Betrayal

Disclaimer : Naruto Selalu menjadi milik Masashi Kishimoto, Saya hanya memiliki plot cerita dalam fanfict ini saja.

Warning : Gaje, abal, OOC, Typo dan Miss Typo seperti biasa nya mereka masih enggan meninggalkan saya sendirian.

H & G boutique, Tokyo Japan

Pukul sepuluh. Sakura melirik jam dinding di atas pintu ganda kantornya dan ponselnya bergantian. Sasuke tidak berehenti menghubunginya dan ini sudah yang kesepuluh kalinya dalam dua jam terakhir. Ia tidak merasa terganggu, bukan itu. tapi bisakah ia memiliki sedikit jarak untuk mengerjakan pekerjaannya? Terkadang semua perhatian yang di berikan Sasuke membuatnya sedikit kelelahan dan kehabisan ruang untuk menyimpannya tapi, dia Sasukenya kan? Pria yang mencintainya dan akan memastikan dia mendapatkan apa yang ia inginkan dan memastikan ia tidak akan di lukai oleh siapapun. Yeah, dia memang Sasuke Uchiha yang kelewat overprotective dan begitulah caranya mencintai wanita yang dicintainya.

"Sasuke… seseorang harus berkonsentrasi pada pekerjaannya." Ia bisa mendengar pria itu menghela nafasnya,

"Ini sudah pukul sepuluh malam Sakura, kau harus pulang." Sakura mengampit ponsel pintarnya diantara telinga dan bahunya, sementara kedua tangannya masih sibuk memasang beberapa detail pada gaunnya.

"Tidak bisa, setidaknya aku akan pulang dua jam lagi. Debutku tinggal dua minggu lagi dan kau tahu gaun yang sedang ku buat ini bukan gaun yang mudah. Dialah bintangnya." Sasuke menghela nafasnya, Sakura bisa mendengar itu dengan jelas.

"Kalau begitu dua jam lagi aku akan menjemputmu." Sakura menghentikan gerakkan tangannya, demi Tuhan, bisakah ia tidak memulai sebuah perdebatan konyol disaat Sakura sedang bekerja,

"Sasuke aku membawa mobilku." Ia mengambil alih ponselnya dengan tangan kirinya dan menyambar tuna sandwich dari dalam kantung subway diatas mejanya.

"dua jam lagi sudah tengah malam, kau tidak tahu apa yang akan terjadi pada seorang wanita yang mengemudi di tengah malam." Sakura menghela nafasnya,

"Sasuke, aku percaya kau juga belum pulang dari kantormu dan masih bekerja. Jika aku tidak salah dengar kau ada meeting dengan client mu besok pagi-pagi sekali. Kau lebih baik pulang dan beristirahat. Proyek milyaran dolarmu itu menunggu untuk kau menangkan. Kau mengerti?" Ia menggigit lagi tuna sandwich nya dan mengunyahnya,

"Bagaimana kau tahu jadwalku? Aku bahkan tidak mengatakannya padamu saat kita makan siang hari ini." Sakura tersenyum, wanita itu menelan gigitan terakhir tuna sandwich nya dan membuka kaleng minuman dr. Pepper lalu meneguknya, Junk food ala Amerika. Tidak ada yang terbaik dan tercepat untuk solusi makan malamnya,

"Karin dengan senang hati mengirimkan kopian jadwalmu setiap harinya ke emailku." Ujarnya santai, ia memasang headset bluetoothnya kali ini.

"Jadi, selama ini aku di mata-matai?" Sakura nyaris tergelak dengan pertanyaan kekasihnya itu tetapi mata dan tangannya masih sibuk memasang beberapa detail di gaunnya yang masih setengah jadi,

"kau bisa bilang begitu. Well, kau tidak bisa menyalahkan ku. Kau juga mendapat bocoran jadwalku dari Hana dan Kate, aku tahu mereka bersekongkol dengan mu untuk memata-matai ku." Gelak tawa Sasuke di seberang sana kembali membuat separuh beban pekerjaan dan rasa lelahnya menghilang,

"aku harus memastikan kau tidak melewatkan makan siang, makan malam dan sarapan mu, aku juga harus memastikan kau menemui professor pendamping mu agar skripsi sialan mu itu cepat selesai." Sakura tergelak mendengar umpatan kasar kekasihnya itu.

