Previous
"Bersiaplah, lusa kau akan bertemu dengan Luhan."
"BENARKAH?"
"Ya, jadwal kalian kosong lusa nanti, jadi aku rasa kita bisa membawa Luhan ke suatu tempat."
"HYUUUNG AKU MENCINTAIMU! SANGAAAT!"
Sehun berteriak kencang dibalas teriakan marah oleh sang leader "OH SEHUN BERHENTI BERTERIAK DAN CEPAT TIDUR!"
Baik Yunho maupun Sehun menunjukkan dead silent face, itu artinya mereka tidak boleh bersuara lagi jika Suho sudah berteriak marah. Diam-diam Yunho mengambil tasnya lalu bergegas pergi untuk mengatakan "Jangan membuat leadermu marah, cepat tidur."
Sehun mengangkat ibu jarinya seraya mengatakan "Oke."
Klik!
Dan setelah pintu dorm di tutup Yunho, maka tinggalah Sehun seorang diri bersama dengan foto Luhan di ponselnya, entah mengapa dia sangat menyukai paras Luhan yang terasa begitu cocok di matanya, terkadang dia akan membuat zoom di mata Luhan lalu beralih zoom ke bibir Luhan sampai hidung bangirnya pun tak lepas dari korban zoom si idola yang sedang dimabuk cinta.
Cinta?
Ah, wajah Sehun merah padam karenanya, jantungnya juga berdegup kencang sementara dia benar-benar tak sabar ingin bertemu langsug dengan penggemarnya "tsk! Biasanya penggemar yang akan menjerit senang bertemu dengan idolanya, tapi untuk kasusku, aku rasa aku yang akan menjerit senang jika bertemu denganmu, penggemarku."
"Selamat malam Luhan."
.
.
.
.
From Idol to Lover
.
Our beloved HUNHAN and EXO members
.
2/3
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Tuan muda ayolah, maafkan aku. Berhenti merajuk ya, ya. Aku akan menggantinya dengan seluruh gajiku."
Terhitung sudah tiga puluh enam jam sang tuan muda memasang wajah marahnya. Sikapnya juga menunjukkan jika dia sangat kesal hingga pelampiasan dirasakan oleh perutnya yang malang karena tak diisi sedikitpun makanan selama tiga puluh enam jam.
Ya, berlebihan memang, tapi Luhan benar-benar menunjukkan kemarahan luar biasa hanya karena satu cup americano yang ditenggak habis tak tersisa oleh pengasuhnya.
"Tuan muda, setidaknya makanlah sesuatu. Kau bisa sakit!"
Sret!
Luhan membuka selimut yang sedari tadi menutupi wajahnya, memandang marah pada pengasuhnya untuk mengatakan "BERISIK! CEPAT KELUAR DARI KAMARKU!"
Kwangsoo termehek, dia bisa saja menangis dan memohon agar diampuni, tapi nyatanya Luhan bukan tuan muda baik hati yang bisa menoleransi satu kesalahan fatal mengenai hobi atau kesenangannya pada sesuatu.
Jadilah dia harus terus berlutut lebih lama, memohon agar dimaafkan walau harus menahan sakit mengingat kakinya sangat kram sudah berlutut hampir delapan jam.
"Tuan muda, maafkan aku ya?"
"..."
"Aku janji akan memberikanmu americano gratis seumur hidup."
"..."
"Baiklah baiklah, jam tangan baru?"
"..."
"Luhan ayolah! Maafkan pamanmu ini! Apa kau tega melihatku hidup di pinggir jalan? Melihatku memakai baju robek? Apa kau tega? Maafkan paman ya? Paman janji akan-..."
"SAYANGNYA PAPA! KAU DIMANA NAK? PAPA PULANG!"
Sret!
Glup!
Dua reaksi berbeda ditunjukkan oleh Luhan dan pengasuhnya. Karena jika si tuan muda berbinar mendengar suara papanya setelah dua minggu tak bertemu maka wajah Kwangsoo sepenuhnya pucat.
Berkali-kali keringat mengucur deras di dahinya dengan suara tegukan air liur terdengar tanda dia begitu ketakutan.
"LULU SAYANG CEPAT TURUN NAK!"
"Oh tidak... Tuan muda setidaknya kau harus makan sesuatu, ya?"
Luhan menggembungkan bibirnya, matanya memicing tajam lalu tersenyum sangat licik "AKU AKAN MENGADUKAN PAMAN PADA PAPA!"
"aaa tidaaakk….Lebih baik kau bunuh aku tuan muda!"
Luhan berlari setengah pintu dari kamar, dia kemudian menoleh lagi untuk menjulurkan kesal lidahnya "TUNGGU PEMBALASANKU! BWEEK!" Katanya membalas Kwangsoo lalu berlari cepat menuruni tangga.
"Mati aku, tamat sudah riwayatku."
Pengasuh dengan tinggi diatas rata-rata itu termehek putus asa, awalnya enggan mengikuti Luhan turun kebawah namun terpaksa karena pastilah tuan besarnya akan mencari seseorang yang harus disalahkan atas kekesalan si tuan muda.
Tap
Tap
Tap!
Secepat cheetah, Luhan berlari menuruni tangga, mencari dimana sosok ayahnya sampai terlihat pria paruh baya yang masih terlihat sangat tampan tengah meletakkan berbagai macam hadiah mewah yang pastilah untuk putra tercintanya.
"Nak, Papa rindu, Cepat-..."
"PAPA!"
Si tuan besar segera menoleh, tersenyum saat mendengar suara putra kecintaannya namun harus dibuat cemas saat Luhan memainkan drama mari memasang wajah kesal lengkap dengan bibir dikerucutkan tanda dia sedang merajuk kesal.
"Kenapa bibir Princessnya papa maju seperti itu? Apa yang dilakukan Paman Kwangsoo kali ini? Atau mungkin Laogao? Siapa yang membuat sayangnya papa marah?"
Sang papa bertanya dibalas hentakan kaki Luhan yang menandakan dia sedang kesal karena dua hal. Pertama karena pamannya menghabiskan minuman berharga sepanjang hidupnya, kedua papanya juga berbicara seolah dia anak perempuan dan Luhan tidak menyukainya.
"PA!"
"Ada apa nak? Kenapa berteriak?"
"Pertama aku bukan princessnya Papa!"
"Tapi kau..."
"Sayang.."
Sang istri memperingatkan, memberikan dua mata mengerikannya sebagai peringatan untuk tidak menggoda putra mereka dengan sebutan princess.
"Baiklah...Baiklah...Princenya papa."
"Begitu terdengar keren." Ujarnya puas lalu mendelik hebat pada pengasuhnya "PAPA!"
"Astaga! Apa aku mengidam speaker saat mengandungnya? Kenapa putraku suka sekali berteriak." Kali ini sang nyonya rumah menggerutu kecil, menatap kesal pada putranya diikuti gelak tawa terdengar dari beberapa pengurus rumah tangga.
Sontak hal itu membuat Luhan marah jika ayahnya tidak mengalihkan perhatian dengan bertanya "Apa lagi nak? Siapa yang membuatmu kesal kali ini?"
Tidak membuang kesempatan, Luhan segera menunjuk Kwangsoo lalu mengadukan kesalahan yang telah dibuat pengasuhnya.
"PAMAN KWANGSOO MENGHABISKAN AMERICANO PEMBERIAN SEHUNKU!"
"Dia bukan Sehunmu!"
