Betrayal
Disclaimer : Naruto Selalu menjadi milik Masashi Kishimoto, Saya hanya memiliki plot cerita dalam fanfict ini saja.
Warning : Gaje, abal, OOC, Typo dan Miss Typo seperti biasa nya mereka masih enggan meninggalkan saya sendirian.
Konoha International Hospital, Tokyo, Japan
Dimana dia? Pertanyaan itu adalah hal pertama yang mampir kedalam benaknya ketika ia membuka matanya hari ini. Langit-langit putih itu terlihat asing bagi pengelihatannya bahkan, bau ruangan ini juga tidak biasa dan cenderung membuatnya mual, bau obat. Sakura menghela nafasnya, wanita merah jambu itu memegangi kepalanya yang pening dan mengerang kesakitan saat rasa nyeri menghantam perut bagian bawahnya. Ia tidak bisa bangun. Tubuh bagian bawahnya di perban dan memar-memar, Apa yang terjadi?
Sakura terdiam untuk beberapa saat sebelum memasang wajah ngeri ketika mengingat rekaan adegan dalam benaknya. Tiga orang masuk kedalam boutique milik Hana, ia berusaha menyelamat kan diri. Dua orang pria berbadan besar dan berkulit gelap dan seorang wanita dengan wajah yang tertutup sempurna, ia tidak bisa mengenalinya. Ia berhasil memukul dua orang pria itu dengan pemukul baseball milik Sasuke tapi wanita itu berhasil menusuknya dengan pisau dan terakhir yang ia ingat adalah api membabibuta membakar seluruh bangunan.
Ia mengusap wajahnya kasar, bodoh. Dia benar-benar tidak berguna, seseorang sebaik Hana sudah memberinya sebuah kesempatan untuk memulai kembali hidupnya tapi, yang ia lakukan justru merusak kepercayaannya dan menyebabkan kerugian baginya. Sakura kembali tersentak, satu fakta lagi seakan menghempaskannya kembali pada kenyataan yang ada. Sasuke menyelamatkannya dan pria itu tidak sadarkan diri sebelum mereka di bawa keluar. Sasuke, dimana dia? Jatungnya rasanya seperti berhenti berdetak. Sakura berusaha beranjak dari ranjangnya, melepas paksa selang infus dari tangan kanannya dan mengabaikan rasa nyeri yang membakar perut bagian bawahnya.
"Sakura, apa yang kau lakukan nak?" Ia tersentak, Fugaku dan Mikoto juga ibunya masuk kedalam ruangannya, Fugaku menahan tubuhnya yang terhuyung dan nyaris menghantam lantai rumah sakit.
"Sasuke, Aku mau melihat Sasuke, Otou-san!" Fugaku menghela nafasnya, ia mengangguk namun masih belum mengizinkannya pergi dan justru membantunya duduk diatas ranjang rumah sakitnya kembali dan menekan tombol darurat untuk memanggil suster.
"Aku tahu, aku tahu kau mengkhawatirkan Sasuke, nak. Tapi, kau juga harus memperhatikan kesehatanmu. Kau terluka lebih parah darinya. Setelah Sasuke sadar dia pasti akan menemuimu." Fugaku mengelus surai merah jambunya, sementara Mikoto duduk menggenggam tangannya dan ibunya merangkul tubuh mungilnya,
"Sakura, tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, sayang. Kami sudah menghubungi polisi dan mereka sedang berusaha menyelidiki kasus ini. Itachi dan Hana akan kesini satu jam lagi." Sakura mengangguk,
"ada tiga orang, dua pria berbadan besar dan berkulit hitam. Aku tak mengenal mereka dan satu orang wanita, aku rasa aku mengenal suaranya tapi sekarang aku tak begitu yakin, Okaa-san. Aku tidak tahu siapa mereka, tapi mereka melakukan ini semua karena aku. Ini salahku." Mebuki menghela nafasnya,
"Kau yakin tidak memiliki masalah dengan siapapun diluar sana, Sakura?" Sakura memberikan gelengan lemah sebagai jawaban atas pertanyaan ibunya,
"Mebuki, mari serahkan ini semua kepada polisi. Aku percaya mereka pasti bisa menyelesaikan kasus ini dengan baik. Itachi akan mengusahakan koleganya sendiri yang turun tangan dalam kasus ini." Mikoto mengelus tangan ibunya dan dirinya bergantian,
"Kerugian yang ditanggung Hana, aku akan berusaha untuk menggantinya. Bahkan jika perlu provit dari bisnis kecil-kecilan ku bisa ku serahkan semuanya untuk melunasi dan mengganti rugi kerugian Hana, Mikoto. Aku akan bicara dengannya nanti."
