Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : NaruSasu (Naruto x Sasuke)
Genre : Friendship, Romance, Yaoi, Shounen Ai
Note : If you dont like or hate this fanfic, Dont read!
Sasuke saat ini tengah berdiri mematung di sebuah taman yang cukup sepi yang ada di kompleks rumahnya dan berdirilah seseorang di hadapan Sasuke, seorang pemuda pirang bodoh bin idiot dengan wajah abrudnya Sasuke tidak tahu dan tidak bisa berfikir sekarang ini.
Sasuke merasa pendengarnya baik - baik saja. Dia tidak punya penyakit yang serius. Tapi, sepertinya, hari ini, Sasuke perlu datang ke dokter spesialis THT. Karena Sasuke percaya, ada yang salah dari pendengarnya saat ini.
Pasalnya, Naruto yang mengajaknya keluar dan malah—mengajaknya jalan - jalan di taman—mengatakan hal yang membuat otak Sasuke tidak bisa membedakan, mana kenyataan dana mana khayalan. Mungkin kewarasan Sasuke direbut paksa oleh kami-sama karena sudah bermain lama - lama dengan Naruto.
"Aku menyukaimu, Sasuke!"
Ah.. Ini adalah ketiga kalinya si pemuda pirang ini mengatakan kalimat skral itu. Membuat Sasuke harus bangun dari mimpi indahnya. Tapi jika ini benar - benar mimi indahnya, tolong siapapun jangan bangunkan Sasuke, karena Sasuke menginginkan kelanjutan dari mimpinya ini.
Sasuke masih bergeming di tempatnya berpijak. Masih mengumpulkan kesadarannya saat situasi seperti ini sedang menyiksanya. Membuat Naruto yang kesal dari tadi hanya di tatap seperti itu. Memangnya Sasuke pikir, hal ini adalah lelucon? Membuat seorang Uzumaki Naruto mati - matian mempersiapkan diri untuk mengatakan hal memalukan seperti ini.
"Aku menyukaimu, Sasuke!"
"A-aku juga menyukaimu." Akhirnya Sasuke buka suara.
"Benarkah?" Sasuke kembali diam. Menatap Naruto dengan pandangan—yang sulit di jelaskan oleh Naruto.
"Kau tidak mengerti ya?"
"Apanya?"
"Aku menyukaimu, Sasuke!"
"Lalu?"
Naruto menghembuskan nafasnya, sepertinya percuma. Karena Sasuke yang terlihat shock didepannya ini untuk menjawab penyataannya barusan. Mungkin cara ini harus di lakukan. Ya. Tidak ada cara lain.
Naruto mempersiapkan diri dan mulai menggenggam kedua pundak Sasuke. Naruto mulai memiringkan wajahnya mendekat maju ke wajah Sasuke. Ketika hidung mereka sudah bersentuhan, Naruto dapat merasakan hembusan nafas hangat dari Sasuke, membuat jantung Naruto berdetak lebih cepat dan membuat nyali Naruto berpacu.
Tanpa di sadar oleh dua insan ini, bibir Naruto berhasil menabrakan pada bibir pink yang ada di hadapannya. Hanya sekedar kecupan sederhana, tanpa nafsu, tapi sanggup membuat Naruto seperti menaiki role coaster.
Setelah 5 detik berlalu, Sasuke yang baru saja kesadarannya kembali, melebarkan bola mata hitam legam itu dan mendorong kasar dada pemuda pemilik kulit tan itu. Naruto yang di dorong tiba - tiba seperti itu merasa bahwa ini adalah sebuah akhir. Tanpa di sadari hati itu telah hancur berkeping - keping mendapat penolakan super dari orang yang berada di hadapannya.
Naruto sudah tidak punya pilihan lain selain mengutarakan perasaannya pada Sasuke. Karena, sejak hari—mimpi basah di kelas Kurenai Sensei—itu, setiap malam, Naruto selalu memimpikan yang 'seperti itu' bersama Sasuke. Membuat Naruto seperti orang bejat. Bahkan Naruto hampir melakukan manstrubasi di rumahnya, hanya dengan mengingat wajah Sasuke. Sungguh tidak Pangerang sama sekali.
