Chapter 8
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : NaruSasu (Naruto x Sasuke)
Genre : Friendship, Romance, Yaoi, Shounen Ai
Warning : AU, Multi chapters, Gaje, Typo, OOC, alur maraton, yaoi, dan hal absurd lainnya.
Note : If you dont like or hate this fanfic, Dont read!
Oh iya.. Kemaren ada yang bilang kalau ceritaku itu berlebihan. Aku tauuuuu... Maapkan akuuuuu... Aku sadar ceritanya makin ancur. Soalnya sempet kena WB terus jadi gak karuan. Tapi makasih udah ngasih tau aku. Aku gak terlalu kepikiran buat masangin atau buat semuanya jadi suka sama naruto,, tapi yah otakku jadi begini aku gak ngerti lagi uuuhuuuu 😠aku sebenernya pengen buat yang gak ada orang ketiganya gitu, kalo kata Nozaki-kun 'Cinta murni' wkwkwk tapi ternyata susah sepupu - sepupuuuu... Aku gak akan berhenti buat NaruSasu karena aku cinta NaruSasu. Jadi sekali lagi maap kalo ceritanya tambah ancur.
.
.
Dihari kedua ini, Sasuke memutuskan untuk tidak jalan - jalan ke taman hiburan seperti yang direncanakan. Naruto memutuskan untuk menemani Sasuke. Gaara dan Neji juga memutuskan untuk tinggal di Vila, sedangkan Shino beralasan malas.
Oleh karena itu, jalan - jalan hari ini terasa sangat sepi karena hanya ada Shikamaru, Kiba, Lee, Chouji, dan Sai yang ikut. Biasanya mereka bersepuluh selalu bersama. Tetapi, masalah kemarin malam membuat persahabatan mereka di ambang kehancuran.
Shikamaru melihat Kiba yang pendiam dari biasanya. Maka dari itu Shikamaru mencoba tertarik dan semenyenangkan mungkin pada setiap wahana yang ingin mereka mainkan. Walaupun tak berjalan dengan baik.
Shikamaru khawatir juga akan Kiba. Jika Kiba seperti Gaara dan Sai, ia tidak tahu harus apa lagi. Tiba - tiba otak jeniusnya jadi tumpul. Ia hanya ingin bersama lebih lama bersama Kiba, tapi jika begini terus Kiba akan menjadi orang lain bukan Kiba yang ia kenal.
Shikamaru menyukai Kiba yang berisik, yang terus tersenyum, tertawa tanpa sebab, selalu tertarik pada hal yang sepele, seperti anak kecil, tapi Shikamaru menyukainya.
Awalnya Shikamaru merasa heran pada Sasuke, kenapa bisa - bisanya ia jatuh cinta pada pemuda pirang yang tidak bisa diharapkan seperti itu. Tapi sekarang Shikamaru bisa memahami Sasuke, menyukai seseorang tanpa alasan.
Shikamaru bahkan tidak tahu kenapa ia bisa mencintai pemuda yang kelewat aktif ini. Tidak ada alasan yang pasti, ia hanya ingin bersama selamanya. Bergandeng tangan dengannya dan melakukan hal yang lebih jauh dengannya. Shikamaru ingin melakukan itu semua dengan Kiba.
Tapi sekarang Kiba bukan Kiba yang Shikamaru kenal.
"Hei, Kiba! Ayo naik Kora - Kora di sana!" Shikamaru menarik Kiba yang hanya mengikuti kemanapun Shikamaru pergi. Mereka berpencar ke sembarang arah melupakan Shikamaru dan Kiba yang memisahkan diri.
Setelah bermain dengan wahana kora-kora Shikamaru dan Kiba memutuskan untuk makan siang di kafetaria. Shikamaru memulai membuka suara ketika keheningan melanda.
"Tidak biasanya kau diam begini. Ada apa?" Tanya Shikamaru yang mulai menyendok Yakisobanya.
"Tidak ada. Hanya kurang bersemangat saja." Ucap Kiba yang hanya meminum Ice Cappuccino tanpa makanan di depannya.