"semua itu sudah ku ceklis dalam daftar pekerjaan ku hari ini jadi, keberatan kalau ku tutup telfonnya sekarang? Kau harus mengizinkan aku berkonsentrasi atau aku akan terlambat pulang kerumah." Sasuke menghela nafasnya,

"Aku benci ketika aku harus kalah dan mengalah padamu. Baiklah tutup telfonnya, jangan pulang lebih dari tengah malam Sakura dan kalau kau terlalu lelah mengemudi kau harus menelfonku. Untuk yang satu ini aku serius." Sakura mengangguk dan tersenyum kecil,

"Aku akan menghubungimu, aku janji. Jangan terlalu banyak bekerja dan meminum kopi mu, perhatikan lambungmu dan jangan paksakan kalau kau sudah terlalu lelah. Aku mencintaimu." Ia bisa mendengar Sasuke tertawa rendah di seberang sana,

"Katakan itu pada dirimu sendiri, sayang. Aku menicintaimu juga. Besok ku jemput?" Sakura mengiyakan,

"Aku harus menservice Mazda ku. Sampaikan salamku untuk kedua orangtua mu." Sasuke mengiyakan dan menyampai kan salam untuk ibunya sebelum menutup telfonnya. Sakura melepas headset bluetoothnya dan meletakkan nya diatas meja kantornya dan mengantungi ponselnya. Wanita itu kembali menekuni detail pada gaun utamanya yang masih setengah jadi dan kembali fokus pada pekerjaannya. Ia memang mencintai Sasuke tapi, ia butuh kerja keras agar menjadi pantas untuk pria itu.

Ia masih mengamati bangunan boutique milik istri sulung Uchiha itu dari seberang jalan. Sudah jam sebelas, terakhir yang ia lihat keluar adalah Hana dan seorang pegawai Workshop yang menangani gaun-gaun rancangan milik Sakura. Semua pegawai boutique sudah pulang sejak pukul sembilan dan Hana adalah yang terakhir keluar tapi, sepertinya sahabat merah jambunya itu masih ada didalam sana. Masih terlalu asik mengerjakan pekerjaannya tanpa menyadari kalau seekor srigala betina kali ini sedang mengintainya seperti mengintai seekor mangsa.

Hinata mengeluarkan benda logam berklilauan dari dalam saku hoodienya, ia menekan sembuah tombol dan pisau lipat itu berdiri tegak mengancam. Ia tidak akan menyakiti siapapun, ia hanya kesini untuk menggagalkan mimpi sahabat merah jambunya itu dan membawanya kembali ke kenyataan kalau sebenarnya Sakura Haruno selalu berada dibawahnya dan bergantung padanya. Ia tidak boleh melebihi dirinya dalam hal apapun termasuk Sasuke. Tapi, bukankah wanita itu ada didalam? Bagaimana kalau ia gagal? Haruskah ia melenyapkannya juga? "Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milik ku kalau aku jadi kau." Ia menggeleng pelan, kalimat Neji kemarin seperti angina sejuk yang berusaha membujuk hatinya melampau batas yang telah ia tentukan sendiri. haruskah ia melakukan itu? "Hanya lakukan itu jika terpaksa Hinata, lakukan kalau dia menangkap basah dirimu. Lakukan hanya bila kau terpaksa." Ia mengingatkan dirinya sendiri.

Ia mengintai keadaan sekitar sekali lagi dari balik roda kemudi mobil Audi A3 merah cherry sewaan miliknya, setelah memastikan semuanya aman Hinata menutupi surai lavendenrya dengan penutup kepala Hoodie dan topi baseballnya dan menutupi wajahnya menggunakan masker dan kacamata hitam. Wanita itu menekan beberapa nomer pada ponselnya dan menghubungi seseorang,

"Omoi, sekarang." Ujarnya, ia turun dari dalam mobil dan menyebrangi jalan besar sebelum masuk kepekarangan boutique milik Hana dan membobol pintu depan sementara Omoi dan anak buahnya mengamankan dua orang security yang tengah bertugas dan mematikan CCTV diarea boutique.