"Tidak perlu, bibi." Hana dan Itachi memasuki ruang rawat Sakura bersama Keiko didalam gendongan mereka,
"Bagaimanapun juga ini bukan salah Sakura. Musibah seperti ini bisa datang pada siapa saja, tidak perlu merasa tidak enak bibi. Hal ini juga bukan yang pertama kalinya." Sakura baru akan membantah namun Hana menghampirinya. Ia mendudukkan Keiko di ranjang Sakura,
"Yang terpenting sekarang adalah, kau harus fokus untuk pulih kembali, aku akan fokus memperbaiki boutique ku dan kita akan fokus untuk merencanakan debutmu sekali lagi. Sakura, ini permintaan yang sulit tapi, bisakah kau sembunyikan rencana debut ini dari siapa saja termasuk Hinata?" Sakura memandang heran kearah Hana,
"Aku tidak bermaksud buruk tapi, bisa saja hal ini terjadi karena ada pesaingmu yang tidak ingin kau memulai debutmu. Para klient mu yang juga merupakan kolegaku bisa jadi mempromosikan mu dari mulut kemulut dan kemungkinan besar, mereka nekat melakukan ini karena mereka takut kau saingi. Bisakan kau melakukan ini? Untukmu dan untuk keberhasilan debutmu, bagaimana?" Sakura menggigit bibir bawahnya dan berfikir keras sebelum akhirnya setelah beberapa pertimbangan, wanita merah jambu itu mengangguk.
"Itachi-nii apa Sasuke sudah sadar?" Itachi menggeleng pelan namun di detik berikutnya pria itu memberikan senyuman berarti 'dia akan baik-baik saja' kepadanya,
"Aku ingin menemuinya." Itachi menghela nafasnya,
"Aku akan menjenguknya setelah ini, apa yang ingin kau katakan padanya? Aku bisa menyampaikannya, untuk sekarang tolong fokus pada kesehatanmu dan pemulihanmu. Kau mengerti?" Sakura mengangguk pasrah, sepertinya memaksa seperti apapun akan percuma, ia akan tetap kalah melawan mereka.
Hinata menghela nafasnya lega, Sasuke baik-baik saja. Kabar dari anak buahnya pagi tadi di ruang makan membuatnya langsung mengemudikan mobil Porche nya ke rumah sakit ini. Ini salahnya, ia tidak bermaksud menyakiti Sasuke tapi pria ini juga tidak mau memberinya celah untuk menyakiti Sakura. Sakura. Tiba-tiba nama wanita itu kembali membangkitkan rasa marah dalam dirinya. Tidak, ini tidak seratus persen salahnya, mau tidak mau wanita merah jambu itu juga ikut ambil bagian dalam hal ini.
Jika dia tidak menarik perhatian Sasuke dan merebut cinta pertamanya itu, Hinata pasti tak akan senekat ini. Hinata menghela nafasnya, ia tidak bisa masuk, satu-satunya yang bisa ia lakukan hanya mengamati Sasuke dari kejauhan. Itachi dan Hana atau orangtua Sasuke juga bisa muncul kapan saja. Ia tidak mau mengambil resiko. Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, seharusnya Neji sudah memberikan kabar sekarang, paling tidak ia harus bisa memastikan jika Itachi, tidak mempercayakan kasus ini kepada koleganya jika tidak, tamatlah riwayatnya.
