Betrayal
Disclaimer : Naruto Selalu menjadi milik Masashi Kishimoto, Saya hanya memiliki plot cerita dalam fanfict ini saja.
Warning : Gaje, abal, OOC, Typo dan Miss Typo seperti biasa nya mereka masih enggan meninggalkan saya sendirian.
Sakura's Apertement,Tokyo Japan
Ingatkan dia untuk bertanya kepada Ibunya dan Mikoto setelah ini. Apartement sederhana miliknya ini kembali penuh dengan orang-orang kaya dan berdasi yang duduk melinkar diatas tatami diruang tengahnya, sementara para orang tua dan anak-anak laki-laki mereka saling berbicara. Hana dan dirinya menggantikan pekerjaan ibu mereka di dapur.
"Aku tidak tahu kalau mereka saling mengenal." Ia menggerutu sambil memindahkan soup rumput laut kedalam mangkuk.
"Aku tahu, aku juga terkejut saat mengetahui kalau kau ternyata adalah putri paman Khiazi." Sakura memutar bola matanya,
"Apa ada lagi yang terkejut saat mengetahui siapa ayahku." Sakura menghela nafasnya dan meletakkan mangkuk terakhir berisi Soup rumput laut diatas nampan dan membawanya kedepan. Sasuke berdiri saat melihatnya kerepotan dan bersikeras mengambil alih pekerjaanya. Sakura memandang sebal bungsu Uchiha itu saat ia kembali mengusirnya saat ia mengikutinya kedapur.
"bagaimana dengan makanan yang sudah Sasuke beli. Kenapa Okaa-san dan Mikoto-baasan memasak banyak sekali." Hana menggeleng pelan, ia meraih bungkusan makan malam yang di beli Sasuke dan meletakkannya di kulkas kecuali Wine nya.
"Kau bisa memakannya lagi besok pagi, masih bisa di hangatkan kok." Sakura menaikkan kedua bahunya acuh lalu mengikuti Hana keruang tengah.
Sakura, tanpa disengaja duduk di sebelah Sasuke. Jangan salahkan dirinya, itu satu-satunya tempat yang tersisa, ia tidak bisa makan dengan tenang karena Sasuke sesekali mencuri makanan dari mangkuknya. Ia tidak ingin mengatakannya keras-keras tapi jelas, pandangan Mikoto dan yang lain tertuju kepada mereka berdua.
"Kami-sama! Berhenti mencuri makananku Sasuke dan makanlah dari mangkukmu sendiri." Ibunya nyaris terlonjak medengarnya berteriak, namun Sasuke tetap diam dan terus mengambil lauk yang ada di mangkuknya
"Mereka terlihat lebih lezat jika ada di mangkukmu." Sakura memutar bola matanya, ia mengambil mangkuk Sasuke dan meletakkannya di meja, lalu ia memberikan mangkuknya pada Sasuke dan setelah itu ia mulai mengambil mangkuk Sasuke dan memakan makanan yang ada didalamnya.
"Kau sudah dapatkan mangkuk ku, jadi berhenti mengganggu makan malamku." Sasuke menghela nafasnya, Itachi, Mikoto dan Hana tidak bisa menahan diri mereka untuk tertawa. Fugaku hanya tersenyum tipis milihat tingkah dua orang mahasiswa todai yang bersikap kekanak-kanakan itu.
"Sakura, aku dengar kau bekerja untuk Hana?" Fugaku membuka pembicaraan, Sakura tersenyum sopan dan sedikit merasa bersalah karena ulahnya barusan yang pasti membuatnya tidak nyaman,
"Ya, Fugaku-jisan aku baru bekerja selama tiga minggu ini di boutique Hana-nee." Fugaku mengangguk mengerti,
"Dia Stylist dan perancang busana yang hebat dan dia juga cepat belajar dia akan sukses dengan cepat setelah memulai debutnya sendiri." Hana tersenyum kearahnya membuat gadis merah jambu itu malu,
"Aku masih jauh sekali dari kata sempurna Hana-nee lagi pula aku masih perlu banyak belajar sebelum memulai debut ku." Sakura tersenyum lalu mengambil sebuah udang dan meletakkannya di dalam mangkuknya.