Sakura menaikkan sebelah alisnya. Ada yang aneh, ia berani betaruh ia mendengar langkah kaki seseorang dan pintu depan boutique terbuka. Bell didekat pintu masuk selalu berbunyi jika ada orang masuk. Tapi siapa yang akan masuk kedalam boutique di jam segini? Ini sudah hampir tengah malam, para penjaga kah?

"Siapa?" Sakura memanggil dengan nada suara yang nyaris seperti berteriak, wanita itu meninggalkan pekerjaannya dan menyalakan lampu diruang Showroom dan sepanjang koridor diantara ruangannya dan Hana yang mengarah kepada ruang Workshop diujung koridor.

"Siapa disana?" wanita itu berjalan hati-hati kearah ruang workshop dan hanya membawa sebuah pemukul baseball yang di bawa Sasuke saat menjemputnya dua hari yang lalu dan tertinggal diruangannya, dalam hatinya ia bersyukur karena Sasuke meninggalkan benda itu diruangannya.

"Kate?" ia meneriakkan nama salah seorang penjahit yang bekerja untuk mereka,

"Kate kau kah itu?" tapi tak ada sahutan dari wanita berdarah Amerika itu, Sakura terus mendekat saat mendengar kegaduhan diruang wokshop dan berniat untuk melihat apa yang terjadi tapi, belum sampai wanita itu membuka pintu ruang workshop sesorang menbekap mulutnya dan menyeretnya masuk kedalam ruangan lain.

Dua pria berbadan besar dan seorang wanita yang wajahnya tertutup seutuhnya berdiri di hadapannya. Sakura mundur dan menabrak lemari pantry yang dingin. Kedua pria itu berjalan mendekat kearahnya dan si wanita memberi isyarat pada mereka untuk mengikatnya.

"Lepaskan Aku! Siapa kalian, apa yang kalian inginkan?" Sakura memberentok ketika kedua orang berbadan besar itu berusaha mengikat kedua tangan dan kakinya dengan tambang sementara seorang wanita yang di tutupi wajahnya itu hanya berdiri dan menonton pekerjaan kedua anak buahnya. Sakura tidak tinggal diam, ia mendang salah seorang dari dua pria berotot itu dan berusaha membuka wajah wanita itu tapi ketika ia akan berlari kearahnya seseorang menarik tubuhnya dan membenturkannya ke tembok. Sakura merasakan benda tumpul menghantap perutnya beberapa kali dan merasakan kedua kakinya di tendang sampai ia terjerembab ke bawah dan kepalanya membentur lantai pantry.

"Apa yang kalian inginkan?! Katakana padaku siapa kalian?!" Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, rasa sakit membakar seluruh tubuhnya, kemana para security itu, bukankah seharusnya mereka tahu jika ada penyusup yang masuk.

"Tidak ada yang akan bisa membantumu hari ini, Haruno. Seharusnya kau tahu kalau ini adalah akhir dari semua mimpimu. Jadi, kenapa kau tidak diam saja dan nikmati apa yang akan kami lakukan untuk membangunkan mu?" Suara itu. Sakura jelas kenal siapa pemilik suara itu tapi sekali lagi ia menyangkal, menolak fikiran negatif yang mulai menyusup kedalam benaknya akan salah satu nama dari sahabat terbaiknya yang belakangan ini sulit sekali ia temui.

"Siapa kau? Apa yang pernah kulakukan padamu sampai kau melakukan ini padaku?" ia bertanya suaranya lemah dan rasa sakit di kepala dan perut nya semakin mejadi jadi.