"Hinata?" Ia tersentak, sial. Benar dugaannya, Itachi Uchiha bisa muncul kapan saja didepan ruang rawat adiknya.
"Itachi-nii..." cicitnya, Itachi memandangnya heran,
"Kau disini, menjenguk Sasuke?" Hinata menghela nafasnya dan mengangguk,
"Kau dengar kabarnya dari mana?" Hinata menatap sepasang iris onyx itu gugup,
"Well, beritanya sudah tersebar di kampus, Itachi-nii tahu kan, Sasuke adalah mantan ketua organisasi fotografi dikampus jadi, beberapa anak-anak..."
"Hinata, kami bahkan menyuap media agar berita ini tidak tersebar, Naruto dan teman-teman Sasuke juga bahkan belum kami beritahu. Jadi, katakan padaku darimana kau menerima kabar ini?" Sial. Seharusnya ia tahu jika berbohong dengan si jenius Uchiha adalah hal yang mustahil,
"Hinata? Jangan katakan padaku kau menyewa seorang pengutit untuk memantau gerak-gerik adikku." Hinata tersentak, dia tahu.
"Itachi-nii... aku..." Itachi menatapnya tak percaya, pria bersurai panjang itu menghela nafasnya dan mengusap wajahnya kasar,
"Hinata dengar, apa yang kau lakukan itu sedikit menakutkan. Adikku, dia akan baik-baik saja tanpa harus kau pantau 24 jam. Jadi, aku memintamu baik-baik, berhenti mengganggunya. Kau tidak perlu khawatir apakah dia melewatkan makan sarapan, makan siang atau bahkan makan malam. Dia punya Sakura yang akan menemaninya untuk melakukan itu semua." Hinata hanya diam, wanita itu memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dan menatap kearah Onyx Itachi.
"Tapi buktinya, Sakura justru membuat Sasuke terbaring dirumah sakit seperti ini jika dia tidak menyelamatkan Sakura tadi malam pasti..."
"Sakura? Bagaimana kau tahu tentang Sakura?" Hinata menutup mulutnya dengan kedua tangannya, sial. Dia benar-benar harus berhati-hati dengan emosi dan mulutnya jika ia harus berhadapan dengan sulung Uchiha ini.
"Itachi-nii aku harus pergi. Aku sudah janji untuk bertemu ibuku." Itachi tak berbicara atupun menahannya, pria itu justru membiarkannya lewat begitu saja. Sekarang dia harus bagaimana? Membungkam polisi adalah hal yang mungkin tapi membungkam Itachi Uchiha? Itu artinya dia harus mengotori tangannya dengan darah orang lain sekali lagi.
"Kakashi." Itachi memandang punggung Hinata yang menghilang dan berbelok ke sebelah kiri kearah lift sementara seseorang di seberang sana mengangkat telfon darinya.
"Ada yang bisa ku bantu, Itachi-sama?" Itachi menghela nafasnya dan mengangguk, pria itu mengurungkan sebentar niatnya untuk masuk keruang rawat adiknya dan memilih untuk duduk di kursi tunggu di depan ruangan dengan jendela besar itu.
"Ada yang aneh dengan Hinata Hyuga. Apa kau bisa memastikan berita kebakaran boutique milik istriku dan percobaan permbunuhan terhadap nona Haruno tidak tersebar di media manapun?" Ia tidak ingin percaya jika wanita sepolos Hinata mungkin melakukan hal terkotor yang ada didalam benaknya hanya demi adiknya, rasanya sangat tidak mungkin.
