lebam – lebam diwajahnya. Soonyoung mengambil kaca mata Mingyu yang tergeletak tak jauh darinya dan melihat kaca mata itu sedikit retak. Soonyoung menatap sedih kearah Mingyu.
"Gwenchanayo?" Soonyoung menatap khawatir sambil menyerahkan kacamata Mingyu
"Gwenchana, hyung." Mingyu tersenyum lembut
"Maafkan sifat kekanak – kanakan Wonwoo. Aku akan mengganti kacamata mu yang rusak" Soonyoung membungkuk kearah Mingyu.
Mingyu, Taehyung dan Jungkook terkejut, terlebih Wonwoo yang amat terkejut dengan tindakan Soonyoung.
"Ani. Tidak apa – apa, Hyung. Aku baik – baik saja." Mingyu sedikit gugup melihat Soonyoung minta maaf padanya.
Soonyoung menegakkan tubuhnya lalu berbalik menghampiri Wonwoo.
"Nal ttarawa" Menarik Wonwoo untuk berdiri dihadapan Mingyu, Soonyoung mengelus kepala belakang Wonwoo sambil tersenyum penuh makna kemudian dengan cepat mendorong kepala Wonwoo untuk menunduk.
Hal itu secara otomastis membuat Wonwoo, Mingyu, Taehyung dan Jungkook benar – benar terkejut.
"Minta maaf!" perintah Soonyoung sambil menahan kepala Wonwoo agar tidak bergerak sampai dia minta maaf pada Mingyu
"Shireo" jawab Wonwoo datar sambil terus memberontak, tapi kali ini Soonyoung tidak mau kalah dari Wonwoo
"Minta maaf dulu, baru aku akan melepaskanmu!" perintah Soonyoung
"Aku. Tidak. Mau." Wonwoo menekankan setiap kata – katanya
"WONWOO" teriak marah Soonyoung
Hal itu membuat Mingyu, Taehyung dan Jungkook terkejut, baru kali ini mereka melihat Soonyoung berteriak pada Wonwoo. Sahabat memang berbeda. Batin mereka bertiga.
"Tidak apa – apa, Soonyoung hyung. Aku baik – baik saja." Mingyu berusaha mencairkan suasana. Mingyu menyingkirkan tangan Soonyoung yang menekan kepala Wonwoo.
Saat tangan Soonyoung menyingkir dari kepala Wonwoo, Wonwoo menegakkan kepalanya sambil menatap datar kearah Mingyu. Mingyu hanya tersenyum dengan lembut kearahnya.
Melihat bagaimana Mingyu tersenyum membuat Wonwoo sedikit merasa bersalah, tapi ego nya mengalahkan segala.
"Urusanku belum selesai." Suara berat Wonwoo membuat Mingyu menatapnya
"Aku akan menunggu apa yang akan kau lakukan, Wonwoo Sunbae" Mingyu tersenyum penuh arti.
Hal itu membuat Wonwoo dan ketiga orang lainnya terkejut, Mingyu menantang Wonwoo. Benar – benar berani menatang Wonwoo. Sedangkan Wonwoo yang mendengar itu dengan kesal menendang tulang kaki Mingyu dan pergi meninggalkan ruang kelas Mingyu yang berantakan.
"Ya! Jeon Wonwoo." Panggil Soonyoung. Sebelum menyusul Wonwoo, Soonyoung sekali lagi menyempatkan minta maaf pada Mingyu.
"Gwenchanayo?" tanya Jungkook setelah Soonyoung dan Wonwoo pergi meninggalkan kelas mereka. Jungkook menatap Mingyu dengan pandangan khawatir, dia melihat Mingyu mengusap kaki nya yang tadi ditendang oleh Wonwoo.
"Gwenchana." Jawab Mingyu mencoba menenangkan Jungkook
"Tadi kenapa kau memanggilku? Bukan memanggil Songsaengnim?" Taehyung sedikit heran dengan tindakan Jungkook
"Kami tadi sudah di ancam oleh Wonwoo sunbae. Jika kami memanggil Songsaengnim, maka kami tidak akan luput dari mereka. Jadi jalan satu – satunya aku memanggil mu hyung. Aku tidak bisa mengatasi sendiri"
Penjelasan Jungkook memuat Taehyung tersenyum, dengan lembut Taehyung mengusap kepala Jungkook pelan
"Lain kali jika butuh bantuan kau tidak perlu berlari ke kelasku, cukup telpon aku saja. Aku akan datang membantu"
Ucapan Taehyung membuat Jungkook membulatkan matanya terkejut.
"Kenapa aku tidak memikirkan itu?" pekik Jungkook sambil memegang kepalanya
Mingyu dan Taehyung terkekeh melihat wajah cego Jungkook
"Itu karena kau terlalu panik, Kookie. Jadi kau tidak bisa berfikir untuk menggunakan cara sederhana itu" Mingyu mencubit dengan gemas pipi chubby Jungkook
"Aku khawatir padamu, Pabo!" Jungkook memasang wajah kesalnya pada Mingyu.
Taehyung terkekeh pelan melihat interaksi dua sahabat itu.
"Bagaimana mungkin aku hampir tega memisahkan mereka? Mereka saling membutuhkan satu sama lain" batin Taehyung merasa bersalah kemarin ingin memaksakan Jungkook untuk tinggal dengannya.
"Sekarang kita bawa Mingyu keruang kesehatan. Kita harus mengobati lukanya." Ajak Taehyung yang dituruti oleh Mingyu dan Jungkook.
***LOVE IS SIMPLE***
"Soonyoung hyung" panggil Seokmin ketika dia ada diruang khusus untuk Wonwoo dan Soonyoung.
Ruang khusus yang disediakan oleh sekolah karena orang tua Wonwoo salah satu donatur terbesar di sekolah. Ruangan itu hanya berupa kelas yang tidak terpakai. Namun karena Soonyoung lah ruang kelas itu berubah menjadi ruangan yang nyaman ditinggali oleh siapa saja. Jika ada jam pelajaran kosong, Wonwoo dan Soonyoung selalu menghabiskan waktu mereka di ruangan ini. tidak terkecuali Seokmin yang selalu menemani Soonyoung jika Wonwoo membuat ulah.
Seokmin melihat Soonyoung sedang duduk disamping Wonwoo yang menatapnya datar.
"Kenapa kau ikut campur urusanku? Biasanya kau tidak pernah membuatku malu dihadapan mainan ku." Ucap Wonwoo datar.
"Aku tidak akan ikut campur jika itu bukan Mingyu. Dan juga jika bukan sekolah kita yang kau jadikan ajang tempat perkelahian tadi"
Jawaban Soonyoung membuat Wonwoo menatapnya sedikit terkejut.
"Kenapa?"
"Mingyu berbeda dengan mainanmu yang lain. Dia sangat amat berbeda. Jadi sebelum kau menyesal, aku akan menghentikanmu."
