Betrayal

Disclaimer : Naruto Selalu menjadi milik Masashi Kishimoto, Saya hanya memiliki plot cerita dalam fanfict ini saja.

Warning : Gaje, abal, OOC, Typo dan Miss Typo seperti biasa nya mereka masih enggan meninggalkan saya sendirian.

Itachi's Office, Uchiha Corporation, Tokyo Japan

"Dan anda memiliki Conferense Call dengan tuan Billius Mark dari Perancis hari ini setelah jam makan siang." Itachi melepas jas mahalnya, menyampirkannya pada sandaran kursi berlengan miliknya lalu duduk setelah melipat lengan kemeja mahalnya sebatas siku dan menggunakan kacamatanya,

"Hanya itu saja Konan? Tidak ada pesan yang di titipkan untukku dari Petugas kepolisan atau Kakashi?" Wanita bersurai lavender itu menggeleng pelan lalu menjawab,

"Tidak, pak. Tidak ada pesan apapun yang ditinggalkan Sekertaris Hatake maupun Agen kepolisian manapun." Itachi mengangguk,

"Bawa laporan dari setiap departement yang harus ku periksa dan tanda tangani, tolong kosongkan jadwalku dari hari senin hingga kamis minggu depan, aku harus bertemu dengan Bill di Paris menggantikan Sasuke. Dan minta Shizui untuk menghandle pekerjaan Diriktur Sasuke sampai akhir minggu depan." Wanita itu mengangguk sambil mencatat tugas yang di berikan Itachi padanya disebuah Note kecil yang di bawanya,

"Ada lagi, pak?" Tanyanya, Itachi menggeleng dan mulai meraih map berwarna merah yang ada dihadapannya,

"Tidak ada. Oh... tolong buatkan ekspresso jika kau tidak terlalu sibuk." Wanita itu tersenyum ramah lalu meninggalkan ruangan Itachi,

Sulung Uchiha itu meletakkan map merah berisi dokumen penting perusahaan diatas mejanya lalu meraih ponsel pintarnya dari dalam saku celana panjang hitamnya. Itachi terdiam sesaat sebelum akhirnya berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan kearah jendela besar diseberang meja kerjanya dan menekan tombol hijau dilayar ponselnya, memulai panggilan dengan seseorang di seberang sana.

"Kisame ini aku, Itachi." Ujarnya

"Ya, aku tahu. Ada apa?" Itachi menatap gedung-gedung bertingkat di pusat kota Tokyo dan langit mendung ibu kota Jepang itu bergantian sebelum kembali mulai berbicara,

"Apa kau yang menangani kasus kebarakan boutique milik Hana?" Tanyanya, Ia bisa mendengar rekan semasa kuliahnya itu menghela nafansya,

"Itachi, Aku memang menerima laporan itu dimejaku pagi ini. Apa kau menggunakan koneksimu dengan Kepala polisi Kagami sekali lagi untuk memastikan aku yang mengambil alih kasusmu?" Itachi tertawa rendah dan bergumam mengiyakan,

"Aku tahu jika aku memintanya secara langsung padamu, kau akan menolak dengan alasan kalau kau juga bekerja sebagai agen interpol sekarang, jadi kau tidak punya banyak waktu untuk mengurusi kasus biasa seperti yang aku laporkan padamu.

Tapi, ini bukan kasus biasa bagiku. Seseorang sedang berusaha menyentuh keluargaku, dan mereka sudah melukai adik dan calon adik iparku. Aku takut ini akan merambat pada istriku atau kedua orangtuaku. Hal terburuk adalah putriku, Keiko." Kisame terdiam lalu kembali berbicara,

"Dengar, seseorang mencurigai jika aku mengambil alih kasusmu." Suara Kisame terdenagr hati-hati,

"Siapa?" Tanya Itachi lagi,

"Kakuzu, kau tahu aku tidak pernah mempercayai pria itu. Dia adalah penjahat di badan kepolisian sendiri, pamanmu sedang mencari cara untuk menendangnya keluar dari sini. Tapi kami belum berhasil." Itachi menaikkan sebelah alisnya heran, seseorang mencurigai Itachi dan ingin mengambil alih kasusnya dan orang itu adalah seorang polisi berepurtasi jelek?

"Seseorang yang menginginkan kasus ini adalah seorang polisi? Ini aneh." Ujarnya,

"Tidak. Aku rasa dia tidak ingin mencampuri hal ini tapi seseorang yang membayarnya, memintanya untuk mencari tahu tentang kasus ini." Itachi terdiam untuk sesaat mendengar kesimpulan dari Kisame

"Kau yakin?" Tanya Itachi lagi,

"Ya, aku bisa memastikannya tanpa harus melihat wajahnya saat kami bertemu di pantry pagi ini. Anko, rekan kerjaku itu bermulut besar. Ia menanyaiku tentang kasus ini di pantri ketika Kakuzu berada di pantry pagi ini. Pria itu langsung tertarik dengan topik ini dan mengulur waktu dengan menyeduh ramen instan dan mendengarkan percakapan kami." Itachi masih terus mendengarkan,

"Lalu?" Tanyanya,

"Ketika aku keluar dia mendapat telfon dari seseorang, Iya tidak menyebutkan namanya tapi ia terlihat kesal. Kakuzu mengatakan jika berkas kasus mu tidak ada dimejanya dan dia tidak ditugaskan dalam kasus ini tapi, sepertinya orang itu tidak mau tahu dan memaksanya untuk mengambil alih kasus ini. Itachi, apa kau memiliki seorang saingan bisnis?" Itachi menghela nafasnya, Saingan ya? Jelas ada banyak sekali, tapi siapa?

