Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : NaruSasu (Naruto x Sasuke)
Genre : Friendship, Romance, Yaoi, Shounen Ai
Warning : AU, Multi chapters, Gaje, Typo, OOC, alur maraton, yaoi, dan hal absurd lainnya.
Note : If you dont like or hate this fanfic, Dont read! .
Tsunade datang ke kamar inap Naruto, Kushina yang melihat Tsunade datang hanya ingin memeriksa kondisi Naruto, sekalian menengok salah satu cucunya ini.
Sebelumnya, Tsunade meminta izin pada atasannya jika ia ingin dipindahkan ke rumah sakit ini agar bisa memeriksa cucunya ini. Awalnya atasannya tidak menanggapi permintaannya, tetapi Tsunade selalu tahu apa yang harus dilakukan. Dan berakhirlah ia di rumah sakit ini. Memperhatikan Naruto tiap hari, itulah alasan ia menjadi dokter. Bisa merawat keluarganya jika keluarganya sakit seperti ini.
Setelah melihat Naruto, Tsunade pergi dari kamar inap Naruto untuk mengurus semua keperluan yang belum di urus.
Di kamar rawat inap Naruto, Kushina, Karin, dan Itachi duduk di sofa panjang. Mengobrol dengan topik yang ringan sambil memangku secangkir teh hangat di genggaman mereka. Sasuke masih duduk ditempatnya sambil memainkan ponselnya. Tangan kirinya sesekali memainkan rambut pirang Naruto.
Minato sudah kembali dari tadi pagi ke kantornya karena banyak yang harus dikerjakan. Minato sudah lumayan lama meninggalkan pekerjaannya demi Naruto, sekarang Minato akan menyelesaikan pekerjaannya demi Naruto.
Biaya rawat inap Naruto tidaklah murah, maka dari itu, Minato memutuskan untuk lebih sering lembur dan Kushina sesekali bekerja untuk para tetangga jika ada yang membutuhkan. Entah itu mengurus anak atau mengerjakan pekerjaan rumah lainnya. Urusan menjaga Naruto, Kushina meminta tolong pada Sasuke yang tentu saja dengan senang hati Sasuke menerimanya.
Walaupun tidak Kushina tawarkan, Sasuke akan menawarkan diri sebagai penjaga Naruto. Sasuke dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa dan sepenuh hidup dan sepenuh raganya menjaga Naruto. Kushina tertawa ketika Sasuke mengatakan kalimat seperti itu.
Itachi pernah menawarkan bantuan untuk biaya perawatan Naruto, tetapi ditolak secara halus oleh Minato. Mau bagaimanapun ini adalah tanggungjawab mereka sebagai orang tua. Lagipula Sasuke bersedia menemani Naruto kapanpun. Minato jadi tidak enak pada keluarga Uchiha. Tetapi Itachi berpesan jika ada sesuatu yang ingin dibutuhkan katakan saja, dan keluarga Uzumaki menerimanya dengan senang hati atas pertolongan keluarga Uchiha.
Sesekali Fugaku dan Mikoto menyempatkan datang menjenguk Naruto. Kushina dan Minato selalu meminta maaf jika merepotkan Fugaku, Mikoto, serta Itachi yang sudah mau menyempatkan waktunya untuk melihat Naruto. Padahal mereka punya pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.
Fugaku menggeleng dan tidak menerima kata - kata dari Minato, ia bilang Naruto sudah seperti anaknya sendiri. Maka ia wajib menyempatkan waktu untuk Naruto. Apalagi Naruto dalam kondisi yang tidak bisa diketahui.
Sasuke melihat Ayah dan Ibunya ternyata orang yang baik dan sangat peduli. Mungkin saja Sasuke berpikir jelek terhadap kedua orang tuanya karena Sasuke lah yang mengasingkan diri pada orang tuanya, bukan orang tuanya yang menjauhinya. Tapi Sasuke sudah senang sekarang, itu artinya Keluarga Uchiha dan Keluarga Uzumaki sudah saling menerima.
Hubungan Sasuke dan Naruto sudah di terima.
Sasuke tersenyum ketika melihat handphonenya sedang membuka grup chat yang dibuat oleh fansnya. Di grup chat itu ternyata banyak yang mendukung akan hubungannya dengan Naruto. Memberikan semangat pada Sasuke menghadapi cobaan yang di timpa oleh Naruto.
Sebenarnya Sasuke tidak pernah mengikuti grup chat itu. Tetapi Naruto yang memasukannya kedalam grup. Sasuke kadang - kadang mengsenyapkan grup itu karena terlalu berisik. Ia tidak pernah bergabung mengobrol atau sejenisnya pada grup chat ini. Berbeda dengan Naruto, Naruto selalu mengobrol di grup chatnya dan meladeni para fansnya.
Itulah yang membuat handphone Sasuke tidak pernah diam.
Tetapi sekarang Sasuke membuka grup chat itu untuk yang pertama kalinya. Membaca kata - kata semangat dari para fansnya, memberikan doa untuk Naruto, bahkan mereka juga memberikan doa untuk kelancaran hubungan mereka. Sasuke terlalu sibuk memperhatikan Naruto sampai ia tidak tahu bahwa ia dikelilingi oleh orang - orang baik yang selalu memperhatikannya.
Para fans sungguh mengerti sifat dan sikap yang ada di dalam diri Sasuke. Kadang kala mereka memang buas, tetapi mereka juga bisa mengerti, maka dari itu, ketika grup chat itu muncul dengan nama 'Uchiha Sasuke' dan menulis pesan..
_Terimakasih, semuanya_
Para fans bisa mengadakan syukuran saat ini juga, ini adalah pesan pertama dari Sasuke sejak Sasuke gabung di grup. Sasuke tersenyum kecil melihat tanggapan lebay mereka akan pesan pertama dari Sasuke di grup. Mungkin tidak buruk juga mencoba dekat dengan mereka.