Shikamaru menyudahi acara makannya, Shikamaru menghela nafas mendapatkan Respon yang dikeluarkan oleh Kiba.
"Aku ingin menanyakan sesuatu.." Shikamaru memandang keluar jendela lalu kembali memandang Kiba.
"..Apa kau menyukai Naruto?" Shikamaru bersumpah dia melihat mata Kiba membulat walau hanya satu detik, setelah itu kembali seperti semula. Tebakan Shikamaru tepat sasaran. Shikamaru merasakan hatinya berdenyut ketika mendapat respon diam dari Kiba.
"Apa yang akan kau lakukan sekarang?" Shikamaru bertanya lagi. Kiba masih diam. Shikamaru menghela nafas, bukan karena mendapat respon diam dari Kiba, tapi mengatasi rasa sakit yang menyeruak di dadanya.
"Ngomong-ngomong Naruto hebat ya? disukai oleh semua orang termasuk dirimu." Kiba mengangguk menyetujui kata-kata dari Shikamaru.
"Apa yang kau lihat dari Naruto?" Tanya Shikamaru.
"Tidak ada." Akhirnya Kiba bersuara. Walaupun jawabannya tidak masuk akal.
"Maksudmu tidak ada alasan untuk menyukai seseorang, begitu kan?" Ucap Shikamaru. Kiba mengangguk.
"Aku mengerti perasaanmu, Kiba. Aku juga sama sepertimu." Kiba menganggak wajahnya sampai di depan wajah Shikamaru dengan tampang kaget.
"Kau juga suka Naruto?"
"Bukan!" Kiba duduk kembali sampai mendengus.
"Mana mungkin aku menyukai orang itu." Lanjut Shikamaru.
"Yah.. Kalau kau juga menyukai Naruto, akan lebih mudah membuat Sasuke pergi dari Naruto." Ucap Kiba lalu meminum Ice Cappuccino nya. Shikamaru melotot mendengar itu dari mulut Kiba sendiri.
"KIBA!" Shikamaru membentak Kiba membuat Kiba tersedak minumannya karena kaget akan Shikamaru yang tiba - tiba.
"Naruto dan Sasuke itu teman kita. Kau tidak seharusnya punya pemikiran seperti itu." Lanjut Shikamaru yang masih membentak Kiba. Kiba yang tidak terima d8 bentak - bentak oleh Shikamaru mulai membalas.
"Kau tidak mengerti, Shika. Aku—"
"—Aku mengerti!" Potong Shikamaru.
"Aku sungguh mengerti. Orang yang kau sukai malah menyukai orang lain. Apalagi orang itu temanmu sendiri. Aku merasakannya juga. Rasanya seperti kau ingin membunuh orang yang berani - beraninya mengambil hati orang yang kau sukai. Benar begitu kan? Aku juga merasakannya!" Ucap Shikamaru semakin lirih. Kiba tidak pernah menyangka bahwa Shikamaru ternyata bisa mencinta. Ia pikir Shikamaru adalah manusia tak berperasaan.
"Kalau kau mengerti, kau harus membantuku." Kiba berucap tak kalah lirih.
"Tidak bisa." Shikamaru menunduk dalam.
"Kenapa?"
"Karena aku mencintaimu." Kiba merasakan pendengarannya tidak berfungsi, paru - parunya berhenti berkerja, dan otak bodohnya tidak dapat memahami dituasi di depan sini.
"Tidak! Aku bisa!" Shikamaru tersenyum.
"Kalau untukmu aku bisa. Aku akan melakukan apapun." Lanjut Shikamaru.
"Jika kau bahagia aku akan bahagia. Jadi tolong jangan membenciku." Shikamaru menggenggam tangan Kiba yang berada di atas meja.
Ini adalah pertama kalinya Kiba melihat wajah terluka sang Shika. .
.
"Shikamaru dan Kiba kemana sih?" Chouji celingak celinguk mencari keberadaan teman - temannya tetapi sepertinya tidak ada.
"Biarkan mereka berdua. Kita bermain saja bertiga." Usul Sai yang mendapat anggukan dari Lee.
