Betrayal

Disclaimer : Naruto Selalu menjadi milik Masashi Kishimoto, Saya hanya memiliki plot cerita dalam fanfict ini saja.

Warning : Gaje, abal, OOC, Typo dan Miss Typo seperti biasa nya mereka masih enggan meninggalkan saya sendirian.

Sasuke's Apartement, Tokyo Japan.

Ia tersenyum. Pagi ini ketika ia membuka matanya wajah tampan pria itu adalah hal pertama yang ia lihat. Sakura membelai wajah bungsu Uchiha itu pelan, menyusuri setiap garis yang terpahat sempurna pada wajah tampannya dan berhenti ketika tangan besar Sasuke menangkap tangan kecilnya dan membuka kelopak matanya. Sepasang iris onyx itu bersinar ketika melihatnya dan pria itu tersenyum kecil.

"Selamat pagi." Sakura menarik tangannya dan menyanggah kepalanya dengan tangan yang lain.

"Selamat pagi. Kau tahu, kau selalu cantik saat kau baru bangun tidur." Sakura tersenyum dan menarik tubuhnya untuk bangun dan duduk di tepian ranjang. Ia mengambil kimono tidurnya dan memakainya, menutupi gaun tidur satin yang ia gunakan.

"Sasuke..." Ia memutar bola matanya ketika Sasuke meraih tangannya dan menariknya kembali ke tempat tidurnya, memeluknya dan menguncinya dengan satu pelukan hangat.

"Aku harus bangun, kau harus sarapan dan ini hari pertama kita kembali bekerja." Ujarnya,

"Itachi memberiku cuti sampai minggu depan dan kau, dokter bilang kau masih dalam masa pemulihan." Sakura menghela nafasnya dan menangkupkan tangannya diatas tangan Sasuke yang masih memeluknya,

"Hm... Aku harus ke boutique, Hana-nee sudah memberikanku kesempatan untuk mengundur acara debutku tapi, aku masih punya banyak client yang sudah ku kecewakan. Beberapa design harus selesai secepatnya." Ujarnya, Sasuke tak berbicara, pria itu justru membenamkan wajahnya di leher Sakura dan menghirup aroma bunga Sakura dari tubuh wanita itu,

"Kau bisa mengerjakannya dari sini. Aku akan menemani mu." Ujarnya,

"Lalu bagaimana dengan Kaa-san?" Ujarnya,

"Kau bisa minta Okaa-san untuk datang dan menginap disini." Sakura melepaskan pelukan Sasuke dan berbalik menatap wajah tampan itu,

"Sasuke, aku sudah mengatakan padamu kalau aku bukan wanita seperti itu." Ujarnya, Sasuke menghela nafasnya, mendudukkan dirinya dan bersandar di kepala ranjangnya,

"dan aku sudah mengatakan padamu jika aku ingin menjagamu dan ibumu. Sakura, aku ingin memastikan jika tak akan ada lagi orang yang akan menyakitimu." Ujarnya, wanita itu tersenyum dan beranjak dari posisinya, Sakura mendudukkan dirinya di pangkuan Sasuke, membiarkan lengan kekar pria itu memeluknya dan ia membiarkan kepala Sasuke bersandar di bahunya.

"Aku akan baik-baik saja, siapa tahu mereka hanya perampok? Kita sudah memindahkan boutiqe ketempat lain bukan?" ujarnya, Sasuke menghela nafasnya dan menggeleng,

"Kita belum bisa memastikan apa sebenarnya motif dibalik kejadian ini sebelum polisi menyelesaikan penyelidikan." Ujarnya, Sakura menghela nafasnya,

"Aku akan membuat roti panggang dan alpukat untuk sarapan, apa yang kau inginkan untuk sarapan mu selain ekspresso?" Tanyanya,

"Bacon dan telur?" Sakura mengangguk, wanita itu mengecup pelan bibir kekasihnya sebelum beranjak dan turun dari ranjang Sasuke.

