Sasuke memandang kedua gadis yang agak jauh di depannya, "Yamanaka?"

Gadis berambut pirang itu terlihat berbicara melantur, sepertinya sudah mabuk tidak ketulungan, tapi dia tidak begitu tertarik pada gadis bringas itu. Matanya lebih tertarik melihat orang yang kesulitan memapahnya, mini dress ketat berlengan panjang berwarna hitam, sepatu berhak yang membalut kedua kakinya. Kenapa gadis itu bodoh memakai topi ke dalam klub malam seperti ini. Sasuke mendecih sombong, gadis aneh yang seksi.

"Aku akan membunuhmu Ino karena sudah membuatku mencium bau menjijikan ini."

Gerutuan gadis itu terdengar hingga ke telinga Sasuke, "Gadis aneh."

Dan Sasuke tertohok setelah menghina gadis itu dengan sebutan aneh, ia berhenti berjalan dan tertegun sebentar, menoleh ke arah kedua gadis yang beberapa saat lalu melewatinya. Dia terlihat seperti orang bodoh karena tidak mengenalinya, "Yamanaka sialan."

Matanya sedikit melebar melihat helaian rambut panjang yang tertutup topi hitam itu, ia sudah tidak perlu memastikan wajahnya, dia pasti orang yang selama ini ia tunggu. Sedikit berlari kecil, menggenggam kuat pergelangan tangan kecil itu.

Hatinya berdebar keras.

"Ah! Sialan." Sasuke membuang topi itu begitu saja.

Mata emerald itu melebar memandangnya, "Sakura."

It's Me

.

.

.

It's Me

Disclimer : Om Masashi Kishimoto.

Author : Hanna Hoshiko

Pairing : Sasuke U. – Sakura H.

Rated : T+

Genre : Romance/Hurt/Comfort/Drama.

.

.

.

Warning!

Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author

Cerita ini akan update setiap author gak lagi sibuk di RL dan gak lagi kena WB.

Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.

.

.

.

Don't Like Don't Read

.

.

.

Mempersembahkan

Ia tertawa pelan melihat tubuhnya, "Sakura~ kenapa kau begitu lucu dengan tubuh gemuk seperti ini."

"Jauhkan tanganmu dariku sialan." Sakura menatap tajam tangan Ino yang ingin mencubit kedua pipinya.

Pagi ini dia rela bangun pagi-pagi untuk memasang semua make up dan sumpalan di tubuhnya, dia ingin berubah bukan sebagai Sakura Haruno yang jauh lebih sempurna dan menawan, hanya seorang Sakura yang gemuk dan jelek. Ia tidak begitu masalah dengan cibiran orang lain.

Mereka berdua berjalan di jalan utama kampus, "Kau tidak masalah dengan penampilanmu Sakura?"

"Aku menyukainya." Sakura terkekeh pelan melihat beberapa orang melihat tidak suka padanya karena berjalan bersama Ino yang mereka anggap sempurna. "mereka mengganggapmu sempurna ketika berjalan bersamaku Pig."

"Kenapa aku tidak berpikir begitu, aku... ingin sekali mencubit pipimu lagi Forehead~ biarkan aku melakukannya."

Sakura membuat jarak dengan Ino, "Menjauh dariku Pig!"

"Kau pelit sekali dengan kekasihmu. Dasar gadis jelek! Sebenarnya apa yang kau pikirkan hingga seperti ini Sakura?"

Mata Sakura menatap jalanan lurus yang mereka lewati.

"Aku memikirkan banyak hal."

Tatapan Ino melembut, "Aku akan menunggumu siap untuk membaginya denganku, aku tahu kau punya alasan untuk semua ini. jadi sampai kapan kau akan seperti ini Sakura?"

"Aku ingin menikmatinya sampai bosan. Auh!"

"Hmm~ kenapa wajah ini begitu menggemaskan, aku begitu menyukaimu jika seperti ini terus Forehead." Ino mencubit pipi Sakura hingga memerah. "dimana wajah cantik aroganmu itu sekarang hm?"

"Berengsek kau Pig!" Sakura merapikan rambutnya. "aku belok sini. Sampai jumpa di Apartemen."