"Kalau begitu, kita tuntaskan semua wahana yang ada di sini." Ujar Lee dengan semangat berapi api. Ada kalanya tingkah Lee bisa membuatnya melupakan sejenak kejadian yang tak mengenakan kemarin. .
.
Sebelum puas bermain, mereka berlima memutuskan untuk pulang. Padahal masih jam dua siang tapi Kiba ribut minta pulang. Akhirnya mau tidak mau mereka pulang dan kembali ke Vila.
Kiba berjalan kearah kamar karena sangat lelah membawa beban dihatinya. Ia ingin tidur siang saja. Tapi sebelum Kiba masuk ke kamar, ia melihat Naruto membuka pintu untuk masuk kedalam kamarnya sendiri. Tapi bukan itu yang menjadi perhatian Kiba, tubuh babak belur Naruto yang membuat Kiba tertarik kearah Naruto.
"Naruto!" Kiba berlari menghampiri Naruto yang sbelumnya ingin masuk ke kamar.
"Ah, Kiba. Sudah pulang?"
"Kau kenapa?" Tanya Kiba sambil mengusap perban yang ada di wajah dan tangan Naruto.
"Ah.. Ini.. Aku tidak apa - apa." Ucap Naruto menjauhkan tangan Kiba.
"Kau terlihat mengerikan. Tidak mungkin tidak apa-apa. Apa yang terjadi?" Naruto bingung bagaimana menjelaskannya. Sebenarnya ia tidak ingin memperpanjang masalah ini, tapi melihat wajah super khawatir dari Kiba membuat ia menceritakan kejadian tadi.
"Sebenarnya ada seseorang yang ingin mencelakakan Sasuke, aku mencoba mencegahnya, tapi aku malah dipukuli. Hehe" Naruto menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan menyengir tidak enak.
"Kau tidak melawan?"
"Aku pikir jika orang itu puas memukuliku, maka dia tidak perlu menyakiti Sasuke." Kiba menyerit ketika mendengar alasan bodoh dari Naruto.
"Kau melakukan ini demi Sasuke?"
"Maaf membuatmu khawatir." Ucap Naruto yang mendapat gelengan dari Kiba. Naruto pamit masuk kedalam kamarnya. Ketika pintu itu di tutup, Kiba masih mematung memandang pintu yang di tutup tadi.
Kalau Naruto sampai seperti itu hanya demi Sasuke, apa itu artinya tidak akan ada kesempatan untuk Kiba?
Shikamaru yang melihat Kiba dari kejauhan hanya bisa meremas dadanya. Ia tidak bisa membuat Kiba larut dari kesedihannya. Ia harus melakukan sesuatu. .
.
Makan malam mereka lalui tanpa Naruto dan Sasuke. Sasuke memutuskan untuk membawa makam malamnya kekamar bersama Naruto. Semua diam seperti orang yang tidak saling kenal. Lee dan Chouji juga diam, berpikir jika ia salah membuka suara, kepalanya mungkin berkhir sebagai pajangan diatas perapian di Vila Neji.
Sasuke dan Naruto menghabiskan makan malanya dan berniat untuk membawa piring kosongnya ke bawah. Ketika Sasuke berdiri, Naruto menarik tangan kanan Sasuke untuk kembali duduk di ujung kasur, dan melumat pelan bibir merah itu.
Sasuke membalas pangutannya dan mereka mulai bermain lidah. Saliva ikut andil dalam permainan mereka. Suara desahan keluar dari mulut Sasuke, tangan kanannya meremas pundak Naruto. Tangan Naruto yang berada di belakang leher Sasuke menahan kepala Sasuke untuk menyudahi permainan mereka.
Semakin lama semakin liar, gigit dan tarik juga ikut meramaikan adu gelut mulut itu. Kadang Sasuke merasakan getir darah yang ada di mulut Naruto akibat perbuatan Neji. Mengingat itu semakin membuat Sasuke bersedih, membuatnya ingin mencium Naruto lebih dalam.
Menyalurkan semua rasa, memberi tahu lewat ciuman panas mereka jika Sasuke sangat sangat mencintai Naruto.