"Aku bisa menjamin Itachi-sama, kami sudah menyuap hampir seluruh media besar di Jepang untuk tidak menyiarkan berita ini dan kami juga tidak membiarkan siapapun tahu tentang hal ini sampai anda dan Sasuke-sama sendiri yang memperbolehkan kami untuk buka mulut kepada kerabat terdekat kalian." Itachi menghela nafasnya dan mengangguk,
"Bahkan Namikaze?" tanyanya lagi,
"Bahkan tuan muda Namikaze, Itachi-sama. Apakah anda ingin kami menyelidiki dari mana Hyuga-san mengetahui tentang berita ini?" Itachi menghela nafasnya, memandang tubuh adiknya dari jendela kaca dan menggeleng pelan,
"Ya, aku ingin kau turun tangan langsung. Lalu, Kakashi aku juga ingin kau memastikan jika, penyelidikan kasus ini di tangani oleh orang yang tepat, laporkan padaku jika ada pihak manapun yang berusaha menghalangi kita untuk menangkap dalang yang sebenarnya." Itachi berdiri dari tempatnya dan melangkah kedepan pintu kamar rawat adiknya,
"Baik Itachi-sama, ada hal lain yang anda ingin saya lakukan?" Itachi menggeleng dan menggumamkan kata tidak dan terimakasih sebelum menutup telfonnya dan memutar handle pintu kamar rawat adiknya dan masuk kedalam kamar rawat adiknya.
Ketika Sasuke lahir, Itachi sudah berjanji kepada ibunya jika ia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti adiknya, ia tidak akan membiarkan apapun melukai adiknya, kebahagiaan adiknya adalah hal nomer satu bagi dirinya. Ia sering berkelahi di sekolah menengah dan menghajar beberapa anak nakal sewatu masih di sekolah dasar untuk melindungi Sasuke, ia dan adiknya sama-sama belajar bela diri untuk saling menjaga satu-sama lain, sama seperti jika kau berurusan dengan Itachi maka kau akan menghadapi Sasuke, maka jika kau macam-macam dengan bungsu Uchiha yang satu ini, kau akan menghadapi si sulung yang akan dengan senang hati menghajarmu.
Itachi duduk di sofa tepat di sebelah ranjang adiknya, menatap adik kesayangannya yang tengah tertidur dengan tenang diatas ranjangnya, selang oksigen masih belum dilepas dari hidungnya dan ia masih belum sadar juga. Siapapun yang sudah melakukan hal ini kepada adiknya dan Sakura, mereka harus membayar mahal.
Tokyo Police's station, Tokyo Japan
Kakuzu membaca laporan yang tiba dimejanya hari ini. Dari semua berkas kasus yang harus ia selidiki tidak ada satupun berkas kasus yang beratasnamakan Itachi Uchiha atau Uchiha manapun. Kakuzu menghela nafasnya, benar juga. Uchiha pasti memiliki banyak koneksi di kepolisan, sama banyaknya seperti Hyuga dan pasti lebih baik. Tapi siapa yang menangani kasus sebesar ini? Kakuzu berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan kearah mesin pembuat kopi. Kepalanya pusing sekali, Neji meminta bantuannya untuk memastikan kasus ini tidak jatuh kedalam tangan polisi cerdas semacam Juugo atau Sai, sulung Hyuga itu memintanya untuk menangani kasus ini sendiri dan sudah mentransfer jumlah uang yang cukup besar kerekeningnya pagi ini tapi, ini tidak akan jadi pekerjaan mudah.
Ia tidak bisa mengambil alih kasus yang di tangani polisi lain dan menjadikan kasus itu sebagai kasusnya dengan mudah. Pertama-tama, ia harus mencari tahu siapa polisi yang mengani kasus ini baru setelahnya ia harus memutar otaknya untuk mencari cara mengambil alih kasus itu dan menjadikannya sebagai kasusnya.
"Aku dengar anak buah dari keluarga Uchiha datang untuk melaporkan kasus ini langsung tadi pagi." Kakuzu menajamkan pendengarannya, seorang polisi perempuan melangkah masuk bersama Kisame kedalam pantry. Anko menyapanya sebelum kembali sibuk dengan mesin pembuat kopinya dan berbicara kembali dengan Kisame.