"Jika saingan dalam berbisnis, itu banyak. Tapi aku ragu mereka akan senekat itu untuk melakukan hal murah seperti membakar boutique istriku dan menyerang Sakura." Ujar Itachi, Pria itu terdiam dan tiba-tiba saja ia teringat pertemuannya dengan Hinata pagi ini di rumah sakit,

"Tapi buktinya, Sakura justru membuat Sasuke terbaring dirumah sakit seperti ini jika dia tidak menyelamatkan Sakura tadi malam pasti..." kata-kata Hinta kemarin di rumah sakit tiba-tiba terlintas dalam benaknya, wanita itu tahu apa yang terjadi pada Sakura dimalam kebakaran itu, dia tahu jika Sasuke datang dan terluka, ia tahu sahabatnya hampir mati tapi ia tak berbuat apapun untuk membantunya, ia bahkan menyesali dan menyalahkan Sakura ketika tahu Sasuke terluka karena menyelamatkannya. Wanita itu, jangan-jangan dia...

"Kisame, aku mencurigai seseorang tapi, aku masih ragu jika wanita ini terlibat." Ujar Itachi,

"Seseorang?" Itachi bergumama mengiyakan,

"Hinata Hyuga. Bisa kau tolong selidiki dia, hanya selidiki gerak-geriknya jangan sampai Kakuzu mencurigai pekerjaan mu. Aku akan meminta Kakashi melakukannya juga, jika ada yang meminta Kakuzu mengambil alih pekerjaan mu, itu pasti Neji." Ujar Itachi

"Bukankah keluarga kalian berteman baik? Itachi kau harus memiliki bukti untuk menuduh seseorang atau kau bisa..."

"Balik dituntut dengan tuduhan pencemaran nama baik. Aku tahu itu, maka dari itu aku akan meminta Kakashi untuk menyelidiki dengan caranya sendiri. Aku akan memberitahu mu jika bukti yang kuat bisa kutemukan." Ujarnya,

"Baiklah, aku harus segera kembali ke meja kerjaku, seseorang sedang berjalan mendekat." Itachi bergumam mengiyakan sebelum menekan tombol merah dilayar ponselnya, dan kembali mengantungi ponsel pintarnya,

Jadi begitu ya, Jika kau tidak bisa menumbangkan lawanmu kau menggunakan adikmu untuk menyerang lawanmu dari sisi yang berbeda. Hyuga Neji, Itachi tidak tahu rencanamu tapi, ia tidak akan membiarkanmu lari setelah apa yang kau lakukan pada adik dan calon adik iparnya.

Tokyo International Hospital, Tokyo Japan

Sasuke masuk keruang rawat Sakura. Wanita itu masih menggunakan pakaian rumah sakitnya dan tengah sibuk dengan buku sketsa yang ia letakkan di pangkuannya. Tangan kanannya sibuk membuat guratan kasar diatas lembaran kertas itu dan kedua telinganya sepertinya fokus mendengarkan musik dari kedua earphone yang terpasang dikedua telingannya. Sasuke menutup pelan pintu ruang rawat dan berjalan mendekat. Ia menghela nafas dan menggeleng pelan saat melihat Sakura lagi-lagi mengabaikan makan siangnya.

Sasuke membawa seikat bunga mawar merah kesukaan kekasihnya itu dan meletakkannya kedalam vas disamping tempat tidur pasien Sakura. Membuang bunga mawar yang lama ke tempat sampah lalu mendekat kearah wanita merah jamu yang di cintainya itu. Sasuke tak berbicara apapun, tapi kedua tangannya menarik meja makan khusus pasien milik Sakura dan meletakkan makan siang wanita itu dihadapan wajah cantiknya. Sakura menghentikan kegitannya dan mengangkat wajahnya, sebuah senyum mengembang dibibirnya namun sang kekasih tak membalas.

"Kau sudah datang?" Ujarnya, Sasuke tak banyak bicara, ia membuka tutup saji pada makan siang Sakura dan memberika sendok kepada wanita itu, Sakura tersenyum samar dan menerimanya, Sasuke masih mengacuhkannya dan mengambil alih buku sketsa dan pensilnya, lalu meletakkannya di atas Coffe table di tengah ruangan.