_Maaf membuat kalian khawatir. Maaf karena telah mengacuhkan kalian terlalu lama. Aku akan berusaha mencoba untuk lebih dekat pada kalian. Jadi, mohon bantuannya_
Itu adalah pesan kedua Sasuke di grup. Lebih panjang daripada ia berbicara di dunia nyata. Para fans yang mendapatkan pesan kedua dari Sasuke di grup mulai berbondong - bondong mengscreencapture pesan dari Sasuke. Lebay memang, tapi itu adalah hal yang wajar dilakukan ketika idolamu menulis pesan untukmu. Untuk semua.
Saat ini, mulai sekarang Sasuke akan mencoba memberitahukan kabar perkembangan Naruto hari demi hari. Sejak kemarin ia memulai chat di grup, Sasuke memberikan kabar yang sama. Naruto masih sama seperti sebelumnya. Tidak ada yang berubah, apalagi bangun dari komannya.
Banyak yang bertanya padanya, apa yang terjadi pada Naruto, Sasuke hanya menjawab jika Naruto dan Sasuke mengalami kecelakaan waktu mereka di Otto.
Lalu kenapa Sasuke seperti tidak terima pada Shikamaru, lalu memukul dan berbicara ingin membunuh Shikamaru? Sasuke menjawab jika itu bukan kesalahan Shikamaru. Ia hanya depresi melihat Naruto yang koma dan menyalahkan pada Shikamaru. Karena pada saat terjadi kecelakaan, Shikamaru dan dia ada di tempat kejadian perkara. Maka dari itu, Sasuke mencoba menumpahkan kekesalan pada Shikamaru.
Lagipula ia tidak akan mungkin menceritakan yang sebenarnya kan?
Itachi bangkit berdiri pamit pada Kushina dan Karin. Sasuke melirik Itachi yang sepertinya sudah selesai disini.
"Kau sudah mau pulang?" Tanya Sasuke. Itachi mengangguk.
"Aku lupa jika ada urusan yang harus diselesaikan hari ini, aku akan kekantor sekarang. Aku akan menjemputmu sekitar jam sepuluh. Kau tidak apa - apa kan, Sasuke?" Tanya Itachi yang sudah bersiap - siap pergi.
"Jangan terburu - buru. Aku akan menunggu selama mungkin." Itachi mengangguk. "Kalau begitu, aku pergi dulu."
"Hati - hati dijalan." Ucap Kushina menatap Itachi yang sudah pergi melewati koridor rumah sakit. Ketika pintu telah di tutup, Seseorang mengetuk pintunya. Kushina yang sudah duduk di sofa bangkit kembali menuju pintu dan membukakan pintu yang sepertinya itu adalah tamu.
Sasuke ikut menoleh ketika ingin tahu siapa tamu yang ingin menjenguk Naruto.
Mata Sasuke membulat penuh melihat siapa yang ada di balik pintu itu. Sasuke langsung berdiri dan memandang tajam Shikamaru yang menunduk memberikan salam pada Kushina. Kushina membiarkan Shikamaru masuk dan kemudian memandang Sasuke.
"Mau apa kau kemari?" Ucap Sasuke tidak bersahabat.
"Aku disini ingin meminta maaf dengan benar. Aku—"
"Pergi, kau!" Ucap Sasuke lirih. Shikamaru menggeleng.
"Bibi, aku ingin meminta maaf yang sebesar - besarnya kepadamu. Aku yang menyebabkan anak bibi seperti ini. Aku tahu perbuatanku sangat keterlaluan, tetapi aku tetap ingin meminta maaf pada Bibi. Aku akan melakukan apapun jika ini bisa menolong Naruto. Aku akan ganti rugi semua perbuatanku. Maka dari itu semua, aku meminta maaf yang sebesar - besarnya." Shikamaru membungkuk dalam mengucapkan kata maaf.
Sasuke masih menatap tajam Shikamaru. Sasuke tahu jika Shikamaru tidak mungkin akan menyakiti Naruto lagi, karena Sasuke melihat jika Kiba mulai bisa menerima Shikamaru. Jadi tidak ada alasan bagi Shikamaru melukai Naruto lagi. Tapi tetap saja Sasuke merasa marah pada Shikamaru. Semua yang terjadi karena salah Shikamaru. Jika saja Shikamaru tidak memukul Naruto sampai seperti itu, Naruto tidak akan hilang ingatan dan sampai koma seminggu seperti ini.
"Angkat kepalamu." Kata Kushina. Shikamaru mengangkat kepalanya dengan wajah sangat menyesal. Shikamaru menatap mata Kushina untuk mencoba memaafkan Shikamaru—
PLAK!
Tamparan super itu mendarat di pipi kiri Shikamaru. Kepala Shikamaru bahkan merasa ada seribu bintang yang ada di atas kepalanya. Panas di tangan Kushina sepertinya tidak membuat Kushina puas. Ia menampar kembali pipi kanan Shikamaru. Suara menggelegar akibat tamparan ala Kushina itu membuat Sasuke dan Karin kaget setengah mati.
Mereka berdua tidak pernah melihat Kushina yang seperti ini.
"Aku tidak selalu harus terlihat tegar kan?" Kata Kushina. Suaranya bergetar. Kedua pipi Shikamaru memanas dan mulai memerah kembali membungkukan badannya mengucapkan kata maaf.
"Kata maafmu tidak akan membangunkan Naruto!" Akhirnya air mata Kushina meluncur bebas.
"Aku tahu." Kata Shikamaru masih membungkuk.
"Uangmu tidak akan membuat Naruto bangun."
"Aku tahu."
"Kedatanganmu juga tidak akan membuat Naruto bangun."
"Aku tahu."
"Kalau kau tahu, PERGI DARI SINI!" Shikamaru tersentak ketika mendengar Kushina berteriak membentak Shikamaru dan mengusirnya. Shikamaru diam sejenak dan mengucapkan kata maaf sekali lagi dan berlalu dengan panas yang masih menjalar di kedua pipinya.
Karin memeluk Kushina yang tengah menangis. Ini adalah pertamakalinya Kushina menangis sejak Naruto mengalami koma. Selama ini ia menahan diri untuk tidak menangis, karena menangis tidak akan membuat Naruto terbangun. Tetapi kali ini Kushina tidak kuat. Ia tidak bisa harus terlihat tegar setiap hari. Sesungguhnya sosok Ibu disinilah yang sesungguhnya paling rapuh.
