Previous

"Untuk malam ini aku akan menjemputmu di depan kamarmu."

"Kita akan pergi?"

"yep! Aku ingin mengenalmu lebih dekat, lebih dalam dan lebih banyak."

Luhan terkekeh, walau suara jantungnya kini tengah bergemuruh hebat, dia tetap tertawa untuk bergumam "Terdengar seperti kencan untukku."

Tak mau kalah, Sehun bahkan membenarkan apa yang dikatakan Luhan "Kau benar, aku sedang memintamu untuk berkencan denganku."

Apa dia bilang? Kencan?"

Luhan bertanya-tanya dalam hati, membiarkan Sehun mengatakan hal gila yang terdengar sangat gila untuknya sampai lagi-lagi suara beratnya terdengar begitu seksi saat mengatakan "Sampai bertemu nanti malam, Luhan."

Dia bahkan mencium sayang pucuk kepala Luhan, meninggalkan si penggemar dalam keadaan setengah sadar, wajah merah padam, jantung berdebar kencang hingga tak lama sang tuan muda memekik, terlalu kencang.

"YA TUHAN! SETELAH DUA PULUH LIMATAHUN HIDUPKU, AKHIRNYA AKU BERKENCAN—DENGAN IDOLAKU, OH SEHUN!"

.

.

.

.

From Idol to Lover

.

Our beloved HUNHAN and EXO members

.

3/3

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Ge! Bagaimana? Apa pakaian ini cocok untukku?"

"Tidak."

"Kalau yang ini?"

"Tidak."

"Ish! Lalu apa yang harus aku kenakan?"

Melihat bagaimana interaksi bodyguard dan sang majikan yang terbilang kolot dan berlarut sudah pastilah menimbulkan decak kesal bagi setiap yang melihatnya. Beruntung mereka hanya berdua di kamar hotel VIP yang sengaja dipesan oleh si bodyguard, jika tidak pastilah dia sudah terkena marah semua orang mengingat si tuan muda begitu pintar memikat hati orang lain sekalipun mereka adalah orang asing.

"Pakai selimut kotor saja, cocok untukmu!"

"LAOGE!"

Dan saat si tuan muda berteriak marah barulah Laogao menyadari jika dirinya keterlaluan. Terbilang sudah hampir dua jam Luhan bertanya mana pakaian yang cocok dia gunakan untuk kencan bersama Sehun namun hanya kalimat tidak yang dia keluarkan sebagai jawaban.

"Baiklah, baiklah. Coba aku lihat." Katanya melihat beberapa pasang kemeja resmi yang sengaja dibawakan Kwangsoo untuk Luhan, memilih dengan teliti lalu mulai menilai, menimbang mana yang cocok untuk Luhan sampai matanya tertarik pada blazer warna silver yang selalu digunakan sang tuan muda untuk makan malam bersama duta besar dan tamu ayahnya yang lain.

"Itu saja."

Luhan menimbang lalu memastikan "Apa benar cocok untukku?"

"Kau selalu terlihat sempurna memakai blazer buatan designer Paris favorit ibumu."

Luhan memberikan senyum terbaiknya lalu bergumam "Kau benar, Lumayan untukku."

"Jangan lupa memberiku bonus akhir bulan."

Si tuan muda mencibir kesal lalu mulai memakai pakaian date yang akan dia gunakan untuk pergi bersama Sehun malam ini "Jika malam ini berjalan lancar aku akan memberikannya untukmu."

"Apa?"

"Bonus."

"yeah!"

Ting tong

Ting tong

"Astaga Ge!"

Keduanya terdiam saat mendengar suara ketukan di pintu hotel, saling menatap bertanya sampai Luhan kembali bereaksi dan itu sangat berlebihan. Dia membuang blazer yang akan dikenakan lalu mulai mengipas kasar wajahnya "Astaga Ge! Itu pasti Sehun, omo omo! Bagaimana ini aku belum siap!"

"Yasudah biarkan saja!"

"ish! Cepat buka pintunya."

"Aku sibuk."

"Astaga Laogao! Buka pintu atau urusan kita menjadi panjang!"

Katakanlah kekuatan Luhan ada di caranya mengancam, karena setiap kali mata rusanya mendelik tajam, bibirnya mengerucut kesal, maka menolak adalah bencana besar karena setelahnya kau pasti akan berhadapan dengan ayah si tuan muda "Baiklah, baiklah. Berhenti mengancam!"

Dan lihatlah, si pria berbadan besar itu kini berjalan meninggalkan kamar, walau menggerutu setidaknya dia tetap melakukan apa yang diperintahkan si tuan muda. Mencoba untuk tidak menggerutu walau seluruh hatinya sudah dipenuhi rasa dongkol ingin mencaci si tuan muda.

Klik

Dengan malas Lao Gao membuka pintu, tidak menampilkan satu senyum pun untuk menyambut sang Maknae EXO yang penampilannya sudah mengalahkan seluruh artis di seluruh dunia bahkan artis Hollywood sekalipun.

"Selamat malam, aku ingin menjemput Luhan."

Suara berat si Maknae terdengar, membuat Laogao mau tak mau mengakui bahwa dari satu sampai seratus, pria di depannya memiliki nilai 99 terlihat dari caranya berpakaian dan caranya menyapa benar-benar terlihat sangat keren.

Sial! Dia benar-benar tampan. Pantas tuan muda seperti cacing kepanasan mengidolakan bocah ini

Tanpa sadar, bodyguard yang sudah bekerja untuk Luhan selama lima tahun terlihat sibuk mengagumi Sehun sementara sang idola hanya terus tersenyum seolah tak ingin memberi kesan buruk pada bodyguard dari penggemar spesialnya.

"Umm, apa aku bisa bertemu dengan Luhan?"

Lihat tubuhnya begitu sempurna, tinggi dan atletis, pantas saja Tuan muda bersikeras ingin menumbuhkan otot, idolanya bahkan terlalu sempurna untuk disandingkan dengan model atau atlet sekalipun. Pilihanmu tepat tuan muda.

"Paman..."

Dan sial, dia begitu harum, cacat di pipinya hanya membuat idola tuan muda berkali-kali lebih tampan dan...seksi

"PAMAN!"

"huh?"

Barulah saat si idola berteriak, Laogao mendapatkan kembali sadarnya, dia bahkan mengerjap beberapa kali lalu dahinya mengerut kesal mengingat si idola baru saja memanggil paman padanya.

"Siapa yang kau panggil paman?"

"Anda tentu saja."

"Whoa…"

Laogao mengusak kasar tengkuknya lalu semakin tertawa kesal saat Sehun bertanya "Apa aku melakukan kesalahan paman Laogao?"

"YAK! Setua apa aku dimatamu?"

"Seusia pamanku." Katanya polos dibalas seringai keji dari sang bodyguard "Daebak! Satu Luhan saja sudah membuatku sakit kepala lalu aku harus menghadapi bocah sepertimu?"

"Maaf, tapi siapa yang paman panggil bocah?"

"BERHENTI MEMANGGILKU PAMAN!"

"Baiklah, Tuan."

"Astaga!"

"Aku salah lagi?"

Perdebatan konyol si idola dan si bodyguard di depan pintu bisa saja berlanjut, beruntung Luhan segera keluar dari kamar lalu mulai berlari menghampiri Sehun dan menarik lengan dari pria gempal yang sudah dianggap seperti kakak olehnya

"Ge! Apa yang kau lakukan? Kenapa Sehun hanya berdiri di luar? Bagaimana jika ada yang mengenal dan mengganggunya? Ish!"

Dia memukul lengan Laogao, lalu tanpa sadar menarik lengan Sehun dan membawanya masuk.

Situasi canggung pun tak terelakan mengingat Luhan baru saja melakukan hal konyol menjurus kurang ajar karena menyentuh sang idola tanpa izin lebih dulu.

"Hay Sehun." Katanya berusaha menyapa namun dibalas tatapan kosong oleh pria super tampan didepannya.

"Sehun?"

Sehun masih terdiam, dia tak berkedip menatap bagaimana Luhan dan seluruh kecantikannya seolah menyerap energi yang dimiliki tubuhnya. Dia terhipnotis dan Sehun tahu dia kini terlihat sangat konyol mengingat tak satupun ucapan Luhan bisa dibalasnya.

Sial, apa benar dia seorang pria? Kenapa...astaga, kenapa cantik sekali!

Sehun masih terhipnotis, sementara Luhan menjadi gugup. Pikirnya Sehun tidak menyukai bagaimana dia berpakaian malam ini. Membuatnya salah tingkah lalu mengoreksi dirinya sekali lagi.

"Apa ada yang salah denganku?" Luhan bertanya memastikan, dia juga terlihat sangat panik, terlihat dari gerakannya membuka kancing blazer silvernya berniat untuk membukanya jika Sehun tidak suka "Kau tidak menyukainya atau-..."

"Cantik."

"Nde?"

Sehun mengerjap takjub beberapa kali. Kemudian matanya fokus pada bibir pink Luhan yang terlihat manis sedang mengerucut seksi lalu beralih pada dua mata cantik Luhan yang kini melihat bingung seolah memastikan kearahnya.

"Sempurna, kau terlihat sangat cantik."

Mati kau Oh Sehun, Tuan muda tidak pernah suka dipanggil cantik. Kkk~

Laogao seolah menahan tawa, bersiap untuk mendengar teriakan Luhan yang kini bertanya memastikan lagi pada si idola.

"Cantik?"

Tanpa ragu senyum mematikan Sehun terlihat, Laogao dengan jelas bisa melihat rona merah di wajah Luhan lalu tanpa sadar si tuan muda justru memberi respon "Benarkah?" dengan wajah super merona dari pernyataan mematikan yang tidak pernah disukainya seumur hidup.

"Ya, tentu saja. Kau cantik."

"Ge, kau dengar? Aku cantik."

Laogao nyaris menjerit kesal karena daripada marah, tuan mudanya seperti remaja gila yang dibalas cintanya ketika Sehun mengatakan cantik, berbeda saat dirinya dan Paman Kwangsoo yang memanggilnya cantik.

Karena selain kemurkaan sang tuan besar, mereka juga harus merasakan potongan gaji dalam jumlah fantastis hanya karena mulut mereka mengeluarkan kalimat mematikan seperti "cantik" pada si tuan muda

"yang benar saja!"

"Apa kau sudah siap?"

"Tentu saja, sebentar aku akan mengambil ponselku."

Luhan berlari ke kamar, meninggalkan Sehun dan Laogao yang kini saling menatap canggung tanpa berniat menyembunyikan rasa tak suka yang keduanya rasakan.

"Well, aku hanya akan mengatakan ini sekali."

"Apa?"

Yang berusia lebih tua kembali mendengus, dia sengaja berjinjit di telinga si idola lalu berbisik terdengar seperti ayah Luhan "Kembalikan tuan muda tepat waktu tanpa kekurangan satu apapun. Kau dengar?"

"Kekurangan satu apapun?" Sehun membalasnya polos dihadiahi tatapan tajam dari pria yang memiliki janggut di wajahnya "Well, Tuan mudaku masih sangat polos, hanya jaga kepolosannya, jaga dengan utuh tanpa kekurangan satu apapun."

Sehun tertawa, dia tahu kemana arah pembicaraan bodyguard Luhan untuk membalas "Aku juga masih polos, jadi tenang saja aku tidak akan bersikap kurang ajar."

"Bagus."

"Tapi tergantung situasi."

"huh?"

Sehun tersenyum menggoda lalu berganti berbisik pada sang bodyguard "Aku juga ingin menguji sampai mana batas kekuatanku sebagai pria bisa menahan godaan dari pria cantik seperti tuan mudamu. Kau tahu kan paman? Tuan mudamu sangat manis dan menggairahkan."

"brengsek! APA YANG KAU KATAKAN SIAL-…."

"yang benar saja Ge? Kau berteriak lagi?"

Beruntung Luhan kembali datang tepat waktu, karena jika tidak bisa dipastikan Sehun dan Laogao benar-benar akan saling menyindir dengan cara masing-masing. Dan jangan sebut dirinya si tuan muda jika tidak bisa menghentikan racauan gila dari bodyguard gempal kesayangannya.

"Aku hanya memperingatkan bocah didepanku."

"Maaf tapi aku penasaran, siapa yang kau panggil bocah sedari tadi?"

"sshh…Kau tentu saja! Pikirmu hanya di grup kesayanganmu kau seorang bocah?"

"Mungkin, tapi saat bersama kalian, aku rasa aku tahu siapa bocahnya, tidak, bukan bocah tapi pria cantik yang menggemaskan."

Diam-diam Sehun melirik Luhan, dan lagi-lagi pula terlihat rona merah di wajah Luhan. Dan saat si tuan muda menunduk malu, Laogao terkekeh gemas lalu mengatakan dengan bangga "ssh….Kau tertipu karena wajah tuan mudaku memang masih bocah! Tapi apa kau tahu-…."

"Ge…"

Luhan memperingatkan, namun salahkan mulut besar Laogao yang terus meracau dan tanpa sadar mengatakan "Jika usia tuan muda empat tahun lebih tua darimu."

"Mwo? Empat tahun lebih tua dariku?"

Tatapan kesal Luhan, reaksi terkejut Sehun, semuanya menjadi lengkap untuk mimpi buruk Laogao. Sang bodyguard kemudian tertawa canggung seraya menatap menyesal pada Luhan "he he he….Aku kelepasan."

"Whoa…."

Demi Tuhan, jika tidak ada Sehun dikamarnya saat ini, sudah dipastikan semua barang hancur berantakan, alasannya? Simpel, karena pastilah Luhan sudah melempar seluruh barang termasuk alat makeupnya untuk memberi pelajaran pada si mulut besar setelah Paman Kwangsoo.

"Urusan kita benar-benar menjadi panjang Lao-Ge…."

Sudahlah, Laogao pasrah. Lagipula Luhan sudah mendesis marah. Mau bersembunyi dimanapun Luhan pasti menemukannya. Jadilah dia membungkuk pada Sehun lalu berjalan membukakan pintu untuk kedua pria yang tampaknya dipenuhi cinta di mata mereka.

"Selamat bersenang-senang tuan muda, Oh Sehun-ssi. Aku menunggumu pulang, jangan terlalu larut."

Mengabaikan hawa mematikan yang diberikan Luhan pada Laogao, Sehun tersenyum. Dia kemudian menawarkan lengannya untuk Luhan seraya mengatakan "Siap bersenang-senang tuan muda?"

Luhan tertawa kecil lalu menyambut lengan Sehun "Ya, kelihatannya begitu."

Keduanya pun kompak meninggalkan kamar hotel sampai terdengar suara pintu ditutup paksa oleh si bodyguard.

"Aku benar-benar akan memberi pelajaran padanya."

"Jadi usiamu benar-benar empat tahun di atasku?"

Luhan salah tingkah, dia sedikit menggaruk tengkuknya lalu membenarkan pertanyaan Sehun "Ya begitulah, April, Empat tahun lebih tua darimu."

"Kita lahir di bulan yang sama?" Sehun bertanya antusias dibalas lagi anggukan canggung dari Luhan "Ya, aku juga April, tanggal 20. Tapi kau tidak perlu bersemangat seperti itu Sehun."

"Tentu saja aku bersemangat, aku merasa senang walau masih tak percaya usiamu sama dengan Kris dan Xiumin hyung."

"he he he….Banyak yang bilang wajahku memang seperti bocah."