"Sasuke..." Pria itu mengacuhkannya, Sakura tahu Sasuke pasti marah karena ia megabaikan makan siangnya lagi hari ini,

"Sasuke, kau tidak mau duduk disini dan menemaniku makan?" Tanyanya lagi, pria itu masih diam dan membuka buku Sherlock Holmes entah edisi yang keberapa dan mulai membaca, atau setidak nya ia pura-pura membaca.

Sakura menghela nafas pasrah dan menyendokkan nasi dan sup kedalam mulutnya perlahan. Ia melihat Sasuke sudah tak mengenakan pakaian rumah sakitnya dan justru menggunakan setelan santainya. Sakura meletakkan sendoknya dan meminum jus jeruknya, wanita itu bersandar pada ranjangnya dan menatap keluar jendela.

"Sasuke-kun kau benar-benar tidak mau menemaniku?" Kun, Sasuke menghela nafansya dan meletakkan buku bacaannya diatas meja begitu mendengar Sakura memanggilnya dengan suffix yang satu itu, dia menyerah. Wanita merah jambu ini tahu dimana kelemahannya.

"Kau marah?" Sasuke hanya diam saja dan mengambil alih mangkuk nasi Sakura dan sendoknya,

"Makanlah." Sakura tersenyum mendengar suara pria itu untuk pertama kalinya hari ini,

"Dokter sudah memperbolehkanmu pulang ya?" Tanyanya, Sakura mengambil alih sendok dan mangkuknya sekali lagi dan menyantap makan siangnya,

"Hn." Ujarnya, Sakura menatap pria Uchiha itu dan meletakkan makan siangnya,

"Ada apa? Aku tahu kau punya gagasan dalam benak mu yang minta dilepaskan. Katakan saja padaku ada apa?" Sasuke bersandar pada kursi yang didudukinya lalu mengambil tangan Sakura dalam genggamannya,

"Sakura, ayo kita tinggal bersama." Wanita itu membulatkan sepasang iris jadenya sempurna setelah mendengar pernyataan Sasue.

"Sasuke, aku..." Sasuke menatapnya dengan sebelah alis terangkat,

"Aku tahu kau pasti akan menolak tapi, aku khawatir tentang keselamatan mu setelah kejadian dua hari yang lalu." Sakura tersenyum lembut dan menyentuh wajah kekasihnya itu,

"Aku baik-baik saja, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Sasuke berdecak kesal mendengar respon menyepelekan kekasihnya itu,

"Kau hampir mati. Jadi ini jelas bukan sesuatu yang biasa-biasa saja." Ujarnya lagi, Sakura menghela nafansya,

"Aku punya kau, jadi aku tak akan takut mati. Karena aku memiliki Uchiha Sasuke yang tak akan membiarkan aku mati. Aku benar kan?" Sasuke terdiam dan melihat kearah jade milik wanita Haruno itu,

"Sakura aku mohon fikirkan ini." Sakura tersenyum dan mengangguk,

"Aku sudah memikirkannya sekarang dan jawabannya adalah tidak. Jika aku tinggal denganmu lalu bagaimana dengan ibuku? Sasuke, biarkan ini semua berjalan sebagaimana mestinya. Aku akan baik-baik saja, aku berterimakasih karena semua yang kau lakukan untukku tapi aku masih punya ibuku yang harus ku pedulikan juga." Sasuke menghela nafasnya frustasi mendengar jawaban Sakura,

"Baiklah, tapi ada peraturan baru yang harus kau turuti." Sakura tertawa mendengar pernyataan Sasuke,

"Aku serius, nona Haruno." Sakura menghentikan tawanya dan membiarkan Sasuke melanjutkan,

"Tidak ada bekerja sampai larut malam, aku akan mengantar jemput dirimu jika aku berhalangan dan sedang berada di tempat yang jauh, Juugo akan menjemput dan mengantarmu. Hubungi aku setiap hari dan jangan lupa sarapan, makan siang dan makan malam.

Menginap di apartementku setiap akhir pekan dan aku akan menginap di minggu berikutnya, bagaimana?" Sakura tertawa sekali lagi mendengar persyaratan baru yang diminta Sasuke kepadanya,

"Kau mendapatkan banyak keuntungan dari permintaan mu." Ujarnya, Sasuke tertawa rendah dan mengangguk,

"Percayalah padaku, aku berusaha seminimal mungkin untuk membuatmu juga mendapatkan keuntungan yang sama." Sakura tersenyum lebar lalu mengangguk.

"Deal." Ujarnya, Sasuke mengelus surai merah jambunya lembut sebelum mengecup kening dan puncak kepala putri tunggal keluarga Haruno itu,

"Habiskan makan siang mu." Sakura mengambil sendoknya dan mulai makan sekali lagi, Sasuke memperhatikannya dan sesekali mengusap ujung bibirnya saat ada makanan yang tertinggal disana.

