"Berhenti menggangguku Dobe." Ia berjalan tanpa melihat lagi sahabat karibnya.
"Teme!" ia melotot mendengar teriakkan Naruto. "Lihat itu Sakura-chan~ dia... cantik."
Sahabatnya belakangan ini tergila-gila dengan gadis bernama Sakura, ia tidak pernah tahu ada gadis bernama Sakura di Sekolahnya, sebenarnya juga ia tidak peduli. Ia menghentikan langkahnya, melihat ke arah pandang yang sama dengan Naruto, setidaknya ia juga harus tahu gadis seperti apa yang di sukai sahabatnya.
Tangan Naruto melambai, "Sakura-chan!" memanggil gadis pujaan hatinya dengan suara nyaring.
Gadis itu tersenyum manis. Sebuah senyum terindah yang pernah dia lihat seumur hidupnya.
"Manis." Gumamnya pelan.
Dadanya berdebar cepat, sensasi yang belum pernah ia rasakan, dia harus membuat senyum itu menjadi miliknya. Dengan cara apa pun.
Seorang laki-laki ah! Bukan itu teman sekelasnya, Kouji. Menghampiri Sakuranya, sejak kapan Sakura menjadi milikmu Sasuke? Kouji berhasil mengalihkan seluruh perhatian gadis itu dengan sekejap, raut damba gadis itu menerangkan segalanya. Hati gadis itu sudah menjadi milik orang lain.
"Si Berengsek itu beruntung mendapatkan Sakura-chan," Naruto melirik ke arahnya. "Teme?"
Dia terkekeh pelan dengan menutup setengah wajahnya, "Tidak masalah. Itu masalah kecil." Gumamnya pelan. Sangat pelan.
Nyatanya semua omongannya tentang gadis itu tidak pernah terwujud semasa Sekolahnya, Tuhan tidak memberinya kesempatan barang sedikit pun, gadis itu tidak mudah terpengaruh. Begitu dingin dan cantik, begitu hangat dan menawan di sisi lainnya. Tidak ada yang bisa dia katakan lagi untuk memberi harapan pada perasaannya.
"Aku merindukanmu." Ia membuka matanya setelah mengenang bagaimana seorang gadis merebut hatinya dengan sebuah senyuman.
Setelah lulusan Sekolah dua bulan lalu, setelah kandasnya hubungan gadis itu dengan kekasihnya lima bulan lalu. Gadis itu menghilang begitu saja. Menghilang tanpa kabar.
It's Me
.
.
.
It's Me
Disclimer : Om Masashi Kishimoto.
Author : Hanna Hoshiko
Pairing : Sasuke U. – Sakura H.
Rated : T+
Genre : Romance/Hurt/Comfort/Drama.
.
.
.
Warning!
Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author
Cerita ini akan update setiap author gak lagi sibuk di RL dan gak lagi kena WB.
Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.
.
.
.
Don't Like Don't Read
.
.
.
Mempersembahkan
Sejak kelulusan Sekolahnya dua bulan lalu ia tidak pernah lagi mencoba untuk keluar dari kamar, mengurung dirinya dari dunia luar, bahkan tidak memberi kabar pada siapa pun. Mematikan semua komunikasi dengan sahabatnya, dan terlarut dalam kesedihan yang tak berujung miliknya.
Hatinya tidak bisa menerima semua yang telah terjadi.
"Sakura sayang bisa Tou-san bicara denganmu?" ketukan pintunya berhenti.
Dari sudut matanya ia bisa melihat Ibunya menangis. Ia juga menangis setiap malam, meratapi nasib.
Kedua orang tuanya mendekat. "Apa yang sebenarnya sudah terjadi?"
Matanya mengerjap pelan, apa yang sebenarnya terjadi? Maksudnya yang mana yang sudah terjadi? Kouji? Tayuya? Apa yang sebenarnya sudah terjadi.
"Tidak... ada."
"Kau ingin seperti ini selamanya?" Ibunya mengelus kepalanya. "katakan pada Kaa-san apa yang membuatmu seperti ini hm?"
Apa yang membuatnya seperti ini? Apa yang membuatnya menangis setiap malam? Semuanya baik-baik saja. Dia hanya sedih itu saja.
"Tidak... ada."