"Itu adalah semangat yang bagus Sakura. Hana adalah designer yang handal dan tidak ragu untuk mengajari juniornya. Kau bisa belajar banyak hal darinya, kau bisa belajar selama yang kau inginkan dari menantu kami, aku rasa Hana tidak akan keberatan dengan itu semua." Hana mengangguk setuju.
"Sasuke, kau lulus tahun ini bukan?" kali ini giliran Mebuki yang membuka suara, Sasuke mengangguk sopan dan menghentikan kegiatan makannya sesaat,
"Apa kau akan membantu di perusahaan ayahmu juga?" Sasuke diam sesaat, ia memandang ayahnya lalu kakaknya, setelah itu ibunya secara bergantian.
"Well, Mebuki-basan sejauh ini Otou-san tidak memaksaku harus bergabung dengannya dan Itachi-nii di perusahaan kami, tapi Aku rasa Itachi sudah cukup baik dalam hal mengatur perusahaan bersama outo-san jadi, aku rasa aku akan membuka bisnis ku sendiri namun, aku masih butuh pengalaman ayah dan kakakku, jadi yah aku mungkin akan bergabung satu atau dua tahun di perusahaan otou-san sebelum membuka bisnisku sendiri." Mebuki tersenyum dan mengangguk paham,
"Kau pasti akan sukses sepertia ayah dan kakamu." Sasuke hanya tersenyum tipis dan kembali menyantap makan malamnya,
Sakura memandang bungsu Uchiha itu dengan pandangan heran sekaligus bertanya, ia tidak tahu tapi pria ini berbeda. Kebanyakan anak-anak dari rekan bisnis ayahnya akan mengambil alih kedudukan ayah mereka di perusahaan, bahkan Naruto sudah mengambil ancang-ancang akan menggantikan ayahnya sejak ia berada di tahun keduanya di Universitas. Namun, Sasuke? Dia menganggap seakan-akan perusahaan ayahnya bukanlah hal yang penting bagi dirinya.
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam saat ia mengantar seluruh keluarga Uchiha sampai di lobi apartementnya. Sasuke masih tinggal dan berdiri disebelahnya, ia bisa mendengar bungsu Uchiha itu menggumakan kata nanti saat Itachi memandang bingung kearahnya.
"keberatan kalau temani aku minum di bar sebentar?" Sakura melirik jam tangannya
"Ini sudah pukul sepuluh malam." Sasuke menaikkan kedua bahunya acuh,
"Aku sudah bertanya kepada ibumu dan batas jam malam mu adalah jam dua belas, jadi jika kau tidak keberatan temani aku minum sebentar dan aku akan memulangkanmu tepat jam dua belas kepada ibumu." Sakura menghela nafasnya dan mengangguk,
"Kau yang bayar. Aku belum menerima gajiku." Sasuke mengangguk dan membukakan pintu mobil sport mewahnya,
D'stello Bar, Tokyo Japan
Sasuke memarkirkan mobil sport mewahnya dengan anggun di depan bangunan bergaya modern itu, Ia membuka pintu mobilnya dan sebelum Sakura membuka pintunya sendiri Sasuke sudah berdiri disana membuka pintu mobilnya dan membantu Sakura keluar dari dalam mobil mewahnya. Beberapa orang memandang mereka dengan pandangan bertanya atau lebih tepatnya kearah Sakura. Orang gila macam apa yang akan ke bar mahal hanya dengan menggunakan pakaian rumah dan sandal slop rumahan. Dia tidak peduli, jika Sasuke yang mengajaknya kesini saja tidak masalah kenapa orang-orang disini memandangnya seolah-olah dia adalah santapan malam.