Hinata mengurungkan niatnya untuk memutar handle pintu ruang rawat Sakura dan memilih untuk berdiri didepan ruangan rawat wanita merah jambu itu. Tawa Sasuke dan Sakura terdengar jelas dari dalam ruangan, ia menghentikan niatnya untuk masuk dan menengok keadaan Sakura ketika mendengar tawa mereka berdua. Mereka bahagia, mereka bahagia ketika ia tengah menderita.

Sakura, ia masih hidup. Wanita merah jambu itu berhasil melewati masa kritisnya dan sekarang ia baik baik saja. Hinata menatap tangan kanannya yang bebas tak membawa bunga dan bingkisan untuk Sakura. Ia bahkan sudah mengotori tangannya dan mimpi buruk sudah menghantuinya tapi wanita itu masih baik-baik saja dan sekarang sedang tertawa dengan Sasuke? Dengan Sasukenya?

"Hinata?" Wanita itu terlonjak, Hana Uchiha berjalan mendekat kearahnya sambil mendorong stroller yang di tumpangi putrinya,

"Hana-nee?" Hana menaikkan sebelah alisnya, bagaimana caranya wanita indigo itu ada disini? Bukankah Itachi sudah memerintahkan anak buahnya agar bungkam tentang kejadian dua hari yang lalu bahkan teman dekat adik iparnya dan Sakura tak ada yang mengetahui kejadian ini? Lalu bagaimana caranya Hinata bisa sampai disini.

"apa yang kau lakukan disini?" Hinata terdiam, ia nyaris menjatuhkan buket bunga mawar merah dan bingkisan dari tangannya karena gugup,

"Ak...aku, aku mendapat kabar jika Sakura mengalami musibah dan menjadi korban kebakaran boutique milik nee-san, jadi aku memutuskan untuk datang dan menengok keadaanya." Hana masih terdiam dan mengamati wanita indigo itu,

"darimana kau dapatkan beritanya Hinata?" Wanita itu terlihat agak panik untuk beberapa detik, namun raut wajahnya kembali stabil sebelum menjawab pertanyaan Hana,

"Ano, aku berencana memesan pakaian untuk... untuk hari pertunangan ibuku dan kekasihnya Mark di Vancouver bulan depan. Aku berniat meminta bantuan Sakura makanya aku boutique Hana-nee pagi ini. Tapi, yang aku dapatkan malah bangunannya sudah habis terbakar dan di segel garis polisi." Hana masih tak bergeming dari tempatnya,

"Begitu? Karena kau sudah disini, kenapa kau tidak masuk sajaa?" Tanya Hana,

"Ehm... aku ingin masuk tapi sepertinya, Sakura sedang bersama Sasuke. Aku takut mengganggu keduanya." Hana mengangguk paham, lalu berjalan mendekati Hinata dan membuka pintu ruangan,

"Kau bisa masuk bersamaku, kita... sudah seperti keluarga bukan? Lalu kenapa harus canggung begitu?" Hinata menunduk dan mengikuti Hana yang masuk terlebih dahulu, ia bisa melihat Sasuke terkejut melihat kehadirannya dan berdiri dari tempatnya duduk,

"Hinata?" Hinata tersenyum canggung kepada Sasuke yang dibalas tatapan datar pria itu padanya,

"Sasuke-kun." Sasuke melempar pandangan bertanya pada Hana namun kakak iparnya itu memberikan padangan 'akan kujelaskan nanti' kepadanya,

"Hinata, ah... apa Profesor Kurenai menanyai ku karena tidak ada kabar dua hari ini?" Sakura bertanya ketika melihat Sahabatnya itu, Hinata mengangguk,

"Shion juga, aku sebenarnya ingin menemui mu di boutique pagi ini untuk memesan gaun tapi, aku justru mendapatkan kabar ini. Kau baik-baik saja bukan?" Sakura sudah melupakan makan siangnya dan tersenyum menenangkan kepada sabatnya itu,

"Aku baik-baik saja." Sasuke memutar bola matanya,

"Dia hampi mati, jadi dia tidak baik-baik saja." Sakura meninju pelan lengan kekasihnya itu dan kembali beralih kepada Hinata, .

"Jadi, bagaimana dengan gaunnya?" Sakura meminta Hinata berjalan mendekat kearahnya dan mulai membicarakan gaun yang dimaksud Hinata, ia bahkan meminta bantuan sasuke untuk mengambil buku sketsanya yang tadi diletakkan Sasuke di atas coffee table di tengah ruangan, sementara Sasuke kembali duduk di soifa di tengah ruang rawat Sakura dan berbicara dengan suara pelan dengan Hana.

H&G boutique , Tokyo Japan

Ketika ia tiba dilokasi kejadian kebakaran dua hari yang lalu itu, garis polisi sudah terpasang di sekitar boutique milik Hana Uchiha yang terbakar hangus dan beberapa petugas kepolisian tengah berada di lokasi untuk melakuka pemeriksaan. Kisame melompati garis polisi dan berjalan mendekat ke lokasi kejadian. Ia berjongkok dihalaman parkir di depan boutique dan mengambil sebuah pematik api dan pisau lipat yang terjatuh dihalaman parkir. Kisame mengambil sarung tangan karetnya dan ziplock bag dari dalam kantung rompi bertugasnya. Pria itu mengambil dengan hati-hati dua benda itu dan mememasukkannya kedalam ziplock bag sebelum mengantunginya kedalam rompi kepolisiannya.

