Teet! Teeet! Teet!

"Oh sial. Kenapa Pig harus pulang pagi-pagi buta seperti ini."

Tanpa mencuci muka Sakura berjalan menuju pintu utama, tidak memakai sumpalan, rambut acak-acakan, jangan lupa garis putih yang tidak begitu kentara di pipinya. Jangan coba tanyakan pakaiannya, kaos kebesaran dan hot pants, jika Ino bertemu dengannya seperti ini dia sudah siap di siram air dingin. Yang terpenting sekarang hanya membuka pintu untuk Ino dan kembali tidur.

Sakura berhenti sebentar untuk mengecek bau badannya, dia rasa tidak terlalu bau setelah seharian bersama Sasuke kemarin dia tidak mandi sama sekali. Dia tidak peduli jika orang menganggapnya menjijikan, lagi pula dia hanya di Apartemen seharian.

"Berengsek kau Pig pulang sepagi ini." omel Sakura dengan masih menutup mata.

"Sa-Sakura-chan?"

Sakura menaikkan satu alisnya ke atas, sejak kapan Ino memanggilnya dengan begitu manis, dia jadi teringat seseorang. Sedikit bodoh tapi cantik, tukang makan tapi tetap kurus, dan begitu memujanya, yah... sangat Hinata sekali.

Sakura membuka matanya kasar. "Hinata?!"

Sakura memandang bosan tiga koper besar di depannya, sebenarnya derita apa lagi yang Tuhan tuliskan untuknya, hidupnya sudah cukup damai di Apartemen hanya ada Ino yang selalu mengomelinya. Dia menatap tajam Hinata, apa yang sebenarnya perempuan gila di depannya ini pikirkan, membawa tiga koper besar ke Apartemennya.

"Wow Sakura-chan badanmu berubah. Cantik," Mata Hinata berbinar senang. "bagaimana kau menguruskan badan hanya dengan waktu semalam."

Mulutnya sudah tidak bisa berkata apa pun untuk menjawab Hinata. "Apa arti semua koper ini Hinata? Dan oh sial! Ini masih pagi sekali."

"Aku pindah ke sini."

Tuhan bolehkah dia pingsan sekarang? Ah! Tidak mungkin ini hanya mimpi buruknya.

Ini pasti karma untuk dosanya pada Ino, dia perlu bangun agar mimpi gila ini cepat berakhir. "Aku harus tidur lagi."

It's Me

.

.

.

It's Me

Disclimer : Om Masashi Kishimoto.

Author : Hanna Hoshiko

Pairing : Sasuke U. – Sakura H.

Rated : T+

Genre : Romance/Hurt/Comfort/Drama.

.

.

.

Warning!

Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author

Cerita ini akan update setiap author gak lagi sibuk di RL dan gak lagi kena WB.

Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.

.

.

.

Don't Like Don't Read.

.

.

.

Mempersembahkan.

"Berhenti mengikuti di kampus Uchiha," moodnya pagi ini mendadak buruk, "aku benci menjadi pusat perhatian."

Ia begitu tidak nyaman dengan pasang-pasang mata yang menatapnya benci karena Sasuke berjalan di sampingnya, dia sangat tahu jika Sasuke begitu populer sama seperti dirinya dulu hingga mempunyai fans fanatik. Setelah semua usahanya ini dia tidak ingin lagi terjerat dengan apa yang namanya fans, dia ingin menjadi perempuan biasa saja, tidak populer dan hidup damai di dunianya sendiri.

"Harusnya kau sudah terbiasa. Mereka dulu juga memujamu." Sasuke hari ini menggunakan tas samping. Laki-laki itu tahu cara membuat dirinya tampak luar biasa.

Sakura mencoba mengabaikan keberadaan Sasuke. Dan akan selalu seperti itu.

Urat di dahi Sakura timbul perlahan ketika merasakan tangan Sasuke menusuk-nusuk pipinya. "Berhenti mengganggu sialan."

"Sialan?" Sasuke berdiri di depan Sakura. "aku tidak asing dengan itu. Kau bertemu denganku di klub malam 'kan?"