Serasa membutuhkan oksigen, mereka melepaskan pangutan mereka, masih dengan saliva yang terhubung diantara mereka. Sasuke menatap Naruto dengan layu. Naruto mulai menjilati saliva yang ada di bibir Sasuke dan dagunya ketika saliva itu mengalir turun ke dagu Sasuke.
Naruto tersenyum melihat Sasuke tidak seberantakan tadi.
"Aku saja yang membawa piring itu ke bawah. Kau disini saja." Sasuke mengangguk. Naruto bangkit menuju pintu. Ketika pintu itu terbuka, Naruto terkejut ketika Kiba ada di depan.
"E—eh? Kiba? Apa yang kau lakukan disini?" Ucapan Naruto tidak didengar oleh Kiba. Kiba masih menatap tajam kearah Naruto.
"A—ada apa?" Tanya Naruto takut - takut jika ia buat kesalahan yang membuat Kiba memasang tampang seperti ini.
"Apa yang kau lakukan di dalam?" Tanya Kiba.
"Eh? Apa?"
"Apa yang kau lakukan di dalam?" Ulang Kiba.
Naruto menggaruk tengkuknya yang tak gatal, bingung bagaimana menjawabnya.
"Aku mendengar ada yang mendesah tadi, apa yang kau lakukan, Naruto?" Lanjut Kiba.
"Kami mau melakukan apa saja itu bukan urusanmu, kan?" Tiba - tiba Sasuke muncul di balik badan Naruto. Kiba menatap tajam Sasuke sejenak lalu beralih ke Naruto.
"Naruto." Panggil Kiba.
"Mu—mungkin.. Kau tahu kan? Hal yang biasa dilakukan sepasang kekasih? Hehe" Naruto terkekeh lagi. Kiba melotot tak percaya apa yang keluar dari mulut Naruto. Ia pikir Naruto akan mengelak tetapi Naruto malah jujur. Kiba merasa hatinya berdenyut sakit.
BUGH!
Pukulan itu melayang secepat kilat. Kiba yang terkejut melihat Shikamaru memukul Naruto sampai tersungkur bertubi - tubi. Tidak memberikan Naruto kesempatan untuk memukul balik. Mendengar suara pukulan yang menggelegar seperti itu membuat semua yang ada di meja makan bisa mendengarnya. Itu artinya pukulan Shikamaru tidak main - main.
Sasuke kembali menangis, berteriak memanggil Shikamaru untuk menghentikan memukul Naruto. Pukulan Shikamaru ini lebih liar daripada Neji, membuat Sasuke menangis lebih deras. Ia tidak bisa apa - apa untuk menolong Naruto. Ia bisa melihat Naruto benar - benar tidak berdaya di bawah Shikamaru.
Semuanya yang melihat itu memutuskan untuk menghentikan Shikamaru, Sai memutuskan untuk menelepon ambulan. Kiba yang masih kaget akan apa yang dilakukan oleh Naruto, membuat ia tidak bisa berkata - kata. Ia hanya bisa melihat nanar Naruto yang sepertinya sudah kehilangan kesadaran, tetapi Shikamaru tidak menghentikan pukulannya.
"Kiba! Tolong hentikan Shikamaru! Tolong!" Sasuke sesenggukan di bawah kaki Kiba. Kiba yang sadar dari keterkejutannya mulai ikut menarik Shikamaru menjauh.
"Shikamaru! Hentikan! Kau gila! Kau bisa membunuhnya!" Shikamaru menghentikan pukulannya ketika mendengar Kiba berteriak. Sasuke menangis meraung raung lalu berlari memeluk Naruto yang sudah tak sadarkan diri.
Darah keluar dari lubang kuping dan hidung Naruto. Sasuke mengusap darah yang mengalir diwajah Naruto sambil menangis.
"Kenapa kau melakukan ini?!" Sasuke berteriak ke arah Shikamaru. Shikamaru terlanjur naik pitam, malah memukul Naruto bertubi - tubi. Ia tak sadar jika sudah berbuat seperti ini. Semua menatap Shikamaru penuh heran, Shikamaru yang mereka kenal seperti orang lain termasuk Kiba.