Salah seorang anak buahnya berlari menghampirinya begitu menyadari jika ia sudah tiba dilokasi kejadian. Pria berusia awal dua puluh tahunan itu memberikan hormat padanya dan mulai melapor.

"Semuanya hangus terbakar,pak. Tidak ada yang tersisa." Ujarnya, Kisame menghela nafasnya, pria itu melihat kesekelilingnya dan pandangannya terpaku pada CCTV yang dipasang di pinggir tiang listrik di seberang jalan.

"Kau sudah periksa CCTV?" Anak buahnya itu terdiam dan menggeleng,

"Dimana pos keamananya?" Anak buah Kisame menunjuk post satpam disebelah kiri gerbang masuk boutique dan berjalan tanpa menjawab rasa penasaran anak buahnya,

Kisame berjalan mendekat dan masuk kedalam ruang Security yang dijaga oleh tiga orang security berpakaian serba hitam. Pria bertubuh tinggi besar itu membalas singkat sapaan para Security yang sontak langsung berdiri bergitu melihat kehadirannya.

"bisa kalian tunjukkan rekaman CCTV pada malam kebakaran?" Ketiga petugas keamanan itu mengngguk secara bersamaan, lalu seorang dari mereka melangkah maju dan menyalakan layar TV dan menyetel kaset rekaman CCTV pada malam kejadian.

Kisame mengerutkan keningnya, saat beberapa orang berpakaian hitam berlalu lalang di depan boutique sejak pukul enam sore. Ia berusaha melihat lebih dekat tapi ia tak bisa mengenali wajah salah satu dari mereka karena tertutup rapih menggunakan Hoodie dan topi baseball. Tapi dari postur tubuhnya ia bisa melihat kalau hampir semuanya yang mengintai boutique milik Hana adalah pria dengan tinggi badan rata-rata 185 cm.

Kisame masih mengamati rekaman CCTV itu hingga nyaris tiga atau empat jam di dalam ruang security. Hana Uchiha meninggalkan boutique pada pukul sepuluh, Itachi sendiri yang menjemputnya. Dan setelah mobil Itachi meninggalkan lapangan parkir boutique mahal itu, ia bisa melihat kalau beberapa karyawan langsung menutup boutique dan berpamitan pulang, ia tidak melihat Sakura Haruno keluar sama sekali kecuali saat pukul tujuh saat pesanan makanan siap saji yang ia pesan tiba di boutique, wanita itu hanya keluar untuk mengambil pesanan dan membayarnya lalu kembali masuk kedalam.

Kisame duduk bersandar pada kursi pelastiknya dan menyalakan pematik apinya. Salah seorang anak buahnya masuk dengan satu gelas besar starbucks dan menyerahkannya padanya. Kisame tengah menyulut batang rokok keduanya ketika tiba-tiba rekaman menunjukkan pukul sebelas malam, pria itu memilihat seorang wanita dan empat orang pria masuk kearea boutique disusul tiga orang lainnya yang menghajar security dan mengikat tiga orang security itu didalam pos jaga. Lagi-lagi a berdecak kesal, satu-satunya wanita di gerombolan itu juga menutup wajahnya dengan rapat dan nyaris tak bisa dikenali.

"kalian punya rekaman CCTVdi dalam?" Tanya Kisame,

"Kami memilikinya detektif, apa anda juga ingin memeriksanya?" Kisame mengangguk, pria yang berdiri dihadapannya menyerahkan kaset CCTV lain dan menyetelnya, Kisame mengamati gerak gerik mereka.

Mereka tidak mencuri ataupun merampok. Mereka hanya menghancurkan beberapa etalase dan merobek beberapa gaun secara acak dan begerak terus melewati ruangan Hana. Kelima orang itu masuk keruang workshop dan melakukan hal yang sama.

"Boleh aku tahu, siapa yang sedang merencanakan pagelaran busana ? Nyonya Uchiha atau Nona Haruno?" Tanya Kisame,

"Nona Haruno, detektif." Sepasang iris hitam nya masih terpaku melihat wanita didalam rekaman itu merobek dan menghancurkan design milik Sakura, tidak ada barang yang dirampok berati kasus ini murni sabotase pagelaran busana milik Sakura.

