Betrayal

Disclaimer : Naruto Selalu menjadi milik Masashi Kishimoto, Saya hanya memiliki plot cerita dalam fanfict ini saja.

Warning : Gaje, abal, OOC, Typo dan Miss Typo seperti biasa nya mereka masih enggan meninggalkan saya sendirian.

H&G Boutique, Tokyo Japan

Two month later ….

Sakura menggeleng pelan melihat hasil karyanya. Lagi-lagi ada yang kurang. Wanita merah jambu itu merobek kertas sketh booknya lalu membuangnya ke tempat sampah. Sakura menghela nafasnya, ini sudah yang kedua puluh kalinya dalam dua jam hari ini ia merobek kertas sketh booknya dan merasa tidak puas dengan hasil designya.

Ia menyandarkan tubuhnya, melirik melalui sekat tembok kaca keruangan Hana. Hana sedang ada diruangannya dengan salah satu keluarga bangsawan Jepang untuk mendesign gaun pengantinnya. Wanita itu benar-benar sibuk beberapa minggu ini dan hal itu membuat gadis merah jambu ini frustasi. Ia melihat kalender yang tergantung di dinding kantornya, tinggal dua bulan lagi dan dia mengalami kebuntuan inspirasi. Ia perlu seseorang untuk bicara tapi Hana terlalu sibuk dengan clientnya, Ibunya sedang sibuk dengan bisnis Wedding Organizer yang ia buka satu bulan yang lalu dengan bantuan Mikoto. Hinata ? well, Sakura sudah satu setengah bulan ini tidak bertemu dengannya. Bukannya ia menghindar atau tidak mau bertemu dengan wanita indigo itu, Sakura hanya terlalu sibuk dengan persiapan debut pertama fashionlinenya sebagai designer professional.

Sakura menghela nafasnya melirik kesal tanggal-tanggal yang telah ia dan Hana lingkari bersamaan diatas kalendernya. Ia berdiri dari tempat duduknya, melirik kearah papan hitam yang berisi rangkaian designnya yang sedang dalam proses pembuatan. Entah kenapa rasanya mendesign pakain utama dalam debutnya adalah hal yang luar biasa sulit. Ia butuh setidak nya satu orang untuk berbicara tapi bahkan belakangan ini Sasuke sangat sibuk dengan pekerjaannya sebagai seorang arsitek dan kontraktor muda. Sakura juga harus bergelut dengan kuliahnya. Rasanya ingin mati saja.

Sakura menoleh kearah pintu ketika pintu ganda kaca itu didorong terbuka dan menampilkan sosok sempurna Sasuke disana. Surai ravennya berantakan seperti biasa, ia sudah melepas jas dan dasinya, hanya menyisakan vest kelabu dan kemeja hitam yang sudah di gulung kedua lengannya sampai sikunya. Kami-sama benar-benar berbaik hati padanya hari ini. Sasuke berjalan medekat, menangkup wajah mungilnya dengan kedua tangan besarnya dan mencium bibirnya singkat. Ritual wajibnya sepulang kerja selain menjemput Sakura.

"Hari mu membosankan?" Dan pria ini selalu tahu apa yang ia rasakan seharian.

"Sangat, aku benar-benar hampir gila." Sasuke terkekeh geli mendengar penuturannya, pria itu melempar jas dan tas kantornya keatas sofa di tengah ruang kerja Sakura dan mendekap gadis merah jambu itu dari belakang,

"Aku punya ide bagus." Sakura memutar bola matanya,

"Aku tidak tertarik pergi ke bar atau restaurant mahal Sasuke, pekerjaanku menumpuk belum lagi tugas akhir untuk semester ini hampir mendekati deadlinenya." Sasuke tersenyum samar sebelum menenggelamkan wajahnya ke perpotongan leher Sakura sementara gadis merah jambunya itu masih sibuk memikirkan design berikutnya.