"PAMAN!"
"Nak, kurangi volume suaramu sayang, Papa bisa tuli kurang dari satu jam berada di rumah."
"Ish! Menyebalkan!"
"Tidak mengumpat jagoan! Lagipula siapa Sehun? Semacam penyakit menular atau sejenisnya?"
"PAPA!"
Terang saja putra tunggalnya memekik hebat, karena selain tidak mengenal idolanya, sang papa juga mengatakan Sehun adalah penyakit menular. Membuat satu-satunya putra di keluarga Xi itu menggeram murka sementara ayahnya hanya tertawa canggung tanda dia salah tingkah "Apa aku salah bicara?"
"Ini akhir hidupmu sayang."
"Nyonya Xi benar Tuan." Timpal Kwangsoo membuat sang ayah semakin berada di posisi tersudut "Baiklah nak, papa minta maaf. Siapa Sehun?"
"Papa lupa siapa Sehun? Lagi?"
Tuan Xi terkekeh untuk mengakui kesalahannya "Papa Lupa."
"ASTAGA PA! SEHUN ITU IDOLAKU DAN JIKA TUHAN BERBAIK HATI PADAKU DIA JUGA AKAN MENJADI JODOHKU, MENANTU PAPA!"
"yang benar saja! Aku tidak berniat menyerahkan putraku pada siapapun."
"ish! Lalu bagaimana jika ada yang serius menjalin hubungan denganku? Bagaimana jika ada seseorang yang tulus mencintaiku?"
Dengan santai, Tuan Xi menjawab "Tidak akan ada yang mencintaimu setulus papa mencintaimu. Jadi berhenti mengharapkan cinta dari orang lain, kau hidup berkecukupan dengan cinta Papa dan cinta Mama."
"Itu berbeda Pa!"
"Tidak ada yang berbeda."
"Maaa….."
Buru-buru Nyonya Xi menghampiri putranya, memeluknya erat sementara Luhan nyaris bergelayutan di pelukan mamanya "Iya nak, anak mama sayang. Jangan marah lagi hmmh."
"Mama mengenal Sehun kan?"
"Tentu saja sayang! Mama bahkan membelikan kamera baru agar kau bisa bebas mengambil banyak foto Sehunnie."
"Sehunnie?" Luhan bergumam gila dengan wajah merona lalu terkikik geli persis terlihat seperti orang tidak waras "he he he…Sehunnie."
"Tidak ada Sehunnie. Kau tetap cintanya papa. Oke?"
"ish! Penghianat!"
"Kwangsoo!"
"Ya tuan?"
"Apapun yang berhubungan dengan mahluk bernama Sehun, kau harus segera melapor padaku."
Memasang tubuh tegap sempurna dengan tanda hormat sebagai jawaban , sang paman menjawab "Baik tuan."
"Bagus."
"aku selamat." Kwansgoo bergumam lega sementara Luhan mencibir kesal "Aku tidak mau kembali ke Beijing!"
"Sayangnya kau harus."
"Tapi aku suka disini!"
"Kau tidak akan suka jika sendirian di tempat ini!"
"Baiklah sudah diputuskan! Aku akan menemukan kekasih sehingga papa tidak bisa melarangku lagi!"
"Tidak ada yang mau menjadi kekasih bayi besar sepertimu!"
Semakin kesal, Luhan menghentak kasar kakinya lalu menjerit "AKU AKAN SEGERA MENDAPATKAN KEKASIH! TITIK!" katanya kesal dan tak lama
BLAM!
Dari lantai dua suara pintu terdengar begitu kencang ditutup, Luhan sedang merajuk kesal di atas sana sementara kedua orang tuanya beserta Paman Kwangsoo hanya menatap takjub tak mempercayai bahwa rusa kesayangan mereka sudah berusia seperempat abad tahun ini.
"Kau membuatnya kesal lagi."
Tuan Xi hanya terkekeh seraya mengangkat dua bahunya "Aku hanya tidak ingin dia menemukan kekasih, aku benci melihatnya disakiti,"
"Memiliki kekasih untuk bahagia sayang, bukan untuk disakiti."
"Semua pria dan wanita sama saja, aku tidak akan membiarkan Luhanku disakiti."
"Tapi kau harus melepasnya saat orang yang tepat datang di hidup putra kita."
"Aku tidak-…."
"Kau sudah janji sayang."
Tak memiliki pilihan lain, Tuan Xi bergumam pasrah "Baiklah, jika dia masuk kedalam kriteriaku, aku akan merelakan Luhanku padanya."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tap…
Tap…
Tap
Terhitung sudah dua jam mereka berada di lapangan basket di sekitar kampus sang tuang muda. Dan selama dua jam itu pula, Luhan –si tuan muda- terlihat fokus men-drible bola sementara sang pengasuh dan si bodyguard hanya setia menunggu di pinggir lapangan.
Entah sampai kapan mereka akan duduk di pinggir lapangan
Sampai Luhan bosan mungkin, entahlah. Hanya Tuhan dan Luhan yang tahu.
Shoot!
Seperti biasa lemparannya masuk sempurna ke dalam ring, dia akan memekik senang lalu kembali men-dribble bola basketnya dengan semangat yang menggebu.
"Ge, Ayo main!" sang tuan muda berteriak dibalas gelengan mantap dari pria gempal dengan seluruh janggut yang tumbuh di tubuh dan wajahnya "No, Thanks."
"tsk! Gempal!"
"Ya terserahmu saja, aku lebih memilih gempal daripada harus bermain denganmu Lu!"
"WAE?"
"Karena jika aku menang kau akan merengek."
"ish!"
Shoot!
Tembakannya kembali masuk, kini Luhan terengah karena lelah dan Kwangsoo sebagai pengasuh sekaligus asisten pribadi sang tuan muda bergegas memberikan sebotol air mineral agar tak kesayangan Tuan Xi di depannya tidak mengalami dehidrasi konyol hanya karena bermain basket di malam hari.
"Pelan-pelan tuan muda."
"akhhh~"
Luhan menutup botol air mineral lalu melempar asal pada pamannya. Jujur saja dia masih kesal mengingat insiden kopi pemberian Sehun yang disesap tanpa sisa oleh pengasuhnya. Jadi sebagai bentuk protesnya Luhan akan terus bersikap dingin sampai nanti paman Lee membelikan ganti dengan harga setimpal seperti kopi pembelian Sehun.
"Sabar Kwangsoo. Sabar, jangan terpancing bocah di depanmu, jangan."
Si pria berusia sekitar tiga puluh lima tahun itu mengusap sabar dadanya, karena seperti Luhan yang sedang merajuk kesal, Kwangsoo nyaris pergi ke orang pintar hanya untuk berdoa dan meminta mantra agar anak asuhnya tidak terus merengek dan segera diberikan kekasih agar tidak bertingkah seperti bocah.
"Ini!"
Laogao melempar handuk bersih yang ditangkap oleh Luhan namun tak langsung digunakan si tuan muda sebelum memastikan jika handuk yang diberikan bodyguard nya adalah handuk yang bersih "Apa ini bersih?"
"Belum dicuci satu minggu, pakai saja."
"Dasar beruang gila!"
"hah..hah..!"
Sementara Kwangsoo harus melayani Luhan bak putri raja. Maka Laogao hanya perlu memperlakukan Luhan layaknya pria berusia seperempat abad, dia memposisikan diri menjadi teman dan kakak Luhan, tidak terlalu memanjakan Luhan dan hanya melakukan tugasnya sebagai seorang penjaga bertubuh besar.