"Sasuke…" Sasuke menaikkan sebelah alisnya saat Sakura memanggilnya, ia tengah menyebutkan pesanannya saat Sakura memanggilnya,
"Kau tidak perlu memesan satu botol penuh anggur mahal itu, aku tidak minum." Sasuke menaikkan sebelah alisnya, ia memandang pelayan dan tak menggubris kata-kata wanita merah jambu itu, ia justru menambahkan nachos sebagai tambahan.
"Kau takut aku akan macam-macam padamu?" Sakura menggeleng melihat ekspresinya Sasuke justru tertawa ,
"Sakura, main sex dengan wanita yang tidak sadar bukan hobiku sama sekali." Sakura memutar bola matanya,
"Aku hanya menjaga apa yang seharusnya ku jaga tahu." Sasuke tersenyum kearahnya,
"dan aku tidak akan merusak apa yang tidak seharusnya ku rusak lagi pula, aku mengajakmu kesini untuk bicara, bukan untuk mabuk atau lain sebagainya. Mereka punya koleksi anggur yang bagus disini, kau akan menyukainya." Sakura tak bisa menahan senyumnya, mungkin Sasuke tidak seburuk yang kelihatannya.
"Jadi, Kau tidak akan bergabung dengan perusahaan ayahmu?" Sakura membuka pembicaraan, seorang pelayan bar datang mendekati mereka dan membuka tutup anggur mahal itu dan meletakkannya di baki es, Sasuke menggeleng. Ia mengambil botol anggur nya dan menuangkan nya ke gelas mereka.
"Tidak. Aku punya rencana untuk masa depan ku sendiri." Sakura memandangnya ,
"Kenapa menatapku seperti itu?" Sasuke bertanya, bungsu Uchiha itu menaikkan sebelah alisnya.
"Entahlah, hanya saja tidak biasanya anak-anak dari keturunan konglomerat tidak tertarik menjadi penerus perusahaan ayahnya. Maksudku, kau tidak perlu repot-repot berusaha untuk mendapatkan pekerjaan impian itu dan mendapatkan bayaran yang kau impikan." Sasuke tersenyum dan menyesap anggurnya.
"Well, Sakura. Kau harus tahu satu hal, hal semacam itu hanya akan memecah persaudaraan ku dan Itachi. Aku tidak tahu apa tanggapan Nii-san jika dia tahu tentang ini tapi, aku ingin berdiri sendiri. Aku ingin berjuang sendiri, warisan keluarga Uchiha adalah milik Itachi karena dia anak tertua dan cucu pertama dari anak tertua kakekku.
Aku memang memiliki beberapa saham tapi jika aku mengandalkan apa yang ayah ku miliki, aku tidak akan melewati proses yang seharusnya ku lewati. Kau tahu, jadi orang semacam itu bukan gaya ku." Sakura tersenyum dan menyesap kembali anggurnya.
"Kau sendiri, kenapa menjauhi orang-orang bahkan menjauhi semua cowok-cowok yang berusaha mendekati mu?" Sakura bersandar di kursinya, alunan musik jazz indah menyapa pendengarannya,
"Well¸ lihatlah aku sekarang. Maksudku, aku bukan lagi seorang putri konglomerat seperti dulu, ayahku meninggal karena kanker dan aku tak bisa memberikan pengobatan yang layak seperti dia memberikan aku kehidupan yang lebih dari kata layak.
Aku kehilangan ayahku, perusahaan, martabat keluarga, dan semuanya. Aku tidak punya banyak waktu untuk bersenang-senang Sasuke. Aku tidak bisa menyia-nyiakan waktu yang tersisa untuk bersenang-senang, aku bahkan tidak punya waktu untuk meladeni cowok-cowok itu." Sakura menyesap anggurnya,
"Hanya itu?" Sakura menaikkan sebelah alisnya, ia menghela nafasnya dan mengankat gelas anggurnya,
"Aku merasa aku akan merepotkan banyak orang, Naruto-senpai, Hinta, dan teman-teman yang lain. Aku berhutang banyak hal kepada mereka terutama Hinata. Aku hanya tidak ingin merepotkan orang lain lagi." Sasuke meraih tangan Sakura dan menggenggamnya erat,
"Aku tidak peduli apa yang kau fikirkan saat ini tapi, kau tidak bisa menutup dirimu dan menyindiri, kau berhak untuk bahagia Sakura. Jauh lebih berhak daripada yang selama ini kau bayangkan. Aku tahu kau berusaha membuat ibumu bahagia, tapi kau juga punya dirimu sendiri untuk kau bahagiakan.