"Sasuke…" Sasuke melepaskan pelukannya saat Sakura mulai merasa kurang nyaman, pria itu berjalan menjauh meraih gelas Kristal diatas meja sakura dan menuangkan wine kedalamnya,

"Kau membuang banyak kertas hari ini." Sakura menghampiri pria itu mengalungkan kedua lengannya keleher bungsu Uchiha itu dan mengangguk,

"Tinggal dua bulan lagi dan aku belum berhasil menemukan ide untuk design utamanya. Aku benar-benar buntu." Sasuke ikut-ikutan melirik tanggal yang sudah dilingkari kakak ipar dan kekasihnya itu,

"Auntum?" Sakura mengangguk, Sasuke berjalan mendekati tong sampah yang penuh dengan kertas sketh book Sakura dan meraih satu kertas yang tercecer, ia membukanya dan menunjukkannya kearah Sakura,

"aku tahu, buruk sekali kan? Jauh di bawah standarku yang biasanya." Sasuke tidak menggubris dan malah membuang kertas itu,

"Sakura, kau hanya perlu jadi dirimu sendiri, Sayang. Kenapa Hana-nee sekarang mempercayakan posisi Guilliana padamu untuk membantunya mendesign pakaian clientnya? karena dia percaya pada kemampuanmu. Dia melihat cirikhas dalam semua designmu. Tapi, aku tahu dengan pasti kalau, hampir seluruh isi tempat sampah itu bukan dirimu." Sakura terdiam, bukan dirinya? Sakura memandang lantai berlapis karpet beludru itu sesaat sebelum lamunanya buyar akibat ulah Hana.

"errr, maaf mengganggu tapi kita punya janji makan malam dengan okaa-san dan otou-san." Sakura menepuk dahi lebarnya, sialan dia lupa malam ini adalah hari ulangtahun pernikahan Mikoto dan Fugaku.

"Sial!" Sasuke menatapnya bingung,

"Apa?" pria tampan yang sudah selama dua bulan ini menjabat sebagai kekasihnya itu menatapnya bingung,

"Aku belum membeli kado apapun untuk Otou-san dan Okaa-san." Sasuke tersenyum geli begitu juga Hana,

"Sakura, kau tidak perlu membeli apapun." Sakura mendengus kesal,

"tidak bisa begitu. Sasuke, kita harus cepat." Sakura meraih tas tangan dan matelnya lalu menarik Sasuke yang jusrtu menarik kembali lengan mungilnya dan mendekapnya, Hana hanya tertawa geli melihat tingkah mereka.

"Kalau begitu aku duluan, aku dan Itachi harus membeli kue dan kado untuk mereka, Keiko sudah ada disana. Kalian juga menyusul ya, usahakan jangan terlalu lama." Setelah berkata demikian, Hana meninggalkan mereka.

"Sasuke, lepaskan aku! acara makan malamnya satu jam lagi." Sasuke tidak bergerak sedikitpun, pria itu masih memenjarakan gadis Haruno itu didalam pelukkannya,

"Kau lupa passwordnya, sayang." Sakura menggembungkan pipinya, Sasuke menahan tawa gelinya. Wanita itu menghela nafasnya sebentar sebelum mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Sasukenya.

"Aku sangat, sangat, sangat mencintaimu Sasuke Uchiha. Bisakah kita pergi sekarang?" Sasuke tersenyum geli lalu melepaskan pelukannya, pria Uchiha itu meraih jas dan tas kantornya sebelum merangkul pinggang ramping Sakura dan berjalan keluar dari boutique,

"Apa okaa-san akan ikut?" Sasuke melirik Sakura,

"Tidak, ibuku harus bertemu dengan clientnya di Osaka untuk acara minggu depan, dia dan Mikoto Kaa-san benar-benar sibuk akhir-akhir ini." Sasuke terkekeh geli, tangannya menyentuh layar ponselnya dan suara merdu Franz Sinatra mengalun menemani mereka di sepanjang jalan,

"Lihatlah point plusnya, Sayang. Setidaknya Okaa-san jauh lebih bahagia dan kesehatannya semakin membaik. Itu bagus bukan?" Sakura mengangguk setuju dengan pendapat Sasuke,

"Sakura, kau ingin membeli hadiah untuk orangtua ku dimana?" Sakura menaikkan sebelah alisnya, ia memandang ke kanan dan kiri deretan toko di sekitar kota Tokyo sebelum akhirnya meminta sasuke berhenti di depan toko yang menarik perhatiannya.