"aku lebih senang kau memecahkan teka-teki ini sendiri. kalian beruda awasi dia. Aku akan mengurus sisanya." Sisanya? Rasa takut kembali menghantamnya, mimpinya? Sisanya? Jangan-jangan wanita itu berusaha menyabotase acara debutnya. Entah bagaimana, begitu mengingat semua kerja kerasnya dan bantuan Hana juga ibunya dapat membuatnya mengabaikan rasa Sakit yang membakar di seluruh tubuhnya. Sakura mengambil pemukul baseball nya ketika kedua pria bertubuh kekar itu lengah dan berhasil memukul keduanya hingga jatuh terkapar, ia berusaha menghantam kepala wanita itu dengan pemukul baseballnya tapi wanita yang tak ia kenali itu bergerak lebih cepat dan menghujamkan pisau lipat tepat ke perutnya.

Wanita itu memekik kaget dan shock melihat darah keluar dari pisau yang masih tertancap di tubuh Sakura. Sementara wanita merah jambu itu terjatuh ke lantai pantry tepat setelah berhasil mencabut pisau itu dari tubuhnya. Darah, darah keluar deras dari lukanya dan Sakura berusaha untuk tetap terjaga sementara wanita tak di kenal itu kabur meninggalkan dirinya dan anak buahnya. Sakura ingin berusaha tetap terjaga, tapi rasa sakit luar biasa dari luka tusuk diperutnya dan banyak darah yang keluar membuat tubuhnya tak berdaya, kepalanya berdenyut sakit dan pandangannya berkunang-kunang dan di detik berikutnya ia tergeletak tak sadarkan diri.

*****
Dia membunuhnya. Hinata berlari gemetaran keluar dari dalam boutique dan nyaris jatuh menghantam aspal lapangan parkir jika saja Omoi tidak menahan berat tubuhnya. Pria bertubuh gelap itu menatapnya heran.

"Anda tidak apa-apa Hinata-sama?" Hinata memandang pria itu dengan panik, ia mengulurkan tangannya meminta sesuatu,

"Pematik api. Berikan aku pematik apinya, kau sudah menyiram seluruh bangunan denga bensin kan?" Omoi tanpa fikir panjang menyerahkan pematik api kepada Hinata, namun sesuatu dalam benaknya membuatnya menahan gerakan tangannya dan menarik kembali pematik api itu sebelum sampai kepada Hinata

"Dan dua orang anak buah saya?" Hinata menatap tajam kearahnya,

"Aku tidak peduli tentang dua orang dungu itu. kalau kau masih mau hidup berikan padaku alat itu sekarang!" Hinata merebut kasar pematik api dari tangan Omoi dan dengan cepat menyalakannya lalu melemparnya kearah pintu masuk, api dengan cepat menyambar dan melahap tempat itu.

"Kita pergi, ayo!" Hinata memberikan isyarat dan dengan cepat berlari menyebrangi jalan raya dan masuk kedalam mobil sewaannya lalu, dengan tergesa-gesa mengemudikannya mejauh dari lokasi kebakaran itu. Bodoh, ia seharusnya tidak perlu menusuk Sakura. ia tidak perlu melakukan itu, sekarang ia justru harus berususan dengan hal yang lebih besar. Mudah-mudahan saja, Sakura benar-benar lenyap dalam kebakaran itu jadi, ia tidak perlu repot-repot berurusan dengan polisi dan Sasuke tidak akan menyelidiki kasus ini lebih lanjut. Semoga saja sahabat merah jambunya itu tidak bertahan dan mati didalam sana, jika wanita itu masih hidup ia tidak punya pilihan lain selain membungkam polisi dan membeli mereka dengan uangnya dan dalam kasus itu hanya Neji yang bisa ia handalkan.

Uchiha Mansion, Tokyo Japan

Sasuke menggerutu kesal menatap layar ponselnya. Ia baru saja tiba dan ia tiba setengah jam lebih awal, Sakura seharusnya sudah tiba dirumah dan menghubunginya tapi, wanita merah jambu itu justru tak memberik kabar apa-apa padanya. Bahkan, ia tidak menjawab telfon darinya. Sasuke memberikan kunci mobilnya kepada seorang supir pribadi keluarganya dan membiarkannya memarkirkan mobilnya di garasi sementara ia masuk menyusuri lorong yang akan membawanya keruang keluarga.