"Aku sudah dengar desas desus itu sejak tadi pagi, apa yang membuatmu berfikir ini berita besar?" Anko mengangkat bahunya,
"Kau tahu, ada laporan tentang kebakaran di boutique H&G semalam. Itu boutique milik menantu keluarga Uchiha kan? Aku dengar adik dari Itachi Uchiha dan kekasihnya menjadi korban dalam kebakaran itu. Kau yakin teman kuliah mu itu tak mengatakan apapun tentang kebakaran boutique istrinya dan percobaan pembunuhan calon adik iparnya?" Kakuzu, masih disana, sibuk memakan ramen instan yang sengaja di buatnya untuk menglur waktu dan menggali informasi,
"Aku tidak tahu, sekalipun aku mengetahuinya aku juga tidak akan memberitahumu. bahkan awak media tidak menyiarkan apapun pagi ini, itu berati Itachi tidak mau berita ini tersebar. Dia selalu punya alasan yang tidak akan bisa kau mengerti untuk semua tindakkannya. Aku akan memilih untuk diam saja." Kisame melirik kearahnya, ia tahu itu. Anko adalah polisi bermulut besar yang bisa membocorkan apa saja tanpa diminta tapi Kisame, dia jenius. Dia bisa memanipulasi ekspresinya dan menyembunyikan apapun yang bersifat rahasia tanpa ketahuan, ada kabar jika ia akan keluar dari kepolisian dan bergabung dengan FBI tapi sampai detik ini pria bertubuh besar itu masih bekerja sebagai detektif yang menangani kasus nakotika dan terorisme atau kasus besar lainnya di Tokyo.
"Aku fikir dia akan mempercayai mu untuk menyelesaikan kasus ini. Kau tahu kan, kalian berteman dekat." Kisame menuang kopinya kedalam cangkirnya dan berjalan keluar,
"Tidak, aku tidak menerima tugas itu. Tidak sekalipun dia menawarkan. Aku masih harus menyelesaikan kasus pengiriman senjata ilegal yang masuk di pelabuhan beberapa bulan ini, kau ingat?" Anko mengangguk,
"Aku harus kembali bekerja." Anko mengangguk setuju,
"Aku juga, astaga terkadang aku berharap kalau dunia ini akan damai tanpa penjahat. Mereka membuat meja kerjaku penuh dengan setumpuk laporan dan kepalaku pusing karena menginterogasi dan menyelidiki kasus mereka. Kakuzu, selamat pagi. Nikmati sarapan mu." Wanita itu menepuk bahunya sebelum berjalan keluar pantry, Kakuzu hanya membalasnya dengan lambaian tangan dan anggukan singkat.
Jadi bukan Kisame, lalu siapa? Jika bukan sahabat dekat Itachi Uchiha lalu siapa yang mungkin menyelesaikan kasus itu? Kakuzu menyandarkan tubuhnya, menatap langit-langit putih pantry dan menghela nafasnya. Siapa? Kenapa Neji Hyuga selalu memberinya tugas seberat ini? Lamunannya buyar seketika ketika dering ponsel mengusiknya. Ia memutar bola matanya dan mengacak-acak rambutnya kasar ketika mendapati nama sulung Hyuga di layar ponselnya.
"Kau sudah menemukan siapa yang memegang kasusnya?" tidak ada sopan santun, seperti biasa,
"bagaimana denga selamat pagi atau halo sebagai kata pembuka?" Ia bisa mendengar Neji menghela nafasnya gusar,
"kau sudah menemukan siapa yang memegang kasusnya?" Neji mengulang kembali pertanyaannya, Kakuzu menghela nafasnya,
"Belum. Lagi pula apa yang kau harapkan? ini baru satu hari dan mereka tidak meletakkan kasus itu di mejaku. Berati aku tidak di tugaskan untuk menanganinya." Neji kembali mengumpat,
"Aku tidak perduli bagaimana caranya, kau harus mengambil alih kasus itu atau paling tidak membuat kasus itu tertutup dan menghilangkan berbagaimacam bukti yang akan menjurus kepada adikku. Kau mengerti?" Lagi-lagi tugas berat,
"Akan ku lakukan, ada lagi?" Tanyanya.
