Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : NaruSasu (Naruto x Sasuke)
Genre : Friendship, Romance, Yaoi, Shounen Ai
Warning : AU, Multi chapters, Gaje, Typo, OOC, alur maraton, yaoi, dan hal absurd lainnya.
Note : If you dont like or hate this fanfic, Dont read!
Liburan tiga hari yang sudah sangat direncanakan, batal karena kebodohan mereka sendiri. Mereka pulang ke Konoha dan kembali ke sekolah. Kembali mengikuti pelajaran tambahan di liburan musim panas. Semua sepakat untuk tidak mengungkit - ungkit kejadian di Otto kemarin, biarkan Naruto mengingatnya sendiri. Karena ketika Gaara mencoba bertanya apa yang Naruto ingat sebelumnya, Naruto meremas kepalanya dan menggeram.
Meladeni fans - fans nya ketika tahu Naruto mengalami amnesia sebagian, membuat Naruto begitu di kerubungi oleh wanita - wanita di kelasnya. Bertanya 'apakah ia baik - baik saja' atau 'adakah yang sakit' seperti itu.
Naruto mengingat kalau ia pernah menjuarai olimpiade Matematika dan juga pernah menjadi kapten tim basket. Bahkan ia ingat jika ia dan Sasuke menjadi tim inti basket ketika kelas satu dan dua. Tetapi ia lupa jika punya fans yang banyak di sekolahnya. Ia jadi merasa bersalah ketika melupakan sebagian teman - temannya dan juga Guru - gurunya.
Naruto sempat bertanya pada Sasuke ketika Sasuke menjemput Naruto kerumahnya, mengapa saat liburan musim panas tetap harus ke sekolah. Sasuke menjelaskan jika memang peraturan di Konoha High School seperti itu. Sasuke berfikir jika Naruto melupakan peraturan sekolahnya juga.
Tsunade yang mengetahui kabar itu langsung membawa Naruto ke UKS dan memeriksanya ketika jam pelajaran telah usai. Tidak ada yang fatal, semuanya baik - baik saja. Dan juga Naruto mengingat baik neneknya ini. Tetapi ia lupa jika ia masih punya kakek. Tsunade menghela nafas melihat kondisi Naruto saat ini. Sepertinya akan memakan waktu lama membuat Naruto mengingat semua memorinya.
Kemarin, Ketika Sasuke pulang dari liburannya dan sampai rumah, Mikoto dan Fugaku terlihat sangat marah pada Naruto ketika melihat tangan anaknya patah dan harus di gips. Walaupun tangan kirinya masih bisa bergerak, tapi tidak bisa terlalu cepat. Tetapi Sasuke sudah bisa membawa barang walaupun hanya yang ringan - ringan saja.
Sasuke menjelaskan jika mereka mendapat kecelakaan kecil ketika di Otto. Naruto menolongnya ketika kecelakaan itu terjadi. Naruto mendapat luka yang lebih parah dari Sasuke, bahkan sampai hilang ingatan sebagian.
Dan sekarang, Fugaku, Mikoto, dan Itachi kaget ketika Sasuke membawa Naruto kerumahnya. Maksud Sasuke ingin mengenalkan kembali kedua orang tuanya. Naruto yang bingung kenapa tiba - tiba Sasuke memperkenalkannya kepada orang tuanya hanya bisa mengikuti Sasuke, daripada ia dapat pukul di kepalanya lagi. Itu bebar - benar menyakitkan.
Sasuke agak terkejut ketika Naruto mengingat Itachi, tetapi tidak dengan Mikoto dan Fugaku. Sasuke merasa lega, sepertinya ingatan Naruto benar - benar bisa pulih. Mikoto dan Fugaku kembali memperkenalkan diri kepada Naruto dan mengucapkan banyak terimakasih pada Naruto karena telah melindungi anaknya sampai harus mengorbankan diri seperti ini.