Seokmin tetap berdiam diri di sebelah Soonyoung, menyimak dengan baik perdebatan dua orang sahabat ini.
"Alasannya?" Wonwoo menatap Soonyoung penuh selidik
"Aku tidak akan memberitahumu setelah kau minta maaf padanya."
"Tidak akan pernah" Wonwoo semakin menatap datar kearah Soonyoung, namun Soonyoung tidak terpengaruh sama sekali.
"Aku tidak ingin kau menyesal, Wonie. Minta maaf lah pada Mingyu." Soonyoung mengguncang – guncang lengan Wonwoo
"Jika kau meminta ku melakukan itu, berarti ada sesuatu dari infomasi yang kau dapatkan mengenai dia?" Wonwoo semakin menatap curiga kearah Soonyoung.
Soonyoung diam menatap Wonwoo. Dia tidak ingin memberitahu Wonwoo jika Wonwoo tidak ingin menuruti permintaannya.
"Kalau kau tetap diam. Aku akan tetap bermain dengan mainan baruku." Wonwoo beranjak dari tempat duduk nya. Lalu pergi meninggalkan ruang itu.
"Hyung" panggil Seokmin sambil duduk dihadapan Soonyoung. Soonyoung diam sambil menunduk. Dengan gerakan lembut Seokmin membawa Soonyoung kedalam pelukannya
"Apa yang kau tahu mengenai Mingyu? Kau bisa bercerita padaku. Jangan seperti ini!" Seokmin memberikan kata – kata menenangkan untuk orang yang sedang dalam pelukannya.
Soonyoung mengeratkan tangannya pada seragam depan Seokmin sambil mencari kenyamannan di pelukan kekasihnya itu.
"Hyung..."
"Jika waktu nya sudah tepat, aku akan menceritakan semuanya padamu dan Wonwoo." Soonyoung semakin menenggelamkan diri dipelukan Seokmin.
***LOVE IS SIMPLE***
BRAAKK
Tanpa sengaja Mingyu menjatuhkan kardus – kardus berisi bahan – bahan makanan yang ada diruang penyimpanan cafe.
"Kau baik – baik saja?" Jungkook merasa khawatir melihat Mingyu meringis memegang tanganya.
"Aku baik – baik saja." Mingyu menahan sakit pada lengannya yang lebam.
"Tadi aku sudah bilang, kau harus izin dulu. Lenganmu pasti masih sakit. Eunhyuk sajangnim pasti akan mengizinkannya."
"Tapi aku tidak ingin gajiku dikurangi. Kita butuh uang untuk menyewa rumah atau apartemen." Mingyu duduk disebelah tumpukan kardus yang jatuh. Jungkook menatap Mingyu dengan padangan sedih
"Aku tahu kita membutuhkan uang, tapi kesehatanmu lebih penting. Aku masih punya tabungan kalau hanya untuk menyewa. Kalau untuk makan kita gunakan dulu gajiku nanti." Jungkook mencoba memberikan pengertian pada Mingyu
"Kalau seperti itu aku bisa dimarahi Tae hyung. Tae hyung pasti berfikir bahwa aku tidak bisa menjagamu. Aku tidak ingin itu terjadi. Tae hyung sudah banyak membantu kita, aku tidak ingin membuatnya khawatir karena terlalu mengkhawatirkan orang yang dicintainya." Mingyu menatap Jungkook yang sedang menatapnya sedih
Dengan gerakan lembut Jungkook mengelus rambut Mingyu
"Tae hyung pasti mengerti posisi kita, dia bukan orang yang seperti itu. Kita sudah mengenalnya kan. Jangan terlalu berlebihkan berfikir mengenai Tae hyung. Kau harus istirahat. Aku akan bilang pada Eunhyuk sajangnim." Jungkook hendak melangkah namun tangan Mingyu menahannya
"Minhae, Kookie. Aku menyusahkanmu."
"Ya! Aku kan keluargamu, apakah keluarga ada yang seperti itu? Tidak kan! Jadi jangan sekali – kali bicara seperti itu." Jungkook menjitak kepala Mingyu. Mingyu tersenyum mendengar ucapan Jungkook.
"Gomawo."
Jungkook keluar dari ruang penyimpangan dan pergi menemui Eunhyuk.
Mingyu mengingat bagaimana tadi dirinya dijadikan bulan – bulan oleh anak – anak berandalan yang notabene adalah geng dari seseorang yang dia cintai. Dia tidak habis fikir bagaimana seorang Wonwoo bisa menemukan orang – orang seperti itu? Ah, lupakan lah! Apa Mingyu lupa jika Wonwoo adalah salah satu orang yang berkuasa, hingga mudah bagi Wonwoo mendapatkan anak – anak berandalan seperti itu.
Mingyu beranjak dari duduknya dan perlahan menata kembali kardus – kardus yang jatuh tadi.
Baru saja hujan turun dan membahasi tanah, banyak orang – orang yang tadi berteduh sekarang bisa kembali menyusuri jalanan untuk pulang kerumah masing – masing. Tidak terkecuali Taehyung dan Jungkook, sepasang kekasih itu tengah duduk dengan manis di dalam mobil. Baru saja Taehyung menjemput Jungkook dari tempat kerjanya.
"Dimana Mingyu?" tanya Taehyung heran karena tidak melihat Mingyu keluar dari cafe.
"Mingyu sudah pulang dulu, Hyung. Lengannya masih sakit tapi dia masih memaksakan untuk bekerja. Jadi tadi aku meminta izin pada Eunhyung sajangnim untuk mengizinkan Mingyu pulang terlebih dahulu."
Taehyung hanya mengangguk mendengar cerita dari Jungkook
"Jadi, kapan kita akan melihat apartemen atau rumah sewaan kalian?"
"Sekarang hyung, tadi saat pulang sekolah aku mendapat telpon dari salah satu properti. Mereka meminta ku dan Mingyu untuk datang melihatnya. Tapi aku dan Mingyu sepakat akan mengambil sewa yang harganya rendah."
"Tapi aku tidak mengizinkan kau dan Mingyu tinggal ditempat yang tidak layak" Taehyung menghentikan mobilnya ditempat parkir taman dekat dengan cafe, dia sengaja melakukannya karena tidak ingin mereka kecelakaan saat memulai pembicaraan yang penting ini.
"Hyung, jangan – jangan kau..." Jungkook menatap Taehyung dengan tatapan curiga.
"Hm..." Taehyung mengangguk "Aku sudah menyewakan apartemen yang layak untuk kalian."
"Hyung..." pekik Jungkook tidak terima. Taehyung menatap Jungkook dengan padangan yang sulit diartikan
"Kau tahu bagaimana kerja keras ku dan Mingyu mengumpulkan uang untuk ini, kenapa kau seenaknya sendiri? Apa kau meremehkan jerih payah ku dan Mingyu?" Jungkook sudah mulai geram dengan tindakan kekasihnya ini.
