Sakura mengintip ke luar jendela, hujan deras tengah mengguyur di pagi buta, dia kembali memejamkan matanya, memikirkan peristiwa di Kuil kemarin. Dia sangat berterima kasih pada Sasuke, laki-laki itu bersedia menjadi tameng untuknya, "Mungkin aku butuh jalan-jalan."
Sakura menggunakan setelan olahraganya, menggunakan penutup kepala dan bergegas keluar kamar, belum ada yang memulai aktifitasnya pagi ini.
"Kau mau kemana Forehead?" Ino membuka kulkas, "di luar sedang hujan. Tidak biasanya kau bangun pagi, apa kau mau bertemu dengan laki-laki incaranmu?" Ino menatap Sakura genit.
Sakura mendengus sebal. "Apa aku gila? Aku ingin keluar sebentar. Bisa kita sarapan pasta hari ini?"
"Baiklah."
Hujan mengguyur badannya juga, dia berlari kecil di tengah hujan yang begitu deras, terkadang dia memejamkan matanya hanya sekedar mengingat masa lalu dan merasakan tetesan hujan yang menyentuh tubuhnya. Kali ini dia tidak membiarkan dirinya hancur lagi seperti dulu, dia sudah tidak mempunyai alasan untuk bersedih, perasaannya pada Kouji juga sudah hilang.
Hanya saja rasa sakit itu belum sepenuhnya hilang.
"He.. he.. he!" Sakura berjongkok, memeluk lututnya erat, hatinya begitu sakit.
Hujan terus mengguyur dan merendam tangisannya, harusnya sudah tidak sesakit ini lagi, kejadian itu sudah berlalu satu setengah tahun yang lalu, seharusnya tidak perlu ada yang di tangisinya lagi. Perasaan mereka sudah lama berlalu, tapi kenapa masih sesakit ini, "He.. he.. berengsek!"
"Menghapus luka itu tidak semudah kau memaafkannya."
Sakura tidak merasakan air hujan menyentuh tubuhnya, kepalanya perlahan terangkat, dia sangat tahu siapa yang sedang memayunginya sekarang. "jangan menoleh padaku! Aku tidak bisa melihatmu menangis."
"Memangnya kenapa?" Sakura tersenyum tipis.
Terdengar helaan napas dari Sasuke, "Aku akan membawamu ke ranjang setelah itu."
Tubuh mereka berdua sama-sama basah, Sasuke hanya membawa satu payung yang sekarang digunakan untuk memayungi Sakura.
"Kau tidak akan berani," Sosok Sasuke begitu berbeda dari Kouji, jika dulu Kouji mendekatinya dengan cara yang begitu halus dan manis, Sasuke mendekatinya dengan begitu frontal dan menghalalkan segala cara. Laki-laki itu bahkan tidak masalah jika dia menatapnya dengan benci, dulu Kouji sekali pun tidak pernah mendapatkan pandangan benci darinya. "bajingan berengsek."
Ya, mereka berdua memang pantas untuk dibeda-bedakan.
"Kau menantangku?" Sasuke membuang payung yang dibawanya.
Meraih tubuh Sakura dan menggendongnya di bahu seperti membawa karung beras. "Apa yang kau lakukan?! Kurang ajar!" Sakura memukul punggung Sasuke dengan kuat, "mau kau bawa kemana aku berengsek?!"
Sasuke tertawa pelan, "Ke ranjangku."
It's Me
.
.
.
It's Me
Disclimer : Om Masashi Kishimoto.
Author : Hanna Hoshiko
Pairing : Sasuke U. – Sakura H.
Rated : T+
Genre : Romance/Hurt/Comfort/Drama.
.
.
.
Warning!
Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author
Cerita ini akan update setiap author gak lagi sibuk di RL dan gak lagi kena WB.
Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.
.
.
.
Don't Like Don't Read.
.
.
.
Mempersembahkan.