"Lelah?"
Luhan duduk disamping Laogao, merentangkan lebar kakinya sementara Kwangsoo duduk persis di samping Luhan, membuat gerakan mengipas agar tuan mudanya tidak merasa lelah dan kepanasan "haah~ Aku hanya bermain dua jam, masih butuh tiga jam lagi untuk membuatku lelah."
"Sebaiknya jangan, kau harus memiliki tenaga untuk besok."
"Besok? Apa aku memiliki acara untuk besok?" Luhan bertanya dibalas gelengan oleh kedua asistennya "Selain membolos kuliah, selebihnya kau bebas dan tak memiliki kegiatan."
"Lalu ada apa dengan besok? Kau tahu kan ge? Aku bosan karena EXO tidak memiliki jadwal sampai minggu depan, rasanya seperti mau gila membayangkan mereka ada dimana, Sehun sedang apa? Dan apa yang sedang dilakukannya? Rrrhhh! Andai aku lebih dari seorang penggemar."
"Beruntung kau mengenalku."
Luhan mencibir sementara Laogao bergumam terlalu percaya diri. Membuat si tuan muda nyaris melempar bola basket ke wajah si gempal jika pamannya tidak buru-buru mencegah
"Ada apa?" Luhan menaikkan alisnya saat tangan Kwangsoo mencegahnya melempar bola basket sementara kepala si pengasuh terus menggeleng seolah meminta Luhan untuk tidak mengganggu bodyguardnya "Paman! Ada apa?"
"Kau akan menyesal jika membuatnya kesal"
"Kenapa memang?"
"Nanti kau juga tahu, yang jelas mulai malam ini kau harus bersikap baik pada si brewok!"
"Shirheo!"
"Yasudah, paman sudah memberitahumu! Jangan menyesal jika tidak bisa melihat Sehun secara langsung."
"Melihat siapa?"
Luhan terkesiap, bertanya-tanya apa maksud pengasuhnya sementara lagi-lagi wajah menjijikan Laogao yang terlihat sangat percaya diri sangat mengganggu penglihatan Luhan. Bodyguard gempalnya itu bahkan menyeringai untuk mengatakan "Sehun, aku bisa membuatmu bertemu dengannya, secara langsung."
"Bagaimana bisa?"
"Jangan panggil aku Lao Gao jika mempertemukan fans idiot sepertimudan idolanya saja aku tidak bisa."
"ckckc…Paman!"
"hmmh?"
"Aku rasa dia demam."
" ha ha ha "
"Dia bahkan sudah gila!"
"Jangan meremehkannya Lu!"
"Lalu aku harus bagaimana? Mempercayai si gempal ini? Lagipula bagaimana bisa dia membuatku bertemu dengan Sehun?"
Kwangsoo terkekeh seraya mengusap keringat Luhan yang terlihat membasahi wajahnya. Tuan mudanya jelas gugup karena terlalu senang, tapi dia menyembunyikannya dengan terus berteriak marah walau nyatanya dia sangat berharap Laogao benar-benar membawanya bertemu dengan Sehun.
"Sayangnya dia bisa Tuan muda."
"tsk! Buktikan!"
Lao Gao mengangkat asal pundaknya, lalu menjawab Luhan penuh rasa percaya diri "Baiklah, Tidak masalah untukku, kau hanya perlu mempersiapkan diri, Tuan muda!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Sebagai permintaan maafku, aku akan membiarkanmu pergi kali ini, selamat bersenang-senang tuan muda.
"ssshh…Paman sepertinya bertingkah mencemaskan, omo, apa dia ingin mengundurkan diri karena aku mengadukannya pada Papa? Atau jangan-jangan paman ingin bunuh diri. ASTAGA BAGAIMANA INI, GE! APA YANG HARUS AKU LAKU-…"
Pletak!
"y-YAK!"
Si tuan muda meringis kesakitan, berbanding terbalik dengan sang bodyguard yang memasang wajah tidak peduli namun terus mengatakan "Diam dan hanya ikut denganku."
"Ikut denganmu? Kita mau kemana?"
"Pulau Jeju."
"Kemana?"
Pertanyaan keduanya diabaikan dan tanpa Luhan sadari mereka sudah berada di bandara hingga hanya mulut terbuka yang bisa ditunjukkan sebagai reaksinya "astaga…LAOGE! KAU TIDAK BERNIAT MENJUAL DIRIKU PADA PENCULIK KAN?"
Yang dituduh tersenyum sarkas, menatap Luhan sedikit kesal lalu membanting pintu mobil untuk mengambil perlengkapan sang tuan muda di bagasi "Aku tidak percaya melakukan hal gila ini!"
BLAM!
Buru-buru Luhan ikut membanting pintu untuk bertolak pinggang dan menginterograsi bodyguard menyebalkan yang bekerja untuknya "y-YAK JAWAB PERTANYAANKU!"
"Apa?"
"Kau berniat menjual aku ke penculik? Meminta tebusan pada ayahku? Aku benar kan?"
"tsk….Orang gila mana yang mau membeli bocah sepertimu!"
"Mwo?"
"Cepat masuk, sebentar lagi pesawat kita take off."
"Tidak mau! Aku akan menghubungi Papa dan mengatakan kau menculikku!"
Luhan sudah sibuk dengan ponselnya, mencari nomor sang papa namun sial notifikasi fansite di ponselnya membuat kerja ponsel miliknya begitu lambat "Papa, mana papa…" katanya terus bergumam dan memekik "INI DIA!" saat mendapatkan nomor ayahnya.
Luhan bahkan berniat menekan tombol call, sampai jarinya menjadi kelu saat Laogao mengatakan "Ya, terserahmu saja. Kau melewatkan kesempatan berlibur bersama EXO, ani, Sehun maksudku."
Luhan terperangah, bibirnya membuka lebar hingga membuatnya terlihat seperti idiot yang terdampar di bandara "k-Kau bilang apa? Berlibur bersama siapa?"
Sibuk mendorong koper milik sang tuan muda, Laogao hanya membalas terlalu singkat dan terlalu malas untuk mengatakan "EXO!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"whoa…Daebak! apa benar mereka ada disini?"
Setelah menempuh perjalanan selama hampir dua jam, akhirnya sang tuan muda yang kini memakai kacamata hitam lengkap dengan style super fashionnya tiba di sebuah hotel yang terletak di kawasan strategis pulau yang dikenal dengan berbagai macam keindahannya.
Pantai yang begitu indah, bunyi ombak yang bersahutan dengan suara burung seolah mengajak kita bermain serta suara tawa dari berbagai pengunjung yang meletakkan "status" mereka hanya untuk sekedar merelaksasikan pikiran dari penatnya kehidupan yang mereka jalani.
"omo! Omo! Pria asing itu terlihat sangat tampan, tapi Sehunku jauh lebih tampan, tentu saja." Katanya gila dibalas tatapan jengah dari Laogao "Lu kumohon, bersikaplah seperti tuan muda, jangan seperti maniak gila yang siap memperkosa Sehun!"
"eyy…Aku bukan maniak." Katanya mengoreksi dengan wajah merona lalu berbisik mantap pada sang bodyguard "Aku fanboy Sehun. fan-boy."
"Terserahmu saja tuan muda!"
"Kau mau kemana Ge?"
"Tunggu disini, aku akan membuka kamar untukmu."