Taehyung yang mendengar ucapan Jungkook tersulut emosi, Taehyung menatap Jungkook dengan penuh amarah karena merasa tersinggung dengan itu
"Seenaknya sendiri? Apa kau fikir aku akan mengizinkanmu dan Mingyu menempati tempat tinggal yang tidak layak dihuni? Apa kau fikir aku akan mengizinkan mu dan Mingyu tinggal dengan keamanan yang seadanya?" Taehyung sudah mulai menaikan suaranya.
"Tapi aku dan Mingyu bukan orang kaya yang akan bisa membayar dengan mudah uang sewanya, Hyung" Jungkook mencoba memberi pengertian
"Aku yang membayarnya. Aku yang menyewa tempat itu, tapi kalian yang akan menempati."
"Kenapa kau selalu membuatku seperti ini? kau tidak membiarkanku mandiri. Aku tidak ingin selalu bergantung padamu, hyung. Aku ingin sekali saja melakukan sesuatu tanpa bantuanmu."
Taehyung benar – benar marah dengan ucapan Jungkook, hingga dengan kasar Taehyung menarik dan mencengkeram lengan Jungkook, hingga membuat Jungkook menghadap kearahnya
"Tapi aku kekasihmu! Aku berhak melindungimu, aku berhak memberikan sesuatu yang terbaik untuk mu." Taehyung semakin mengeratkan tanganya, hingga membuat Jungkook meringis kesakitan.
"Hyung, tapi terkadang tugas kekasih juga harus memahami kondisi kekasihnya. Aku bukan orang kaya, hyung. Aku hanya anak yatim piatu. Aku tidak punya orang tua, aku hanya pekerja part time. Sekolah pun aku masih kau yang membantu. Aku ingin sekali saja kau pahami posisiku." Jungkook menatap sedih kearah Taehyung yang sedang marah, suara Jungkook sudah tercekat.
"Semua orang menyangka, aku menjadi kekasihmu karena aku menginginkan hartamu. Aku memanfaatkanmu yang berkuasa untuk kepentinganku sendiri. Jika kau seperti ini terus aku dan Mingyu benar – benar akan dipandang sebelah mata oleh orang lain."
Mendengar itu Taehyung mengendurkan cengkraman tanganya
"Tapi kau dan Mingyu tidak seperti itu." Taehyung mencoba meredam emosinya
"Arra. Aku juga tahu hyung tidak akan berfikir seperti itu, tapi pandangan orang lain yang merendahkan kami benar – benar membuat ku terganggu hyung. Mereka merendahkan kami karena kami anak yatim piatu, kami tidak punya apa – apa untuk dibanggakan. Berbeda jika kami anak orang kaya, seperti apapun perhatian yang Hyung berikan pada kami itu akan dinilai sebagai tanda kasih sayang." Jungkook menjeda kalimatnya untuk mengambil nafasnya pelan.
"Tapi disini kami adalah anak yatim piatu yang akan dipandang sebelah mata jika kami dekat dengan anak – anak orang kaya. Saat aku bersekolah di sekolah yang sama denganmu waktu itu, banyak yang menganggap bahwa aku merayumu agar bisa bersekolah disekolah yang elit."
Taehyung membelalakkan matanya terkejut mendengar itu, karena baru bertama kali ini Jungkook menceritakan hal itu padanya.
"Merayu?" Taehyung mencoba memastikan pendengarannya bahwa dia tidak salah dengar. Jungkook menundukkan kepalanya.
"Penggemarmu saat di SMP menemuiku saat aku pulang kerja dengan Mingyu beberapa waktu yang lalu. Mereka menghina ku dengan kata – kata yang kasar dan kotor. Mereka tidak terima saat aku bisa satu sekolah denganmu dan bisa bersekolah di sekolah elit. Dilihat bagaimana statusku dan kedudukanku tidak mungkin aku bisa sekolah disekolah itu, terkecuali Mingyu yang memang mempunyai ambisi untuk sekolah ditempat itu. Mereka menuduhku yang bukan – bukan, mulai dari merayu mu hingga menggodamu dengan menjual tubuhku."
"MWO?" pekik Taehyung terkejut. Jungkook mulai menghapus air matanya yang turun di pipinya
"Jika saat itu aku tidak bersama dengan Mingyu, dipastikan aku pulang dengan badan yang tidak utuh karena dikeroyok oleh penggemarmu." Jungkook menatap Taehyung dengan pandangan sendu.
"Jadi aku mohon, hyung. Jangan seperti ini. biarkan aku dan Mingyu yang menentukan tempat tinggal kami. Biarkan aku dan Mingyu yang menanggung semuanya. Hyung, sudah banyak membantu kami, jadi biarkan kami mandiri." Jungkook sudah menangis mengatakan itu.
"Aku lelah hyung, jika harus mendapat hinaan lagi hanya karena aku anak yatim piatu. Aku tidak ingin nama besarmu yang membuat ku dan Mingyu hidup enak. Kami ingin berjuang sendiri, kami tidak ingin selalu berlindung dibawah namamu. Aku benar – benar lelah, hyung. Sangat lelah." Jungkook menangis sesenggukan dihadapan Taehyung, Taehyung hanya diam memandang orang yang dicintainya ini.
"Apa aku salah bersamamu? Apa aku salah mencintaimu? Apa aku salah jika kau mencintaiku? Apa yang salah padaku hyung, hingga semua orang merendahkanku karena aku bersama denganmu? Apa karena aku anak yatim piatu? Tinggal dipanti asuhan? Kerja part time? Jika aku mau, aku juga tidak ingin seperti itu. Aku ingin terlahir sebagai orang yang sederajat denganmu." Jungkook terus merancau sambil menangis
Taehyung memeluk Jungkook dengan erat. Dia tidak ingin mendengar lagi rancauan Jungkook yang menyanyat hatinya.
"Mianhae, kookie. Mianhae." Taehyung mengelus lembut kepala dan punggung Jungkook.
"Apa yang salah padaku, hyung?" Jungkook terus merancau
Taehyung melepaskan pelukanya dan menangkupkan tangannya pada pipi chubby Jungkook. Mencium bibir plum itu dengan sangat lembut.
"Aku tidak membutuhkan dirimu yang terlahir lagi sebagai orang yang sederajat denganku." Ucap Taehyung setelah melepas ciuman manisnya
"Aku hanya membutuhkan mu sebagai Jeon Jungkook-ku." Taehyung mengecup dahi Jungkook
"Sebagai Bunny-ku yang manis." kecupan Taehyung turun pada kedua mata Jungkook
"Sebagai kekasih Kim Taehyung" Taehyung mengecup hidung Jungkook
"Dan sebagai pelengkap hidup Kim Taehyung" Taehyung mencium bibir Jungkook lama, merasakan manisnya bibir itu lebih lama lagi. Hingga Jungkook mendorong Taehyung karena dia kehabisan nafasnya.
