Chapter 4

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : NaruSasu (Naruto x Sasuke)

Genre : Friendship, Romance, Yaoi, Shounen Ai

Warning : Gaje, Typo, OOC, alur maraton, yaoi, dan hal absurd lainnya.

Note : If you dont like or hate this fanfic, Dont read!

"Sudah kuduga. Perlakuan Sasuke padamu sangat manis. Jadi kupikir kalian pacaran." Ucap Tsunade dengan anggukan mengerti.

Sasuke dengan tampang bingungnya mengeluarkan suara. "Kau tidak masalah dengan ini?"

"Maksudnya?" Tanya Tsunade.

"Aku dan Naruto sama - sama laki - laki dan kita pacaran."

"Tidak juga." Tsunade mengangkat bahu tidak peduli.

"Mungkin jika kau ceritakan pada Kushina dan Minato, mereka juga tidak akan keberatan kan?" lanjut Tsunade.

"Begitulah. Mereka tidak keberatan ketika aku memberitahukan jika aku punya pacar laki - laki." Sasuke melotot mendengar jawaban yang di lontarkan Naruto. Apa tadi dia bilang?

Mendapat pandangan super kaget dari Sasuke, Naruto menarik tubuh ramping itu dan melingkarkan lengan kekarnya. Memeluk Sasuke dengan masih keadaan duduk pada ranjang dan menaruh dagunya pada dada Sasuke. "Aku sudah bicarakan ini pada orang tuaku. Sebenarnya mereka belum tau siapa pacarku. Aku akan membawamu kepada mereka sabtu pagi besok. Tugas kita sekarang tinggal meyakinkan keluargamu."

Sasuke agak terkejut juga karena Naruto sudah mengambil langkah awal untuk kelanjutan hubungan mereka. Sasuke juga merasa senang dan lega ketika tahu hubungannya dengan Naruto telah direstui oleh orang tua Naruto. Neneknya pun tidak keberatan. Tapi tidak dengan keluarganya.

"Aku tidak yakin bisa meyakinkan mereka, Naruto." Ucap Sasuke sambil mengenggam kedua pipi tan Naruto.

"Aku akan menemanimu meyakinkan semuanya. Tidak perlu terburu - buru. Aku akan selalu ada di sampingmu." Ucap Naruto sambil tersenyum.

Pasangan dua pemuda yang tengah di mabuk cinta ini dengan mudahnya mengeluarkan kata - kata manis yang tidak mereka ketahui jika kata - kata manis mereka akan menjadi pahit ketika mereka tahu hidup dengan keadaan mereka yang seperti ini akan membuat mereka berfikir dua kali untuk mempertahankan hubungan ini.

Melihat pasangan yang tengah 'Bermesraan' di depan matanya membuat Tsunade agaknya risih juga. Apalagi ketika melihat kepala Sasuke mulai turun dan sedikit memiringkan kepalanya kekanan dan perlahan menutup matanya. Dengan kedua tangan yang masih berada di pipi Naruto menahan pergerakan kepala pirang itu untuk mendapatkan posisi yang diinginkan.

Tsunade melebarkan matanya dan berdehem keras untuk menyadarkan dua pemuda di sana jika tempat ini bukan tempat yang cocok untuk mereka bermesraan. Tapi bukannya berhenti, mereka semakin gencar untuk melakukan hal yang sering mereka lakukan itu. Bahkan mereka saling menutut pasangannya untuk melakukannya lebih liar.

Decakan dan suara erangan keluar dari mulut keduanya, melupakan makhluk yang ada di sana. Tsunade mengerlingkan matanya tidak peduli. Toh ia juga pernah muda.

Suara bel tanda istirahat berakhir menghakhiri kegiatan mereka. Sasuke dengan wajah super merahnya dan mata sayunya membuat Naruto tidak rela melepaskan bibir Sasuke dari mulutnya.

"Sebaiknya kalian berdua segera ke kelas. Bel sudah berbunyi, kalian dengar kan?" Suruh Tsunade.

"Tapi Naruto masih sakit. Mulutnya saja masih panas. Kenapa tidak biarkan ia tidur disini?" Masih dengan posisi saling memeluk, Sasuke menolehkan wajahnya pada Tsunade.

"Jangan manja! Pacarmu bisa tidur lagi setelah pulang sekolah! Sudahlah, kalian cepat kekelas!" Perintah Tsunade.

