Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : NaruSasu (Naruto x Sasuke)
Genre : Friendship, Romance, Yaoi, Shounen Ai
Warning : AU, Multi chapters, Gaje, Typo, OOC, alur maraton, yaoi, dan hal absurd lainnya.
Note : If you dont like or hate this fanfic, Dont read!
"Sasuke."
Sasuke merasa ada yang memanggilnya. Suara wanita tetapi sangat jauh. Ia seperti mengenal wanita ini tapi dimana ya?
"Sasuke."
Ah.. Kali ini suara laki - laki. Yang ini begitu dekat. Ia merasa mengenal suara ini.
"Sasuke."
Kali ini bukan hanya suara, rasa - rasanya ia merasa pundaknya di tepuk dengan pelan beberapa kali.
"Sasuke!"
Sasuke tersentak bangun ketika ia sadar siapa ia sekarang, dimana ia sekarang, dan siapa yang sedang membangunkan ia sekarang. Sasuke langsung bangkit dari tidur duduknya dan membungkuk 90° di hadapan orang tua Naruto.
"Maaf. Aku malah ketiduran. Seharusnya aku terjaga dan menunggu kalian berdua. Sekali lagi maafkan aku." Kushina mengangkat wajah Sasuke dan menepuk pundaknya dengan pelan. Sasuke melirik kearah jam dinding digital yang tak jauh berada di sana. Sudah jam 01:24 dini hari.
"Tidak papa, kau sudah menunggu Naruto, kami berterimakasih padamu." Kushina tersenyum pada Sasuke, membuat Sasuke merasa bersalah. Padahal jika Kushina dan Minato marah padanya, ia tidak akan merasa sangat bersalah seperti ini.
"Hei, jangan pasang tampang merasa bersalah seperti itu. Itu bukan salahmu." Ucap Minato mengelus permukaan kepala Sasuke.
"Ini salahku. Maafkan aku. Jika saja aku bisa lebih diandalkan, Naruto tidak akan sampai masuk rumah sakit seperti ini. Maafkan aku." Sasuke kembali membungkukan badannya kedepan, tetapi diangkat kembali oleh Kushina.
"Kau sudah menjelaskan di telfon tadi. Kau tidak salah, Sasuke. Jangan terlalu difikirkan." Ucap Kushina sambil tersenyum. Kushina menyeritkan keningnya ketika melihat mata Sasuke yang sembab dan terlihat basah. Ia mengusap pipi Sasuke perlahan, membuat Sasuke sedikit tersentak.
"Kau menangis, Sasuke? Jangan menangis seperti ini. Naruto mungkin tidak akan suka. Naruto tidak akan mati semudah itu." Kata Kushina.
"Naruto juga bilang padaku sebelumnya jika dia tidak akan mati begitu saja. Padahal tadi sempat tak sadarkan diri. Bagaimana mungkin aku percaya kata - katanya?" Sasuke mendengus mengingat itu. Kalau dipikir - pikir lagi, Naruto sifatnya memang seperti itu.
"Ah.. Dokter menyuruhku untuk membawa kalian berdua ke Dokter itu. Ada yang harus dibicarakan mengenai Naruto katanya. Tapi ini sudah tengah malam. Mungkin saja Dokternya sudah pulang? Maaf membuat kalian datang malam - malam begini."
"Kami sudah bicara, kok. Tenang saja." Ucap Minato.
"Eh? Benarkah? Lalu bagaimana keadaanya? Naruto baik - baik saja kan? Tidak ada hal buruk yang terjadi kan? Dia akan cepat pulang dari rumah sakit kan?" Ucap Sasuke berenten tidsk sabaran. Kushina terkekeh dan menuntun Sasuke untuk duduk di atas Sofa.
"Tenanglah, Sasuke. Kebetulan Dokter itu sedang jaga malam." Kushina membuka tutup botol air dingin itu dan menyerahkan pada Sasuke.
"Naruto mengalami benturan yang cukup keras di kepalanya. Agak fital memang karena pukulan itu bertubi - tubi di terimanya. Dokter itu bilang Naruto hanya mengalami geger otak ringan. Kami disuruh untuk tidak terlalu khawatir." Jelas Kushina. Sasuke menahan nafas mendengar penjelasan dari Kushina.
"Kedengarannya sangat buruk. Apa ada kemungkinan yang akan terjadi?" Tanya Sasuke. Kushina mengangguk.