Sakura berjalan kearah dapur dan mulai menyalakan mesin pembuat kopi milik Sasuke. Satu gelas ekspresso dan satu gelas heazelnut dunkin Coffee untuknya. Ia memasukkan roti kedalam panggangan dan memanggang bacon diatas pan. Ketika ia meletakkan bacon keatas piring dan mulai membuat telur mata sapi untuk Sasuke, ia mendengar suarah langkah kaki Sasuke menuruni tangga dari lantai dua penth housenya. Pria itu tersenyum kepadanya lalu mengangkat tangannya kedepan dada dan memberi isyarat jika ia akan bergabung dengannya di meja makan setelah mengakat telfon entah dari siapa. Masih dengan telanjang dada dan hanya menggunakan celana piamanya, pria itu membuka pintu geser dan keluar ke arah balkon lalu mentupnya lagi.

Sakura menghela nafasnya, tak ingin menginterubsi kekasihnya itu saat ini. Ia tahu kedudukaan Sasuke di perusahaan ayahnya adalah posisi penting setelah Itachi, harus absen dari posisinya selama lebih dari satu hari saja pasti sudah membuat sedikit kekacauan di kantornya. Wanita itu mengakat telur mata sapi setengah matang lalu meletakkannya keatas piring dan membawanya ke meja makan. Ia meninggalkan ruang makan untuk mengambil kopi keduanya dan kembali kemeja makan dimana Sasuke sudah disana dan masih mengutak-utik ponselnya dan satu tangannya yang lain memegang garpunya.

"Kau akan makan dengan cara seperti itu?" Sakura menyesap kopinya, pria itu menaikkan sebelah alisnya dan meletakkan ponselnya diatas meja,

"Well, aku juga bukan satu-satunya yang seperti itu." Sasuke menunjuk ponsel Sakura yang bergetar, Nama profesor Kurenai tertulis jelas dilayar ponselnya,

"Shitt!" umpatnya,

"Sakura, Your word!" wanita merah jambu itu memutar bola matanya dan menyingkir dari ruang makan untuk menerima telfon.

"Mrs. Yuhi, selamat pagi." Ujarnya,

"Selamat pagi, Miss Haruno. Senangnya akhirnya kau mau mengangkat telfon ku." Sakura menghela nafasnya, wanita itu duduk disalah satu Puff berwarna hitam di balkon Sasuk,

"Saya minta maaf untuk ketidak hadiran saya selama satu minggu terakhir untuk konsultasi tugas akhir." Ujarnya,

"Aku tahu, Tuan Uchiha mu sudah menelfon dan menjelaskan segalanya. Aku hanya ingin tahu kapan kau bisa kembali? Sidang kelulusan akan diadakan dalam waktu tiga bulan dan tugas akhirmu bahkan belum sampai setengah jalan.

Apa kau yakin kau akan melanjutkannya dan tidak menundanya untuk semeter depan?" Sakura menatap gedung-gedung pencakar langit yang terhampar luas di kota Tokyo, ia ingin secepatnya menyelesaikan tugasnya, ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh pihak kampusnya,

"Saya akan melanjutkannya, Professor dan Tugas akhir itu pasti akan selesai." Ujarnya, Kurenai terdiam sesaat sebelum bicara,

"Minggu depan, temui aku di ruang kerjaku dan kita lanjutkan konsultasimu yang terntunda." Sakura mengangguk paham,

"Terimakasih, Profesor." Sakura menghela nafasnya dan akhirnya masuk kedalam, Sasuke masih disana, menunggunya dan belum menyentuh lagi sarapannya,

"Ada apa?" Tanya pria itu,

"Profesor Kurenai menanyaiku tentang tugas akhirku." Sasuke mengangguk mengerti,

"Minggu depan aku harus konsultasi lagi jadi malam ini aku harus kembali ke Apartement untuk menyelesaikan tugasnya." Ujarnya, Sasuke memasukkan potongan terakhir baconnya dan menyesap ekspresso tanpa gula miliknya,

"Aku akan ikut. Aku rasa kali ini kau butuh bantuanku. Jasa pengetikkan?" Sakura tertawa dan mengangguk,

"Ah... kali ini aku harus mengakui jika aku membutuhkanmu." Sasuke tertawa,

"Aku akan menaruh ini semua ke Dishwasher dan mandi." Sakura beranjak dari tempat duduknya mengambil piring dan gelas mereka lalu memasukkannya ke dishwasher

"Aku ada di kantor kalau kau perlu apapun, okay? Harus menyelesaikan beberapa panggilan." Ujar Sasuke, pria itu menunjukkan layar ponselnya yang berdering ketika melintasi dapur dan masuk kedalam kamarnya.