"Benar! Bocah menggemaskan untukku."

Luhan tertawa dipaksakan sementara diam-diam dia mengumpat "Laoge kau benar-benar dalam masalah."

"Omong-omong kau terlihat dekat dengan bodyguardmu."

"huh?"

"Ya, walau kau terus berteriak tapi aku melihat kedekatan kalian benar-benar membuat iri. Maksudku, aku juga memiliki bodyguard, tapi hubungan kami tidak lebih dari sebatas artis dan bodyguard. Jadi melihatmu dan Laogao hyung aku rasa kalian benar-benar dekat."

Luhan mendengarkan seluruh ucapan Sehun, tanpa sadar dia juga melirik idolanya yang begitu tampan untuk tersenyum seraya mengatakan "Karena hanya Laoge dan paman Kwangsoo teman dalam hidupku."

"Kau tidak memiliki teman dalam arti sebenarnya?"

Tanpa sadar pertanyaan Sehun membuat raut sendu di wajah Luhan, namun seperti tak ingin membuat Sehun merasa bersalah, Luhan hanya tersenyum lalu mengangguk membenarkan "Tidak ada yang benar-benar tulus berteman denganku. Setengah dari mereka hanya memanfaatkan status sosialku, yang lainnya mereka sangat membenciku entah karena alasan apa."

Keduanya kini masuk ke dalam lift, Sehun menekan tombol empat puluh lima tempat acara amal diselenggarakan sementara Luhan terpaksa diam karena tidak tahu harus mengatakan apa lagi pada idolanya.

"Tapi kau baik-baik saja?" Suara berat Sehun melunturkan pertahanan Luhan, dia pun menoleh lalu tanpa sengaja sorot lembut mata Sehun seolah menyeretnya jatuh kedalam lingkaran hangat tiap kali mereka bertatapan "Apa?" ujarnya memastikan dibalas senyum oleh si idola.

"Kau baik-baik saja tanpa teman?"

"Well, terimakasih untukmu karena aku memiliki banyak teman disini." Katanya mengeluarkan ponsel dalam saku lalu menunjukkan ratusan notifikasi yang kini masuk kedalam ponselnya "Walau kami tidak pernah bertatapan langsung, tapi Sehun stan adalah yang terbaik! Mereka benar-benar membuatku hidup."

Sehun terkekeh, dia sengaja mendekati Luhan lalu melihat ratusan notifikasi tanpa henti yang memang sedang masuk ke dalam ponsel Luhan "Aku penasaran apa yang dilakukan Sehun stan jika mereka berkumpul."

Kali ini Luhan yang tertawa lalu memberitahu si idola "Banyak! Kami melakukan banyak hal terutama di bulan April."

"Kau selalu terlibat?"

Dengan bangga Luhan mengatakan "Selama lima tahun aku tidak pernah melewatkan bulan April dan selalu merayakan ulang tahunmu bersama Sehun stan yang lain."

"Benarkah?"

"Yap!"

"Tapi kenapa?"

"Ya karena aku mengidolakanmu, bukan, karena aku mencintaimu lebih tepatnya."

Ting!

Bersamaan dengan pernyataan Luhan, pintu lift terbuka, dan tanpa sadar Sehun masih merasakan rasa cinta yang begitu tulus dari ucapan Luhan. Jujur dia sering mendapatkan ucapan cinta dari penggemar dan seluruh orang terdekatnya. Tapi entah mengapa milik Luhan terasa berbeda, seperti mengenai dasar hatinya dan Sehun begitu menyukai sensasi nyaman dan begitu tenang hanya karena seseorang mengatakan cinta padanya.

"Sehun."

"hmh?"

"Aku rasa kita sampai."

"ah…."

Yang memakai kemeja hitam dengan dua kancing teratas yang sengaja dibuka terkekeh, dia kemudian menyadarkan diri lalu kembali menawarkan lengannya pada Luhan "Maaf membuat anda menunggu tuan muda."

"oh ayolah! Cara bicaramu seperti Laoge."

"Jika seperti Laoge bisa membuat kita berteman dekat, maka aku rela menggantikan posisinya."

Jelas saja tubuh Luhan lemas, Sehun tanpa sadar sedang menunjukkan rasa inginnya menjalin hubungan lebih dekat dengan si tuan muda. Jadilah wajah Luhan semakin merona terlebih saat Sehun membawanya entah kemana hingga kedua kaki mereka berhenti tepat di depan ruangan yang bertuliskan "EXO's"

"Se-Sehun…"

"Ya?"

"Kenapa ruangan ini bertuliskan EXO's?"

Sehun tersenyum, digenggamnya erat tangan Luhan seraya membuka pintu yang menghalangi keberadaan seorang penggemar dan keseluruhan idolanya "Karena keluargaku ada di dalam sini." Ujarnya singkat dan tak lama, bersamaan dengan Sehun membuka pintu, Luhan disuguhi pemandangan yang begitu manis ketika seluruh anggota EXO, idolanya, tengah bersenda gurau dan tertawa sangat bahagia.

Sepertinya tawa mereka menular.

Itu yang ada di pikiran Luhan, karena tak lama setelah melihat idolanya tertawa, Luhan seperti ikut dipaksa tertawa hingga senyum cantiknya seperti membuat silau satu-satunya anggota EXO yang mempunyai selera humor paling buruk, Kris namanya.

"Whoa, siapa gerangan pria cantik yang sedang tersenyum ini?"

Buru-buru Sehun menarik lengan Luhan, menyembunyikan si mungil di belakang tubuh besarnya lalu berhadapan dengan pria yang sialnya lebih besar, lebih tinggi dan lebih mesum darinya "Hyung mundur, dia denganku."

"huh? Si cantik itu denganmu?"

Kris atau Wuyifan atau si Leader EXO-M itu masih dibuat penasaran, dia terus melihat ke belakang tubuh Sehun untuk menemukan fakta bahwa siapapun pria atau mungkin gadis cantik yang dibawa sang maknae benar-benar cantik walau hanya sedikit wajahnya yang bisa dilihat leader kedua setelah Junmyeon.

"YAK! BERHENTI MELIRIK HYUNG NAGA!"

"tsk! kau yang membuat masalah dan kau yang berteriak padaku? Tidak sopan bocah. Tunggu sampai Jumnyeon tahu kemana kau melarikan diri malam ini."

"Aku sudah mengatakan pada Suho hyung."

"Benarkah? Kalau begitu kita buktikan—SUHO CEPAT KEMARI?!"

"Ada apa—astaga! Bocah gila! Kau kemana saja? Kami pikir kau melarikan diri lagi! KEMARI KAU!"

Yang ada di benak Luhan selama ini Sehun adalah raja, kesepuluh hyungnya akan mengikuti apa yang diinginkan si bungsu, Sehun juga cenderung memerintah dan mendapatkan apa yang diinginkannya. Ya, selama ini tebakan Luhan adalah seperi itu, bukan melihat Sehun dimarahi bahkan tanpa segan dipukul kepalanya di depan umum seperti ini.

"ha ha ha….Sepertinya The Power Of Maknae memang hanya isapan jempol biasa."

Luhan terkekeh, matanya sibuk memperhatikan Sehun hingga tak menyadari kedatangan Kris yang entah mengapa sudah ada di depan matanya, tersenyum sangat tampan dan Luhan lemas melihat bagaimana member tertinggi di EXO itu kini menyapanya.

"Dan kau adalah?"

"huh?"

Si tuan muda tak berkedip, dirinya masih menetralkan degup jantung sialan karena terkena serangan mendadak dari pertanyaan salah satu anggota M yang begitu dia sukai setelah Xiumin.

"Namamu siapa? Dan kenapa kau datang bersama dia?"

Kris menunjuk ke arah Sehun, berharap Luhan menjawab namun hanya diam yang dia terima sepanjang pertanyaannya kali ini "Ah, Kau kekasih Sehun?" katanya menebak asal membuat tidak hanya Luhan tapi Sehun juga semakin salah tingkah saat ini.

"Tidak, aku bukan kekasihnya."

"Lalu kau siapa?"

"Aku…."

Sret…!

Lagi-lagi Luhan merasa lengannya ditarik, kali ini dia tidak disembunyikan di belakang tubuh Sehun karena Sehunlah yang berdiri di belakangnya dan tengah melingkarkan dua tangannya di tubuh sang tuan muda.

Gugup?

Tentu saja.

Ini terlalu banyak untuk Luhan. Dia bahkan tidak berani menoleh menyadari hembusan nafas Sehun terlalu dekat dan bisa dia rasakan menghembus kasar tengkuk lehernya.

"Se-Sehun…"

Luhan berusaha mengelak namun yang terjadi si Maknae semakin memeluk Luhan posesif seraya mengatakan "hyungdeul….Kenalkan Luhan, dia calon kekasihku."

Uhuk!

"MWO?"

"hhmmhh~"

Berbagai reaksi ditunjukkan dari member EXO.

Jongdae tersedak minumannya.

Xiumin dan Lay memekik heboh

Masing-masing dari Kai dan Chanyeol harus rela melepaskan ciuman panas mereka mengingat Kyungsoo dan Baekhyun mendesah dan memukul minta di lepaskan.

Semua mata tertuju pada Sehun lalu dibalas cengiran terlalu polos dari si Maknae.

"Apa kau bilang? / Ulangi!"

Kini dua leader EXO yang bertanya, keduanya masih mengerjap seolah menganggap bahwa Sehun sedang mengatakan omong kosong yang nyaris tak akan pernah dilakukannya.

"Luhan, dia calon kekasihku."

"Sehun.."

Wajah Luhan merah padam, dia kesulitan bernafas dan yang paling parah tubuhnya lemas karena kesembilan anggota EXO kini sedang menatap tak berkedip padanya "Paman…tolong aku, aku mau mati." Katanya memanggil Kwangsoo dibalas kekehan dari Sehun yang kini berbisik padanya "Tenang saja aku tidak akan membiarkanmu mati, cutie."

"Oh astaga…"

Luhan semakin lemas lalu tak lama dirinya berhadapan dengan Baekhyun, Kyungsoo serta Minseok yang masing-masing memakai pose melipat tangan di atas dada tanda mereka akan mulai menginterograsi Luhan.

"Siapa namamu?" Kyungsoo bertanya, Luhan menjawab "Luhan."

"Berapa usiamu?" kini Minseok yang bertanya dibalas lagi oleh si tuan muda yang tubuh dan hatinya benar-benar lemas karena serangan mendadak dari Sehun "Aku seusiamu."

"daebak…."

Terdengar Kai terkagum lalu dua mata Kyungsoo mendelik tajam padanya "Jaga sikap atau kau akan menderita untuk waktu yang sangat…sangat…sangat lama."

"Menyerah! Aku diam." Timpalnya membuat gerakan mengunci mulut lalu duduk manis di dekat Jongdae sementara Chanyeol dan Lay masih betah mendengarkan interograsi "calon kekasih" Sehun dari tiga diva EXO.

"Dengan kata lain kau dan Sehun memiliki perbedaan usia empat tahun?"

"Tepat."

"hmmmh…Menarik."

Baekhyun mengusap berulang dagunya seperti seorang detektif yang sedang mewancarai mangsa kesayangannya "Baiklah, pertanyaan terakhir."

"Apa?"

Luhan membalas dengan seluruh kenyataan bahwa sepertinya dia sedang ditelan hidup-hidup karena harus berhadapan dengan tiga pria paling cantik yang kecantikannya menandingi model top dunia sekalipun.

"Apa kau EXO-L?"

"Dia Sehun stan." Timpal Sehun dibalas gelengan mantap dari Luhan "Aku EXO-L merangkap Sehun stan. Tapi aku EXO-L juga."

"Lalu siapa Main vocalist yang kau suka?"

"huh?"

"Cepat jawab! Aku, Kyungsoo atau Chen?"

Luhan dilema, dia menyukai seluruh Main Vocalist EXO tanpa kecuali, tapi saat sang Diva Byun memintanya untuk memilih maka mata cantik Luhan sedang menatap bergantian sang Main Vocalist EXO.

Dia menatap Baekhyun yang memiliki sifat tak jauh dari tebakannya selama ini, lalu beralih pada Kyungsoo yang memiliki aura super dingin sampai matanya menatap Chen yang selalu tersenyum hangat walau rasanya dia adalah member yang memiliki tingkat keusilan tinggi sama dengan Sehun atau Kai sekalipun.

"haah~"

"Kenapa kau mengambil nafas? Cepat jawab pertanyaan Baekhyun!"

Kyungsoo benar-benar menakutkan.

Itu yang ada dipikiran Luhan, posisinya terdesak sementara dibelakangnya Sehun terus sengaja menghembuskan nafasnya begitu dalam hingga menyerang titik sensitif pertahanan Luhan yang mulai terganggu.

"Seorang EXO-L tidak akan ragu menentukan pilihan."

"Masalahnya kalian bertiga di depanku."

"Lalu kenapa?"

Luhan merengek dan tanpa sadar sedang dalam mode tuan mudanya saat ini "Kalau kalian bertengkar bagaimana?"

"Ayolah! Hanya karena "calon kekasih" Sehun memilih Main Vocalist kesukaannya kami bertiga bertengkar? Jangan bercanda Lu-Han! Cepat pilih!"

Baekhyun terus mendesak dibalas rengekan lagi oleh Luhan "hks…Apa yang harus kulakukan?"

"Cepat pilih."

"Baiklah….Baiklah…Chen!"

"Mwo?"

Luhan menghentak sedikit kakinya lalu menunjuk pada Chen yang kini membalasnya penuh senyum di wajah "Aku pilih Chen, dia Main Vocalist favoritku."

"YEY! PILIHAN BAGUS CALON KEKASIHNYA SEHUN!"

Sang Main Vocalist terpilih sedang memekik heboh, dia merayakan kemenangan akan pilihan Luhan walau dihadiahi tatapan sengit dari Kai dan Chanyeol yang kini masing-masing memberi tatapan peringatan padanya.

"WAE? AKU MENANG…YEY! LALALALA!"

"ish!"

Baekhyun tidak terima lalu kembali mendelik pada Luhan "Siapa lagi?"

"Apa?"

"Setelah Chen siapa lagi?"

"Haah~" Luhan kembali mengambil nafas lalu menunjuk pada Kyungsoo "DO."

"whoa…."

Baekhyun mengipas kasar wajahnya sementara Kyungsoo kini sedang memekik tertahan karena mengalahkan Baekhyun "Yeah! Pilihan bagus!"

Kyungsoo bahkan dengan sengaja mengibas tangannya pada Baekhyun lalu melenggang pergi menghampiri kekasihnya "Aku mengalahkan Baekhyun." Katanya duduk di pangkuan Kai dibalas kekehan bangga oleh sang kekasih "Kau yang terbaik sayang."

Keduanya kembali berciuman panas membuat Luhan salah fokus sementara Baekhyun masih menatapnya kesal dan tak lama

"YEOLIE!"

"Ya sayang?"

"Sayang? Chanbaek juga real? Daebak?"

Luhan bergumam heboh dalam hati lalu tanpa sadar jemari lentik Baekhyun sudah berada tepat di depan kedua matanya nyaris mencolok matanya yang cantik "DIA MENYEBALKAN! AKU TIDAK MENYUKAINYA!"

"sshh….Jangan menangis Bee, untukku hanya Park Baekhyun pemilik suara terindah."

"Benarkah?"

"Ya tentu saja. Terlebih saat mendesah."

