Chapter 6

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : NaruSasu (Naruto x Sasuke)

Genre : Friendship, Romance, Yaoi, Shounen Ai

Warning : AU, Multi chapters, Gaje, Typo, OOC, alur maraton, yaoi, dan hal absurd lainnya.

Note : If you dont like or hate this fanfic, Dont read!

Malam harinya mereka berkumpul di beranda lantai dua untuk membuat Barbeque untuk makan malam. Naruto bertugas membuat Jagung bakar, Sai dan Sasuke bertugas memanggang daging, dan Yang lainnya membantu menata nasi di meja atau sekedar memotong - motong bahan yang sekiranya kurang untuk di bakar.

Sasuke mengambil beberapa daging di piring dan berjalan ke arah Naruto yang sibuk membolak - balikan Jagung bakar itu. Sasuke menyerahkan daging yang ada di tangan kanannya di depan wajah Naruto.

"Terimakasih." Naruto mengambil daging tersebut dan memakannya bersama dengan nasi yang tadi ia ambil di mangkuk kecil. Sasuke mengangguk dan kembali pada sai yang masih sibuk membolak balikan daging tipis itu.

"Hee.. Sasuke baik, ya? Padahal Naruto belum minta tapi sudah kau ambilkan." Ucap Sai tersenyum lembut.

"Berisik!" Sasuke mengalihkan pandangannya dan mulai pergi mengambil beberapa daging yang ingin di bakar lagi. Sai melihatnya tadi. Ketika ia bilang seperti itu, Wajah Sasuke tiba - tiba muncup semburat tipis merah di pipinya. Sai menatap tajam Sasuke ketika Sasuke kembali dengan kotak daging mentah yang baru.

Merasa dipandangi cukup tajam, Sasuke menatap tajam Sai balik. "Apa?"

"Tidak." Sai kembali memfokuskan pikirannya ke daging - daging di depan. Menghiraukan suara - suara yang ada di sekitarnya. Jika pemikiran Sai benar, itu berarti Sai harus bertindak lebih cepat. Jika tidak ia akan keduluan. .

.

.
Setelah makan malam, Lee benar - benar mengusulkan untuk bermain uji nyali. Ketika selesai makan malam, Lee dan kawan - kawan mulai pergi berjalan ke pinggir hutan.

"Kau benar - benar tidak kepikiran untuk masuk ke dalam hutan, kan, Lee?" Ucap Naruto yang mencengkram kuat kedua pundak Sasuke di belakangnya.

"Yap. Kau benar sekali. Uji nyali kali ini adalah berjalan melewati hutan, ketika kau melihat kuil disana, kau cukup menyumbangkan koin 500 Yen lalu kembali lagi kesini. Bagaimana?" Lee dengan semangat menggebu - gebu menjelaskan cara permainan uji nyali yang ia adakan sendiri.

"Aku terkesan padamu yang tahu jika ada kuil di sana, Lee. Apa kau memeriksanya sebelum ini? Lagipula kau bisa ke kuil itu tanpa melewati hutan. Ada jalan yang sering di lewati orang ketika ingin ke kuil itu, Lee." Jelas Neji.

"Tentu saja. Aku mencoba menelusuri sendiri hutan ini ketika siang hari. Walaupun siang tetap menyeramkan. Maka dari itu, ini ide yang bagus kan? Lagipula, Neji, jika kita lewat jalan yang kau bilang tadi, ini bukan uji nyali lagi namanya." Neji menghela nafas pasrah akan ide teman nyentriknya ini.

"Kau benar - benar ingin melanjutkan ini, Lee? Sepertinya tidak aman. Bagaimana jika ada beruang di dalam sana? Kita tidak akan tahu kan?" Ucap Naruto.

"Ini bukan gunung, Naruto. Tidak akan ada beruang di sini." Jelas Neji.

"Eh? Memangnya beruang ada di gunung ya?" Tanya Kiba. Shikamaru menghela nafasnya.

"Kau takut, ya, Naruto?" Tanya Lee menyelidik.