Kantor pusat CCTV kota Tokyo, Jepang

Kisame tahu ia tak akan mendapatka banyak informasi dari tempat ini tapi, insting kepolisiannya menolak untuk menyerah dan mendorongnya untuk tetap mengendarai mobil jeepnya dan masuk ketempat ini. Pria bertubuh besar itu melangkah melewati dua buah pintu besar kaca yang bergeser dengan sendirinya setelah sensor motoriknya mendeteksi kehadirannya.

Polisi muda itu melangkah melewati meja resepsionis, berbelok kesebelah kiri dan masuk kedalam lift. Menekan tomobol angka tiga dan membiarkan box metal itu bergerak keatas mebawa tubuhnya ke elevasi yang berbeda. Ketika kedua pintu itu terbuka Kisame berjalan keluar dari dalam lift dan menghampiri seorang wanita yang duduk di depan sebuah ruangan berpintu ganda dari kayu.

"Aku ingin bertemu dengan kepala bagian." Ujarnya, Wanita bersurai gelap itu menatapnya bingung lalu membuka agendanya.

"Maaf, tapi boleh saya tahu siapa nama anda, Tuan?" Tanyanya,

"Detektif Kisame Hoshigaki." Kisame menjawab sembari menarik keluar lencana kepolisian yang sejak tadi menggantung di ikat pinggangnya.

"Apakah kedatangan anda disertai dengan surat perintah dari kepolisian?" Kisame tersenyum kecut dan menarik sebuah amplop dari dalam kantung celana khakinya dan memberikan amplop itu pada wanita yang ia duga adalah sekretaris dari kepala bagian kantor CCTV

"Baik tuan, anda bisa menunggu disini, saya akan panggilkan tuan Ebisu untuk menemui anda." Kisame mengangguk lalu membiarkan wanita bersurai gelap itu masuk kedalam ruangan kepala bagian dan ia duduk di kursi ruang tunggu,

Tak sampai lima menit pint ruangan itu kembali terbuka. Seorang pria jangkung berkacamata keluar dan menghampirinya. Ia bisa melihat rasa gugup dalam wajanya sekalipun pria itu pandai menyembunyikannya dari hadapan bawahannya.

"Ah... Detektif Kisame. Selamat pagi." Kisame berdiri dari tempat duduknya dan mengulurkan tangannya yang akhirnya di sambut oleh ebisu setelah beberapa saat.

"Selamat pagi Tuan Ebisu." Ujarnya,

"Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya,

"Well, seperti surat perintah yang sudah anda baca, saya kemari dalam rangka penyelidikan kasus kebakaran boutique dan percoban pembunuhan Nona Haruno Sakura." Ujarnya,

"Saya rasa anda datang ketempat yang salah, bukankah seharusnya CCTV boutique bisa membantu penyelidikan anda?" Kisame menyunggingkan senyum separuhnya.

"Seandainya begitu, tapi sayang nya hal itu tidak bekerja dengan baik. Pelaku kami memarkir kendaraan mereka di seberang jalan, tepat di depan CCTV kota yang berada di seberang boutique. Jika anda tidak keberatan, saya harus memeriksa rekaman CCTV pada saat kejadian." Ujarnya,

"Begini, untuk menunjukkan rekaman itu di perlukan beberapa persyaratan khusus dan saya tidak bisa menunjukkannya kepada sembarangan orang lagi pula..."

"Apakah surat perintah dari kepolisian belum cukup? Atau aku harus membawa lebih dari satu pick up truck anak buahku untuk memeriksanya sendiri dan menghentikan pekerjaan bawahanmu untuk dua jam kedepan?" Kisame menatap tajam Ebisu,

"Tapi Detektif..."

"Atau mungkin seseorang membayar anda untuk menghentikan saya melakukan penyelidikan?" Pria itu menatapnya terkejut,

"Tentu saja tidak." Kisame tertawa,

"Bukankah hukum dan perangkat kota ini bisa dibeli dengan mudah oleh pengusaha pengusaha kaya yang curang tuan Ebisu? Jika anda memang bukan salah satu perangkat kota yang telah di beli seharusnya anda menunjukkan jalan menuju ruang kontrol kepada saya," Ebisu menelah ludahnya dan menatap Kisame sebentar sebelum memimpin jalan keruang kontrol.