Sakura terfokus pada dua perempuan di depannya, setelah mantan kekasihnya yang dia temui beberapa hari lalu kini dia harus bertemu dengan dua orang ini, sebenarnya nasib jelek apa yang menimpanya minggu ini. dan apa-apaan perempuan berambut merah ini, menariknya begitu saja tanpa permisi.
"Kau Sakura Haruno 'kan?"
"Apa masih perlu ku jelas 'kan?" Sakura tersenyum tipis, melihat lagi satu-persatu wajah perempuan di depannya. "lama tidak bertemu teman lama. Merindukanku?"
"Wah! Jadi benar dugaanku. Lihat dewi angkatan kita jadi monster lemak mengerikan," Karin membenarkan kacamatanya. "dan lagi dia berani-beraninya menggoda Sasuke, sepertinya Sakura butuh kaca bukan begitu Tayuya?"
"Apa itu benar Sakura? Aku bisa memberikanmu selusin kaca jika kau mau."
Tayuya maju selangkah di hadapannya, mengamati wajahnya dengan jarak dekat. "aku heran apa yang Kouji sukai darimu, kau bahkan tidak seseksi aku, Kouji memang punya selera yang aneh."
Sakura melirik satu orang perempuan yang terdiam dan terus menatapnya sombong.
Sakura tersenyum meremehkan, "Apa benar seperti itu Tsunami?" dia menyentuh rambut Tayuya yang jatuh di depannya, "harusnya kau katakan pada temanmu ini rahasia yang kau simpan."
"Apa maksudnya Tsunami-chan?"
Tsunami menghembuskan napasnya pelan.
"Aku tidak menyimpan rahasia apa pun. Dia hanya menipu kita." Perempuan berambut dark blue itu tersenyum tipis.
Sakura melepaskan rambut Tayuya. "Ayolah, kau tidak pandai berbohong... biarkan dia tahu penderitaanmu. Bukankah kau menyukainya sejak kecil? Katakanlah, aku akan melindungimu jika mereka berdua berani macam-macam."
"Berhenti mengalihkan topik Sakura dan jauhi Sasuke." Karin menatapnya dingin.
"Aku beruntung sekali, dia selalu mengikutiku hampir setiap saat," Sakura menghela napas pelan. "kau bisa jauhkan dia dariku 'kan? Ah~ kau tentu saja ahlinya. Oh! Dan Tsunami, terima kasih untuk satu setengah tahun yang lalu."
Dia melirik Tsunami yang melotot padanya, "Aku mendengar semuanya. Pengakuanmu begitu tulus, aku terharu."
Sakura mengusap matanya main-main kemudian tertawa keras.
"Apa maksud semua itu sialan?!" Tayuya mengarahkan tangannya berniat menampar Sakura.
Tap.
"Maaf kulitku sensitif. Apalagi dengan tangan jalang seperti ini, aku takut kulitku nanti infeksi," aura di sekitar Sakura menggelap. "dengar... aku lebih suka menjadi pembully."
Karin mendengus sombong. "Kau tidak akan bisa melakukan apa pun pada kami."
"Kau yakin dengan ucapanmu?" Sakura memandang Karin remeh, dia melihat ke arah Tayuya. "dengan posisi seperti ini aku bisa saja mematahkan tanganmu jika aku mau. Pergilah aku sibuk hari ini, aku tidak ingin bertemu kalian lagi."
Tayuya mendengus tidak percaya.
"Dasar perempuan sombong," Tayuya menarik tangannya kasar. "asal kau tahu juga gendut, kami bukan tandinganmu."
"Benar 'kah?" Sakura tersenyum tenang. "jujur aku tidak begitu bahagia bertemu dengan kalian, terutama kalian berdua Tsunami, Tayuya. Cih, kalian membuat moodku buruk."
Tsunami menatap benci padanya. "Tutup mulutmu Haruno sialan. Apa kau tidak sadar posisimu sekarang?"
Tap.