Seorang manusia tidak bisa menahan terlalu banyak beban pada bahunya, Sakura. Kau akan kelelahan dan pasti jatuh juga." Sakura tersenyum getir dan menyesap anggurnya,
"Sekarang, izinkan aku bertanya satu hal padamu. Kenapa kau berusaha menghindar dan menjauhiku?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya ketika pertanyaan itu terlontar dari bibirnya, memandang lurus dengan pandangan menuntut jawaban dari gadis merah jambu di hadapannya.
"Simple. Aku tidak mau Hinata berfikiran yang macam-macam tentang kita. Sudah tiga minggu belakangan ini dia menjauhiku tanpa aku ketahui apa penyebabnya. Dia sahabatku yang ku punya satu-satu nya Sasuke." Sasuke menghela nafasnya, bungsu Uchiha itu menyandarkan tubuhnya kasar, Persetan dengan Hinata.
"Kami hanya sebatas teman masa kecil. Aku menganggapnya sebagai adikku, dan aku benci mengakui ini tapi dia memang menganggapku lebih dari seorang kakak. Tapi aku bersumpah dia hanya seorang adik untukku." Sakura menyesap kembali anggurnya, ada persaan lega tak kasat mata yang menyusup kedalam hatinya, memberikan kehangatan sendiri disana yang dia sendiri tak tahu mengapa.
"Dia mencintaimu. Aku hanya tidak ingin dia tersakiti." Ujarnya, Sasuke menegak anggurnya hingga tandas dan menuang segelas lagi kedalam gelas kristalnya
"Membiarkan dirimu sendiri tersakiti hanya untuk membuat sahabatmu bahagia bukan pilihan yang bijak, Miss Haruno." Sakura memandang Sasuke dan ujung slop rumahannya bergantian,
"Aku tidak tahu Sasuke, Hinata berbuat banyak untukku. Aku hanya tak ingin jadi sahabat yang tidak tahu terimakasih untuknya. Lagi pula, dilihat dari sisi mana pun, aku tidak akan pantas untukmu." Sasuke menyesap anggurnya, tidak pantas? Itu adalah dua kata paling konyol yang keluar dari mulutnya selama ia mengenalnya.
"Sakura, aku tahu benar siapa yang pantas untuk ku dan siapa yang tidak pantas untukku." Sakura memutar bola matanya, wanita itu melirik jam di tengah ruangan bernuansa classic itu,
"Sasuke sudah hampir jam 12 malam." Sasuke menghela nafasnya, ia memandang lurus kearah wanita itu,
"Aku… Sakura, aku tahu masalah persahabatan mu dan Hinata, aku mengerti kalau kau berhutang banyak padanya hanya saja, jangan biarkan itu membatasi hubungan kita." Ia meraih telapak tangan mungil wanita merah jambu itu dan meremasnya pelan,
"Kau sudah menyita perhatian ku sejak pertama kali aku melihatmu di café di hari pertama kedatanganku dari Jerman. Aku tidak punya alasan yang lebih bagus dari bertahan untuk mendapatkanmu. Aku tahu kau juga merasakan hal yang sama, bisakah kau buka pintu yang masih tertutup rapat itu untukku?" Sakura memandang lengan bersar Sasuke dan wajah tampan pria itu secara bergantian,
"Kau bisa pastikan Hinata tidak akan terluka dengan hal ini?" Tanya Sakura lagi,
"Aku akan bicara dengannya." Sakura terdiam, Sasuke menghela nafasnya berat
"Aku tidak memintamu untuk menjadi pacarku sekarang, Haruno. Aku hanya meminta mu untuk memberikan aku kesempatan untuk membuktikan kalau kau layak berada disampingku." Sakura menghela nafasnya pelan, ia memandang kembali kedalam sepasang obsidian milik Sasuke sebelum mengangguk.