Monitor detak jantung Naruto terdengar berbunyi dengan cepat. Semua orang panik ketika mendengar monitor itu berbunyi secepat itu. Bagi semua orang yang ada di ruangan itu, suara ini lah yang paling menyeramkan sebelum suara hantu.
Sasuke melesat keluar ruangan memanggil Dokter. Ia lupa jika sebenarnya para Dokter sudah datang ketika terjadi masalah pada Naruto. Sasuke, Kushina, dan Karin menunggu di depan. Berdoa agar ada keajaiban datang untuk Naruto.
Sasuke mengeluarkan handphonenya dan memasuki kolom grup chat itu. Sasuke terlalu ketakutan sampai mengetik sesuatu yang tidak jelas. Para fans yang ada disana mulai merasa takut juga ketika melihat pesan dari Sasuke.
_Tolong!_
_Naruto!_
_Takut_
_Mati_
_Tidak_
_Aku_
_Takut_
_Doa_
_Beri Naruto Doa_
Pesan - pesan absurd itu terus dikirim oleh Sasuke. Para fans tidak mengerti apa maksud pesan dari Sasuke. Seorang fans mengatakan pemikirannya jika Naruto mengalami masa kritis. Biasanya keadaan seperti itu terjadi untuk orang yang sudah lama koma.
Sasuke yang tidak tahu apa yang terjadi pada Naruto, lalu ia mulai membaca pesan dari fansnya. Menurut salah satu fans di grup itu bahwa mungkin Naruto sedang mengalami masa kritisnya. Sasuke mulai menarik nafasnya agar lebih tenang.
_Naruto benar - benar kritis?_
Sasuke mendapatkan balasan pada orang tersebut. Bertanya jika apa yang terjadi pada Naruto sebelumnya.
_Monitor itu tiba - tiba berbunyi dengan cepat tanpa henti._
Pesan Sasuke terkirim. Semua orang yang membaca pesan itu menahan nafasnya. Sambil berdoa jika Naruto akan baik - baik saja. Orang itu membalas jika rata - rata orang koma Sebenarnya bisa mendengar orang yang ada di dalam. Dia juga bertanya apakah sebelumnya ada yang bertengkar di dekat Naruto?
Sasuke mengingat sedikit insiden ketika kushina menampar Shikamaru.
_Ya. Ada pertengkaran kecil._
Orang itu membalas lagi jika mungkin itulah penyebabnya. Seakan - akan Naruto memberitahu jika tidak ada yang boleh bertengkar karenaku.
_Apa yang harus kulakukan?_
Orang itu membalas tidak ada yang bisa Sasuke lakukan. Serahkan semuanya pada para Dokter yang menangani. Sasuke hanya bisa duduk dilantai memeluk lututnya dan memanggil nama Naruto dalam diam. Berharap Naruto mendengar suaranya.
Setelah lama menunggu, pintu itu akhirnya terbuka. Sasuke, Kushina, dan Karin berdiri menatap Tsunade penuh harap.
Tsunade tersenyum mengatakan jika masa kritis Naruto telah terlewati. Sasuke mendesah lega dan terduduk dilantai. Terengah - engah seperti sedang lari Maraton. Kushina dan Karin tersenyum lega ketika mendengar Naruto baik - baik saja.
"Ah.. Tadi Naruto sempat bangun, dan sekarang ia tengah tidur. Jadi kalian tenang ya." Tsunade tersenyum sambil menunjukan telunjuknya di depan bibirnya, mengisyaratkan agar jangan berisik. Mereka bertiga menutup mulutnya dan mengangguk mengerti.
"Eh?" Sasuke terkejut sendiri ketika sesuatu terlintas dipikirannya. "Kau bilang Naruto tadi terbangun?" Tanya Naruto setelah melepas mulutnya dari bekapan tangannya sendiri.
"Iya." Tsunade mengangguk. "Kau tau apa artinya kan?"
Sasuke merasa jika kata - kata Tsunade barusan terdengar seperti lagu yang dinyanyikan oleh malaikat dan satu - satunya lagu paling indah di dunia. .
.
.
Esoknya Sasuke datang lagi. Kamis pagi yang membuat Sasuke semangat karena Naruto telah sadar dari komanya. Ia memberitahukan keadaan Naruto di grup chatnya dan respon mereka, tentu saja merasa senang. Mendengar idolamu siuman dari komanya adalah hal yang paling luar biasa. Sama seperti yang Sasuke rasakan.
"ITACHI!" Suara Sasuke menggelegar dalam kamar Itachi. Itachi yang baru tidur dua jam—Itachi tadi tidur jam 3 pagi—lalu tiba - tiba Adik kesayangannya membangunkannya jam—jam berapa ini? Itachi melihat jam digital yang ada di atas mejanya.
Jam 5 pagi. Bagus Sasuke. Itachi bangun jam 5 pagi padahal nanti ia harus pergi ke kantor.
"Itachi! Bantu aku membuat kue. Cepatlah!" Sasuke menarik kaki Itachi sampai keluar dari selimut. Menyeretnya turun dari lantai dua ke dapur. Memaksanya membuat kue untuk Naruto, padahal daya melek mata Itachi tinggal 2 watt.
Pagi - pagi sekali Sasuke memang sengaja bangun untuk membuat beberapa cemilan sehat yang ringan. Sasuke tidak bisa memasak, maka dari itu, ia memaksa Itachi bangun pagi untuk menemaninya memasak. Tidak! Menyuruhnya memasak. Walaupun Sasuke hanya membantu doa dan mencicipi, tetapi melihat semangat Sasuke membuat masakan—Ralat! Melihat Itachi memasak—untuk Naruto membuat Itachi senang juga.
Walaupun ia masih mengantuk.
Jam delapan pagi, Sasuke berjalan melewati lorong rumah sakit. Menuju lift, menekan angka 3-B dan lift itu pun berjalan. Dentingan berbunyi menandakan Sasuke telah sampai di lantai yang dituju, pintu lift terbuka, dan Sasuke berjalan menuju kamar inap Naruto.