"Dengarkan aku..." Taehyung menatap Jungkook dengan padangan yang lembut.
"Aku tidak membutuhkan apapun dari mu, Kookie. Kekayaan dan status, aku tidak membutuhkannya dari mu karena aku sudah memilikinya. Aku hanya tahu bahwa aku mencintaimu dan ingin memberikan hal yang terbaik untukmu. Aku tidak ingin kau merasa terbebani dengan statusku. Aku hanya ingin seorang Jeon Jungkook selalu ada di sisi Kim Taehyung. Hanya itu yang aku inginkan. Aku tidak butuh yang lain."
Taehyung memeluk Jungkook dengan lembut, memberikan ketenangan pada kekasih nya ini. dia tidak ingin membuat Jungkook menangis lagi.
"Aku hanya ingin mandiri, hyung. Belajar mandiri tanpa bantuanmu." Jungkook mencari kenyamaan dipelukan Taehyung.
"Arra. Aku akan menuruti kemana pun kau dan Mingyu akan tinggal. Asalkan tempat tinggal yang layak dan keamanan yang terjaga. Jika dua hal itu sudah terpenuhi maka aku tidak akan melarangnya."
"Yaksok?" Jungkook melepaskan pelukannya,
"Yaksok" Taehyung tersenyum lalu mengecup bibir Jungkook singkat.
***LOVE IS SIMPLE***
"Wonwoo" panggil Seulgi ketika melihat Wonwoo menaiki tangga menunju kamarnya, Wonwoo menoleh pada Noonanya sebentar kemudian turun menghampiri kakaknya yang tengah duduk di ruang tengah sambil membaca majalah.
"Duduklah!" perintah Seulgi sambil menepuk tempat duduk yang ada disampingnya, yang langsung dilaksanakan oleh Wonwoo.
"Aku dengar dari Soonyoung jika kau membuat ulah lagi." Seulgi menatap Wonwoo, sedangkan Wonwoo yang tidak ingin membahas masalah itu berniat beranjak dari tempat duduknya, namun Seulgi tidak membiarkan hal itu terjadi. Dia menahan tangan dongsaengnya agar tetap berada di sampingnya.
"Jangan kemana – mana. Dengar kan aku, kau sudah mulai dewasa. Sampai kapan kau akan seperti ini, Wonie. Mengerjai anak tingkat satu, sikap mu tidak dewasa sekali."
"Dia berbeda. Dia tidak seperti yang lain. Dia akan selalu melawan apapun yang akan ku lakukan." Wonwoo hanya menatap datar Noona-nya.
"Kau seharusnya sadar, tidak semua orang harus menuruti apapun yang kau inginkan. Pasti ada orang yang seperti itu." Seulgi mencoba menasehati dongsaeng satu – satu nya itu.
"Aku tidak akan pernah berhenti sampai dia mau mengaku kalah padaku. Dia menatangku jadi aku harus terima tantangannya."
"Tapi hati – hati jika nanti kau jatuh cinta padanya" Seulgi menggoda Wonwoo dengan wajah yang jail.
Wonwoo yang digoda seperti itu tiba – tiba merasakan wajahnya memanas karena ucapan Seulgi. Malu eoh!
"Ti... tidak akan pernah. Aku tidak akan jatuh cinta padanya" ucap Wonwoo gugup, Seulgi semakin memasang wajah menggodanya pada Wonwoo.
"Jangan bilang seperti itu. Kau nanti akan termakan omonganmu sendiri dan secara tidak sadar kau sudah jatuh cinta padanya " Seulgi mencolek – colek dagu Wonwoo sambil menaik turunkan alisnya.
"Noona pasti bermimpi?" Wonwoo memasang wajah mengejek, dia mati – matian menahan wajahnya yang sudah memerah karena godaan Seulgi
"Bermimpi? Tidak! Aku tidak bermimpi. Jika aku bermimpi, aku tidak akan bisa melihat wajah merahmu ini" Seulgi mencubit kedua pipi Wonwoo dengan gemas.
"Aigo, Dongsaeng aku manis sekali" pekik Seulgi, sedangkan Wonwoo yang malu digoda Noonanya seperti itu hanya bisa mengerang protes.
"Ya, Noona!" pekik Wonwoo tidak terima.
Seulgi hanya tertawa menikmati wajah memerah dongsaengnya. Baginya Wonwoo sangat manis sekarang. Amat sangat manis.
"Aaaahhhh... Lelah!" seru Jungkook sambil merebahkan dilantai apartemen baru nya dan Mingyu. Hari ini mereka sudah menemukan apartemen yang cocok untuk mereka tinggalin, dan hari itu juga mereka pindah dari panti asuhan yang sudah berjasa membesarkan mereka.
Apartemen yang Mingyu dan Jungkook tempati adalah apartemen sederhana namun nyaman dan aman dari kejahatan. Keamanannya pun terjaga, karena hal itulah Taehyung mengizinkan mereka berdua tinggal di apartemen pilihan mereka sendiri.
"Ya, Jungkook-ah... kita belum selesai mengeluarkan barang dari kardus – kardus itu." Pekik Mingyu saat merlihat Jungkook berbaring dengan nyaman dilantai.
"Aku lelah! Sebentar saja. Atau besok saja kita mengeluarkannya? Ini sudah malam, Mingyu. Waktunya istirahat." Jungkook merengut melihat bagaimana semangatnya dan cerewetnya Mingyu kalau sudah urusan bersih membersih.
Padahal tangannya masih lebam dan juga sakit, tapi entah dapat kekuatan dari mana Mingyu mampu melakukan semua pekerjaan. Sedangkan Jungkook sudah lelah, karena tadi sebelum pindah dia harus bertengkar dulu dengan Taehyung.
"Ayolah, Kookie. Kita tidak akan bisa tidur jika barang – barang masih berantakan!" Mingyu menggeser kardus yang ada di depan pintu.
"Bukan kita. Tapi kau yang tidak bisa tidur. Kalau aku walaupun berantakan pasti bisa tidur dimanapun dan kapanpun." Jungkook mengeluarkan lidahnya mengejek Mingyu.
"Aish,Jinjja!" keluh Mingyu
"Ayolah Mingyu, aku lelah. Besok saja, Eoh! Aku juga lapar! Belikan sesuatu ya" pinta Jungkook dengan mata yang berharap. Mingyu yang mendapatkan tatapan seperti itu hanya bisa memutar bola matanya malas.
"Juseo" Jungkook menggunakan Aegyo nya pada Mingyu, membuat Mingyu ingin muntah
"Jika Tae hyung pasti sudah tergoda jika kau sudah mengeluarkan jurusmu itu. Tapi aku berbeda. Aku tidak akan tergoda."
