MY LOVELY SENSEI

Pair :

Levi Ackerman x Eren Jaeger (fem)

Disclaimer :

Karakter SNK sepenuhnya milik Hajime Isayama sensei, saya hanya meminjam beberapa untuk kelancaran ff abal-abal ini.

Warn! GS, OOC, TYPO, AU.

I hope you enjoy this story~

.

.

.

.

Sinar matahari menyambut dunia. Burung-burung mulai berkicauan dilangit pertanda hari yang baru akan dimulai. Gadis berambut cokelat panjang melangkah masuk kedalam sekolah. Rambutnya yang berantakan akibat terpaan angin pun ia biarkan, membuat yang melihatnya sangat risih.

"Eren, sisir rambutmu!" Sasha berteriak pada Eren. Sebuah sisir menempel pada helai rambut Eren. Sasha menyisir rambut Eren dengan telaten.

Eren hanya bisa diam sambil memanyunkan bibirnya. Mikasa dan Armin yang melihatnya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala.

"Kau harusnya berpenampilan rapih, Eren." ucap Armin sambil memakan snack, Eren hanya bisa mendengus kesal.

"Daripada bertengkar, lebih baik nanti kerumahku. Kita buat makanan." ucap Mikasa sambil memainkan handphone nya.

Mata hijau zambrud milik Eren pun berbinar melihat Mikasa, "Ayo!"

Armin langsung mendelik, "Besok kita ulangan teman-teman."

1

2

3

4

5

"KITA KERUMAH MIKASA UNTUK BELAJAR!"

.

.

.

.

"Armin, nanti kalau jawabannya A, nanti unjuk jari telunjuk. Kalau jawabannya B, unjuk jari telunjuk dan tengah, seperti angka dua." pagi ini, Eren sudah ribut mengajarkan Armin taktik untuk memberikan jawaban saat ulangan. (Adegan tidak patut dicontoh, jangan ditiru. Jika nekad meniru, dosa ditanggung sendiri)

Armin pun mengangguk mengerti. Ia sudah menyiapkan papan jalan untuk ulangan. Mata birunya fokus pada buku Bahasa Jerman, ulangan pertama yang akan dilaksanakan pagi ini.

Eren sibuk mencatat contekan di papan jalan warna cokelat milik adik Armin. Ya, Eren meminjam papan jalan punya adik Armin karena papan jalannya hilang entah kemana. Menurut Armin, Eren adalah temannya yang sangat tidak modal dan ceroboh.

Mikasa dan Sasha tidak seruangan dengan Eren, mereka berada diruangan sebelah. Armin duduk didepan kedua Eren. "Eren, pengawas sudah masuk!"

Armin pun kembali duduk ditempat duduknya, menyiapkan segala persiapan untuk ulangan di hari pertama. Eren pun membereskan buku-bukunya, memasukkannya kedalam tas lalu duduk dengan rapih.

Masuklah seorang wanita narsis dengan kacamatanya. Hanji masuk dengan tatapan riangnya, membuat para murid senang ketika tahu bahwa Hanji yang akan mengawas ruangan mereka.

"Selamat pagi, semua!" Hanji berteriak dengan suara 8 oktafnya. Semua murid bersorak-sorai saat Hanji menaruh tasnya diatas meja guru.

"Hari ini kita akan memulai-"

TOK TOK

"Mrs. Hanji?" Nanaba, guru BK di sekolah pun mengetuk pintu ruangan Eren ulangan. Hanji pun mengalihkan matanya pada Nanaba yang berdiri di pintu kelas. Hanji pun menghampiri Nanaba keluar kelas.

Eren meraut pensilnya agar menjadi runcing. Hanji pun masuk kedalam kelas lalu mengambil kembali barang-barang miliknya. "Maaf semua, sepertinya hari ini kita tidak ditakdirkan bersama."