"y-YAK!"

"sssh…Caplang! Memalukan sekali."

Sehun mencibir nyaris dihadiahi pukulan oleh Chanyeol jika tanpa sengaja matanya menatap mata lucu Luhan yang sedang menatapnya seperti anak kucing "oh astaga! Matanya cantik sekali."

"Mata siapa? / Apa kau bilang?"

Chanyeol salah tingkah saat Sehun dan Baekhyun menyerangnya. Main Rapper EXO itu bahkan harus repot-repot mencium kekasihnya jika tidak ingin masalahnya berlanjut sampai ke tempat tidur.

"Matamu sayang, matamu yang paling indah."

"hhmmhh~"

Dan tak berbeda dari Kai-Soo, kini Chan-Baek juga berciuman panas tepat di wajah Luhan hingga menimbulkan warna merah padam dari pipi si tuan muda yang merasa pemandangan keintiman EXO terlalu vulgar untuknya.

"Sehunna."

Mengabaikan pemandangan panas Chanbaek dan Kaisoo, kini Sehun menoleh pada Kris, bertanya-tanya mengapa si naga China itu memanggilnya sampai dia mersepon malas pada hyungnya "Ada apa?"

"mmhh…Aku masih memikirkan ini secara matang."

"Apa?"

"Sepertinya Luhan lebih cocok denganku daripada denganmu. Kau tahu kan? Kami seumuran dan dia lebih cocok dengan pria jantan sepertiku!"

"Ayolah! Aku lebih jantan darimu!"

"Tapi bukankah kau lebih menyukaiku Luhan?"

"huh?"

Luhan salah tingkah saat lagi-lagi mata menggoda Kris mengerling padanya, wajahnya merah padam lalu tanpa sadar dia berteriak "TAPI AKU HANYA MENYUKAI SEHUN!" Menggunakan aksen Beijing khas miliknya.

Sehun masih mencoba mengerti apa yang dikatakan Luhan sementara Kris dan Lay merespon heboh dan mulai membobardir Luhan menggunakan bahasa mandarin yang sepertinya sangat dikuasai Luhan.

"Kau fasih menggunakan bahasa mandarin?"

Dengan aksen yang sama Luhan menjawab pula dalam bahasa mandarin "Aku Chinese, Beijing."

"Whoa….Lalu bagaimana bisa kau mengagumi Sehun? Bukan aku atau Lay?"

Kali ini Kris bertanya menggunakan bahasa yang sama, membuat Luhan terkekeh hingga tanpa sadar mengerling Sehun yang masih setia memeluknya erat walau dia terlihat seperti bayangan saat ini "Karena Sehun menggemaskan. Aku benar-benar menyukainya." Katanya tersipu berharap Sehun tak mengerti apa yang sedang dibicarakannya dengan Kris dan Lay menggunakan bahasa mandarin.

"Xie Xie…"

Namun sialnya Sehun membalas penuh rasa percaya diri. Luhan dibuat terkesiap sementara Lay dan Kris sedang menahan tawanya masing-masing saat ini.

"Se-Sehun? Kau mengerti apa yang aku bicarakan?"

Sehun terkekeh lalu memeluk Luhan semakin dalam "Dari awal aku mengerti yang kalian bertiga bicarakan. Tapi jangan membuat perkumpulan Chinese disini, aku tidak suka diabaikan."

Mata Luhan kini beralih pada Lay dan Kris, seolah meminta dijelaskan namun hanya kekehan yang dia dapatkan "Dari semua member EXO, kemampuan Sehun berbahasa mandarin sudah di atas rata-rata."

"Benarkah?"

"Ya tentu saja, aku ini memiliki aura bakat yang kuat di Cina." Katanya penuh percaya diri dihadiahi tatapan kesal dari Kris yang kemudian membawa Lay menjauh dari Sehun dan Luhan.

"Kita bersiap."

"Kemana? Apa kita akan selingkuh dibelakang Suho?"

"Bodoh! Acara amalnya akan dimulai sebentar lagi."

"ah…"

Ucapan Lay memang samar terdengar, tapi Luhan berani bersumpah bahwa dia mendengar kalimat selingkuh di belakang Suho, yang mengartikan bahwa dari semua pria cantik di ruangan ini, bisa dikatakan Lay yang menguasai situasi karena mengencani dua leader sekaligus.

"Kenapa diam?"

Sehun tiba-tiba bertanya dibalas tawa canggung dari Luhan "Aku mendengar Lay mengatakan selingkuh dengan Kris dibelakang Suho, apa artinya?"

"Artinya ini jadwalnya kencan dengan Kris hyung."

"Mwo?"

"ha ha ha…Lupakan! Kecuali ChanBaek dan KaiSoo, kami semua ini single. Mungkin Chenie hyung dan Xiu hyung menjalin hubungan, entahlah, aku belum pernah melihat mereka berciuman. Tidak seperti mereka." katanya menunjuk kesal pada Kaisoo dan Chanbaek yang hingga kini masih sibuk berciuman dan memamerkan kemesraan mereka.

"Kau akan terbiasa melihat mereka saling melumat seperti itu."

Mungkin Sehun benar, seharusnya fokus Luhan hanya pada kenyataan bahwa sama seperti Kai dan Kyungsoo yang menjali hubungan, Baekhun dan Chanyeol juga memiliki hubungan khusus seperti yang selama ini diinginkan kalangan penggemar dan Shipper. Harusnya dia mengabadikan semua moment untuk dibagikan pada seluruh penggemar EXO di dunia.

Ya, itu memang tugas seorang masternin fansite, tapi entah mengapa seluruh minat Luhan pada membagikan moment berganti dan lebih tertuju pada kenyataan bahwa dia sangat ingin mengetahui bagaimana kehidupan asmara Sehun yang sepertinya jauh dari pemberitaan.

"Sehunna."

"hmh?"

Oleh karena itu ketika Sehun menjelaskan banyak hal yang terjadi pada kedekatan dan hubungan seluruh anggota EXO, maka disinilah Luhan, bersiap untuk menerima kenyataan dan memberanikan diri bertanya.

"Lalu bagaimana denganmu?"

"Apa?"

"Kau memiliki kekasih?"

"huh?"

"Maksudku kau seorang idola, jadi wajar jika kau menutupi kisah asmara milikmu. Jadi denganku malam ini, bisakah aku menjadi pengecualian? Apa kau mau memberitahu siapa kekasihku."

"mmhh…"

Sehun terlihat berfikir, rasanya dia akan terus mengagumi berbagai macam ekspresi yang ditunjukkan Luhan saat mereka bersama. Tersipu, tersenyum, tertawa, marah, jengkel dan bahkan ketika dia bertanya serius seperti ini Sehun tidak menemukan kekurangan apapun dari penggemarnya.

Karena daripada terlihat buruk atau bahkan menjengkelkan, Luhan yang bertanya serius justru membuat dirinya terkesan dewasa dan Sehun menyukainya.

"Aku ya? tidak ada."

"Apa?"

"Aku tidak memiliki kekasih saat ini, jadi jawabannya aku tidak-….."

Klik!

"Sehun"

Bersamaan dengan jawaban Sehun yang menggantung terlihat seorang wanita berambut panjang ikal sebahu tengah masuk ke ruang tunggu. Parasnya begitu cantik dan ketika dia tersenyum, bohong jika kau tidak berdebar karena wanita itu memang sungguh cantik.

Entah siapa wanita tersebut, tapi berbagai macam ekspresi jelas ditunjukkan Sehun yang secara refleks melepas pelukannya pada Luhan.

"Noona…"

Luhan bisa mendengar Sehun memanggil wanita tersebut dan yang membuatnya bertanya adalah kenyataan bahwa tak hanya Sehun yang merubah ekspresi wajahnya tapi juga keseluruhan dari anggota EXO.

Luhan bertanya-tanya mengapa semua menjadi diam tak berekspresi. Memperhatikan satu persatu wajah anggota EXO sampai tak lama dia merasakan bahunya terdorong keras dan Sehun adalah penyebabnya.

Dia juga melihat bagaimana Sehun terburu-buru menghampiri si wanita sampai pemandangan cukup mengejutkan dilihat sang tuan muda tatkala idolanya menarik lengan wanita cantik yang baru saja tiba lalu memeluknya begitu erat.

"Yeojin Noona."

.

.

.

.

.

"Maaf harus membuatmu merasa canggung seperti ini. Minumlah Lu."

Sekiranya sudah sepuluh menit berlalu sejak Luhan dan anggota EXO lainnya menghadiri acara amal dengan beberapa kalangan artis yang secara khusus diundang oleh penyelenggara acara.

"Apa kami harus memanggilmu hyung?"

"Tidak perlu, Luhan saja."

Namun jika perkiraannya malam ini akan menjadi malam kencan untuknya dan Sehun maka dugaan Luhan salah, sepenuhnya salah, karena bukan Sehun yang menemaninya melainkan Baekhyun dan Kyungsoo yang entah mengapa sejak kedatangan wanita cantik yang dipeluk Sehun terus menemaninya dan terus bersikap terlalu baik padanya.

"Gomawo."

Luhan membalas sekilas sementara matanya tertuju pada Sehun yang kini sedang tertawa dan berbicara intim dengan wanita cantik bernama Yeojin.

"Kau baik-baik saja?"

"huh?"

"Sehun, dia mengundangmu tapi mengabaikanmu sendiri disini. Beruntung dia memiliki kakak-kakak yang pengertian seperti kami."

Baekhyun berbicara namun hanya senyum kecil yang diberikan Luhan. Jujur semenjak kedatangan Yeojin, Luhan merasa Sehun merubah sikapnya terlalu jauh. Dia bahkan tidak lagi menoleh dan terkadang memutus kontak mata saat dua mata mereka bertemu.

"Baekhyun-ssi."

"eyy! Jangan terlalu formal. Baekhyun saja."

Luhan mengangguk, lalu mengoreksi panggilan "Baekhyunna."

"Ya? Ada apa?"

"Aku boleh bertanya siapa wanita yang dipanggil Noona oleh Sehun."

"ah…."

Kini tak hanya Baekhyun tapi Kyungsoo juga mulai bersikap canggung padanya, keduanya tidak ada yang menjawab sampai suara yang lebih berat terdengar menjawab pertanyaan Luhan.

"Namanya Han Yeojin, dia salah satu top model SM Ent, berdomisili di Jepang dan merupakan cinta pertama Sehun. "

"Kai….!"

Kyungsoo menarik lengan kekasihnya dibalas suara protes dari Kai "Wae? Luhan hyung bertanya."

"Luhan saja."

Buru-buru Luhan mengoreksi lalu kembali bertanya "Cinta pertama Sehun?"

"Mungkin hingga saat ini." timpal Chanyeol yang sudah mengambil tempat di belakang Luhan.

Sang tuan muda terpaksa menoleh ke belakang untuk mengakui keseluruhan features anggota EXO memang berada di atas rata-rata. Chanyeol bahkan tidak tersenyum tapi lesung di pipinya terlihat jelas saat dia berbicara.

"Hingga saat ini? Sejak kapan Sehun menyukainya?"

"Sejak Sehun menjadi trainee hingga Sehun menjadi Top Idol seperti saat ini. Kurang lebih sudah tujuh tahun dia menyukai Yeojin Noona tapi tak pernah berani mengungkapkannya."

"Lalu?"

"Sekiranya sampai dua tahun lalu akhirnya Sehun memutuskan untuk mengakui cintanya namun dibalas penolakan hingga keduanya menjadi canggung dan Yeojin Noona memutuskan mengambil pekerjaan di Jepang."

"Aku bahkan tidak tahu dia sudah kembali." Gumam Baekhyun dibalas anggukan setuju dari Kyungsoo "Kalian tahu?" Kyungsoo bertanya pada Kai lalu kekasihnya mengangguk sebagai jawaban.

"Tentu saja aku tahu, dua bulan yang lalu dia kembali dan Sehun sendiri yang menjemputnya di bandara. Tapi aku kira mereka sudah selesai dan memutuskan menjadi rekan kerja bukan menjadi dekat lagi seperti saat ini."

"Kau benar! Lihat mata Sehun, dia benar-benar terlihat sedang jatuh cinta."

"Dia memang menyukai Yeojin noona untuk waktu yang lama. Jadi rasanya wajar jika dia bersikap berlebihan dan-….."

"Aku permisi."

"huh?"

Kai bisa melihat bagaimana wajah Luhan terlihat sendu, dia juga memberikan jalan untuk Luhan dibalas senyum kecil oleh pria cantik yang mengaku seorang EXO-L tapi terlihat sangat patah hati saat ultimate bias nya diketahui sedang menyukai seseorang.

"Luhan kau mau kemana?"

"Ke toilet, sebentar saja."

Setelahnya Luhan berjalan lurus pergi dan meninggalkan keempat anggota EXO yang masing-masing menunjukkan raut cemas wajah mereka.

"Aku akan mengikutinya."

Baekhyun bergegas pergi diikuti Kyungsoo yang juga berniat mengawasi Luhan.

"Kalian mau kemana?"

"Mengikuti Luhan."

Dan setelahnya keempat dari mereka mengikuti Luhan, awalnya berjalan tergesa sampai tak sengaja mata mereka menangkap keberadaan Luhan yang entah mengapa berhenti menuju toilet dan sedang berdiri di samping lobi sementara Sehun dan Yeojin noona sedang terlibat percakapan yang bisa didengar oleh siapapun.

"Jadi siapa pria yang kau peluk tadi? Apa dia kekasihmu? Kau sudah memutuskan untuk mengencani seorang pria juga? Seperti Kai dan Chanyeol? Apa kau tidak malu?"

"dasar ular! Dia bahkan masih menganggap kita menjijikan!"

Pertanyaan Yeojin terdengar samar dengan suara umpatan Baekhyun dan Kyungsoo. Entah, apa maksud kalimat malu yang ditanyakan Yeojin dan kalimat umpatan yang dilontarkan Baekhyun, entah bagaimana hubungan Sehun dengan Yeojin, hubungan EXO dengan Yeojin, Luhan tidak mengerti.

Dia tidak mengerti apapun kecuali satu hal, Sehun gugup.

Terlihat dari caranya menggaruk tengkuk dan tangannya yang terkepal cemas menandakan bahwa Sehun sedang mencari jawaban terbaik untuk menjawab peranyaan Yeojin.

"Jadi benar? Dia kekasihmu?"

Luhan penasaran akan jawaban Sehun, bertanya-tanya apa yang akan dikatakan Sehun sampai kalimat "Dia bukan kekasihku." keluar sendiri dari bibir idolanya.

"Benarkah?"

Luhan hanya tersenyum pahit, berharap apa dia pada seorang idola. Selamanya akan selalu ada pembatas antara idola dan penggemar, Luhan menyadarinya dan mulai sedikit mengerti bahwa menjalin hubungan sebatas teman pada orang yang kau sukai adalah omong kosong.

"haah~"

Luhan tertawa kecil, bersiap pergi lalu Sehun terdengar lagi mengatakan "Ya, dia bukan kekasihku."

Luhan mantap melangkah pergi, tubuhnya bahkan sudah berbalik sampai pertanyaan yang menurutnya begitu rendah ditanyakan Yeojin pada Sehun "Jadi dia hanya mainan untukmu? Agar kau tidak kesepian?"

Hati Luhan panas, dia tidak mengerti sedari tadi dia memang sudah merasa hatinya bisa meledak kapan saja. Dia sudah menahannya lebih dari satu jam terhitung saat Sehun bertemu dengan wanita yang dicintainya.