Kisame masih terus mengamati layar tv ketika pada akhirnya ia melihat Sakura keluar dari ruangannya dan menghampiri sumber keributan, dua orang dari gerombolan itu memblokir pukulannya dan balik menendang perutnya hingga tubuh Sakura terpelanting kebelakang. kejadian penusukkan dan percobaan pembunuhan Sakura dimulai disitu. Setelah bersitegang dan Sakura berusaha menyelamatkan diri, wanita itu menusuknya Saat Sakura akan membuka penutup mulutnya. Lalu lari keluar. Ia meninggalkan dua orang anak buahnya yang tidak sadarkan diri akibat pukulan yang diakibatkan Sakura menggunakan pemukul baseball.

Wanita itu belari keluar sendirian, sepertinya kedua anak buahnya yang lain sudah keluar terlebih dahulu. Kisame menggeser tombol Switch dan layar menampilkan kejadian diluar gedung. Dua orang yang tadi masuk bersama wanita itu tengah menyiram bensin di sekitar gedung dan ketika mereka selesai. Wanita misterius itu mengambil korek api mereka dengan paksa dan melempar korek api yang menyala itu kearah bangunan yang sudah disirami bensin terlebih dahulu.

Kisame menekan tombol Off pada remote control dan diam termenung untuk sesaat. Kasus ini bukan perampokan melainkan sabotase pagelaran busana dan masalah pribadi antara wanita misterius itu dan Sakura. Kisame mematikan rokoknya dan menyeruput kopinya sebelum memandang kedua anak buahnya dan bicara.

"Apa hasil autopsi sudah keluar dari pihak forensik?" Tanyanya, Kedua anak buahnya itu mengangguk dan menyerahkan map kuning kepadanya,

"bukankah mereka anggota Yakuza yang masih buron dari kasus yang kita tangani tahun lalu?" Kedua anak buahnya mengangguk,

"Cari tahu siapa saja yang menggunakan jasa mereka." Ujar Kisame,

"Tapi pak, akan sulit jika kita ..."

"Aku tahu berapa banyak pengusaha kotor yang menggunakan mafia sialan itu untuk menghindari pajak dan perdagangan Narkotika. Mereka adalah gerombolan milik Omoi dan Darui, pantau keduanya. Dengan sendirinya, para anjing-anjing itu akan menuntun kita pada tuannya." Ujar Kisame,

"Satu lagi, Denki. Kau ikut aku ke kantor CCTV kota Tokyo. Wanita itu dan anak buahnya tidah membawa mobil, tapi mustahil mereka bisa menghilang secepat itu seperti Hantu. Kemungkinan mereka memarkir mobil di seberang jalan, aku tidak bisa membongkar kotak CCTV di pinggir jalan itu tanpa meminta izin mereka. Ayo!" Kisame keluar dari ruangan itu dan masuk kedalam mobil jeepnya sebelum meninggalkan lokasi kebakaran.

Kantor Kepolisian Tokyo, Jepang

Ia melempar kasar map kasus ringan lain yang mampir kemejanya. Ia tidak percaya ini, Khasus kebakaran dan percobaan pembunuhan yang di maksud Neji sama sekali tidak ada di mejanya. Ia mengusap wajahnya kasar, Neji masih terus menterornya dan mengancamnya. Jika sampai hari ini ia masih tak bisa mengambil alih kasus itu,tamatlah riwayatnya. Kakuzu menyandarkan tubuhnya menatap plafond kantor polisi Tokyo diatas kubikel tempatnya bekerja.

Dimana? Siapa yang mendapatkan kasus itu? Kepala polisi Kagami tak akan mungkin turun tangan sendiri untuk memecahkan kasus yang dilaporkan sendiri oleh keponakannya. Ia adalah Kepala Kepolisan, mustahil jika ia mengambil alih kasus itu. Jadi siapa? Kakuzu memutar kursi kerjanya dan tiba-tiba berhenti. Kisame. Detektif cerdas itu pasti yang menanganinya. Sangkalan yang ia berikan di pantry waktu itu, Kisame pasti menyadari sesuatu terlebih lagi, konan adalah polisi yang mulutnya kelewat besar untuk ditutup barang lima menit saja.

Kakuzu melihat kubikel milik Kisame yang bersebrangan dengan kubikel meja kerjanya. Tidak banyak kasus yang ada di atas meja polisi yang juga bekerja untuk interpol itu. Hanya ada dua atau tiga map kasus yang di tanganinya dan semuanya diberi map merah. Benar-benar kasus tingkat atas dan internasional. Ia ragu, jika kasus Itachi dan Istrinya masuk kedalam daftar kasus yang harus diselesaikan saingannya itu.

Tapi, ia tidak punya pilihan lain. Lebih baik memastikan dan mendapatkan jawaban seadanya dari pada nyawanya melayang malam ini tanpa perlawanan. Polisi Korup itu melihat ke sekelilingnya, sepi, sebagian besar rekan sesama polisinya pasti tengah makan siang di kantin dan beberapa berpatroli. Kakuzu mengabaikan tumpukkan kasus diatas mejanya dan menghampiri kubikel kerja Kisame. Pria itu memeriksa satu-persatu kasus yang di tangani oleh Kisame tapi pria itu tak dapat menemukan kasus kebakaran dan percobaan pembunuhan. Rata-rata kasus yang di tangani oleh Kisame adalah, Penyelundupan senjata ilegal, Narkotika, perdagangan wanita dan anak-anak tingkat international dan teror bom di pusat perbelanjaan di Tokyo. Ia menghela nafasnya frustasi, ia tak bisa menemukan apapun yang berhubungan dengan kebakaran dan percobaan pembunuhan. Ia sudah bisa menduganya.