Tangan Karin yang akan menjambak rambutnya terhenti, dia mengangkat tangannya berniat menampar Karin hingga sebuah kekehan pelan keluar dari mulutnya, membuat tangannya berhenti di udara. "Melawan kekerasan dengan kekerasan lebih rendah dari amatir bukan?"
.
.
.
Dua orang.
.
.
.
"Bagaimana ujian kalian?"
Hinata berkedip beberapa kali melihat kedua sahabatnya, "Apa kita harus membahas itu? Pikirkan liburan saja," wajah Ino begitu frustasi. Itu bisa ditebak jika ujiannya tidak beres. "Oh~ ayolah kita pikirkan liburan saja, mau kemana? Hokkaido?!"
"Tidak. Kau pasti akan menjadikanku dan Hinata kacang," Sakura mengunyah makanannya. "kau tahu aku ingin liburan bukan jadi kacang."
Ino menatapnya sengit.
"Kau sering bertemu Uchiha sialan itu 'kan?"
"Ehk!" Sakura menutupi mulutnya yang tersedak. "Hinata air! Ambilkan aku air, apa kau gila? Sejak kapan aku senang bertemu Uchiha berengsek itu."
Hinata meletakkan segelas air putih di dekat Sakura. "Apa Uchiha-san berhasil bertemu Sakura-chan di perpustakaan?"
"Apa?!" Sakura menatap horror pada Hinata, "Jangan-jangan waktu itu kau yang memberitahunya? Kau tahu derita apa yang harus ku lalui waktu itu, punggungku serasa akan remuk kau tahu Hinata."
"Hee~ benar 'kah? Apa Uchiha-san menendang punggumu?" Mata Hinata berbinar menyesal, dia mengatupkan kedua tangannya di depan dada. "maafkan aku Sakura-chan."
"Si berengsek itu membuatku pura-pura tidur dengan posisi duduk selama dua jam, kau membawakan nereka untukku Hinata. Pig apa aku harus memaafkannya?" Sakura terdiam melihat Ino yang terpesona pada Hinata. "sepertinya aku harus."
Mata Ino melirik genit Sakura. "Apa kau tertarik dengan Uchiha berengsek itu Forehead?"
Siapa pun laki-laki yang akan Sakura sukai nanti baginya itu tidak masalah, "Kenapa aku harus tertarik dengannya?" jika laki-laki itu bisa memastikan kebahagiaan sahabatnya.
"Kenapa? Apa itu terlarang bagimu," Ino menelan makanannya. "dia orang yang bisa membuatmu tersenyum."
"Ku pikir Ino-chan akan menyingkirkan Uchiha-san. Mendengar kerasnya hidup kalian berdua dulu," Hinata menatap cangkir tehnya. "pasti sulit untuk Ino-chan melewati semua itu bersama Sakura-chan, karena itu aku sempat berpikir Ino-chan tidak akan semudah itu membiarkan laki-laki mendekati Sakura-chan terutama semacam Uchiha-san."
"Kau bisa menebaknya ya,"
Ino menaruh sumpitnya. "pikiran kita sama, Uchiha berengsek itu ku akui dia sempurna tapi aku tidak bisa menjamin dia sempurna untuk Sakuraku sekarang, aku tidak bisa membiarkan Sakura terluka lagi. Sudah cukup aku melihat dia terluka dulu, aku tidak ingin melihatnya lagi..." Ino tersenyum tipis. "tapi laki-laki itu merubah pemikiranku."
"Apa yang membuatmu berubah pikiran?" Sakura menghela tipis mendengar ucapan serius sahabatnya.
"Aku melihat Ino-chan mengikuti Sakura-chan. Di pagi buta saat hujan turun deras."
"Ka-kau mengikutiku?! Ha!"
Ino tertawa pelan, "Apa aku salah? Kau terlihat aneh pagi itu, jadi aku mengikutimu dan menyuruh Hinata membuat sarapan, tebakanku tidak meleset. Apa yang sudah terjadi?" Ino melirik Sakura. "tapi itu tidak menjadi masalah sekarang, Sasuke bahkan mengalahkanku dan saat itu aku tahu hahaha aku bisa merekomendasikan si berengsek itu padamu."
