Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : NaruSasu (Naruto x Sasuke)
Genre : Friendship, Romance, Yaoi, Shounen Ai
Warning : AU, Multi chapters, Gaje, Typo, OOC, alur maraton, yaoi, dan hal absurd lainnya.
Note : If you dont like or hate this fanfic, Dont read!
Paginya mereka berdelapan berkumpul di meja makan dengan hening. Tidak ada yang memulai pembicaraan. Lee yang sudah gatal ingin bertanya mulai membuka suara.
"Hei, Naruto dan Sasuke kemana?" Lee bertanya dan hanya ada keheningan. Tidak ada yang ingin berbicara saat ini. Lee mencoba mengerti situasi lalu diam, walau ia tidak mengerti apa yang terjadi pada teman - temannya.
Sasuke dan Naruto datang menghampiri meja makan setelah di paksa oleh pelayang dari Neji untuk makan pagi. Lee yang melihat tangan Sasuke yang di gips terlihat kaget.
"Sasuke? Tanganmu di gips? Ada apa? Apa yang terjadi?" Berenten pertanyaan dari Lee mulai di keluarkan untuk Sasuke. Sasuke hanya duduk dan mulai menikmati sarapannya yang sudah tersedia di depan.
"Ini yang kemarin. Kebetulan Sasuke jatuh dan tangannya patah. Tapi kata dokter tidak apa - apa. Hanya membutuhkan beberapa minggu sampai tangannya sembuh." Jelas Naruto. Lee yang mendengar itu langsung berdiri dan membungkuk 90°.
"Maafkan aku, Sasuke. Gara - gara aku mengusulkan permainan itu, kau jadi begini. Aku minta maaf." Sasuke terkejut ketika melihat Lee membungkuk untuk minta maaf yang bukan salahnya. Yah walaupun ini juga sedikit salah Lee karena kalau bukan karna idenya ia tak akan menempelkan gips ini pada lengannya.
"Tidak apa - apa, Lee. Kau tidak harus minta maaf. Kau tidak salah." Sasuke bangkit berdiri dari kursi dan mengangkat wajah Lee. Bagaimanapun Lee tidak salah jadi Lee tidak berhak meminta maaf. Lee yang melihat senyum secerah bulan purnama dari Sasuke mulai menangis terharu. Sasuke tertawa melihat betapa berlebihannya Lee.
Sasuke duduk dan kembali melanjutkan sarapannya yang sempat tertunda.
"Separah itu kah?" Chouji ikut bertanya karna sejatinya Chouji juga penasaran.
"Tidak. Hanya retak, kok. Aku masih bisa memakai tanganku kalau sudah sembuh nanti." Jelas Sasuke.
"Lalu kemana kalian tadi malam?" Tanya Chouji lagi.
"Sasuke menginap di rumah sakit, tentu saja aku menunggunya kan?" Jelas Naruto. Chouji mengangguk paham.
"Kalau begitu cepat sembuh ya, Sasuke. Aku berikan coklat ini untukmu. Ini akan membuat perasaanmu lebih baik." Chouji menyerahkan coklat kesukaannya pada Sasuke. Sasuke menatapnya sejenak lalu mengambil coklat itu.
"Terimakasih." Sasuke terpaksa mengambil coklat itu untuk menghargai Chouji. Mungkin ia akan coba makan coklat ini. Jika perasaannya mulai membaik, ia akan beli coklat lebih banyak lagi karena sedari tadi perasaanya bergerumul tidak nyaman. .
.
.
Gaara melihat Sasuke sedari tadi berdiri di bukit belakang Vila. Ia juga melihat tangan itu di gips. Gaara merasa sedikit rasa bersalah karena cengkeramannya membuat tangan Sasuke sampai seperti itu. Tapi mengingat tadi malam, ingin rasanya Gaara mematahkan tangan Sasuke.
Gaara berjalan menghampiri Sasuke dengan perlahan. Ketika sudah dekat, Gaara mengangkat kedua tangannya kedepan dan mulai menyentuh punggung Sasuke.
"Kau ingin membunuhku, Gaara?" Sasuke menyadari keberadaan Gaara di belakang, padahal tangan Gaara belum menyentuh punggung Sasuke.
"Maaf, tapi aku belum mau mati." Ucap Sasuke.
Sasuke berbalik dan menatap Gaara. Gaara balik menatap tajam Sasuke.
"Aku minta maaf." Ucapan Sasuke membuat Gaara tersentak. Apa katanya? Maaf?
"Seharusnya aku tidak menutup - nutupi hubunganku dengan Naruto. Aku benar - benar minta maaf." Sasuke menundukan kepalanya. Lalu kembali menatap Gaara.