"Apa?! Tidak mungkin, bagaimana bisa terjadi kebakaran? Aku yakin seratus persen seluruh pegawaiku sudah pulang sebelum jam 10. Well, kecuali Sakura dan security." Ia menaikkan sebelah alisnya, kebakara? Sakura? Sasuke menjatuhkan tas kerjanya di sofa dan memandang bertanya kakak ipar dan kakaknya yang memberi isyarat padanya untuk tetap diam.

"Apa petugas pemadam kebakaran sudah datang? Apa maksud mu mereka belum datang? Kau bilang ini sudah hampir setengah jam!" Setengah jam? Kebakaran di boutique Hana sudah berlangsung selama setengah jam dan Sakura juga belum menjawab telfonnya sejak tadi.

Sasuke terdiam tiba-tiba saja secara otomatis ia mengambil kembali ponsel dari saku celana kantornya dan menekan tombol panggilan cepat.

"Sasuke-kun?" Suara Mebuki Haruno yang terdengar serak menyapanya,

"Okaa-san aku ingin bertanya apa Sakura sudah tiba dirumah?" ia bisa mendengar kebingungan dalam suara Mebuki ketika menjawab pertanyaannya,

"Belum. Aku kira dia akan menginap di apartementmu." Jatungnya seperti berhenti berdetak. Bungsu Uchiha itu langsung berlari keluar dari rumahnya dan menyambar kunci mobil lain dan berlari kearah garasi.

"Sasuke tunggu dulu! Ada apa?" Itachi berlari mengejarnya

"Sakura, dia masih ada di dalam boutique. Ada sesuatu yang salah aku bisa merasakan itu. dia tidak menjawab telfonku dan ibunya bilang dia belum sampai di apartementnya." Irish onyx Itachi ikut melebar.

"Aku ikut denganmu." Sasuke mengangguk dan tanpa fikir panjang ia masuk dan duduk di bangku penumpang sementara Sasuke langsung menginjak pedal gas dan mengemudikan mobilnya ke boutique. Apapun yang terjadi Sakura, kau harus bertahan, kau tidak boleh mati, tidak sebelum Sasuke sendiri yang mendahuluimu.

Hyuga's Mansion, Tokyo Japan

Dia membunuhnya. Dia benar-benar membunuhnya. Hawa dingin menyambar tubuhnya begitu ia keluar dari dalam mobil sewaannya. Hinata menyerahkan kuncinya, mengisyaratkan kepada supirnya untuk mengembalikan mobil itu malam ini juga dan berjalan dengan kedua kakinya yang gemetaran masuk kedalam rumah. Kakinya lemas dan gemetaran, keringat dingin sebesar biji jagung terus bermunculan, wajahnya pucat dan kepalanya benar-benar pusing memikirkan hal-hal negative yang akan segera menemuinya.

"Aku membunuhnya. Dia sahabatku dan hanya karena masalah tolol aku membunuhnya!" Ia berkata entah kepada siapa, Hinata masuk kedalam kamar mandi tamu didekat dapur dan melepas mantel dan bergegas mencuci tangannya yang masih berwarna merah ternoda oleh darah Sakura.

"Aku seharusnya tidak perlu melakukan itu, mereka bilang aku hanya boleh melukainya dan membunuhnya jika terpaksa. Neji-nii bilang aku hanya boleh membunuhnya kalau aku benar-benar terpaksa. Hinata, dia bahkan tidak bermaksud membunuhmu!" Ia terisak, sementara sepasang irish lavendernya masih fokus membersihkan kedua tangannya dari darah Sakura yang sudah mulai mengering, ia membuka tutup botol sabun pencuci tangan dengan tidak sabaran dan menuangkan hampir seluruh isinya dan menggosok kasar tangannya tapi noda darah itu masih sulit untuk hilang,

"Brengsek! Kenapa tidak mau hilang juga! Arghhh!" Ia melempar botol sabun itu kearah kaca besar didepannya. Frustasi, Hinata masih berusaha membersihkan kedua tangannya dan menghentikan kegiatannya begitu melihat pantulan dirinya didepan cermin.