"Silahkan," Ujarnya, Kisame mengikuti pria itu dari belakang dan mereka berbelok ke kanan sebelum akhirnya masuk kedalam ruang kontrol.

"Rekaman CCTV tanggal 28 agustus di sekitar boutique milik Hana Inuzuka." Ujarnya, anak buahnya membuka file CCTV yang ia perintahkan dan Kisame mulai mengamati rekaman yang di ambil dari beberapa sudut itu,

Sebuah mobil Peugeot berwarna merah cherry menarik perhatiannya, seorang wanita dengan gerak gerik mencurigakan keluar dari mobil itu setelah berpakaian lengkap yang menutupi wajah dan rambutnya. Kisame meminta bagian depan mobil itu di Zoom dan detektif itu mencatat nomer plat mobil merah itu sebelum keluar dan mengucapkan terimakasih kepada Ebisu. Ia hanya melacak mobil ini dan ia akan mendapatkan siapa pelakunya.

Konoha Cemetery, Tokyo Japan

Ia kembali lagi dan kali ini ia sendiri. Wanita berusia awal lima puluh tahunan itu meletakkan setikat bungan krisan, dua botol gelas Wine dan satu botol Pinot noir diatas pusara pria yang sudah ia nikahi lebih dari dua puluh tahun itu. Surai pirang sebahunya menari bersama angin musim gugur yang bertiup dan mengajak surai keemasannya berdansa. Mebuki Haruno menuang Pinot noir itu kedalam dua buah gelas wine berkaki panjang dan mengambil salah satunya, menjadikan rerumputan sebagai alas duduknya, ia memandang pusara ayah dari putri satu-satunya itu sambil sesekali menyesap anggurnya.

"Bagaimana kabarmu hari ini?" ujarnya, tak ada jawaban, namun angin yang bertiup seakan membisikkan jawaban ketelinganya, "Aku baik-baik saja." Suara Kizashi Haruno seakan menggema menjawab pertanyaannya,

"Well, kau tidak akan percaya jika aku menceritakan tentang Sakura kepadamu. Dia tumbuh menjadi wanita yang luar biasa kuat dan baik hati. Dia cantik, seperti katamu dia benar-benar tumbuh menjadi wanita yang benar-benar cantik. Dia mengalami beberapa hal baik dan buruk dalam hidupnya dan tumbuh dengan berbagai pelajaran setiap harinya.

Dia akhirnya akan meraih mimpinya sebagai Designer dan akhirnya menemui cinta dalam hidupnya. seperti saat aku menemukan mu Kizashi, dia menemukan pria yang tepat untuknya, pria yang hanya ingin melihatnya bahagia dan melindunginya dengan segala yang ia bisa agar putri kita baik-baik saja. Akhirnya, untuk pertamakalinya setelah dua puluh dua tahun aku merasa, dia akan baik-baik saja jika suatu saat nanti aku pergi.

Sasuke, putra dari sahabatmu itu adalah pria muda yang kuceritakan tadi. Dia pria yang baik dan berusaha melindungi Sakura, aku bisa pastikan putrikita akan baik-baik saja. Selain itu, Sakura juga mencintainya, tidak ada hal yang lebih baik daripada saling mencintai kan?" Mebuki terdiam sesaat, menghela nafasnya dan menyesap Pinot noir nya,

"Aku baru kembali dari rumah sakit hari ini, mereka bilang kanker diparu-paruku sudha menyebar dan mungkin lima atau enam bulan lagi aku bisa bertemu denganmu? Aku tidak ingin menyerah, sungguh. Tapi, aku terlalu merindukanmu untuk menunda pertemuan kita lagi. Sakura, dia akan baik-baik saja jika aku meninggalkannya sekarang." Mebuki menuang sekali lagi Pinot noir kedalam gelasnya,

"Tidak, aku belum memiliki keberanian apapun untuk mengatakan hal ini kepada Sakura atau siapapun. Aku hanya terlalu takut dengan reaksinya ketika ia tahu dan akan semakin sulit untukku untuk perlahan-lahan menghilang dari kehidupannya. Aku sudah pernah melihatnya hancur ketika kehilangan dirimu dan aku tak bisa melihatnya terluka sekali lagi." Mebuki menatap daun-daun maple yang berguguran dan menangkap satu lalu melepaskannya, membiarkan daun itu terbang jauh dan tertiup angin,