"Dokter itu berkata untuk siap menerima kemungkinan - kemungkinan yang akan terjadi ketika Naruto siuman. Karena apapun bisa saja terjadi." Ucap Kushina.
"Kemungkinannya Naruto mengalami Amnesia. Atau bisa saja kemunduran untuk berfikir." Potong Minato.
Air mata Sasuke berhasil lolos dan kembali mengalir kesekian kalinya. Ia tidak menyangka jika akan separah ini. Walau Kushina bilang hanya kemungkinan, tidak memungkiri, ia akan takut jika kemungkinan - kemungkinan itu akan terjadi.
Kushina dan Minato yang melihat Sasuke menangis langsung menghampiri dan berlutut di hadapan Sasuke. Kushina menggenggam Tangan Kiri Sasuke sedangkan Minato menggenggam tangan kanan Sasuke. Mereka memgelus tangan Sasuke mencoba menengkan pemuda yang sudah mereka anggap anak sediri dan sedang rapuh dihadapan mereka ini.
"Aku minta maaf." Ucap Sasuke sesenggukan.
Kushina menatap Minato dengan tampang prihatin. Minato bangkit dan memeluk Sasuke. Sasuke membalas pelukan Minato dan terisak di dadanya.
"Kami juga khawatir. Kami bahkan sangat khawatir. Tapi kami hanya bisa berdoa agar Naruto baik - baik saja." Ucap Minato yang dibalas anggukan oleh Sasuke. Sasuke melepas pelukan Minato dan mengusap air mata di pipinya.
"Maaf aku menangis."
Kushina menggenggam tangan Sasuke, masih berlutut di depannya. Tersenyum manis memberikan semangat pada Sasuke. Sasuke merasa bodoh sekarang. Harusnya ia yang memberikan semangat kepada sepasang suami istri di sini, bukan malah dirinya.
Sasuke menarik Kushina dan menyuruhnya untuk duduk di sofa sebelahnya. Kushina memberikan sekotak bento untuk Sasuke. Sasuke yang heran menatap bento yang sepertinya mereka beli di supermarket itu.
"Aku membelikannya untukmu. Aku berfikir mungkin kau belum makan." Sasuke menatap Minato yang tengah tersenyum. Sasuke menatap Minato balas tersenyum dan mengucapkan 'Terimakasih banyak' untuk mereka.
Baik sekali. Padahal Sasuke sudah makan malam bersama Naruto sebelum Naruto masuk rumah sakit tadi. Tapi mereka berdua sudah membelikan untuk Sasuke, jadi Sasuke harus menerimannya. .
.
.
Jam menunjukan pukul 6 pagi. Tetapi sepertinya Kiba sudah siap - siap untuk pergi. Shikamaru yang terganggu akan suara yang ditimbulkan oleh Kiba, perlahan membuka matanya dan bangkit dari kasurnya.
"Kau akan pergi menjenguk Naruto sekarang?" Tanya Shikamaru sambil menguap dan mengggaruk - garukan pipinya. Khas orang baru bangun tidur.
Kiba tidak merespon pertanyaan Shikamaru dan mulai keluar kamar.
"Aku ikut." Seru Shikamaru. Kiba berhenti melangkah dan menatap Shikamaru tajam dengan ujung matanya.
"Jangan berpikiran macam - macam. Aku berencana minta maaf padanya." Kiba berbalik dan menatap Shikamaru masih tanpa suara.
"Kalau kau tidak percaya, kau boleh membawa pisau. Untuk jaga - jaga jika aku memukul Naruto kembali, kau bisa gunakan pisau itu untuk membunuhku di tempat." Ujar Shikamaru yang berjalan lunglai kearah kamar mandi, berniat mencuci wajahnya dan mengganti pakaian.
Sai yang mendengar ada keributan kecil—yang sebenarnya di timbulkan oleh Shikamaru—mulai terbangun dengan mata setengah terbuka. Sai yang melihat Kiba dengan pakaian rapih di depan pintu sedang berdiri, terpikirkan untuk pergi menjenguk Naruto.
"Kau ingin menjenguk Naruto? Aku ikut!" Sai bangkit berdiri dan menghampiri Chouji yang masih terlelap dan membangunkannya. Chouji yang diberi tahu akan menjenguk Naruto mengangguk dan berjalan kearah kamar mandi.
"Haruskah kuberi tahu yang lain?" Sai bertanya pada Kiba.
"Terserah." Sai mengangkat sebelah alisnya heran dan akhirnya tidak peduli. Mungkin ia masih dongkol pada Shikamaru dan Sai kecipratan kedongkolan Kiba.