"Hah? Apa - apaan itu? Mana mungkin aku takut. Aku hanya berjalan menuju kuil lalu kembali kesini kan? Aku terima tantanganmu. Aku tidak takut. Ini hanyalah permainan anak kecil. Kau meremehkanku." Sasuke memutarkan matanya melihat tindakan Naruto yang bicara seakan ia berani padahal cengkraman di pundaknya semakin kuat.

"Kalau kau tidak takut, lepaskan ini. Ini sakit sekali, kau tahu?" Sasuke menepis kasar tangan Naruto yang menempel di pundaknya.

"Kalau begitu, kita mulai undi. Aku punya 10 kertas dengan lima dua warna yang sama. Kita hanya harus mengambil kertas ini, jika kita memiliki warna yang sama, itu berarti pasangan kita menuju uji nyali." Penjelasan Lee yang berkobar kobar sambil menunjuk hutan di depan, membuat semuanya hanya bisa pasrah mengikuti apa mau Lee.

"Kau bahkan mempersiapkan ini. Merepotkan." Ucap Shikamaru yang mulai memilih kertas yang berada di genggaman Lee.

"Semua sudah memilih kertas masing - masing kan? Kalau begitu kita akan tarik bersama sama. Satu.. Dua.. Tiga..!"

Semu menarik tangan mereka keatas dan melihat kertas yang ada di genggaman mereka. Naruto yang duluan berteriak karena gagal berpasangan dengan Sasuke.

"Berisik, Naruto!" Sasuke meronta melepas pelukan maut dari Naruto.

"Yahh.. Habisnya, jika aku bisa berpasangan denganmu, karena wajahmu yang seram ini mungkin saja hantu - hantu disana akan takut padam—Ouchh. Sakit, Sasuke." Naruto memegang perutnya yang jadi korban kekerasan atas Sasuke.

"Lihat kan? Kalau kau galak begitu, hantu - hantu di sana akan takut padamu, ughh" Naruto masih meringis memegangi perutnya.

"Kau cari mati, hah?"

"Sudah, sudah. Kalau begitu, Sasuke dan Gaara, kalian yang pertama beraksi. Setelah 10 menit berlalu, Naruto dan Sai. Setelah itu Neji dan Shino, lalu Shikamaru dan Kiba dan yang terakhir Chouji dan Aku. Kalau begitu kita mulai Uji nyalinya. Oouu!" Lee mengangkat tangan keatas dengan semangat.

"Hei! Jangan seenaknya mengurutkan giliran dong!" Kiba mencoba protes.

"Sudahlah. Aku ingin ini cepat selesai." Sasuke berjalan memasuki hutan diikuti Gaara di belakangnya. Sasuke masih mendengar Naruto berteriak 'Pasanglah wajah sangarmu agar hantunya pergi!' membuat perempatan di pelipis Sasuke muncul.

Gaara yang ikut mendengar teriakan Naruto yang melengking itu mencoba mensejajarkan jalan Sasuke yang sudah berada lebih depan.

"Kalau kau kasar begitu, Naruto tidak akan menyukaimu, loh." Gaara mulai berucap.

"Kau bisa bicara begitu ternyata. Secara tidak langsung kau membantu musuhmu, loh." Sasuke mulai memperbaiki muka kusutnya karena perbuatan Naruto barusan.

"Eh? Kalau begitu teruslah galak. Aku tidak mau kalah soalnya."

Sasuke menghentikan langkahnya dan menghela nafas. Gaara sepertinya mulai serius.

"Sebaiknya kau menyerah, Gaara." Gaara ikut menghentikan langkahnya dan mulai menatap Sasuke dengan tajam ketika kalimat itu meluncur dari mulut Sasuke.

"Hah? Kita akan bersaing secara adil. Kau tidak bisa menyuruhku untuk menyerah. Apa - apaan kau?" Gaara mulai tidak terima dengan Sasuke.

"Aku begini karena aku mengerti dirimu. Ini—"

"—Diamlah!" Gaara memotong pembicaraan Sasuke.