Lihatlah dia, begitu menyedihkan. Wajahnya pucat, sinar mata indahnya menunjukkan ketakutan yang luar biasa, surai lavendernya lepek dan basah karena keringat dingin yang masih belum berhenti keluar dari tubuhnya. Sakura bisa saja mati. Bagaimana kalau polisi bisa menemukan bukti yang dapat mengikatnya, bagaimana kalau polisi itu menemukan Omoi dan orang suruhannya itu buka mulut? Bagaimana jika sekalipun Neji membayar hakim, jaksa penuntut dan polisi untuk menutup kasus ini, Sasuke dan Itachi bisa membayar mereka lebih mahal dari pada Neji untuk melanjutkan kasus? Jika itu semua terjadi apa yang akan terjadi padanya? Habislah dia, dia tidak ingin membusuk dalam penjara. Dia tidak mau.

"Hinata?" Ia tersentak kaget dari lamunannya, ia berbalik menatap kakak iparnya dan sontak menyembunyikan tangannya yang belum bersih seutuhnya,

"Ada apa? Kau dari mana saja?" Tenten berjalan masuk kedalam kamar mandi menghampiri adik iparnya itu,

"Nee-san… ummm…. Aku … aku baru saja dari… dari… rumah… rumah Okaa-san." Tenten menatap curiga kearahnya, Sebelah alisnya terangkat curiga, tiba-tiba naluri kepolisiannya kembali bangkit.

"Kau tidak menyembunyikan sesuatu dariku kan?" Hinata menggeleng dengan cepat,

"Tenten, kau bisa kembali kekamar, biar Hinata aku yang urus." Wanita bersurai coklat itu berbalik dan mendapati suaminya yang masih menggunakan pakaian kantornya yang sedikit berantakan berdiri di depan pintu kamar mandi. Tubuh kekarnya bersandar pada palang pintu dan kedua tangannya terlipat di depan dadanya.

"tapi Neji…" Neji menatapnya dengan pandanga 'jangan protes', Tenten hanya memandang suaminya dan adik iparnya itu bergantian, ia tahu ada sesuatu yang salah tetapi ia terlalu lelah untuk memulai perdebatan sekali lagi dengan suaminya, seharian ini yang ia lakukan hanya beradu lidah dengannya.

"Kau tahu ayah kami melarang Hinata menemui Ibu. Aku akan urus adikku kau bisa kembali kekamar." Dan tanpa membuat Neji memintanya sekali lagi Tenten beranjak keluar dari kamar madi itu meninggalkan mereka, Neji berjalan mendekati adiknya yang kini sudah terduduk dengan seutuhnya dilantar kamar mandi, kedua tungkainya tertekuk dan ia menyembunyikan wajahnya dan mulai menangis. Neji menghela nafasnya.

"Hinata seorang Hyuga tidak akan pernah menangis." Ujarnya, Neji melepas jas kantornya dan menyampirkannya di tubuh adiknya

"Aku mengabaikan apa yang kau katakan tadi, aku membunuhnya Neji-nii aku menusuknya." Neji tersenyum kecut dan merangkul adiknya,

"Aku tahu, aku sudah bisa menduga kau akan segegabah itu. kau hanya berusaha melindungi dirimu, tidak ada yang salah dengan itu." Hinata semakin terisak,

"Dia nyaris membuka maskerku, aku takut dia akan melapor dan Sasuke akan semakin membenciku kalau dia tahu. Aku tidak bisa membiarkan Sasuke mundur satu langkah lagi lebih jauh dariku. Tapi aku membunuhnya, dia sahabatku dan aku membunuhnya! Ini semua salahku." Neji menghela nafasnya lagi, ia jelas tahu Hinata adalah gadis baik-baik, dialah yang membujuk gadis Hyuga itu jadi seperti ini, hanya untuk menghancurkan Itachi dan strategi bisnisnya dia memerlukan Hinata untuk berada diantara keluarga mereka, berada disamping Sasuke.