Sai mulai membangunkan yang lain ketika semuanya tengah tertidur untuk pergi kerumah sakit menjenguk Naruto. Ketika Sai pergi kekamar Shino, Sasuke tidak terlihat disana. Mungkin Sasuke menginap di sana menemani Naruto?
Bukankah sudah pasti begitu? Sai terkekeh sendiri atas pikiran bodohnya. Ah.. Sebaiknya ia cepat membangunkan Shino yang sedang terlelap itu. .
.
.
Sasuke sudah terbangun sedari tadi dan tengah memandang wajah tampan tidur Naruto. Walaupun wajah itu banyak tertutupi oleh plaster sana sini, tidak mengurangi kadar ketampanan Naruto.
Minato tengah keluar untuk membeli sarapan. Awalnya ia menawarkan diri untuk membeli sarapan di luar, tapi di tahan oleh Minato. Katanya Sasuke dan Kushina lebih baik menjaga Naruto saja. Tak bisa melawan, akhirnya Sasuke menurut.
Saat ini Kushina sedang keluar mengurus administrasi, jadilah Sasuke sendirian di sini menjaga Naruto. Keheningan menyelimuti kamar rumah sakit itu. Sasuke mendengar suara pintu terbuka, pasti Kushina sudah selesai dengan administrasinya.
Sasuke mengalihkan kepalanya kebelakang untuk menyambut Kushina kembali. "Kushina baa-san, Okae—"
Betapa terkejutnya Sasuke ketika yang ia dapati Kushina melainkan teman - temannya. Sasuke langsung berdiri tegak berusaha menghalagi untuk mereka melihat Naruto.
"Kenapa kalian disini?" Sasuke berkata sambil menatap tajam pada yang lainnya termasuk pada Shikamaru. Shikamaru yang mengetahui tatapan tidak suka dari Sasuke, melangkah maju bermaksud mendekati Sasuke.
Setiap langkah maju Shikamaru, Sasuke mundur sambil merentangkan tangannya. Shikamaru berhenti dan menghela nafas lalu membung— eh? Dia berlutut dan mulai menempelkan keningnya ke lantai rumah sakit yang dingin.
Sasuke yang bingung dengan sikap Shikamaru yang tiba - tiba seperti ini jadi kikuk sendiri. Ia bingung bagaimana bersikap pada orang yang bersujud di bawah kakinya.
"Maafkan aku. Perbuatanku buruk sekali, aku minta maaf." Kata Shikamaru dalam keadaan sujudnya. Semua diam dan terkejut melihat Shikamaru bersujud di depan Sasuke.
Pintu terdengar berderit bergeser dan saat itu juga semua kepala menoleh kebelakang—kecuali Shikamaru—melihat siapa yang datang. Ternyata Kushina dan Minato yang membawa sesuatu di dalam kantung plastik hitamnya.
"Eh? Kalian? Datang menjenguk Naruto?" Kushina tersenyum pada semuanya. "Maaf kamar rumah sakitnya sempit dan tidak bisa mempersilahkan kalian duduk. Padahal kalian datang untuk menjenguk Naruto."
Sai, Neji, Gaara, dan Kiba mulai mengikuti Shikamaru berlutut di depan Kushina dan Minato. Mengucapkan kata - lata maaf secara serempak. Chouji, Lee, dan Shino terkejut akan tingkah temannya yang tiba - tiba seperti ini.
Kushina dan Minato mengangkat wajah keempatnya dan membantu mereka kembali berdiri. Menepuk pundaknya dan tersenyum. Sasuke yang melihat Kushina dan Minato yang sangat tegar dan sabar mulai mencurigai keduanya. Mungkinkah mereka berdua Malaikat yang memutuskan tinggal di bumi?
Sasuke berlurut dan mengangkat wajah Sasuke ikut tersenyum. Ia juga ingin menjadi malaikat seperti Kushina dan Minato. Sasuke membantu Shikamaru berdiri dan menepuk pundak Shikamaru pelan, seperti yang dilakukan oleh Kushina dan Minato.
Shikamaru yang melihat itu menyerit heran. Ia pikir Sasuke akan memukulnya atau menendangnya, begitu? Tetapi ini diluar perkiraan Shikamaru. Melihat sifat Sasuke yang suka marah - marah dan suka memukul Naruto, membuat Shikamaru tidak percaya apa yang dilihatnya.
"Ah iya.. Kalian sudah sarapan?" Yang lain menangguk.