"Permisi." Ucap Sasuke sambil menggeser pintu rumah sakit itu dan masuk kedalam. Ketika melihat Naruto tengah duduk bersandar di ranjangnya, Sasuke tidak tahan untuk tidak berlari dan memeluk Naruto yang berada di ranjang itu. Naruto tertawa ketika tiba - tiba Sasuke melompat kearahnya dan memeluknya erat.
Disana ada Kushina, Minato, Karin, serta Ibu dari karin—Sasuke berspekulasi jika dia adalah Ibu dari Karin, karena mirip—yang tertawa kecil melihat Sasuke memeluk Naruto dengan tiba - tiba. Naruto membalas pelukan dari Sasuke lebih erat lagi. Ingin menyalurkan bahwa ia juga merindukan Sasuke—walaupun Naruto tidak merasa tertidur lama, seperti baru bertemu kemarin—tetapi Ibunya cerita jika ia koma selama satu minggu.
Yah.. Itu juga pasti berat untuk Sasuke karena harus menunggu Naruto dengan tak pasti yang entah kapan Naruto bangun dari tidurnya.
Naruto menghirup aroma rambut dari Sasuke. Aahhh.. Aroma yang memabukan. Kesukaan Naruto. Sasuke tersenyum ketika kebiasaan Naruto saat memeluk dirinya tidak hilang. Sasuke melepaskan pelukannya dan menyerahkan wadah kotak makanan yang tadi ia bawa kepada Naruto.
"Apa ini?" Naruto menerima kotak makanan itu dan membukanya. Ia melihat roti kering seperti bulan sabit berwarna merah gelap.
"Makanlah. Makanan itu cocok untuk orang sakit." Kata Sasuke. Naruto menyeritkan keningnya.
"Sejak kapan kau bisa masak, Sasuke?"
"Sejak tadi." Ucap Sasuke bersidekap. Naruto menelan salivanya. Biasanya makanan untuk orang Sakit itu tidak enak. Apalagi Sasuke tidak bisa memasak, pasti lebih aneh lagi. Tetapi Sasuke sudah berusaha keras untuk membuat ini, Naruto akan memakan makanan yang dibuat Sasuke walaupun membuat menceret, Naruto akan habiskan semuanya.
Ketika satu kue kering itu telah mendarat di mulut Naruto, Naruto tidak menemukan ada yang aneh di kue itu. Kue itu sepertinya baik - baik saja dan tidak akan membuat Naruto menceret.
"Mmhh.. Ini enak, Sasuke! Kau hebat!" Sasuke bersidekap tersenyum bangga. Memamerkan keahliannya pada Naruto. Melupakan hal yang paling fatal jika itu bukan buatan Sasuke sendiri. Tetapi Sasuke tetap tersenyum sombong pada Naruto, membuat Naruto percaya jika itu benar - benar buatan Sasuke.
Naruto mulai memakan kue kering itu lagi, mungkin bisa ia habiskan, jika Kushina tidak menjauhkannya dari Naruto.
"Ehh? Ibu! Kenapa diambil?" Kata Naruto masih dengan mulut yang penuh dengan kue kering itu. Kushina mengambil kotak itu dan kembali duduk di sofa sambil memakan kue dari Sasuke. Karin mengulurkan tangannya ikut mengambil kue kering di dalam wadah yang ada di tangan Kushina.
"Ibu juga harus mencicipi kue buatan Calon Mantu Ibu." Katanya sambil memakan kue itu.
"Eeehhhh? Sasuke membuatkannya Untukku!" Naruto mulai ribut adu mulut dengan Ibunya. Sasuke menarik kursi yang ada di dekatnya dan duduk disebelah Naruto.
"Sasuke itu baik yah?" Tiba - tiba karin membuka suara. Semua menengok kearah Karin termasuk Naruto.
"Ada apa tiba - tiba begini?" Tanya Sasuke.
"Kau tau? Sasuke menunggumu setiap hari. Dari pagi sekali dia sudah ada di sampingmu. Lalu malam sekali ia baru pulang kerumah. Perhatian sekali bukan?" Kata Karin tersenyum menyindir kearah Sasuke.
"Setiap hari?" Tanya Naruto. Karin mengangguk. "Kau membolos, Sasuke?" Tanya Naruto.
"Tidak mengikuti pelajaran beberapa hari tidak akan membuat peringkatku turun, Naruto."
"Cih! Sombong seperti biasa."
"Lalu Sasuke juga menangis setiap hari, loh?" Ucap Karin. Sasuke mendelik galak pada karin.
"Aku tidak menangis!" Elaknya.
"Kau menangis."
"Tidak!"
"Kau sungguh menangis, dasar cengeng!"
"Aku! Tidak! Menangis!" Kata Sasuke memberikan tekanan disetiap kata - katanya.
"Mau menangis atau tidak, itu tidak ada bedanya. Kau menungguku setiap hari, aku sudah senang." Ucap Naruto sambil mengusap kepalanya. Sasuke sedetik terpesona akan senyuman Naruto yang diberikan untuk Sasuke. Kalau saja ia bisa menyimpan senyuman itu untuk dirinya sendiri—
"Jangan berpikir jika kau akan menyimpan senyuman Naruto untukmu sendiri, Sasuke." Ucap Karin.
"Berisik!" Sasuke terkesiap dan menjerit. Mengelak akan kata - kata dari Karin. Seakan - akan bisa membaca pikiran Sasuke.
"Aku memang bisa membaca pikiranmu, Sasuke." Ucap Karin terkekeh.
"K—kau!" Karin tertawa melihat Sasuke ternyata bisa di permainkan. Biasanya Sasuke akan selalu memasang ekspresi dingin dan tak bersahabat. Tetapi jika di depan Naruto, semua gerak - geriknya dan wajahnya bisa Karin baca dengan jelas. Yah kalau dipikir usil sedikit dengan Sasuke boleh juga.
"Sasuke menangis." Kata Karin.
"A—apa?"
"Bahkah Sasuke datang kesekolah beberapa hari yang lalu—"
"Karin!" Potong Sasuke, ketika Sasuke tahu kemana arah pembicaraan Karin.