Dan saat ini, ketika Naruto telah membulatkan tekatnya, dia malah di tolak oleh 'Penolakan Super' dari Sasuke. Membuat harapan Naruto saat ini pupus begitu saja. Naruto memang sudah menduga ini dan mempersiapkan diri, tapi tidak akan menyangka kalau rasanya se-luar biasa ini.
"A-ap-apa y-yang kau lakukan?! " Ucap Sasuke terbata - bata berkat hal yang di lakukan tiba - tiba oleh Naruto beberapa detik yang lalu.
"Aku menyukaimu, Sasuke!" Entah sudah berapa kali dia melontar kalimat itu. Ia sudah merasa tidak ada gunanya lagi ia mengatakan itu, dirinya sudah di tolak.
Sasuke menatap pemuda pemilik bola mata blue shapire dihadapannya. Kaget dengan apa yang di lakukan oleh pemuda itu, membuat jantung Sasuke seperti melakukan olahraga maraton. Sasuke tidak percaya, apa yang terjadi di hadapannya benar - benar akan terjadi. Naruto menyatakan perasaannya pada Sasuke. Ini adalah mimpi yang selama ini Sasuke inginkan.
Ia ingin menjawab pernyataan dari Naruto, tapi sepertinya ekspresi Naruto saat ini tidaklah bagus. Ah.. Sasuke tadi sempat mendorong Naruto dengan kasar karena terlalu kaget tadi, mungkin Naruto berfikir kalau ia sedang di tolak.
"Maaf. Aku terlalu kaget tadi. Dan juga aku mendorongmu terlalu kas— kenapa aku minta maaf padamu?! Kau menciumku tanpa izin! Itu ciuman pertamaku, kau tahu?!"
"Maaf. Karena aku lihat kau tidak bereaksi apa - apa saat aku bilang bahwa aku meny—"
"Tentu saja kan?! Kau mengatakan itu tiba - tiba dan aku masih kaget!" Ujar Sasuke yang masih menunjuk - nunjukan wajah Naruto.
"Maaf" Ucap Naruto menunduk dalam. Seperti dalam rasa penyesalan yang sangat dalam.
"Kau pasti jijik dengan tindakanku. Maka dari itu aku minta maaf." Lanjut Naruto.
Sasuke menolehkan kepalanya kekanan, menghindari bertatapan dengan Naruto. "Tidak juga."
"Eh?" Naruto mendongakan wajahnya menatap Sasuke mendapati jawaban yang tidak di duga dari mulut lelaki raven itu. Tanpa sadar semburat merah sudah memenuhi wajah sampai ke kuping itu terlihat sangat lucu di mata Naruto. Apa ini artinya dia tidak dibenci? Atau dia di Terima?
"Apa kau mau jadi pacarku?" Harap Naruto.
"hn" Jawaban seperti itu saja sudah membuat Naruto sangat mengerti. Dengan senyum yang mengembang lebar selebar badan choji, Naruto langsung menubrukkan tubuhnya pada pemuda raven di hadapannya ini. Memeluk erat seakan tidak ingin melepaskannya. Sasuke yang tersentak kaget karena tindakan tiba - tiba Naruto, hanya bisa tersenyum tipis dan membalas pelukan dari Naruto. Naruto merasa hati yang tadi hancur berkeping - keping, kini kembali menyatu.
"Bagaimana kalau ada orang yang lihat?" Bisik Sasuke.
"Tidak akan ada orang, disini sepi." Ucap Naruto sambil mengeratkan pelukannya.
Sasuke mendengus. "Percaya diri sekali." Naruto hanya terkekeh pelan.
Naruto tidak menyangka akan mendapati balasan cinta dari sang Uchiha Sasuke. Kalau tahu begini, dari dulu saja ia menyatakan perasaannya pada Sasuke, tanpa harus melewati masa - masa tersiksanya setiap malam. Sasuke juga tidak menyangka bahwa Naruto akan menyatakan perasaannya pada Sasuke.
Setelah melepaskan pelukan, mereka memulai ciuman yang sempat terhenti tadi. Ciuman tanpa nafsu, menyalurkan perasaan yang sama, menghangatkan hati mereka masing - masing. Tidak ada yang lebih membahagiakan dari ini selain bercumbu dengan orang yang kau cintai.