"Kau terlalu terobsesi denganku Uchiha."

Sakura kembali mengabaikan Sasuke lagi dengan melewatinya begitu saja.

"Berhenti mengabaikanku kantung lemak," Sasuke menaruh telunjuknya di dahi Sakura. Laki-laki itu berhasil menyusulnya. "bagaimana jika Sasuke-kun? Itu cocok untukmu."

Sasuke tersenyum tipis.

"Jangan bercanda dan tutup mulut sialanmu. Menyingkirlah." Dia kembali melewati Sasuke.

Sasuke terdiam. "Kau selalu saja seperti itu. Tidak tersentuh dan begitu jauh, kau tidak membiarkanku masuk dan menjadi bagian hidupmu,"

Sakura mengeratkan genggaman pada buku mata kuliahnya. Sasuke tepat berada di belakang, dia sadar sekarang Sasuke tengah berbicara serius dengannya, dulu Sasuke tidak pernah seperti ini, laki-laki itu hanya akan terus menggodanya. Memang benar waktu satu tahun dapat mengubah orang dengan begitu cepat.

"aku memang tidak tahu apa yang terjadi padamu satu tahun belakangan ini. itu karena kau tidak membiarkanku tahu Sakura, kau memang seperti ini, dingin dan menutup diri."

"Berhenti membohongi dirimu Uchiha," Sakura tersenyum meremehkan. "kau terlalu terobsesi dengan diriku yang dulu, harusnya kau lihat dengan kedua matamu Uchiha jika Sakura yang kau kagumi sudah hilang, karena yang tertinggal hanya aku."

"Apa itu masalah jika yang tertinggal hanya dirimu?"

"Tentu saja," Sakura mengambil beberapa langkah maju.

Dia ingin mengambil pelajaran dari apa yang dialaminya satu tahun belakangan ini, membiarkan Sasuke bahagia dengan orang yang memang diinginkan laki-laki itu, dia ingin memulai dari hal dasar seperti itu. Sakura menoleh pada Sasuke, memberikan senyuman terbaiknya. "karena itu menyakitimu."

.

.

.

Mata di balik lensa.

.

.

.

Sakura melepas topi dan membiarkan rambutnya berjatuhan, dia menghela napas pelan melihat Hinata dan Ino berganti, Ino terlihat bingung dan juga kesal di saat bersamaan sama persis dengannya beberapa hari lalu. Sakura membuka jaketnya, ikut duduk berhadapan bersama kedua sahabatnya.

"Jelaskan semuanya Sakura."

"Jelaskan padanya Hinata."

Hinata tersenyum polos, "Ino-chan~ aku akan tinggal di sini, Ayahku mengusirku karena ada yang melapor padanya jika aku... jika aku pergi ke klub malam. Aku begitu sedih ketika Ayahku meletakkan koper-koperku di luar Rumah, aku tidak tahu akan tinggal di mana yang terlintas hanya Sakura-chan! Sakura-chan! Dan akhirnya aku bisa menemukan tempat tinggal."

"Hentikan drama bualanmu Hinata. Aku tahu kepala keluarga Hyuuga tidak seketat itu, jelaskan alasanmu yang sebenarnya Hinata!"

"Sakura-chan~ bantu aku menjelaskannya pada Ino-chan."

Sakura tertawa sarkastik. "He! Tidak akan. Kau urusi sendiri saja penyihir jelek itu, aku tidak akan membantumu tukang makan. Kau sudah membuatku bangun pagi-pagi hanya untuk mendengar hal gila darimu."

"Kau juga harus bertanggung jawab tukang tidur."

"Sebenarnya alasannya hanya mudah saja," Hinata melompat ke arah Sakura dan memeluknya erat. "aku ingin lebih dekat dengan kalian berdua! Dan membuat Ino-chan dan Sakura-chan lebih normal."

Urat-urat di dahi Ino dan Sakura muncul seketika. "Kami sudah normal." Jawab mereka bersamaan.