Ibunya menangis dengan keras. Ia mulai menekuk kakinya, menutup telinganya, "Tidak... ada. Aku menyakitinya..." dia juga ikut menangis dengan keras.
Siapa yang ia sakiti? Dirinya? Atau orang lain? Tapi siapa? Rasa bersalah yang menggrogoti hatinya ini untuk siapa. Dari siapa rasa sakit ini datang? Dia tidak tahu.
"Siapa yang kau sakiti Sakura?" hati Kizashi sakit melihat putri semata wayangnya seperti ini.
"Tidak... ada." Tangis Sakura semakin menjadi.
Tidak ada yang bisa mereka lakukan melihat putrinya, mereka berdua merasa tidak berguna hingga tidak berdaya melihat anaknya seperti ini, jika saja Sakura mengatakan apa yang membuatnya tidak mempunyai gairah hidup mungkin mereka berdua masih bisa membantu. Tapi Sakura tetap bungkam.
Kizashi menghela nafas, "Mungkin Ino-chan pilihan terbaik."
"I-Ino." Gumam Sakura pelan. Ah! Itu nama sahabatnya.
Dia begitu merindukan nama itu tapi... ada nama lain yang lebih dia rindukan.
"Kau ingat Ino-chan Sakura?"
Tangis Sakura berhenti, "Ino..."
Sosok Ino keluar dari balik pintu, menutup mulut untuk menyembunyikan isak tangisnya. "Ino-chan jaga Sakura kami."
"Tentu Ba-san, Ji-san," Ino memeluk Sakura. "Aku akan membuatnya pulih seperti dulu."
.
.
.
She.
.
.
.
Dia membawa Sakura ke apartemennya, "Sakura ini kamarmu. Kita hanya tinggal berdua di sini, jangan pernah pergi jika tidak bersamaku."
"Ya."
Sakura hancur. Itulah yang ia tahu, padahal saat mereka menjelang kelulusan gadis itu masih terlihat baik-baik saja, Sakura bahkan sudah tidak pernah lagi menyinggung hubungannya dengan Kouji, karena itu Ino berani menyimpulkan gadis itu sudah melupakan semuanya.
"Panggil aku jika kau memerlukan sesuatu."
Tapi semua kesimpulan yang dibuat Ino salah, dua bulan setelah kelulusan tidak ada yang mendengar kabar Sakura, bahkan ponselnya tidak aktif. Dengan penasaran ia datang ke Rumah Sakura, ternyata keadaan Sakura lebih dari perkiraannya, gadis itu begitu hancur hingga tidak tersisa apa pun.
Menyedihkan.
Itulah yang terlintas pertama kali ketika dirinya bertemu Sakura lagi. Seorang gadis sempurna hancur hanya karena laki-laki tidak tahu diri, mungkin selama ini salahnya karena tidak pernah menaruh kecurigaan kepada Kouji, laki-laki yang mendekati Sakura dengan cara sehalus mungkin, sekarang terjawab sudah kenapa Kouji begitu sabar menghadapi sifat menyebalkan Sakura.
"Maafkan aku Sakura," Ino bersimpuh di kaki Sakura. "ini salahku."
Sakura memundurkan tubuhnya perlahan, "Tidak... berhenti!" teriak Sakura histeris.
"Sa-Sakura! Tenanglah..." Ino mendekap Sakura erat, membuat gadis itu menangis di pelukannya. "lupakan semuanya Sakura. Sekarang hanya ada kau dan aku."
"Ino."
"Kita lakukan semuanya perlahan,"
Ia tidak mungkin terus maju dan meninggalkan sahabatnya sendirian di belakang, mereka akan berjalan bersama menatap masa depan, itu adalah pilihan yang terbaik. Memulai segalanya dari awal, melupakan semua kenangan pahit yang telah terjadi di masa lalu, dia dan Sakura pasti bisa melakukannya.
Air mata Ino menetes.
Hatinya sakit melihat Sakura, bukan Sakura seperti ini yang dia kenal, dia hanya tahu Sakura dengan segela kesempurnaan dan sifat dinginnya. Dia gagal menyelamatkan sahabatnya, tapi tidak ada kata terlambat untuk kembali seperti semula.
"aku akan selalu di sini. Di sampingmu Sakura."