"Malam ini akan ada pengiriman lima puluh kontainer sabu yang akan dikirim melalui jalur laut ke kuba. Aku ingin kau yang memastikan pengirimannya aman. Jangan sampai mereka curiga. Aku akan bayar dua kali lipat untuk pekerjaanmu yang satu ini." Kakuzu mengehela nafasnya,
"Sejujurnya Neji, bisakah kau membiarkanku fokus pada satu masalah saja?" ia bisa mendengar Neji tertawa mengejek diseberang sana,
"Tidak. Dan aku tahu kau selalu membutuhkan uang untuk berjudi dan kegiatan malam hari mu. Lakukan saja apa yang aku perintahkan dan kau akan menerima uangnya, pastikan kau bekerja dengan rapih. Mengerti?" setelah ia menggumakan kanta 'baiklah' sulung Hyuga itu menuntup sambungan telfon tanpa mengucapkan terimakasih. Katakan padanya, kapan ia bisa berhenti berurusan dengan manusia semacam Hyuga? Ia rasa jawabannya adalah tidak akan pernah bisa.
Todai, Tokyo Japan
Shion menatap layar ponselnya. Kedua alisnya berkerut ketika sekali lagi Sakura Haruno tak menjawab telfonnya. Tidak biasanya Sakura absen dari jadwal konsultasi tugas akhirnya tanpa kabar sama sekali, ia bahkan kebingungan menjawab pertanyaan dosen pembibingnya.
"Hinata!" Shion melambaikan tangannya begitu melihat Hinata memasuki kantin bersama kekasihnya Kiba. Sejujurnya, ia tidak tahu apa yang ada didalam fikiran gadis Hyuga itu, satu bulan yang lalu dia mengaku sudah putus dengan Kiba dan sekarang mereka bersama lagi? Cinta memang buta.
"Dimana Naruto?" Shion tersenyum kecut, percayalah memacari senior bukanlah ide bagus, terlebih lagi jika mereka lulus lebih cepat daripada seharusnya.
"Ayahnya mengirimnya untuk menangani proyek pembangunan hotel di Monako. Aku sendiri yang mengantarnya ke bandara pagi ini." Hinata mengangguk,
"Tidak perlu sesedih itu Shion, setidaknya ia sudah menunjukkan komitmennya kepadamu. Terakhir ku dengar dari Sasuke, kalian tinggal bersama?" Kiba meraih kentang gorengnya, Shion mengangguk dan memamerkan cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.
"Kami belum bertunangan secara resmi tapi, orangtua kami sedang mendiskusikannya. Ngomong-ngomong soal Sasuke, Hinata. Apa ada kabar darinya tentang Sakura atau Sakura sendiri yang mengabarimu kenapa ia tidak bisa ke kampus?" Hinata menggeleng,
"Tidak tahu. Kau kan tahu terakhir kami berbicara adalah saat ia debut sebagai model satu bulan yang lalu. Setelah itu kami jarang berkomunikasi. Ia terlalu sibuk dengan tugas akhir dan debutnya sebagai designer. Kurasa." Shion mengangguk,
"Benar juga, Miss. Kurenai menanyai ku tentang sakura pagi ini karena dia belum datang kepadanya untuk konsultasi tugas akhir. Dia bahkan tidak memberikan kabar apapun. Aneh, tidak biasanya." Ia kembali meminum soda dari gelas kertasnya,
"Kiba apa kau tahu sesuat?" Kiba menghela nafasnya dan menggeleng,
"percayalah padaku jika sesuatu terjadi pada mereka Hana-nee adalah orang pertama yang akan memberitahuku," Shion mengangguk, wanita itu kembali memakan saladnya dan berbincang dengan kedua sahabatnya itu,
"Jadi Hinata, bagaiamana dengan mu?" Hinata mengangkat alisnya dan menatap Shion,
"Apa? Memangnya aku kenapa?" Shion tersenyum geli dan melirik ia dan kiba bergantian,
"Demi Tuhan! Memangnya ada yang salah kalau aku balikan dengan Kiba?" Shion menggeleng,
"Kiba, kau jadi mendaftarkan dirimu untuk masuk ke akademi kepolisian setelah ini?" Kiba terdiam dan menaikkan bahunya acuh,
"mungkin, aku dapat tawaran yang lebih bagus di Amerika, sebetulnya. Tapi, aku tidak bisa memutuskan semuanya sendiri. Kau tahu, orangtuaku sudah lama meninggal dan Hana-nee adalah satu-satunya keluarga yang kupunya. Keputusanku akan mempengaruhi dirinya. Aku harus membicarakan ini terlebih dulu dengannya sebelum membuat keputusan." Shion terssenyum manis dan meletakkan tangannya diatas tangan kiba.