"Aku tidak masalah kau mau tinggal di sini, aku dulu juga salah membeli Apartemen yang terlalu besar untuk kami berdua. Tinggallah sesukamu di sini, kau bisa memakai kamar paling ujung di dekat kamar mandi."

Sakura menguncir rambutnya tinggi. "Hinata bisa membantumu mengurus Apartemen Pig."

"Jika aku dan Ino-chan mengurus Apartemen lalu Sakura-chan?"

"Dia?" Ino memandang bosan pada Sakura. "tugasnya mengantar dan mengambil pakaian di loundry dan belanja, dia itu sangat pemalas dan tukang tidur. Dan juga dia adalah makhluk termenjijikan di antara kita."

Sakura beranjak dari sana, "Yeah! Terkadang di waktu-waktu tertentu air itu menakutkan bagiku."

"Apa Sakura-chan tidak bisa berenang?"

Ino beranjak, meninggalkan Hinata sendirian dengan pertanyaannya. "Kenapa orang sepertinya bisa masuk fakultas kedokteran Tuhan."

.

.

.

Mata di balik lensa.

.

.

.

Sasuke berjalan dengan santai ke pintu masuk, menyapa sahabat karibnya yang sama-sama terlihat baru saja tiba, meski kebanyakan mereka masih melanjutkan pendidikan di tempat yang sama tapi waktu untuk berkumpul itu sudah sangat jarang terjadi. Malam ini mereka memutuskan untuk berkumpul di klub malam ternama, menghabiskan malam dengan berbicara dan sedikit alkohol.

"Yo! Teme, kau terlihat jelek seperti biasanya."

"Hn." Dan Sasuke bukan orang yang begitu hangat dan penggoda sebenarnya.

Bruk. Mata Sasuke menatap orang yang menabraknya itu dengan benci, rahangnya mengeras dan terangkat ke atas, sebuah seringaian lebar muncul di wajah tampannya. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, berjalan perlahan mendekati orang yang menabraknya, orang itu terlihat setengah mabuk.

Ia mencengkram baju orang itu. "Perhatikan langkahmu bajingan."

"Hiraukan dia Teme. Dasar orang tidak berguna."

Kedua mata berbeda warna lensa itu menatap orang itu jijik, mungkin mereka berdua terlihat begitu berbeda tapi sifat kejamnya hampir di miliki semua teman-teman sepergaulannya, mereka adalah berandalan SMA dulu. Raut keduanya berubah datar dan meninggalkan orang itu begitu saja.

Naruto melambai alay pada Sai.

"Sai-kun~"

"Itu menjijikan rubah sialan." Sai tersenyum begitu lebar hingga kedua matanya menyipit.

"Apa Shikamaru tidak datang?" Sasuke duduk di depan Sai, "Neji bisa kau memesankan sesuatu untuk kita."

Neji mengarahkan pandangannya pada Sasuke. "Apa kau sekarang penyadang cacat Uchiha?"

"Oh! Neji aku ingin ramen juga, pesankan dua porsi besar untukku."

Mata pemuda Hyuuga itu menatap Naruto tajam, "Haa~ kau tidak berubah Naruto. Ini klub malam bukan kedai ramen, Shikamaru akan datang bersama Kiba beberapa menit lagi."

Melihat mereka berenam duduk seperti ini mengingatkan Sasuke pada masa lalu, sejak SMA mereka sudah keluar masuk klub malam, mengenal dunia malam yang begitu kejam, mereka tumbuh dengan kekerasan dunia malam. Menjadi berandalan paling di segani oleh seluruh sekolah yang ada, berlagak seperti seorang penguasa, tapi itu tidak membuat mereka menjadi seorang yang bajingan.

Setidaknya mereka tidak pernah membully tanpa alasan.

Kiba meletakkan gelasnya, "Teringat masa lalu he?"

"Sedikit. Sebenarnya aku rindu saat kita tawuran bersama." Sai meraih gelasnya. "momen itu adalah momen yang paling ku sukai."

"Apa kita perlu menjadi Yakuza agar bisa mengulang itu?" Naruto meletakkan sumpitnya. Dua mangkok besar itu kosong tidak tersisa.