"Kalau begitu maaf ya, kami belum sarapan." Minato mengeluarkan kotak bento dari kantung plastik dan memberikannya pada Sasuke. Sasuke menerimanya dan duduk di tempat ia duduk tadi—disebelah ranjang Naruto. Semuanya mengangguk paham.
"Ano.. Uzumaki-san, kami semua benar - benar minta maaf atas apa yang menimpa Naruto. Itu—"
"Sudahlah. Tidak usah kalian pikirkan. Lagipula kalian sudah meminta maaf dengan tulus kan? Aku yakin Naruto juga sudah memaafkan apa yang sudah terjadi. Aku mengerti. Tapi bolehkan aku memohon sesuatu?" Ucapan dari Neji dipotong oleh Minato. Semua mulai mendengar apa yang akan diminta oleh Minato.
"Jangan lakukan hal itu lagi. Bukan kalian berteman?" Semua tersentak kecil merasa bersalah. Mau bagaimanapun, setegar apapun, kedua orang ini lah yang paling tersakiti.
"Kami berjanji!" Ucap Sai semangat dan mendapatkan anggukan dari ketujuh pemuda yang ada di sana. Sasuke sudah memakan bentonya duluan dan sesekali melirik Naruto.
Yang lain duduk dilantai dan mulai mengobrol hal yang sekiranya menarik. Saat Susuke sedang melirik Naruto, Sasuke bersumpah jika ia melihat kelopak mata itu berusaha terbuka.
"Naruto!" Semua terkejut ketika mendengar Sasuke meneriaki nama Naruto. Semua berkumpul memutari ranjang itu dan mulai melihat Naruto seperti berkedip untuk membiasakan matanya dari cahaya yang menusuk matanya.
Sasuke tersenyum dan mulai kembali memanggil Naruto. Naruto mulai bangkit dibantu oleh Minato dan Kushina.
"Ibu dan Ayah disini." Itulah kata pertama yang keluar dari bibir Naruto. Sasuke, Kushina, dan Minato menghela nafanya melihat Naruto yang sepertinya tidak apa - apa.
Sasuke terus menggenggam tangan kanan Naruto dan menatap Naruto penuh harap. Berharap jika Naruto mengatakan sesuatu atau apapun walau hanya memanggil namanya. Ia sudah bahagia.
"Kau siapa?" Sasuke merasa dunianya hancur seketika ketika Naruto menanyakan hal yang sangat sangat tidak ingin di dengar Naruto. Sasuke meremas kebih kuat tangan yang ada di genggamannya. Berharap kalau ini hanya candaan Naruto. Semua tersentak ketika mengetahui jika Naruto tidak mengenal Sasuke. Padahal ia memanggil Ayah dan Ibunya.
"Tanganku sakit kalau di remas begitu." Sasuke tersasar dan mulai melepaskan remasan tangannya dan mengatakan kata maaf. Naruto mengusap lengannya yang tadi di remas dan menatap Sasuke dengan tatapan tidak suka. Sasuke yang di tatap seperti itu seakan ingin terjun dari lantai 5 rumah sakit ini. Hatinya berdenyut sakit ketika ia dilupakan oleh Naruto.
"Kau bohong kan? Kau tidak kenal siapa Sasuke?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Lee, Naruto mulai menatap Sasuke lebih lekat masih dengan tampang yang tidak bersahabat. Jantung Sasuke terasa berhenti berdetak saat ini juga. Sasuke merasa bumi berhenti berputar dan kehidupan telah berakhir.
"Bohong kan?" Ucap Sasuke.
"Bohong! Hahahahaha—Auchh. Ibu, sakit!" Naruto tertawa menggelegar di dalam kamar rumah sakit itu, Kushina langsung mengeplak kepala anaknya yang bodoh yang sudah membuat jantungnya seakan copot. Sasuke masih dengan tampang shocknya, Sasuke kembali menagis dan menenggelamkan ke kaki Naruto yang masih terselimuti selimut.
Sasuke bernafas lega. Ia pikir ia mati tadi. Naruto yang melihat Sasuke menangis memiringkan kepalanya bingung. Sasuke mengangkat kepalanya dan mengusap pipinya kasar.
"Bodoh! Kau ingin aku terkena serangan jantung, huh?" Sasuke memukul dada Naruto yang berakibat Naruto mengaduk kesakitan. Semua tertawa melihat Naruto yang ternyata baik - baik saja.