Sakura berhenti berjalan, melihat punggung Ino yang berjalan menjauh darinya. "Maaf membuatmu khawatir lagi Ino."

.

.

.

Perubahan.

.

.

.

Sebuah tangan kecil mengulur ke depan wajahnya, "Haruno-san salam kenal. Hinata, Hinata Hyuuga."

Mata Sakura melembut.

"Panggil saja Sakura, boleh aku memanggilmu Hinata?" perempuan itu mengangguk pelan. "salam kenal Hinata. Kau memulai tahun ini juga?"

Mereka berdua berjalan berdampingan, hari beranjak siang dan mereka sudah tidak memiliki kelas lagi hari ini. "Sebenarnya aku ingin mulai kuliah tahun depan, lagi pula aku tidak suka ilmu kedokteran. Ayahku memaksaku untuk masuk ke sini, padahal aku ingin mendalami ilmu sastra, jadi kenapa Sakura-chan memulai tahun ini juga?"

"Aku..." Sakura menatap Hinata dengan sendu, "hanya sedang sakit."

Hinata mengangguk mengerti. "Nanti jika Sakura-chan sudah siap aku mau mendengar semuanya. Aku ingin menjadi temanmu."

"Maaf Hinata, aku bukan orang yang mudah bersosialisasi," Sakura tersenyum lembut. "tapi terima kasih sudah mau menjadi temanku. Kau tidak malu berbicara seperti ini denganku? Aku takut yang lain akan menjauhimu."

Hinata termasuk perempuan cantik tapi dia terlihat biasa saja berbicara dengannya yang seperti ini, lagi pula dia juga tidak sedang mencari teman tapi jika seseorang mengajaknya berteman apa salahnya mencoba, Hinata kelihatannya bukan perempuan jalang dan semacamnya.

"Hahaha tenang saja Sakura-chan, aku tidak ingin berteman dengan yang lain aku ingin berteman denganmu. Aku begitu penasaran bagaimana rasanya menjadi sahabatmu."

Perempuan aneh macam apa lagi yang dia temui ini.

Ini bahkan baru hari keduanya kuliah.

"Kau pasti menyesal Hinata." Rasanya tubuhnya berkeringat parah, begitu gerah memakai semua sumpalan yang membuat tubuhnya terlihat gemuk. "kau hanya belum melihat aku yang sebenarnya."

Ya... Sakura menjadi sosok yang lain ketika berhadapan dengan Ino, bermulut kotor sekotor selokan, menjengkelkan, dingin, dan begitu pemalas. Sebenarnya dia tidak seperti itu dulu semuanya berubah seiring dia tinggal bersama Ino dan mulai sembuh dari depresinya, dia akan memasang wajah palsu ketika bertemu dengan orang asing.

"Benar 'kah?!" teriak Hinata antusias membuat mereka sekarang menjadi pusat perhatian.

Sakura tersenyum kaku, dia tidak menyangka Hinata seceriwis ini yang Sakura bayangkan adalah Hinata seorang perempuan yang lemah lembut. "aku penasaran sekali padamu Sakura-chan."

Dia punya Ino kedua di hidupnya sekarang. "Senang mendengarnya."

.

.

.

Perubahan.

.

.

.

Sudah seminggu ia selalu melihat kelibat merah muda di fakultas kedokteran, Karin selalu membuatnya menuju gedung penuh organ-organ orang mati itu, catat setiap hari. Bukannya dia takut hanya saja mengerikan melihat organ-organ dalam manusia di pajang begitu saja di dalam toples kaca, beruntung wajah dinginnya ini menutupi semuanya.

Warna merah muda itu terlihat lagi di pandangannya.

"Sakura..." dia terkekeh pelan. "tidak mungkin. Sakuraku tidak mungkin segendut itu," dia berbalik mengalihkan pandangannya dari perempuan gendut berambut merah muda itu. "apa aku salah makan akhir-akhir ini?! kenapa perempuan gendut itu terlihat seperti Sakura." Desisnya frustasi.

Perlahan kakinya berbalik, melangkah cepat mengejar perempuan gendut itu. "Hei!"

Dia mencengkram pergelangan perempuan itu. "aku sudah gila." Gumamnya sangat pelan.

"Kau mengenalku?"