"Aku tidak apa - apa. Nenek benar. Aku bisa tidur lagi setelah pulang sekolah. Sebaiknya kita ke kelas." Ucap Naruto melepaskan pelukannya dan bangkit dari ranjang. Setelah pamit pada Neneknya, Naruto dan Sasuke mulai memasuki kelas mereka masing - masing. .

.

From : Sasuke

To : Naruto

Subject : masih sakit?

Cc : -

Massage : Gimana? Setelah tidur agak lama tadi udah mendingan?

From : Naruto

To : Sasuke

Subject : Re : masih sakit?

Cc : -

Massage : Aku sudah mendingan, kok! Kau tidak perlu khawatir.

From : Sasuke

To : Naruto

Subject : Re : Re : masih sakit?

Cc : -

Massage : Kalau kau masih sakit, aku akan bilang ke Sensei besok. Kau tidak perlu masuk sekolah.

From : Naruto

To : Sasuke

Subject : udah sembuh, kok! 😄

Cc : -

Massage : Kau berlebihan. Tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku baik - baik saja. Terimakasih.

.

.

Makan malam di rumah keluarga Uchiha berjalan dengan keheningan. Mereka memang tengah berkumpul disini, tapi tanpa suara obrolan yang membuat jarak mereka sudah merenggang kini kian merenggang. Sasuke yang sambil menggenggam handphone nya seperti mengetik sebuah pesan dan melanjutkan makannya kembali. Ketika mendapati handphonenya bergetar mulai kembali mengambil handphonenya dan kembali mengetik sebuah pesan singkat.

Itachi yang merasa risih dengan kegiatan yang tengan dilakukan oleh adik bungsunya ini akhirnya angkat bicara. "Bisa kau taruh handphone mu dulu? Kita sedang makan."

Sasuke mengangguk dan melanjutkan makannya yang tadi sempat tertunda. Mikoto yang sedari tadi memperhatikan anak bungsunya ini sedikit memiliki pertanyaan dalam kepalanya. Pasalnya, Sasuke selalu tersenyum ketika sedang memperhatikan handphonenya.

"Pacarmu, Sasuke?" Tanya Mikoto tiba - tiba. Sasuke yang mendengar pertanyaan ibunya tiba - tiba itu langsung tersedak makanan yang ia makan. Dengan sigap Itachi memberikan segelas air yang ada di sebelah kiri Sasuke.

"A-apa yang ibu bicarakan?" Tanya Sasuke masih terbatuk - batuk kecil.

"Dari Pacarmu?" Tanya Mikoto sekali lagi.

"H-hah?! B-bukan siapa - siapa!"

"Tidak mungkin bukan siapa - siapa kan? Jika Sasuke kita senyum - senyum sendiri ketika sedang melihat handphonenya?" Mikoto menatap Fugaku dan Itachi sambil terkikik geli.

"Benar apa yang ibumu bilang. Jangan seperti kakakmu yang tidak laku - laku ini. Kau perlu membawa pacarmu kerumah juga." Jelas Fugaku yang malah ikut nimbrung.

Itachi yang sudah gatal sekali matanya ingin tahu pesan apa yang sedari tadi membuat Sasuke senyum - senyum sendiri, langsung merebut handphone yang berada di sebelah kiri Sasuke.

"Hei! Apa yang kau lakukan?! Kembalikan!"

"Cih! Di lock" Sasuke langsung merebut handphonenya yang berada di genggaman Itachi.

"Jangan seenaknya kau, Itachi!"

"Hei! Berani - beraninya kau memanggil namaku tanpa embel - embel Kakak, dasar Adik durhaka!" Itachi menoyor kepala Sasuke.

"Itu sakit, bodoh!" Sasuke membalas Itachi dan kembali dibalas oleh Sasuke, dan mereka mulai adu toyor kepala. Fugaku dan Mikoto yang melihat kelakuan anak - anaknya yang sudah tidak bisa dibilang 'masih kecil' lagi ini malah bertingkah kekanakan.

"Bagaimana, Sasuke? Ingin membawa pacarmu kesini?" Pertanyaan yang lolos dari bibir kecil Ibunya membuat kedua anaknya menghentikan pertengkaran kecil adik-kakak itu. Sasuke yang duduk dengan gelisah membuat Mikoto sedikitnya agak heran dengan tingkah anak bungsunya.

"A-ak-.. Aku.." Ucapan Sasuke terbata dan terputus. Sasuke bingung ingin mengatakan apa. Dia belum siap. Belum siap untuk semua keadaan yang akan membuat buruk hubungannya dengan Naruto.