Shikamaru mendekati Kiba tetapi Kiba malah melangkah mundur.
"Ambulan datang!" Seru Sai.
Naruto dibawa oleh orang - orang berseragam putih itu menggunakan tandu. Sasuke yang masih menangis mengikuti Naruto masuk kedalam ambulan. Kedelapan pemuda itu melihat ambulan kian menjauh.
"Kau kenapa, Shikamaru?" Chouji membuka suara ketika kebisingan menyelimuti mereka. Shikamaru diam saja ketika Chouji bertanya.
"Shikamaru! Kau sadar apa yang kau perbuat? Kau hampir membunuh manusia." Kata Sai.
"Diamlah kalian!" Shikamaru berjalan kearah kamarnya. Semua terkejut ketika mendapati Shikamaru yang seperti itu.
Chouji berlari menghampiri Shikamaru dan memberikan bogem mentah pada Shikamaru. Semua terkejut melihat tindakan Chouji pada Shikamaru.
"Brengsek! Teman macam apa yang menyakiti temannya seperti itu? Shika! Sadarlah! Aku mengerti permasalahanmu tapi kau tidak perlu membunuh Naruto! Naruto tidak bersalah. Semua tidak bersalah. Tidak ada yang bersalah disini. Yang salah adalah tindakanmu. Tindakan Neji, dan juga Gaara."
Semua terkejut ketika mendengar Chouji berkata seperti itu, apalagi membawa - bawa nama Neji dan Gaara.
"Aku mendengar semuanya dari Shino. Kalian bertiga tidak pantas menyebut diri kalian teman. Aku mengerti perasaan kalian. Rasanya kau ingin membunuh seseorang kan? Tapi Naruto dan Sasuke teman kita—"
Ucapan Chouji di potong oleh Neji. "Berhenti bicara omong kosong, Chouji. Aku tidak—"
"TIIDDAAAAAAAkKKKK!" Sai berteriak keras membuat semua yang ada di sana kaget. Sai menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan.
"kita di sini untuk liburan bukan untuk bertengkar seperti ini. Aku menyukai Naruto, Gaara menyukai Naruto, Kiba menyukai Naruto, tapi Naruto sudah milik Sasuke, seharusnya kalian mengerti itu. Tindakan Neji dan Shikamaru salah, tindakan Gaara juga salah.
"Apa kalian memikirkan kedepannya jika kalian berhasil membunuh salah satu di antara Naruto dan Sasuke? Apa dengan itu kalian bisa hidup bahagia selamanya? Aku memikirkan ini, aku menyerah untuk cintaku dan aku akan mendapatkan cinta yang baru di masa depan. Jadi tindakan bodoh kalian ini bener-bener tidak ada gunanya. kalian hanya menyakiti hati kalian sendiri.
"Gaara, jika kau benar-benar mencintai Naruto, kau harus tau apa yang harus kau perbuat, bukan menyakiti Naruto seperti ini. Naruto juga tidak akan suka dengan tindakan kalian, Naruto masih ingin bertemu dengan kalian, Naruto tidak akan pernah mencari mau musuh." Kata Sai.
"Aku tidak pernah menyakiti Naruto!" Gaara mengelak dengan keras.
"Kau menyakiti Sasuke, itu sama saja dengan kau menyakiti Naruto! Kau tidak pernah tau perasaan Naruto, kan?
"Aku tidak akan pernah bisa jauh dari Naruto, aku mengerti itu. Aku sangat mencintai Naruto sama seperti kau. tapi aku tidak pernah bertindak seperti itu.
"Kiba, kau juga tidak pantas menguntit pasangan yang sedang ada di kamar di depan pintu. itu tidak baik. Untuk Neji dan Shikamaru, Apa kau yakin jika sudah membunuh Naruto, orang yang kalian cintai akan mencintai kalian? itu malah akan membuat kalian dibenci kan?"
Sai menaik turunkan dadanya ketika ia selesai bicara. Setelah sadar apa yang ia katakan, ia mengacak - acak rambutnya dan mengerang seperti kucing ribut membuat semua heran akan tingkah Sai.