"Aku sangat mengerti perasaanmu, karna aku pernah berada di posisimu. Ketika orang yang kau cintai mencintai orang lain." Ucap Sasuke.
"Berat memang. Tapi aku berusaha mencari cinta yang baru."
"Dengan kata lain kau menyuruhku untuk melupakan Naruto, hah?" Gaara mencengkram kedua pundak Sasuke. Sasuke menggeleng keras dengan wajah panik ketika Gaara mulai mendorong Sasuke kebelakang. Tangan kanan Sasuke memengang tangan Gaara erat.
"Kau benar - benar ingin mati, huh?" Gaara mendorong Sasuke ke belakang. Sasuke kaget setengah mati, tangan kanannya menggapai udara. Ia akan mati saat ini. Kalau ini adalah saat terakhir, ia ingin melihat Naruto untuk yang terakhir kalinya. Naruto!
Sasuke menutup matanya dan tidak merasakan sakit di tubuhnya. Ia malah merasakan ada yang menarik tangan kanannya. Ketika ia membuka mata, Naruto ada disana. Sedang menarik tangan Sasuke.
"Bertahanlah, Sasuke! Aku akan menyelamatkanmu." Naruto berusaha menarik tubuh Sasuke sekuat tenaga. Gaara shock ketika tiba - tiba Naruto datang dan menangkap tangan Sasuke.
Naruto terengah - engah ketika ia berhasil mengangkat tubuh Sasuke keatas. Sasuke shock luar biasa. Ia merasa hidupnya akan berakhir jika Naruto tidak ada. Melihat ekspresi Sasuke yang begitu, membuat Naruto naik pitam.
PLAK!
"APA YANG KAU LAKUKAN?" Naruto menampar wajah Gaara dan langsung membentaknya. Pipi Gaara memerah. Sepertinya Naruto menampar pipi Gaara dengan kekutan dalam hingga membuat ujung bibir Gaara sobek.
Gaara menatap Naruto dengan perasaan yang kaget dengan memegangi pipinya.
"KAU TAHU APA YANG KAU LAKUKAN, HAH?" Neji yang lewat mendengar teriakan Naruto. Ia melihat di ujung jurang Gaara tengah memegangi pipinya dan Naruto yang tengah membentaknya. Neji mulai menyadari apa yang terjadi langsung menghampiri mereka berdua.
Tangan Naruto kembali terangkat untuk memukul Gaara tetapi di tahan oleh Neji yang datang dengan tiba - tiba.
"Apa yang kau lakukan, brengsek!" Neji menghentakan kasar tangan Naruto.
"Hah? Seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa yang kau lakukan, brengsek! Kenapa kau menahanku?" Naruto mulai bergerak maju melihat wajah Neji lebih dekat.
"kenapa kau memukul Gaara?" Neji mendorong dada Naruto menjauh.
"Kau masih tidak terima dengan apa yang dilakukan Gaara pada Sasuke, huh?" Lanjut Neji.
"Jika dia hanya mematahkan tangan Sasuke aku masih bisa sabar. Tapi jika dia mulai mencoba membunuh Sasuke, aku tidak akan tinggal diam. Jadi, biar aku habisi orang itu." Naruto berlari kearah Gaara yang masih memegang pipinya itu tapi ditahan oleh Neji. Neji mendorong Naruto sampai jatuh ke rumput.
"Hah? Gaara tidak mungkin membunuh orang. Ya kan, Gaara?" Neji menatap Gaara.
"Itu benar. Aku bukan orang yang seperti itu." Naruto dan Sasuke kaget mendengar jawaban Gaara itu. Naruto melotot dan bangkit berdiri.
"Kurang ajar, kau! MATI SAJA, KAU!" Naruto mulai melayangkan tinjunya ke arah Gaara namun lagi - lagi di tahan oleh Neji. Neji yang mulai naik pitam mulai menonjoki Naruto. Alhasil mereka saling menyakiti satu sama lain.
"Naruto, Hentikan!" Naruto yang mendengar perintah dari Sasuke, mulai berhenti. Tetapi Neji tidak berhenti. Neji mulai melancarkan tinju demi tinju ke Naruto. Naruto menerima serangan Neji bertubi - tubi. Sasuke mulai menangis melihat Naruto tidak berdaya di bawah tindihan Neji.
"Neji, Hentikan! Hentikan! Neji!" Sasuke berteriak kepada Neji. Gaara yang melihat itu juga shock. Harusnya Sasuke yang disakiti bukan Naruto. Gaara melihat Sasuke yang menangis sesenggukan meminta pada Neji untuk menghentikan serangannya tetapi tidak di dengar Neji.