"Ada apa?" Tanya Itachi yang juga heran dengan sikap gugup Sasuke. Biasanya adiknya ini hanya menampakan sikap kasar dan dingin. Hebat, ya! Pacarnya ini benar - benar bisa merubah Sasuke.

"A-aku belum siap. K-kapan - kapan aku a-akan... " Ucapan Sasuke terhenti begitu saja. Sasuke benar - benar gugup sekali. Keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya. Detak jantungnya kian berpacu cepat. Tekanan udara disekitarnya terasa semakin rendah. Perutnya seolah - olah merasakan seribu ular bergerilia berputar. Dan darahnya terasa berhenti mengalir. Sasuke benar - benar tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Ia ketakutan! Sangat ketakutan! Ia butuh Naruto disini!

Itachi yang melihat adiknya dari jarak dekat itu mencoba menenangkan adiknya itu. Itachi tidak tahu apa yang terjadi pada Sasuke, tapi yang ia lihat, sepertinya Sasuke butuh dukungan.

"Kau takut kami tidak merestui hubungan kalian, ya?" Tanya Itachi menggenggam tangan kiri Sasuke dengan erat. Sasuke menoleh dengan keringat yang masih mengucur di sekitar wajahnya.

"Kau tidak perlu khawatir, Sasuke. Kami tidak pernah melarangmu berhubungan dengan siapa - siapa. Asalkan orang itu baik denganmu, keluarganya, keluarga kita, dan semua orang." Jelas Mikoto.

"Dia baik. Sangat baik. " Ujar Sasuke.

Mikoto tersenyum lembut. "Benarkah? Kalau begitu bagus kan? Apa yang harus kau khawatirkan? Jika pun kita tidak menyetujui hubungan kalian, kita bisa bicarakan baik - baik, kan?" Lanjut Mikoto.

"Apa benar bisa dibicarakan baik - baik? Aku tidak yakin." Ucap Sasuke menunduk memandangi tangannya yang masih digenggam oleh Kakaknya.

"Kau kenapa, Sasuke?" Fugaku akhirnya ikut bersuara.

"Maksudku- aku hanya tidak yakin. Aku tidak yakin ini bisa dibicarakan baik - baik." Sasuke melepas genggaman tangan Itachi dan menautkan kedua tangannya yang basah itu.

"Apa ini serius sekali?" Tanya Fugaku lagi.

Sasuke mengangguk.

Setelah menghabiskan makan malam mereka, mereka memutuskan tidak beranjak dari meja makan. Tidak ada salahnya mendengar cerita tentang Sasuke yang membuat tingkah Sasuke jadi aneh. Jika Sasuke mengatakan ini serius, berarti memang harus dibicarakan dengan serius.

"Sekarang katakan apa yang ingin kau katakan, Sasuke." Itachi masih duduk disampingnya memperhatikan Sasuke. Begitupun kedua orang tuanya duduk berhadapan dengan anak - anak mereka yang juga memperhatikan Sasuke.

"Tapi janji! Setelah aku mengatakan ini jangan bicara atau bertanya yang aneh - aneh." Wanti Sasuke. Semua mengangguk.

Sasuke mencoba mengambil nafas dalam dan mengeluarkan dengan perlahan. Sasuke harus siap dengan kondisi apapun yang akan terjadi nantinya. Sasuke tahu resiko apa jika ia dan Naruto berpacaran. Ia sangat tahu. Tapi ia mencintai Naruto. Maka dari itu, Sasuke hanya berharap, walaupun keluarganya membencinya tapi setidaknya mereka tidak berusaha untuk memisahkan Sasuke dan Naruto.

"P-pacarku itu.. "

Semua menahan nafas atas kalimat apa yang Sasuke gantung di tengah - tengah. Mau Bagaimanapun mereka juga penasaran.

"Di-dia itu.. Laki - laki."

Akhirnya! Akhirnya Sasuke bisa mengatakan itu. Dan akhirnya juga Sasuke harus siap menerima semua hal buruk yang akan terjadi nanti. Melihat keluarganya yang sepertinya shock itu membuat Sasuke menahan nafasnya sekali lagi. Bagaimana ini?

"Siapa pacarmu?" Fugaku bertanya.