"—Sasuke memukul Shikamaru." Naruto tersentak ketika mendengar Karin mengatakan itu. Naruto melihat Sasuke yang menundukan kepalanya.
"Sasuke—"
"Diam!" Sasuke memotong ucapan dari Naruto. Naruto hanya tak percaya jika Sasuke benar - benar akan memukul Shikamaru.
"Dia yang buat dirimu jadi begini. Aku hanya harus membuatnya sama dengan kondisimu sekarang. Tapi si gendut brengsek Chouji menghalangiku. Gai Sensei ikut - ikutan dan membuatku pingsan. Jika saja tidak ada yang menghalagi, aku akan—"
"SASUKE!" Sasuke terkejut ketika Naruto tiba - tiba membentaknya. Apa yang salah?
Naruto menghela nafas menyesal telah membentak Sasuke dan membuat Sasuke jadi ketakutan. Ia memandang Sasuke dengan lembut.
"Andaikan! Jika kau berhasil membunuh Shikamaru, apa aku akan senang?" Tanya Naruto. Sasuke diam masih menatap mata Naruto.
"Aku tidak berniat membunuhnya. Aku hanya ingin dia koma sepertimu." Kata Sasuke.
"Jangan main - main dengan 'Koma', Sasuke! Kau pikir kalau orang koma akan kembali bangun, begitu? Banyak orang koma tetapi ia tidak pernah bangun. Aku hanyalah segelintir orang - orang yang beruntung karena berhasil bangun dari koma. Kalau Shikamaru koma dan tidak bisa bangun lagi, itu artinya pembunuhan, Sasuke." Sasuke diam mendengar penjelasan dari Naruto.
"Aku hanya marah. Aku hanya—" Sasuke menggangtungkan ucapannya. Masih menatap bola mata biru langit yang menghipnotis itu.
"—Maaf. Aku hanya ingin dia mengerti. Aku tidak pernah terima tindakannya." Lanjut Sasuke. Naruto mengangguk mengerti.
"Aku mengerti, Sasuke. Dia pasti juga mengerti. Apa Shikamaru ada kesini untuk meminta maaf? Ibu?" Tanya Naruto kepada Sasuke dan Ibunya. Kushina mengangguk mengiyakan.
"Tidak ada keributan kan?" Tanya Naruto lagi. Sasuke menggeleng cepat.
"Syukurlah. Kalau begitu kau menerima maafnya kan? Aku khawatir ketika kalian benar - benar bertengkar dengan Shikamaru."
"Memangnya kenapa?" Tanya Sasuke.
"Aku bermimpi bahwa kalian memarah - marahi Shikamaru, aku ada disana menghentikan kalian tetapi kalian tidak mau mendengarkanku. Ketika aku berteriak, kalian baru menoleh." Ucap Naruto. Sasuke tersentak kecil ketika mengingat ucapan salah satu fansnya. Jadi Naruto benar - benar bisa mendengarnya. Tetapi Naruto hanya melihat itu sebagai mimpi.
Eh?
Tunggu!
Tunggu! Tunggu! Tunggu!
Tunggu dulu!
"EEEEEHHHHH?
Semua terkejut ketika tiba - tiba Sasuke berteriak dengan wajah yang, bodoh?
Naruto hampir melompat dari ranjangnya mendengar teriakan dari Sasuke yang super melengking itu. Ekspresinya masih bertahan seperti tadi, hanya suaranya yang tidak ada. Naruto menoyor kepalanya menyadarkan Sasuke yang seperti anak yang baru sadar jika dirinya hilang.
"Berisik, teme! Kau pikir telingaku terbuat dari apa, hah?" Kata Naruto sambil mengorek - ngorek kupingnya dengan jari kelingking. Sasuke yang tidak terima ditoyor, menoyor balik kepala kuning itu.
"Dobe! Jangan menoyor kepalaku. Kau ingin aku jadi bodoh sepertimu, hah?" Naruto mendengus melihat tingkah Sasuke.
"Kenapa kau berteriak tadi?" Tanya Naruto kembali ke topik.
"Aku kaget!" Sasuke memegangi dadanya seperti orang kaget. Naruto hanya menyeritkan keningnya heran mendapati kebodohan Naruto yang sepertinya berpindah pada Sasuke. Ehh? Tunggu dulu? Itu berarti Naruto mengaku kalau dirinya bodoh?
Naruto menapar dirinya sendiri. Mengsugestikan diri jika dirinya jenius. Ya! Naruto itu jenius. Tidak bodoh, tapi jenius.
"Kau kenapa?" Tanya Sasuke heran melihat Naruto menampar pipinya sendiri.
"Terserah. Tidak ada yang membuatmu kaget disini, dobe!" Ucap Naruto.
"Hei! Dobe itu dirimu!" Ucap Sasuke tidak terima jika dia dipanggil dobe.
"Kalau begitu kau terima dipanggil Teme olehku, teme?"
"Mana mungkin, bodoh!" Sasuke menatap tajam Naruto yang menurutnya itu malah terlihat sangat imut. Ia bisa memakan Sasuke saat ini juga. Kalau saja tidak ada orang lain di kamar ini.
Naruto menghela nafasnya, ingin berhenti dari keributan kecil yang terjadi.
"Lalu, kenapa tadi kau kaget?" Tanya Naruto.
"Kau, tau dari mana jika semua ini karena Shikamaru? Apa ada yang memberitahumu? Bukankah kau hilang ingatan? Lagipula aku memberitahumu jika kau hilang ingatan karena kecelakaan, kan? Lalu kenapa kau—"
Sasuke menggantungkan kalimatnya. Naruto tersenyum penuh arti sambil menaikan turunkan alisnya. Naruto memajukan kepalanya kebawah menuju telinganya. Telinga Sasuke merasakan nafas Naruto yang hangat berhembus disana.
"Kita pernah melakukannya kan?"
"Huh?" Sasuke bingung apa yang pernah mereka lakukan.
"Sex." Sasuke mendorong dada Naruto menjauh dengan kekuatan dalam yang ia punya. Naruto melihat semburat merah menutupi wajah pucat Si Raven kesayangannya ini. Dan Sasuke merasakan wajahnya memanas.