Naruto sebenarnya sangat bingung pada cerita Sasuke. Maka dari itu ia bertanya pada Sasuke ketika Keluarga Uchiha—termasuk Itachi karena khawatir dan penasaran dengan keadaan yang menimpa Naruto—tengah berkumpul di meja makan. "Apa benar aku melindungimu?" Katanya. Sasuke mengangguk.
"Sebenarnya ini semua salahku. Karena diriku, kau jadi seperti ini. Jika saja aku tidak.. " Sasuke menggantungkan kalimatnya, berfikir jika tidak mungkin ia menceritakan kejadian sebenarnya. Apalagi di depan keluarganya.
"Kau tidak apa?" Naruto bertanya. Sasuke menggeleng dan tersenyum kearah Naruto.
"Tidak. Bukan apa - apa. Aku hanya merasa bersalah padamu. Jika saja aku tidak ada disana, mungkin saja kau tidak kehilangan sebagian ingatanmu." Naruto masih bingung. Sebenarnya hubungan seperti apa yang ia punya dengan Sasuke, sampai - sampai ia rela mati seperti ini.
"Tapi, kau tau Sasuke? Aku masih agak bingung."
"Jangan dipaksakan. Nanti kepalamu sakit lagi. Perlahan saja. Aku akan menunggu." Ucap Sasuke. Naruto mengangguk mengerti dan kembali memakan makanannya yang ada di atas meja. Walaupun sampai saat ini ia masih sedikit bingung. Kenapa juga ia melindungi Sasuke, orang yang galak dan suka main kekerasan dan juga memiliki mulut yang super pedas sampai ia mengorbankan dirinya.
Ia masih tidak mengerti.
Apa Sasuke ini orang penting? Apa Naruto diancam jika tidak melindungi Sasuke, keluarganya akan membununya? Atau memang ia diancam oleh Sasuke sendiri? Naruto masih tidak mengerti.
"Hei, kau masih tidak mengerti kenapa kau melindungi Sasuke?" Itachi bertanya pada Naruto yang telah menyelesaikan makannya. Naruto mengangguk dan menaruh sumpit dan mangkuknya di atas meja.
"Sebenarnya iya. Aku masih belum paham, kenapa aku harus melindungi orang yang super kasar dan dingin dan cerewet dan dan.. Dan memiliki mulut yang super pedas. Aku masih belum paham. Bahkan dia suka memukulku. Itu bukan seperti teman kan?" Naruto mengambil kembali sumpit dan mangkuknya, berniat kembali memakan makanannya.
Sasuke tersentak ketika ia mendengar Naruto memberikan tanggapan tentang dirinya seperti itu. Sebegitu buruknya kah Sasuke sampai Naruto berbicara seperti ini? Sebelumnya Naruto tidak pernah berbicara seperti itu pada Sasuke. Naruto berbicara begitu ketika Naruto.. Ketika Naruto..
Ini salah Shikamaru.
"Maaf kalau sifatku kasar. Aku memang begini, dobe!" Sasuke masih menatap Naruto dengan cairang bening yang menggenang di matanya. Fugaku dan Mikoto terkejut melihat Sasuke menangis.
"Dengar! Dia bahkan memanggilku dobe. Bukankah itu—" Naruto tersentak ketika ia mendapati wajah Sasuke yang memandang tajam dirinya dengan air mata mengalir. Naruto merasa bersalah sudah berbicara kasar seperti itu pada Sasuke. Pasti berat buat Sasuke ketika temanmu mengalami amnesia.
Naruto ingat ketika ia pertama kali melihat Sasuke ketika ia siuman. Sasuke menangis mendapati Naruto melupakan Sasuke. Naruto memang mengingat jika ia dan Sasuke berteman. Tetapi ingatan itu samar - samar. Ingatan yang ia dapat hanya ketika Ia dan Sasuke bertanding basket memperebutkan gelar juara satu mewakili sekolahnya seKonoha. Selebihnya ingatannya buram.