"Aku akan memberitahunya, kau jangan khawatir." Ujarnya, Mebuki bangkin dari tempat duduknya dan menegak pinot noirnya hingga tandas,

"Oh... dan aku bawakan bunga krisan. Kau selalu bilang jika bunga itu adalah lambang kisah cinta yang abadi. Aku hanya tidak ingin kau lupa jika dulu, sesulit apapun hidup kita ketika roda kehidupan berputar dan kita berada di titik terendah kau selalu membawakan bunga itu untukku setiap akhir pekan dan mengingatkan ku jika, sekalipun harta kita lenyap dan tak menyisakan apapun kecuali hutang, kau tetap memiliki alasan untuk hidup karena kau memiliki ku dan Sakura. Aku hanya ingin kau tahu, kau dan Sakura adalah alasan ku bertahan sampai sejauh ini. Tunggu aku sedikit lagi Kizashi, ketika tugasku sebagai seorang ibu selesai. Aku pasti akan kembali bersamamu. Aku mencintaimu." Mebuki menghapus air matanya, menyampirkan tas tangan dan meraih dokumen pekerjaannya sebelum berjalan dengan gontai meninggalkan kompleks pemakaman.

Sakura's Apartement, Tokyo Japan

Ia hampir gila. Sakura menatap layar laptopnya dengan frustasi dan menyesap kopinya sekali lagi. Bangkit dari tempat duduknya dan berjalan mondar-mandir diruang tamu. Sasuke yang masih fokus dengan laptop dan beberapa dokumen pekerjaan yang di serahkan Sizhui padanya akhirnya merasa terganggu dengan kegiatan kekasihnya itu. Sasuke meletakkan laptopnya diatas Coffee table sebelum melangkah mendekati wanita bersurai merah jambu itu dan menghentikan Sakura dengan menahan bahu mungilnya, memutar wanita bersurai merah jambu itu untuk menatapnya.

"Sasuke..." Ujarnya, bungsu Uchiha itu tersenyum dan menatap sepasang manik hijaunya,

"Butuh sesuatu yang bisa menyegarkan fikiranmu dari itu?" Tanya Sasuke, Sakura menaikkan alisnya dan mengangguk. Sasuke berjalan kearah rak berisi piringan hitam koleksi ayah Sakura yang masih bisa di selamatkan dari para menagih hutang dan Sasuke meletakkannya di pemutar piringan hitam itu, di detik berikutnya suara Franz Sinatra mengisi seisi ruangan, Sakura tersenyum geli.

"Really? Berapa usia mu sebenarnya eh, tuan Uchiha?" Sasuke tertawa, pria itu mengulurkan tangannya,

"do you mind?" Sakura menggeleng dan meraih tangan Sasuke, Pria itu membawanya ke tengah ruangan, memposisikan tangan besarnya di pinggang Sakura dan mulai menarik wanita itu mendekat dan dengan alunan musik dari lagu L.O.V.E milik Franz Sinatra mereka berdansa di tengah ruangkeluarga.

Sakura tak pandai berdansa, ia sudah lupa bagaimana rasanya sebuah musik romantis dan gerakan seringan bulu angsa Sasuke yang menuntunnya bisa mengangkat beban yang ia pikul selama ini terangkat,

"Well, aku tidak tahu kalau kau pandai berdansa." Ujar wanita bersurai merah jambu itu, Sasuke tertawa, ia melepaskan pinggung Sakura dan membuat wanita itu melakukan gerakan memutar sebelum kembali meletakkan tangannya di pinggang Sakura dan mengikuti alunan musik jazz itu,

"Kalau begitu kau harus lebih sering menghabiskan waktu dengan kekasihmu ini dari pada dengan tumpukkan design, gulungan kain dan bordiran untuk gaunmu." Sakura tertawa,

"Wanita muda ini harus bekerja, Sir." Sasuke tersenyum dan memutar tubuh Sakura sekali lagi sebelum menariknya mendekat dan kembali berdansa,