"Mini sculpture ?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya,

"Hm, kenapa? Bukankah itu lucu dan tidak biasa. Memang harganya tidak mahal tapi karya seni selalu punya makna." Sasuke tersenyum, lagi-lagi gadis merah jambu itu berhasil menyihirnya dan membuatnya terpesona dengan ke sederhanaannya,

"Aku akan mencari hadiahku disini dan kau bisa mencari hadiahmu di tempat lain." Ujar Sakura sebelum turun dari mobil namun Sasuke menahannya

"Kita membelinya berdua. Tidak ada hadiah darimu atau dariku, yang ada hanya hadiah dari kita." Ujarnya, Sakura terdiam

"Sasuke, Kita belum menikah. Aku lebih nyaman seperti itu lagi pula…"

"Sakura, aku tidak tahu apa yang ada didalam benakmu tapi percayalah padaku cepat atau lambat aku pasti akan menjadikan mu sebagai Nyonya Uchiha. Dan jangan kau fikir aku tidak tahu kalau pihak kampus sudah menawari mu untuk lulus lebih awal." Sakura membulatkan matanya,

"Bagaimana…." Sasuke terkekeh geli, ia mendekat dan mengecup puncak kepalanya,

"Aku hanya tahu saja. Ayo cepat, kita harus membelinya sekarang sebelum terlambat. Mereka pasti sudah menunggu di restaurant." Sakura masih mematung di bangku penumpang sampai Sasuke membuka pintu di sebelahnya dan mengulurkan tangannya untuk membantunya keluar dari sana.

Sasuke menggenggam tangan kekasihnya itu dan setelah menekan tombol kunci otomatis mobil sportnya ia melangkah menyusuri dua toko sebelum akhirnya masuk kedalam toko yang dimaksud Sakura tadi. Sakura hanya bisa mengamati Sasuke yang dengan serius memilih hadiah untuk kedua orangtuanya, ia hanya menjawab sesekali jika Sasuke menanyakan pendapatnya. Kalimat pria itu, apa dia berencana untuk melangkah ke sesuatu yang lebih serius?

Sakura tak ingin berharap, ia tahu Sasuke bukan seseorang yang akan melangkah dengan cepat. Tapi mungkin kalimat pria itu bisa saja sebagai pertanda dan mungkin juga hanya sekedar angin lalu saja. Sakura tak mau berharap dan dia hanya memilih untuk menjalani hubungan mereka apa adanya. Mengikuti alur sang waktu yang entah akan membawa mereka ke akhir yang mana. Akhir yang bahagia atau yang sebaliknya?

Paris Prancis, NOX Corporation

Pria bersurai coklat panjang itu masih duduk dengan tenang. Sebelah tangannya memegang gelas Kristal berisi vodka dan sepasang iris lavendernya masih memandang lurus kearah pria bersurai kelabu dihadapannya, Billius Mark. Suami dari sahabat Hana Uchiha itu tengah membaca proposal yang diajukannya dengan serius, dahinya berkerut lalu menggeleng pelan. Penawarannya terkesan tak masuk akal. Bill tahu track record perushaan Hyuga sejak lama, beberapa rekan bisnisnya sudah memperingatkannya tentang ini.

"Aku tidak bisa memberikan jawabannya sekarang, Mr. Hyuga." Neji berdecih pelan, ia tahu Bill adalah pria yang cerdas.

"Apa kau meragukan sesuatu, Mr. Mark?" Bill terdiam, ia meletakkan proposal yang di tawarkan Neji Hyuga keatas Coffee table di hadapannya dan mendorongnya mendekat,

"Ini adalah proyek pemerintah Prancis, sistem kami berbeda dengan Jepang. Lagi pula, melihat Track Record mu dan keluarga mu dalam berbisnis aku meragukannya." Bill meraih gelas kristalnya dan menegak Vodkanya.

"Aku tahu kau sudah bekerja sama dengan Itachi Uchiha untuk mengerjakan proyek ini. Percaya padaku, Mr. Mark perushaan kami lebih menjanjikan dari pada Uchiha Corp." Bill tahu pria dihadapannya adalah seorang pembual.

"Jika anda sudah tahu aku memiliki rekan bisnis sebaik Itachi Uchiha dan sudah setuju untuk bekerja sama dengannya maka, seharusnya anda tidak perlu repot-repot untuk datang dan mengajukan proposal ini kepadaku, Hyuga Neji."