Naruto melupakan Sasuke. Naruto tidak tau bagaimana Sasuke. Naruto tidak bisa mengingat semuanya tentang Sasuke.
Maka dari itu, ketika ia melihat Sasuke menangis untuk yang kedua kalinya, ia merasa bahwa ia adalah orang yang sangat penting bagi Sasuke. Naruto merasa ia sangat bodoh, melihat sahabatmu melupakanmu lalu berbicara seperti itu padahal kau tidak tau apa - apa, itu akan membuatnya semakin terluka.
"Maaf jika aku kasar. Aku tidak terbiasa bersikap lembut." Ucapan itu bergetar menahan tangis yang hendak keluar. Padahal air mata itu sudah meluncur di kedua pipi pucat itu.
Naruto bingung harus bagaimana menanggapi laki - laku yang menangis. Jika wanita yang menangis, Naruto cukup memeluknya dan mengelus - elus rambutnya. Tapi jika laki - laki yang menangis? Tidak mungkin kan ia memeluk Sasuke dan mengelus - elus kepalanya. Ia benar - benar bingung.
Sasuke bangkit dari kursinya dan berlari keatas. Naruto mengikuti pandangan Sasuke yang berlari keatas dan memasuki kamarnya. Eh? Kamarnya? Kenapa ia bisa tau kalau itu adalah kamar Sasuke.
"Ah!" Naruto bangkit berdiri dengan tiba - tiba. "Aku minta maaf. Aku tidak tahu jika omonganku akan menyakiti Sasuke. Aku benar - benar minta maaf." Naruto membungkuk dalam mengetahui jika tindakanya sangat konyol. Padahal disini ada Ayah, Ibu, dan Kakaknya Sasuke.
Mikoto menggeleng dan mengangkat wajahnya. "Bukan pada kami kau meminta maaf." Mikoto tersenyum pada Naruto. Naruto meminta izin pada suami istri itu untuk meminta maaf pada Sasuke. Mikoto dan Fugaku mengangguk, dan setelah itu Naruto mulai melesat naik kelantai dua menuju kamar Sasuke.
Itachi yang melihat Naruto mulai naik kelantai dua menatap datar Naruto. Awalnya ia pikir setelah melihat Naruto mengalami kondisi seperti ini, ini adalah kesempatan. Tetapi setelah melihat Sasuke menangis, ini adalah yang pertama kali ketika Itachi melihat Sasuke menangis setelah ia lulus TK.
Itachi merubah pikirannya. Jika Naruto mampu membuat Sasuke menangis, mungkin Sasuke benar - benar mencintai Naruto. Itachi menghela nafasnya pasrah. Tidak seharusnya ia membenci Sasuke. Harusnya ia mendukungnya. Hanya karena ia mencintai Naruto, tetapi sebenarnya Itachi masih mencintai Sasuke.
Sepertinya move on adalah pekerjaan yang berat ya? .
.
.
Naruto mengetuk pintu beberapa kali berharap Sasuke keluar, atau setidaknya ia dibiarkan masuk kekamarnya. Mana mungkin kan?
Naruto terkekeh atas pikirannya sendiri. Setelah ia membuat Sasuke menangis lalu mengharapkan jika Sasuke membuatnya membukakan pintu untuknya, itu tidak mungkin kan?
Naruto harus mencari cara agar Sasuke membuka pintu ini. Naruto berusaha mengingat - ingat kejadian sebelumnya bersama Sasuke sebelum kecelakaan itu terjadi. Mungkin saja ada petunjuk jika Naruto sedikit mengingat kejadian sebelumnya.
Naruto memantapkan diri dan mencoba berkonsentrasi. Memusatkan pikirannya sebelum kecelakaan.
"Ugghhhh!" Naruto terus berkonsentrasi memusatkan otaknya agar ia mengingat sesuatu.
Sasuke mulai membuka pintu dan menyeritkan keningnya heran mendapati Naruto berada di depan pintu kamarnya sedang mengepalkan tangannya sambil menungging dengan wajah mengedan seperti ingin buang air besar.