"Kau ingin main curang, hah? Kau ingin bicara kalau ini demi kebaikanku, begitu?"

Sasuke yang kesal karena kalimatnya di potong langsung berjalan meninggalkan Gaara di belakang. Gaara yang merasa Sasuke berlari dari pertanyaannya berlari menghampiri Sasuke.

"Sasuke! Apa yang kau rencanakan? Aku tidak akan terima kalau—"

"Aku mencintainya!" Sasuke berhenti dihadapan Gaara.

"Aku juga sama!"

"Kau tidak boleh mencintainya!"

"Apa? Kenapa? Itu hak ku untuk mencinta. Kau kenapa? Sebegitu tidak inginnya Naruto dimiliki oleh orang lain? Kau egois, Sasuke!"

"Aku tidak akan membiarkan Naruto jatuh ke tangan siapapun termasuk kau. Naruto itu milikku!" Sasuke mulai berlari meninggalkan Gaara yang mulai ikut berlari mengejar Sasuke.

Sasuke melihat kuil di depan sana. Ia harus segera menyelesaikan ini semua dan menghampiri Naruto. Ia ingin memeluk Naruto sekarang. Ia mulai ketakutan tanpa sebab. Ia takut jika Naruto tidak dijaga dengan baik, akan ada orang yang merebut Narutonya.

"Sasuke, Tunggu!" Gaara mulai berteriak dan mendapatkan lengan Sasuke ketika mereka sudah sampai di kuil.

"Berhenti mengejar Naruto, Gaara. Naruto itu milikku." Sasuke terengah dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Gaara yang melihat Sasuke seperti ini malah semakin marah. .

.

.
Naruto dan Sai mulai berjalan di tengah hutan. Hutan disini sangat gelap dan hanya berbekal cahaya bulan membuat matamu sedikit sakit ketika matamu di haruskan fokus untuk melihat kegelapan.

Sai yang melihat Naruto yang sepertinya kesulitan itu mulai menggenggam tangannya. Naruto yang kaget tiba - tiba di genggam oleh Sai mulai berhenti berjalan.

"Ada apa? Ayo lanjut lagi." Sai meneruskan jalannya menarik Naruto yang masih menggandeng tangan Naruto. Naruto hanya mengangguk gugup.

"Ano.. Aku bisa jalan sendiri, Sai." Naruto mencoba melepas genggaman Sai di tangannya dengan lembut. Sai menggeleng dan tersenyum.

"Aku melihatmu beberapa kali tersandung tadi. Lagipula aku cukup baik melihat kegelapan." Ucap Sai sambil tersenyum lembut. Naruto mengangguk mengerti dan melanjutkan langkahnya.

Bergandengan di tengah hutan bersama Sai saat malam hari membuat Naruto sedikit tidak nyaman. Seharusnya ia bergandengan dengan Sasuke. Eh? Tapi jika Naruto berduaan saja di tengah hutan apalagi di malam - malam begini, bisa - bisa ia akan menerkam Sasuke di saat itu juga.

Naruto menggeleng - gelengkan kepalanya kasar mengenyahkan pikiran bejatnya.

"Kau kenapa, Naruto?" Tanya Sai yang sepertinya bingung akan tindakan tiba - tiba Naruto.

"Tidak. Aku tidak apa - apa." Sai mengangguk. Naruto menghela nafas lelah. Ia ingin memeluk Sasuke di atas kasur dan tidur dengan nyenyak. Sasuke sedang apa ya sekarang? Apa dia baik - baik saja?

"Naruto—"

"Ya?"

"Apa kau punya seseorang yang kau sukai?" Tanya Sai. Mereka berdua masih berjalan dengan pelan sambil bergandengan. Naruto nampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan dari Sai.

"Ada." Jawab Naruto sambil tersenyum. Sai agaknya tersentak kecil mendengar jawaban dari Naruto. Sai terus berjalan menatap ke depan. Naruto yang tidak mendapat reaksi apa - apa dari Sai balik bertanya.