"Ayolah, Mingyu. Aku lapar. Tadi di cafe aku belum makan. Jadi sekarang aku lapar. Tolong lah, masakkan sesuatu." Jungkook sekali lagi menatap Mingyu penuh harap.
"Aish,Jinjja!" keluh Mingyu lagi. Kemudian Mingyu memakai mantel dan mengambil dompetnya.
"Arraseo. Tapi aku akan masak apapun yang ingin aku masak." Sambung Mingyu
Jungkook berbinar menatap Mingyu.
"Gomawo. Aku akan memakan makanan apapun yang akan kau masak. Aku mencintaimu" ucap Jungkook ceria
"Aku tidak!" balas Mingyu ketus sambil keluar dari apartemen mereka, tidak lupa Mingyu membawa payung karena akhir – akhir ini selalu turun hujan.
15 menit sudah Mingyu menyelesaikan kegiatan belanjanya di super market di dekat tempat tinggal baru nya , Mingyu hanya membeli bahan – bahan makanan sederhana. Karena dia harus berhemat untuk kebutuhan satu bulan ke depan. Biasanya Mingyu dan Jungkook membeli bahan makanan mereka di pasar tradisional, karena menurut mereka harga di pasar lebih murah dibandingkan super market. Namun karena kondisinya belum memungkinkan maka dengan terpaksa Mingyu harus membelinya terlebih dahulu di super market.
Ketika selesai membayar belanjanya, Mingyu melihat siluet yang tidak asing sedang berdiri di depan super market. Dan dugaannya benar, siluet orang itu memang tidak asing. Dia sedang berdiri dengan kesal karena tiba – tiba hujan turun. Mingyu tersenyum melihat bagaimana wajah cemberut itu sedang menghentakan kakinya kesal.
"Hujan tidak akan berhenti jika kau menghentakkan kakimu kesal, Wonwoo sunbae."
Sapaan Tiba – tiba dari Mingyu membuat orang itu terkejut, ya... sileut yang tidak asing bagi Mingyu adalah siluet seorang Jeon Wonwoo.
Wonwoo terkejut namun hal itu tidak berlangsung lama, Wonwoo kembali memasang wajah datarnya.
"Sedang apa kau disini?" ketus Wonwoo, Mingyu menganggat kantong plastiknya agak tinggi agar Wonwoo dapat melihatnya
"Belanja" singkat Mingyu
"Jangan – jangan kau mengikutiku ya?" Wonwoo memicingkan matanya menatap Mingyu, Mingyu tertawa saat mendengarkan pertanyaan dari Wonwoo.
"Apa yang lucu?" Wonwoo tidak terima dia sudah ditertawakan oleh Mingyu.
"Sunbae, untuk apa aku mengikutimu. Kurang kerjaan!" Mingyu menatap Wonwoo mengejek. Wonwoo sedikit terkejut dengan jawaban Mingyu, namun ekspresi itu tertutupi dengan wajah datar dan dinginnya.
Wonwoo sekilas melihat wajah Mingyu yang sedikit lebam karena ulah teman – teman geng nya tadi ada sedikit rasa bersalah namun Wonwoo tidak peduli akan hal itu, ia kembali menatap hujan yang sedang turun.
"Aku baru saja pindah di sekitar sini. Tempat tinggalku didaerah ini. Jadi kita bertemu hanya kebetulan." Jelas Mingyu, namun Wonwoo seakan tidak berminat mendengarkan penjelasan Mingyu.
"Atau memang sudah ditakdirkan" lanjut Mingyu dalam hati sambil menatap Wonwoo yang tengah menatap air hujan yang sedang turun.
"Ngomong – ngomong, kenapa sunbae ada disini?" tanya Mingyu saat suasana mereka benar – benar tenang
"Bukan urusanmu." Wonwoo menatap Mingyu dari ekor matanya. Mingyu hanya tersenyum mendapat jawaban ketus dari Wonwoo.
Tiba – tiba handpone Wonwoo bergetar dan dengan malas Wonwoo menatap layar handphonenya. Melihat nama Seulgi yang muncul membuat Wonwoo semakin malas menganggatnya, tapi jika tidak dianggat maka kakaknya itu benar – benar akan menceramahinya sampai rumah.
"Ne..." jawab Wonwoo malas
"..."
"Aku sudah membelikan pesanan mu, Noona."
"..."
"Sedang hujan. Apa kau tidak bisa mendengar suara hujan."
"..."
"Tidak mau. Aku tidak mau baju ku basah."
"..."
"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri"
"..."
"Memang itu urusanku?"
"..."
"Tunggulah sampai kelaparan!" dengan sadisnya Wonwoo menutup sambungan telponnya
Wonwoo menghembuskan nafasnya kasar, melihat bagaimana derasanya hujan tengah mengguyur dan Wonwoo bisa memastikan jika hujan tidak akan cepat berhenti.
"Sampai kapan aku disini?" lirih Wonwoo sambil menatap nanar air hujan yang turun
Mingyu yang belum beranjak dari samping Wonwoo hanya bisa tersenyum menatap Wonwoo yang sedang merutuki nasibnya. Betapa manisnya orang yang ada di sampingnya ini.
"Perlu bantuan?" suara Mingyu berhasil membuat Wonwoo menjengkit kaget.
"Kau masih disini?" Wonwoo menatap Mingyu dengan padangan heran, Mingyu menganggukkan kepala
"Karena sepertinya ada yang membutuhkan bantuan" Mingyu tersenyum, Wonwoo mamandang Mingyu dengan tatapan datar
"Tidak perlu." Ketus Wonwoo
Mingyu menggelengkan kepalanya dengan sifat keras kepala Wonwoo. Mingyu melepas mantel hangatnya dan memakaikannya dibahu Wonwoo.
Wonwoo terkejut dengan apa yang dilakukan Mingyu. Melihat wajah terkejut Wonwoo, Mingyu hanya bisa tersenyum. Mingyu meraih kantong belanja yang dibawa Wonwoo. Kemudian membuka payung nya. Tanpa izin Wonwoo, Mingyu melingkarkan tangannya dibahu Wonwoo dan merapatkannya pada pelukannya.
Tentu saja hal itu membuat Wonwoo sangat terkejut, sangat amat terkejut. Tanpa sadar wajah Wonwoo memerah.
"Jika seperti ini kau tidak akan basah, sunbae. Dan kau tidak membuat Noona mu menunggu kepulanganmu" Ujar Mingyu sambil berjalan membimbing Wonwoo. Ketika mereka ada dibawah lindungan payung, secara otomatis air hujan sedikit terpercik kesana kemari, membuat Wonwoo sedikit tidak suka hal itu. Dia sedikit merengut tidak suka ketika air hujan mengenai dirinya, lebih tepatnya mantel yang dikenakannya.