"Menikahlah denganku dan kau tidak perlu bekerja sekeras itu lagi." Sakura menghentikan langkahnya, Sasuke menariknya mendekat dan menempelkan dahinya kearah dahi lebar Sakura,

"Sekalipun di masa depanku, aku akan menikahimu itu bukan berarti aku akan diam dan menjadi ibu rumah tangga." Sasuke tersenyu, sebelah tangannya menyentuh dagu Sakura dan membawa bibir ranum wanita merah jambu itu kebibirnya, Sakura mengalungkan kedua lengannya ke leher Sasuke, membiarkan pria itu membawa tubuhnya ke ruang keluarga dan membiarkannya duduk di pangkuannya. Ia mencintai pria ini, dan entah berapa kali ia mencoba menyangkal perasaannya ia tetap berakhir pada satu kesimpulan bahwa pria manja, over protectif dan berlebihan ini adalah satu-satunya pria yang ia cintai.

"KAMI SAMA! Sakura!" ia dan Sasuke sama-sama menarik tubuh mereka menjauh dari masing-masing, Sakura bahkan berdiri dari pangkuan Sasuke dan otomatis berdiri saat melihat ibunya memergoki mereka dari arah pintu depan.

"Okaa-san." Ujarnya, memubi menggelengkan kepalanya, Sakura menunduk seperti anak kecil yang ketahuan mencuri permen dari lemari penyimpanan ibunya,

"Nyonya Haruno ini..." Sasuke berusaha menemukan kata-kata yang tepat namun Mebuki menghentikannya, menghela nafasnya dan duduk di sofa kulit yang posisinya berhadapan,

"Aku tidak masalah dengan apa yang kalian lakukan tapi, disini? Diruang keluargaku? Dengan pintu depan yang tidak terkunci? Ya Tuhan!" Sakura menundukkan kepalanya tak berani menatap ibunya, sementara Sasuke menggaruk sisi belakang kepalanya yang tidak gatal,

"Apapun itu, Sakura kau bantu Okaa-san menyiapkan makan malam. Sasuke kau akan tinggal untuk makan malam kan?" Sasuke mengangguk,

"Sebenarnya dia akan menginap Okaa-san." Ujar Sakura, Mebuki mengangguk,

"Oke." Ujarnya, Sasuke kembali meraih laptopnya sementara Sakura mengikuti ibunya kearah dapur.

Tempat Penyewaan Mobil, Tokyo Jepang

Kisame bertaruh siapapun orangnya yang berusaha menyabotase boutique milik Hana Uchiha dan membunuh Sakura Haruno adalah orang yang benar-benar cerdik. Nomor plat yang ia dapatkan setelah ia berusaha mencari tahu dan menyelidikinya ternyata adalah mobil sewaan dari tempat ini. Kisame keluar dari dalam mobil jeepnya dan menunjukkan lencana kepolisiannya kepada seorang di meja depan Customer Service. Tanpa banyak bicara wanita itu langsung masuk kedalam dan memanggil pemilik tempat penyewaan mobil itu.

"Selamat siang pak, ada yang bisa kami bantu?" Kisame menunjukkan lencana kepolisiannya dan menunjukkan foto plat nomer mobil Peugeot berwana merah cherry itu,

"Kami membutuhkan data penyewa dari mobil ini." Ujarnya, Pria itu mengangguk dan tanpa di perintah dua kali mempersilahkan Kisame masuk kedalam kantornya.

"Seorang wanita sekitar lima hari yang lalu datang dan menyewa mobil ini pak." Ujaranya,

"Anda ingat ciri-cirinya?" tanyanya lagi,

"Sepetrinya bukan orang Jepang atau mungkin keturununan Afro-amerika Jepang. Wanita itu memiliki tinggi sekitar seratus enampuluh, berkulit gelap dan berambut merah menyala pak." Ujarnya,

"Apakah anda memiliki fotocopy kartu indentitas atau apapun yang di tinggalkan oleh penyewa?" pria itu mengangguk,

"tunggu sebentar detektif." Ujanrya, Kisame mengangguk dan menunggu pria itu. Ia berjalan memutarnya dan berhenti didepan lemari bersi berisi arsip penyewa dan mengeluarkan sebuah fotocopy kartu indentitas. Kisame mengambil fotocopyan kartu itu dan membacanya.