"Neji! Hentikanlah!" Gaara memberi perintah pada Neji dan langsung di hentikan oleh Neji. Sasuke berlari masih menangis menahan Naruto yang berusaha bangkit. Darah dimana - mana. Sasuke benar - benar tidak dapat melakukan sesuatu padahal Naruto sedang di pukul habis - habisan.
"Hei, hei, sudahlah. Jangan menangis. Aku tidak apa - apa." Naruto mengusap pipi Sasuke yang mengalir banyak air mata disana. Sasuks menggeleng keras dan masih menangis sesenggukan. Cukup keras untuk seorang Ichiha yang menangis.
Naruto berusaha bangkit walau masih dibantu oleh Sasuke. Naruto mulai menatap Gaara dengan senyuman yang dipaksakan.
"Gaara, jika kau ingin membunuh seseorang, bunuh aku saja. Jangan Sasuke." Naruto tersenyum dan pergi meninggalkan Neji dan Gaara yang sedang mematung. Naruto benar - benar akan membencinya sekarang. Gaara ingin mati saja rasanya.
Neji yang melihat Gaara seperti shock tersebut menghampiri Gaara dan mengusap pelan kedua pipinya. "Kau aman." Ucap Neji.
"Jika orang itu cari gara - gara denganmu, aku akan sigap melindungimu."
.
.
Naruto masuk ke kamar dengan lunglai dan duduk di pinggir kasur. Shino yang sedang memberi makan kumbangnya heran melihat Naruto yang babak belur itu dan Sasuke yang menagis sesenggukan disana.
Sasuke berputar - putar di segala arah seperti kesetanan mencari benda - benda yang sekiranya bisa menyembuhkan luka Naruto. Sasuke membawa ember dan handuk. Mulai membersihkan luka Naruto di bibirnya masih sambil menangis.
Wajah Sasuke benar - benar berantakan oleh air mata dan keringat. Shino mulai bangkit dan mengambil kotak P3K dan menghampiri Naruto. Shino membuka kotak P3K itu dan mulai membersihkan luka Naruto dengan kapas dan alkohol.
"Sasuke, biar aku yang mengurusnya. Kau bisa beli beberapa kain kasa di luar." Sasuke yang mendengar Shino berkata seperti itu langsung mengangguk.
"Tunggu!" Naruto menarik Sasuke yang baru saja ingin bangkit berlari. Naruto mengusap wajah Sasuke yang masih dialiri oleh air mata.
"Hei, tenanglah! Aku tidak apa - apa. Aku tidak mati, Sasuke!" Sasuke mulai tenang ketika Naruto mulai mengusap pipinya lembut.
"Tapi Neji memukulmu keras sekali."
"Aku tidak lemah, Sasuke. Aku tidak akan mati hanya dengan pukulan seperti itu. Usap air matamu dan pergilah. Shino ada disini jadi kau tidak perlu khawatir." Sasuke mengangguk mengerti dan segera berlari keluar Vila untuk membeli beberapa kain kasa.
Shino yang melihat Sasuke seperti itu juga merasa sangat heran. Dia bilang Neji memukul Naruto? Mungkin masalah kemarin?
"Aku baru lihat Sasuke menangis dan panik disaat yang bersamaan seperti itu. Itu pertama kalinya buatku." Ucap Shino yang kembali mengobati luka - luka Naruto.
"Itu juga yang pertama kali buatku." Ucap Naruto.
"Huh?"
"Selama ini Sasuke tidak pernah seperti ini. Aku baru melihatnya kali ini. Yahh.. Kau tahu, itu cukup membuatku bahagia. Itu artinya ia menganggapku sangat berharga kan?"
Shino menggeleng. "Bukan. Terlalu berharga." Koreksi Shino.
"Begitu ya?" Ucap Naruto. Shino mengangguk.
"Ngomong - ngomong, tadi Sasuke bilang Neji yang memukulmu? Ada apa?" Tangan Shino mulai melepas kaos yang melekat di tubuh Naruto dan mulai membersihkan luka yang berada di badannya juga.
"Ahh.. Itu.. Gaara mencoba mendorong Sasuke dari atas bukit yang berada di belakang Vila."
Shino melotot kaget—walaupun ia memakai kacamata hitam yang tidak mungkin dilihat Naruto. "Benarkah?"
"Iya. Untung saja aku segera melihatnya. Karna itu aku masih sempat menolong Sasuke walau itu sangat nyaris. Ketika itu aku sangat marah sehingga aku menampar Gaara. Neji yang kebetulan lewat saat itu melihatku menampar Gaara dan kita langsung adu pukul. Walaupun aku kalah, sih." Naruto terkekeh sambil menggaruk belakang kepalanya.