Layaknya wisatawan asing yang terpukau dengan keindahan pulau Jeju, Luhan mengabaikan kalimat tunggu disini dan lebih memilih menyusuri betapa luas dan indah hotel yang sepertinya sering dikunjungi oleh beberapa artis dunia serta orang penting yang pastilah memegang peranan penting di kehidupan sehari-hari mereka.
Ikut menikmati kebebasan yang terlihat di masing-masing wajah pengunjung sampai dia menyadari bahwa kondisinya sama dengan kondisi pengunjung di hotel ini, tenang dan bahagia.
Jujur hidup tanpa seorang teman adalah hal tersulit yang harus dia jalani hampir seumur hidup. Dia juga tidak tahu definisi tertawa dan menangis bersama teman seperti apa rasanya, karena selain Paman Kwangsoo, seluruh pengasuhnya serta Laogao yang baru lima tahun ini bekerja untuk ayahnya, Luhan nyaris tak memiliki teman untuk berinteraksi secara langsung.
"haaah….."
Terlepas dari fakta bahwa dia adalah pemilik fansite terbesar di Seoul dan Beijing, Luhan tidak pernah benar-benar memiliki teman yang mengerti kekurangan dan kelebihan dirinya. Karena mencoret kemungkinan definisi teman, pastilah anggota yang tergabung dalam fansite SL7 tidak bisa dikatakan teman "nyata" mengingat mereka semua berhubungan di dunia "maya".
Jadi jika Laogao membohonginya dengan mengatakan EXO dan Sehun ada di tempat yang sama dengannya, Luhan tidak peduli. Karena untuk saat ini dia sangat merasa senang dengan atau tanpa EXO di tempat yang begitu indah seperti Pulau Jeju.
"yeah…..Aku bebas."
Matanya terpejam erat menikmati angin yang berhembus, perlahan dia merentangkan tangan lalu tersenyum sangat cantik seolah menyadari bahwa selama dia hidup, ini adalah kali pertama dia pergi ke tempat hiburan tanpa pengawalan ketat dari bodyguard yang selalu dipekerjakan sang ayah hanya untuk menjaga dirinya agar tetap aman.
"rrrhh….Sayang apa kau gila? Ini tempat umum!"
"Sebentar saja, tak ada yang mengenali kita sayang. Aku sudah tidak tahan."
"Oh, ayolah!"
Luhan menggeram kesal, tiba-tiba suara ombak yang begitu indah ternodai dengan percakapan mesum sepasang kekasih. Dan yang membuat Luhan semakin kesal adalah bahwa si pria yang memiliki suara khas berat yang terdengar seksi mengatakan "tidak tahan" pada kekasihnya.
"disana sepi, aku ingin memakanmu sebentar, hmm?"
"Apa dia seorang Vampire?"
Luhan kembali merutuk kesal, tangannya terkepal erat, berusaha mati-matian menahan diri untuk tidak berteriak namun gagal saat mendengar kekasih dari pria mesum itu terdengar mendesah di tempat umum dengan keadaan matahari terik seperti saat ini.
"Sayang—ah~"
"Mereka benar-benar…..y-YAK!"
Ya, si tuan muda sedang menunjukkan sifat aslinya yang suka berteriak, namun kali ini bukan tanpa alasan dia berteriak. Dia kesal, sedikit iri mungkin. Karena sesungguhnya, Luhan adalah single selama dua puluh lima tahun yang selalu berada di lingkungan "steril" bebas dari pasangan mesum yang selalu diceritakan ayahnya secara berlebihan.
"Ada apa?"
Yang memiliki suara berat bertanya santai hingga memancing emosi si tuan muda berada pada level berikutnya, nyaris tak bisa menahan diri untuk mengatakan "JIKA INGIN BERBUAT MESUM CARI TEMPAT LAIN DAN JANGAN-…..huh?"
Kebiasaan Luhan adalah berteriak dengan mata terpejam, jadi saat matanya terbuka dan berniat memberikan tatapan paling mematikan yang dia miliki, keadaan justru berbalik menyerangnya.
Saat ini bibirnya terkatup rapat, tangannya yang terkepal erat tiba-tiba lemas dengan wajah yang terbakar panas bukan karena matahari tapi karena malu saat menyadari bahwa sedari tadi, hal gila yang dia teriakkan, ternayata ditujukan oleh dua orang anggota EXO yang lebih dikenal dengan
"Ka-….KAISOO?"
"sial! Apa kubilang? Dia mengenali kita!"
Demi Tuhan, Luhan berani bersumpah pria yang sedang menggerutu marah di depannya adalah Main Vocalist EXO, Do Kyungsoo "Kalau begitu kita pergi sayang!" dan pria lain yang dengan santai menarik tangan Kyungsoo pergi adalah Main Dancer sekaligus salah satu Visual dari EXO, Kim Jongin.
"Astaga! Ini seperti mimpi, ini seperti….tapi ini bukan mimpi. Yeah! Ini bukan mimpi." Luhan sengaja menampar kencang wajahnya untuk merasakan sakit, lalu benar dia kesakitan, pipinya juga terlihat merah tanda bahwa saat ini semuanya sangat nyata dan "INI BUKAN MIMPI!"
Luhan menjerit terlalu bahagia, membuat gerakan mengipas wajahnya untuk menyadari bahwa baru saja, kurang dari satu menit yang lalu dia bertemu dengan Main Vocal dan Main Dancer EXO yang ternyata adalah benar sepasang kekasih, catat! Kaisoo too real dan mereka adalah sepasang KE-KA-SIH!
"Bagaimana ini? Aku harus apa? Ya Tuhan, Laoge benar-benar membawaku pada EXO, pada…..SEHUN!"
Luhan menjerit lagi, kali ini tatapan pengunjung sinis, mereka menatap Luhan seolah dia seorang idiot gila yang baru menemukan hal menyenangkan. Dan seolah tak peduli pada seluruh tatapan pengunjung, Luhan lebih memilih memulai hipotesa baru mengenai kemungkinan dia bisa melihat wajah Sehun adalah dengan mengikuti kemanapun Kai dan Kyungsoo pergi saat ini.
"Kai….Kyungsoo…EXO! Jika aku mengikuti mereka itu artinya…ITU ARTINYA AKU BISA MELIHAT SEHUN….SE-HUUUNNN!"
Dan disinilah sang tuan muda, membuntuti kemanapun Kai dan Kyungsoo pergi, ah, jangan tanya darimana dia bisa mengetahui dengan mudah kemana Kai dan Kyungsoo pergi mengingat statusnya adalah pemilik fansite dengan hasil jepretan foto dan video yang tidak sembarang orang bisa memilikinya.
Itu artinya, Luhan adalah salah satu orang berpengaruh yang bisa mendapatkan berbagai akses bahkan akses private sekalipun hanya untuk mengikuti kemana EXO pergi, Sehun terutama. Tapi dia tidak pernah menggunakan akses private yang dia miliki, alasannya? Sederhana, dia hanya ingin bersaing sehat dengan fansite lain dan menjadi penggemar yang tidak mencampuri urusan idola mereka terlalu jauh dan bersifat "privacy."
Ya, katakanlah dia beruntung bisa menebak dimana Kai dan Kyungsoo berada, karena sejatinya kedua insan itu sedang saling "membutuhkan" jadi kemungkinan terbesarnya mereka akan berada di satu ruang tertutup namun bisa dilihat dari berbagai celah seperti yang dilakukan Luhan saat ini.