"hm…" Gumamnya, Sasuke tersenyum lebar dan mengecup puncak kepala merah jambu miliknya.
"Ayo, ibumu bisa membunuhku kalau aku mengantarmu pulang terlambat." Sakura tertawa, Sasuke hanya terkekeh geli sambil mengulurkan tangannya kepada Sakura. Mereka berjalan keluar dari bar setelah Sasuke memberikan beberapa lembar yen kepada pelayan untuk membayar bill nya.
Todai, Tokyo Japan
Ingin rasanya ia meninju wajah tampan Sasuke Uchiha yang belakangan ini gemar sekali muncul tiba-tiba di studio design saat ia memiliki waktu luang. Entah untuk mengantarkan kotak makan siang atau menculiknya diam-diam saat jam makan siang. Sakura tahu Sasuke sudah bicara dengan Hinata dan ia tahu Hinata butuh waktu untuk menerimanya. Sebesar apapun rasa cinta mu pada seseorang, kau tidak akan pernah bisa memaksakan perasaan orang itu untuk membalas perasaan cinta mu kan? Sakura benci mengakui ini, ia mencintai Sasuke dan pria itu menepati semua yang ia bicarakan di bar malam itu dengannya, ia mencintai pria itu tapi disisi lain dia benci berjauhan dengan sahabat nya seperti ini.
Siang ini, Sasuke kembali menculiknya keluar saat jam makan siang. Ia sudah menyumpah serapahi bungsu Uchiha ini karena kelakuannya. Ia kesal tentu saja, tapi cukup tersanjung juga dengan segala perhatian yang ia berikan. Dia berhak memiliki kebahagiannya sendiri, entah bagaimana kalimat itu terdengar sangat benar namun sangat salah juga di waktu bersamaan.
Mereka tengah makan di café di seberang kampus saat tiba-tiba Hinata masuk bersama seorang pria dari fakultas hukum. Inuzuka Kiba. Sasuke berdiri dan menyambut pria itu saat mereka menghampiri kami, mereka berkencan? Sejak kapan?
"Well, Sasuke Nee-chan benar-benar tidak bohong kalau kau sudah kembali ke Jepang. Sudah berapa lama?" Kiba membuka pembicaraan,
"Satu bulan, atau lebih aku tidak mengingatnya." Ujarnya cuek, Sasuke meraih beer kalengnya dan menegaknya,
"Lama tidak bertemu eh, Hinata?" Ujarnya, Hinata tersentak kaget saat Sasuke menyebut namanya, ia bersandar dan memandang Sakura dan Sasuke bergantian sebelum tersenyum kepada pria yang sedang dalam masa pendekatan dengan wanita merah jambu itu.
"Ya, kau terlalu sibuk dengan tugas akhir, skripsi dan er… pacar mu, kurasa?" Sasuke menggeleng mendengar jawabannya lalu tertawa renyah.
"Belum, kami belum sampai di tahap itu. tapi mungkin sebentar lagi." Sasuke meremas tangan Sakura yang bersembunyi di bawah meja, ia memandang gadis itu dan pandangannya sulit di artikan.
"Sakura akan memulai debut pertamanya sebagai model akhir minggu ini. Kalian mau menontonnya?" Shion membuka pembicaraan, ia menatap jahil kearah Sakura dan Sasuke bergantian.