"Karui?" pria itu mengangguk dan menatap Kisame bingung,

"Terimakasih, saya akan membawa ini untuk penyelidikan lebih lanjut." Pria itu mengangguk, dan menjabat tangan Kisame sebelum mengantarnya keluar.

Kisame masuk kedalam mobil jeepnya dan menatap fotocopy kartu indentitas, jika benar prediksinya wanita ini adalah Karui yang sama, wanita salah satu anggota yakuza yang biasa menyelundupkan narkoba dan masih buron hingga kini, seseorang pasti berusaha menlenyapkan keluarga Itachi dan orang itu menyewa mereka. Kisame mengambil ponselnya, meminta salah satu rekannya untuk melacak keberadaan Karui sebelum ia kembali kemarkas.

D'angelo bar, Tokyo Japan

Sulung Hyuga itu menengok kekanan dan kekiri memastikan tak ada seseorangpun yang mengintainya sebelum akhirnya berbelok dan masuk kedalam sebuah gang kumuh dan masuk kedalam bar. Seorang pria berkulit hitam dan bersurai pirang sudah menungunya di salah satu meja di sudut ruangan. Hyuga Neji melepas topi fedora nya dan duduk berhadapan dengan pimpinan gangster yang selama ini menjadi antek-anteknya. Ia menyulut rokoknya dan memesan satu gelas bourbon sebelum berbicara.

"Kau yakin bukan Hinata yang menyewa sendiri mobil itu?" Darui mengangguk

"100% positif, Hyuga-sama. Karui sendiri yang menyewa mobil itu." Neji menghela nafasnya,

"Dan wanita bodoh itu meninggalkan kartu indentitasnya?" Darui dengan ragu mengangguk,

"BODOH!" Neji berteriak menggebrak meja dihadapannya membuat seluruh isi bar menatapnya,

"Aku sudah mengatakan padamu untuk tidak melibatkan kekasihmu itu dalam hal yang satu ini." Ujarnya, Darui menghela nafasnya

"Aku akan bertanggung jawab untuk kesalahannya dan meminta maaf atas namanya." Neji menatap tajam kearahnya,

"Apakah dengan meminta maaf kau bisa mengamankan posisi adikku dari kejaran polisi dan menjamin kalau kekasihmu itu akan tutup mulut?" Darui terdiam lagi,

"kegagalan pengiriman narkotika dua tahun yang lalu dalam jumlah besar ke Panama gagal karena ulah kekasih merah jambu itu dengan mudah buka mulut saat Kisame menangkapnya. Kau bisa menjamin jika dia akan diam kali ini?" Darui tak bisa menjawab,

"Bunuh dia." Darui menatap sulung Hyuga itu,

"Sir..." ia memandang Neji tak percaya,

"Aku bilang bunuh dia." Darui berusaha berbicara tapi Neji memotongnya.

"tapi dia tidak melakukan kesalahan fatal apapun kali ini." Neji masih memandang tajam kearahnya,

"Membuat identitasnya tercium oleh detektif semacam Kisame sudah termasuk kesalahan fatal Darui, jalan satu-satunya untuk membungkam mulut kekasihmu itu hanya dengan membunuhnya. Kau paham? Atau kau mau menggantikan posisinya?" Darui tak banyak bicara, dengan satu anggukan kepalanya yang kaku, Neji meninggalkan beberapa lembar yen diatas meja dan meninggalkannya.

Karui and Darui's Apartement, Tokyo Japan

Darui belum kembali. Jam menunjukkan pukul dua belas malam dan pria itu belum kembali. Karui mengambil pistol dari laci side table di sebelah ranjangnya dna menyembunyikannya di bawah bantalnya. belakangan ini ia tidak bisa tidur dengan tenang, ia bahkan tidak tahu apa alasannya. Wanita berdarah Jepang-AfroAmerika itu memasang kedua telinganya ketika mendengar pintu balkon kamarnya tergeser terbuka.

Karui terlonjak dari tempat tidurnya dan berdiri menghadap orang asing yang melompat masuk kedalam kamarnya. Pistol yang tadi berada di bawah bantalnya mengacung dengan siaga di hadapan tubuhnya.