"Karena aku percaya aku bisa memberikan peluang yang lebih baik untuk perkembangan perusahaan mu dari pada yang Itachi janjikan, Bill." Bill menghela nafasnya, ia berdiri dari tempat duduknya dan melirik alrojinya,

"Peraturannya sudah jelas Hyuga, kau ingin mendapatkan proyeknya ikuti tendernya. Jika kita tidak bisa bekerja sama untuk mendapatkan tender pemerintah ini, aku rasa banyak pengusaha di negara ini yang mau bekerja sama dengan mu untuk memenangkan tender ini. Aku masih ada beberpa pertemuan yang harus ku lakukan, selamat siang." Usai berbicara demikian dengan di dampingi oleh asisten dan sekretarisnya, Billius Mark keluar dari ruangannya dan menuju ruang rapat berikutnya meninggalkan Neji sendirian disana.

Ia benci dikalahkan, terlebih lagi jika orang itu adalah Uchiha Itachi. Neji meraih ponselnya, menekan tombol panggilan cepat pada layar ponselnya sebelum panggilan terhubung ke orang lain yang berada diseberang sana.

"Tayuya, aku ingin kau cari tahu segala sesuatunya tentang Billius Mark. Laporkan padaku secepatnya." Bill sudah menggali lubang kuburnya sendiri, itu adalah satu-satunya hal yang Neji tahu. Setelah menutup telfonnya, sulung Hyuga itu keluar dari ruangan kerja Bill dan meninggalkan gedung pencakar langit itu menuju ke hotel tempatnya menginap.

Hinata's Apartement, Tokyo Japan

Debut ya? Hinata melihat selebaran pamphlet yang baru saja di berikan Shion kepadanya pagi ini saat mereka makan siang di kampus. Sakura sudah jarang makan siang dengan mereka, jangan tanya kenapa, Sasuke selalu menjemputnya untuk makan siang bersama dan mengantarnya ke boutique milik Hana untuk bekerja, lalu malamnya bungsu Uchiha itu akan menjemputnya lagi untuk mengantarnya pulang kerumah.

Pria itu memperlakukan sahabat merah jambunya layaknya seorang putri, ia tahu benar itu dan tidak hanya sampai disitu, Sasuke juga benar-benar jatuh cinta pada sahabat masa kecilnya itu. Hinata masih mematung dan mengamati selebaran phamplet itu sementara Shion sudah kembali dari counter pemesanan dengan sebuah nampan berisi dua gelas tinggi caramel machiatto dan dua porsi steak fillet minon kesukaan mereka. Wanita pirang itu meletakkan nampan diatas meja dan Hinata meraih makan siangnya.

"Naruto benar-benar menyebalkan, akhir-akhir ini dia jarang sekali menjemputku atau menghabiskan akhir pekan bersama. Kadang-kadang aku bertanya-tanya kenapa dia tidak bisa bersikap manis padaku seperti Sasuke yang selalu bersikap manis pada Sakura." Hinata menghentikan gerakan pisau dan garpunya lalu melirik wanita pirang itu sebentar,

"Setidaknya dia sudah melamarmu dan pertunangan kalian akan dilakukan dalam kurun waktu tiga bulan kedepan, lihat lah sisi positifnya." Shion menghela nafasnya,

"Kau dan Kiba, apa kalian belum membuat kemajuan sama sekali?" Hinata menaikkan kedua bahunya, jelas sekali kekasih nya itu lebih peduli dengan hal menumpas tindakan kriminal dari pada melanjutkan bisnis perusahaan ayahnya. Kekasih ya? Begitukah selama ini Hinata memperlakukan bungsu Inuzuka itu?

"Belum. Kau tahu dia akan melanjutkan S2 nya di Amerika dan akan segera bergabung dengan FBI bulan depan dan aku, aku sedang fokus dengan tugas akhir ku dan mencoba mendesign pakaian seperti ibuku." Shion menggeleng pelan,

"Kalian berdua benar-benar keterlaluan, aku bertaruh Sasuke dan Sakura yang akan bertunangan dan menikah terlebih dahulu." Ya, dan jika itu terjadi dunia nya akan hancur untuk yang kedua kalinya, Hinata memainkan garpunya menusuk-nusuk steak dan kentang tumbuk di hadapannya, melihatnya tanpa minat. Bahkan ketika Sasuke menemuinya malam itu setelah debut awal Sakura diatas Catwalk dan memberinya pengertian kalau cinta nya bertepuk sebelah tangan di detik itu juga Hinata yang lama sudah mati.

"Kau akan datang?" Shion bukanlah seseorang yang peka terhadap perasaan orang disekitarnya, Naruto dan Sakura suka mengeluh tentang itu dan Hinata justru bersyukur karenanya. Wanita Indigo itu mengalihkan pandanganya dari steak dan kentang tumbuk diatas piringnya kearah phamplet yang mempromosikan debut Sakura dua bulan lagi.