Apa ini? apa dia sudah salah menduga orang, tapi mata emerald perempuan itu tidak bisa membuatnya dibohongi begitu saja, mata itu sama persis dengan mata yang ia temui pada perempuan di klub malam seminggu yang lalu. Perempuan seksi dan begitu sempurna di matanya, bukan kantung lemak berjalan seperti ini.

"Sakura."

"Menyingkirlah idiot. Kau menghalangi jalanku."

Sasuke menggeram pelan, "Idiot?! Tidak ada idiot setampan diriku."

"Bukan urusanku, menyingkirlah ayam." Perempuan itu memincingkan matanya.

Dia meletakkan telunjuknya di dahi lebar perempuan yang dianggapnya Sakura itu. "Ayam. Berani sekali kau kantung lemak, kau pernah melihat ayam mempunyai wajah sepertiku? Tampan dan sempurna."

Perempuan itu tertawa mengejek.

"Sempurna? Sesempurna bokong ayam. Aku pernah melihatnya tepat di depan mataku sekarang," perempuan itu menggengam tangannya yang berada di dahi perempuan itu. "menyingkirlah."

"Sakura-chan kau sedang bersama siapa?"

Dia harus berterima kasih pada sepupu jauhnya itu, Sakura terlihat menggeram frustasi mendengar panggilan Hinata. "Cih! Hinata."

"Lama tidak bertemu Sakura Haruno." seketika itu tangannya menjauh dari dahi Sakura. Dia menyeringai lebar.

"Senang bertemu denganmu Uchiha."

Mata hitamnya melihat dengan tajam Sakura, ia yakin seminggu yang lalu dia bertemu dengan Sakura di klub malam, perempuan itu masih dingin dan cantik seperti dulu. Bukan seperti ini, "berhenti menatapku Uchiha."

Sasuke mendekatkan wajahnya. "Kau berubah."

"Apa pedulimu." Sakura melewatinya begitu saja.

Sasuke melihat Sakura yang berubah dratis, perubahan itu sempat membuatnya syok berat, sebenarnya dia juga penasaran apa yang terjadi dengan perempuan itu satu tahun lalu. Kenapa dia menghilang begitu saja, tidak memberi kabar pada siapa pun, dan sekarang muncul dengan perubahan yang sangat jauh.

Pandangan Sasuke berubah sendu, "Aku merindukanmu Sakura."

"Sasuke! Ayo pulang."

Sasuke memutuskan untuk menyusul Karin, setelah beberapa langkah dia berhenti dan melihat ke arah Sakura dengan sebuah seringaian, "Kali ini biarkan aku mencuri sesuatu darimu Sakura."

.

.

.

Perubahan.

.

.

.

"Sakura kau baik-baik saja?" Ino menatapnya dengan khawatir membuat Hinata juga menaruh perhatian penuh padanya.

Sakura terlihat menahan urat-urat dahinya agar tidak terlihat terlalu jelas, "Menjadi jelek itu menyusahkan."

Matanya beberapa kali mengerling ke belakang, membuat mata Ino dan Hinata juga mengikutinya hingga mereka keheranan karena tidak menemukan apa-apa di sana, sudah dua minggu hidupnya seperti ini. wajar jika kedua sahabat anehnya itu tidak menyadarinya, laki-laki itu lebih pintar dari mereka berdua tapi tidak untuk dirinya, dia merasakan kehadiran laki-laki sialan itu di mana pun.

Ino mengalihkan perhatiannya pada sebuah baju tanpa lengan, "Apa yang kau bicarakan Forehead? Siapa suruh kau berpenampilan seperti itu."

"Ku pikir Ino-chan salah mengerti maksud Sakura-chan," Hinata menempatkan sebuah gaun malam seksi di depan Sakura. "dia pasti sedang di bully seseorang! perkataanku benarkan Sakura-chan?"

Urat pada dahi Sakura semakin terlihat mendengar ucapan Hinata.

"Apa itu benar?! Siapa yang berani melakukan itu padamu Forehead biarkan aku yang menghajarnya." Mata Ino berapi-api seketika membuat Hinata dan Sakura sweatdrop.

Sakura memegang bahu Ino. "Kita sudahi saja acara belanja gilamu hari ini Pig. Aku benar-benar ingin pulang sekarang."