Semua murid menatap Hanji dengan pandangan bertanya-tanya. Hanji yang mengerti pandangan bingung murid-muridnya pun memberi penjelasan, "Karena ada kesalahan teknis, saya dipindahkan keruangan sebelah."

Eren menatap Hanji dengan perasaan kecewa, rasanya ia ingin menahan gurunya yang terlampau nyentrik dan mengikatnya dikelas ini.

Hanji pun keluar dari kelas, semua murid kecewa dan merasa ruangan sebelah sangat beruntung bisa diawasi oleh Hanji. Eren pun mendengus kesal, tangannya memainkan pensil yang tadi ia raut.

Pintu pun terbuka, Eren masih tidak peduli. Langkah kaki pun menggema dalam kelas yang tiba-tiba menjadi sunyi. Eren yang sudah terlanjur kecewa pun tak berniat untuk menatap pengawas ruangan.

"Semua tas letakkan didepan."

GLEK

Mata hijau Eren membulat, lalu ia menatap kedepan. Menatap sosok pengawas yang sangat ia tak duga. Armin pun menoleh kebelakang, sekedar untuk menatap wajah Eren yang ia yakini sekarang seperti seekor keledai.

Levi sensei, ia yang mengawas ruangan Eren sekarang.

Mata keabuannya menatap tajam semua murid. Levi sangat tidak suka pada murid yang suka mencontek saat ulangan.

Semua murid pun meletakkan tas mereka di depan, termasuk Eren. Jantungnya berdetak cepat ketika melewati sensei kesayangannya. Mata elang Levi menatap semua murid yang sudah duduk kembali, lalu mulai membagikan kertas ujian.

Eren mulai berkeringat dingin. Bukan karena ujian, tapi karena Levi mengawas ujian. Bagaimana kalau Levi tahu kalau Eren menyontek? Bisa jatuh harga diri Eren dihadapan guru berkacamata itu.

Mata Levi yang tertutup kacamata pun menatap tajam meja dan kursi semua murid. Takut-takut ada yang mencontek. Eren bersyukur, untung saja tadi ia menulis contekannya dengan samar-samar.

Jantung Eren semakin berdegup keras ketika Levi membagikan kertas ujian kepadanya. Mata hijau Eren bertemu dengan mata keabuan milik Levi.

BLUSH

Wajah Eren merona hebat, wajah dingin Levi memang sangat mempesona. Eren pun menatap punggung kokoh sang guru. Senyum pun menghiasi wajah Eren, 'Dia semakin tampan ketika dilihat dari jarak dekat.'

"Kerjakan sendiri-sendiri, jika ada yang mencontek akan saya robek kertas ujian kalian."

Semua murid menatap horor guru pengawas mereka. Levi memang dikenal sebagai guru yang sangat dingin. Matanya selalu memancarkan aura membunuh yang teramat dalam. Tapi, tidak sedikit para murid maupun guru yang mengagumi sosok dingin Levi.

Semua murid pun mulai mengisi. Eren memainkan pensilnya sambil membaca soal ujian, 'Ah, ini gampang sekali.'

Eren mulai mencatat jawabannya pada lembar jawaban, untung saja dia masih ingat dengan jawabannya. Gadis bermata hijau menulis jawaban sambil sesekali melirik kearah Levi yang sedang menatap semua murid.

GLEK

Eren memalingkan wajahnya pada kertas ujian. Entah benar atau salah, Eren merasa sang guru sedang memperhatikannya tadi. Jantung Eren semakin berdebar, tangan kirinya menyentuh bagian jantungnya, 'Kenapa harus berdebar disaat seperti ini?'

1 jam lewat 30 menit pun berlalu...

Semua murid pun mulai mengumpulkan kertas ujian mereka, termasuk Eren dan Armin.

"Eren, kau bisa menjawabnya?" tanya Armin sambil memegang kertas ujiannya.

Eren pun menjawab dengan bangga, "Tentu saja. Soalnya mudah."

Armin tertawa kecil mendengar ucapan Eren, "Karena ada someone?" Armin pun mulai menggoda Eren.