"Kalau kau, apa ada orang yang kau sukai?" Sai terkejut mendengar pertanyaannya di lempar balik oleh Naruto.

"Orang yang kau sukai itu—" Sai mulai menatap kedua mata biru itu. "—Sasuke, bukan?"

Naruto terkejut bukan main. Ia menghentikan langkahnya dan menatap Sai.

"Hah? Ah—Hahaha.." Naruto mengalihakan pandangan kearah lain dan mulai melanjutkan perjalanan kembali.

Mereka berdua kembali melankah tanpa ada suara dari dua orang remaja ini. Naruto memikirkan seribu cara untuk bisa berbohong jika ia tidak menyukai Sasuke. Tapi sepertinya sia - sia. Sai sepertinya sudah tahu jawabannya.

"Apa kau mau jaga rahasia, Sai?" Ucapan Naruto begitu menghentak hati Sai. Itu artinya Naruto telah mengaku secara tidak langsung jika ia menyukai Sasuke.

"Aku menyukaimu." Ucap Sai.

Naruto tersentak kaget ketika memdengar kalimat itu keluar dari mulut Sai. .

.

.
Gaara menghentakan tangan kiri Sasuke dengan kasar. Marah dengan apa yang dikatakan oleh Sasuke seolah - olah Naruto mutlak miliknya. Ia membenci Sasuke. Ia tak tahu apa yang di rencanakan oleh Sasuke, tapi ia tak boleh menyerah.

"Apa kau bilang? Jangan mengatakan hal seperti itu dengan tampangmu yang dibuat - buat itu. Aku tak akan kasihan denganmu. Apa yang kau rencanakan? Jawab, Sasuke!" Gaara terus mencengkram lengan Sasuke sampai memerah.

"S—Sakit, Gaara. Lepas!" Sasuke berontak berusaha melepaskan tangannya tapi tidak bisa. Cengkraman Gaara terlalu kuat seakan - akan Gaara akan menarik kulit Sasuke.

"Maksud dari perkataanku adalah—" Sasuke menggantungkan kalimatnya.

"Hah? Apa? Katakan sekarang!" Gaara mencengkram lengan kiri Sasuke semakin kuat sampai - sampai rasanya tulang mau hancur. Sasuke bimbang untuk menjelaskan semuanya atau tidak. Tapi kalau tidak dilanjutkan masa depan tangannya akan hancur.

"Maksudku, kau tidak akan pernah memiliki Naruto karena dia adalah milikku. Aku adalah miliknya. Kami saling memiliki." Bukan Sasuke sekali ia berbicara berbelit - belit seperti ini. Tapi Sasuke juga bingung untuk mengatakannya.

"Hah! Aku juga bisa bilang kalau Naruto itu milikku. Sasuke, kau ingin ku bunuh ya?" Gaara menyeret Sasuke kedepan kuil entah apa yang ingin Gaara lakukan. Sasuke bisa saja melawannya tetapi melawan Gaara—Si pemegang sabuk hitam dalam Karate ini adalah saat yang tidak tepat. Apalagi lengannya benar - benar sakit sekarang. Ia pikir tulangnya mungkin retak.

Sasuke masih meronta melepaskan lengannya dengan menarik - narik tangan Gaara menjauh. Sasuke benar - benar akan menangis sekarang. Lengan kirinya sakit luar biasa. Ia hanya bisa menjerit nama Naruto jika Gaara benar - benar ingin membunuhnya. .

.

.
"Ah.. Itu kuilnya kelihatan dari sini. Sebaiknya kita cepat." Naruto menarik tangan Sai sambil berlari menuju kuil. Mengalihkan pembicaraan yang tadi tengah mereka bicarakan, akan tetapi dia malah berhenti di tempat.

"Ada apa?" Tanya Sai. Telunjuknya berhenti di depan bibir Sai menyuruhnya untuk diam sejenak.

"Apa kau mendengar sesuatu?" Tanya Naruto sambil memasang pendengarannya lebih tajam lagi. Sai mengikuti mendengarkan lebih jelas lagi. Sai pikir itu adalah suara kucing liar atau apa karena disini adalah hutan. Jadi suara apapun bisa terjadi.