Hinata menahan tangan Sakura. "Sebenarnya..." Mata Hinata berbinar senang. "ada kafe yang ku incar di sini."

Seharusnya ini menjadi hari libur yang menenangkan, bermanja dengan kasur kesayangannya, tidak perlu bertemu dengan matahari dan tidak perlu repot-repot menggunakan semua sumpalan sialan ini di tubuhnya. Ternyata perubahan perlu usaha yang kuat, Sakura membalik-balikkan buku menu dengan bosan, semua yang ada di sana hanya makanan manis.

"Apa di sini tidak ada pancake tomat?" tanya Sakura asal-asalan dengan menatap Hinata bosan.

"Sakura-chan! Aku bisa membuatkanmu selusin pancake tomat di Apartemen, hari ini makan yang ada di menu saja."

Ketika dia melihat Ino sebagai kakak yang begitu parnoan dan cerewet, dia merasa Hinata seperti adiknya yang bodoh dan begitu mengaguminya di saat bersamaan, "Aku akan mengingat janjimu Hinata."

"Kenapa kafe ini tidak menyediakan salad. Lihat! Lihat!" Ino mengarahkan buku menu ke depan wajah Sakura. "semuanya makanan manis dan penuh lemah. Jika terus seperti ini berat badanku pasti naik lagi, sialan."

"Berat badan tidak akan membunuhmu Ino-chan. Kau selalu saja makan sayur-sayur mengerikan itu, ku rasa sebentar lagi kau bisa berubah jadi kambing."

"Justru aku merasa heran," Ino menusuk-nusuk perut Hinata dengan kesal. "kau tukang makan tapi sialnya tubuhmu tidak gemuk sama sekali."

Ah Sakura lupa, selain itu Ino adalah penggila diet garis keras untuk membuat tubuhnya seksi sedangkan Hinata? Dia penggila makanan tergila yang pernah dia kenal. Ia rasa hanya dia yang normal di sini.

Mata Sakura melirik meja di pojok ruangan, "Hentikan adu mulut bodoh kalian, ku rasa kekasihku sudah merindukanku di rumah."

"Aku tidak akan membiarkanmu tidur seharian lagi Forehead."

Sakura memutar bola matanya bosan, ketika itu mata emerald-nya bertemu dengan mata laki-laki yang duduk di pojok ruangan kafe. "Setidaknya aku harus menyingkirkan satu orang untuk membuat hariku lebih tenang."

Hinata mengurungkan niatnya untuk menyendok pesanannya, "Siapa? Kurasa Ino-chan."

"Sebelum Forehead melakukan itu akan membunuhmu lebih dulu Hinata."

"Aku tidak bisa membuang pembantu pribadiku Hinata," Sakura kembali melirik ke sudut ruangan. "itu tidak penting hanya seekor ayam genit."

"Sialan kau Forehead."

"Ayam!" segera saja Ino dan Sakura membekap mulut Hinata. "berikan saja padaku, kita bisa makan sup ayam."

Sakura menyangga wajahnya dengan satu tangan, "Terima kasih Tuhan. Mereka berdua benar-benar gila."

.

.

.

Perubahan.

.

.

.

Sudah dua hari Ino pulang ke Rumah keluarganya, menyisakan dirinya sendirian di Apartemen, sebenarnya itu bukan hal yang terlalu buruk tidak ada lagi yang memarahinya ketika bermalas-malasan seharian. Hanya saja tidak ada lagi yang mengurus Apartemen, menyiapkan makanan, air hangat, berbelanja, menyapu, mencuci piring, tidak untuk mencuci pakaiannya karena Ino juga malas untuk mencuci pakaiannya sendiri.

Dia jarang sekali pergi ke supermarket terutama tanpa Ino, "Apa yang harus ku beli sebenarnya. Aku tidak terlalu suka memasak."

Sakura masih berpenampilan gendut. Setidaknya beratnya turun satu kilo karena panas sumpalan yang dia pakai.

"Huft... keluarlah Uchiha. Ini sudah hampir satu bulan kau menjadi penguntitku." Dia masih terfokus pada bahan-bahan makanan di depannya. "apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?"