"Apa yang kau lakukan menggeram seperti itu di depan kamar orang, hah?" Naruto mengangkat wajahnya dan melihat Sasuke telah membuka pintunya. Naruto berdiri tegak terkekeh kecil dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Padahal ia belum mendapatkan ingatan apa - apa, tapi Sasuke sudah membuka pintunya. Hebat sekali.
"Boleh aku masuk?" Naruto melihat Sasuke menatap Naruto dengan tajam sejenak. Masih dengan isakan kecilnya, air mata yang belum dihapus dari pipinya, membuat Naruto merasa bersalah kembali. Akhirnya Sasuke membukakan pintu untuk Naruto.
Naruto masuk kekamar Sasuke dan berjalan ke arah kasur queen zise nya. Naruto merasa pernah kekamar ini, memandang sekeliling kamar itu dan ingatannya sepertinya muncul di kepalanya.
"Aku seperti mengingat sesuatu." Ucapan Naruto membuat Sasuke sedikit terkejut dan langsung berjalan menghadap Naruto.
"Apa yang kau ingat?" Naruto lumayan terkejut ketika melihat Sasuke yang begitu antusias. Naruto berfikir sejenak dan mulai mengatakan apa yang diingatnya.
"Aku pernah tidur disini kan? Kau memaksaku untuk belajar semalaman, alhasil aku tidur disini. Aku dibawah dan kau diatas. Kalau tidak salah, waktu—kapan yah? Hehe aku lupa." Naruto menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ketika Sasuke mencoba membuka suara, telunjuk Naruto berada di depan bibir Sasuke.
"Aku ingat! Sebelum ujian masuk ke KHS, kan? Kau memasakanku Ramen lalu diatasnya ada tomatnya. Kau memaksaku untuk makan tomat itu, padahal aku tidak suka tomat. Setelah itu—apa yang terjadi ya?" Sasuke memandang Naruto takjub akan ingatan itu.
Itu adalah salah satu ingatan yang Sasuke sukai. Membuatkan Ramen untuk Naruto sebelum ujian lalu memberikan toping tomat. Alhasil Naruto hanya makan Ramennya saja, tomatnya ditinggal di mangkuk.
"Aku memarahimu karena tidak kau makan tomatnya. Lalu—"
"Ahh!" Ucapan Sasuke terpotong. "Kau membuatkanku Ramen lagi tetapi dengan syarat aku harus memakan tomatnya. Lalu mau tidak mau aku makan tomat itu. Benar kan? Aku ingat itu!" Naruto meloncat dan menyentuh kedua pundak Sasuke. Sasuke tersenyum ketika Naruto mulai mengingat kenangan itu.
"Seiring waktu kau mulai mengingatnya. Aku turut senang." Sasuke tersenyum sambil mengusap pipinya yang tadi dialiri air mata. Naruto memandang Sasuke yang sedang tertawa kecil, tampan dan manis disaat yang bersamaan. Tanpa sadar membuat jantung Naruto berdetak tidak karuan.
"Naruto!" Sasuke memanggil Naruto ketika Naruto berjalan kearah rak buku koleksi Sasuke. Sepertinya Sasuke suka membaca Novel sastra ya?
"Ada apa?"
"Boleh aku memelukmu?" Pinta Sasuke.
"Huh?" Naruto langsung membalikan tubuhnya kaget akan permintaan yang menurut Naruto sangat aneh.
"Ah—maaf aku minta hal yang aneh - aneh. Tidak apa - apa. Jangan pikirkan apa yang aku ucapkan tadi. Lupakan saja. Maaf." Sasuke bergerak resah. Malu ketika mengucapkan permintaan yang sangat bodoh itu.
Naruto yang melihat Sasuke bergerak tidak nyaman mulai berfikir. Apakah ia dan Sasuke sangat dekat sampai berpelukan pun di anggap biasa? Biasanya persahabatan antara laki - laki hanya sebatas bertukar pikiran dan bermain bersama. Tetapi untuk berpelukan rasanya sangat aneh.