"Aku tidak tahu." Shion memutar bola matanya bosan, wanita pirang itu kembali memotong fillet minonnya sebelum memasukkannya kedalam mulutnya.

"Ayolah Hinata, kau sudah tidak datang di debut awal Sakura menjadi seorang model dua bulan yang lalu, jangan bilang kau tidak akan datang juga untuk kali ini. Ini yang diimpikan Sakura, ini juga yang kita bantu dia untuk perjuangkan. Kau tidak akan mau menyianyiakan kesempatan itu kan?" Hinata terdiam, di dalam benaknya tersusun seribu satu cara untuk membuat Sakura menyesal karena sudah merebut Sasuke dari nya. Wajah cantiknya terlihat datar, kedua tangannya masih fokus memotong steak dan menyuapkannya kedalam mulutnya, dia terlihat sesekali menimbang-nimbang pemikirannya, bukan tentang apa yang di tanyakan Shion padanya melainkan memilah-milah cara apa yang bisa ia lakukan untuk membuat Sakura menyesal dan mundur secara perlahan.

"Hinata!" Ia tersentak, sepasang iris lavendernya bertemu dengan safir milik kekasih Namikaze Naruto itu, Hinata tersenyum samar, benar. Dia benar-benar wanita yang cerdas.

"baiklah, ini karena aku juga merindukan Sakura." Merindukan untuk melihatnya kembali menderita. Hinata merogoh handbag Michael kors berwarna hitam miliknya, merogoh kedalamnya dan meraih ponselnya,

"Omoi, aku butuh bantuan. Cari tahu dan selidiki tingkat keamanan gedung Uchiha Convention Centre di ruang panel dan security, beri tahu aku secepatnya." Ia tahu apa yang ia lakukan cukup beresiko tapi, sebuah hasil tidak akan pernah mengkhiatani usaha bukan? Semakin besar usaha yang ia lakukan semakin baik hasil yang ia dapatkan. Hinata meletakkan kembali ponselnya, meraih gelas tinggi berisi caramel machiatto kesukaannya, menyeruput pelan dan kembali menyantap makan siangnya. Sakura Haruno, terkadang kau harus benar-benar berhati-hati dengan orang-orang disekitarmu.

Da Bertino Italian Restaurant, Tokyo Japan

Sakura benar-benar seperti masuk ke ruang yang salah. Ia seharusnya meminta Sasuke mengantarnya pulang terlebih dahulu untuk bersiap-siap terlebih dahulu dan berganti pakaian yang layak dari pada pakaian kantor yang sedang ia gunakan hari ini. Jump suit berwarna hitam putih tak berlengan dan surai merah jambunya yang di cepol kebelakang itu membuatnya terlihat mengerikan.

"Kau terlihat sangat cantik. Relax ok?" Sakura mendengus mendengar penuturan bungsu Uchiha itu, wanita itu mengalungkan lengannya ke lengan kekar Sasuke saat mereka memasuki restaurant Italia termewah di Jepang itu. Seperti biasa, wanita Uchiha senior itu memiliki selera yang luar biasa bahkan dalam urusan makanan,

"Sakura…" Ia kembali tersadar dari lamunannya, Sasuke sudah menyerahkan mantelnya kepada pelayan yang menyambut mereka, Sakura melepaskan mantelnya dan membiarkan pelayan yang sama menyimpannya sementara Sasuke sudah memeluk pinggang rampingnya, pria ini mulai bersikap protektif sekali lagi padanya.

"Aku tidak suka dengan cara pelayan itu melihat mu." Ia berbisik pelan saat mereka menyusuri deretan meja-meja dan orang-orang yang sedang menikmati makan malam mereka,

"Kau berlebihan, kau tahu setampan apapun mereka aku tidak akan tergiur." Sasuke terkekeh pelan, pria itu membuka pintu sebuah ruang VIP yang sudah di pesan kedua orangtuanya dna membiarkan Sakura masuk terlebih dahulu kedalam.

Hana, Itachi dan bayi mereka Keiko sudah ada disana bersama Fugaku dan Mikoto. Wanita Uchiha senior itu berdiri dari tempat duduknya dan menyambut mereka, Mikoto memeluknya dan mengucapkan selamat datang, begitu juga dengan Fugaku dan Itachi.