"Dimana rumah mu? Aku akan mengantar mu."
"Dua blok dari sini, no 17." Lirih Wonwoo sambil menunduk, mati – matian Wonwoo menjawab. Dia tidak tahu bagaimana wajahnya sekarang. Karena Wonwoo tahu bahwa wajahnya pasti sudah sangat merah. Jantunganya sudah berdetak dengan cepat ketika Mingyu memeluknya.
"Baiklah. Aku akan mengantarmu. Atau kau mau tetap di depan super market sampai hujan reda?" Mingyu berniat sedikit menjaili Wonwoo
Namun Wonwoo tidak menjawab juga tidak menolak ketika Mingyu ingin mengantarnya pulang, yang sekarang Wonwoo pikirkan adalah menetralkan jantungnya dan membuat wajahnya tidak merah lagi. Wonwoo berharap bahwa dia harus cepat – cepat sampai rumahnya. Dan Mingyu hanya tersenyum melihat bagaimana Wonwoo menundukkan wajah nya.
"Kau jangan senyum – senyum pagi – pagi seperti itu, seperti orang gila" tegur Jungkook saat melihat Mingyu menatap jendela kelasnya. Akhirnya Jungkook tau apa yang membuat Mingyu senyum – senyum sendiri, Wonwoo.
Jungkook melihat Wonwoo sedang dihukum oleh guru kedisiplinan karena terlambat dan melompati pagar, yang anehnya Wonwoo menunjukkan wajah super datar, dingin, angkuh dan malas. Tidak ada wajah ketakutan atau pun menyesali perbuatannya, jika hal itu terjadi maka hal itu dipastikan bukanlah Jeon Wonwoo. Dan jika hal itu terjadi Dunia sedang terbalik.
Jungkook menggelengkan kepalanya melihat tingkah Mingyu. Mingyu benar – benar jatuh cinta pada Wonwoo.
PLETAK!
Sebuah penghapus mendarat dengan 'Manis' di kepala Mingyu. Hal itu membuat Mingyu terkejut dan reflek memperhatikan ke depan. Jungkook terkiki geli, namun dia menahannya dengan menutup mulutnya agar tidak bersuara. Namun Mingyu menatap Jungkook dengan tajam.
"Jika kau tidak memperhatikan pelajaranku, maka silahkan keluar. Kim Mingyu!" tegur Sim Songsengnim. Mingyu hanya menunduk meminta maaf atas kesalahannya.
Mingyu masih melihat Jungkook menertawakannya karena dirinya kena omelan Sim Songsengnim. Dengan sadisnya Mingyu menginjak kaki Jungkook dengan keras, hingga membuat Jungkook menahan teriakan kesakitannya, jika tidak ditahan maka dipastikan Jungkook lah yang berikutnya terkena omelan Sim Songsengnim.
Jungkook menatap tajam kearah Mingyu, sedangkan Mingyu hanya menjulurkan lidahnya mengejek Jungkook.
JAM ISTIRAHAT
"Kenapa tadi kau tidak bilang kalau Shim Songsengnim akan melemparkan penghapus padaku?" tanya Mingyu masih kesal dengan Jungkook.
Mereka sekarang makan di pojok koridor sambil menatap siswa – siswi lalu lalang. Sedangkan Jungkook masih asyik memakan bekal yang tadi pagi disiapkan oleh Mingyu.
"Kau sih melamun saja" jawab Jungkook saat sudah selesai menelan makanannya. Mingyu hanya mencebirkan bibirnya
"Kau kan bisa memberikan isyarat atau apapun itu, kalau seperti ini aku pasti dapat masalah nanti." Mingyu mengacak – acakkan rambutnya kesal, Jungkook menatap Mingyu heran.
"Masalah apa?"
"Kau tahu sendiri jika aku adalah murid bea siswa. Aku masuk ke sekolah ini karena bea siswa. Jika Shim Songsengnim melaporkannya pada guru kedisiplinan maka aku akan dapat surat peringatan."
Jungkook membalakkan matanya terkejut, baru kali ini Mingyu bercerita mengenai itu.
"Surat peringatan? Jangan berlebihan! Kau hanya tidak melakukan masalah besar. Hanya sedikit melamun di tengah pelajaran. Itu kan wajar. Semua orang juga seperti itu" Jungkook mencoba untuk tidak mempercayainya. Mingyu menatap frustasi kearah Jungkook.
"Justru karena itu. Sekolah ini mempunyai aturan sangat ketat pengenai bea siswa. Semua orang bisa melamun saat pelajaran kecuali murid bea siswa seperti ku, mereka tidak akan membiarkan uang itu sia – sia diberikan pada siswa miskin seperti ku. Aku sejak awal sudah diperingatkan. Jika aku tidak menjaga sikapku maka aku akan dapat masalah, dan dipastikan bea siswa ku akan dicabut oleh pihak sekolah." Mingyu menjelaskan sambil menunduk. Jungkook benar – benat terkejut dengan penjelasn Mingyu.
"Seketat itukah peraturan sekolah ini untuk murid bea siswa?" Jungkook tidak bisa mempercayai apa yang barusan dia dengar.
"Jika kau tidak percaya, tanya saja pada Taehyung hyung. Dia akan menjelaskan detailnya. Karena Taehyung hyung lah yang menemaniku waktu itu untuk mendaftarkan diri menjadi murid bea siswa di sekolah ini."
"Tae hyung tidak pernah cerita." Jungkook mengingat ingat bahwa memang Taehyung tidak pernah bercerita mengenai masalah bea siswa.
"Itu karena kau tidak pernah bertanya. Dan kau juga tidak membutuhkan hal seperti itu." Mingyu semakin menundukkan wajahnya dalam. Jungkook merasa bersalah karena hal itu.
"Mian. Jika aku tahu pasti tadi aku memberikanmu. Lain kali aku akan memberitahumu." Jungkook mengusap leher belakang Mingyu yang tertunduk.
"Oh... Mingyu" panggil seorang gadis ber nametag Eunha, teman sekelas mereka. Eunha menghapiri Mingyu dan Jungkook
"Ada apa?" tanya Mingyu ketika Eunha sudah ada dihadapan mereka
"Guru kedisiplinan memanggilmu"
Ucapan Eunha membuat Mingyu menunduk lesu, dan Jungkook terkejut dengan itu.
"Ne... Gomawo sudah memberitahu, Eunha-ya" Mingyu tersenyum tipis pada gadis cantik yang ada dihadapnya. Eunha balas tersenyum lalu berlalu meninggalkan Mingyu dan Jungkook.
"Shim Songsengnim benar – benar melakukannya?" Jungkook menatap Mingyu tidak percaya.
Mingyu menunduk lesu kemudian berjalan menuju ruang dimana guru kedisiplinan menunggu nya.