"Kita masih punya waktu sepanjang semester ini untuk memikirkan akan kemana kita setelah ini, benarkan?" Kiba mengangguk lalu menatap Hinata,
"Bagaimana denganmu?" tanyanya, Hinata menatap kekasihnya itu dan berbalik menatap Shion,
"Kalian akan lulus lebih dulu, aku memutuskan untuk menunda kelulusanku sampai semester depan. Setelah itu aku mungkin akan membuka konsultan interior atau bergabung dengan Neji di perusahaan ayah. Aku belum tahu." Shion menyandarkan tubuhnya, Kiba masih belum memalingkan wajahnya dari Hinata,
"Well, pada akhirnya nanti kita semua akan sibuk dengan pekerjaan masing-masing." Kedua sahabatnya itu mengangguk, Shion melirik jam tangannya dan berdiri dari tempat duduknya,
"Aku ada kelas, aku duluan ya." Hinata dan Kiba mengangguk bersamaan. Setelah Shion meninggalkan mereka, Kiba meraih tangan Hinata, gadis indigo itu menatapnya.
"Aku mendapatkan tawaran dari FBI yah, tentunya akan ada pelatihan selama beberapa tahun sebelum benar-benar bergabung dengan mereka. Hinata, katakan satu kata saja jika kau tidak ingin aku pergi dan aku akan melepasnya." Hinata melepaskan tangannya dari genggaman Kiba,
"Aku tidak mengerti. Menjadi seorang agen FBI adalah impian masakecil mu, lalu kenapa kau harus ragu?" Kiba masih belum melepaskan pandangannya dari gadis indigo itu,
"Karena mustahil bagiku untuk meninggalkan hatiku disini. Aku tahu kau tidak akan pernah meninggalkan Jepang, kau tidak akan meninggalkan ibumu dan aku, mustahil bagiku untuk mengejar impianku jika aku meninggalkan hatiku disini." Hinata menghela nafasnya, memalingkan wajahnya dari Kiba, ia tidak menyangka jika Kiba mencintainya sampai sejauh ini, apa yang sudah ia lakukan? Ia sudah menyakiti pria ini secara tidak langsung.
"Kiba, kau tidak bisa menyerah begitu saja. Impian itu tak bisa kau lupakan begitu saja. Kau harus pergi dan berusaha mengejarnya. Aku... aku akan menunggu." Benarkah? Benarkah ia akan menunggu Kiba kembali atau apakah janji itu ia ucapkan hanya untuk menjauhkan Kiba darinya?
"Hinata..." Wanita itu memalingkan wajanya dan menatap kembali kearah Kiba dan mengangguk,
"Pergilah, kejarlah dan kembalilah ke Jepang sebagai agen Inuzuka." Kiba tersenyum dan mengangguk, menariknya kedalam pelukannya dan mengecup puncak kepalanya.
"Terimakasih." Hinata mengangkat tangannya ragu sebelum membalas pelukannya. Jika kau mengetahui semuanya, biasakah kau memaafkan Hinata nantinya, Kiba?
Tokyo International Hospital, Tokyo Japan
Dokter baru saja meninggalkan ruang rawat gadis merah jambu itu ketika ia masuk dengan bantuan Itachi yang mendorong kursi rodanya. Sakura masih tertidur diranjangnya sementara ayah dan Ibunya masih disana menemani Mebuki Haruno menjaga putri tungalnya. Sasuke meminta Itachi melepaskan kursi rodanya dan dengan kedua tangannya Sasuke memutar roda kursi rodanya mendekati Sakura. Ia menggenggam tangannya, dan menyursuri wajah wanita merah jambu itu dengan tangannya yang lain.