Tapi Sai mendengar teriakan. Seperti teriakan seseorang. Ia mengenal suara ini.

"Bukankah itu Gaara? Gaara kenapa?" Kata Sai. Mendengar itu mata Naruto membulat dan menarik Sai kembali berlari menuju kuil.

"Mungkin ada sesuatu terjadi. Kita harus lihat." Naruto dan Sai mulai berlari, semakin dekat dengan kuil semakin dekat juga suara Gaara. 'Gaara seperti sedang membentak seseorang, tapi siapa? Apa mungkin Sasuke?' Batin mereka berdua.

Setelah sampai Naruto melihat pemandangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Gaara menarik - narik lengan kiri Sasuke, Naruto bersumpah jika ia melihat tangan itu membiru.

"SASUKE!" Teriak Naruto langsung menghampiri Sasuke di depan pintu masuk kuil setelah melepaskan genggaman Sai. Sai menatap tangannya yang baru saja dilepas oleh Naruto. Melihat Naruto yang sebegitu paniknya hanya demi Sasuke, itu berarti ia sudah di tolak kan?

Gaara kaget dengan kedatangan Naruto yang tiba - tiba dan langsung menghampiri mereka berdua. Sasuke yang melihat Naruto datang tersenyum lega karena Naruto melepas paksa cengkeraman Gaara dari lengan Sasuke. Sasuke merasa surga masih berada di pihak lengan kirinya.

"APA YANG KAU LAKUKAN?" Teriak Naruto ketika ia melihat Sasuke dengan air mata menggenang di kedua mata Sasuke dan lengan kirinya yang membiru. Naruto menatap tajam Gaara dengan aura membunuh.

Gaara yang kaget di bentak seperti itu oleh Naruto, ia bergumam dengan tidak jelas membuat Naruto semakin kesal karena pertanyaannya seperti ia anggap main - main.

"Gaara, jika terjadi sesuatu pada Sasuke—"

"—Ini bukan salahku!" Potong Gaara.

"Huh?"

"Ini semua karena kata - kata Sasuke yang tak masuk akal. Kau juga berfikir begitu kan, Naruto?" Ucapan Gaara membuat Naruto bingung dan semakin naik darah.

"Apa yang kau bicarakan?" Desis Naruto.

"Dia bilang, aku dilarang mendekatimu karena kau adalah miliknya. Kenapa dia terus - terusan berkata seperti itu seakan - akan dia sudah mengklaim dirimu adalah miliknya. Itu membuatku muak. Aku padahal sudah berbaik hati padanya untuk bersaing secara adil, tetapi si pantat ayam ini terus - terusan bilang jika kau adalah miliknya. Itu membuatku kesal."

Gaara menjelaskan seraya menunjuk - nunjukan ke wajah Sasuke dengan rasa benci berlebihan di wajahnya. Sasuke hanya bisa memeluk Naruto karena Naruto merengkuhnya sedari tadi. Tatapan Sasuke masih datar walaupun genangan air berada di matanya.

"Kalian bersaing untuk memperebutkan ku?" Gaara mengalihkan pandangannya kearah lain ketika Naruto mencoba menatapnya. Naruto mencoba menatap Sasuke yang berada di rengkuhannya dan Sasuke hanya menenggelamkan kepalanya di pundak Naruto.

Sai yang berada di belakang sedari tadi hanya melihat tingkah dari Sasuke. Padahal Naruto hanya merengkuhnya tapi kenapa Sasuke memeluk Naruto begitu erat seakan - akan tidak akan bertemu lagi. Dan kenapa Naruto tidak risih dipeluk sebegitu eratnya oleh Sasuke. Ia mulai benci Sasuke sekarang.

Naruto mulai melepaskan rengkuhannya dan bangkit berdiri. Sasuke melepaskan pelukannya dan juga bangkit berdiri di samping Naruto.