Tetapi entah kenapa Naruto sekarang juga ingin memeluk Sasuke.
"Boleh saja." Ucap Naruto merentangkan tangannya. Sasuke yang melihat itu termenung sebentar dan langsung berlari menubruk dengan keras tubuh Naruto. Memeluknya dengan erat dan menenggelamkan wajahnya di leher Naruto. Naruto sampai hampir terjungkir kebelakang jika dibelakangnya tidak ada rak buku.
Agak sakit ketika Sasuke tiba - tiba menubruk tubuhnya. Tapi melihat perilaku Sasuke, terlihat jika Sasuke benar - benar ingin memeluknya tetapi ia selalu menahannya. Naruto mulai membalas pelukan Sasuke dan menghirup rambut Sasuke.
Wangi shampo kesukaannya.
Eh? Kesukaannya?
Naruto tidak tahu kenapa aroma ini jadi kesukaannya. Tetapi yang pasti Naruto suka aroma Sasuke. Naruto merasa nyaman dipeluk Sasuke. Naruto merasa nyaman memeluk Sasuke. Naruto bahagia ia bisa memeluk Sasuke.
Naruto mulai curiga jika hubungan Naruto dan Sasuke lebih dari sahabat.
"Eeeto.. Sasuke.. Mau sampai kapan kau memelukku?" Sasuke tersentak ketika Naruto berbicara. Naruto mempersilahkan dirinya dipeluk bukan berarti boleh memeluk selamanya. Sasuke mengutuk kebodohannya, takut jika Naruto mulai tak nyaman dengan Sasuke nanti. Apa yang akan Sasuke lakukan?
"Ah—sudah hampir malam. Aku akan pulang. Terimakasih atas makan siangnya, Sasuke." Sasuke mengangguk dan mengantarkan Naruto sampai ke gerbang.
"Apa perlu ku antar? Kau hapal jalannya kan?" Sasuke mulai khawatir jika Naruto akan kesasar nantinya.
"Tenang saja. Kalau jalan pulang aku hafal. Kalau begitu, aku pergi dulu." Naruto melambaikan tangannya kepada Sasuke dan berlalu. Sasuke mulai lebih lega sekarang. Ia pikir ia dan Naruto tidak akan pernah bisa bersama lagi. Tetapi melihat Naruto yang mau memeluknya membuat Sasuke semakin optimis. Apalagi Naruto menghirup kuat rambutnya.
Itu kebiasaan Naruto ketika mereka tengah berpelukan seperti itu. Sasuke tersenyum ketika mendapati kebiasaan Naruto tidak hilang begitu saja. .
.
.
Hari ketiga pelajaran tambahan di liburan musim panas dimulai.
Sasuke datang kerumah Naruto menjemput Naruto seperti dua hari yang lalu. Naruto keluar rumah setelah berpamitan dengan Ayah dan Ibunya. Menyapa Sasuke diluar dan berjalan beriringan ke sekolah.
Plester yang berada di wajah Naruto sudah dilepas semua. Walaupun bekasnya masih ada tetapi tidak mengurangi ketampanan Naruto. Sasuke sempat bertanya 'apa tidak apa - apa dilepas semua?' dan Naruto menjawab jika memakai plester seperti itu membuatnya risih.
"Kapan kau melepas gips itu?" Tanya Naruto ketika melihat penyangga tangan kiri Sasuke telah berganti.
"Semalam aku sudah melepaskan gipsnya, sekarang aku akan memakai Hand Splint beberapa hari sampai tanganku lebih baik." Naruto menangguk mengerti.
"Oh iya! Apa kau selalu menjemputku ketika ingin berangkat ke sekolah?"
"Tidak. Kau yang selalu menjemputku." Ucap Sasuke.