"Aarrgghhhhh! Aku tidak tau apa yang aku bicarakan, tetapi yang pasti perbuatan kalian tidak baik. Naruto dan Sasuke masih teman kita."
Sai pergi kekamar meninggalkan semuanya. Suasana hening melanda tujuh orang yang berada di sini.
"Besok aku akan menjenguk Naruto." Ucap Kiba dan berjalan ke arah Kamarnya. Shikamaru mengikuti Kiba dari belakang. Satu persatu mulai melangkah masuk menuju kamarnya memutuskan tidur lebih awal. Karna semuanya juga ingin menjenguk Naruto esok pagi. .
.
Sasuke menunggu di ruang tunggu di depan ruang UGD. Masih menangis tetapi hanya terisak. Menunggu Naruto yang tidak pasti membuat Sasuke bisa terkena serangan jantung sewaktu - waktu.
Pintu itu terbuka dan Sasuke melihat Naruto keluar berada di atas ranjang dorong. Sasuke mengikuti Naruto yang kelihatannya masih belum sadarkan diri. Dokter disana menghampiri Sasuke dan menghentikan langkahnya.
"Anda kerabatnya?" Dokter itu bertanya pada Sasuke. Sasuke mengangguk.
"Aku sahabatnya."
"Apa orang tua dari Naruto ada di sini?"
"Tidak ada. Mereka ada di Konoha. Kami sedang liburan disini." Jelas Sasuke.
"Di Konoha? Bisa kau panggil mereka kesini? Saya akan bicara mengenai masalah ini pada orang tuanya."
Sasuke tersentak kaget. Jika Kushina dan Minato mengetahui anaknya tidak sadarkan diri di ranjang rumah sakit, entah apa yang akan terjadi nantinya pada Sasuke. Sasuke takut jika Minato menyuruh Naruto untuk putus dengan Sasuke, karena dekat dengan Sasuke hanya akan membahayakan diri Naruto.
"Bagaimana? Kau bisa memanggilnya?" Tanya Dokter lagi. Tanpa sadar Sasuke mengangguk.
"Tapi kemumgkinan mereka akan ada disini sampai esok hari, Dok."
Dokter mengangguk. "Saya mengerti. Saya akan menunggu. Naruto sudah bisa di jenguk. Tapi jangan berisik karena dia sedang tidur." Dokter itu pergi setelah menepuk pundak Sasuke setelah Sasuke mengatakan 'Terimakasih banyak' kepada Dokter laki - laki itu.
Sasuke mulai kekamar rawat inap Naruto. Sasuke melihat banyak perban yang ada di sana. Menarik kursi yang berada di dekatnya dan mulai duduk di sisi kanan Naruto lalu menggenggam tangannya. Sasuke kembali menangis. Jika bukan Karena dia, Naruto pasti baik - baik saja. Harusnya ia tak usah bilang begitu pada Gaara. Tetapi Sasuke terlalu takut jika Gaara akan merebut Naruto darinya.
Seharusnya Sasuke percaya pada Naruto, walaupun ada yang mengincarnya, Naruto tidak akan pernah berpaling padanya.
Sasuke baru ingat ketika harus menghubungi kedua orang tua Naruto. Dengan tangan gemetar, Sasuke menghubungi telepon rumah mereka dan menjelaskan situasinya. Seperti yang digambarkan oleh Sasuke, mereka berdua langsung menuju kerumah sakit ini memakai mobilnya. Sasuke menutup teleponnya diakhiri dengan kata Maaf.
Sasuke tersenyum ketika mengingat begitu paniknya pasangan suami istri itu ketika anaknya tau masuk rumah sakit dan langsung menuju kesini. Jika dia yang ada di posisi Naruto, apa Ayahnya dan Ibunya akan seperti Orang tua Naruto? Sepertinya tidak. Mereka akan menyuruh beberapa asisten untuk menengok Sasuke. Mau bagaimanapun pekerjaan mereka lebih penting.
Sasuke memutuskan untuk tidur disebelah Sasuke sambil menggenggam erat tangan besar dan kekar itu. Mencium dengan hangat dan berdoa jika besok akan baik - baik saja. .
.
Tsuzuku