"Sebelum menjadi Yakuza Temari akan membunuhku lebih dulu." Shikamaru menguap lebar. Menyandarkan punggungnya begitu saja.

Neji menutup bukunya dan mengambil gelasnya. "Kita bisa mengulangnya, jika kau bersedia kami hajar."

Semua yang berada di sini tipikal orang yang dingin, mungkin Naruto dan Sai yang agaknya terlihat hangat dan bersahabat pada orang lain, jangan tanyakan yang lainnya. Bertatapan dengan mereka terkadang masih menakutkan.

"Hee~ enak saja. Aku masih belum menemukan jodohku, mungkin di sini aku bisa menemukannya." Mata Naruto berbinar melihat perempuan-perempuan berpakaian seksi lewat silih berganti. "haa~ harusnya dulu aku mendapatkan Sakura-chan saja. Ups!"

Semua mata melirik ke arah Sasuke.

"Sakura ya? Gadis itu menghilang begitu saja. Aku tidak pernah mendengar kabarnya." Kiba melihat es batu di dalam gelasnya dan menerawang jauh ke masa lalu.

Bukan rahasia lagi jika Sasuke tergila-gila dengan Sakura, sadar atau tidak gadis sempurna angkatan mereka membuat laki-laki itu berubah. "Ku harap dia kembali. Teme sudah menjadi penguntitnya selama satu tahun."

"Kau menguntit Sakura, Sasuke?!" ucap Neji tidak percaya.

"Hn, hanya memastikan sesuatu."

Neji tertawa meremehkan. "Dengan waktu satu tahun? Kau memastikan jika kau sudah sangat tergila-gila dengannya Uchiha."

"Hn," Sasuke meminum pesanannya. "Sai apa Yamanaka pernah berbicara tentang Sakura padamu?"

"Ino jarang menceritakan hal selain kami semenjak aku pindah ke Hokkaido, kami selalu berbicara tentang kami, dia terlihat baik-baik saja tanpa membicarakan Sakura."

Sasuke menghela napas berat. "Apa kau tahu Yamanaka cuti kuliah satu tahun?"

Kekasih sialan Sai itu sudah menipunya, jika saja Karin tidak menyuruhnya ke gedung fakultas kedokteraan setiap hari dia tidak akan tahu bahwa Sakura sudah kembali, dan harus diakuinya juga itu membuatnya amat terpukul. Ketika tahu jika orang yang kau tunggu bukan lagi orang yang kau kenal dulu.

Semua mata menatapnya tidak percaya kecuali Sai, "Ya, dia sudah mengatakannya padaku. Dia berkata ada hal mendesak yang tidak bisa ia lakukan jika masih harus kuliah, daripada kuliahnya berantakan dia lebih memilih cuti satu tahun."

"Kau percaya alibinya?" Sasuke bertanya dengan nada sombong.

"Ada apa denganmu Sasuke?" Shikamaru menatap Sasuke dengan serius.

Dia akan mendapatkan Sakura kali ini.

Sasuke menyandarkan punggungnya, meletakkan gelasnya yang sudah kosong begitu saja ke meja. "Sakura sudah kembali."

.

.

.

Mata di balik lensa.

.

.

.

Sasuke memakan sarapannya di balkon dengan tenang, hari ini adalah hari pertamanya menempati Apartemen barunya, sangat luas untuk di tempati satu orang, tapi itu tidak masalah dia terbiasa sendirian. Setidaknya di sini tidak ada Itachi yang akan mengusik kehidupannya, Itachi merupakan makhluk menyebalkan tapi sangat populer.

Bahkan Karin tergila-gila dengan kakaknya, sebenarnya dia juga heran kenapa Karin bisa tertarik pada makhluk menyebalkan seperti Itachi, bahkan kakaknya tidak pernah melirik Karin.

Sepertinya nasibnya sama dengan Karin.