***LOVE IS SIMPLE***
"Bagaimana?" tanya Jungkook ketika Mingyu baru keluar dari ruang kedisiplinan
"Hanya diperingatkan saja" Mingyu tersenyum tipis
"Oh ya?" Jungkook memasang wajah pura – pura terkejut
"Tapi wajahmu tidak menunjukkan hal seperti itu" ekspresi wajah Jungkook berubah datar menatap Mingyu. Mingyu menghembuskan nafasnya, karena percuma berbohong pada Jungkook tidak akan pernah berhasil. Akhirnya Mingyu mengeluarkan amplop yang ada disaku jas sekolahnya.
"Mwoga?" tanya Jungkook ketika Mingyu menyerahkan surat itu padanya
"Baca saja" lirih Mingyu
Ketika Jungkook membuka dan membacanya, dia benar – benar membelalakkan matanya.
"Surat Peringatan?" pekik Jungkook tidak percaya
"Bagaimana mereka melakukan hal itu padamu, Mingyu-ah? Hanya karena kau melamun dikelas, bukan berarti nilaimu akan turun begitu saja. Ini benar – benar tidak masuk akal. Aku tidak menyangka hal ini benar – benar terjadi." Jungkook menatap Mingyu yang menundukkan kepalanya.
Mereka berjalan dengan lesu, terutama Mingyu. Mereka segera menuju ke kelas.
"Aku hanya siswa gratisan disini. Apalagi aku anak miskin. Jadi mereka akan selalu memperlakukanku seperti itu."
Jungkook menempuk punggung Mingyu dengan pelan, memberikan ketenangan pada sahabatnya ini.
"Atau aku minta tolong pada Tae hyung untuk mengurus masalah ini? memberi tahu guru kedisiplinan agar kau tidak diperlakukan seenaknya?" usul Jungkook. Namun Mingyu langsung menolak hal itu.
"Ani. Tae hyung sudah banyak membantu. Aku tidak ingin merepotkannya lagi. Biarkan aku saja yang menghadapinya."
"Kau yakin akan baik – baik saja?" Jungkook memandang khwatir kearah Mingyu.
"Jika ada kau maka aku akan baik – baik saja." Mingyu memberikan senyuman manisnya pada Jungkook.
"Dimana Tas ku?" ucap Mingyu saat mereka sudah masuk ke kelas. Mingyu tidak mendapati tas nya ada di bangku nya. Jungkook hanya heran melihat Mingyu seperti nya sedikit bingung
"Minghao, kau tahu dimana tas ku?" tanya Mingyu pada temannya yang duduk didepannya.
"Tadi aku melihat Wonwoo sunbae yang mengambil tas mu." Jawabnya sedikit takut
"Wonwoo sunbae?" pekik Mingyu tidak percaya
"Hm. Dan dia menitipkan ini padaku" Minghao menyerahkan selembar kertas yang terlipat
Dengan segera Mingyu membuka kertas itu dan membacanya.
"Aish,Jinjja!" Mingyu menepuk keningnya keras saat melihat sesuatu yang membuatnya sedikit kesal.
"Apa yang tertulis?" Jungkook merebut kertas itu
POHON BELAKANG SEKOLAH
"Apa maksud tulisan ini?" Jungkook sedikit tidak mengerti dengan tulisan itu
"Itu artinya tas ku ada dipohon belakang sekolah." Mingyu menunjuk kearah jendela yang ada di meja belakang. Jungkook membelalakkan matanya terkejut, ketika melihat tas Mingyu ada di salah satu ranting pohon belakang sekolah.
Mingyu segera keluar dari kelas, dia melihat sekilas jam tangannya. Masih banyak waktu tersisa sampai bel masuk berbunyi. Berarti masih banyak waktu untuk melayani permainan Wonwoo.
"Mingyu, kau mau kemana?" tanya Jungkook ketika melihat Mingyu tidak menuju kearah belakang sekolah.
"Kau duluan saja kesana. Aku akan kesuatu tempat terlebih dahulu." Mingyu berlari secepat yang dia bisa.
**BELAKANG SEKOLAH**
"Astaga! Tinggi sekali meletakkannya" keluh Jungkook saat melihat betapa tingginya Wonwoo menggantungkan tas Mingyu.
"Jika tidak tinggi maka dia tidak akan memanjat!" tiba – tiba sebuah suara mengagetkan Jungkook. Jungkook langsung berbalik dan melihat Wonwoo tengah menatapnya datar.
"Wonwoo sunbae?" Jungkook sedikit terkejut
Melihat Jungkook terkejut Wonwoo tersenyum mengejek. Sambil menyilangkan tangannya dia menatap remeh kearah Jungkook
"Dimana temanmu itu? Apa dia tidak bisa memanjat hingga menyuruh temannya untuk mengambil tas nya? Dasar pengecut!"
Jungkook hanya diam mendapatkan pertanyaan itu.
"Aku tidak pengecut, Wonwoo sunbae! Dan aku bisa memanjat" tiba – tiba suara Mingyu terdengar dipendengarannya. Jungkook sedikit terkejut melihat Mingyu terengah – engah dan menyembunyikan sesuatu dibalik punggungnya.
Wonwoo tersenyum miring melihat Mingyu sudah ada di belakang sekolah.
"Kenapa kau melakukan itu? Kau kurang kerjaan!" ucap Mingyu sambil berdiri dihadapan Wonwoo. Begitu dekat. Hingga Mingyu bisa melihat wajah Wonwoo dengan sangat jelas.
Dari jarak sedekat ini, Mingyu bisa melihat betapa manisnya orang yang dia cintai.
"Aku hanya berterima kasih padamu karena telah memberikan tumpangan payung kemarin." Wonwoo mengangkat bahunya acuh
"Rasa terimakasih yang unik." Puji Mingyu sambil tersenyum remeh
"Aku juga akan berterimakasih karena kau secara tidak langsung sudah menghiburku." Sambung Mingyu sambil mengeluarkan sesuatu dibalik punggungnya.
Dan itu membuat Wonwoo terkejut. Jungkook akhirnya tahu apa yang disembunyikan Mingyu sejak tadi. Hanya sebuah Tas. Lebih tepatnya Tas milik Wonwoo.
"Mau kau apakan tas ku?" Wonwoo hendak mengambil tas nya, namun dengan gerakan cepat Mingyu menjauhkan tas itu dari jangkauan Wonwoo.
"Sama yang kau lakukan!" Mingyu tersenyum miring
"Ya! Kembalikan!" Wonwoo sudah akan merampasnya, namun Mingyu berlari menghindarinya.
Hingga terjadilah kejar – kejaran antara dua orang namja itu. Hal yang disadari Jungkook adalah bahwa baru pertama kali ini dia melihat ekspresi wajah Wonwoo selain ekspresi datar dan dingin.