"Okaa-san, Otou-san aku sudah berusaa menghentikan Sakura untuk membeli hadiah ulang tahun pernikahan kalian tapi wanita ini tidak mau mendengarkan." Ini, hadiah dari kami.

"Oh… ini indah sekali, terimakasih sayang." Mikoto tersenyum kearahnya ketika membuka kotak berisi Mini Sclupture pasangan yang memakai kimono itu.

"Tidak,Okaa-san itu bukan wine mahal seperti hadiah dari Itachi-nii dan Hana-nee. Itu hanya sebuah patung pahatan biasa." Mikoto tersenyum dan menggeleng pelan,

"Kau memiliki kesedarhaan yang luar biasa seperti ibumu. Mebuki adalah penggemar Mini Sclupture seperti ini, saat kami masih duduk di bangku SMA ibumu sering membuat patung-patung kecil ini untuk hadiah ulang tahun ku.

Patung ini mungkin tidak semahal anggur yang diberikan Itachi dan Hana, sayang. Tapi sebuah karya seni selalu memiliki makna yang mandalam dan lebih mahal dari apapun juga." Sebuah karya seni memiliki makna mendalam dan lebih mahal dari apapun juga? Itu dia, kenapa dia tidak terfikirkan hal itu saat ia masih di kantor dan berkutat dengan kertas-kertas sketh book sialannya?

"Terimakasih Sakura, kau membuat keluarga kami terkejut sekali lagi." Fugaku mengangkat gelasnya dan menyesap winenya.

"Sasuke, bagaimana proyek di Osaka?" Sasuke menyandarkan tubuhnya, dan untuk pertama kalinya dalam minggu ini Sakura bisa melihat kekasihnya itu kelelahan.

"Ada sebuah oknum yang berusaha menyabotase pengerjaan proyeknya. Aku baru mengetahuinya hari ini saat terjun kelapangan, kualitas baja yang akan mereka gunakan tidak sesuai dengan design yang aku buat, batangnya terlalu langsing dan tingkat kelenturannya sangat tinggi. Terlalu beresiko untuk sebuah bangunan gedung.

Untunglah, Shizui-nii membantuku mencari siapa dalangnya. Kontraktor yang kita gunakan sepertinya orang baru. Aku tidak pernah melihat dia sebelumnya." Itachi menaikkan sebelah alisnya,

"Aku rasa kita tidak melakukan perekrutan pegawai baru sejauh ini. Mungkin saja dia berasal dari cabang di kota lain, apa yang kau lakukan padanya?" Sasuke menaikkan kedua bahunya,

"Aku meminta Shizui-nii menyelidiki tentang orang itu. aku rasa ada yang tidak beres dengannya, kalau itu benar aku rasa langkah terbaik adalah memecatnya tapi untuk mengatasi hal yang terjadi di Osaka aku sudah meminta Juugo untuk menggantikan orang itu sampai hasil penyelidikan Shizui-nii bisa kita dapatkan." Itachi dan Fugaku mengangguk paham dengan penjelasan Sasuke,

"Aku tidak paham kenapa banyak sekali orang yang mau bermain curang dalam berbisnis." Semuanya menoleh kearah Sakura termasuk Sasuke,

"Maksudku, aku punya kenangan buruk dengan hal seperti itu dan karena hal itu aku kehilangan ayahku. Tapi, ini bukan tentang aku malam ini kita lanjutkan saja pestanya." Yang lainnya tersenyum hambar, Sasuke masih belum berhenti memandangnya.

"Apa?" Sasuke menggeleng pelan,

"Aku hanya ingin memandangmu, bukankah aku sudah mengatakan kalau kau terlihat cantik malam ini?" Sakura tersenyum samar, wanita itu membiarkan Sasuke menggenggam tangannya.

"Sakura, aku dengar pengajuan skripsi mu sudah di terima?" Fugaku kembali membuka pembicaraan, Sakura meletatkkan gelas wine nya dan mengangguk,

"Ya, Fugaku-tousan mereka mengizinkan aku untuk mengajukannya lebih awal dan sekarang aku sedang dalam tahap awal pengerjaan." Fugaku mengangguk, Sakura mungkin terlihat seperti perpaduan dari kedua orangtuanya, tapi jelas ia memiliki otak cerdas ayahnya.

