MY LOVELY SENSEI
Main pair:
Levi Ackerman x Eren Jaeger (fem)
Disclaimer:
SNK (c) Hajime Isayama
Warn! GS, OOC, TYPO, SchoolLifeAU!
I hope you enjoy this story~
.
.
.
.
Ujian hari kedua masih berlanjut. Eren masih terbayang-bayang bau harum nan maskulin milik sensei kesayangannya. Bagaimana suara baritone itu menggema, rahangnya yang keras, serta kacamata yang selalu bertengger pada hidung mancung Levi. Sungguh, Eren berdebar sangat kala memikirkannya.
Hari ini adalah giliran Hanji sensei yang mengawas. Hati kecil Eren sedikit kecewa—ia berharap diawasi lagi oleh sensei pendek nan tampan. Ya, tapi walaupun begitu kini Eren bersyukur—setidaknya Hanji yang akan mengawas ujian.
Sebenarnya, Eren sudah mengetahui jawaban dari ujian hari ini. Bisa dikatakan dirinya curang—tapi ini demi kepentingan masa depan yang lebih indah (dan lagi, bukan hanya dirinya saja yang menggunakan kunci jawaban. Seluruh murid di kelas sama bejadnya). Gadis bermata hijau zambrud mengeluarkan kertas kecil; tertera a-b-c-d-e disana. Sangat rapi dan jelas.
Pensil di genggaman tangan mulai bekerja. Mencoret kertas ujian yang masih mulus. Mengisi beberapa soal dengan mudah. Hanji sensei tengah mengoreksi ujian yang lain. Benda runcing bergerak kesana dan kemari. Tak berhenti sebelum semuanya selesai.
Eren mendesah, menatap kunci jawaban yang ia pegang tak semuanya terisi. Ia segera menoleh kearah Sasha diujung kiri (kebetulan hari ini adalah ujian matematika, jadi Sasha berada satu ruangan dengan Eren). Gadis berambut coklat panjang sedikit berbisik—berharap si gadis kentang menoleh kearahnya.
Sepertinya hari ini adalah hari keberuntungan Eren. Sasha segera menoleh ketika desisan si gadis Jaeger terdengar. "Nomor berapa?" ucap Sasha setengah berbisik.
Lantas Eren menyebutkan angka; lewat jari jemari. "Nomor 30 sampai 40."
Armin yang berada di belakang Eren hanya menatap. Sedikit tertawa dalam hati melihat tingkah laku sang sahabat. Sasha segera menyebut—tentu saja dengan isyarat lewat jari. Eren segera menulis dengan siap.
Waktu masih beberapa lama. Namun kertas ujian Eren sudah penuh oleh coretan jawaban. Dirinya puas—oh, tinggal menjawab esai, habis itu selesai. Diliriknya si gadis pirang bermata biru laut. Ia tengah menulis esai. Ada 5 nomor—namun panjang-panjang jawabannya.
Ya, setidaknya pilihan ganda Eren sudah terjawab semua. Semua soal ada 1 sampai 40.
"Hei, pilihan ganda ternyata diisi menggunakan pena." ucap Thomas.
Eren hanya mendengar perbincangan para murid di ruangan. Hanji yang kebetulan mendengar pun menyahut, "Oh iya, murid-murid. Erd-san tadi berpesan jawabannya menggunakan pena. Walaupun itu adalah pilihan ganda."
Gadis bermata hijau mendesis pelan. Guru yang satu itu memang merepotkan. Dengan sedikit malas, Eren merogoh pena dalam kotak pensil. Lalu menebalkan lingkaran yang sudah ia buat.
Jarum jam masih bergerak. Armin memanggil Eren dengan suara rendah. Memberitahu jika dirinya sudah selesai menulis esai. Segera gadis berambut coklat mengambil kertas Armin, lalu menulis dengan cepat.
Tak tik tuk.