"Apa yang sudah dilakukan Uchiha-san pada Sakura-chan?"
"Ah!" Ino menjerit bahagia. "kau tidak akan bisa membayangkannya Hinata."
Muka Hinata mulai memerah. "Ap-apa sebuah adegan erotis Ino-chan?"
"Un! Dia-dia ah! Aku tidak bisa mengatakannya." Ino menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Ino-chan~ katakan padaku."
Satu benjolan terlihat muncul di kepala Ino, "Berhenti meracuni pikiran bodohnya Pig."
.
.
.
Dua orang.
.
.
.
Sasuke mengapit payungnya di lengan, butuh begadang satu malam untuk mengintai malaikatnya, dia tidak akan kehilangan perempuan sadis itu bahkan saat liburan semester dimulai. Menjadi seperti stalker tidak pernah otaknya pikirkan, bukankah wajahnya yang tampan ini lebih terlihat sebagai kesatria jubah hitam yang selalu melindungi putrinya, ya... meski pun tidak pernah terlihat.
"Apa aku harus berjalan di Kibune ini sendirian, cih! Lama sekali mereka berdua." Kali ini Sakura tidak memakai sumpalannya, dia terlihat sangat seksi dengan pakaian musim panas.
Sasuke masih berjalan pelan di belakang Sakura, "Ku pikir Kyoto tidak buruk," Untuk melengkapi penyamarannya dia juga menggunakan kontak lensa merah, menyembunyikan rambut mencuatnya di balik topi, dan selalu menjaga jarak di belakang Sakura.
Sasuke melirik Sakura yang tengah mengomel sendirian, "dia yang sekarang menghancurkan fantasiku tentang Sakura yang dingin dan cantik." Sasuke menutup matanya kemudian menyeringai lebar.
"tapi itu bukan masalah."
Sakura menguncir rambutnya tinggi-tinggi, dengan segala berdebatan akhirnya dia dan kedua sahabatnya sampai di Kyoto, memaksa Ino tidak semudah membohongi Hinata. Liburan musim panas yang diimpikannya akhirnya datang, dengan segala aroma khas Kyoto yang memabukkan.
"Oh! Kita bertemu lagi."
Rasanya liburannya serasa tidak berarti lagi, "apa kau sedang liburan di sini? Ah~ seharusnya aku tidak bertanya tentang itu," laki-laki itu menuruni tangga dan semakin mendekat padanya. "tapi aku ingin bertanya satu hal sekarang, apa yang ku temui di Kuil itu dirimu?"
"Jangan mendekat." Sebuah kalimat dingin akhirnya keluar dari mulutnya.
"Senang bertemu denganmu Sakura," langkah kaki laki-laki itu berhenti. "apa waktu itu benar dirimu? Bersama Sasuke Uchiha." Tatapan laki-laki itu begitu sendu padanya.
"Apa itu sekarang menjadi urusanmu?"
Sakura tersenyum lemah. "kau adalah orang yang tidak pernah ingin ku temui lagi seumur hidupku."
"Ku rasa maafku waktu itu masih belum cukup, apa ini pertanda aku harus menebus dosaku lebih lama lagi padamu?" laki-laki itu masih tetap saja tampan baginya, pesona menawan yang dulu pernah membuatnya buta.
"Semuanya sudah lewat tidak perlu ada yang dibicarakan lagi," Sakura tersenyum lembut. "lain kali jika kita bertemu lagi dan aku sudah siap, mari kita berteman lagi Kouji."
Kouji tertawa pelan, angin musim panas menerbangkan helaian rambut mereka. "Kau tetap tidak pernah berubah di mataku Sakura," tatapan mata Kouji melembut padanya. "selalu menyimpulkan semuanya sendirian."
"Begitu 'kah? Kau juga tetap seperti itu di ingatanku." Sakura memandang remeh Kouji. "mengikuti semua yang hatimu percayai, bukankah kita terlihat sama saja?"