Shino menghela nafasnya. "Aku memgerti apa yang dirasakan Gaara. Tapi aku tidak mengerti apa yang di pikirkan Gaara. Ini adalah percobaan pembunuhan." Jelas Shino.
"Aku setuju. Tentu aku sangat marah." Setelah itu Sasuke datang dengan terburu - buru dengan nafas terengah - engah.
"Hei, Sasuke, kau berlari tanpa berhenti kan?" Tanya Naruto. Sasuke mengangguk. Naruto terkekeh melihat kekasihnya bertindak berlebihan untuk dirinya. Sasuke duduk disebelah Shino memperhatikan Shino membalut kain kasa di tubuh dan lengan Naruto.
Lukanya cukup parah. Jadinya memerlukan banyak plester dan perban. Ketika sudah selesai, Sasuke membantu Naruto untuk memakaikan kaos yang baru. Setelah itu Sasuke mulai memeluk Naruto—tidak terlalu erat—dan mulai terisak kembali di lehernya.
"Kau menangis lagi. Hei, sudah kubilang jangan menangis kan?" Naruto membalas pelukan Sasuke dan mengelus lembut kepalanya. Shino yang melihat mereka berdua seperti itu merasa iba juga. Menjadi korban percobaan pembunuhan, lalu tiba - tiba kekasihmu dipukuli di depan matamu. Membuat shock mu tidak akan hilang dalam waktu yang lama.
"Apa perlu ditindak? Perbuatan Gaara sudah sangat keterlaluan." Shino menyerahkan pendapat.
"Tidak usah. Kami tidak akan memperpanjang malasah ini." Shino mengangguk mengerti dan segera berjalan keluar bermaksud untuk mengembalikan kotak P3K.
"Shino!" Panggil Naruto. Shino menoleh ketika pintu sudah dibuka.
"Terimakasih." Lanjutnya. Shino tersenyum dan mulai menutup pintu depan.
"Sedari tadi kau menangis terus. Apa tidak lelah?" Sasuke menggeleng.
"Kalau begitu kita tidur siang saja." Sasuke mengangguk.
Naruto dan Sasuke mulai merebahkan diri di kasur, sambil berhadapan dan berpelukan. Sasuke menenggelamkan wajahnya di dada Naruto. Naruto mengelus perlahan punggung Sasuke.
"hei, Sasuke. Terimakasih telah mencintaiku." Sasuke mendongak keatas mendapati wajah sang kekasih tengah tersenyum manis padanya. Sasuke mulai melumat pelan bibir si pemuda pirang ini. Naruto membalas lumatan yang dilakukan oleh Sasuke.
Bukan Naruto yang beruntung bisa mendapatkan Sasuke. Tapi Sasuke yang merasa paling beruntung karna berhasil mendapatkan Naruto. Sasuke sangat bahagia ketika dekat dengan Naruto seperti ini. Ia tidak ingin melepaskannya untuk orang seperti Gaara. Naruto adalah seseorang yang paling ia cintai di dunia ini. .
.
.
Shino menghampiri Neji yang sedang berada di ruang santai. Neji bersender di sofa, Gaara berada di sebelahnya.
"Gaara, apa kau benar - benar mendorong Sasuke agar jatuh ke jurang?" Pertanyaan tiba - tiba dari Shino membuat Gaara tersentak. Gaara mengangkat wajahnya melihat Shino berada di depannya.
"Shino, apa - apaan ka—"
"Aku sedang berbicara pada Gaara, Neji. Gaara!Aku akan bertanya sekali lagi. Apa benar kau mendorong Sasuke agar jatuh ke jurang?" Gaara diam tidak menjawab pertanyaan dari Shino.
"Tidak." Gaara mengelak.
"Naruto dan Sasuke tidak akan memperpanjang masalah ini. Maka dari itu, kau minta maaflah pada mereka berdua. Karena kau membuat anak orang berada di antara hidup dan mati." Shino berlalu dan meninggalkan Gaara masih dengan perasaan berkelut.
Neji yang menatap tajam Shino membuatnya tidak suka. Seakan - akan Gaara lah disini penjahatnya. "Kalau kau butuh bantuan, aku akan selalu ada." Ucap Neji menggenggam tangan Gaara.
Gaara yang menatap tangan yang di genggam oleh Neji, mulai melihat Neji dengan penuh harap.
"Benarkah?"
"Tentu saja. Aku akan membela dirimu."
"Walaupun aku salah sekalipun?" Neji mengangguk.
"Aku akan selalu bersamamu. Jangan takut." Kata - kata Neji sedikit membuat Gaara tenang. Gaara tersenyum dengan lembut.
"Terimakasih."
.
.
Tsuzuku