Saat ini, Dua Pangeran dari KHS resmi berpacaran. .
.
.
.
Sudah hampir satu bulan mereka berpacaran. Tentu saja mereka menjalani yang namanya Back Street. Menjalani hubungan terlarang seperti ini bukanlah hal yang mudah, apalagi secara bersembunyi dari semua orang, dari para orang tua, para guru, teman teman, semua fans, dan yang paling di hindari adalah media.
Selama sebulan ini, mereka hanya menjalani hubungan seperti sedang bermain biasa. Selalu berdua saat ke kantin sekolah, selalu berdua ketika berangkat sekolah dan pulang sekolah. Hanya saja, mereka menambahkan kencan kedalam list mereka.
Kencan pun seperti biasa. Ke taman bermain, atau ke aquarium. Semua mereka lakukan seperti biasa seperti sebelum mereka berpacaran. Selalu berdua tanpa ada kecurigaan dari semua pihak. Tapi, Naruto yang memang masih remaja yang kelebihan hormon, yang ingin selalu dekat dengan Sasuke, kadang ia suka kelewatan.
Menggenggam tangan Sasuke secara tiba - tiba, memeluk Sasuke dari belakang, atau—yang paling Naruto sukai—mencium ceruk leher sang lelaki raven. Naruto selalu menyukai aroma kekasihnya itu. Kadang jika ada kesempatan dalam kesempitan, Naruto selalu mencuri - curi momen mendengus leher Sasuke—salahkan hormon yang berlebihan pada tubuh Naruto. Bukan karena Sasuke tidak menyukai tindakan yang dilakukan pacarnya ini, hanya saja Sasuke takut orang lain mengetahui hubungan mereka dan mereka terancam berpisah. Sungguh, Sasuke tidak ingin ini terjadi.
Sasuke selalu mewanti - wanti kekasihnya ini, jika di depan umum jangan terlalu mencolok. Karna akan mempengaruhi hubungan mereka juga. Naruto kadang jenuh seperti ini, menjalani hubungan yang tak boleh orang lain tahu juga cukup melelahkan. Tapi ia juga tak boleh egois. Jika Sasuke bilang seperti itu, ia akan berusaha menurutinya. Asalkan bersama Sasuke saja, itu sudah membuatnya bahagia.
Keuntungan berpacaran dengan Sasuke adalah keluarganya yang jarang dirumah. Jadi ia dan Sasuke bisa leluasa menyalurkan rasa sayang sebagaimana sepasang kekasih melakukan apa yang harus dilakukan. Tapi jangan salah, mereka belum mencapai tahap sex, hanya sekedar berciuman dan saling meraba. Hubungan mereka masih terlalu dini jika harus sampai ke tahap 'sex'.
Berbeda dengan orang tua Naruto, ibunya yang seorang ibu rumah tangga, dan ayahnya yang hanya pegawai swasta biasa yang jika matahari tenggelam, ayahnya ada di rumah. Sulit untuk mereka berdua melalakukan hal - hal yang biasa di lakukan di rumah Sasuke. Namanya juga anak muda, perlu melakukan hal yang seperti itu—kata Naruto kepada Sasuke—yang hanya akan dibalas dengusan oleh Sasuke.
Pagi ini, Naruto memutuskan untuk menginap di rumah Sasuke. Karena besok adalah hari sabtu dan tidak ada kegiatan yang akan dilakukan di sekolah, Naruto meminta izin kepada orang tuanya untuk menginap di rumah Sasuke untuk menyelesaikan game yang baru saja di belinya. Ibunya mengijinkan karena menurut Ibunya, anak kelas 3 pun tidak harus selalu belajar dan juga butuh refresing.
Dan disinilah Naruto, malam ini, berada di kamar Sasuke, berdua, duduk di pinggiran kasur sambil berhadapan. Lumatan demi lumatan dilakukan sepasang kekasih itu, sepasang lidah saling beradu, saliva yang terus mengalir dikedua sudut bibir keduanya, kecupan - kecupan yang tidak berhenti, dan tidak ketinggalan suara kecapan yang mengisi ruang segi empat itu. Dan yang paling penting adalah, tidak ada keluarga Sasuke, hanya berdua dan bebas melakukan apa saja.