"Sakit, Sasuke! Memangnya kau selalu galak begini ya? Kalau begini tidak akan ada wanita yang mau denganmu, loh!" Semua berhenti tertawa mendengar ucapan yang keluar dari mulut Naruto. Naruto yang bingung dengan tatapan semuanya merasa bingung sendiri disini.
"NARUTO! Apa kau kenal aku?" Lee memanggilnya dengan berteriak dan memukul dadanya. Naruto menyipit untuk melihat lebih jelas wajahnya. Ia menggeleng.
"Kalau begitu siapa saja yang kau kenal di ruangan ini?" Kushina mulai menunjuk semua orang yang ada di ruangan itu. Semua menatap Naruto penuh harap.
"Kau Sai." Naruto menunjuk Sai. "Kau Shino, lalu kau Sasuke. Yang lain aku tidak kenal." Ucap Naruto memandangi Ibu dan Ayahnya. Minato langsung melesat keluar kamar itu. Semua menatap nanar apa yang terjadi pada Naruto. Naruto hanya memandang bingung pada beberapa orang yang tidak dikenalnya. .
.
.
Dokter itu menyinari mata Naruto dengan senter kecilnya, setelah selesai Sang Dokter mengantongi sentor tersebut di kantong yang berada di dadanya.
"Dugaanku terjadi. Naruto mengalami lupa ingatan sebagian. Beberapa ingatannya seperti tenggelam di alam bawah sadarnya. Tapi kalian tenang saja, ini bukanlah kasus yang serius. Ingatannya akan kembali seiring berjalannya waktu. Pelan - pelan saja, jangan dipaksakan." Dokter itu berkata sambil mengelus kepala Naruto sambil tersenyum seakan - akan mengatakan jika semuanya akan baik - baik saja.
"Apa harus ada pemicunya, Dok?" Minato mulai bertanya.
"Itu juga bisa. Tapi itu semua tergantung kondisi Naruto sendiri. Tapi tetap saja jangan terlalu memaksakan Naruto, itu akan memperburuk kondisinya. Kalau tidak ada yang di pertanyakan, saya permisi." Dokter itu berlalu dan meninggalkan orang - orang yang berada di dalam kamar itu.
Naruto merasa kepalanya memberat. Ia lupa ingatan. Kata Ibunya, mereka semua adalah teman - temannya. Jika benar begitu, pasti mereka kecewa jika Naruto melupakan mereka.
"A—ano.. Maaf. Aku melupakan kalian. Padahal kalian repot repot datang menjenguk." Naruto menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sambil terkekeh. Semua merasa agak lega. Karna sifat dan tingkah Naruto tidak berubah. Lagipula Dokter itu bilang kalau ini tidak serius kan? Naruto juga akan mengingat mereka semua lagi.
Shikamaru merasa sangat bersalah disini. Ia membuat seorang Uzumaki Naruto lupa ingatan. Mungkin ketika Naruto sudah mengingatnya, ia akan meminta maaf dengan benar. .
.
"Naruto, kami akan keluar sebentar ke konbini, kau ingin menitip sesuatu?" Lee berdiri dan menghampiri Naruto yang masih duduk di atas ranjangnya.
"Apa tidak apa - apa Naruto makan - makanan dari luar?" Tanya Sai.
"Beli saja makan ringan yang tidak terlalu berat." Lee mengangguk dan mulai keluar diikuti Sai, dan Chouji.
"Dan jangan belikan Ramen." Lanjut Kushina ketika Naruto sudah membuka mulutnya. Naruto mendumel ketika ia tidak boleh memakan Ramen. Sai terkekeh ketika melihat Naruto mendumel sebal melihat Ibunya.
"Kalau begitu, kami permisi." Mereka mulai keluar setelah diucapkan 'Hati - hati di jalan' oleh Kushina.
Naruto melihat Sai dan yang lainnya telah keluar kemudian melirik Sasuke yang duduk disebelah ranjangnya yang masih setia memandangi wajah Naruto. Naruto yang risih dipandangi seperti itu oleh Sasuke, mulai memandangi Sasuke balik. Melotot dengan pandangan tidak sukanya pada Sasuke.
"Sebegitu serunya kah kau memandangiku seperti itu terus? Apakah kau orang yang menyebalkan?" Sasuke tersentak ketika Naruto mengatakan hal seperti itu. Sasuke bangkit dari kursi dan membungkukan badannya.
"Maaf membuatmu tidak nyaman. Bukan maksudku seperti itu." Sasuke mengangkat kepalanya kembali dan melihat ekspresi bingung Naruto.