Tapi Sakura menghalanginya dan dia membenci seseorang yang menghalangi jalannya. Dengan menggunakan perasaan Hinata ia membuat adiknya sendiri melakukan hal itu. tentu ini bukan yang pertamakalinya untuk Neji, ia sudah belajar banyak cara dari ayahnya untuk melenyapkan batu penghalang yang mengganggu mereka tapi Hinata? Dia tidak pernah dibesarkan layaknya seorang Hyuga oleh ibu mereka.

"Hinata, kau tentu tahu semua hal yang kita inginkan selalu memiliki harga untuk di bayar. Anggap saja apa yang kau lakukan itu adalah harga yang pantas untuk mendapatkan apa yang kau inginkan. Kau harus menyingkirkan seseorang untuk mendapatkan seseorang, Hinata. Mulai sekarang dengarkan aku, kau tidak salah. Sakura yang salah karena dia merebut Sasuke darimu. Tidak ada Sahabat yang akan merebut seseorang yang dicintai sahabatnya.

Kau berhak bahagia dan untuk kebahagiaan mu kau harus membayar harga yang mahal, dan Sakuralah harga yang pantas. Kau paham?" Hinata mengangguk, Neji membelai pelan surai lavender adinya dan menenangkannya, ketika getaran di tubuh Hinata mereda, pria itu mengeluarkan sebuah tabung berisi kapsul berwarna biru dari dalam saku celana bahannya,

"Mandilah, bersihkan tubuhmu dengan air hangat setelah itu suruh pelayan untuk membuang pakaianmu dan membakarnya lalu minum ini dan tidur. Besok hari mu akan menjadi lebih baik." Hinata menerima tabung itu dan mengangguk, ia berjalan keluar dari dalam kamar mandi dengan gontai dan menaiki tangga perlahan sementara Neji berjalan kearah berlawanan menuju ruang kerjanya. Adiknya itu baru memulai sebuah masalah jadi dia harus menyelesaikannya.

"Kakuzu, aku butuh bantuanmu…." Dan didetik berikutnya pintu ruangan kedap suara itu tertutup.

H&G Boutique, Tokyo Japan

Sepasang onyxnya melebar. Tanpa fikir panjang pemuda raven itu berlari keluar dari dalam mobil Audi R8 navynya kearah kobaran api yang masih belum bisa di padamkan oleh pemadam kebakaran. Hampir setengah bangunan boutique milik Hana terbakar dan dua mobil pemadam kebakaran masih berusaha memadamkan api yang berkobar.

"Tuan, anda dilarang mendekat." Seorang petugas pemadam kebakaran berkata kepada Sasuke memintanya untuk mundur.

"Apakah ada korban?" Itachi muncul di belakangnya

"Menurut keterangan Security yang kami temukan terikat di post keamanan, seorang wanita bernama Haruno Sakura berada didalam. Dan kami sedang berusaha mengevakuasinya." Jantungnya berhenti berdetak, Sakura. Sakuranya berada didalam sana, di dalam bangunan yang terbakar itu dan petugas ini berkata dengan santainya jika mereka sedang berusaha mengeluarkannya dari sana, Sasuke tidak bisa menunggu. Ia bisa kehilangan wanita yang dicintainya itu kapan saja dan dia tidak siap, ia tidak akan pernah siap.

Tanpa fikir panjang dan mengabaikan percakapan sang kakak dan petugas, Sasuke berlari masuk menembus garis pengaman dan masuk kedalam bangunan. Ia mengabaikan teriakan dan umpatan sumpah serapah Itachi dan beberapa petugas pemadam kebakaran. Yang ada didalam benaknya sekarang adalah Sakura, wanita itu bisa saja terjebak dan tidak sadarkan diri dan petugas itu terlalu lambat, Sakuranya bisa mati kapan saja jika ia tidak cepat bertindak dan tidak. Dia tidak mengharapkan hal itu. Membayangkan dirinya berdiri di depan peti mati Sakura adalah hal yang paling tidak ingin ia bayangkan, lebih baik mati bersamanya dari pada harus melihat wanita yang dicintainya meregang nyawa.

"Sakura!" ia berteriak, asap hitam membuat pandangannya memudar dan dadanya sesak, nafasnya bahkan tak beraturan, bungsu Uchiha itu menendang pintu kaca ganda ruangan Sakura dan bergegas masuk kesana tapi pria itu tak bisa menemukan wanita merah jambunya itu disana.