"Naruto." Bagai tersambar petir. Ternyata pacar Sasuke adalah sahabatnya sendiri. Mereka bertiga tidak bisa menyembunyikan keterkejutan di wajah mereka. Hanya rasa sakit di dada ketika tahu anak kalian abnormal dan merasa pusing ketika tahu adikmu berpacaran dengan orang yang kau cintai sejak lama.

Itachi membenci ini! Itachi membenci Sasuke! Ia membenci Sasuke!

"Sudah berapa lama hubunganmu dengan Naruto?" Fugaku berganti bertanya.

"Hampir 4 bulan." Jawab Sasuke.

Pandangan Itachi teralihkan dan hanya menatap meja kaca di hadapannya. Berhenti melirik adiknya. Berhenti menyemangati adiknya. Berhenti menyayangi adiknya. Berhenti mencintai adiknya. Berhenti memberikan cinta pada adiknya. Itachi berhenti untuk semuanya.

"Kalau begitu, bawa Naruto kemari dan kalian berdua jelaskan apa yang terjadi. Kau mau?" Mikoto dengan senyum—yang dipaksakan—manisnya berusaha mengerti anak bungsunya ini.

Sasuke mengangguk dan acara makan malam yang sangat menegangkan ini bubar. Sasuke tidak tahu keluarganya ini merestui hubungan mereka atau tidak. Tapi melihat kata - kata yang keluar dari Ibu dan Ayahnya ini, bisakah Sasuke berharap? .

.

.
Sasuke menceritakan semua yang terjadi semalam dirumahnya sedetil - detilnya. Naruto yang mendengarnya merasa kasihan sendiri. .

Besok Sasuke akan datang kerumah Naruto. Memperkenalkan pacar anaknya di hadapan orang tua Naruto. Setelah itu, malamnya Sasuke dan Naruto memutuskan untuk langsung datang kerumah Sasuke. Membuat semuanya jelas. Sebisa mungkin Naruto akan menjelaskan jika ia mencintai anak mereka. Uzumaki Naruto mencintai Uchiha Sasuke dan meminta restu dari mereka—keluarga Uchiha— semua.

Berbeda dengan keluarga Naruto yang menyambut hangat Sasuke, keluarga Sasuke justru seperti tidak menyukai kehadiran Naruto berhubungan dengan anak bungsunya.

Naruto tahu ini mustahil jika mereka langsung menyetujui hubungan mereka. Maka sebelum itu, Naruto menjelaskan pada Sasuke. Apapun yang terjadi, Sasuke harus percaya pada Naruto. Jika Naruto dan Sasuke dipisahkan, Sasuke harus percaya pada Naruto untuk selalu menunggunya.

Sasuke jelas saja mengangguk menyetujui perkataan Naruto. Karena bagaimanapun Sasuke tetap akan mencintai Naruto. Sasuke percaya pada Naruto. Dan Sasuke akan selalu menunggu Naruto.

Tiba saatnya yang—tidak—dinanti nantikan. Naruto berusaha menjelaskan semampunya agar perkataannya mudah dimengerti. Sasuke berusaha bersuara tapi ditahan oleh Naruto. Naruto bilang agar ia saja yang menjelasknya. Sasuke mengangguk dan menyerahkan semuanya pada Naruto.

Semuanya berjalan dengan lambat dan udara di sekitar semakin memberat. Keringat dingin menguncur di pelipis Naruto. Perdebatan kecil sempat terjadi, membuat Sasuke khawatir. Tapi Naruto tidak tersulut dan mencoba bicara sebaik - baiknya di hadapan orang tua Sasuke.

Perlu di perjelas, jika dihadapan mereka hanya ada orang tua Sasuke. Itachi? Tidak ada yang tahu. Membuat Sasuke sempat khawatir juga jika kakaknya ini malah membencinya. Karena sejak makan malam itu Itachi hanya diam dan tidak mengeluarkan suara apapun.

"Sasuke, apa kau yakin?" Suara berat Fugaku membuyarkan lamunan Sasuke.

"Tentu saja aku yakin, Ayah!"

Fugaku mendesah pasrah jika tekad masa muda anaknya itu sekeras baja. Ucapan mutlaknya pun akan digubrisnya.

"Baiklah jika begitu. Melihat keteguhan hati kalian aku tidak bisa berkata tidak." Fugaku dan Mikoto tersenyum melihat pasangan dihadapannya ini sumringan dan membungkukan badannya 90°. Tidak sia - sia perjuangan kata - kata Naruto. Mereka akhirnya di restui. Melupakan seorang pemuda 23 tahun dibalik pintu masuk yang mendengar semua percakapan itu.