Dia tidak mempermasalahkan bagaimana Sehun menyebut dirinya, tapi mainan? Ini sudah berlebihan, terlalu berlebihan dan parahnya Sehun menimpali dengan suara beratnya "Ya, dia mainanku."

"Whoa…"

"Noona, sebaiknya kita segera bergabung dengan yang lain."

Kini Luhan tersenyum dengan hati luar biasa nyaris meledak, kebiasannya jika menahan marah adalah menggaruk tengkuk hingga tengkuknya terluka dan berwarna merah. Namun hal itu jarang dia lakukan mengingat semua orang disekitarnya selalu menjaganya dengan baik, mencintainya dengan tulus, walau itu hanya Papa, Mama, Paman Kwangsoo dan Laoge, setidaknya mereka tulus.

Berbeda dengan saat ini, Kai bisa melihat tengkuk Luhan berwarna merah karena diusap kasar, dia bahkan berniat memukul wajah sahabatnya, memberi Sehun pelajaran namun rasanya tidak perlu karena saat ini, saat Sehun menggenggam jemari Yeojin, saat keduanya terlihat sangat serasi maka disaat yang sama Sehun harus berhadapan dengan idola yang dia katakan sebagai "mainan."

"Luhan…"

Keadaan canggung menyiksa tak terelakan lagi, Sehun terlihat pucat begitu pula Luhan. keduanya bertatapan kosong, tak ada yang berbicara sampai Luhan membiarkan air matanya jatuh, tanda dia begitu sakit hati karena direndahkan seperti ini menyayat hati Sehun begitu dalam.

"Kau terlalu keji Oh Sehun."

Setelahnya Luhan berlari pergi, meninggalkan Sehun yang tanpa sadar juga menitikkan air mata namun dihapusnya dengan cepat. Sehun bahkan meninggalkan Yeojin seorang diri untuk berhadapan dengan keempat orang terdekatnya yang kini menatap kecewa padanya.

"Kau keterlaluan dan tidak pantas dimaafkan, kau tahu?"

"Aku tahu."

"Dia hanya seorang penggemar dan kau mengatakan hal keji padanya?"

Dan ini adalah kali pertama untuk Kai melihat kekasihnya begitu marah. Kyungsoonya yang biasa akan selalu terlihat tenang dalam keadaan apapun, dia jarang terlihat marah kecuali hal itu dianggapnya sangat keterlaluan.

Jadi ketika dia memarahi Sehun nyaris memukulnya, maka Kai segera memeluk kekasihnya, menenangkan Kyungsoo sementara Sehun hanya diam tak mengatakan apapun kecuali rasa penyesalan terlambat setelah menyakiti salah satu penggemar yang diam-diam sudah menarik perhatiannya sejak kali pertama mereka bertemu.

"Mianhae.."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Seoul, two months later….

.

.

Sudah dua bulan sejak kejadian menyakitkan yang dialaminya sebagai penggemar sukses membuatnya menjadi seorang haters. Kejadian dimana dia mendengar dari dua telinganya sendiri bahwa idola yang begitu dia puja selama lima tahun menyebut penggemar seperti dirinya "mainan" di depan wanita yang dia sukai.

Klik….

"Tuan muda sudah waktunya bangun dan kau harus bersiap kuliah."

Sang pengasuh sekaligus teman si tuan muda harus berkali-kali menghela nafas setiap kali pagi datang menjemput. Karena bukan hanya sulit membangunkan tuan muda kesayangannya, dia juga harus melihat suasana kamar horror yang sengaja dibuat tuan muda saat kali pertama dia menyebut dirinya sebagai "haters" dari seorang Oh Sehun.

Karena tak seperti dua bulan lalu dimana keadaan kamar begitu hidup dipenuhi poster dan tempelan gambar dari pria bernama Oh Sehun, maka pagi ini, sudah dua bulan lamanya semua posteran dan gambar tempel yang menunjukkan wajah seorang Oh Sehun diberi lambang X yang begitu besar mengikuti ukuran poster dan semua hal yang berkaitan dengan wajah seorang Oh Sehun.

Faktanya, hanya wajah Sehun yang diberi lambang X, karena setidaknya Luhan –si tuan muda- masih menyebut dirinya EXO-L walau tak lagi menjadi seorang Sehun stan seperti dulu.

"Tuan muda…."

"sssh….Lima menit lagi!"

Yang menggerutu kembali menaikkan selimut, menyembunyikan wajah cantiknya disana lalu meneruskan tidur paling menyebalkan yang harus dia lalui selama dua bulan ini.

"Ini sudah lima menit ke sepuluh yang kau katakan setelah dua jam berlalu tuan muda."

"Berisik!"

Kwangsoo, si pengasuh. Terpaksa mengeluarkan ponsel, sebenarnya dia tidak ingin melakukan hal gila ini tiap pagi. Tapi jika ini satu-satunya cara yang bisa membangunkan tuan muda maka terpaksa dia akan melakukannya.

Kini dia sibuk membuka playlist lagu di ponselnya, mencari sederetan lagu EXO sampai lagu terbaru berjudul Power yang menjadi pilihannya pagi ini.

.

So turn me up

.

We got that power….Power.

"Turn the music up now…na na na…"

Kwangsoo terkekeh, setidaknya Luhan selalu merespon bagian seluruh member EXO, tapi saat dia sengaja menekan ke part Oh Sehun maka beginilah reaksi dari tuan mudanya.

Power….power…

.

Gomineun ijeun geuman, Stop

.

Shiganeun ga jigeumdo, Tick-Tock

Luhan bereaksi, dia sangat hafal ini adalah bagian Chanyeol, lalu setelah Chanyeol dia terpaksa harus mendengar bagian dari Sehun dan itu membuatnya kesal.

Sret…!

Dia menurunkan selimut lalu tanpa berteriak setengah sadar "Paman matikan!"

Terlambat,

Karena pamannya sengaja mengulang bagian

We take shot

.

We take shot

.

Iepon tago heulleonaoneun mellodiro

.

Shikeureoun soeum deopgo bollyumeun up high

.

We got that power everytime….

Yang mana merupakan bagian dari mantan idola si tuan muda hingga menimbulkan refleks yang selalu sama tiap kali Luhan mendengar suara seorang Oh Sehun.

"Paman matikan!"

We take shot

.

We take shot

.

We got that power every….

"MATIKAN!"

Pip!

Mirisnya, selama lima tahun Kwangsoo harus repot-repot mengedit bagian Sehun hanya untuk dijadikan lullaby tuan muda setiap malam. Lalu dua bulan belakangan tugasnya berubah menghapus seluruh bagian Sehun agar bisa didengarkan tuan muda setiap malam.

Beruntung Luhan tidak menyukai Kyungsoo, Baekhyun atau Jongdae. Karena jika si tuan muda merasa sakit hati pada ketiga Main Vocalist EXO, maka dipastikan tugasnya akan semakin sulit dan sangat membuang waktu berharga miliknya.

"haah~ Aku tidak mau melakukan ini setiap pagi padamu tuan muda."

"KALAU BEGITU BERHENTI MEMBUATKU MENDENGAR SUARA SI SIALAN OH SEHUN!"

Kwangsoo terkekeh lagi, nyatanya sebanyak apapun Luhan mengatakan sialan pada Oh Sehun, diam-diam setiap malam tuan mudanya akan tetap mencari tahu kabar dari mantan idolanya. Terkadang Kwangsoo juga mendengar gerutuan marah dari Luhan jika seseorang meninggalkan komentar buruk di akun social milik Sehun, mantan idolanya.

Sret!

Kwangsoo membuka tirai jendela kamar Luhan, mengaitkan satu sisinya ke setiap pengait lalu menoleh menatap si tuan muda "Well, kalau benci untuk apa mendaftar ke fansign terakhir mereka sebelum Elyxion?"

Luhan kalah telak, Kwangsoo tepat men-skak raut wajahnya saat tiket fansign terakhir EXO ditunjukkan si pengasuh. Dia salah tingkah, berlari dari tempat tidur lalu berusaha mengambil tiketnya walau percuma karena tinggi Kwangsoo benar-benar seperti giant dan Luhan kesal.

"PAMAN KEMBALIKAN!"

"Nanti setelah kau mandi dan bersiap!"

"AKU AKAN SEGERA MANDI TAPI KEMBALIKAN DULU TIKET MILIK—huh?"

Teriakan Luhan terhenti tatkala pemandangan di luar jendela kamarnya menarik perhatian, dia belum yakin, tapi rasanya dia melihat butiran seperti salju kini tengah turun dan menggodanya untuk segera melihat.

Dia pun menyingkirkan Kwangsoo, berjalan menuju balkon kamarnya lalu menatap takjub karena benar pagi ini memang salju sudah turun menyapa Seoul. Belum terlalu lebat memang, tapi Luhan bisa melihat butiran-butiran putih itu turun dari langit sementara dia menjulurkan tangannya menangkap beberapa butir salju yang jatuh ke dalam genggamannya dan dalam sekejap membuat kepala dan hatinya sedikit lebih dingin.

"Paman."

"hmhh?"

"Sudah turun salju."

"Aku tahu, saljunya turun malam tadi saat kau tidur."

"Benarkah?"

"Ya, benar."

Luhan masih bermain dengan salju di tangannya. Awalnya tersenyum lalu tak lama senyumnya berubah menjadi lirih dengan mata terlihat sendu memikirkan sesuatu.

"Paman."

"Ada apa?"

"Jika salju turun bukankah waktu kita semakin dekat untuk kembali ke Beijing?"

Kwangsoo mengambil mantel hangat dari lemari Luhan, memakaikannya pada si tuan muda lalu berdiri tepat disamping Luhan, menghiburnya.

"Mengingat masa jabatan tuan besar akan berakhir tahun depan. Aku rasa kita akan segera kembali ke Beijing. Lagipula kita sudah menunda kepulangan kita selama dua bulan tuan muda."

"aku tahu."

"Lalu apa yang membuatmu sedih?"

Luhan tertawa kecil, menggenggam erat jemarinya seraya berkata "entahlah, aku masih terlalu mencintai Seoul."

Dan setelahnya dia kembali masuk kedalam kamar, mengambil handuk lalu pergi ke kamar mandi meninggalkan Kwangsoo yang mulai mengerti suasana di hati Luhan memang tidak pernah baik jika menyangkut kepulangan mereka kembali ke Beijing.

"haah~ Bersemangatlah tuan muda."

.

.

.

Sementara itu…

.

.

BLAM!

Terlihat Chanyeol, sang main rapper menggeram marah. Oh ya, jelas dia menggeram marah saat kekasihnya diganggu dan dihujani komentar buruk di akun SNS pribadi miliknya. Berkali-kali dia berusaha tenang namun berkali-kali pula kemarahannya berada di puncak mengingat berita sialan itu mulai mengusik ayah dan ibu dari kekasihnya.

"brengsek…Apa mereka akan terus bermain kotor seperti ini? Ada yang salah jika Baekhyun keluar minum dengan teman-temannya!"

"Yeol, tenang."

"Bagaimana aku bisa tenang hyung? Baekhyun terus menangis dan kepalaku sakit karena terlalu marah."

Pemandangannya berbeda untuk sekumpulan idola yang berada di dorm mereka saat ini. Terlihat Chanyeol yang tidak bisa menahan diri sementara Baekhyun, kekasihnya, sedang menangis dan kesal karena nyatanya dia diserang dan diberitakan bermain dengan pria di club mengingat fotonya bersama teman-temanya di club malam tadi beredar entah sejak kapan.

Sehun bisa melihat bagaimana Chanyeol terlihat murka karena mereka mengganggu Baekhyun, tapi yang membuatnya bertanya adalah semua kemarahan Chanyeol masih menyiratkan kesedihan karena terlalu mencemaskan Baekhyun yang sejak malam tadi belum mengisi perutnya.

Dia sedang bersama Vivi, memberi makan anjing kesayangannya sementara Yunho sibuk menenangkan Chanyeol dan hyungnya itu terlihat masih begitu mencemaskan Baekhyun.

Guk….guk…

Sehun terkesiap, entah mengapa gonggongan kecil Vivi seolah menyadarkannya pada satu hal, kemarahan Chanyeol, tangisan Baekhyun, rasanya dia juga mengalami hal ini.

Tapi kapan?

Dimana?

Air mata siapa yang membuatnya begitu cemas?

Sehun masih bertanya-tanya sampai akhirnya Yunho mengatakan "Aku akan menangani masalah Baekhyun. Tunggu disini dan jangan lakukan hal yang bodoh." Setelahnya Chanyeol duduk di sofa tak jauh dari tempat Sehun memberi makan Vivi.

Penasaran, Sehun mengambilkan segelas juice untuk hyungnya. Menawarkan pada Chanyeol lalu duduk tepat di samping Chanyeol "Gomawo Sehunna." Katanya menerima segelas juice yang sangat dia butuhkan untuk mendinginkan kepalanya.

"Bukan masalah."

Sehun menjawab asal, dia ikut menenggak juice miliknya lalu melirik pada Chanyeol. Setelah memastikan hyung terdekatnya setelah Suho ini lebih tenang, diapun mulai bertanya.

"Hyung…"

"Ada apa?"

"Boleh aku bertanya?"

"Apa?"

"Kenapa kau terlihat sangat gusar? Maksudku mereka mengganggu Baek hyung, bukan dirimu."

Seketika Chanyeol mendelik marah ke arah Sehun, membuat si maknae memutus kontak mata dengan Chanyeol seraya menggaruk canggung tengkuknya "Aku hanya bertanya." Katanya bergumam dibalas tawa kecil dari Chanyeol.

"Kau belum memiliki kekasih jadi kau tidak tahu jenis kemarahan yang aku rasakan?"

"Apa maksudmu?"

"Kau tahu Sehunna? Nanti, jika kau memiliki kekasih, memiliki seseorang yang benar-benar kau cintai, seseorang yang benar-benar ingin kau lindungi. Kau akan melakukan hal yang sama denganku. Dan katakan aku mengenalmu cukup lama, jadi aku berani bertaruh bahwa nanti jika kau memiliki kekasih kau akan sepuluh kali lipat bersikap posesif dan sangat marah jika kekasihmu disakiti."

Tak mengerti Sehun bertanya "Alasannya?"

Chanyeol menenggak lagi juice nya lalu meletakkan gelasnya di meja "Karena aku benci melihat Baekhyun menangis. Air matanya menyakitiku, membuatku sesak." Ujarnya singkat menepuk pundak Sehun lalu beranjak pergi ke kamarnya untuk kembali menemani Baekhyun.

Tes!

Dan entah untuk alasan apa Sehun menitikkan air matanya, ucapan Chanyeol sukses menamparnya terlalu dalam ke sudut dasar hatinya. Dia tidak mengerti cinta, dia tidak tahu rasanya mencintai. Tapi saat Chanyeol mengatakan air mata Baekhyun membuatnya sesak, seketika bayangan Luhan saat menatapnya sendu malam itu membuat hati Sehun mendadak sesak.

Dua bulan ini dia berusaha mengabaikan ekspresi kecewa dari Luhan saat dia mengatakan kalimat keji di belakangnya. Dia terus mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia baik-baik saja dan dia tidak merasa bersalah.