Suara dentingan jam menggema. Ruangan sangat sepi dan senyap. Eren lega; kertas sudah penuh oleh tulisan. Tinggal menunggu jam pulang berbunyi.
Sekali lagi, mata hijau itu menerawang; menatap pilihan ganda yang sudah ditebalkan menggunakan pena. 1 sampai 40 sudah terjawab penuh. Hah, untung saja tadi Sasha mencatat semua.
Oh, nomor 36 belum diisi.
Eren celingak-celinguk. Menatap kanan dan kiri. Huh, ada Hitch yang masih menulis. "Psstt—Hitch."
Gadis disebelah Eren menoleh. "Ya?"
"Kau sudah mengisi nomor 36?"
"Sudah."
"Isinya apa? A, B, C, D, atau E?"
Hitch mengerutkan dahi. Ia kembali menatap kertas ujian. Sedikit bingung atas pertanyaan Eren. "Pilihan ganda 'kan hanya sampai nomor 35, Eren."
Eh?
"Ya, waktunya tinggal 10 menit lagi." ucap Hanji sensei. Menatap semua murid dengan tatapan seorang maniak.
Eren melotot. Menatap jawaban yang kelebihan. Soalnya memang sampai 40—tapi pilihan ganda hanya sampai 35, sisanya esai. Dan dirinya melingkari nomor 37 sampai 40 dengan pena.
Tidak bisa dihapus.
Gadis itu membatin, 'Mati Aku. Pasti ketahuan mencontek oleh Erd sensei.' Ya, begitulah batin Eren.
Ia menoleh. Menatap Sasha yang anteng sambil bersiul. Huh, gadis kentang itu keliru pasti.
Bel pulang berbunyi. Eren lalu mencoret jawaban yang salah. Lantas ia menatap Sasha yang kegirangan—mengumpulkan kertas ujian dengan gembira. Armin yang di belakang hanya menatap bingung, "Ada apa, Eren?"
Yang di panggil tak menyahut. Ia hanya tertawa melihat Sasha. Buru-buru ia menepuk pundak si gadis kentang. "Hei, Sasha. Kau menjawab pilihan ganda sampai nomor berapa?"
Sasha menoleh, lalu menjawab, "Sampai 40."
Lagi-lagi Eren tertawa lebar. Hampir setara dengan ketawa Hanji. Guru nyentrik itu hanya menatap bingung—tapi ia ikut tertawa juga (padahal Hanji tidak tahu apa yang di tertawakan Eren). Sasha yang mulai kebingungan hanya menatap aneh, "Ada apa, Eren?"
"Oh, Braus. Apa kau tahu soalnya sampai berapa?" ucap Eren. Menghentikan gelak tawa.
"40 'kan?"
"Ya, tapi pilihan ganda hanya sampai 35. Dan kau isi sampai nomor 40."
1 detik..
2 detik..
3 detik..
DUAGH
"HUWAAAAA!!! AKU LUPA! AKU TADI TIDAK MELIHAT SOAL!!! HUWEEEE BAGAIMANA INI?!"
Sasha berteriak histeris. Ingin menangis tapi tak bisa. Sedangkan Eren semakin terjungkal dibuat. "Sasha, sebaiknya kau ambil lagi kertasnya. Lalu coret yang kelebihan." ucap Armin.
Gadis kentang segera berlari menuju meja Hanji. Mengambil kertas ujiannya lalu mencoret yang kelebihan. Eren bergumam, "Mati kita. Sudah mencontek, tak lihat soal lagi. Aku harap Erd sensei tidak memperhatikan pilihan ganda yang ku coret."
"Kalian mencontek?"
Eren dan Armin bergidik ngeri. Hanji sudah berada tepat di belakang mereka. Memasang wajah gila dengan senyuman penuh arti. "Beruntung saat ini Aku yang menjadi pengawas. Coba saja Levi—"
"M-memangnya kenapa kalau Levi sensei yang mengawas?" ucap Eren malu-malu. Pipinya merona.