.
.
.
She.
.
.
.
Ia sudah hidup satu bulan bersama Sakura, gadis itu terlihat lebih baik dibandingkan saat pertama kali bertemu, rambut Sakura sekarang sudah panjang hingga menyentuh punggung. Sakura menjadi seorang yang lebih pendiam dari pada dulu, tapi terkadang sangat hangat.
"Kau siap bertemu Orochimaru-san?"
Sakura mengangguk pelan, "Kau janji akan membuatkanku jus tomat 'kan?"
Ino tertawa keras. Sakura yang sekarang terlampau menyukai tomat, "Baiklah gadis jelek. Kita pergi."
Sakura menderita skizofrenia stupor katatonik, penyebabnya sudah pasti masalah Sakura dan Kouji membuatnya mempunyai depresi akut, itu bisa sembuh tapi harus benar-benar perlahan. Karena itu Ino memutuskan mengambil cuti kuliahnya selama setahun, dia harus fokus menyembuhkan Sakura lebih dulu.
"Sakura-chan! Apa kabarmu baik-baik saja?" Orochimaru adalah psikiater yang menangani masalah Sakura.
"Konichiwa Orochimaru-san. Hari yang indah." Sakura tersenyum tipis.
Orochimaru menatapnya, "Ku lihat dia sudah lebih baik, kau menjalankan semua saranku dengan baik Ino-chan. Jika perkembangannya terus seperti ini, presentasi kesembuhannya akan meningkat, dia bisa sembuh lebih cepat dari yang sudah kita perkirakan sebelumnya."
"Syukurlah," Ino memeluk Sakura. "ku pikir dia masih tidak berkembang sama sekali."
"Tidak-tidak," Orochimaru menggeleng pelan. "kau pernah bilang jika Sakura-chan orang yang dingin bukan? Karena sifat itu Ino-chan tidak bisa melihat perkembangannya, tapi untuk dokter kejiwaan seperti kami dibiasakan melihat perkembangan jiwa seseorang sekecil apa pun."
"Dia sering sekali tiba-tiba menangis dalam diam, maksudku wajahnya datar sekali tapi air matanya keluar,"
Ino menatap Sakura perlahan air matanya sendiri yang keluar. "aku hanya bisa menyeka air matanya saja, menyakitkan melihatnya hancur seperti ini."
"Ino-chan aku tidak ingin kau ikut depresi, Sakura-chan masih sangat membutuhkan bantuanmu, dia bergantung padamu. Apa pun yang terjadi pada Sakura-chan katakan padaku, kau harus kuat demi gadis ini."
Ino mengajak Sakura pamit, "Kapan Sakura bisa menjalani terapinya?"
"Aku masih belum bisa saat ini. bukan aku tapi Sakura-chan."
Ino menyembunyikan rambut Sakura di balik tudung jaket, memberikan gadis itu masker agar tidak ada yang mengenalinya, Sakura juga tidak akan mau terlihat seperti ini.
Ino kembali menghela nafas pelan. Mengenggam tangan Sakura erat.
Gadis itu bergantung padanya. Sahabatnya.
.
.
.
She.
.
.
.
1 tahun kemudian.
"Maaf sekali Ba-san, aku tidak ingin hal yang kita tidak inginkan terjadi jika Ba-san membawa Sakura keluar. Itu terlalu beresiko," Ino mematut dirinya yang mengenakan seragam kerja di sebuah kaca besar.
Ino merapikan poninya, "tunggu sebentar lagi. Ba-san ingin akhir yang indah bukan? Akhir yang indah tidak mempunyai proses yang instan, aku akan menemui Ba-san sepulang kerja. Sebentar lagi selesai."
Ino memasukkan ponselnya, berjalan ke arah tempat resepsionis, dia bekerja di sebuah rumah kecantikan selama cuti kuliah. Setidaknya ia sudah mendapat restu kedua orang tua, Sakura mau pun dirinya, orang tua masing-masing begitu mendukung niat baik Ino. Tidak mudah meluluhkan hati Mebuki, butuh dua hari dia memohon seperti gembel di depan Rumah Sakura.
"Bisa tunjukkan ruang tunggu Yamanaka." Ah! Dia, salah satu penggemar Sakura yang harus dia singkirkan.