"Aku sudah ingat kok. Jangan malu begitu. Aku bahkan ingat posisi seperti apa ketika kau mende—"
"AAAAAAAAAAAHHHH" Sasuke kembali berteriak menutup telinganya dengan kedua tangannya, untuk mengalihkan perhatian. DobeNaruto! Bagaimana ia bisa membicarakan hal seperti itu ketika masih ada orang di kamar inap ini.
"Hei! Jangan teriak - teriak di rumah sakit!" Seorang perawat yang kebetulan lewat langsung memarahi Sasuke. Kushina yang ada disana membungkukan badan meminta maaf. Naruto yang masih duduk di ranjangnya menyeringai penuh horor. Tidak! Bukan horor! Thriller! Senyumannya Naruto bisa membunuh Sasuke sewaktu - waktu.
"Bagaimana? Mau lakukannya lagi? Setelah dapur, bagaimana kalau ruang tamu?"
Karin yang mendengar ucapan dari si Pirang-Dobe-Kuning-Idiot-Bodoh-Usuratonkachi ini. Apanya yang dapur? Kenapa ruang tamu? Apa yang ingin kalian lakukan? Katanya.
Sasuke ingin mati saja saat ini juga. .
.
.
Owari .
Yuhhuuuuu... Terimakasih untuk kalian semua yang sudah mau meluangkan waktunya untuk membaca fanfic gaje ini. Karena ini tulisan pertamaku, mungkin aku akan lanjut menulis. Walau beberapa kali kena WB *plak*
Terus maap juga jadi buat Sasuke nya jadi OOC gak jelas gini. Sebenernya aku kurang suka sama Sasuke yang lenjeh lenjeh cengeng begini. Tapi gak ngerti kenapa kok aku nulisnya jadi begini.. Huuuhuuu 😭😭 *gagal total Aku harap semuanya terhibur *kayaknya gak ada ya*
Yah pokoknya tengkyu buat semuanya.. Selamat bertemu di fanfic selanjutnya.. Mata ashita 😍😍
.
.
Omake .
Minggu pagi. Enaknya jalan - jalan bersama dengan keluarga dan peliharaanmu. Joging bersama teman, atau sekedar jalan santai bersama pacar. Seperti Naruto yang mengajak Sasuke untuk melakukan joging di minggu pagi.
Awalnya Sasuke menolak untuk melakukan joging karena Naruto belum lama keluar dari rumah sakit. Tapi Naruto ingin keluar pagi - pagi sekedar jalan santai atau sekalian kencan bersama Sasuke. Sebenarnya, alasan yang sebenarnya, adalah, memang, Naruto ingin berkencan dengan Sasuke.
Tapi Naruto bilang jika jalan Santai di pagi hari bagus untuk orang yang baru keluar dari rumah sakit. Sebenarnya ucapan Naruto ada Benarnya juga. Sasuke melarang Naruto karena dia terlalu khawatir pada keadaan Naruto yang dirasa belum sehat—
Ahh.. Sepertinya ia salah.
Naruto malah asik bermain lempar tangkap bersama anjing milik orang lain. Naruto berlari mengejar piringan yang dilempar oleh sang majikan si anjing dan anjing itu berlari di belakang Naruto. Naruto melompat berusaha mendapatkan piringan terbang berwarna kuning itu. Naruto bersorak gembira ketika ia berhasil lebih cepat dari anjing itu.
Naruto, dobe! Jangan kau buat patah semangat anjing itu!
Sasuke berjalan kearah Naruto yang sedang melompat kegirangan dan menarik kupingnya menjauh dari sana. Sang majikan dan anjing melambai - lambai kepergian temam baru—tapi bodoh—mereka.
Sasuke menyeretnya sampai mereka duduk bangku panjang di bawah pohon besar yang rindang. Duduk bersantai seperti ini juga sangat bagus untuk orang yang baru keluar rumah sakit seperti Naruto—
Baru ditinggal melirik kearah lain, Naruto sudah berlari - lari di lapangan rumput hijau bersama anak - anak—yang kira - kira berumur 7 sampai 8 tahun—sedang memperebutkan bola bercorak merah kuning di kaki mereka. Sasuke menggelengkan kepalanya tidak peduli lagi. Ia ingin duduk sebentar menikmati henbusan angin pagi di musim panas.
Naruto menggiring bola di kakinya yang masih setia menempel, terlihat gawang kecil itu yang di jaga oleh kiper kecil itu membuat Naruto semakin yakin untuk menendang bola itu dengan kaki kanannya dan—
"GOOLLLL!" Naruto dengan anak lainnya bersorak mendapati jika tim mereka mencetak 1 poin lagi. Naruto berlari menerjang angin dengan tertawa bersama anak - anak itu sambil melompat bahagia.
Naruto tersentak ketika ia mengingat sesuatu dan melupakan sesuatu. Naruto mengingat jika tujuannya kesini adalah untuk jalan santai dan sekalian kencan dengan Sasuke. Dan Naruto melupakan 'Sasuke'.
Naruto mengedarkan kepalanya untuk mencari Sasuke. Sasuke ada di sana! Dibawah pohon rindang dan sedang duduk di bangku panjang itu. Setelah berpamitan pada anak - anak itu, Naruto menuju Sasuke yang sepertinya tengah terlelap itu. Naruto mendekatkan kepalanya dan mengecup pelan bibir Sasuke.
Sasuke kaget ketika ada yang menyentuh bibirnya tiba - tiba. Ketika ia membuka matanya, ia melihat jika Naruto ada di depannya sambil tersenyum dan memilih duduk disamping Sasuke.
"Maaf melupakanmu." Ucap Naruto.
"Hn."
Naruto dan Sasuke sama - sama terdiam untuk waktu yang lama. Merasakan angin yang berhembus. Sepertinya semakin panas. Ya karena pagi sepertinya telah tiada digantikan oleh siang. Satu persatu orang meninggalkan taman keluarga itu. Hanya sedikit orang yang masih tinggal di taman ini padahal panas matahari mulai menyengat.