Namun katakanlah Sehun hanya berpura-pura, karena tiap kali dia mengingat ekspresi kecewa Luhan air matanya akan menetes tanpa alasan. Terlebih saat tanpa sengaja dia masuk kedalam fansite SL7 lalu disuguhi kalimat closed di halaman terdepan fansite, itu artinya Luhan telah menutup fansite dan tak akan pernah lagi memberi akses atau kabar terbaru lagi mengenai dirinya.

"haah~ Kenapa aku merindukan Tuan Sehun stan?" katanya lirih dihadiahi gonggongan Vivi yang terdengar marah "Wae? Apa menurutmu aku harus menemui Luhan? Meminta maaf padanya?"

Sehun sejenak menghapus air matanya lalu menatap kosong butiran salju yang perlahan mulai memenuhi halaman dorm dan mungkin seluruh jalanan di Seoul.

"Tapi bagaimana caranya? Aku tidak tahu dia tinggal dimana, yang aku tahu dia kuliah di Yonsei-….benar! Aku bisa menemuinya disana!"

Buru-buru si Maknae mengambil kunci mobil, memakai mantel tebalnya lalu berlari seperti ini adalah hari terakhirnya hidup agar bisa kembali bertemu dengan Luhan.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

BLAM!

"Omo! Bukankah itu Oh Sehun?"

"ASTAGA KAU BENAR! ITU OH SEHUN!"

Kesalahannya adalah tidak memperhitungkan kemungkinan wajahnya dikenali oleh semua orang yang berada di Yonsei University. Salahnya juga langsung berlari menuju halaman utama universitas berharap bisa menemukan Luhan tanpa perlengkapan untuk menutupi wajah.

Yah, Semua salahnya yang terlalu tergesa.

Jadilah Visual EXO itu dikerumuni hampir seluruh mahasiswa Yonsei University sementara dirinya kini tengah berlari mencari tempat bersembunyi di tempat yang sangat asing untuknya.

"Omo bukankah itu….."

"OH SEHUUUUNN…"

"BENAR! OH SEHUN!"

Selalu seperti ini setiap kali dia berpapasan dengan mahasiswa lain. Yang lain akan terus mengejar sementara yang lain akan menyadari itu dirinya. Dan sialnya, dari semua mahasiswa dan mahasiswi yang sedang mengejarnya, dia sama sekali tidak berpapasan dengan Luhan hingga rasanya dia ingin mati saat ini.

"haaah~ Apa yang harus aku lakukan. Yunho hyung!" katanya mencari ponsel dan berakhir menggeram menyadari bahkan ponsel tak ada di saku atau mantel jaketnya "Sial! Bagaimana ini."

"ITU DIA! OH SEHUN DISANA!"

"Oh tidak, mati aku!"

Sehun mati langkah, dia benar-benar tidak tahu harus kemana lagi berlari. Ke sisi kanan semua Mahasiswi itu tengah berlari mendekat padanya, melihat sisi kiri adalah jalan buntu.

Terpaksa dia bersiap untuk menerobos kerumunan di sisi kanan, menaikkan topi dari mantel jaketnya untuk menutupi wajah sebelum mengambil posisi untuk berlari menuju mobil.

"yeah…Katakan ini hukumanku dan aku-…."

Grep…!

Dalam sekejap tangannya ditarik kuat oleh seseorang. Entah siapa yang menariknya tapi Sehun menyadari bahwa siapapun yang telah menarik lengannya, dia harus berterimakasih karena telah menyelamatkannya dan membawa dirinya bersembunyi di tempat yang dia tebak adalah gudang.

"Terimakasih sudah menyelamatkan aku dari-….huh? Bukankah anda?"

"Sssstt… Mereka masih berkerumun di luar."

Sehun menyadari siapa pria bertubuh sedikit besar yang baru saja menyelamatkannya. Dia juga familiar dengan janggut dan kaos hitam yang selalu digunakan pria yang dia ketahui adalah bodyguard dari penggemar yang hatinya sudah dia sakiti.

"Laoge?"

Mengikuti cara Luhan memanggil bodyguardnya, Sehun masih terkejut mendapati Laogao yang bukan hanya telah menyelamatkannya tapi juga memastikan bahwa kumpulan Mahasiswa di Yonsei tak lagi mengejarnya dengan mengintip dari balik gudang sempit tempat dia membawanya untuk bersembunyi.

"haah~ Sudah aman. Mereka pergi."

Kali ini Laogao menoleh menatap Sehun, tatapannya dingin dengan tangan terlipat seolah ingin memaki Sehun dalam satu teriakan "Apa kau gila? Sedang apa kau disini?"

"Aku-….."

"Tanpa pengawalan? Tanpa penyamaran? Pikirmu kau pria biasa? Pikirmu kau bukan seorang idola? Lagipula mereka akan melukaimu jika kau berkeliaran seperti ini! Dasar bocah!"

Dan saat Laogao berniat pergi, disaat yang sama tangan Sehun memegang lengan dari penjaga yang sudah dianggap kakak oleh Luhan "Laoge."

"Jangan memanggilku seolah kita ini dekat! Lepas!"

Sehun bersikeras tetap memegang erat lengan Laogao. Tak berniat melepaskan genggamannya sampai yang lebih tua akhirnya menarik nafas lalu berbicara sedikit lebih sabar pada pria yang memiliki feature wajah tiga puluh tahun walau nyatanya usianya kurang dari seperempat abad "Baiklah, Apa yang kau inginkan?"

"Aku ingin bertemu dengan Luhan."

"Seriously? Setelah apa yang kau lakukan pada tuan muda?"

"Aku menyesal dan aku ingin minta maaf secara langsung padanya."

Laogao menangkap kesungguhan dari cara Sehun meyakinkan dirinya, dia juga bisa melihat nada menyesal yang dilontarkan Sehun sampai rasanya membiarkan Sehun terus menggenggam lengannya seperti ini bukanlah ide yang baik.

"Lepas lenganku lebih dulu."

"Kau akan pergi jika aku melepasnya."

"Aku bukan seorang pembohong. Lepas."

Tak ingin membuat Laogao semakin kesal, Sehun melepas genggaman dari satu-satunya pria yang bisa membuatnya bertemu dengan Luhan. Dia terlalu berharap sampai akhirnya kalimat "Luhan tidak ingin bertemu lagi denganmu." Keluar langsung dari bibir Laogao dan itu membuat mental Sehun jatuh ke dasar jurang.

"aku tahu."

Singkatnya dia berusaha menerima walau terus memohon Laogao untuk terus membantunya "Tapi aku harus bertemu dengannya, setidaknya aku harus mengucapkan maaf pada Luhan."

"Kenapa kau tidak langsung mengejarnya malam itu? Pikirmu Luhan akan kembali lagi setelah kalimat gila yang sangat merendahkan kau ucapkan untuknya?"

Sehun diam, dari awal semua salahnya. Jika saja mulut kejinya tidak menjabarkan siapa Luhan dengan begitu rendah, mungkin dia tidak akan berada pada situasi sangat menyesal dan yang paling menyiksa sangat merindukan penggemarnya sendiri.

"Tapi aku harus bertemu dengannya, Kumohon."

"Entahlah, tidak ada yang bisa kulakukan untukmu."

Bisa saja Laogao langsung pergi tanpa mengindahkan penyesalan Sehun pada tuan mudanya. Tapi mengingat bagaimana setiap malam Luhan diam-diam masih begitu peduli pada semua hal tentang Sehun, rasanya Laogao tak memiliki alasan untuk membuat tuan mudanya semakin sedih mengingat kepindahan mereka ke Beijing hanya tinggal menghitung hari.

"Tapi dia akan datang di fansign EXO malam ini."

Seperti mendapat angin surga, Sehun mengangkat wajahnya untuk bertanya dan memastikan "Benarkah?"

"Ya, tapi aku rasa dia akan melewatkanmu mejamu."

"Tidak apa, aku hanya perlu bertemu dengannya. Terimakasih Laoge."

Laogao malas berdebat, dan daripada mengomentari cara Sehun memanggilnya, dia lebih memilih meninggalkan gudang setelah sebelumnya mengatakan "Semoga beruntung." Pada pria yang harusnya dia benci atau paling buruk dia pukuli. Pada pria yang sudah menyakiti Luhan namun sial masih begitu dicintai tuan mudanya.

.

.

.

.

.

.

.

.

Seoul, 20.00 KST

.

Dan tepat yang seperti dikatakan Laogao, maka disinilah Luhan, sedang berada di fansign khusus yang diselenggarakan SM Ent sebelum EXO secara resmi memulai tour dunia mereka pada minggu depan.

"Tuan muda. anda baik-baik saja?"

"Ya, ya, tentu saja."

Tuan mudanya mengatakan baik-baik saja. Tapi lihat apa yang sedang dia lakukan, duduk begitu cemas dengan tangan yang terkepal erat, jangan lupakan fakta bahwa malam ini perlengkapan perangnya begitu simple tidak membawa apapun selain pena dan note khusus yang berisi seluruh tanda tangan member EXO selama lima tahun.

"Aku takut kau kejang dan akhirnya tidak sadarkan diri."

"Jangan membuatku berteriak paman!"

"Baiklah, aku hanya akan meminta Laogao bersiap di mobil."

Sementara pamannya sibuk dengan ponsel, Luhan dengan polos bertanya "Untuk apa?"

"Membawamu ke kantor polisi kalau-kalau kau membuat keributan karena melihat wajah Sehun."

"ish!"

Dan tak lama MC yang tak lain merupakan leader Super Junior, Leetuk, memanggil kesepuluh member EXO. Detik berikutnya semua member EXO keluar dari balik panggung secara berurutan. Dimulai dari Suho, seluruh penggemar terpilih yang bisa beruntung bisa menghadiri The Last Indoor Fansign EXO bertepuk riuh. Lalu tak lama leader EXO-M, Kris keluar diikuti Xiumin, Chen, Lay, Kai, Kyungsoo, Chanyeol, Baekhyun dan diakhiri oleh Sehun yang entah mengapa matanya sudah mulai mencari di kerumunan penggemar.

"Tuan muda."

"Apa?"

"Sepertinya Sehun terus melihat ke arahmu."

Luhan yakin dia baik-baik saja, tapi saat Sehun duduk di tempatnya, saat mata elangnya terus mencari dan saat kedua mata mereka bertemu, Luhan lemas. Dia sudah berkali-kali membuang wajah untuk menghindari tatapan Sehun, tapi selama berkali-kali itu pula Sehun terus menatapnya seolah tak memberikan ruang agar Luhan bisa bernafas dengan lega.

"oh ayolah! Berhenti menatapku."

Bahkan disaat satu persatu antrian sudah dipanggil Leetuk, Sehun tetap menatap matanya, dia hanya memberi tanda tangan asal pada penggemar lain karena dua matanya masih menatap Luhan seolah memanjarakannya saat ini "Sial!"

"Kau baik-baik saja tuan muda?"

Kwangsoo melihat bagaimana tangan Luhan terkepal erat, tuan mudanya juga terus bergerak cemas sampai akhirnya dia berdiri dari kursi hingga sedikit memancing perhatian dari penggemar lain.

"Tuan muda kau mau kemana? Cepat duduk!"

"Harusnya aku tidak pernah datang setelah apa yang terjadi!" katanya kesal lalu berlari pergi meninggalkan note yang merupakan hidupnya selama lima tahun dan merupakan saksi bisu dari bagian perjalanan Luhan untuk bertemu langsung hingga disakiti langsung oleh idolanya, oleh Sehun!

"TUAN MUDA!"

.

.

.

.

BRAK!

"BRENGSEK!"

Salahnya karena hanya memakai celana pendek selutut di malam dingin seperti ini, jadi saat dia terjatuh si tuan muda tidak bisa menyalahkan siapapun bahkan ketika lututnya terluka dan sedikit mengeluarkan darah.

"rrrhh…"

Dia bahkan harus meringis kesakitan karena dua hal. Pertama karena lututnya benar-benar berdenyut sakit, kedua karena hatinya tak kalah berdenyut sakit hingga membuatnya ingin berteriak dan menyalahkan siapapun sebagai pelampiasan.

"Dimana Laoge!"

Dia terpaksa berjalan menyusuri area parkir, dan terimakasih untuk EXO, karena kehadirannya hanya membuat lapangan parkir dipenuhi fans yang tidak memiliki kesempatan untuk masuk kedalam sana.

"Jika dia tidak terus menatapku aku pasti tidak akan menyia-nyiakan kesempatan terakhir untuk bertatap langsung dengan mereka, rrh! Oh Sehun sialan! Tidakkah kau lihat banyak penggemarmu yang lain ingin masuk? Kenapa kau harus membuatku ke luar dari ruangan!"

Luhan masih merutuk kesal, kakinya terus berjalan menyusuri lapangan sampai tak sengaja mendengar kalimat-kalimat menjijikan dari beberapa kumpulan remaja yang dia tebak adalah haters EXO mengingat seluruh ucapan yang mereka katakan hanya bertujuan menjatuhkan idolanya.

"Kau benar! Aku tak sengaja lewat sini dan ternyata EXO-L berkumpul! Sssh…Setiap kali aku menyebut EXO-L rasanya seperti ingin muntah. Mereka benar-benar sampah!"

Tahan Luhan, tahan…

Sebagai pria dan sebagai EXO-L sejati, Luhan tak mudah terhasut, terserah apa yang ingin mereka katakan tentang fandom kecintaannya Luhan tidak peduli, sangat tidak peduli.

Tapi jika mereka mengatakan

"Sama seperti EXO-L, EXO adalah sampah!"

Jelas itu perkara yang berbeda bagi seorang penggemar yang merangkap sebagai pemilik fansite dengan pengikut yang tidak bisa dikatakan sedikit.

Kasarnya seperti ini, kau bisa menyakiti Luhan atau fandom kecintaannya tapi tidak dengan sekelompok orang yang begitu dia cintai. Lagipula Luhan selalu sensitif dengan segala hal jahat yang dikatakan orang-orang sampah yang menyebut idolanya sampah.

"Dan Sehun? Astaga selain menjadi Visual dia adalah sampah sesungguhnya!"

Terlebih saat mulut sampah itu mengatakan hal buruk tentang Sehun, jelas kemarahan Luhan nyaris meledak terlihat dari bagaimana tangannya terkepal dan bagaimana merah seluruh wajahnya karena marah.

"EXO akan baik-baik saja walau tanpa Sehun, maksudku, mereka mempunyai Kai dan Chanyeol yang seribu kali lebih baik dari Sehun? Lalu mengapa harus mempertahankan Sehun? Mereka bisa membuang Sehun seperti mereka membuang Tao, aku rasa EXO akan lebih baik."

Katakanlah Luhan juga sudah berubah menjadi hater EXO, tapi kalimat haters disini bukan untuk menilai kemampuan Sehun bersama EXO. Dia hanya membatasi rasa sukanya yang berlebihan untuk Sehun agar sejajar dengan rasa sukanya untuk member lain.

Lagipula sudah lima tahun Luhan menyebut dirinya sebagai penggemar fanatik dari seorang Oh Sehun. Jadi rasanya wajar jika dia memberi sedikit pelajaran pada muda-mudi yang terus mengatakan hal buruk tentang pria yang hingga saat ini masih begitu dia kagumi.

"Kau benar! Sehun benar-benar menyedihkan sebagai idola!"

Brengsek!

Bibirnya nyaris berteriak, tangannya nyaris memukul.

Ya, dua gerakan itu nyaris Luhan lakukan bersamaan jika tidak ada seseorang yang tiba-tiba berdiri di depannya, menghalangi.