"Sakura!" Ia berteriak lagi, ia baru saja akan berlari ketika balok kayu dari bagian atap terjatuh dan nyaris menimpa dirinya, sial. Sekarang ia terjebak dan harus mencari cara keluar,

"Sakura!" Sasuke terus memanggil nama wanita merah jambu itu sambil berusaha keluar dari dalam ruangan itu.

"Sakura, demi Tuhan dimana dirimu!" Pria itu berlari, namun berhenti dan terengah, asap tebal sialan, paru parunya benar-benar penuh sesak dan ia tidak bisa bernafas

"Sasuke-kun…" Ia mendengarnya, Sasuke berbalik dan sepasang onyxnya kembali melebar, Sakura tegeletak lemah dilantai pantry, dua orang bertubuh besar juga berada disekitarnya masih taksadarkan diri. Sasuke berlari kearahnya mengabaikan beberapa kali lengannya yang tanpa sengaja terkena api.

"Sakura kau berdarah." Wanita itu menggeleng pelan wajahnya pucat dan pakaiannya merah karena darah.

"ada tiga orang… mereka…" Sasuke menggeleng pelan,

"tidak, aku tidak mau membahas itu sekarang. Tetap buka matamu dan jangan pernah menutupnya, kau mengerti?" wanita itu mengangguk, Sasuke mengangkat tubuh Sakura dan bergegas untuk keluar, sampai ia terpaksa harus mengentikan langkahnya lagi karena sebuah balok lainnya terjatuh dan nyaris menimpanya, namun dengan sempurna jatuh menimpa tubuh pria tak di kenal yang tergeletak di dekat kekasihnya.

Bagus, kobaran api semakin besar dan mereka tereperangkap. Sasuke dengan hati-hati berusaha untuk menyelamatkan dirinya dan kekasihnya itu. Ia mencoba berlari dan membawa Sakura keluar sebelum bangunan itu runtuh seutuhnya dan membawa Sakura kerumah sakit sebelum ia kehilangan darah lebih banyak lagi.

"Sakura, tetap buka matamu Sayang. Jangan berani-beraninya kau menutupnya dan meninggalkanku. Kau dengar aku, Sakura buka matamu!" ia terus mencoba berjalan keluar, menghindari beberapa balok lagi yang jatuh dan hampir menimpa tubuhnya, sampai akhirnya ia mendengar seseorang meneriakkan namanya.

"Sasuke-san!" salah seorang petugas pemadam kebakaran memanggilnya, asap hitam kembali mengaburkan pandangannya, kakinya melemas dan nafasnya sesak, ia nyaris saja akan terjatuh jika saja sesorang tidak menahan tubuhnya dan mengambil alih Sakura dari gendongannya.

"Selamatkan dia." Dua kata terakhir yang ia ucapkan sebelum ia kehilangan kesadarannya dan semuanya menjadi gelap. Dia mencintai wanita itu, dan jika mati adalah hal yang bisa ia lakukan untuk membuatnya tetap hidup, ia akan memberikan nyawanya, dengan senang hati dan diperintah dua kali.

TBC. Ahhhhh….. ini apa? Well, saya minta maaf karena telat banget update. Tapi saya punya alasan, Satu saya lagi UAS dan sibuk dengan RL, dua Saya lagi gak ada ide dan fokus dengan kegiatan sosial di gereja dan yang ketiga, si pinky (laptop kesayangan saya) rusak! Dan untungnya Tuhan masih berbaik hati Pinky disembuhkan jadinya ya, maaf untuk keterlambatan updatenya. Saya berharap chapter kali ini bisa memuaskan kalian.

PS : jangan mengharapkan fict ini Happy Ending, sebagian besar kalian pasti udah baca fict Stronger kan? Ini prequelnya, jadi jangan ngamuk sama saya kalo tiba-tiba gak Happy Ending loh ya. Saya sudah memperingatkan.

Akhir kata, Gracias!

Aphrodite Girl 13