"Kau merusak pagi indahku Itachi," Sasuke menelan sarapannya. Bahkan belum dua hari ia pergi dari Rumah, kakaknya sudah merindukannya. "aku tidak memiliki jadwal kuliah hari ini, aku ingin menjadi pengangguran seharian,"

Sasuke membenarkan posisi ponsel di telinganya.

Sasuke memandang lurus bangunan Apartemen di sebrang Apartemennya. "aku tidak ingin melihatmu di Apartemenku hari ini," Sasuke tertegun melihat sosok wanita cantik di sebrang.

Tubuh idealnya tertimpa sinar matahari pagi, rambut panjangnya yang berantakan, tank top hitam yang membalut tubuh putihnya, apa matanya sekarang sedang berimajinasi? Gadis sempurnanya berdiri di Apartemen sebrang dan sedang menyiram tanaman dengan imut di balkon.

"Aku sudah gila," dengus Sasuke tidak percaya. "sepertinya hari ini aku memiliki kegiatan yang cukup melelahkan. Ku tutup."

Sasuke melempar ponselnya ke meja beigtu saja.

Sasuke membuat semua poninya menjadi menghadap ke belakang, dia sudah menyusun rencana untuk membuat perempuan sialan itu jujur padanya, sepupunya juga terlihat akrab dengan perempuan pujaannya, lain kali dia akan memanfaatkan sepupunya itu.

"Sasuke! Apa yang kau lakukan di sini?" Karin melihatnya dengan tatapan heran. "apa-apaan rambutmu itu?! Lihat teman-temanku meleleh semua." Protes Karin dia biarkan berlalu.

"Minggir Karin aku harus mencari seseorang." Sasuke berdecak kesal melihat Karin dan dua temannya hanya diam.

"Siapa?! Biasanya kau ke sini hanya untuk menemuiku. Apa ada gadis jelek di sini yang membuatmu tertarik?" Karin menatap sekeliling sombong. "bahkan aku yang cantik seperti ini tidak bisa menaklukanmu."

Sasuke melewati Karin. "Pulang dan berkacalah Karin."

"Sasuke!" Karin berteriak keras mendengar perkataannya, dia hanya mengangkat satu tangannya ke atas sebagai balasan.

Dia hampir bertanya pada semua mahasiswa fakultas kedokteran untuk mengetahui keberadaan Sakura, mereka bahkan tidak tahu ada mahasiswa fakultas kedokteran mempunyai rambut warna merah muda, ah... itu mungkin faktor fisik Sakura sekarang, coba saja jika dia sempurna seperti dulu pasti tidak susah menemukannya.

"Hyuuga!" akhirnya dia menemukan seseorang yang pasti tahu keberadaan Sakura. "kau tahu di mana Sakura?"

"Uchiha-san mencari Sakura-chan ya? Dia ada di Perpustakaan." Sepupunya itu terlihat berpikir keras. "sampaikan juga jika aku pulang duluan."

"Hn."

Sasuke mendudukan dirinya di depan Sakura, "Ha~ ini bukan malaikat yang ku lihat tadi pagi." Ia memandang wajah tidur Sakura dari samping, yang dilihatnya tadi pagi dan saat di Klub malam itu pasti Sakura, bukan perempuan di depannya ini.

Perpustakaan lumayan sepi, mungkin hanya berisi beberapa mahasiswa yang tengah sibuk mencari bahan untuk sikripsinya, tapi Sakura justru menjadikannya tempat untuk tidur siang. Apa dia begadang tadi malam? Niatnya ke sini untuk mencari kepastian dari Sakura, apa daya dia tidak tega membangunkan Sakura, menikmati wajah tidur Sakura adalah momen langka yang jarang bisa dia lihat.

"Apa yang membuatmu seperti ini Sakura, apa yang terjadi padamu satu tahun lalu," Sasuke mengelus rambut Sakura. "kau bisa membaginya denganku. Aku akan selalu berada di belakangmu setiap saat yang bahkan kau tidak pernah tahu, kau tidak perlu bertanya kenapa."

Tanpa peduli keadaan Sakura dia tetap terus berbicara sendirian.

Dia tersenyum pada Sakura.