Giginya sudah menggertak marah namun terpaksa dia tahan menyadari entah siapapun yang sedang berdiri di depannya mengenakan hoodie merah lengkap dengan topi yang menutupi seluruh wajahnya jelas seorang pengganggu.

"Minggir!"

Rasanya daripada memukuli muda-mudi yang mengatakan hal buruk tentang Sehun, Luhan lebih tergoda memukul pria di depannya. Posisinya sudah mantap untuk memukul ditambah saat pria yang mengeluarkan aroma familiar untuknya tetap berdiri dan tak bergeming dari tempatnya.

"MINGGIR!"

"Biarkan mereka, Luhan."

DEG!

Barulah saat suara berat itu terdengar sangat familiar Luhan membeku. Kakinya lemas dan kini dia menarik perhatian dari muda mudi yang tampaknya terganggu dengan kehadiran Luhan.

"SIAPA KALIAN?"

Tak membuang waktu, si pria yang kini memakai hoodie merah itu kini menurunkan topinya, membuat dua mata Luhan membulat lebar tak menyangka bahwa pria yang sudah dua bulan ini begitu dia benci entah bagaimana sedang berdiri di depannya, tersenyum kecil.

"Sehun?"

"sstt…"

Sehun, idolanya, sedang memberi instruksi agar Luhan diam dan tak memancing perhatian, Luhan memang secara refleks membekap mulutnya sementara dua muda mudi di belakang Sehun masih menunjukkan raut tak suka padanya.

"Hey! Kenapa kalian masih berada disana! CEPAT PERGI!"

"Sial!"

Luhan sudah melangkah maju tapi satu lengan kekar Sehun menahan pinggangnya, Sehun bahkan sengaja mendorong Luhan menjauh sementara dirinya tanpa ragu menoleh untuk berbicara langsung dengan dua orang yang sangat membencinya.

"Maaf mengganggu kalian, kami akan segera pergi."

Setelahnya dia menarik lembut lengan Luhan, menggenggam jemarinya dan meninggalkan raut terkejut dari dua muda mudi yang menyadari bahwa baru saja pria yang meminta maaf pada mereka adalah seorang idola dan merupakan Maknae dari salah satu boyband terbesar Korea, EXO.

"Astaga! Bukankah dia-…Sehun?"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Entah kemana Sehun sedang membawanya pergi saat ini, yang jelas Luhan hampir tidak bisa melepaskan cengkraman Sehun dari tangannya. Hal terakhir yang bisa dilakukan Luhan hanya diam sampai tak sadar keduanya sudah berada di tempat yang Luhan tebak adalah sebuah apartemen dengan Sehun sibuk mencari sesuatu sementara Luhan dipaksa duduk di sofa besar yang terdapat di dalam apartement.

"Apa yang kau lakukan?"

Dia bertanya tapi Sehun hanya diam, mantan idolanya itu terlihat masuk kedalam kamar lalu membawa kotak kecil berwarna putih bertulis first aid dan berjalan mendekati Luhan.

"Apa kau bodoh? Kenapa kau hanya diam saat mereka berkata buruk tentangmu? Harusnya kau melawan atau setidaknya berteriak pada mereka! Kenapa kau hanya-….apa yang kau lakukan?"

Tiba-tiba Luhan teringat dua muda mudi sialan yang mengatakan hal buruk tentang Sehun, rasanya Luhan ingin melanjutkan rasa kesalnya dengan menampar mulut sialan yang sudah berkata kasar tentang Sehun, terlebih saat Sehun juga berada disana, mendengar segala apapun yang dikatakan dua muda-mudi yang pastilah sangat membenci Sehun.

"Aku tanya apa yang kau lakukan?"

Sehun hanya diam, dan daripada menjawab Luhan dia lebih memilih berjongkok di depan pria cantik yang hatinya sudah dia sakiti beberapa bulan yang lalu "Mianhae…"

"huh?"

Sehun tidak melihat mata Luhan saat mengucap kata maafnya, dia kini menarik kaki Luhan lalu mulai menempelkan kasa basah di lutut Luhan yang terluka sementara dirinya fokus mengucapkan apa yang dia ingin katakan selama dua bulan terakhir.

"Kau tahu? Aku sangat menyesal dengan pertemuan terakhir kita. Aku sangat keterlaluan."

"sssh…"

Tatkala Sehun menempelkan terlalu kuat kasa di lututnya, Luhan meringis. Tapi yang membuatnya heran adalah kenyataan bahwa tak hanya lututnya saja yang meringis tapi juga hatinya.

Dia kira dia sudah baik-baik saja, tapi ternyata luka yang diberikan Sehun tidak benar-benar pulih, dia hanya mengubur tanpa menyembuhkan. Jadi ketika Sehun mengungkit lagi hal yang begitu dia benci, Luhan kembali merasakan sakit walau tak sehebat dua bulan yang lalu.

"Aku minta maaf."

Kenyataan lain yang cukup menampar hatinya adalah keberanian Sehun mengucapkan maaf secara langsung padanya, terlepas dari caranya yang sedikit memaksa atau tidak berani melihatnya, Sehun tetap meminta maaf berulang kali sampai membuat bibir Luhan kelu tak tahu harus mengatakan apa.

"Tidak seharusnya aku mengatakan hal buruk tentang-…."

"Kau benar, kau sangat kejam, tidak berperasaan dan kau adalah pria sialan yang mempermalukan aku di kencan pertamaku! PUAS!"

"….."

Luhan kehilangan kontrol, Sehun terkejut dan seketika keadaan menjadi canggung, gerakan Sehun membersihkan luka Luhan juga terhenti tatkala secara tidak langsung Luhan membenarkan bahwa dirinya sudah sangat kejam di kencan pertama mereka.

"Maaf."

Lagi-lagi Sehun tertunduk, tidak berani menatap Luhan hingga emosi si tuan muda terpancing dan mulai mengatakan kalimat-kalimat menusuk "tsk! Lupakan! Mungkin hanya aku yang menganggapnya sebagai kencan."

"Tidak, aku juga menganggap kita kencan malam itu!"

Sehun menyanggah cepat, matanya sempat melihat mata Luhan lalu tertunduk lagi karena rasanya dia masih belum pantas untuk berbicara langsung dengan Luhan.

"Lalu kemudian cinta pertamamu datang dan kau mengabaikan aku? Tidak, kau bahkan menyebutku sebagai mainan. Whoa, aku bertanya-tanya kapan kau bosan dan akan membuang mainanmu, Oh Sehun?"

Sehun tidak berbicara, dia lebih memilih memberi antiseptik pada luka Luhan sementara hatinya terus memukul sakit seiring dengan ucapan kasar Luhan yang mewakili seluruh perasaannya.

"Kau bukan mainan, aku salah dan menyesal. Aku minta maaf."

"tsk! Jika kau menyesal tatap aku dan jangan terus tertunduk."

Sehun diam, tangannya terkepal dan mencengkram erat dua lututnya, Luhan bertanya-tanya mengapa sikap Sehun menjadi sangat menyebalkan sampai tak sengaja matanya menangkap sebulir air mata jatuh membasahi tangan Sehun dan itu cukup membuatnya cemas.

"Sehun? Apa yang terjadi? Kenapa kau-…"

"Harusnya kau bergabung dengan mereka."

"Apa yang kau bicarakan?"

"Harusnya kau membela dua muda mudi itu dan ikut membicarakan hal buruk tentangku. Aku pantas menerimanya."

Bohong jika hati Luhan tidak sakit melihat betapa menyedihkan wajah pria yang sudah begitu dicintainya jiwa raga selama lima tahun, bohong jika secara refleks air mata Luhan tidak menetes saat melihat air mata Sehun terus membasahi wajahnya.

Ya, Bohong jika Luhan merasa baik-baik saja sementara wajah menyedihkan Sehun menyayat hatinya cukup dalam. Terlebih saat Sehun mengatakan "Jika kau membenciku lakukan dengan keseluruhan jangan merasa iba jika seseorang mengatakan hal buruk untukku. Jika kau seorang haters, harusnya kau membenciku bukan membelaku karena mereka mengatakan hal buruk tentangku." Maka pertahanan Luhan untuk membenci Sehun seolah dihancurkan karena saat ini dia sedang berjongkok menyamakan posisi Sehun dan buru-buru memeluk idolanya dengan erat, menguatkan.

"Bodoh, Kau bodoh Oh Sehun. Bagaimana bisa aku membencimu, aku sudah mencobanya dan aku tidak bisa. Maaf, maafkan aku sudah membuatmu sedih."

"hksss…"

"Ssshh….Kenapa kau semakin terisak? Kau membuatku merasa sangat buruk."

"Luhan…"

"hmmh?'

"Luhan peluk aku…"

Luhan tersenyum buru-buru dia beralih ke pangkuan Sehun, membawa sang idola ke pelukannya dibalas lingkaran lengan Sehun yang memeluk pinggang Luhan begitu erat "Maafkan aku."

"Aku sudah memelukmu, tenanglah." Katanya terus mengusap lembut punggung Sehun sementara diam-diam bibirnya menciumi tengkuk Sehun yang terasa begitu tegang di pelukannya "Tenanglah Sehun."

Ucapan Luhan bak therapy yang menenangkan untuk Sehun. Karena tak lama Luhan mengatakan Sehun untuk tenang maka disinilah Sehun, sedang bersandar nyaman di pelukan Luhan sementara Luhan terus mengusap lembut punggungnya.

Posisi ini sudah bertahan selama sepuluh menit. Tak ada yang berbicara lagi sampai dua menit berikutnya Sehun bergerak hingga jarak terjadi di antara mereka.

"Luhan."

"hmh?"

"Aku minta maaf."

Luhan terkekeh, diusapnya air mata Sehun bergantian lalu beralih ke bibir seksi Sehun untuk diusapnya lembut dan perlahan "Baiklah aku kalah, aku tidak marah lagi padamu."

"Benarkah?"

"Benar."

Setidaknya setelah hampir satu jam mereka bersama, Luhan akhirnya bisa melihat Sehun tersenyum. Dan salahkan Sehun jika warna muka Luhan menjadi merah karena kelemahannya adalah melihat Sehun tersenyum apalagi menatap lembut padanya saat ini.

"Omong-omong Sehun, kenapa kau ada disana? Bagaimana dengan fansign yang sedang berlangsung?"

"Aku meminta izin pada Manager hyung karena tidak enak badan."

"tsk! bohong!"

"Aku memang berbohong."

"Kau-…!"

"Aku tidak tahan melihatmu pergi dari ruangan. Untukku itu kesempatan terakhir, dimaafkan atau tidak aku harus bicara denganmu."

"Tapi kau membuat penggemar lain sedih."

"Aku akan melakukan fanmeet milikku sendiri. Bagaimana?"

Sebagai seorang masternim, tentulah fansign, fanmeet, dan konser dari ultimate bias adalah hal yang paling ditunggu dan dinantikan. Jadi saat Sehun menawarkan rencana fanmeet dengannya, Luhan tak bisa menyembunyikan betapa dia ingin bertemu langsung dan mengenal idolanya lebih dekat.

"Kau harus melakukannya Sehunna, kau harus membuat fanmeet milikmu sendiri."

"Baiklah aku akan membuat fanmeet milikku dengan satu syarat."

"Apa?"

Sehun tersenyum, diusapnya lembut wajah Luhan dengan mata yang terus mengagumi mata cantik Luhan untuk mengatakan "Aku ingin pemilik fansite SL7 menjadi kekasihku."

"Mwo?"

"Aku tahu ini gila, aku tahu ini egois, aku tahu ini tidak pantas setelah apa yang aku lakukan padamu. Tapi dua bulan lalu, saat aku melihatmu menangis karena perbuatanku, saat itu pula aku sangat menyesal. Aku berfikir akan baik-baik saja setelah beberapa hari, tapi tidak, aku semakin buruk di hari berikutnya. Aku bertanya-tanya kenapa aku seperti ini lalu jawabannya adalah karena air matamu hanya menyadarkan aku bahwa mulai malam itu aku ingin sekali melindungimu, menjagamu dan menjadikanmu milikku."

"Sehun."

"Jadi, Xi Luhan, maukah kau menjadi kekasih dari pria keji sepertiku?"

Air mata Luhan lagi-lagi menetes. Katakan ini malam yang gila, malam yang begitu panjang sampai akhirnya Luhan sampai di malam ini. Malam dimana cintanya berbalas dan terimakasih pada Tuhan, dia memberikan Sehun sebagai cinta pertama dan cinta paling manis yang pernah dirasakan Luhan dalam hidupnya.

"Aku tahu aku sangat keji dan tidak pantas mengatakan ini, tapi kumohon jadilah kekasihku Luhan, Jadilah-…."

Grep!

Luhan terisak sekencang-kencangnya. Antara sesak dan terlalu bahagia kini dia rasakan, antara nyata dan mimpi kini mengganggu kesadaraannya, dia tidak peduli jika ini mimpi, tapi terimakasih lagi pada Tuhan karena semua ini nyata, terlalu nyata bahkan untuk dirinya yang kini benar-benar menangis karena terlalu bahagia.

"Luhan?"

"Kau tidak keji dan Ya—YA OH SEHUN! AKU MAU JADI KEKASIHMU!"

Diam-diam kecemasan Sehun berangsur hilang, dia bahkan ikut memeluk Luhan seraya bergumam "syukurlah." Karena Tuhan masih berbaik hati membiarkan hati Luhan terbuka untuknya.

Keduanya kini bertatapan cukup lama, dan kali ini tatapan mereka berbeda mengingat dua menit lalu status mereka telah berubah menjadi sepasang kekasih. Mereka seolah terhipnotis oleh debaran jantung masing-masing, saling mengusap satu sama lain sampai usapan tangan Sehun beralih ke belakang tengkuk Luhan.

Luhan sedikit tegang saat Sehun menyentuh tengkuknya, pria yang baru saja menjadi kekasihnya itu bahkan mengusap lembut tengkuknya dan tak lama Sehun mendorong tengkuk Luhan mendekat pada wajahnya.

"Se-Sehun! apa yang kau lakukan?"

"Melakukan hal yang sudah sewajarnya dilakukan sepasang kekasih."

"Apa maksud-…hmmh~"

Terkutuklah Sehun yang kini sedang melumat bibirnya. Demi Tuhan, ini ciuman pertama Luhan dan Sehun melakukannya seperti seorang profesional, ingin Luhan mendorong tubuh Sehun sampai kekasihnya lebih dulu melepas ciuman mereka lalu memandangnya lucu nyaris tertawa.

"Jangan bilang ini ciuman pertamamu?"

Luhan menggigit cemas bibirnya, jantungnya terus berdegup kencang, pikirannya kosong sementara tanpa sadar bibirnya sedang menatap penuh nafsu bibir Sehun yang basah,

Dia bahkan mengerjap beberapa kali lalu bertanya sangat polos "Apa aku sangat buruk berciuman?"

"Kau akan segera terbiasa dan menjadi hebat dalam berciuman."

"Benarkah?"

"Tentu saja! Aku akan menuntun hingga respon menciummu bekerja dengan refleks."

"Bagaimana caranya?"

Sehun tersenyum lagi, dia kini mengangkat tubuh Luhan dengan satu tangan lalu membawanya ke tempat tidur, menidurkan Luhan sementara dirinya kini menindih tubuh kecil Luhan di bawahnya.

"Begini caranya."