"Whoa daebak, aku tidak percaya Kai dan Kyungsoo benar-benar sepasang kekasih, aku benar-benar bahagia!"
Saat ini si tuan muda sedang dalam mode fanboy yang memekik heboh saat melihat One True Pairing nya benar-benar real di dunia nyata. Dia sedang bersembunyi di balik pohon besar sementara Kai dan Kyungsoo sedang menikmati waktu berdua mereka di hutan buatan yang berada di belakang hotel, terletak di dekat pantai dan sengaja dipesan khusus oleh sang visual, Jongin.
"Kameraku, ah….Laoge yang membawanya. Baiklah ponsel saja!"
Buru-buru Luhan merogoh ponselnya, membuat mode silent dengan posisi kamera siap mengambil gambar "Seluruh Kaisoo Shipper di dunia pasti memekik heboh." Katanya terkikik geli dan tak lama
Klik…!
Satu foto tersaji begitu sempurna di layar ponsel Luhan, foto dimana Kai tertawa seraya memangku kekasihnya terlihat seperti moment pre-wedding yang tak sengaja Luhan di abadikan di ponselnya "aigoo…Kalian manis sekali." Ujarnya gemas lalu tak lama memekih heboh menyadari tubuh Kai kini condong ke depan, sementara Kyungsoo terlihat pasrah ketika wajah Kai semakin dekat, terlalu dekat, dan kini dua bibir mereka sedang melumat lembut, terlihat saling memakan namun dalam artian mereka terlihat sangat bergairah satu sama lain.
"Kenapa tiba-tiba aku kepanasan? Ah, udaranya." Lagi-lagi Luhan membuat gerakan mengipas wajahnya, berharap sedikit merasa sejuk mengingat adegan Kai mencium Kyungsoo terlihat begitu panas dan menggairahkan.
"ah….~"
Kyungsoo melenguh nikmat, kepalanya mendongak pasrah sementara bibir panas Kai terlihat sedang menyesap, mengecup bahkan menghisap leher putih tanpa cela milik sang Main Vocalist "daebak…"
Tangan Luhan gemetar, namun seolah tak ingin melewatkan moment, dia merubah mode video di ponselnya, berniat merekam moment terlalu manis milik Kai dan Kyungsoo untuk dijadikan koleksi pribadinya seorang diri.
"Soo-yaa…" Luhan berujar gemas dengan tangan yang fokus merekam. Terlalu fokus sampai dia tidak menyadari kedatangan seseorang yang ikut berjongkok di sampingnya.
"Merekam dan mengambil gambar seseorang tanpa izin bisa dikategorikan sebagai tindakan kriminal."
"omo!"
Luhan terkejut, buru-buru dia menekan tombol stop di ponselnya. Wajahnya sudah keringat dingin mengutuk siapapun orang yang mengganggu kegiatan fanboy-ing yang sedang dia lakukan untuk menceramahinya seolah dia orang suci sementara Luhan seorang pendosa.
"Terlebih jika gambar yang kau ambil adalah gambar seorang idola, tuntutannya bisa menjadi enam kali lipat lebih serius dari tuntutan normal."
DEG!
Lima tahun dia menjadi seorang fanboy, baru kali ini dia diceramahi mengenai pasal dan undang-undang. Sungguh rasanya dia ingin menjerit marah, namun lagi-lagi, ya selalu, Luhan adalah orang bodoh dan terlalu polos yang selalu melakukan kesalahan yang sama, selalu sama terkadang berputar-putar.
"tidak mungkin!"
Tubuhnya lemas, terlalu lemas hingga dia membiarkan ponselnya terjatuh ke timbunan pasir, kini mata Luhan juga membulat sempurna sementara jantungnya berdegup sangat kencang ketika menyadari bahwa sedari tadi pria yang menceramahinya adalah pria yang sama yang sudah begitu dia cintai selama lima tahun, pujaan hatinya, hidupnya, idolanya…..
"Se-….Sehun?"
Dan saat namanya disebut, sang Maknae sekaligus Visual utama di EXO itu tertawa seolah puas menggoda lalu tak lama tersenyum begitu tampan, menunjukkan sederetan gigi putihnya hingga membentuk mata bulan sabit yang begitu menggemaskan, membuat Luhan semakin tak bernyawa terlebih saat idolanya bersuara dan menyapa dirinya dengan sebutan.
"Halo, Tuan Sehun Stan!"
"Tuan apa?" Luhan mengulangi. Tangannya tak fokus mengambil ponselnya yang terjatuh sementara Sehun mengulangi ucapannya "Tuan Sehun Stan yang tidak mengenali suara idolanya, itu kau kan? Luhan-ssi!"
Kini Luhan terduduk lemas, karena selama lima tahun menjadi seorang fanboy, ini adalah pencapaian tertingginya sebagai seorang penggemar, dikenal oleh idolanya, diajak berbicara dan yang paling mengharukan adalah saat si idola menyebut namanya dengan lembut dan terus menatapnya tak berkedip.
"Jantungku."
Hal itu sukses membuat Luhan terlihat seperti orang bodoh, bibirnya membuka lebar dengan mata yang terus berkedip nyaris tak peduli jika dirinya terlihat bodoh di depan Sehun.
"Kenapa jantungmu?"
"Mau meledak, rasanya terlalu sesak."
"Tidak suka bertemu denganku? Atau-…"
"HEOL! BAGAIMANA BISA AKU TIDAK SUKA BERTEMU DENGANMU! BAGAIMANA BISA-…."
"ssstt…."
Sehun meminta Luhan untuk diam dan benar saja tak lama terdengar suara Kai yang berteriak "SIAPA DISANA?" membuatnya harus repot-repot menarik Luhan sementara dia berdiri untuk membalas teriakan maknae kedua setelah dirinya "INI AKU JONG! TERUSKAN SAJA MEMAKAN KYUNGIE HYUNG!"
"y-YAK OH SEHUN! MAU SAMPAI KAPAN KAU MENGUNTIT AKU DAN KYUNGSOO."
Tertawa tak percaya, Sehun membalas "SAMPAI NANTI AKU MEMILIKI KEKASIH SENDIRI!"
"ha ha ha….MUSTAHIL!"
"KIM JONGIN!"
Sementara dua pria tampan itu saling berteriak kekanakan dan melempar rasa kesal, maka Kyungsoo sebagai penengah terlihat jengah dan tak mau kalah berteriak "CEPAT PERGI ATAU KALIAN KELAPARAN SELAMA MASA LIBURAN KITA!"
"o..ow.."
Sehun bergerak cemas, Luhan bisa melihat betapa lucu ekspresi Sehun saat ini, idolanya sedang mengusap perutnya berulang kali sementara matanya menatap tak percaya pada ancaman salah satu Main Vocalistnya "hyuuuunggg~"
"CEPAT PERGI!"
Buru-buru Sehun mengerling Luhan, memberi tanda agar mereka segera pergi sementara Kai berbisik dengan gesture "Kau tahu kekasihku sangat mengerikan jika marah, cepat pergi!"
"Baiklah aku pergi! Lanjutkan saja percintaan panas kalian! Bye bye!" katanya melambai dan tak lama dia menarik kencang lengan Luhan. Membuat Luhan memekik "argh!" sementara Kai dan Kyungsoo bersumpah baru saja melihat Sehun menggenggam tangan seseorang untuk kali pertama selama lima tahun mereka debut sebagai EXO.