"Aku percaya ayahmu sangat bangga padamu saat ini. Ngomong-ngomong Sakura, bagaimana persiapan debutmu?" Kali ini giliran Mikoto yang membuka pembicaraan,

"Dia hampir gila." Sakura melotot mendengar jawaban spontan dari kekasihnya itu,

"bukan begitu… aku sedang dalam masa jenuh saja, jadi belum bisa menemukan design utamanya" Hana meletakkan anggurnya, ia memandang Sakura dengan pandangan bertanya,

"Kenapa tidak menghubungiku? Sakura, lalu apa gunanya kau memanggilku Nee-san!" Istri Itachi Uchiha itu kembali memutar manik kembarnya,

"Nee-san sedang sibuk sekali, aku takut mengganggu." Hana menghela nafasnya,

"Dengar, aku sudah berjanji akan membantumu. Aku akan lakukan itu, lain kali jangan sungkan untuk mengetuk pintu. Aku bisa menyisihkan satu atau dua jam untukmu." Sakura mengangguk

Sakura menyandarkan tubuhnya kesandaran kursinya, ia meraih gelas winenya dan menyesapnya, Sasuke, Itachi dan Fugaku sudah larut kembali dalam obrolan mereka begitu juga dengan Hana dan dirinya juga Mikoto dalam hatinya ia rindu akan hal ini, sudah lama sekali ia tidak merasakan makan malam seperti ini, makanan yang lezat, perbincangan antara orangtua dan anak mereka dan kehangatan luar biasa dari sebuah keluarga yang sudah lama ia rindukan.

Ayahnya. Tiba-tiba gambaran sosok sang ayah tersenyum kearahnya kembali menghampirinya. Seandainya, ya seandainya saja ayahnya bisa menungu sedikit lebih lama, mereka mungkin bisa merasakan kehangatan seperti ini sekali lagi. Rangkulan lengan besar Sasuke ke tubuhnya membuatnya tersadar, bungsu Uchiha itu menatap lurus kearah emeraldnya.

"Ada yang ingin kau bicarana berdua saja?" dan dia selalu tahu apa yang Sakura butuhkan, wanita merah jambu itu mengangguk. Sasuke mengerti, ia meninggalkan manik hijau emerald itu dan memandang ayah dan ibunya bergantian,

"Aku rasa Sakura butuh istirahat, kalau kalian tidak keberatan kami akan pulang duluan." Mikoto, wanita senior Uchiha itu tahu benar apa yang sedang dirasakan oleh putri tunggal sahabatnya itu. ia merindukan ayahnya, Mikoto tahu benar itu.

"Sasuke, aku rasa Sakura butuh teman malam ini." Sasuke mengangguk, senyum tipis ia sematkan diwajahnya untuk sang ibu.

"Kami duluan." Ia berdiri, merngalungkan lengannya di lekuk tubuh Sakura dan membungkuk memberi hormat kepada keluarga yang lain,

"Aku minta maaf harus pulang duluan Okaa-san, Otou-san." Fugaku hanya tersenyum samar dan Mikoto hanya tersenyum lembut seperti biasanya,

Sasuke menuntun Sakura keluar dari ruanga VIP yang di sewa orantuanya itu. membukakan pintu ganda kaca dan menggenggam erat tangan wanita merah jambunya itu. Sakura, kau harus tahu betapa beruntungnya dirimu mendapatkan Sasuke Uchiha disisimu.

La Cassa Hotel, Osaka Japan

Ia duduk termenung sendirian, keheningan malam masih menemaninya seperti biasa. Mebuki duduk diatas sofa empuk kamar hotel yang disewanya selama seminggu belakangan ini. Ia meraih ponselnya, foto terakhir yang diambil sehari sebelum suaminya meninggal menghiasi layar sentuh ponsel pintanya itu. Dia merindukannya, merindukan sentuhan dan cinta dari pria yang sudah selama lebih dari dua puluh tahun menemaninya dalam menjalani kehidupan rumah tangga mereka. Tepat di ulang tahun pernikahan mereka yang kedua puluh dan sebelum ulangtahun putri mereka yang ke sembilan belas Khiazi Haruno meninggalkannya.

Mebuki menyandarkan tubuhnya memandang wajah tersenyum terakhir suaminya yang menahan sakit diatas ranjang rumah sakit sehari sebelum ia meninggal. Ia terus meruntuki nasibnya, mengutuk takdir dan menyalahkan Tuhan karena merebut semua kesempurnaan dan kebahagiaan dalam keluarganya, menuntut kepada Tuhan untuk mengambil saja nyawanya dan mempertemukan ia dengan cinta dalam hidupnya tapi saat itu kata kata terakhir suaminya adalah alsan satu-satunya ia bertahan.