"Siapa kau?!" Tak ada jawaban, pria bertubuh besar itu berjalan mendekat kearahnya, Karui bergerak mundur hingga ia terpojok dan punggungnya menghantam lemari pakaian di belakangnya,

"Kuperingatkan kau untuk mundur!" ujarnya lagi, pria itu tak bersenjata, tapi Karui tak berani menarik pelatuk dan menembaknya, kedua tangannya bergetar hebat, alhasil dengan mudah pria itu bergerak maju kearahnya dan melucuti senjatanya dengan mudah.

"Siapa kau?! Ku mohon jangan!" Karui mengatupkan kedua tangannya dan memohon belas kasihan pria itu,

"Aku mohon jangan, aku tidak tahu siapa kau tapi tolong jangan bunuh aku." Pintanya, Pria bertubuh besar itu bergerak kearahnya, dan menarik surai merahnya membenturkan kepalanya beberapa kali kearah tembok dan menendang bagian perutnya, namun ia terkejut ketika dengan satu gerakan protektif Karui melindungi bagian perutnya.

"Aku tidak bisa membiarkanmu menyakiti bayiku, aku bahkan belum memberitahu Darui tentang ini!" ujarnya, Ia mendorong pria itu kebelakang dengan kekuatan yang entah berasal dari mana, wanita itu berlari keluar dari kamarnya dan berusaha membuka pintu apartementnya, namun belum sempat pintu itu terbuka, sebuah peluru melesat ke bagian kepalanya dan dengan bersimbah darah, wanita itu terjatuh tepat di depan pintu apartementnya.

Darui membuka topeng hitam yang menutupi wajanya, berjalan mendekat dengan tatapan kosong kearah wanita yang baru saja ia hilangkan nyawanya. Tak hanya wanita itu, kedua tangannya bergerak kearah perut Karui yang sedikit membuncit. Rasa sesak menguar kedalam dadanya dan sesulit apapun ia menolak air mata tetap turun dari kedua kelopak matanya.

Seharusnya ia mendorong Karui menjauh ketika ia memutuskan untuk masuk ke dunia sekelam ini dan bukan justru mengizinkannya untuk bergabung. Seharusnya ia sadar, menjadi salah satu anggota mafia berarti ia harus hidup sendiri dan terasingkan, ia seharusnya berhenti berharap akan memiliki sebuah keluarga kecil yang bahagia begitu salah satu gank Yakuza tempatnya bekerja menerimanya.

Ia bukanlah manusia. Ia adalah seorang mosnter yang melenyapkan kekasih dan bayinya yang masih dalam kandungan. Sekarang ia seperti yang Neji Hyuga inginkan. Sebuah mesin pembununh tanpa jiwa. Ia tidak punya tujuan lagi, tujuan hidupnya hilang bersama Karui, seperti sebuah robot yang di program untuk membunuh tanpa henti, seperti itulah dirinya kini. Dingin, tak berperasaan dan mati. Ia akan hidup seperti ini, hingga sampai waktunya tiba nanti ia akan membiarkan dewa kematian datang menjemputnya dan mempertanggung jawabkan semuanya diatas bara api abadi yang tak akan pernah berhenti dan ketika itu terjadi, ia akan memastikan Hyuga Neji bersamanya dan tak bisa lari lagi.

TBC. Akhirnya kesibukan saya menguap juga jadi bisa update. Sebetulnya udah lama banget chapter ini nongkrong di buku note saya wkkwkwk tapi baru sempet ngetik dan edit sekarang. Btw, terimakasih untuk beberapa review dan kritiknya di chapter kemarin ya? Saya udah perbaiki chapter yang kemarin jadi bisa di baca ulang kalau berminat. So, ini chapter hari ini. Saya berharap kalau chapter ini bisa memuaskan.

Beberapa bulan yang lalu ada reader yang PM saya dan tanya apakah saya berhenti buat bikin fanfiction Harry potter? Nah, saya gak berhenti kok, Saya belum dapet feelnya aja waktu itu tapi sekarang udah nongol lagi feelnya dan aku udah buat satu, monggo boleh di check di fandom FFN Harry potter dan boleh di check di Wattpad aku juga. Akhir kata, terimakasih untuk kesabaran dan kesetiaannya untuk menunggu ya, Aphrodite cinta kalian. Muah muah