Perlahan dia menundukkan kepala, menarik dagu Luhan hingga dia bisa mengeksplor bagian dalam mulut Luhan dengan bibinya .

Haah~

Dan desahan pertama keluar dari bibir Luhan diikuti refleksnya mencari pelampiasan dengan melingkarkan tangan di leher Sehun "Sehunmmhp~"

Sehun tersenyum menyadari Luhan sudah bisa mengimbangi nafsunya, dan seolah mengikuti insting, ciuman Sehun turun ke leher Luhan sementara satu tangannya fokus melucuti kemeja dan celana Luhan.

"Se-Sehun!"

Tatkala Sehun berhasil melucuti nyaris seluruh pakaian di tubuhnya, Luhan memekik, mereka sesama pria tapi entah mengapa dengan Sehun dia merasa berbeda, berdebar dan memberikan sensasi nikmat lainnya.

"relax Luhan."

"Tapi ini kali pertama untukku."

Sehun memindahkan tangan Luhan yang menutupi dadanya, mengunci dua tangan Luhan di atas kepala sementara dirinya menunduk lalu berbisik "Ini juga kali pertama untukku."

"Bohong."

Sehun mengecup lagi bibir Luhan, agak dalam, hingga membuat kehilangan akal sehat dan hanya mengikuti permainan mereka secara naluriah "Percayalah, aku belum pernah bercinta sebelumnya."

"Tapi kau terlihat sangat ahli mencium dan melucuti pakaian!"katanya kesal dibalas kekehan oleh Sehun "Lima tahun aku melihat Kai dan Kyungsoo serta Baekhyun dan Chanyeol bercumbu, jadi rasanya mustahil aku tidak mengerti langkah bercinta kecuali aku orang bodoh."

Tatkala tangan Sehun menyusuri tubuh polosnya, Luhan merinding. Tubuhnya merespon berbeda dan sialnya dia merasakan sesak di balik boxer yang sialnya lagi sedang diturunkan Sehun saat ini.

"Wow…"

"Sehun! Jangan dilihat!"

"Baiklah jangan dilihat, aku akan mengulumnya sebenatar."

"MWO? JANGAN—ah~"

Rasanya seperti tersengat listrik saat bibir panas Sehun mengulum penis miliknya, Luhan mengejang, meronta, mencari apapun agar bisa dijadikan pelampiasan dan berakhir menjambak putus asa rambut Sehun yang sedang mengulumnya dibawah sana.

"ah~..hah~…Sehun hentikan, hentikan—ARRH!"

Kini tak hanya mengulum, dengan satu tangan didorong lidah basahnya, Sehun mulai menyerang dan fokus pada lubang kecil yang akan segera dimasukinya. Terkadang dia menusuk dengan lidah, lalu mendorong dengan jari telunjuknya, terus berulang sampai Sehun merasakan jambakan di rambutnya semakin kencang tanda bahwa Luhan sangat kesakitan.

"Sayang…"

Air mata Luhan tak bisa disembunyikan, wajahnya merah karena menahan sakit membuat Sehun menyesal dan mulai berbisik "Apa aku terlalu terburu-buru? Kau ingin menundanya?"

Mantap, Luhan menggeleng "Lanjutkan, langsung saja."

"Kau yakin?"

Luhan menggeleng ketakutan tapi bibirnya terus mengatakan "Aku yakin, lakukan sekarang!"

"Baiklah sayang, ini hanya akan sakit pada awalnya."

Mendengar Sehun memanggilnya sayang sungguh membuat hati Luhan tenang. Jauh dalam hatinya dia sedang berdoa kuat-kuat agar tidak terlalu merasakan sakit. Tapi saat Sehun membuka celana lalu beralih ke boxer dan menampilkan "Sehun kecil", maka air mata Luhan tak mau berhenti menetes membayangkan akan seperti apa penis besar milik Sehun saat mengoyak lubangnya.

"hkss…"

"Luhan, ada apa?"

Luhan menutup wajahnya lalu bergumam ketakutan "Aku selalu membayangkan sebesar apa penismu saat Baekhyun mengatakan hidung besar mewakili vitalitas seorang pria."

"Kau melihat acara itu?"

"Tentu saja! Tapi aku tidak menyangka itu benar-benar besar! Bagaimana bisa masuk ke tubuhku."

Sementara satu tangannya mengangkat paha kanan Luhan, maka tangan yang lain kembali menyodok lubang Luhan. Sehun bahkan sengaja membuat gerakan menggunting lalu menekan terlalu dalam hingga Luhan meronta gila dan mencakar kuat pundaknya.

"Hentikan Sehun—ah~"

"Kau mau mencobanya langsung?"

Luhan sudah berada pada nafsu tertingginya, dia pun mengangguk sementara Sehun sengaja menggesekan penisnya ke perut Luhan, semua memang terkesan buru-buru, tapi jika sudah menyangkut nafsu siapa peduli apa yang akan terjadi di hari esok.

"Aku akan masuk."

Luhan melingkarkan tangannya lagi di leher Sehun, mencium kasar bibir kekasihnya sementara ujung kepala penis Sehun mulai menerobos masuk ke dalam lubangnya "sshh…"

Luhan mulai merasakan ngilu, begitu juga Sehun. keduanya sempat berhenti bergerak sampai Luhan berbisik di telinga Sehun "Aku dengar dalam satu hentakan tidak akan terasa sakit."

"Kau yakin? Mungkin untukku tidak sakit, tapi untukmu?"

Luhan mengusap keringat di wajah Sehun, mencium berulang surai terlampau seksi di depannya untuk mengatakan.

"Tidak apa, lakukan dalam satu kali hentak."

Sehun mengerti, dia juga membalas ucapan Luhan sementara dibawa sana penisnya sedang mencari posisi agar bisa segera menyatu dengan Luhan.

"Kau siap?"

Luhan mengangguk pasrah, dicengkramnya kuat punggung Sehun seraya menikmati sensasi asing dibawahnya, dia tahu Sehun sedang mencoba mengeluarkan ujung kepala penisnya, tapi yang tak disangka Luhan adalah gerakan mengeluarkan yang dilakukan Sehun akan seirama dengan gerakan satu kali hentak yang membuat Luhan secara refleks berteriak

"ARGHH!"

Rasanya Luhan mendengar suara robekan dari bagian bawahnya, seluruh tubuhnya sakit dan sialnya dia masih bisa merasakan bagian penis Sehun yang artinya dia sudah begitu penuh tapi masih ada bagian tersisa yang belum masuk ke dalam lubangnya.

"Sakith, Sehun—hks.."

"Tidak apa sayang, rasakan dan cari bagian dimana aku bisa membuatmu nikmat, aku akan bergerak sekarang, ya?"

Luhan pasrah, apapun yang dikatakan Sehun saat ini seperti hipnotis untuknya, dia pun hanya membiarkan Sehun memaju mundurkan tubuhnya dengan sesuatu yang berukuran besar sedang mengoyak tubuhnya dibawah sana.

"haah~"

Setidaknya Luhan bisa mendesah setelah kurang lebih sepuluh menit Sehun bergerak di tubuhnya, setidanya seluruh respon tubuhnya menerima dnegan baik tubuh asing yang kini bergerak ke titik terdalam di bagian tubuhnya.

"ah~"

Dan setelah hampir setengah jam berlalu, otot dinding rektum Luhan mulai menjepit secara refleks, bunyi desahan Luhan, suara khas saat tubuh mereka menyatu dan geraman seksi Sehun membuat suasana kamar benar-benar panas.

Terlalu panas, terlebih saat Luhan melihat bintang putih berkelip memenuhi matanya, saat suara seksi Sehun terus menyebut namanya hingga tanpa sadar dia mencakar pundak Sehun dan mengerang "Sehun—rrrhhaaah~" saat titik kenikmatan menjemputnya tepat waktu, nafasnya tersengal dan yang paling membuatnya begitu merona adalah karena Sehun terus menggenjotnya dengan keadaan tubuh kotor karena cairannya.

"hnggh~"

Luhan menggigit bibirnya, menyadari deru nafas Sehun sudah tak beraturan, tusukannya juga semakin dalam dan semakin dalam. Luhan pun menangkup wajah Sehun, memperhatikan wajah seksi Sehun saat mengerang untuk berbisik "Datanglah, aku sudah menunggu."

"rrhhLuhan—ah~"

Salahkan Luhan karena mengatakan hal yang membuat Sehun kehilangan akal sehat, dia terjatuh menindih Luhan dan sedang menikmati bagaimana nikmat klimaks pertama miliknya.

Nafasnya tersengal lalu tersenyum kecil menyadari niatnya untuk mengeluarkan di luar rupanya sia-sia karena ternyata mengeluarkan di dalam jauh lebih nikmat.

Dia bahkan merasa hangat saat cairannya memenuhi lubang Luhan, membiarkan nafas mereka bersahutan sejenak sementara Luhan kini sedang mengusap punggungnya.

"Jangan sentuh aku secara berlebihan Luhan."

Terdengar kecewa, Luhan bertanya "Kenapa?"

Sehun pun tertawa, mengangkat tubuhnya dan perlahan mengeluarkan "Sehun kecil" yang baru selesai bersenang-senang dengan lubang kekasihnya "Karena aku masih sensitif, aku takut dia bangun lagi." katanya melirik Sehun kecil dibalas tawa renyah oleh Luhan.

"Aku bisa menidurkannya lagi." katanya menantang dibalas pertanyaan semangat dari Sehun "Kau yakin?"

"ish! Tidak malam ini, tubuhku sakit."

Sehun tertawa seraya berbaring di samping Luhan, membawa tubuh penggemar yang kini menjadi kekasihnya untuk ikut berbaring seraya mengatakan "Aku tidak percaya akan melakukan ini denganmu."

"Kau kecewa?"

Sehun menunduk untuk menggigit gemas bibir Luhan lalu mengatakan "Sebaliknya, aku sangat bahagia. Bagaimana denganmu?"

Bersembunyi di pelukan hangat idola yang kini menjadi kekasihnya, Luhan menjawab malu namun terdengar sangat bahagia "Harusnya itu kalimatku."

"Apa?"

"Bahagia, aku terlalu bahagia sampai tidak berani tidur. Aku takut saat bangun nanti kau masih berada jauh dari pelukanku." Katanya sendu dihadiahi ciuman lembut dari Sehun yang berbisik tepat di telinganya "Mulai esok pagi, tiap kali kau membuka mata, aku akan menjadi orang pertama yang kau lihat."

"Benarkah?"

Menaikkan selimut ke tubuh polos mereka berdua, mencium lembut bibir kekasihnya, Sehun mengatakan tanpa keraguan "Tentu saja." Sebagai bentuk ikatan baru yang terjalin antara dirinya dan Luhan sebagai sepasang kekasih.

.

.

.

.

.

.

.

.

A month later

.

.

"Dia mimisan lagi?"

Yang bertanya memiliki ukuran tubuh gempal dan janggut hampir di seluruh tubuhnya. Terlihat sedang mencibir sementara yang dicibir tengah sibuk mendongak serta menahan kapas di hidung kanannya karena terlalu bersemangat melihat idola sekaligus kekasihnya menari dan menyanyi solo dengan melepas jaket dan bertelanjang dada sebagai asupan makanan berjuta wanita dan pria di luar sana.

"Ya begitulah."

Yang menjawab dengan malas adalah sang pengasuh, pria berusia sekitar empat puluh lima tahun itu dengan setia selalu mengekori setiap langkah tuan muda dan tak pernah mengeluh walau rasanya dia ingin mencincang tuan muda tercinta jika sifat merengek dan memaksanya mulai muncul ke permukaan.

"Astaga! Bahkan ini sudah hari ketiga dan dia masih mimisan? Menjijikan sekali!"

Saat ini mereka sedang berada di backstage tempat EXO melakukan konser. Dan jangan tanya darimana Luhan mendapatkan akses bebas masuk terutama ke ruang ganti EXO mengingat statusnya kini bukanlah penggemar melainkan kekasih dari idolanya, Oh Sehun

"Diamkaugempal—rhh!"

Dan akhirnya si tuan muda bersuara, walau masih sibuk meredakan nyeri di kepala yang berakibat keluar darah di hidungnya, dia masih tetap galak seperti biasa. Jadilah Laogao dan Kwangsoo terkekeh dan hanya membiarkan Luhan membersihkan darah di hidungnya sebelum kedatangan pria yang disebut-sebut akan menikahinya dalam waktu kurang dari tiga tahun.

Klik!

"Sayang? Hidungmu berdarah lagi?"

Dan inilah si penyebab utama hidung Luhan mengeluarkan darah selama tiga hari. Pria tampan bertubuh kekar yang baru saja selesai menyelesaikan perform solo stage miliknya menggunakan jaket merah untuk menutupi abs super seksi yang selalu membuat Luhan menjerit histeris dan mengeluarkan darah di hidungnya selama tiga hari berturut-turut.

"Ya, itu karena kau mengumbar dada dan abs. Seminggu kau melakukan ini aku rasa Luhan bisa mati mendadak."

"Keji sekali mulutmu Ge!"

Sehun protes lalu Laogao dihadiahi lemparan sepatu oleh Luhan yang kini sedang berkacak pinggang dan sudah berhasil membuang sembarang kapas yang membersihkan darah di hidungnya.

"Sayaaaang.."

Dia merengek, berlari lurus ke arah kekasihnya lalu melompat dan memeluk Sehun seperti koala dengan kaki mengapit erat di pinggul Sehun.

"Wae? Apa kepalamu sakit lagi?"

Luhan mengangguk manja sementara Sehun sedang menggerakan tubuhnya ke kanan dan ke kiri seolah meninakbobokan kekasihnya "Nanti setelah selesai kita istirahat ya?"

"Tapi aku mau main."

"Main?"

Sehun bertanya, memaksa Luhan menatapnya namun sial itu adalah malapetaka karena Sehun sedang mengutuk betapa menggoda dan menggemaskan pria cantik yang sudah menjadi kekasihnya selama satu bulan ini.

"Aku mau main." Katanya sengaja menggigit bibir membuat Sehun benar-benar nyaris menerkam kekasihnya jika tidak ingat dua musuh besarnya sedang mengawasi dengan mata tajam mereka masing-masing.

"Baiklah! Kita akan main lagi, seperti semalam kan?"

Luhan membuka setengah zipper jaket yang dikenakan Sehun, sengaja menyentuh bagian sensitif kekasihnya lalu mengusapnya kasar sebagai tanda dia memang sedang menggoda Sehun.

"Luhan, kau tahu seberapa kecil batas sabarku untuk menahan diri kan?"

Menggigit bibirnya nakal, Luhan mengatakan "Tahu."

"Kalau begitu berhenti meraba tubuhku."

Dia kesal, sengaja memukul manja dada Sehun dengan bibir mengerucut lucu seperti minta dilumat kasar "Tapi aku ingin!"

"Kau bisa melakukannya saat kita di tempat tidur, bagaimana?"

Luhan berjingkrak di pelukan Sehun seraya berteriak "Baiklah! Aku menunggu Sehun di tempat tidur."

"aigo babyku lucu sekali, cium aku sayang."

Luhan mengangguk, sedikit memiringkan kepalanya lalu menyambut tak sabar bibir kekasihnya. Bibir yang selama satu bulan ini selalu dia kecup berulang kali terkadang tanpa henti. Bukan karena Luhan atau Sehun masuk dalam kategori "mesum" tapi keduanya benar-benar saling membutuhkan dan bibir masing-masing sudah menjadi candu untuk keduanya.