Wajah Eren semakin merona, lalu ia berdiri dihadapan Levi. Ah, Eren jadi semakin gugup berada didekat Levi. Eren memberikan kertas ujiannya pada pria dengan rambut model undercut itu lalu pergi secepatnya menuju meja duduknya.

Levi menatap kertas ujian Eren lama, lalu matanya menatap Eren. "Eren Jaeger."

Jantung Eren berhenti berdetak, nafasnya tercekat, tubuhnya kaku untuk sekedar digerakkan. Efek panggilan Levi sangat besar untuk kesehatan Eren.

Eren berusaha menoleh kearah Levi. Levi pun menyuruh Eren untuk mendekat padanya. Gadis berambut coklat panjang itu gugup setengah mati. Eren memberanikan diri mendekat pada Levi.

"Y-ya, sensei?" Eren bertanya dengan wajah yang kelewat merah. Armin bahkan sampai menahan tawanya akibat melihat wajah bodoh Eren.

Levi menatap mata Eren dan membuat Eren semakin salah tingkah. "Eren, kau salah mengisi soal."

"EEEHHH?!"

"Soal ini untuk kelas 10. Ah, sepertinya soal ini terselip." ucap Levi dengan suaranya yang berat.

Eren melongo mendengar ucapan Levi. Mata hijaunya melebar, "Kelas 10?!"

"Sepertinya kau harus ujian kembali." ucap Levi lalu memberikan selembar kertas ujian kelas 11 pada Eren. Eren hanya menerima pasrah nasibnya hari ini.

Armin yang menunggu Eren diluar ruangan pun bingung ketika melihat Eren kembali duduk di kursi ujiannya. "Ssttt! Eren!"

Eren menoleh pada gadis berambut pirang sebahu, "Aku ulangan lagi. Tadi salah soal."

Mata biru Armin melebar. Ia melihat Eren yang mulai mengerjakan ujiannya. Sasha dan Mikasa pun datang menghampiri Armin yang masih bengong menatap Eren dari jendela.

"Armin, mana Eren?" tanya Mikasa sambil menepuk pundak Armin. Sasha datang sambil memakan snack kentangnya.

"Eren ujian lagi, tadi dia salah soal." ucap Armin. Mikasa dan Sasha terkejut mendengarnya, mereka kemudian mengintip kedalam ruangan dimana hanya ada Eren dan Levi.

Ya, hanya ada Eren dan Levi didalam ruangan itu.

Levi mengawasi Eren yang kembali melakukan ujian. Jantung Eren berdegup keras ketika Levi berjalan kearahnya. Derap kaki menggema didalam ruangan. Eren semakin panik, Levi sudah berada di sampingnya.

"Santai saja Eren, saya akan menunggu." ucap Levi dengan suara hexos nya. Eren merasa dirinya hamil mendadak ketika mendengar suara seksi sang guru.

Eren sudah tak tahu caranya mencontek. Fokusnya sekarang hanya tertuju pada soal ujian. Lebih tepatnya pada Levi yang masih setia berdiri disebelahnya. Armin, Mikasa, dan Sasha hanya bisa tertawa dari jendela saat melihat kedekatan guru dengan muridnya.

Tangan Eren gemetar. Pelipisnya mulai mengeluarkan keringat banyak, "Ini."

Levi menyodorkan sapu tangannya pada Eren, "Keningmu berkeringat."

Eren menatap terkejut sapu tangan berwarna biru. Lalu menerimanya, "Terima kasih."

Levi pun berjalan kebelakang sambil melihat-lihat kursi murid-murid. Detak jantung Eren sudah tak karuan, dirinya benar-benar gugup sekarang. 'Meleleh aku.'

Eren mengerjakan ujiannya, melingkari setiap pilihan ganda yang menurut Eren adalah jawaban yang benar. Gadis bermata hijau itu semakin tidak fokus ketika Levi kembali mendekatinya.