Ketika tangan Naruto yang baru mulai turun ke dada untuk melepaskan kancing baju yang masih manis terpasang di tubuh Sasuke, mereka berdua mendengar suara mobil yang memasuki perkarangan rumah keluarga Uchiha. Sontak Naruto dan Sasuke memutuskan menyudahi acara mereka. Melepaskan ciuman yang masih menyatukan saliva dengan ekspresi yang sulit di jelaskan.
"Kau bilang orang tuamu akan kembali besok malam?" Ucap Naruto sambil menghapus saliva yang masih menempel di mulutnya.
Sasuke menggeleng. "Aku tidak tahu. Mungkin pekerjaan mereka selesai lebih cepat. " Sasuke membetulkan kancing baju yang sempat dibuka Naruto tadi dan membersihkan sisa saliva yang menempel di bibir itu. Sasuke memutuskan untuk keluar kamar dan turun menyambut kedua orang tuanya, Naruto memutuskan untuk mengikuti Sasuke dan juga ingin ikut menyambut 'calon mertua'nya.
Ketika sampai di bawah, yang Sasuke lihat hanyalah kakaknya. Sasuke menyerit heran. Pasalnya, mobil yang di kendarai kakaknya adalah milik ayahnya bukan milik itachi.
"Dimana Ayah dan Ibu? Kenapa kau sendirian? Dimana mobilmu? Kenapa kau memakai mobil Ayah?"
"Pekerjaan mereka selesai besok dan aku memutuskan untuk pulang duluan. Mobilku bermasalah jadi aku menggunakan mobil Ayah. Ayah yang akan memakai mobilku besok selama mobilku masih di service." Ucap Itachi sambil melonggarkan dasi dan menjatuhkan diri di sofa depan televisi di ruang keluarga dengan tampang lelah. Sasuke mengangguk mengerti.
"Hei, Itachi. Wajahmu lesu sekali?" Itachi mendengar suara yang sangat di kenalnya. Membuka matanya yang sempat tertutup tadi dan melihat 'Mataharinya' yang tengah tersenyum lebar padanya. Itachi balas tersenyum. Ia sangat lelah hari ini dan ingin langsung tidur. Tapi ketika melihat teman adiknya yang satu ini, entah kenapa semua penat yang ada di pundaknya jadi terangkat.
Itachi menyukai Naruto. Dari dulu. Pertama kali sejak Sasuke memperkenalkan Naruto kepada keluarganya sebagai temannya. Sejak Sasuke menginjak di Elementary School. Sasuke meperkenalkan Naruto sebagai murid baru di Konoha Elementary School di tahun ke tiga, sebagai murid pindahan dari Amerika yang belum bisa fasih berbahasa jepang. Hanya Sasuke sajalah yang bisa mengerti bahasa inggris di kelasnya. Maka dari itu, Naruto yang selalu nempel pada Sasuke dan akhirnya menjadi sahabat.
Itachi yang saat itu baru berumur 13 tahun, yang masih menginjakan kakinya di tahun ke dua Konoha Junior High School, menyukai sahabat adiknya sendiri. Uzumaki Naruto yang masih berumur 9 tahun. Bahkan perasaannya sampai sekarang masih sama kepada pemuda blonde itu dan makin menguat.
Entah apa yang akan terjadi pada adiknya jika tahu kalau kakaknya menyukai sahabatnya sendiri. Itachi belum bisa membayangkan hal mengerikan apa yang akan terjadi nanti.
"Naruto? Kenapa kau disini? Kau menginap?" Ucap Itachi, masih dalam posisi duduk di sofa. Naruto menjatukan tubuhnya senyaman mungkin di sofa sebelah Itachi.
Naruto mengangguk. "Hari ini aku ingin menyelesaikan game yang aku beli bersama Sasuke."
"Kau sudah kelas 3 tapi masih bermain game, seharusnya kau belajar, Naruto. "
"Aku tidak akan khawatir selama ada Sasuke." Ucap Naruto nyengir lebar.
"Kau tidak bisa selalu bergantung pada Sasuke, Naruto."
"Tentu saja bisa. Sasuke selalu mau membantuku. Lagipula, aku tidak akan hidup jauh - jauh dari Sasuke." Ucap Naruto memandang foto Sasuke kecil di atas meja samping tv layar datar 32 inci itu.