"Jawabannya tidak sesulit ujian matematika atau menggambar desain sebuah gedung," Sasuke mengalihkan pandangannya keluar perpustakaan, kekehan pelan keluar dari mulutnya.

Mata Sakura perlahan terbuka, "Karena aku suka ketika aku mencintaimu."

.

.

.

Mata di balik lensa.

.

.

.

"Kau akan terus berpenampilan seperti ini Sakura-nee?" anak laki-laki itu masih menatap layar untuk menghitung belanjaanya. "aku merindukan Sakura-nee yang cantik." Ucapnya lesu.

Sakura mendengus pelan.

"Jadi kau hanya merindukan kecantikanku? Semua laki-laki memang seperti itu." Ia melihat ke arah lemak sumpalannya.

"Aku hanya bercanda bodoh. Tidak semua dari kami seperti itu, ku akui kami memang pecinta makhluk cantik tapi perlu kalian tahu kami mencintai dari hati," Sakura menatap laki-laki yang masih berstatus siswa tingkat dua SMA itu. "tapi ku pikir Sakura-nee tidak akan percaya yang ku katakan, karena alibi itu sudah sering digunakan."

"Terkadang wanita juga buta pada pria dan tanpa berkaca mereka menyalahkan pria begitu saja," Sakura meletakkan sebuah ice cream di kasir. "mereka hanya manusia Sasori."

Sasori mengangguk setuju, "Kau benar Sakura-nee, akan ku beritahu sesuatu... pria akan melakukan apa pun untuk wanita yang di cintainya. Apa Sakura-nee pernah merasakan itu?"

"Maksudmu diperjuang 'kan?"

"Ya."

Sakura terdiam, mengingat kembali kisah cinta pait masa lalunya. Nyatanya dia hanya pelampiasan. "Suatu saat aku pasti merasakannya, aku masih menikmati kesendirianku, apa?" Sakura melirik Sasori genit. "kau mau menjadi kekasihku hahaha?"

"Aku sama sekali tidak tertarik dengan tante-tante sepertimu Sakura-nee." Sasori memberikan belanjaannya. "semuanya empat ratus lima belas yen, semoga harimu menyenangkan Nyonya."

Sakura memincingkan tajam kedua matanya, "Bocah, umur kita bahkan hanya berselang tiga tahun, aku belum setua itu kau tahu, kau lupa bagaimana wajahmu saat melihatku pertama kali? Seperti orang bodoh hahahaha bye~"

"Semoga hari buruk Sakura-nee."

Sasori adalah siswa kerja part time, awal-awal dulu Sakura tidak pernah mengajak Sasori berbicara hanya seperti pembeli biasanya, tapi setiap kali dia ke sana Sasori selalu mengajaknya bicara tanpa henti. Sebenarnya itu membuatnya risih tapi berbicara dengan Sasori seperti berbicara dengan Ino, Sasori begitu cerewet hampir seperti adik laki-laki kecilnya.

Terkadang dia terlalu menganggap orang-orang seperti keluargnya sendiri. Yang tidak pernah ia miliki.

"Akhirnya aku menemukanmu."

Sakura menjauhkan ice cream dari mulutnya. "Apa yang sedang kau lakukan di sini?"

"Menemanimu," Sasuke tertawa pelan. "kau sendiri yang menyebutku fansmu."

Dan ada seorang lagi yang begitu usil di hidupnya, laki-laki yang begitu terobsesi padanya, Sakura tidak begitu tahu apa yang di lihat laki-laki sempurna seperti Sasuke pada dirinya yang seperti ini. kenapa semua orang yang datang di hidupnya sekarang selalu membuatnya bertanya-tanya.

"Ne Sasuke."

"Hn?"

Sakura memperhatikan kakinya yang menapaki tangga kuil. "Apa semua laki-laki memang seperti itu?"

"Seperti apa?"

"Ya kau tahu maksudku." Sasuke melirik Sakura.

"Kau tidak memberitahuku Sakura," Sasuke mengacak rambut Sakura. "katakan dengan jelas, aku tidak akan menertawakannya. Aku janji." Sasuke mengangkat dua jarinya ke udara.