"hyung sayang….Kau lihat?"
Sama terperangahnya dengan sang kekasih, si pria mungil yang kerap disamakan dengan pinguin dan pororo mengangguk polos untuk mengatakan "Sehun akan segera menjadi pria dewasa, seutuhnya."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Ini ponselmu."
Saat ini sang idola dan penggemarnya tengah berada di sebuah kafe yang berada tak jauh dari hotel. Keduanya belum memesan apapun mengingat saat ini banyak mata yang mulai melirik ke arah mereka seperti menyadari bahwa mereka sedang kedatangan maknae dari boyband besar sekelas EXO.
"ah ya, terimakasih Sehun." katanya asal nyaris tak peduli dengan ponsel yang berisikan ribuan foto dan video yang berkaitan dengan pria tampan di depannya, idolanya.
"Ada apa?"
"Apa tidak masalah untukmu?"
"Kenapa?"
Luhan cemas, matanya menatap ke segala arah seolah takut seseorang akan menghampiri Sehun dan mulai berbuat gila pada idolanya "Kau berada di sebuah kafe terbuka seperti tempat ini, banyak pasang mata juga melihat. Apa kau akan baik-baik saja?"
Awalnya Sehun tidak mengerti apa yang ditanyakan Luhan, tapi saat gesture wajah Luhan menunjukkan dia cemas, Sehun justru dibuat tertawa dengan wajah tulusnya untuk mengatakan terimakasih.
"Terimakasih sudah mengkhawatirkan aku, tapi aku akan baik-baik saja."
"Apa kau yakin?"
Entah mengapa rasanya berbicara dengan Luhan bukan seperti berbicara dengan penggemarnya. Karena yang sering terjadi, jika Sehun bertemu dengan penggemarnya, dia akan dibombardir dengan seluruh pertanyaan apa kau sudah memiliki kekasih? Apa alamat e-mail? Atau berapa nomor ponselmu? Sebenarnya penggemar yang normal adalah penggemar yang terus menerus menanyakan hal mengganggu seperti itu.
Bukan seperti Luhan, karena daripada memberi pertanyaan yang sangat mengganggu privacy, Luhan lebih terlihat cemas dan mengkhawatirkan dirinya karena posisi mereka sedang berada di tempat umum tanpa pengawalan dari siapapun.
"Aku yakin, lagipula mereka staff managementku."
"huh?"
Sehun mengerling nyaris semua meja yang berdekatan dengan mereka, menyapa satu persatu stylist, makeup artist sampai crew dance hanya untuk menunjukkan pada Luhan kalau dirinya akan baik-baik saja "Kau lihat, semua orang yang berada di kafe ini rata-rata adalah staff agensiku. Jadi daripada memperhatikan diriku, aku bertaruh mereka lebih tertarik dan memperhatikan padamu."
"Aku? Kenapa?"
Sehun terkekeh, dia sedikit membusungkan dadanya untuk mendekati Luhan. Dan sebagai tanda bahwa dia sedang menggoda seluruh staff nya, Sehun sengaja berbisik dan memberitahu Luhan hal yang membuat semua orang begitu penasaran pada kehidupannya "Mereka selalu penasaran pada setiap orang asing yang datang berdua denganku ke suatu tempat. Entah itu café, restaurant atau bioskop sekalipun pasti mereka akan mencari tahu."
"Kenapa?"
"Karena seluruh member EXO, seluruh staff, dan seluruh orang terdekatku, mereka begitu penasaran dan selalu bertaruh dengan siapa hatiku berlabuh pada akhirnya."
"he he he…." Luhan tertawa canggung, buru-buru dia mencari topik lain mengingat hatinya belum siap jika tiba-tiba Sehun berbisik bahwa sebenarnya dia memilik kekasih, hell, Luhan sedang menikmati waktu berduanya dengan Sehun, jadi dia tidak ingin merusak waktu berharga ini dengan topik sensitif seperti pasangan hidup, cinta atau kekasih sekalipun.
"Apa yang ingin kau pesan? Aku akan mentraktirmu hari ini."
Tak berfikir lama, Sehun menjawab "Americano."
"ah, aku lupa. Siang itu kau juga membeli americano."
"Sebenarnya itu untuk hyungku. Aku tidak terlalu menyukai americano."
"Lalu kenapa kau memesan americano lagi? Aku bisa membelikan yang lain untukmu."
"Tidak perlu, aku ingin Americano."
"Baiklah."
Sehun sedikit kecewa lalu memaksakan diri bertanya "Kau tidak tanya kenapa?"
"Apa?"
"Ya, kenapa kau tidak bertanya kenapa aku memesan Americano?"
"Baiklah, kenapa kau memesan Americano?"
Kali ini dia tertawa seperti bocah untuk menjawab dengan mantap pertanyaan Luhan "Karena aku menyukaimu?"
"Kau apa?"
"mmmhh…Aku selalu menerima hadiah dari fansite milikmu. Dan jujur semua yang kau kirimkan untukku, aku menyukainya."
"omo! Kau tahu aku pemilik fansite?"
Sehun sengaja menunjukkan cartier terbaru yang Luhan kirimkan untuknya, membuat si pemilik fansite menatap takjub sementara sang idola mengucapkan rasa terimakasihnya dengan mengatakan "SL7, gabungan nama Sehun, Luhan serta angka favoritmu. Benar?"
Kini wajah sang masternim berubah menjadi merah seutuhnya, kenyataan bahwa dia tidak mau ambil pusing dengan nama fansite miliknya lima tahun lalu adalah agar setidaknya Sehun dapat mengingatnya dengan mudah.
Namun diluar dugaan, bukan hanya mengingat nama fansite miliknya, Sehun juga menjabarkan arti nama dari SL7, sungguh Luhan sangat beberapa kali dia berfikir untuk berhenti dan menjalani hidup normalnya saja.
Tapi kemudian hari ini terjadi, hari dimana Sehun benar-benar menguatkan dirinya bahwa menjadi seorang penggemar tidak dibutuhkan banyak hal kecuali satu, keyakinan. Selama kau memiliki keyakinan maka berhenti dan meninggalkan idolamu tidak akan pernah terbersit sedikitpun di benakmu.
Luhan menyadarinya dan bersumpah bahwa sampai nanti warna rambutnya memutih dia tetap akan mengidolakan Sehun dan menjadi bagian dari EXO-L. Lagipula berbicara degan Sehun hampir dua puluh menit ini menyadarkan Luhan bahwa seorang idola juga memiliki cara sendiri untuk mengingat, menghargai dan mencintai penggemarnya.
Membuat Luhan terus menatap takjub sementara Sehun terus berbicaratentang bagaimana mereka bertemu pertama kali "Jadi dengan kata lain, aku menyukai cara kali pertama kita bertemu, di café, americano, dan Sehun Stan." Katanya tertawa, Luhan juga mau tak mau tertawa walau akhirnya dia mencibir sebagai pembelaan diri.
"Itu bukan pertemuan pertama kita."
"yeah, untukmu itu bukan yang pertama, tapi untukku? Itu yang pertama dan begitu berkesan."
"ya, ya, terserahmu saja. Aku akan memesan americano lebih dulu."
Masih tertawa, Sehun mengangkat dua ibu jarinya lalu mengatakan "Baiklah, aku menunggu." Dengan mata yang masih betah menatap si pria cantik yang semakin dilihat akan semakin cantik dan sangat menggemaskan.