"Bagaimana kalau kau menjadi keluarga Uchiha? " Naruto menyerit yang mendengar itu seperti merasa di lamar. Tidak, tidak! Tentu saja Naruto yang harus melamar.
"Itu ide yang bagus. Tapi kenapa tidak Sasuke saja yang jadi keluarga Uzumaki?"
Sasuke! Sasuke! Selalu saja Sasuke. Semua hal yang didengarnya dari mulut si pirang ini adalah nama Sasuke. Menyebalkan sekali. Apa hanya ada Sasuke di otaknya?
Sedangkan Sasuke yang mendengar percakapan Naruto dan kakaknya dari dapur—yang sedang membuatkan minuman hangat untuk Itachi—tersedak ludah sendiri. Membuat Wajah Sasuke memerah mengalahkan merahnya tomat. 'Bagaimana bisa dia mengucapkan hal seperti itu di depan kakak, dasar Naruto bodoh!' .
.
.
.
Suara decitan sepatu dan pantulan bola yang berasal dari gedung aula yang berada di KHS mengawali pagi ini. Terlihat pemuda pirang berlari menghampiri si pemuda raven bermaksud untuk merebut benda bulat yang berada di genggaman pemuda raven itu. Membelokan badannya menghindari si pirang dan melompat melakukan slame dunk dengan mulus, bola basket memasuki ring yang bertanda mengakhiri pertandingan.
"Aku menang!" Tunjuk Sasuke pada Naruto.
"Aku tahu! Sesuai perjanjian, aku akan jadi asistenmu hari ini." Ucap Naruto dan berjalan ke pinggir lapangan dan mulai mengambil botol yang sudah ia sediakan tadi. Membuka tutup botol dan mulai meminumnya. Melihat leher itu bergerak mengikuti air yang mengalir lewat ternggorokan, bersamaan dengan peluh yang mengalir dari kulit tan nan eksotis itu, membuat Naruto sangat terlihat keren. Membuat Sasuke menelan ludahnya karena saat ini Sasuke ingin sekali menjil—
Sasuke menggelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan pikiran aneh yang baru saja bergelayut di pikirannya pagi pagi sekali. Sasuke terkejut memikirkan betapa mesumnya ia jika menyangkut kekasihnya itu. Salahkan Naruto yang selalu ingin di rengkuhnya itu.
"Belikan aku roti yakisoba dengan mozzarella di atasnya." Pinta Sasuke dengan senyuman yang mengerikan.
"Kau gila? Itu ramai sekali. Kau harus berdesakan jika ingin membelinya. Dan hentikan seringaiyan aneh mu itu, mengerikan!" Ucap Naruto dengan melemparkan handuk bekas keringatnya ke wajah Sasuke.
"Taruhannya seperti itu. Lagipula siapa yang menyarankan taruhan itu? Janji adalah janji, Naruto!" Naruto hanya memutar kedua bola matanya, mengalah. Jika saja ia membuat taruhan yang lebih masuk akal lagi. Naruto mendesah pasrah.
Suatu keuntungan tersendiri bagi mereka berdua, bermain basket menggunakan fasilitas sekolah pagi - pagi begini, tanpa suara berisik dari fans yang dapat mengganggu acara bermain mereka, membuat mereka leluasa sesuka hati melakukan apasaja. Seperti aula pribadi.
Contohnya, Naruto yang selalu mencuri ciuman Sasuke untuk merebut bola yang berada di genggaman Sasuke, atau sekedar menyentuh bongkahan daging kenyal di belakang bawah, membuat Sasuke marah - marah dan malu sendiri. Curang memang, tapi kalau itu Naruto, Sasuke tidak bisa marah lebih lama.
Tapi, mengingat kapten tim basket yang selalu menang walau melawan Sasuke sendirian sekalipun, membuat Sasuke menyeritkan kening ketika mendapati kekasihnya itu kalah darinya. Sasuke menghampiri Naruto yang berada di pinggir lapangan dan menyatukan kening mereka berdua. Mendapati tindakan tiba - tiba dari raven kesayangannya ini, membuat si pirang mengangkat sebelah alisnya.
"Ada apa, sayang?"