"Apa memang laki-laki itu seperti itu, melihat perempuan dari penampilan tapi seseorang juga mengatakan jika kalian tidak seperti itu, kalian hanya pecinta kecantikan kami tapi kalian mencintai kami dari hati," Sakura terkekeh pelan. "sejujurnya aku tidak bisa percaya pada apa pun tentang laki-laki, aku belum yakin untuk percaya. Tidak biasanya aku berbicara seperti ini padamu, kau harus berterima kasih pada dewa hari ini bajingan beruntung."

Sasuke tertawa keras. "Apa kau pernah bertanya pada Ayahmu, kenapa dia menikahi Ibumu? Dia tidak akan menjawab karena Ibumu cantik gadis nakal," Sasuke menghela napas pelan. "dia pasti akan menjawab karena dia mencintai Ibumu. Ku rasa dewa memberkatiku hari ini, kau harus memperlakukan fans setiamu ini dengan baik setiap hari."

"Aku juga heran padamu, kenapa kau begitu terobsesi padaku?"

"Karena aku mencintaimu."

Sakura menggoyangkan lonceng dan melempar koinnya, memejamkan kedua matanya, "Ku mohon beri aku sebuah kebahagian kecil yang sederhana."

"Aku juga."

Sakura memandang Sasuke yang tengah terpejam, "Buat sendiri permintaanmu sialan."

"Permintaanmu juga permintaanku Sakura."

"Sebenarnya apa yang masih membuatmu mencintaiku?"

Sakura berbalik, berniat untuk kembali pulang sebelum mata di balik lensa kacamata itu menghentikan gerakannya, mata yang begitu ia rindukan tengah menatapnya sendu, orang yang masih membekas di dalam hatinya. Meski rasanya pada laki-laki itu sudah hilang tapi getir menyakitkan itu masih berdenyut sakit, membuat air matanya berlinang.

Sasuke terdiam melihat mantan kekasih Sakura berdiri terdiam. Angin menerbangkan helaian rambut mereka.

Sasuke tersenyum. "Aku akan memberitahumu sampai kau siap memberitahukannya padaku Sakura," Sasuke menarik wajah Sakura untuk menghadap dirinya.

"kau harus membayar ini lain kali Sakura."

"Eh?!"

Cup. Sasuke membuat bibir keduanya bersatu, Sakura tidak pernah di cium siapa pun selain kekasihnya dulu, ciuman Sasuke begitu berbeda, sangat menuntut dan penuh gairah. Kali ini saja Sakura akan membiarkan Sasuke membawanya pergi, dan melupakan sosok yang tengah berdiri kaku di pintu kuil.

Dia juga ingin bahagia. "Sakura."

.

.

.

To be Continued.

A/N :

Sebenernya saya nggak terlalu pandai bikin scene percakapan antar para laki-laki, dan di atas itu masih coba-coba muehehehe semoga gak ancur-ancur banget. Jangan lupa kesan dan pesan ya.

Balasan review :

Bang Kise Ganteng : karena emang kurang suka tema yang berat karena faktor nulisnya yang kaya gini sih hehehe jadi selalu milih cerita yang simpel-simpel aja de, terima kasih udah review.

UchiHaruno Sya-chan : bukannya gak jelas tapi saya gak tahu mau ngomong apa muehehe :3 terima kasih udah review.

Shaulaamalfoy : terima kasih udah review.

Hyuugadevit-Chery : terima kasih udah review.

Wowwoh geegee : benar 'kah? Saya lebih ngerasa chapter kemarin garing abis :v terima kasih udah review.

Widya-Sslovers22 : orang-orang kayak gitu pasti ada, contoh terdekatnya ya Ibu. Terima kasih udah review.

Mustika447 : terima kasih udah review.

Raizel's wife : saya nggak bisa ungkapin gitu aja alasan Sasuke, masih nunggu scene yang tepat muehehe :v Sasu-chan sama sekali nggak ada hubungannya dengan putusnya hubungan KouSaku. Terima kasih udah.