"Dia baik-baik saja. Dokter sudah memastikan itu." Ibunya berjalan medekatinya dan memeluknya dari belakang.
"Dia terluka, Okaa-san. Bagaimana bisa ia baik-baik saja? Dia kehilangan banyak darah semalam dan bisa jadi ia keracunan asap karena kebakaran semalam, bagaimana ia bisa baik-baik saja?" Mikoto melepaskan pelukannya dan memutar kursi roda putra bungsunya.
"Sasuke, dokter sendiri yang memastikan Sakura baik-baik saja. Lukanya sudah di jahit, memar di tubuhnya sudah di beri obat, Sakura sudah menerima transfusi darah dan tidak ada tanda-tanda keracunan sama sekali. Ia baik-baik saja." Sasuke memalingkan wajanya dan menatap khawatir kearah wanita merah jambunya,
"Jika ia baik-baik saja lalu kenapa ia tidak membuka matanya?" Mikoto tersenyum dan duduk di tepi ranjang Sakura
"Karena ia baru meminum obatnya dan ia harus beristirahat. Bagaimana dengan keadaan mu?" Sasuke menangguk,
"Baik. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Itachi-nii aku rasa untuk pertemuan dengan Billius Mark di paris besok, kau yang harus berangkat, aku minta maaf." Itachi mengangguk paham,
"Tidak apa-apa, cepatlah pulih, tender miliayaran dollar itu menunggu untuk kita selesaikan. Aku akan berangkat bersama Hana besok malam." Sasuke mengangguk, Sasuke memalingkan wajanya kearah Sakura saat tangan wanita itu tiba-tiba menyentuh tangannya.
"Kau... Sudah kubilang untuk tidak berada di kantor sampai tengah malam dan menyetir sendiriankan?" Mikoto menjauh dan mengomando yang lain untuk keluar ruangan,
"Sasuke aku..."
"Kau lihat apa yang terjadi padamu sekarang? Sakura aku ketakutan setengah mati, aku fikir aku akan kehilangan dirimu selamanya, jika itu terjadi aku benar-benar akan menyusul mu." Wanita itu menggeleng,
"Jangan bodoh. Sasuke, terimakasih." Sasuke menggenggam tangannya meremasnya dan mengecupnya.
"Aku fikir aku akan kehilangan dirimu, jantungku berhenti berdetak saat kau menutup matamu. Sakura aku bersumpah jika kau melakukan itu kepadaku sekali lagi aku tidak akan pernah memaafkan mu." Ia beranjak dari kursi rodanya dan duduk dihadapan Sakura dan menariknya kedala pelukannya.
"Kau, kau juga seharusnya tidak melakukan hal sebodoh itu. Kau tidak perlu mengorbankan nyawamu hanya untuk menyelamatkan gadis sepertiku." Sasuke menggeleng dan mengecup puncak kepalanya,
"Aku pernah berjanji bukan? Aku tidak akan membiarkan hal buruk apapun menimpamu, aku akan menjadi pelindungmu, aku tidak akan melepaskan tanganmu. Kau masih ingat itu?" Sakura mengangguk dan membalas pelukan Sasuke,
"Ya, Tuhan! Aku benar-benar mencintaimu, aku tidak bisa kehilanganmu." Ujar bungsu Uchiha itu, Sakura menyandarkan kepalanya ke dada bidang kekasihnya itu,
"Aku juga mencintaimu." Ujarnya, Sakura mempererat pelukkannya kepada Sasuke, ia mencintai pria ini. Benar-benar mencintainya.
TBC. Ini apaaa? Astaga, u.u saya tau mungkin chapter ini gak akan sebagus chapter sebelumnya, saya minta maaf banget buat ke terlambatan updated. Seperti biasa, tugas kuliah di real life menahan saya buat menulis chapter lanjutan, saya harap kalian puas dengan chapter hari ini. Terimakasih untuk kesetiaannya membaca fict saya. Terimakasih minaa, jangan lupa RNR yaaa...
Aphrodite girl 13