Hanji kemudian tertawa, membuat Armin dan Eren harus menjauh. "Hahaha, mungkin nyawa kalian terancam. Karena Levi sangat membenci orang yanv mencontek."
Tubuh tinggi Eren melemas. Pupus sudah harapannya untuk memenangkan hati sang guru dingin.
.
.
.
.
Mikasa berjalan menuju kantin. Membeli beberapa camilan dengan minuman dingin. Ia menunggu sosis dibakar. Memainkan handphone sambil duduk di kantin.
Suasana sudah sepi. Armin, Eren, dan Sasha pamit pulang terlebih dahulu. Dirinya yang ingin pulang pun harus tertunda—lantaran perutnya amat lapar.
"Sedang beli makanan, Mikasa?"
Gadis oriental itu menoleh. Menatap sosok lelaki berdiri dengan tampan. Mikasa melotot, itu Farlan sensei! Pelatih saman di sekolahnya.
Dag dig dug.
Hati Mikasa cenat-cenut. Tak tahu harus berbuat apa. Ia gugup setengah mati. Farlan perlahan duduk di samping Mikasa, "Tidak pulang?"
"T-tidak sensei. S-saya ingin makan sebentar." jawab Mikasa gemetaran.
"O-oh, begitu."
Hening. Hanya ada bunyi kompor yang meletup. Kaki Mikasa tak bisa diam. Sedangkan Farlan masih duduk dengan tenang. "Kenapa jarang latihan saman?"
Mikasa hanya menunduk. "S-saya hanya.. banyak tugas sekolah dan kerja kelompok."
"Nona, ini pesanannya."
Akhirnya, pesanannya datang. Dengan buru-buru, Mikasa mengambil sosis, lalu membayar pesanan. "S-saya duluan, sensei."
Mikasa membungkuk sopan, lalu hendak pergi. "Mikasa."
Dug.
Jantungnya hampir mau copot. Farlan kembali berucap, "Aku rindu melihat kau menari saman."
.
.
.
.
Hari ini, Eren tengah berkunjung kerumah Armin hanya untuk mengestalk Levi lewat instagram milik Armin. Oh, harus diberi tahu. Sebenarnya, diam-diam Eren memfollow instagram Levi menggunakan akun milik Armin—tanpa sepengetahuan gadis pirang itu.
Namun, pepatah selalu mengatakan bangkai di kubur pun baunya akan tercium juga. Karena akibat keteledorannya, Armin tahu lalu sempat ingin mengunfoll sang guru. Tapi Eren mencegahnya agar ia bisa mengestalk Levi kapanpun dan dimanapun. Gadis bermata hijau itu terlalu malu untuk memfollow akun Levi menggunakan akun miliknya.
"Armin, lihat!" ucap Eren serius.
Armin yang tengah membaca buku pun menyahut, "Ada apa?"
"Lihat ini!" Eren menunjukkan handphone-nya. "Levi sensei pindah ke SMA Rose!"
"Ya, terus?"
1 detik..
2 detik..
3 detik..
"HUWEEEE ARMIN!!!!! MASA IYA LEVI SENSEI TEGA MENINGGALKANKU?!"
Eren berteriak histeris. Armin tutup telinga. Membiarkan gadis itu berguling-guling diatas lantai dingin.
Intinya, kabar kepindahan Levi membuat hati Eren gundah gulana.
.
.
.
.
TBC
A/n:
Halo, adakah yang merindukan fik ini? /gak. Akhirnya, setelah sekian lama mengalami writer block, saya bisa melanjutkan fanfik ini wkwk (walaupun pendek, maafkan saya).
Terima kasih sudah membaca; ererigado, Ibubble, vanillacake123, REucliffe11, kimmphi95, Mizune Tori, Rye Raven, Erumin Smith, BlankMong.
Oh ya, tambahan. Disini saya buat Levi berkacamata alias megane boy xD.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya!
-levieren225