"Kau ini orang baik atau orang yang menyebalkan?" Tanya Naruto.
"Dua - duanya, Naruto." Ucap Kiba. "Kau selalu bilang kalau Sasuke itu galak sekali, kan? Kau bahkan sering jadi samsak tinjunya." Kiba terkekeh kecil.
"Benarkah?" Naruto bertanya dengan tampang tidak percaya. Sasuke kembali membungkuk kedua kalinya.
"Maafkan aku. A—aku akan berubah." Ucap Sasuke.
"Kalau kau berubah, Naruto tidak akan mengingatmu, loh?" Sasuke menatap Kiba yang ada benarnya juga.
"Ka—kalau begitu, jadilah diri sendiri saja. Dan.. Um.. Jangan pukul aku keras - keras ya?"
"Aku tidak akan memukulmu!" Naruto tersentak kaget ketika tiba - tiba Sasuke membentaknya. Sasuke tersadar jika ia telah membuat kesalahan. Naruto pasti takut padanya, kalau begini ia tidak bisa mendekati Naruto.
"Lihat! Benar Kan? Sasuke itu galak." Kiba tertawa dan kembali memaikan game di ponselnya bersama Shikamaru. Sasuke menatap tajam Kiba yang tidak peduli akan tatapan menusuk dari Sasuke. Mungkin jika tatapan Sasuke bisa membunuh orang, Kiba sudah mati dari tadi.
"E—ehh.. Kau galak juga ternyata. K—kalau begitu—" Sasuke mengalihkan pandangannya kearah Naruto masih dengan Death Glare andalannya, membuat Naruto memotong ucapanya karena ketakutan. Sasuke telah sadar apa yang telah ia lakukan. Naruto melihat Sasuke dengan waspada.
"Berhenti memasang wajah seperti itu! Aku bukan orang jahat!" Sasuke tidak tahan dan akhirnya membentak Naruto sekali lagi. Kembali duduk dan bersidekap dengan angkuh. Memandangi Naruto dengan kesal.
"Berani - beraninya kau melupakanku. Akan kubuat kau membayarnya, dobe!" Naruto melotot dengan panggilan yang baru keluar dari bibir si pemuda pucat ini. Tampangnya memang tampan tetapi kelakuannya menyebalkan.
"Hee.. Angkuh sekali kau. Teme!" Naruto berucap. Sasuke dan Naruto saling bertatap dengan tatapan membunuh yang mereka miliki, jika dilihat lebih baik ada aliran listrik yang menggabungkan mata mereka berdua. Sepertinya akan sulit.
"Ano.. Sebenarnya aku penasaran dari tadi. Tangan kirimu kenapa?" Gaara tersentak ketika Naruto mulai menanyakan tangan Sasuke yang di gips. Sasuke mengangkat tangan kirinya dan memperlihatkan pada Naruto.
"Hanya kecelakaan kecil. Bukan masalah besar." Naruto berdecak mendengar jawaban dari Sasuke yang tidak ada imut - imutnya itu. Kalau saja Sasuke bisa bersikap lebih manis mungkin saja Naruto bisa menyuk—
'Eh? Apa? Apa yang ku pikirkan? Naruto, Baka!'
"Kau kenapa?" Sasuke yang bingung melihat Naruto menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Kau ini. Aku bertanya baik - baik jawabanmu tak bersahabat sekali. Kalau kau begitu terus kau akan jadi kakek - kakek keriput—Akh.. Sakit, Teme!" Naruto membalas toyoran Sasuke ketika ia tiba - tiba mendapat toyoran cinta dari Sasuke.
"Kau ini tidak ada manis - manisnya ya? Aku ini sedang sakit, bersikaplah yang baik."
"Jangan berlebihan. Kau bahkan akan keluar malam ini."
"Gahhh.. Kau sungguh menyebalkan, teme!" Ucap Naruto dan kembali mendapat toyoran dari Sasuke.
"Jangan memanggilku teme, dasar dobe!" Naruto membalas toyoran dari Sasuke.
"Kau juga memanggilku dobe, teme!"
"Berisik! Tidur sana!"
"Kau harus minta maaf. Mana sifatmu yang manis tadi? Keluarkan!"
"Jangan panggil aku manis. Aku laki - laki."
"Terimalah takdirmu sebagai laki - laki bermakhluk manis."
Kushina dan beberapa orang yang ada di sana hanya menggeleng - gelengkan kepalanya mendengar pertengkaran unfaedah ini. .
.
.
Tsuzuku