"Sasuke, kemarin kau masih ingat apa yang aku lakukan?" Naruto menyenderkan kepalanya kebelakang di bangku kursi itu. Dikarenakan bangku itu lebih pendek, membuat kepala Naruto harus mendongak keatas, melihat pohon rindang yang berayun - ayun karena angin. Pemandangan kecil yang membahagiakan.
"Kemarin adalah hari dimana kau sudah keluar dari rumah sakit. Lalu kita merayakannya bersama - sama. Keluarga Uchiha dan Keluarga Uzumaki memakan Nabe bersama. Agak aneh menurutku." Ucap Sasuke mengikuti apa yang Naruto lakukan, sambil melihat pohon rindang di atasnya.
"Aneh bagaimana?" Tanya Naruto.
"Yah.. Kau tau kan, ini musim panas. Kenapa makan Nabe? Itu aneh menurutku." Ucap Sasuke.
"Kau benar. Aneh. Tapi enak! Nabe buatan Ibumu sangat enak. Tapi bukan itu yang ingin aku katakan." Ucap Naruto membuat dirinya duduk dengan benar.
"Apa yang ingin kau katakan?" Sasuke mengikuti Naruto duduk dengan benar.
"Kau tau kan? Di tengah - tengah kumpul kemarin, aku keluar sebentar." Ucap Naruto. Sasuke mengangguk.
"Kemarin sebenarnya, aku bertemu dengan Shikamaru. Ahh.. Neji dan Gaara juga ada." Sasuke melotot mendengar Naruto mengatakan itu.
"Mereka katanya minta maaf padaku. Padahal aku bilang pada mereka aku sudah memaafkan mereka. Tetapi mereka masih merasa bersalah. Lalu aku bilang pada mereka mungkin saja perasaan bersalah mereka masih ada, karena kau belum mau memaafkan mereka." Lanjut Naruto. Sasuke mengalihkan pandangan dengan tampang kesal yang sangat ketara.
"Buat apa aku memaafkan mereka? Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan mereka." Naruto menghela nafas. Keras kepala sekali si pantat ayam ini.
"Mereka kan teman kita." Ucap Naruto.
"Aku tidak peduli. Kalau mereka teman kita, harusnya mereka tidak melakukan hal yang di luar logika." Sasuke masih keukeuh mempertahankan kekesalannya.
"Misalnya, ya, Sasuke. Misalnya! Misalnya aku mencintai Gaara, apa yang akan kau lakukan?" Tanya Naruto. Sasuke menolehkan kepalanya menatap Naruto. Naruto menyeritkan keningnya menatap Sasuke yang masih diam menatapnya.
"Mungkinkah! Mungkinkah?! Kau juga akan membunuh Gaara?" Sasuke mengalihkan tatapannya. Lebih memelih mematap tukang eskrim yang terlihat lebih merarik.
Naruto menghela nafas.
"Kalau begitu, aku lebih memilih membunuhmu." Kata Sasuke.
"Huh? Kenapa aku?" Tanya Naruto.
"Kalau aku tidak bisa mendapatkanmu, lebih baik tidak ada yang boleh mendapatkanmu." Naruto agaknya tersentak kecil dengan ucapan yang dikeluarkan oleh Sasuke. Naruto tidak akan menyangka Sasuke akan mengatakan hal seperti itu. Walau cuma bercanda tapi lumayan menyeramkan.
"Pikiran burukmu itu harus cepat - cepat kau buang, Sasuke. Bisa - bisa kau akan membunuh wanita yang dekat denganku, padahal dia adalah temanku. Eh? Tapi kau lebih baik membunuhku kan?"
"Aku tidak akan melakukan hal sebodoh itu."
"Benarkah?" Naruto menyipitkan matanya kearah Sasuke. Menyelidik jika ucapan Sasuke dapat dipercaya. Naruto menggeleng kepalanya mendapat respon diam dari Sasuke. Naruto merentangkan tangannya keatas menghirup udara pagi di musim panas. Merentangkan tangannya kesamping dan merangkul Sasuke.
"Dengar! Aku mencintaimu. Jadi kau tak perlu membunuh siapapun."
"Aku tahu!" Sasuke melepaskan rangkulan Naruto yang ada di atas pundaknya. Naruto terkekeh ketika melihat semburat merah memenuhi pipi pucat Sasuke. Naruto menatap lurus kedepan menatap beberapa orang yang sedang berjalan - jalan dengan anjing peliharaan mereka.
"Hei, Sasuke. Kalau kita menikah nanti, kau ingin bulan madu kemana?" Tanya Naruto masih menatap lurus kedepan melihat hamparan tanah lapanngan hijau di depan dengan ekspresi yang sangat lembut dan—KAU BERCANDA YA?!
"A—ap—apa y-yang kau bicarakan?!" Ucapan Sasuke terbata - bata karena mendengar pertanyaan ambigu dari mulut Naruto.
"Yahh.. Kau tau kan? Ibuku sudah menganggap dirimu menantu, dan aku ingin kita membicarakan bulan madu kita setelah kita menikah nanti. Enaknya dimana ya? Di luar negri apa ya?" Sasuke menatap Naruto dengan tampang tidak percaya dengan wajah dipenuhi semburat merah dan asap yang mengepul diatas kepalanya.
"Ki—kita masih SMA kan?"
"Ya, lalu?"
"KENAPA KAU BERTANYA HAL ITU ENTENG SEKALI?" Sasuke menaik turunkan dadanya emosi melihat Naruto yang tidak mempermasalahkan ucapannya. Naruto yang melihat Sasuke menyerit bingung. Ia pikir Sasuke akan suka mengenai obrolan 'Dimana kita akan berbulan madu?' begitu. Tetapi ternyata salahnya.
"Kalau begitu kita ganti topik." Ucap Naruto. Sasuke bernafas lega. Setidaknya jantungnya masih aman dan tidak akan berontak seperti tadi. Dan kepalanya tidak akan meledak karena terlalu kepanasan seperti tadi.