"Di sana. Kursi berderet rapi di sana Uchiha."
Sasuke bertambah tampan itu adalah kenyataan mutlak yang tidak bisa ia sangkal, setelah tersebar kabar putusnya hubungan Sakura, laki-laki itu adalah orang pertama yang menunjukkan ketertarikan lebih pada Sakura. Sayangnya Sakura tidak pernah menganggap Sasuke ada.
Ia melewati Sasuke begitu saja setelah mengganti seragam kerja dan berniat pulang.
"Yamanaka kau tahu kabar Sakura?"
Ino berhenti melangkah. "Kau peduli?"
"Tentu saja. Aku tidak membiarkan gadis modal senyum itu melarikan diri begitu saja, dia sudah mengambil sesuatu dariku," Sasuke menyeringai tipis. "dia harus bertanggung jawab."
"Jangan melawak Uchiha. Sakuraku bukan pencuri."
"Sejak kapan Haruno itu jadi milikmu Yamanaka?" Sasuke menatapnya dengan sombong.
"Ceh!" ia mendecih. "Memang milik siapa? Dia bukan milikmu Uchiha sialan. Hentikan omong kosong ini."
"Kau tahu sesuatu Yamanaka."
Ino menghentikan langkahnya dan tertegun sebentar. "Kau ke sini untuk menjemput kekasihmu bukan?"
"Dia hanya Karin," Sasuke berbalik dan menatap punggung Ino. "dan lagi cuti kuliahmu itu begitu misterius bagiku, kau bahkan baru memulai kuliahmu beberapa minggu dan langsung mengajukan cuti selama satu tahun? Bukankah itu sedikit aneh dan terburu-buru."
"Tidak ku sangka seorang Sasuke Uchiha penuh omong kosong."
"Dengar baik-baik Yamanaka, Sasuke Uchiha bisa melakukan apa pun," Sasuke maju menghadap Ino secara langsung. "terutama untuk Sakura Haruno."
"Aku menyerah Uchiha. Tapi cuti kuliahku tidak ada hubungannya dengan Sakura, kami tidak pernah berkomunikasi lagi setelah kelulusan, apa sekarang kau puas?" jantung Ino terasa akan keluar saja dari dadanya.
Sasuke terkekeh pelan, "Rahasia indah macam apa yang kau sembunyikan Yamanaka?" Sasuke menatap Ino dengan tajam. "aku tidak peduli seindah apa itu tapi jika aku menemukan sedikit saja celah maka..." Sasuke menyeringai lebar dan mengarahkan tangannya yang membentuk sebuah pistol ke wajah Ino. "Bang!"
Sasuke memang bukan orang yang bisa dibodohi begitu saja, kecerdasan, kesombongan, talenta, dan kepercayaan dirinya sangat tinggi. Laki-laki yang ideal menurut Ino tapi berbahaya bagi Sakura sekarang, belum saatnya Sakura menghadapi Sasuke, ia tidak mau Sasuke melakukan hal bodoh pada Sakura.
Ino menghembuskan nafas pelan, "Apa kau gila?!"
.
.
.
She.
.
.
.
"Sakura kekasih cantikmu pulang!" ia melepas heelsnya, berjalan santai menuju lebih dalam apartemennya. "Sakura! Kau tidak ingin menyambut kekasihmu yang baru pulang kerja ini?!"
Tidak ada sahutan sinis seperti tutup mulut bodoh, berisik, atau pun lemparan bantal. "Sakura?"
Ino berlari ke segala penjuru apartemen mencari keberadaan Sakura, tapi gadis itu tidak ada di mana pun. "dia keluar tanpaku? Auh! Dasar Haruno menyebalkan."
"Aku menunggumu di Kuil."
Ino mencabut note kecil itu dari pintu kulkas, Sakura tidak pernah keluar apartemen tanpa dirinya, saat mendapati jika tidak ada Sakura membuatnya ketakutan. Takut jika gadis itu bertemu orang masa lalunya, takut jika semua orang melihat Sakura terlihat begitu menyedihkan, Ino begitu takut kehilangan Sakura lagi.
Tangga Kuil ini tidak begitu panjang, di depan Kuil terlihat seseorang yang di carinya. "Sakura! Kenapa kau keluar tanpa aku?!"