Ddrrt…drrtt..
Tak sengaja ponsel Luhan bergetar, lagi-lagi notifikasi masuk yang bertuliskan ucapan terimakasih dari anggotanya "Lugeeeeee, terimakasih. Album EXO ku sudah mendarat dengan baik di rumah. Dan kau tahu? Aku mendapatkan PC Sehun dan Kyungsoo, arrhhhh senang sekali . Setelah ini aku berjanji akan rajin belajar. Kamsahamnida masternim ^^"
Namun yang membedakan hari ini adalah pesan-pesan tersebut tak sengaja dibaca langsung oleh sang idola. Sehun bahkan sengaja memutar ponsel Luhan ke arahnya agar semua notifikasi di ponsel si "masternim" terbaca olehnya.
"whoa, sepertinya dia benar-benar seorang masternim." Sang idola tersenyum seraya menikmati semua notifikasi yang rata-rata berisi ucapan terimakasih pada si pemilik fansite "Kau pasti orang yang sangat baik, Lu."
Memanggil nama kecil Luhan saja sudah membuat hatinya berdebar hebat, Sehun juga tersenyum tanpa alasan hingga tatapan dari beberapa staffnya seolah bertanya "Apa dia orangnya?" yang dibalas dengusan kecil dari Sehun "ssst! Cepat pergi dan jangan ganggu aku Noona!"
"tsk! Bocah!"
Drrtt…drrtt…
Kali ini panggilan masuk tertera di layar ponsel Luhan, membuat perhatian Sehun lagi-lagi ada pada seseorang dengan nama kontak paman cerewet, yang menandakan bahwa siapapun yang menghubungi si pemilik ponsel pastilah orang yang begitu dekat dengan Luhan.
Drrt…drrtt…
Tuan muda cepat hubungi aku, aku khawatir!
Begitulah notifikasi baru yang tak sengaja dibaca Sehun di ponsel penggemarnya. Membuat sedikit tawa terlihat di wajah tampannya dengan mata yang menatap takjub seakan tak percaya bahwa dia memiliki penggemar yang notabene nya adalah seorang tuan muda namun rela berdesakan, berdiri dan mengantri hanya untuk mengikuti apapun dan kemanapun dia pergi.
"whoa, Kau benar-benar seorang tuan muda yang tangguh, hmmh?" katanya kagum dan berniat membalik ponsel Luhan.
Well, Sehun sudah cukup sadar bahwa membaca pesan seseorang tanpa izin adalah sebuah kejahatan. Jadi dia memutuskan untuk membalik ponsel Luhan agar notifikasi tak lagi terbaca dan hanya menunggu Luhan datang membawa americano yang sedang dibelinya.
"huh? Apa ini?"
Mungkin Sehun hanya akan membalik ponsel Luhan sampai tak sengaja matanya melihat walpaper dari si penggemar. Gerakannya terhenti, hatinya menjadi hangat saat melihat walpaper dengan wajahnya terpasang di ponsel si pemilik fansite.
Tapi yang membuat Sehun tersentuh adalah gambar dari foto yang terpasang bukanlah dirinya dalam keadaan yang terbaik, bukan di atas panggung, photoshoot, atau bahkan saat dirinya terlihat tampan ketika menghadiri sebuah acara. Bukan, bukan itu yang digunakan Luhan.
"Darimana kau mendapatkan gambar ini?"
Kiranya itu adalah foto lima tahun yang lalu, foto saat EXO memulai debut mereka bersama sebagai sebuah tim. Foto yang menunjukkan betapa tidak berharganya seorang Oh Sehun ketika kali pertama debut. Air mata, tangisan, serta wajah pucat yang mendominasi seolah mewakili betapa sulitnya dia untuk mencapai posisinya saat ini.
Usianya sekitar tujuh belas tahun saat itu, terlalu banyak tekanan, terlalu banyak caci maki dan terlalu banyak dibandingkan dengan grup senior saat itu, Sehun lemah dan ingin menangis, tapi peraturan menuliskan bahwa peraturan menjadi seorang idola, suka atau tidak, kau harus tersenyum di setiap kondisi tanpa terkecuali.
Dan saat itu Sehun sedang mengalami beban mental yang begitu berat, dia duduk seorang diri di koridor panggung KBS, menyembunyikan wajahnya disana lalu terisak seorang diri. Sungguh, menjadi idola diluar dari rencana hidupnya, tapi seseorang menariknya kuat ke dunia hiburan lalu disinilah Sehun, menitikan air mata saat mengingat masa sulitnya lima tahun lalu.
Terlebih ketika dia membaca sebuah tulisan yang sengaja dituliskan Luhan tepat di bawah fotonya, tulisan yang berisi
Sehunna, no matter what
I will never let you fall
I'll stand up with you forever
I'm here and I will always be here,
For you…
I promise.
Membuat air matanya menetes, begitu terharu dan bersyukur karena dikelilingi orang-orang yang begitu menyayanginya, yang selalu mendukungnya dari masa terpuruknya dan tetap bertahan saat Sehun sampai pada tujuannya.
"Gomawo, Lu." ujarnya tersenyum tulus sampai suara si pemilik ponsel terdengar memanggil namanya "Sehun?"
Buru-buru Sehun memalingkan wajah, menghapus cepat air matanya lalu menatap Luhan, tersenyum dan terlihat tulus menatapnya
"Hay Lu."
"Ini americano milikmu." Katanya menyerahkan minuman Sehun untuk bertanya "Ada apa? Kau terlihat sedih?"
Sehun tertawa kecil seraya menyesap kopinya, membenarkan ucapan seseorang mengenai fakta bahwa penggemar akan bisa melihat sudut paling kecil yang berusaha kau sembunyikan pada dunia, intinya, kau bisa menipu dunia dengan senyummu, tapi menipu penggemar dengan senyum yang dipaksakan? Kiranya butuh lebih dari sepuluh tahun untuk melakukannya, menipu orang yang benar-benar tulus mencintaimu.
"Aku baik-baik saja."
"mmhh…Baiklah."
Keduanya kini menyesap americano mereka dalam diam, tak ada yang berbicara sampai suara getaran ponsel Luhan terus menganggu hingga terpaksa dia memasang mode silent agar suaranya tak mengganggu moment bahagianya bersama Sehun.
"Ponselmu terus bergetar."
Tersenyum kikuk, Luhan menjawab seraya menyesap americano miliknya "Ya, begitulah."
"Dan sepertinya kau harus segera membalas pesan dari paman cerewet."
"ah, kau membaca notifikasinya ya?"
"mmhh…Mianhae."
"Tidak apa, paman cerewet itu adalah pengasuhku sejak kecil, dia temanku."
"Begitukah?"
"Begitulah."
Lagi-lagi keduanya diam, Luhan sudah tidak berminat sama sekali pada ponselnya, yang dia lakukan hanya menyesap americano, lalu mencuri pandang Sehun, lalu menyesap lagi, dan menatap lagi, terus seperti itu sampai akhirnya Sehun membuka suara "Luhan."
"Ya?"
"Boleh aku bertanya sesuatu?"
"Tentu saja. Apa yang ingin kau tanyakan?"
Buru-buru Sehun mengambil ponsel Luhan, menekan tombol home hingga terlihat walpaper yang terpasang di ponsel sang tuan muda saat ini "Darimana kau mendapatkan foto ini?"