"haah~Sebenarnya siapa yang hyung? Siapa yang dongsaeng?"

Kwangsoo bertanya dibalas pertanyaan lebih serius dari Laogao "Yang membuatku penasaran sudah berapa kali Sehun menggagahi Luhan?" katanya bertanya dibalas kekehan kecil dari Kwangsoo "entahlah, Satu bulan mereka menjalin hubungan artinya setiap hari berhubungan, tidak, jika Sehun tidak memiliki jadwal mereka akan berkeliaran tanpa pakaian di apartemen Sehun."

"Whoa…Jika tuan besar tahu kita benar-benar akan mati di tangannya."

"Kau benar. Dalam satu bulan kita sudah membiarkan putranya digagahi berkali-kali oleh saingannya."

"Beruntung Sehun bisa meyakinkan tuan besar agar Luhan diizinkan tinggal di Seoul."

"haah~Aku ingin kembali ke Beijing."

Kwangsoo mengeluh dibalas delikan tajam oleh Laogao "Harusnya aku yang mengatakan hal itu." katanya kesal dan tak lama menatap jijik ketika melihat Luhan menghisap dalam bibir Sehun, ciuman keduanya menimbulkan bunyi decak menjijikan hingga ruang tunggu EXO dipenuhi atmosfer panas dan itu sangat menyebalkan bagi Kwangsoo dan Laogao.

"Sial! Mereka benar-benar menyebalkan."

"Kau harusnya memiliki kekasih juga Gao."

"Diam!"

Klik!

"Astaga Oh Sehun, mau sampai kapan kau bercumbu dengan Luhan?"

"akhirnyaa…"

Terimakasih pada sang manager, Jung Yunho, yang hadir tepat waktu, karena tanpa kehadirannya bisa dipastikan adegan saling melumat di depan Laogao akan berubah menjadi adegan mendesah dan paling buruk adegan maju mundur yang tak pantas dilakukan di tempat seperti ruang tunggu.

Dia bahkan sampai memeluk sahabatnya, lalu berbisik "Cepat jauhkan mereka berdua." Dibalas anggukan setuju dari sang Manager.

"Cepat bersiap! Kita mulai dua menit lagi."

Dengan berat hati dua sejoli yang sedang dalam keadaan on fire dengan hubungan mereka terpaksa berhenti berciuman, keduanya mendelik kesal lalu perlahan Sehun menurunkan Luhan dari gendongannya "Aku pergi dulu." katanya mencium kening Luhan dibalas anggukan tak rela dari Luhan "Baiklah, cepat selesaikan. Aku ingin menciummu lagi."

"Aku juga sayang, sampai nanti."

Terakhir Sehun kembali menaikkan zipper jaket miliknya, berjalan pergi meninggalkan ruang ganti sampai suara Luhan berteriak "SEHUN!"

"Apa sayang?"

Luhan tersenyum sangat cantik, berjalan mendekati Sehun lalu berjinjit memberi peck singkat pada kekasihnya "Fighting Oh Sehun!"

"Aigoo lucu sekali."

Bukan Sehun yang mengatakan tapi Yunho, jadilah Sehun memberi tatapan marah pada sang Manager hyung dibalas kekehan lagi oleh Yunho "Baiklah, baiklah, Aku tidak akan menggoda Luhan lagi, Puas?"

"he he he…Sehun sangat tampan saat cemburu." Timpal Luhan dibalas tarikan hidung dari Sehun "Kau dalam masalah jika aku cemburu." Katanya terus menarik hidung Luhan sampai warna hidung sang kekasih berubah menjadi merah.

"Sakit…"

"Akan lebih sakit jika aku mulai bergerak diatasmu kan?"

"ish! Mesum! Cepat pergi."

"Aku akan bermain kasar malam ini, bagaimana?"

"OH SEHUN!"

"araseo…araseo…Aku pergi dulu, dah sayang."

"bye!"

Luhan menutup kencang pintu ruang tunggu EXO, menetralkan nafas karena ucapan panas dari Sehun hingga membuat wajahnya merah seperti kepiting rebus.

"Aku mual melihat wajahmu, sampai nanti Lu, aku akan pergi sebentar ke-…"

"LAOGE!"

"sshh! Ada apa?"

"Dimana kameraku?"

"Kamera?"

Luhan mengangguk lucu lalu mengadahkan tangannya "Berikan kameraku"

Kwangsoo berjalan mengambil kamera yang biasa digunakan mengambil gambar Sehun lalu memberikannya pada Luhan "Ini tuan muda. Apa yang akan kau lakukan?"

Buru-buru Luhan mengalungkan kameranya, memakai id card khusus fansite lalu mengerling paman dan bodyguardnya "Ayo kita bekerja!"

"huh?"

Laogao bergumam bingung sementara Luhan dengan bangga menunjuk pada kameranya "Mulai hari ini Fansite SL7 resmi kembali dibuka, jadi baiknya kita memberikan angle foto terbaik untuk pengikut fansite."

"oh tidak…"

Sang bodyguard menatap horor pada Luhan sementara Kwangsoo mencoba menyuarakan rasa protesnya "Tapi kau bilang kau sudah pensiun? Terlebih karena saat ini Sehun adalah kekasihmu."

"Paman benar! Tapi selamanya aku adalah penggemar dan Sehun adalah idolaku. Jadi selamanya pula, terlepas dia kekasihku atau bukan aku akan tetap memberikan yang terbaik untuk idolaku dan teman-teman yang memiliki ultimate bias yang sama denganku! Dengan kata lain aku akan tetap aktif sebagai pemilik fansite, sementara Sehun adalah satu-satunya objek dari gambar yang aku ambil. Jadi lekas bersiap!"

"haah~ / Tidak mau!"

"Kalian tidak mau? Baiklah, dial ponsel Papa ada di nomor satu dan-…."

"GAO AYO BEKERJA!"

"AYO! AKU SEMANGAT SEKALI DIINJAK DAN DIJAMBAK OLEH FANS GILA DILUAR SANA!"

"AKU JUGA—hks…SEMANGAT! T_T"

Keduanya bahkan lebih dulu masuk kedalam venue, meninggalkan Luhan yang sedang bersemangat dan tak lama bersiap dengan dua kamera yang menggantung di leher dan sedang dia genggam "Yosh! Oh Sehun Stan is here…" katanya berteriak kecil dan tak lama

OPPA!

Dan teriakan-teriakan histeris inilah yang selalu Luhan rindukan dari penggemar lain, dia selalu tersenyum puas saat EXO menampilkan yang terbaik dan dirinya serta fans lain memberikan yang terbaik pula sebagai dukungan.

"Kau siap tuan muda?"

Luhan mengulurkan tangannya pada Laogao, bersiap memasuki kerumunan penggemar karena menolak untuk masuk dari jalur VIP. Jujur saja sensasi menonton konser adalah berdesakan dan saling menginjak seperti saat ini.

Jadi terimakasih pada Laogao dan Kwangsoo yang selalu setia menemaninya hingga Luhan bisa menerobos kerumunan dan berada pada spot paling tepat untuk mengambil gambar kekasihnya.

"Sudah aman. Kau bisa mengambil gambar."

Luhan mengangguk, dia menggunakan kamera yang menggantung di lehernya lalu bersiap mengambil foto, beberapa kali dia mengatur fokus sampai pose Sehun yang sedang tertawa selalu menjadi favoritnya.

Klik….

Luhan melihat hasilnya, dia tersenyum puas lalu memindahkannya ke ponsel dan sengaja membagikannya melalui akun instagram dengan caption

Halo, ini Luhan, aku kembali dan mari terus mendukung Oh Sehun, idola kita.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Daebak! Baru dua jam kau mem-posting fotoku dan sudah mendapat lima ratus ribu likes dari seluruh pengikutmu di Instagram?"

"he he he…Aku hebat kan?"

Saat ini posisi berpindah ke apartemen milik EXO yang malam ini sengaja ditempati Sehun agar bisa membawa Luhan beristirahat secepatnya.

Keduanya sudah memakai piyama tidur, yang membedakan Sehun sedang bersandar di tempat tidur dan melihat ponsel kekasihnya sementara sang kekasih, Luhan sedang memakai krim malam dan sesekali melirik kekasihnya.

"Kau hebat sayang! Tapi kenapa kau memutuskan kembali membuka fansite?"

"Karena aku rindu teman-temanku." Katanya polos dibalas senyum bangga dari kekasihnya "Cepat naik, aku ingin memelukmu."

Luhan mengangguk seraya berjalan mendkati Sehun, perlahan dia naik ke tempat tidur, menyingkap selimut sementara lengan Sehun sudah bersiap memeluknya di dalam selimut "ughh~ Nyaman sekali." Katanya mencari posisi lalu bersandar nyaman di dada Sehun.

"Biar aku lihat."

Tak lama Luhan mengambil ponselnya lalu terkejut mendapati mode account yang ada di Instagramnya adalah milik Sehun "Omo! Kau Login di account milikku juga?"

"Yap! Kau bisa mengawasiku juga dari acc pribadi milikku."

Luhan menatap gemas kekasihnya lalu merangkak dan memberikan ciuman pada Sehun "Aku tidak akan mengganggu privacy mu. Aku janji."

"Aku memberikannya agar kau bisa mengawasiku, itu saja." Katanya bangga sementara Luhan sibuk melihat berjuta-juta direct messages di Instagram miliknya "daebak! kebanyakan memberikan pernyataan cinta untukmu."

"Ya, begitulah. Tapi ada satu hal yang membuatku jengkel."

"Apa?"

"Setelah aku telusuri account 7_Luhan_M atau _SL7, tidak pernah memberikan direct messages padaku."

"eyy, berhenti menjadi stalkerku Oh Sehun."

"Aku kekasihmu bukan stalker!" katanya kesal membuat Luhan tertawa dan segera menjelaskan "Jadi begini, untukku, sebanyak apapun aku mengirim pesan padamu kau tidak akan pernah melihatnya. Jadi daripada memberi banyak pesan aku lebih memilih mem-posting seluruh foto dirimu dan berharap agar setidaknya sekali dalam seumur hidupku kau melihatnya!"

"Baiklah aku sudah melihat si pemilik account!"

"Tepat! Jadi jangan melirik pemilik acc lain dari seluruh dunia, deal?"

Sehun mengecup gemas bibir Luhan lalu menyetujui syarat dari kekasihnya "deal!"

"Baiklah, sekarang kita tidur."

Luhan sudah berniat mematikan ponselnya, dia juga berniat meletakkannya di samping meja tempat tidur sampai satu komentar dari acc milik Sehun mengatakan "Bukankah itu foto dari _SL7?"

"huh?"

Tak lama notif lain yang berasal dari acc fansite nya juga terlihat, penasaran, Luhan membuka foto yang dikomentari lalu terkejut menyadari bahwa setengah jam yang lalu Sehun baru saja mem-posting foto yang dia ambil ke acc pribadinya.

Buru-buru dia mendongak hingga kepalanya tak sengaja membentur dagu Sehun "Sayang!"

"hmh?'

"Buka matamu dulu!"

"Aku lelah Lu."

"Sebentar saja."

Mengikuti kemauan kekasihnya Sehun membuka mata lalu menatap lelah kekasihnya "Apa lagi sayangku?"

"Kau mencuri foto dari fansite milikku?"

"Kenapa? Tidak boleh?"

"Tentu saja boleh! Tapi kenapa kau memberi caption heart?"

"Ya karena aku mencintai si pengambil gambar."

"Aww, manisnya kekasihku!"

" Cepat tidur sayang, aku lelah."

Sementara mata Sehun kembali terpejam, Luhan kembali merangkak untuk mencium Sehun lalu berbisik "Aku mencintaimu Oh Sehun."

"Aku juga mencintaimu Oh Luhan." gumam Sehun membalas dengan mata terpejam, membuat Luhan tertawa gemas, kembali berbaring seraya memeluk erat kekasihnya hingga tak lama terdengar suara nafas Luhan berhembus dalam dan beraturan.

"Kurang dari sepuluh detik kau sudah terlelap? Dasar rusa kecil!"

Memastikan kekasihnya sudah tertidur pulas, Sehun kembali membuka mata. Diam-diam dia menunduk untuk mengecup bibir Luhan seraya mengambil ponsel diatas mejanya.

"Begini saja."

Sehun sengaja mematikan lampu, membuat bayangan hanya fokus pada tangan Luhan lalu menautkan dua jemari mereka dan tak lama

Klik!

Sehun mengambil gambar dengan suasana gelap namun bisa terlihat jelas dua tangan yang sedang bertautan erat, tak lama dia kembali menyalakan lampu, membiarkan Luhan bersandar di pelukannya sementara dia bersandar di tempat tidur dan sibuk bersama ponselnya.

"Selesai!"

Sang idola meletakkan lagi ponselnya, mematikan lampu lalu memeluk kekasihnya erat "Mimpi indah sayang. Dan jangan terkejut karena besok pagi kau akan melihatnya."

Drrtt…

Dia bahkan mengabaikan berjuta-juta notifikasi yang sengaja dia biarkan menyala mengingat kurang dari satu menit yang lalu, Sehun baru saja memposting sebuah foto yang cukup menggemparkan penggemarnya.

Foto yang dia bagikan adalah foto dimana tangannya dan tangan Luhan bertautan erat dengan caption yang bertuliskan,

.

Have you ever looked at someone dan just hoped he'll stay in your life forever?

.

I have, him

.

Entah apa yang akan dikatakan dunia esok pagi, entah kemarahan macam apa yang akan diterimanya dari EXO hyung dan Manager hyung, dia tidak peduli.

Untuknya, yang paling mendebarkan adalah menebak-nebak bagaimana ekspresi menggemaskan kekasihnya.

Apa Luhannya akan memekik?

Apa Luhannya akan menjerit?

Apa Luhannya akan menangis?

Atau paling buruk apa Luhannya akan marah?

Ah, semua itu membuat jantung Sehun berdebar hebat, terlalu hebat hingga tanpa sadar, secara perlahan dia sedang mencapai tujuannya untuk mengenalkan Luhannya pada dunia. Karena suka atau tidak, dia sudah memilih pendamping hidup dan itu adalah…..Luhan

.

.

.

.

.

.

.


.

Finally,

.

E

.

N

.

D

.


.

.

See guys? Membludak kan wordsnya :""

.

Udeh gue bilang gue spesialist chapter (s), a long-long chapter(s) kkk~

Onysut gue ga jago, ini aja tadinya mau gue TBC in lagi saking mbludaknya tapi GAJADI, BATAL, CANCEL! Gue gamau punya utang kbanyakan, pusiang :""

.

But akhirnya sama-sama bisa kentut lega ditengah kekeselan Votingan Si M-onyet yang MASYALLAH bikin gue pengen makan Seblak, SETAAN!—ah sudahlah!

.

Sudah ya? makasih yang udah ngikutin From Idol to Lover.

Doa tersiratnya semoga suatu saat nanti Sehun beneran bisa posting sesuatu tentang Luhan tanpa takut2 lagi, amin :))))

.

C,u

.

Btw ternyata jumat LongWeek ya?

Buat JTV gue takut diajak huliday lagi nicc, doain rampung hari minggu kalo ngga ngaret lagi yak…maapkaaan.

.

Daaaah

Terimakasih banyak sekaliiii…. :*

.

dan maap ngalong egen, muchlove