"Jaga Sakura untukku, setelah dia menemukan pria yang tepat baru saat itulah aku akan datang dan menjemputmu untuk ikut bersamaku. Jika aku membuat mu menderita di kehidupan kita yang sekarang, maka aku akan membuatmu kembali bahagia di kehidupan yang akan kita jumpai setelah kematian. Terimaksih, Mebuki."

Sakura sudah menemukan pangerannya. Ia bergumam setiap hari tentang hal itu, seakan-akan sang suami yang sudah berbeda alam dengannya itu akan mendengarnya.

"Sakura sudah menemukan Sasuke. Mereka terlihat serasi untuk bersama, ia juga bahagia. Lantas, bolehkah aku pergi sekarang untuk medapatkan kebahagiaanku juga?" wanita berusia akhir empat puluhan itu meraih amplop hasil laboratorium terakhir pemeriksaannya di Tokyo. Mebuki membukanya tersenyum pasrah dengan hasil yang tertulis.

"Aku akan segera menyusulmu, Khiazi-kun. Aku hanya meminta mu menunggu sedikit lebih lama lagi." Ia memejam kan matanya, membiarkan semilir angin Osaka yang bertiup menyapu surai keemasan miliknya yang sekarang sudah mulai memudar sinarnya itu. ia siap, kapanpun Tuhan akan memintanya pulang, bukankah tugasnya sudah selesai sekarang? Sakura sudah cukup kuat untuk berdiri diatas kedua kakinya sendiri, putri tunggalnya itu juga sudah menemukan kebahagiaannya, tapi benarkah begitu? Sesuatu yang entah apa itu kembali mengusik hatinya, ia tidak ingin pergi tapi kondisinya sudah tidak mungkin di perbaiki.

Kami sama, beri dia waktu sedikit lagi setidaknya sampai ia bisa memastikan tak ada bahaya apapun yang akan mengintai putrinya, hanya itu saja.

Sasuke's Penth House, Tokyo Japan

Ia sudah menanggalkan jumpsuit hitamnya dan menyelinap masuk kedalam gaun satin tidurnya. Surai merah jambunya menari bersama semilir angin yang menyapanya malam ini begitu ia membuka pintu geser kaca di kamar Sasuke. Pria itu menghampirinya, memeluknya dari belakang dan mengecup pundak telanjangnya yang terekspos dengan jelas.

"Kau baik-baik saja?" Sakura hanya mengangguk sebagai jawaban

"Kau tidak seperti biasanya, jelas sekali kau punya sesuatu di dalam kepalamu yang meminta untuk di keluarkan." Ujarnya, Sakura tersenyum

"Aku merindukan Otou-san itu saja." Sasuke memeluknya semakin erat, menyandarkan kepalanya di bahu mungilnya,

"Kalau begitu kau bisa menganggap ayahku sebagai ayahmu. Sakura aku percaya ayahmu sudah bahagia di sana." Sakura menghela nafasnya,

"Aku hanya takut. Aku tidak tahu siapa tapi aku takut kehilangan orang terdekatku, aku takut kehilangan ibu dan aku benar-benar takut kehilangan mu." Sakura sudah berbalik menatapnya, sasuke menghela nafasnya dan memeluk kekasihnya itu,

"Kau akan baik-baik saja, aku tidak akan kemana-mana. Aku akan selalu disini untukmu, melindungi mu, membuatmu bahagia. Aku akan pastikan juga kalau ibumu tidak akan kemana-mana. Aku janji." Sakura memandang sepasang irish onyx kekasihnya itu dan hanya ada kesunguhan disana. Ia menghambur memeluk Sasuke, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun pasca kematian ayahnya ia merasa ketakutan yang luar biasa akan kehilangan seseorang. Tuhan, Sakura mohon jangan sekali lagi.

TBC. Nahlohhhhh jeng jeng udah lama gak update berharap saya di maafkan. Seperti biasa urusan di RL selalu menghambat saya u,u maafkan. Btw,saya harap kalian puassama chapter hari ini. See you in other fict and next chapter yaaa.

Jangan lupa RNR Minaaa, arigatouuuu

Aphrodite girl 13