"Apa yang akan kau lakukan jika—eh? Siapa itu?" Naruto memutuskan kalimatnya karena teralih oleh orang yang sepertinya ia kenal. Sasuke mengikuti arah pendang Naruto dan menemukan Neji dan Gaara yang sedang di depan kedai mobil Burger. Jarak mereka cukup jauh, apalagi Naruto dan Sasuke berada di bawah pohon rindang yang besar. Kemungkinan mereka terlihat oleh Neji dan Gaara kecil.
"Hee.. Mereka memulai hubungan ya?" Naruto mengut - mangut mengerti. Melihat kedua temannya yang sepertinya sudah berpacaran.
"Tau dari mana kau kalau mereka pacaran?" Tanya Sasuke.
"Dilihat bagaimanapun juga mereka terlihat pacaran. Lihat! Neji merangkul Gara. Lihat!" Naruto menegaskan pendapatnya jika apa yang dilihatnya tidak salah. Sasuke memutar matanya.
"Sebelum kita berpacaran, kau sering merangkulku kan, dobe!" Kata Sasuke.
"E—eh? Ta—tapi kan—Neji dengan Gaara berbeda! Lihat! Mereka—" Naruto menunjuk Neji dan Gaara yang terlihat sedang— Berciuman?
Naruto dan Sasuke menelan saliva mereka, semburat merah hadir di pipi keduanya. Merasa malu sendiri akan apa yang mereka lihat sekarang. Melihat Neji yang mencium Gaara di tempat umum seperti ini. 'Hebat sekali mereka!' batin keduanya.
Ehh? Tidak, tidak! Neji tidak terlihat mencium Gaara. Ia seperti melumat mulut Gaara! Gaara juga terlihat membalas perlakuan Neji. Gara mencengkram kaos belakang Neji, sedangkan Neji menekan leher Gaara agar ciuman panas mereka lebih dalam.
"—Berciuman." Naruto melanjutkan kalimatnya yang tadi sempat terpotong karena kehilangan fokus oleh pasangan yang sepertinya mulai memasuki masa kawin.
Asap panas terlihat mengepul di kedua kepala Naruto dan Sasuke. Mulai mengalihkan pandangan mereka pada hal lain.
"He—ee.. Me—mereka berani juga melakukan hal yang membuat orang panas begitu di tempat umum." Sasuke mengangguk. Melihat Neji dan Gaara yang sebegitu beraninya melakukan hal begitu di tempat umum—apalagi sedang lumayan ramai begini, membuat Sasuke salut kepada mereka berdua.
Sasuke ingat ketika dulu, pertama kali ia berpacaran dengan Naruto, mereka berdua juga berciuman di taman—bukan taman yang ini. Tetapi taman itu sedang sepi. Tidak ada satu orang pun yang lewat. Lagipula mereka hanya sekedar berciuman. Bukan lumatan seperti itu.
"Ne, Sasuke. Aku lagi kepikiran nih." Ucap Naruto mulai melupakan pasangan gila itu.
"hn?"
"Bagaimana kita akan melakukan di ruang tamu—"
"AAAAAAAAAHHHHHHHH"
Sasuke berteriak setengah mati untuk menghentikan pikiran - pikiran kotornya ketika Naruto berkata 'ruang tamu' di otaknya. Sasuke bisa mati kapan saja karena kepanasan. Wajah dan hatinya memanas karena pertanyaan ambigu dari Naruto. Naruto mengerlingkan matanya melihat tindakan berlebihan dari Sasuke.
"Sasuke!" Naruto membawa wajah Sasuke dengan kedua tepalak tangannya menghadap kewajahnya.
"Kita itu berpacaran. Bukan berteman. Jadi hilangkan sifat malu - malu tai kucingmu itu." Naruto benar juga. Mereka berdua itu berpacaran, bukan berteman seperti dulu. Harusnya Sasuke tidak perlu bersikap tsundere seperti ini. Lagipula mereka sudah pernah *ehem* di rumah Sasuke. Sasuke juga tidak ingin membuat Naruto kecewa.
"Ta—ta—tapi—tapi—kenapa harus di ruang tamu?" Sasuke masih merasakan asap panas mengepul di atas kepalannya. Tangannya meremas tangan Naruto yang masih ada di pipinya.
"Bukan kah kau yang bilang? Kau lupa? Kau yang bilang di tengah - tengah *ehem* kita. Kau bilang ingin melakukannya diruang tamu. Kan?" Tanya Naruto memiringkan kepalanya berfikir. "Dan aku pikir 'boleh juga' kalau kita melakukannya. Dan kau pun mengangguk."
"Eh? Benarkah?" Sasuke mengingat kembali kala itu. Yah kalau di ingat - ingat memang Sasuke yang meminta. Tapi itu karena mereka terbawa suasana karena mereka melakukan pertama kali di dapur. Sasuke merasakan kalau kepanya mengeluarkan bunyi 'air sudah matang' dan mengeluarkan asap di kedua kupingnya. Mengingat betapa bodohnya Sasuke saat itu.
"Ta—tapi, kau juga tidak mengatakan hal itu dengan entengnya, DOBE!"
"TEME! Kalau kau seperti ini terus, hubungan kita tidak akan berhasil." Sasuke tersentak ketika mendengar kata 'Tidak berhasil' pada 'hubungan kita'. Ia tidak mau ini berakhir begitu saja karena sikap Sasuke yang begini terus.
"Ka—kalau begitu, kita lakukan! Selanjutnya! Di rumahmu!" Tantang Sasuke. Naruto berkedip beberapa saat dan menyeringai horor. Menurut Sasuke itu horor.
"Hee.. Boleh juga. Kalau begitu—" Naruto mulai mengecup bibir merah milik pacarnya dan melepasnya. Berbicara di depan bibirnya yang masih menempel, dengan suara yang begitu menggoda Sasuke.
"—Kita lakukan! Sekarang!"
Sasuke merasa jika besok ia akan membolos jam pelajaran tambahan ke sekian kalinya. Karena bokongnya akan habis oleh Si Kuning Pirang Bodoh Dobe Idiot Usuratonkachi ini. .
.
.
Maji de. Owari. .
.
Iyaahahahahahhaha.. Apa? Mau liat enaena Naruto sama Sasuke? Boleh... Boleh boleh..
Gak deng. Canda~~😁