"Kau sakit, Naruto! Wajahmu pucat. Pantas saja kau kalah denganku hari ini." Ucap Sasuke setelah melepaskan kening mereka berdua. Tapi sepertinya suhu badannya normal. Tapi melihat wajah pucat Naruto membuat Sasuke juga sedikit khawatir.
Naruto menggeleng. "Aku tidak apa - apa. Aku kalah hari ini karena memang dewi fortuna sedang berada di pihakmu." Naruto menarik lengan Sasuke ke pangkuannya dan mulai melumat lembut bibir pink itu dan disambut dengan senang hati oleh si raven.
Sasuke mengalungkan kedua lengannya pada leher Naruto, menahan kepala itu untuk terus melumat bibirnya. Lidah dan saliva tidak ketinggalan dalam pergulatan kecil mereka.
Suara desahan yang di keluarkan dari mulut Sasuke di tengah - tengah kegiatan mereka membuat Naruto makin semangat memangut bibir pemilik tubuh yang berada di pangkuannya ini. Sasuke sedikit menyeritkan keningnya ketika di rasa mulut dalam Naruto terasa agak hangat. Sasuke melepaskan pangutan mereka tanpa melepaskan kedua kening yang menyatu itu.
"Sepertinya kau benar - benar sakit, Naruto! Apa sebaiknya kita pulang saja?"
Naruto menggeleng lagi. "Tidak apa - apa. Sudahlah, kita pergi dari sini. Sepertinya sudah ada orang di sekolah." Sasuke mengangguk dan mulai bangkit dari pangkuan Naruto dan menuju ruang ganti yang di susul oleh Naruto setelah memberekan semua barang yang ia bawa ke aula.
Ketika sudah di ruang ganti pun, bibir Naruto tak henti - hentinya mencuri ciuman dari Sasuke, mulai menginfasi leher Sasuke dengan aroma khas kesukaan Naruto. Sasuke yang risih dengan perlakuan pacarnya ini mendorong pelan wajah Naruto dari lehernya yang terus dijajah itu.
"Hentikan, Naruto! Mulutmu panas! "
"Maaf." Kecupan panjang yang dilakukan Naruro mengakhiri acara lovey dovey di ruang ganti itu. Setelah selesai, mereka pergi menuju perpustakaan untuk menunggu waktu bel waktunya pelajaran dimulai berbunyi. .
.
.
.
Sasuke berjalan keluar kelas menuju kelas tetangga. Kelas Naruto. Setelah bel istirahat berbunyi, Sasuke selalu menuju kelas Naruto dan menjemput Naruto untuk bersama - sama menuju kantin. Itu sudah menjadi rutinitas sejak mereka tidak sekelas.
Ketika Sasuke sudah berada di mulut kelas, Sasuke mengedarkan pandangannya dan tidak menemukan kepala pirang yang sangat di kenalnya itu. Hinata yang melihat Sasuke dengan wajah kebingungan di depan kelasnya, memutuskan untuk menghampiri lelaki raven itu.
"Sasuke-kun, mencari Naruto-kun?"
"Kemana dia? "
"Naruto-kun berada di UKS, siang tadi dia pingsan di kelas dan Naruto-kun di bawa ke UKS." Jelas Hinata. Sasuke melebarkan matanya dan langsung berlari ke ruang kesehatan. Apa yang ditakutkan terjadi. Naruto benar - benar sedang sakit hari ini. Kalau tahu begini, ia tidak akan mengajak Naruto taruhan dengan bertanding basket pagi - pagi sekali.
"Ini salahku!"
"M-maksudmu? Naruto-kun pingsan karena Sasuke-kun?" Tanya Hinata yang mengikuti jalan cepat Sasuke dari belakang.
Sasuke tidak menjawab dan terus berjalan cepat ke arah ruang kesehatan. Ruang itu sudah terlihat di depan mata dan Sasuke dengan sangat tidak sopannya menggeser pintu UKS keras - keras dan mengakibatkan seorang dokter yang berada di dalamnya terlonjak kaget. Mendapati Si Pirang kuning berbaring di atas kasur, Sasuke segera menghampiri kekasihnya itu.