Mendengar orang yang disukainya itu sangat keukeuh mempertahankan adiknya dan mengatakan jika ia sangat mencintai adiknya itu malah membuat Itachi makin membenci adiknya. Sasuke.

Itachi membenci Sasuke!

Harusnya, Ia dan Naruto lah yang saat ini berhadapan dengan kedua orangtunya, memperjelas hubungan mereka dan meminta restu pada orangtuanya. Bukan Sasuke.

Itachi masuk kerumah tanpa mengucapkan salam terlebih dahulu. Melihat senyum bahagia Sasuke malah membuat Itachi muak. Melihat kakaknya yang baru saja datang membuat Sasuke ingin memberitahu jika ia dan Naruto telah direstui.

"Kak—"

"Menjijikkan!"

Mendengar kata yang keluar dari mulut Itachi membuat Sasuke shock setengah mati. Jadi Itachi benar - benar tidak menyetujui ini.

Naruto menghampiri Itachi dan menepuk pundaknya. Setelah itu membuat semua manusia yang berada di sana—kecuali Itachi—menahan nafasnya. Naruto merasa ada sekitar seribu kupu - kupu terbang di atas kepalanya. Karena ia baru saja mendapatkan bogem mentah di pelipisnya. Membuat penglihatan Naruto buram dan sangat pusing.

"APA YANG KAU LAKUKAN?" Jerit Sasuke menghampiri Naruto yang berusaha bangkit dari jatuhnya.

"Pergi kau, mahluk menjijikkan!" Tatapan tajam Iatchi tertuju pada Sasuke. Ya, Sasuke! Sasuke sendiri terkejut ketika mendapati tatapan super tajam dari kakaknya ini. Membuat semuanya tampak jelas. Jika Itachi membenci Sasuke. Memikirkan itu, dada Sasuke terasa sesak, karena ia pikir orang yang paling mendukung hubungannya adalah kakaknya. Ternyata ia salah besar.

Setelah ini, mungkin ini adalah jalan terberat yang pernah Sasuke jalani. .

.

Sasuke jelas tahu apa yang salah dari Itachi. Mungkin saja Itachi sangat jijik dengan mempunyai adik yang tidak normal.

Jarang bicara. Jarang menyapa. Itulah yang Itachi lakukan pada Sasuke setiap hari. Sudah Sasuke lakukan apapun untuk membuat Itachi berbicara kepadanya lagi. Mau bagaimanapun Itachi adalah kakak kesayangan Sasuke. Sasuke mendesah memikirkan itu semua.

Sasuke dan Naruto saat ini tengah berada di kantin—yang sumpeknya luar biasa—sekolah. Beruntung mereka berhasil mendapatkan meja. Tapi walau meja di kantin sudah penuh pun akan ada beberapa wanita—yang menjabat sebagai fans dari mereka—dengan senang hati memberikan meja kepada idolanya itu.

Naruto yang melihat Sasuke hanya mengaduk - adukan omurice didepannya itu dengan wajah datarnya tapi masih bisa dibaca oleh Naruto yang tengah murung itu hanya bisa mengangkat sebelah alisnya heran. Ada apa dengan Sasuke?

"Kau sakit, Sasuke?" Tanya Naruto sambil mengambil sendok yang berada di tangan Sasuke dan menaruhnya dipiring—menghentikan perbuatan Sasuke yang hanya memainkan makanannya.

"Aku tidak apa - apa. Hanya saja.. Itachi sepertinya makin benci saja padaku. Ia tidak menegurku sama sekali. Bahkan ia tidak membalas sapaanku." Sasuke menghela nafasnya dan mulai menyendok kembali omurice yang tadi sempat terabaikan.

Naruto jelas tahu bagaimana perasaan Sasuke. Dia memang tidak punya saudara, tapi jika kau dicuekin oleh seseorang yang kau sayang—apalagi jika itu masih keluargamu—akan membuat perasaan jadi resah gundah gulana seperti yang Sasuke alami saat ini. Naruto juga tahu apa yang membuat Itachi begini.

"Aku akan memikirkan cara supaya.. " Naruto memotong kalimatnya dan mendekatkan wajahnya kepada Sasuke. "..ia merestui kita." Lanjut Naruto dengan suara berbisik. Sasuke mengangguk dan melanjutkan acara makan mereka dan mengobrol dengan mengganti topik yang lebih ringan.

Sasuke percaya pada Naruto. .

.

Tsuzuku

Review?