Luhan tertegun sesaat, sungguh, dia tidak pernah menyangka bahwa Sehun adalah seorang pria yang begitu detail, membuatnya sedikit gugup namun tak bisa menyembunyikan seutas senyum bahagia seolah mengenang hal baik yang terjadi padanya.
"Foto ini adalah alasan aku mendirikan fansite khusus untuk mendukung dirimu, sepenuhnya mendukung segala keputusanmu."
"huh?"
"mmmhh…." Luhan tersenyum kecil lalu kembali berbicara untuk menjelaskan "Saat itu aku baru menetap di Seoul selama enam bulan. Tak banyak yang terjadi, yang pasti aku masih dalam masa adaptasi dengan lingkungan baru, aku masih kesal karena keluargaku pindah dari Beijing, aku marah karena tidak memiliki teman dan tiba-tiba EXO debut."
"Apa hubungannya?"
"Sangat berhubungan! Karena saat pertama kali melihat kalian aku begitu bersemangat. Aku mulai membeli album, menonton secara langsung, mengikuti fansign yang diadakan dan terus berulang sampai hari itu tiba." Ujarnya seranya mengenang lalu menatap Sehun dengan tatapan sendu namun tersirat rasa bangga di dalamnya "Hari dimana aku melihatmu menangis seorang diri di belakang panggung."
"Kau pasti menganggapku kekanakan."
"Tidak sama sekali, aku melihatmu sedang berjuang saat itu."
"Berjuang?"
"hmmh…Aku tahu kalian memikul beban yang terlalu berat sebagai boyband pendatang baru. Kau menangis karena kau kuat bukan karena kau lemah. Kau tahu? Aku seperti melihat remaja tujuh belas tahun yang bertekad mengalahkan dunia saat itu."
"yang benar saja!"
"Tentu saja benar! Karena malam dimana aku melihatmu menangis saat itu menjadi malam dimana aku juga membuat janji untuk melindungi tekad dan mimpimu. Aku akan melakukan apapun agar kau tidak menangis, tidak merasa terbebani, tidak merasa terluka, aku bersumpah untuk tidak membiarkanmu jatuh, aku memiliki mimpi agar kau selalu merasa dicintai, aku akan melakukan apapun agar tidak perlu lagi melihatmu menangis seorang diri, itu janjiku dan terbentuklah SL7."
Sehun terdiam, memperhatikan Luhan cukup lama sampai tak sadar, lagi-lagi air matanya menetes, dia tidak pernah begitu sensitif pada suatu hal, tapi Luhan? Pria cantik didepannya berhasil menunjukkan sisi lain dari Sehun yang tidak diketahui bahkan oleh Sehun sekalipun.
"Jangan menangis."
Awalnya Luhan ragu, tapi saat air mata jatuh begitu cepat dari kelopak mata Sehun nalurinya bekerja secara refleks untuk menghapusnya. Tangan mungilnya membuat gerakan menghapus air mata Sehun sementara sang idola memejamkan mata menikmati bagaimana tangan mungil ini bisa membuat hatinya berdebar begitu kencang.
"Gomawo Lu."
"Tidak perlu, tugas seorang penggemar adalah melindungi idolanya. Lagipula aku takut ini menjadi tahun terakhirku bisa melindungimu, jadi jangan menangis Sehun."
"Apa maksudmu?"
Luhan menatap sendu sang idola untuk mengatakan "Tahun ini adalah tahun terakhir ayahku bekerja di Seoul, bulan depan mungkin aku akan kembali ke tanah kelahiranku, Beijing."
"Mwo?"
Luhan hanya bisa tersenyum pasrah, berusaha untuk memberi semangat pada Sehun walau nyatanya dia sama sekali tidak bersemangat "Tapi kau tenang saja, aku akan tetap mendukungmu, apapun dan berapapun jarak yang akan memisahkan, aku akan tetap menjadi penggemar nomor satumu, Oh Sehun."
Sehun masih tak bergeming, matanya menatap tajam pada Luhan seolah tak percaya akan berpisah dari malaikat di depannya hanya dalam hitungan hari "Jangan pergi."
"huh?"
"Aku rasa aku menyukaimu, jadi jangan pergi."
"Sehun….."
"Aku bilang jangan pergi."
Bohong jika hati Luhan tidak berdebar hebat, bohong jika tubuhnya tidak lemas bahagia, bohong jika wajahnya tidak merasa panas karena baru saja, pria yang sudah dikaguminya selama lima tahun mengatakan menyukai dirinya.
Ya Tuhan!
Meskipun definisi rasa suka mereka akan berbeda, Luhan tidak peduli, yang jelas dia sedang melihat Sehun yang begitu posesif tengah memintanya untuk tidak pergi. Bisa saja Luhan mengatakan baiklah, aku tidak akan pergi. Tapi kemudian wajah ayah tercintanya menghantui hingga hanya senyum lirih yang bisa dia tunjukkan sebagai jawaban.
"Aku tidak bisa."
"Kenapa?"
"Ayahku sangat posesif dan tidak bisa hidup tanpaku. Jadi aku rasa aku harus tetap pergi."
"Meskipun aku mencoba berbicara dengan ayahmu?"
"tidaktidak…Tidak perlu Sehun, kau tidak perlu sejauh itu."
Sehun mendorong kursinya, berjalan memutari meja untuk membungkuk tepat di belakang Luhan, berbisik terlalu intim "Tapi aku mau melakukannya sejauh itu. Sepulangnya kita dari Pulau Jeju, aku akan membuat janji untuk bertemu dengan ayahmu. Jadi tunggu aku datang ke rumahmu."
"Sehun…"
"Untuk malam ini aku akan menjemputmu di depan kamarmu."
"Kita akan pergi?"
"yep! Aku ingin mengenalmu lebih dekat, lebih dalam dan lebih banyak."
Luhan terkekeh, walau suara jantungnya kini tengah bergemuruh hebat, dia tetap tertawa untuk bergumam "Terdengar seperti kencan untukku."
Tak mau kalah, Sehun bahkan membenarkan apa yang dikatakan Luhan "Kau benar, aku sedang memintamu untuk berkencan denganku."
Apa dia bilang? Kencan?"
Luhan bertanya-tanya dalam hati, membiarkan Sehun mengatakan hal gila yang terdengar sangat gila untuknya sampai lagi-lagi suara beratnya terdengar begitu seksi saat mengatakan "Sampai bertemu nanti malam, Luhan."
Dia bahkan mencium sayang pucuk kepala Luhan, meninggalkan si penggemar dalam keadaan setengah sadar, wajah merah padam, jantung berdebar kencang hingga tak lama sang tuan muda memekik, terlalu kencang.
"YA TUHAN! SETELAH DUA PULUH LIMATAHUN HIDUPKU, AKHIRNYA AKU BERKENCAN—DENGAN IDOLAKU, OH SEHUN!"
.
.
.
.
tobecontinued..
.
.
.
Ga jadi 2shoot, bisanya 3 wkwkwkwk
.
Salahin gue yang ga bisa bikin cerita pendek :"" maunya panjang2 mulu, bisa aja gue cut sana sini, tapi ada aja yg kurang buat gue, gapuas gtu jadinya wkkwkw, jadi daripada nunggu lama juga yekan, part 2 nya udh di publish, last partnya menyusul
,
Happy readings.
.
Doain biar JTV bisa up minggu ini juga :) kalo ga bisa yang pokonya scepetnya, ditunggu aja :)