Harus Sakura akui jika memang Sasuke itu tampan dan menawan, laki-laki itu adalah tipe ideal semua perempuan yang ada mungkin, dia juga tidak akan mungkin membantah jika semua yang ada pada Sasuke adalah fakta nyata.

"Aku ingin dirimu."

Matanya melirik Sasuke dengan pakaian serba hitam milik laki-laki itu, "Sepertinya kau sudah profesional soal menguntit."

Nyatanya masih sulit untuknya membahas soal cinta.

"Mendapatkanmu jauh lebih sulit dari pada yang kau bayangkan."

"Benar 'kah?" Sakura menghela napas panjang. "tidak ada pilihan lain. Mau makan bersamaku?"

"Kau mengajakku kencan?"

"Kau tidak akan sudi berkencan dengan kantung lemak sepertiku, aku tidak memaksamu ikut tenang saja Uchiha."

Sakura melirik Sasuke yang sedari tadi tidak menyentuh buku menu sama sekali, apa memandanginya sudah membuat perut Sasuke itu kenyang, ah! Sekarang dengan semua sumpalan yang menempel pada dirinya, dia sudah terlihat seperti kue mochi. Semoga Ino tidak akan tahu jika dia mengajak Sasuke untuk menemaninya makan hari ini.

"Selama satu tahun kau ke mana?"

Sakura berhenti membalikan buku menu. "Hanya sebuah kecelakaan kecil."

"Satu tahun bukan waktu yang sebentar, cukup untuk empat musim dan menciptakan beberapa kenangan bermakna." Sasuke membuka buku menunya. "kecelakaan kecil tidak akan membutuhkan waktu satu tahun untuk sembuh."

"Aku tidak butuh pendapatmu," Sakura menyudahi kegiatan memilih menu makanannya. "memangnya apa pedulimu."

Sasuke menatapnya tajam. "Aku khawatir padamu," Sasuke menyenderkan punggungnya. "selalu bertanya bagaimana hari-harimu, apa kau sedang senang atau sedih, apa kau sudah makan, apa kau baik-baik saja. Apa kau memikirkanku juga."

"Aku tidak memintamu melakukan itu."

"Aku melakukannya karena aku suka."

Sakura menatap makanan yang sudah di sajikan, "Kau tidak bisa berharap apa pun dariku Uchiha karena aku tidak bisa."

"Itu tidak masalah," Sakura menatap wajah Sasuke. Dia heran kenapa laki-laki seperti Sasuke begitu terobsesi padanya, "Kau bisa berharap apa pun dariku Sakura."

"Aku tidak berharap dari seekor ayam."

Sakura melahap makanannya dan mencoba menghiraukan keberadaan Sasuke. Mungkin sebuah kesalahan membuat Sasuke menjadi teman makannya hari ini.

"Sialan," Sasuke mengacak rambutnya.

Mata Sakura sedikit melebar melihat Sasuke tertawa begitu saja. "Tunggu saja Sakura. Aku akan mencuri sesuatu darimu kali ini."

.

.

.

To be continued.

A/N :

Akhirnya bisa update juga, saya kebanyakan piknik sampek lupa nerusin fic-nya yosh! Jangan lupa kesan dan pesan ya minna-san.

Balasan review :

Bang kise ganteng : untuk Kouji belum waktunya tampil, diikuti dulu alur SasuSakunya baru kalo ada scene pas aku masukin Kouji di dalamnya. Terima kasih udah review.

Taka momiji : terima kasih udah setia sama review ya.

Shaulaamalfoy : terima kasih udah review.

Undhott : terima kasih udah review.

UchiHaruno Sya-chan : saya bingung mau nanggapin gimana ini hahaha tapi terima kasih udah review.

Hyuugadevit-Chery : saya nggak bisa ngeramal bakalan sampai berapa, yang penting ceritanya sampai complit aja udah syukur banget saya hahaha terima kasih udah review.

Guest : kalo di pakek logika orang normal sih emang chapter kemarin rada lebay gimana gitu, tapi chapter kemarin itu inspirasinya dari kisah nyata bahkan lebih parah dari itu. Saya sih nggak masalah kalo alurnya mudah di tebak, terima kasih udah review.