Soonyoung yang sejak tadi melihat apa yang dilakukan oleh Wonwoo hanya melihat dari kejauhan. Dia tersenyum melihat bagaimana hidupnya wajah Wonwoo sekarang. Wajah yang selama ini selalu disembunyikan dan hanya diperlihatkan jika bersama dengannya dan Seulgi.
Mingyu akhirnya memanjat pohon tempat tas nya digantung. Dia mengambil tas nya dan menggantinya dengan tas Wonwoo. Mingyu mengeluarkan Smirk nya ketika memandang Wonwoo dari atas pohon. Melihat ekspresi wajah Wonwoo yang terlihat kesal membuat Mingyu terkekeh geli.
"Kau sangat manis" batin Mingyu sambil turun dari pohon.
"Aku tahu, Kau pasti tidak bisa memanjat. Dan sepertinya kau tadi menyuruh seseorang untuk menggantungkan tas ku di atas pohon. Karena seorang Jeon Wonwoo tidak akan mungkin mau melakukan hal seperti itu." Mingyu mengucapkan dengan nada meremehkan.
Wonwoo terlihat sangat kesal, terlihat dari ekspresi wajahnya yang sangat datar menatap Mingyu. Namun justru Mingyu tersenyum geli melihat wajah kesal itu.
"Aku bisa memanjat. Dan aku bisa melakukan apapun yang aku inginkan."
Dengan sadisnya Wonwoo menendang tulang kaki Mingyu. Membuat Mingyu mengerang kesakitan. Kemudian Wonwoo memanjat pohon dan mengambil tasnya yang tadi digantungkan oleh Mingyu.
"Butuh bantuan untuk turun?" tawar Mingyu ketika melihat Wonwoo dengan hati – hati untuk turun kebawah. Sebanarnya Wonwoo sedikit kebingungan ketika akan turun.
"Tidak. Terimakasih." Ketus Wonwoo. Mingyu hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Sedangkan Jungkook hanya bisa terkekeh geli melihat Wonwoo kebingungan ketika akan turun dari atas pohon.
Tapi tiba – tiba...
SRUUKK!
Kaki Wonwoo terpeleset di salah satu dahan yang sedikit berlumut dan licin, hal itu membuat Mingyu sedikit terkejut dan dengan sigap menangkap tubuh Wonwoo yang akan jatuh dari pohon.
Jungkook dan Soonyoung yang melihat itu sedikit panik namun kepanikan itu terganti dengan mata terbelalak terkejut ketika melihat Wonwoo jatuh menimpa tubuh Mingyu. Bagaikan gerakan slow motion kedua orang itu melihat bagaimana tubuh Wonwoo menimpa tubuh Mingyu yang berakhir dengan keterkejutan mereka berdua.
Wonwoo berada diatas tubuh Mingyu namun yang membuat Jungkook dan Soonyoung terkejut adalah ketika melihat bagaimana bibir Wonwoo bertemu dengan bibir Mingyu.
Ya... Tanpa sengaja, Wonwoo mencium Mingyu.
TBC
Bagaimana reaksi Wonwoo dan Mingyu saat mengetahui mereka tanpa sengaja berciuman?
Lalu rencana apa lagi yang akan dilakukan oleh Wonwoo untuk bermain dengan Mingyu?
Author kembali lagiiiiii...#lambai2tangan# Dengan update chapter... semoga suka ya.
Untuk para reader aku juga menulis FF selain ini lhooo... jika berminat silahkan kunjungi Bio ku, jika sudah membaca jangan lupa tinggalkan reviewnya ya...
Kyunie : Cinta tanpa balasan Mingyu tuh So sweet bngt buat Wonwoo. Hehehehe. Makasih sudah direview. Ditunggu review nya ya... untuk chapter 2
MinJimin : aduuuhhhh... kejamnya mau disunat. Hehehehhehe. Makasih sudah direview. Ditunggu review nya ya... untuk chapter 2. Aku juga buat FF yang lain lhooo... jika berminat silahkan cek my Bio dan jangan lupa tinggalkan review nya ya... terimakasih.
KimAnita : semoga saja Wonwoo cepet jatuh cinta nya sama Mingyu ya... kita doa kan saja. Hehehhehe Makasih sudah direview. Ditunggu review nya ya... untuk chapter 2. Aku juga buat FF yang lain lhooo... jika berminat silahkan cek my Bio dan jangan lupa tinggalkan review nya ya... terimakasih.
Tink224 : terimakasih karena sudah membaca nya. Aku juga penggemar nya FF TaeKooK Lhoo.. selain seventeen aku juga suka bngt sama BTS. Hehehhehhe. Makasih sudah direview. Ditunggu review nya ya... untuk chapter 2.
Guest 1,2,3 : iya... udah dilanjut ini. aku seneng deh kalau banyak yang suka sama FF ini. hehehhe. Ini selingan dari FF pertama ku. Makasih sudah direview. Ditunggu review nya ya... untuk chapter 2. Aku juga buat FF yang lain selain ini sama Soonwoo twins. Semoga suka.
Louii : iya Wonwoo bad boy. Sudah lama aku ingin buat Wonwoo yang bad boy. Hehehehhehe. Makasih sudah direview. Ditunggu review nya ya... untuk chapter 2. Aku juga buat FF yang lain selain ini sama Soonwoo twins. Semoga suka.
TYongieBaby : sudah dilanjut ini... semoga suka ya sama chapter 2 nya. Makasih sudah direview. Ditunggu review nya ya... untuk chapter 2. Aku juga buat FF yang lain lhooo... jika berminat silahkan cek my Bio dan jangan lupa tinggalkan review nya ya... terimakasih.
Beanienim : Hahahhahahah... kebetulan aku juga suka mereka jadi keluarga, jadi aku buat FF ini. sudah lama bangt pengen buat FF ini, tapi masih fokus sama FF pertama ku SOONWOO TWINS. Makasih sudah direview. Ditunggu review nya ya... untuk chapter 2. Aku juga buat FF yang lain lhooo... jika berminat silahkan cek my Bio dan jangan lupa tinggalkan review nya ya... terimakasih.
wonwoops : Sudah dilanjut nihhh... hehehheheh Makasih sudah direview. Ditunggu review nya ya... untuk chapter 2. Aku juga buat FF yang lain lhooo... jika berminat silahkan cek my Bio dan jangan lupa tinggalkan review nya ya... terimakasih.
Mohon para pembaca tercinta tolong tinggalkan review nya ya untuk penyemangat ku melanjutkan Cerita ini. karena Review kalian lah yang membuat ku semangat buat melanjutkan.
Sekali lagi terimakasih buat reader yang mau review. Makasih banyak. Gomawo. Kamsahamida. Arigato. Thank You.
Terimakasih yang sudah baca cerita saya dan meluangkan waktunya untuk membaca! #Tebar kiss bye#
PPYONG!