"Sasuke ya? Temanmu yang di belakang bilang jika temannya Naruto akan menjenguknya waktu istirahat nanti. Tenang saja, Naruto hanya tertidur." Jelas Dokter wanita yang kelebihan daging di dadanya itu. Sasuke menoleh kepalanya sebentar melihat Hinata dan menolehkan kepalanya kembali memperhatikan wajah pucat kekasihnya lagi.
Hinata mengundurkan diri dan menitipkan temannya kepada dokter wanita itu yang hanya di balas anggukan oleh dokter itu.
Sasuke meraih kursi di sebelahnya dan mendudukan dirinya sambil memandang wajah pucat orang terkasihnya itu. Tangan Sasuke terulur menuju pipi, mengelus permukaan kulit tan itu dengan tiga garis halus di kedua sisinya. Merasa terusik akan tidurnya, si pemilik Bola mata biru itu perlahan membuka kelopak matanya memperlihatkan Blue Shapire yang sayu.
Sasuke menarik kembali tangannya dan memperhatikan si pirang tengah memperhatikannya dengan pandangan lelah.
"Aku membangunkan mu?"
Naruto menggeleng lemah. "Kenapa kau disini?"
"Karena kau disini, maka aku ada disini."
Sasuke melirik jam yang berada di ruang kesehatan itu. Masih ada waktu 50 menit lagi sebelum jam istirahat habis.
"Saat ini masih jam istirahat. Kau ingin aku membelikan apa untukmu?" Tawar Sasuke.
"Aku akan belikan Roti Yakisoba untukmu." Ucap Naruto sambil berusaha bangkit berdiri dari pembaringannya yang ditahan oleh Sasuke.
"Jangan gila! Kau masih sakit! Tidurlah lagi! Aku akan bawakan Roti Yakisoba itu untukmu." Ucap Sasuke langsung berlari keluar ruang kesehatan itu.
"Tapi aku su—
—dah janji." Sasuke menghilang. Mengingat pacarnya itu lebih suka memerintah daripada di perintah tapi saat ini ia justru rela mengtaruhkan nyawanya menghadapi ratusan murid yang mengantri demi Roti Yakisoba yang terkenal lezat itu. Memikirkan itu membuat Naruto menarik senyum tipis di kedua sudut bibirnya. Jarang - jarang Sasuke seperti ini, kan?
Si Nenek Tua—julukan yang di berikan Naruto—yang dari tadi melihat interaksi dari dua pemuda di depannya itu memasang seringaian yang menyeramkan tanpa di sadari oleh Naruto. Pasalnya, Dokter itu sedang memikirkan suatu yang agak aneh. Dua Pangeran yang terkenal itu memiliki interaksi yang terlihat seperti sepasang kekasih. Hmm.. Menarik!
Setelah menunggu selama 20 menit, Sasuke datang dengan peluh di sekitar baju seragamnya sambil terengah - engah. Dengan dua kantong plastik di kedua tanggannya. Air teh kalengan hangat, air putih dingin di tangan kanannya, dan dua Roti Yakisoba di tangan kirinya.
"Kau berlari, ya?" Tanya Naruto yang keheranan dengan keadaan Sasuke saat ini. Dengan nafas yang yang masih terengah - engah menghampiri Naruto, mengambil minuman kaleng dan memberikannya pada Naruto.
"Ini untukmu. Minum selagi hangat. Maaf menunggu lama. Antriannya sangat panjang."
"Terimakasih." Naruto menyambut minuman kaleng itu dengan agak meringis. Mulai membukanya dan meminumnya perlahan. Sasuke mengambil Roti Yakisoba itu dan mulai membuka bungkusnya.
"Sebenarnya aku masih bisa berjalan, loh! Kau tidak perlu melakukan ini."
"Kau masih sakit, Naruto. Makanlah!" Sasuke menyerahkan roti yang sudah dibuka itu untuk Naruto. Naruto memandang sejenak roti yang berada di hadapannya. Mendapati kekasihnya yang tidak bergeming membuat Sasuke memandang heran.
"Ada apa? Apa Roti ini terlalu berat? Aku akan membelikan yang lain untukmu!" Sasuke mulai bangkit dari duduknya dan langsung di tahan oleh Naruto.