"Aku dan Naruto berniat akan datang." Sakura bisa mendengar Naruto mendengus kesal disini, peragaan busana bukanlah hal yang ia sukai,
"Kau yang memaksaku untuk ikut lebih tepatnya." Shion mendengus, terlebih lagi Naruto mengeluarkan rokok dan pematik apinya
"Naruto!" Ia tak menghiarukan protes dari pacar pirangnya hari ini,
"Tugas akhir dan skripsi ini membuatku gila, Sayang. Berbaik hatilah pada pacarmu yang akan sidang dalam kurun waktu dua minggu lagi ini." Kiba sudah bersiap untuk muntah, Shion sudah menggerutu tak karuan sementara Hinata, Sasuke dan Sakura terdiam dan tersenyum dalam diam.
"Aku tidak akan terkejut jika dalam kurun waktu satu bulan setelah Shion lulus tahun depan kalian akan menikah. Kau selalu terlihat seperti pasangan suami istri yang baru menikah tahu." Untuk pertama kalinya Sakura berbicara,
"jadi, kalian akan menonton?" Shion kembali mengkonfrontasi teman temannya,
"Well, Shion kau tahu benar kalau aku tidak akan pernah melewatkan kesempatan untuk melihat debut awal Sakura. Dia berkerja keras selama beberapa minggu ini. Dia akan terlihat luar biasa." Sasuke menambahkan kecupan di puncak kepala gadis merah jambu itu sebelum meraih rokok yang di sodorkan Naruto padanya dan menyalakan pematik api miliknya.
"Sasuke Uchiha!" Sasuke mendelik kearahnya dan mematikan rokoknya,
"kau terdengar seperti ibuku." Ia menggerutu, yang lain hanya tergelak kecuali mungkin Hinata. Sakura bisa merasakan wanita indigo itu memandangnya sejak tadi dan itu membuatnya tidak nyaman berada satu meja lagi dengannya.
"Aku mau ke Toillet." Ujarnya, Sasuke mengangguk, ia menggeser kursinya sedikit agar wanita merah jambu itu bisa lewat,
"Jangan lama-lama, aku harus menghadap Professor Sarutobi lima belas menit lagi." Sakura mengangguk paham dengan kalimat Sasuke.
"Aku juga." Tiba-tiba Hinata berdiri dari tempat duduk nya dan mengikuti Sakura dari belakang.
"Sakura, tunggu!" ia berhenti tepat di didepan salah satu bilik toilet wanita dan memandang Hinata yang terlihat gugup dihadapannya,
"Aku minta maaf." Cicitnya, Sakura memandangnya tak percaya. Wanita itu meletakkan tote bagnya dan memeluk sahabat masa kecilnya.
"Sasuke sudah menjelaskannya padamu?" Hinata mengangguk,
"Aku tidak seharusnya bersikap kekanakan." Sakura mengangguk dan melepaskan pelukannya,
"Aku tidak bermaksud membuatmu sakit hati Hinata tapi, Aku mencintainya. Satu-satunya alasan aku menahan untuk tidak menerima ajakan berpacaran dengannya adalah karena aku ingin kau salah paham, aku ingin memastikan kalau kau tidak benar-benar membenciku atau sebagainya." Hinata terdiam, ia mengusap air matanya.
"Aku tahu, Kiba mengatakan semua itu dan rasanya dia berhasil menamparku." Sakura tersenyum padanya,
"Kiba eh?" Hinata terlihat malu saat Sakura menyebut nama saudara ipar Sasuke itu.
"Kami sudah lama kenal, bahkan dekat sebelum Sasuke kembali dari Jerman. Dia mengajakku berkencan dua hari yang lalu dan aku rasa tak akan ada masalah besar jika aku menerimanya. Sakura kau juga berhak untuk bahagia." Sakura mengangguk, dan memeluk Hinata sekali lagi
"Terimakasih, aku akan menyelesaikan urusan ku jika kau tidak keberatan." Sakura menunjuk deretan bilik toilet di belakangnya,
"Oh iya, tentu saja. Maaf untuk itu." Sakura tertawa, namun wanita itu masuk kedalam toilet dan meninggalkan Hinata di luar.