"Mencari sesuatu Kakuzu?" Pria itu terlonjak. Kisame sudah berdiri dibelakangnya menaruh separuh beban tubuhnya pada kubikel kerjanya,

"Yah, aku kira mungkin saja kau punya... aku membutuhkan kertas untuk menulis laporan, kau lihat banyak kasus yang harus kutangani." Ujarnya, Kisame menatapnya datar dan berjalan melewatinya, duduk di kursi berputarnya dan menyalakan komputernya sambil memeriksa map kasus berikutnya yang harus ia tangani,

"Kau sepertinya punya lebih banyak kertas daripada yang aku miliki, Kakuzu. Lagi pula, kasus mu itu semakin lama semakin bertambah banyak dan menumpuk. Apa kau tidak pernah menyentuhnya? Berhentilah main-main dengan mafia dan lakukanlah tugasmu sebagai seorang polisi." Ujar Kisame sambil menunjuk tumpukan kertas diatas meja Kakuzu dengan wajah acuhnya,

"adalagi ?" Tanya Kisame lagi, namun polisi korup dihadapannya itu tak membalas satu katapun darinya dan melenggang pergi. Ia tidak kembali kekubikelnya melainkan kearah lain, pria itu keluar dari gedung kator polisi dan menghilang entah kemana. Kisame menghela nafansya, pria itu menatap layar ponselnya, mengeluarkan hasil buruannya dari dalam rompi bertugasnya itu, pria itu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.

"Izumi aku butuh bantuan mu. Bisakah kita bertemu?" Tanyanya,

"Ada apa? Apa kepala Polisi Kagami memberimu tugas rahasia lagi dan kau butuh aku untuk menyelediki bukti yang kau kumpulkan?" Kisame bergumam mengiyakan,

"Hm." Ujarnya,

"Aku ada di Lab, dan Lab sedang kosong sekarang. Kau bisa datang, kita punya waktu sekitar satu jam." Ujar wanita berdarah Uchiha itu,

"Aku akan tiba dalam sepuluh menit." Kisame terdiam sesaat memastikan tak ada siapapun yang berusaha mencuri dengar pembicaraannya,

"Tolong pastikan tidak ada siapapun termasuk Kakuzu." Ujarnya,

"Aku mengerti." Setelah mendengar jawaban Izumi, pria itu bergegas keluar dari ruangannya dan menyusuri lorong panjang sebelum menuruni tangga dan masuk kedalam Lab tempat rekan kerjanya menunggu.

Bill and Guilliana Mark's House Paris, France

Bacon, Susu dan france toast, juga ia bisa mencium aroma ekspresso kesukaannya begitu ia memasuki dapur. Guilliana sudah rapih dengan setelan kantor berlapis apron bergambar buah miliknya, kedua tangannya sibuk berkutat dengan bahan makanan yang ia olah untuk sarapan pagi mereka. Ia berjalan mendekat, memberikan kecupan selamat pagi dan membatu Guilliana meletakkan sarapan yang sudah siap di piring keatas meja makan lalu pergi kekamar putranya, Duke untuk mengganti popoknya dan menaruhnya di kursi tinggi kusus anak-anak.

Ketika Guilliana telah menyelesaikan pekerjaannya di dapur, wanita itu duduk bergabung dengannya di meja makan dan membuka segel kaleng Solid food rasa nanas untuk sarapan pagi putra mereka yang baru berusia tujuh bulan.

"Aku dengar Sasuke akan ke Paris untuk menemuimu?" Ujar Guilliana, Bill menurunkan koran paginya dan melipatnya lalu, menyuruput kopi dan memotong bacon dan roti bakarnya,

"Perubahan rencana, Itachi sendiri yangakan datang menemuiku. Sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi pada sahabatmu." Ujar suaminya itu, Guilliana menghentikan kegiatannya yang tengah menyuapi putranya dan menatap suaminya,

"Maksudmu?" Tanya Guilliana,

"Boutique Hana kebakaran, yang kudengar dari Itachi kekasih Sasuke menjadi korban dan nyaris mati. Tapi syukurlah wanita itu selamat, aku dengar kau bertemu dengannya saat Tokyo Fashion Week tiga bulan yang lalu." Guilliana, mengangguk dan tersenyum samar,

"Dia gadis berbakat yang punya potensi besar dalam dunia Fashion. Apa ini adalah kasus perampokan?" Bill menggeleng,

"Itachi belum mau menduga-duga, ia menyerahkan kasus ini untuk di selidiki secara diam-diam." Bill menyentuh pipi Duke dan membuat bayi berusia tujuh bulan itu tertawa, namun dering ponselnya kembali membuat ruangan menjadi hening.