Levi sedikit membungkuk untuk melihat jawaban Eren. Dapat dirasakan hidung Eren mencium bau maskulin yang menguar dari tubuh atletis Levi.

'Terlalu dekat, sensei sayang.'

Eren berusaha menyelesaikan ulangannya. Masa bodo jawabannya salah atau tidak, berdekatan dengan Levi membuat kesehatan jantungnya terancam.

"Sudah kubilang, tidak usah terburu-buru Eren Jaeger." Levi berusaha membuat Eren tenang, tapi sepertinya ucapan Levi malah semakin membuat Eren bergerak cepat.

Tangan kanan Eren menulis dengan cepat kertas ujian. Ia tidak berani menatap pria bermata elang yang sedang memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya. Kemeja putih dengan kancing teratas terbuka yang membuat sebagian dada bidang Levi terekspos membuat Eren ingin mimisan.

Akhirnya, Eren menyelesaikan ujiannya. Ia kemudian berjalan ke meja guru untuk menaruh kertas ujian. Levi menatap kertas ujian milik Eren, lalu kembali memeriksanya -Takut-takut salah mengerjakan soal lagi.-

Eren berlari keluar dengan langkah terbirit-birit. Berusaha menetralkan jantungnya yang berdetak hebat. Armin pun menghampiri Eren, "Bagaimana dengan kencannya?"

Eren yang masih berdebar-debar hanya bisa menjitak kepala Armin, "Sialan kau."

Armin tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi Eren. Mikasa dan Sasha pun menghampiri Eren dan Armin. "Ekhm, jadi bagaimana rasanya berdua-duaan dengan ekhm Levi sensei ekhm." Sasha berucap sambil menggoda Eren.

Eren semakin malu dibuatnya, Eren kemudian menutup wajahnya dengan sapu tangan biru. Levi pun keluar dari ruangan. Mikasa, Sasha, dan Armin menunduk hormat pada Levi. Levi hanya menatap datar mereka lalu kembali berjalan.

Eren melebarkan matanya, 'Sapu tangan Levi sensei!'

.

.

.

.

TBC

A/n :

Ohayou minna~ adakah yang kangen dengan ff ini? /gakada/ sesungguhnya ff ini sangat sangat ooc :')) wkwk untuk yang ujian diharapkan tidak meniru apa yang saya tulis :'v. Saya akan kembali membalas komen-komen untuk chapter kemarin xD

Ema RI : terima kasih sudah memberitahu kekeliruan saya :')) itu adalah salah satu efek kurang a*ua x'D /plak/ dan terima kasih sudah membaca ff abal-abal ini:))

SayaTest : wkwkwk request siapa ini hah?! request siapa?! :v /ditampol/ mikasa sudah dengan hal-hal yang berbau dengan pukul memukul :v /digorok/ terima kasih sudah membaca ff ini dan semangat juga untuk SayaTest :))

vanillacake123 : wkwk karena mikasa suka yang tidak biasa, mangkanya dia memilih saman :v /ciah/ wkwk saya juga maunya sih langsung mempertemukan bibir eren dan levi secepatnya:(( bahkan langsung tarik ke kua kalo perlu:(( /plak/ terima kasih sudah membaca ff ini dan semangat juga untuk vanillacake123 :))

levi love petra : mikasa kan bocah unik, jadi suka yang unik-unik :v /plak/ terima kasih sudah membaca ff abal-abal ini :))

beruang madu : ih dasar reader hentong :(( /dilempar batu/ wkwk lihat saja nanti perkembangannya seperti apa xD terima kasih sudah membaca ff abal-abal ini :))

kayaknya ini terlalu ooc banget ya? tapi saya sengaja buat ooc. saya ingin menunjukkan kisah kasih anak remaja yang saya tahu. jadi yaaaa abal gini deh hehe. Btw, terima kasih yang sudah membaca dan me-review ff ini :)) /bow bareng levi dan eren/

-levieren225