"Kau berhak bahagia Haruno, di dalam mimpimu." Hinata menghapus air matanya, setelah berhasil merapihkan riasan wajanya ia keluar darit toilet dan kembali ketempat dimana yang lainnya berkumpul.
Tokyo Fashion Week,Grand Hotel Uchiha, Tokyo Japan
Sakura bergerak mondar mandir, tangannya gemetar, entah kenapa suhu ruang gantinya terasa lebih dingin dari yang seharusnya. Sakura meraih remote AC yang ada di atas coffee table di hadapannya dan menyeting ulang temperature nya ulang saat Hana masuk dan menemuinya.
"Astaga Sakura apa kau tidak kepanasan?" Hana mengambil remote itu darinya dan menurunkan suhunya,
"Hana-nee…" Hana menoleh dan memandangnya, ia gugup ibu dari Meiko Uchiha itu tahu benar perasaan Sakura. Ia meraih tangan Sakura yang gemetar dan memberikan segelas air untuknya.
"Semuanya akan berjalan lancar. Ingat ini adalah gerbang awal untuk memulai debutmu sebagai seorang designer. Kenali busana yang kau pakai, buat itu hidup dan buat busana itu pantas dengan harga yang aku sematkan untuknya." Sakura mengatur nafasnya
"Sasuke ada disana. Dia memberika ini untukmu." Sakura meraih kota beludru itu dari Hana sebuah liontin perak berbentuk hati dengan permata di tengahnya, Sakura membuka liontin itu dan medapati fotonya dan Sasuke di kencan terakhir merea.
"Pakai ini kalau kau setuju untuk menjadi pacarku. –Sasuke" Sakura menaikkan sebelah alisnya sementara Hana berusaha keras untuk tidak tertawa, demi Kami-sama Sasuke sudah akan wisuda dan Sakura satu tahun lagi akan merampungkan studinya tapi caranya meminta seorang perempuan untuk menjadi pacarnya masih sama sepertia anak SMA.
"Pakailah." Hana tahu apa yang ada didalam hatinya, Sakura tersenyum dan menyematkan kalung itu di lehernya, menambah sempurna penampilannya malam itu.
"Ayo Sakura, kali ini giliranmu." Sakura mengangguk, ia akan membawakan gaun mermaid dengan sleeve lace berwarna hitam dan mengekspos dengan jelas punggungnya,
Saat salah satu model Hana sudah kembali dan suara seseorang menggema menyebutkan nama koleksi utama Hana yang ia kenakan itu, Sakura menaiki panggung catwalk dan dengan anggun berlenggak lenggok diatas catwalk bersama beberapa model dari Guilliana Mark yang lainnya. Ia bisa melihat Sasuke tersenyum dan berdiri saat ia memasuke area Catwalk dan duduk kembali saat ia berbalik dan meninggalkan catwalk menuju kebelakang panggung.
"Itu tadi bagus sekali. Tidak terlalu buruk untuk seorang model yang baru memulai debut. Mereka tidak bisa mengalihkan pandangan mereka dari mu." Sakura tersenyum malu dengan pendapat dari Hana,
"Aku akan mengganti pakaianku kalau kau tidak keberatan Hana-nee." Hana mengangguk, Sakura berjalan kearah ruang gantinya dan mendapati Sasuke sudah berdiri di depan pintunya dan tanpa banyak bicara bungsu Uchiha itu menariknya dan menciumnya,
"Katakan padaku kalau aku tidak bermimpi." Dibanding melakukan apa yang Sasuke minta Sakura justru mencubit lengan kekar yang terbungkus jas mahal itu dan membuat Sasuke mengerang,
"Aku tidak sedang bermimpi." Sakura tertawa
"Nah biarkan aku lewat sekarang," Sasuke membuka pintu untuk Sakura dengan senang hati, ia menunggu dan duduk di sofa beluduru berwarna coklat saat Sakura tengah mengganti pakaiannya dan melepas kepangan rambutnya. Ia menggunakan dress turtle neck berwana putih diatas lutut dan heels berwana peach saat ia kembali, surai merah jambunya sudah ia sisir dengan rapi.