"Eh? Benarkah?" Sasuke mengangguk dan tersenyum. Naruto sejenak mengagumi senyum manis Sasuke. Membuat dadanya menggedor - gedor keras. Naruto mulai memperhatikan bibir ranum itu, sungguh sangat indah. Leher jenjang itu begitu halus. Dada bidang itu begitu cocok pada Sasuke. Perut—
Tunggu! Tunggu! Tunggu!
Tunggu sebentar!
'APA YANG AKU PIKIRKAN?'
Naruto berteriak dalam hati dan mengusap wajahnya kasar. Berusaha sadar dari pikiran yang menurutnya sangat sangat sangat tidak sehat ini. Sadar, Naruto! Sasuke laki - laki. Ia sahabatmu. Kau harusnya sadar atas pikiranmu, Naruto!
Sasuke berhenti jalan dan menatap Naruto dengan heran. Apa sedang yang dilakukannya? Mengusap wajahnya kasar seperti itu. Kalau begitu terus ia akan menabrak—
BRUK!
—tiang listrik.
"Aduhhh" Naruto memegang kepalanya yang baru saja menabrak tiang listrik. Sasuke menghampiri Naruto yang jatuh terduduk mengusap - usap kening Naruto yang tadi menjadi korban tertabrak 'tiang listrik' sambil tertawa kecil. "Apa yang kau lakukan?" Katanya.
Sekali lagi, Naruto terpesona akan senyum dan tawa yang Sasuke ciptakan. Sepertinya ia jatuh cinta. Eh? Tapi? Apa boleh? Ia lupa tentang Sasuke dan tiba - tiba ia menyatakan perasaannya? Apakah Sasuke tidak berpikir bahwa Naruto memanfaatkan keadaan? Jika ia menyatakan perasaannya apakah Sasuke akan marah?
Naruto menggenggam tangan kanan Sasuke dengan kedua tangannya. Menatap Sasuke yang sempat tersentak akan kelakuan Naruto yang tiba - tiba.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu. Aku melupakan apa yang terjadi diantara kita. Yang aku tau jika kau dan aku sudah bersahabat sejak lama. Tapi aku tidak bisa menahan perasaan ini lagi. Aku tidak tau ini benar atau salah. Tetapi, Sasuke, aku—"
Mata Naruto membulat ketika Sasuke langsung mencium bibir Naruto ketika Naruto masih di tengah - tengah kalimatnya. Ciuman itu hangat dan tanpa nafsu. Naruto merasa ia tengah terbang di atas awan. Ia merasa beberapa Kupu - kupu terbang di perutnya.
Sasuke menyudahi ciuman itu memandang Naruto dengan senyuman dan—air mata? Sepertiya Sasuke kembali menangis.
Naruto mengulurkan tangannya mengusap air mata Sasuke yang mengalir. Menatap Sasuke dengan penuh cinta. Sasuke yang ditatap seperti itu merasa Narutonya telah kembali.
"Aku mencintaimu!" Ucap Sasuke. Naruto terpenjat kaget ketika mendengar Sasuke mengatakan kata - kata itu. Kata - kata yang ingin dikatakan oleh Naruto, telah di ucapkan duluan oleh Sasuke. Naruto merasa jadi orang yang paling bahagia di dunia ini.
Naruto dan Sasuke bangkit berdiri dan berjalan kembali menuju sekolah. Ia mengerti sekarang. Kehidupan sebelum ia mengalami amnesia sebagian, ia dan Sasuke sudah menjalani hubungan seperti ini. Naruto tersenyum—tidak. Menyengir lebar mengetahui jika Sasuke juga mencintainya.
Tetapi, di sini, Sasuke lah yang merasa paling bahagia. Walaupun Naruto melupakannya, tetapi Naruto tidak melupakan cintanya. Sasuke benar - benar ingin memeluknya. Tetapi jalan ini sudah dekat menuju sekolah. Akan bahaya jika mereka berpelukan. .
.
.
Tsuzuku