Bill menatap layar ponselnya datar, menatap nama si pemanggil pria itu berjalan keluar ruang makan dan meninggalkan Guilliana dengan segudang pertanyaan. Bill tidak pernah menjauh darinya hanya untuk menjawab sebuah telfon.

"Hyuga." Ujarnya,

"Ah... Mr. Mark, aku bertaruh anda sudah mendengar kabar yang menimpa Sakura Haruno dan Sasuke Uchiha bukan?" Bill terdiam, pria itu memandang langin cerah kota paris dari halaman belakang rumahnya,

"Kau mau mengancamku dengan hal itu, Neji?" ujarnya,

"Aku hanya memberimu satu kesempatan untuk merubah fikiranmu. Sebelum kontrak di tanda tangani antara Uchiha dan Empire, kau bisa berpaling ke perusahaanku." Bill tersenyum mengejek, dan menjawab sulung Hyuga itu dengan tegas,

"Aku tidak tertarik dengan tawaran anda Hyuga. Kami orang Perancis memiliki idealisme kami sendiri. Ya, Korupsi adalah awal kehancuran sejarah monarki kami namun, hal itu juga yang membuat kami menjadi negara pertama di Eropa yang menghancurkan sistem monarki dan mencetuskan sistem republik.

Karena kasus korupsi Marrie Anttonite, istri Napoleon Bonaparte II kami berani berani menjatuhkan raja kami dan menghukumnya di tiang pancungan. Kau tahu kenapa kami melakukan itu? Kami orang Perancis benci korupsi.

Ini proyek pemerintah Tuhan Hyuga, sudah ku katakan berkali-kali padamu jika kau menginginkan proyeknya lakukan dengan benar. Ikuti tendernya dan bersaing secara sehat. Aku memilih perusahaan Uchiha untuk bekerja sama karena aku percaya pada Itachi. Tak ada setitik nodapun yang menodai repurtasinya, dan perusahaanya.

Aku tahu bagaimana caranya dia berbisnis dan dia pebisnis yang bersih. Aku bisa jamin padamu, bahkan kalimat pertama dalam penawaran tendermu saja, kalah jauh dibanding dengan penawaran yang diajukan Sasuke Uchiha yang saat itu masih di bangku kuliah. Aku mempercayai kakak beradik itu untuk proyek ini dan apapun ancaman yang kau berikan padaku, aku tak akan merubah keputusanku." Ujarnya, Ia mendengar Neji tertawa,

"Ceramahmu tentang sejarah terkelam revolusi perancis terdengar membosankan sekali tuan Mark, dan kalimatmu tentang rasa nasionalismemu dan idealisme mu tentang seorang pebisnis yang bersih tanpa korupsi terdengar munafik bagiku.

Dengarkan aku, fikirkan baik-baik untuk membatalkan kerjasama mu dengan Uchiha dan membangun kerja sama dengan kami atau, ucapkan selamat tinggal pada istri dan putramu." Bill berbalik, mencari keberadaan paling tidak salah satu anak buah Neji di sekitar rumahnya tapi tak menemukan siapapun,

"Aku tetap tidak akan merubah keputusan apapun, dengan atau tanpa kau ancam. Selamat pagi, Tuan Hyuga." Dengan satu sentuhan ringan Bill menekan tombol merah pada layar ponselnya dan melangkah masuk kedalam rumah, ia tahu ia berhadapan dengan siapa dan jika dugaannya benar, semua kejadian yang menimpa Itachi dan keluarganya mungkin berkaitan dengan ini juga. Neji Hyuga, ia tidak habis fikir jika pria dengan pembawaan tenang itu ternyata adalah seorang yang cukup berbahaya.

TBC. Weh, akhirnya setelah menerima lebih dari dua puluh atau tigapuluh desakan dari kalian untuk cepet-cepet update, saya menyerah dan update juga. Wkwkkw bukannya gak mau nge update cepet, tapi ini prequel jadi saya agak hati-hati buat ngerlanjutin tiap chapternya, berusaha buat gak messed up apapun yang udah jadi di fict stronger karena setiap cerita disini bersangkutan.

Maafkan saya kalo makin lama makin membosankan wkwkw, semoga kalian gak bosen buat baca dan review, semoga chapter kali ini memuaskan. Btw, atas permintaan kalian semua, saya juga bakal post ulang semua fict SasuSaku di Wattpad, accountnya ada di bawah ini:

falexandreia

Silahkan kalo ada yang berminat untuk memfollow, akhir kata wkwkkw saya ucapkan terimakasih.

-regards, Aphrodite Girl 13

Ps: saya akan update di FFN dan Wattpad, jadi biar adil saya gak meninggalkan FFN dan saya akan update Wattpad buat temen temen yang gak ada account FFN, jangan lupa baca Original Writting saya juga kalo mampir di wattpad yaaa.