"apartement mu, Penth house ku, atau rumah keluarga Uchiha?" Sakura mengerutkan dahinya,
"kenapa?" Tanyanya bingung, sasuke tersenyum dan memintanya mendekat, Sakura duduk di sebelahnya dan membiarkan Sasuke merangkulnya,
"merayakan debutmu dan kelulusanku." Sakura terbelalak kaget,
"Sidangmu hari ini?" Sasuke mengangguk
"Aku benar-benar lupa, Kami-sama! Bagaimana hasilnya?" Sasuke memutar bola matanya.
"Cukup baik pastinya, kau ingin kita merayakannya dimana?" Sakura berfikir sejenak, ia mengambil ponselnya dan menelfon ibunya
"Okaa-san, aku rasa aku tidak pulang malam ini. Aku akan menginap di penth house Sasuke kalau kau tidak keberatan. Tidak, bukan seperti itu Sasuke baru saja lulus dan mendapat nilai yang sempurna, kami ingin merayakannya saja. Baiklah, terimakasih Okaa-san. Aku akan pulang besok pagi." Ujarnya sebelum menutup telfonnya.
"So?" Sasuke menatapnya
"Aku hanya berfikir mungkin kau ingin merayakannya berdua saja, jadi mungkin penth house mu." Sasuke tersenyum ia bangkit berdiri, dan menawarkan tangannya yang di sambut dengan senang hati oleh Sakura, saat mereka keluar ruangan Itachi dan Hana ada di depan ruangan bersama putri kecil mereka.
"Hei, Selamat Otouto dan Sakura." Itachi memberikan kerlingan jahilnya kepada kami,
"Nii-san katakana pada okaa-sama aku akan menginap di peth house malam ini. Bersama Sakura." Itachi tersenyum gelid an Hana sudah melotot mendengar perkataan adiknya,
"Aku tidak akan menyentuhnya di hari pertama jadian, Hana-nee aku pastikan dia tetap untuh saat dia pulang besok pagi ke apartementnya." Hana menghela nafasnya,
"Paling tidak tunggu Sakura lulus." Wajah Sakura sudah semerah kepiting rebus sekarang,
"Aku duluan, Bye Keiko-chan setelah memberikan kecupan pada bayi berusia dua bulan itu Sasuke menarik tangan Sakura untuk mengikutinya
"kami duluan, Hana-nee , Itachi-nii." Ujarnya, Ia bisa mendengar gelak tawa Itachi saat itu,
Sasuke membukakan pintu mobil mewahnya untuk Sakura sebelum ia sendiri masuk kedalam mobil mewahnya dan mengemudikan mobil mereka meninggalkan parkiran hotel bintang lima milik keluarga Uchiha itu. sementara dari kejauhan seorang wanita indigo memperhatikan mereka dari jauh. Sakit, ingin rasanya ia menerjang Sakura dan memeberinya pelajaran berharga namun, sosok lain muncul dari kegelapan.
"Hinata, kalau kau mau membuat sesorang yang menyakitimu menderita kau harus memberi mereka sedikit waktu untuk bersenang-senang. Selagi itu, aku bisa membantu mu menyusun rencana untuk menghancurkan gadis merah jambu itu dan membuat Uchiha ada di bawah kendali Hyuga." Hinata hanya diam mencerna baik-baik kata-kata kakaknya, waktu ya. Bersenang-senanglah Sakura, sebelum kau benar-benar merasakan sakit yang ia rasakan.
TBC. Telat sanbat updatenya, maaf maaf. Kemarin sempet ilang mood buat nulis dan inspirasi mentok terus, tapi ini udah di update. Semoga kalian suka ya, thanks undah selalu membaca meriview dan mengingatkan saya untuk update.
Love love love
Aphrodite girl 13