"Tidak apa. Aku mau Rotinya. Terimakasih." Naruto mengambil roti yakisoba yang sebelumnya berada di genggaman Sasuke dan mulai memakannya.
"Jangan memaksakan diri. Aku bisa belikan yang lain untukmu."
"Tidak perlu. Ini sudah cukup." Dan mereka mulai makan dengan obrolan kecil yang mengisi waktu luang mereka selama 30 menit kedepan.
Kadang kala ketika Sasuke mendapati sisa makanan di sudut bibir Naruto, tangan Sasuke terulur menghapus dengan ibu jari. Atau ketika Sasuke mendapati Naruto dengan peluh yang memnanjiri kening, dengan sigap Sasuke membersihkannya dengan sapu tangannya. Sunggu sangat manis mengingat Sasuke tidak pernah bertindak seperti ini pada Naruto. Yang ada Naruto selalu bagaikan samsak tinju bagi Sasuke. 'Kalau begini terus, mungkin aku betah sakit tiap hari.'
Selesai makan, Sasuke memutuskan untuk berada disamping Naruto lebih lama. Jika Naruto butuh apa - apa, Sasuke bisa langsung bertindak. Padahal sudah ada Dokter wanita itu yang akan menjaga Naruto, tapi sangking paniknya Sasuke, ia lupa jika ada orang lain di ruangan itu yang sedang memperhatikan dua pasangan pemuda yang sedang pacaran—dipikirannya—itu.
"Kalian pacaran ya?" Karena tidak tahan dengan rasa penasaran yang bergelayut liar dipikirannya, memutuskan untuk langsung bertanya kepada dua pemuda yang sepertinya kaget akan pertanyaan yang di lontarkan si Dokter cantik itu.
"K-kau? Sejak kapan kau disana?" Ucap Sasuke sambil menunjuk - nunjukan Dokter wanita itu dengan tidak sopannya.
"Kejamnya! Aku disini dari tadi, kau tahu?!" Ujar Dokter wanita itu.
"B-benarkah?" Tanya Sasuke mengharapkan jawaban pada Naruto.
"Iya. Nenek Tsunade sudah ada di sini. Bahkah sebelum aku pingsan." Jawab Naruto
"Nenek?" Sasuke memandang Naruto dan Tsunade secara bergantian.
Naruto terkekeh kecil. "Perkenalkan. Nenek, ini Sasuke. Dan Sasuke, ini Nenekku. Dia mulai bekerja disini sejak 1 minggu yang lalu." Jelas Naruto.
"Kau tidak pernah cerita padaku!"
"Aku memang tidak pernah cerita padamu karena aku baru tahu hari ini."
Tsunade terkekeh kecil memdapati pandangan tajam dari sang cucu. Membuat surprise ternyata menarik juga.
"Iya, maaf. Aku tidak memberitahumu. Kau terkejut kan? Iya kan? Terkejut aku berada disini kan? Kan?" Tanya Tsunade terlihat sangat antusias akan cucunya yang satu ini. Sasuke belum pernah melihat Nenek Naruto sebelumnya. Naruto hanya pernah cerita kalau Neneknya seorang Dokter.
Naruto memutar kedua bola matanya. "Yah, yah. Aku terkejut." Sasuke juga cukup terkejut melihat interaksi dari pasangan Nenek-Cucu ini.
"Hei, hei! Kalian berdua belum menjawab pertanyaanku yang tadi. Kalian berdua pacaran kan? Ya kan?"
Naruto memandang Sasuke yang juga memandangnya. "Ya. Kami pacaran." Masih dengan memandang Sasuke yang kini melebarkan kedua matanya. Naruto hanya tersenyum kecil mendapati reaksi Sasuke yang kaget dengan wajah memerah menahan malu. Membuat Naruto ingin melahapnya saat ini juga.
Membuat Sasuke ingin terjun dari atas jurang. Jantungnya memompa sangat cepat. Yang Sasuke rasakan saat ini adalah takut. Ya. Ia ketakutan. Takut jika semua orang tahu. Keluarganya tahu. Keluarga Naruto tahu. Dunia tahu. Yang membuat terancamnya hubungan mereka berdua.
Sasuke belum siap untuk ini. Ia tidak mau berpisah dengan Naruto. .
.
.
.
Tsuzuku
Review?