"Aku milik Sasuke." Ucapan Naruto membuat sambaran petir di hati Gaara dan Sai. Tak terkecuali Sasuke yang mendengar pengakuan dari Naruto kepada Gaara. Ada sedikit bahagia di hati ketika Naruto mengatakan jika ia adalah miliknya.

"Dan Sasuke adalah milikku." Naruto melanjutkan kalimatnya. Gaara menunduk dengan kabut yang menyelimuti matanya. Air itu tidak bisa dibendung. Padahal ia begitu mencintai Naruto. Ia sudah begitu percaya diri ketika ia akan menyatakan perasaannya pada Naruto di liburan ini.

"Kenapa?" Gaara mulai bersuara.

"Maaf. Aku mencintai Sasuke, Gaara." Naruto juga sebenarnya tak enak jika berbicara seperti itu pada Gaara, ia sangat mengetahui bagaimana perasaan Gaara saat ini.

"Apa kalian berpacaran?" Tanya Gaara. Naruto mengangguk.

"Berapa lama?" Sai akhirnya ikut bertanya setelah menghapiri mereka bertiga.

"Empat bulan." Jawab Naruto.

"Selama itu?" Gumam Sai. Gaara menatap Naruto dengan tampang terluka, lalu berlari meninggalkan mereka bertiga.

Tanpa di duga - duga, di balik pohon ada dua pasangan—Neji dan Shino, Shikamaru dan Kiba—yang ternyata sudah sampai tetapi memutuskan untuk sedari tadi menunggu mendengar perdebatan mereka.

"Gaara." Neji melihat Gaara Khawatir ketika ia mendapat wajah Gaara dipenuhi oleh air mata yang mengalir. Gaara langsung berlari memasuki hutan, keluar dari situasi ini dan ingin cepat cepat kembali ke tempat tidur. Ia ingin menenangkan diri.

Neji ikut berlari menghampiri Gaara yang sudah berlari memasuki hutan. Lee dan Chouji yang baru datang melihat Gaara dan Neji berlari berlawanan arah.

"Loh? Kenapa kalian berbalik? Hei!" Merasa usahanya sia - sia, Lee mulai menghampiri Shino, Kiba, dan Shikamaru yang ada di depan.

"Ada apa sih?" Tanya Lee. Shino hanya menggeleng dan berbalik untuk pulang. "Permainan selesai. Sebaikanya kalian pulang. Aku juga akan pulang." Ujar Shino. Merasa situasi sedang tidak baik. Lee dan Chouji memutuskan untuk pulang.

Shikamaru melihat Kiba yang menatap datar tapi tajam ke—Shikamaru tidak yakin Kiba menatap ke siapa. Ke Naruto, Sasuke, atau Sai, Shikamaru tidak tahu. Ia hanya merasa khawatir pada orang yang ia cintai di depannya ini.

"Kiba." Shikamaru menggenggam tangan Kiba dan mengajaknya untuk pulang. Kiba menurut tanpa pemberontakan. Wajah datar Kiba sungguh tidak cocok untuk Kiba. Shikamaru mulai khawatir jika Kiba juga menyukai salah satu dari mereka.

Shikamaru menggenggam tangan Kiba semakin erat.

Naruto mulai memperhatikan tangan Sasuke yang sepertinya mulai membengkak. Sasuke meringis kesakitan ketika Naruto mencoba menyentuh lengan Sasuke.

"Sepertinya patah. Kau harus pergi kerumah sakit, Sasuke. pergi ke rumah sakit 24jam." Ujar Sai. Naruto mengangguk.

Naruto dan Sasuke mulai berjalan menjauh. Sai memutuskan untuk berdiri sejenak di bawah sinar bulan. Menengadah keatas melihat jika langit malam hari ini terlihat mendung. Seakan langit tengah mengejek perasaan Sai yang telah hancur. Kelam. Tanpa di sadari air mata itu lolos dan mengalir di pipi pucatnya.

Ini adalah liburan musim panas terburuk yang pernah ada. .

.

.

Tsuzuku