Gadis itu membalikkan badannya.
Tersenyum hangat, rambut panjangnya tertiup angin bersama kelopak bunga sakura. "Ino."
Sakura memanggil namanya, seharusnya itu menjadi hal biasa saja tapi kali ini kenapa begitu menyesakkan dada, kenapa suara Sakura begitu terdengar mengharukan di telinganya. "Aku merindukanmu Sakura."
Ino berlari memeluk Sakura, membawa gadis itu ke dalam pelukannya. "kau sembuh. Berjanjilah padaku kau akan menjadi wanita kuat Sakura."
"Aku berjanji. Maaf selama ini merepotkanmu, aku membuat semua orang khawatir bahkan kau mengambil cuti kuliahmu demi aku, itu membuatku merasa bersalah." Air mata Sakura menetes. "aku memang tidak berguna. Kenapa hanya karena masalah sepeleh seperti itu aku hancur? Aku... menyedihkan sekali."
"Tidak." Ino menggeleng. "aku tidak keberatan tentang semuanya Sakura, apa itu masalah sepeleh? kau mencintainya, menyayanginya, membiarkannya menjadi bagian hidupmu, menjadikannya salah satu orang terpenting dalam kisahmu. Aku tidak tahu sesakit apa itu, tapi ketika kau tahu semua kebenaran yang begitu menyakitkan tentangnya, kau pantas hancur Sakura."
"Aku bisa membayangkannya, kau ingin menerima semuanya tapi hatimu menolak dan menyangkal yang terjadi."
"Terima kasih. Kau tidak sechildish yang terlihat."
"Kenapa mulutmu tajam sekali."
Sakura melepas pelukan Ino. "Mulai besok kita akan kuliah, aku ada di kedokteran setidaknya kita kuliah di tempat yang sama, seminggu yang lalu aku sudah meminta Kaa-san untuk mengurus semuanya. Sekarang aku bisa menerima semuanya seperti yang kau katakan, Kouji-kun pasti akan lebih merasa bersalah jika melihatku beberapa waktu lalu. Aku ingin memulainya lagi dari nol bersamamu Ino."
Ia sudah memikirkan semuanya matang-matang, dia tetap Sakura yang dulu tapi setidaknya dia berhenti itu menyalahkan dirinya pada hal yang jelas-jelas bukan salahnya, Sakura merasa kasihan pada dirinya sendiri. Kali ini dia ingin egois, dia ingin bahagia.
"Tentu saja bodoh."
Sakura melihat poni tengahnya, "Kau bisa merubah poniku? Ini terlihat membosankan."
"Tidak masalah sayang." Ino terkekeh pelan.
Dia sangat ingin bahagia melebih apa pun sekarang, memang dulu dia begitu bahagia bersama Kouji tapi ceritanya sudah berbeda, tidak ada lagi Kouji yang mencintainya. Kini dia akan memulai lagi kebahagiaan sederhana tanpa adanya Kouji, bersama orang yang benar-benar ada di sampingnya.
Sakura menyeringai lebar, angin menerbangkan rambutnya bersama kelopak sakura. "Aku ingin berubah jelek Ino."
.
.
.
To be continued.
A/N :
Butuh waktu agak lama untuk pemilihan kata yang enak dan pas buat cerita ini, karena masih UNBK jadi harus fokus belajar tapi kalo udah penat akhirnya nerusin fic juga haha :v jangan lupa kesan dan pesan ya.
Balasan review :
Bang kise ganteng : karakter Sasuke mau pun Sakura belum keluar sebenernya sih, masih ngeliatin kondisinya Sakura kayak gimana. Karena cerita ini semacam kehidupan lain Sakura dari cerita sebelumnya jadi karakternya nggak bakalan berubah 100% dari yang lalu de, terima kasih udah review.
Undhott : ya karena di sini aja udah keliatan kalo Sakura begitu mencintai Kouji. Terima kasih udah review.
Anisha ryuzaki : wop, makasih udah review.
Rinda kuchiki : terima kasih udah review.
S A M : terima kasih udah review.
As : semoga aja hahaha, terima kasih udah review.
Hyuugadevit-Chery : terima kasih udah review.
Wowwoh geegee : terima kasih udah review.