Kouji memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
"Seperti itukah yang kau pikirkan tentangku selama ini, ha~ kita terlihat sama dalam beberapa hal mungkin itu takdir?" Kouji kembali tertawa. "seperti sekarang, takdir membawaku kembali bertemu denganmu."
"Aku tidak peduli tentang takdir bodohmu itu."
"Tapi aku peduli."
"Kau tidak berhak untuk peduli Kouji."
"Aku punya," Kouji kembali berjalan turun ke arah Sakura. "karena aku masih mencintaimu."
Di belakang Sakura, Sasuke menyeringai lebar melihat Sakura terdiam begitu saja, dia memang sengaja ingin mendengar obrolan sepasang mantan kekasih itu. Sebenarnya dia juga penasaran apa yang membuat keduanya memilih berpisah, padahal keduanya dia rasa adalah tipe setia. Tapi untuk apa dia memusingkan itu, putusnya mereka berdua menguntungkan dirinya.
Kali ini biarkan dirinya menggantikan posisi Kouji di hidup Sakura. Selamanya. "Sepertinya ini waktuku." Ucapnya pelan, Sasuke membuka topinya, menyeringai selebar mungkin dan menatap Sakura dengan damba. "Sakura."
.
.
.
Dua orang.
.
.
.
"Kau lihat itu Hinata, sekarang aku bisa sedikit percaya pada Sasuke." Ino mengintip dari jendela hotel tempat mereka menginap.
Hinata tersenyum kecil, "Ino-chan bisa percaya sepenuhnya dengan Uchiha-san."
Ino masih memperhatikan Sasuke yang mengikuti Sakura di belakang, sama seperti kemarin. "Kau mengatakannya seperti sudah mengenal Uchiha itu saja Hinata, dia itu makhluk buas mengerikan kau harus tahu itu."
"Dia tidak semengerikan itu Ino-chan," Hinata memilih untuk duduk kembali. "dia justru orang yang begitu dingin dan menutup dirinya dari dunia luar. Itu kesan pertama yang ku tangkap waktu pertama bertemu dengannya dulu."
"Dulu? Kau sudah kenal Sasuke dari dulu?" mata Ino beralih pada Hinata.
Hinata memandang es serutnya dengan mata berbinar. "Dia saudaraku, tepatnya sepupu jauh. Kami beberapa kali bertemu dulu saat acara keluarga besar digelar, saat bersama keluarganya Uchiha-san bukan Uchiha-san yang selalu bersama Sakura-chan, dia sangat berbeda."
"aku percaya pada Uchiha-san."
Ino duduk di depan Hinata, "Aku juga tidak percaya Sasuke bisa membuat Sakura tersenyum," Ino memandang keluar jendela. "aku tidak bisa berkata apa pun, Sasuke dulu adalah orang nomer satu yang ingin ku jauhkan dari Sakura, tapi justru sekarang aku harus percaya padanya."
"Aku tidak memaksa Ino-chan percaya juga."
"Kau benar. Aku bisa saja menolak untuk percaya."
"Semua yang Ino-chan lakukan hanya untuk kebaikan Sakura-chan, tidak ada yang lebih dari itu, aku paham betul." Hinata mulai memakan es serutnya. "tapi ada kalanya Ino-chan mulai percaya lagi pada apa yang Sakura-chan percayai."
Ino terkekeh pelan. "Ya... jika Sakura kehilangan arah lagi aku masih akan ada di sampingnya."
.
.
.
Dua orang.
.
.
.
Sasuke menyeringai, "Apa kita ini berjodoh?"
"Entahlah, mungkin takdir kita sangat manis, sejujurnya aku sudah muak melihatmu Uchiha."
"Hn. Kau pikir aku tidak jijik terus menatap wajah memuakkanmu Kouji?" Sasuke membuka ice cream yang di belinya. "aku tidak tertarik denganmu."
"Kau tertarik dengan mantan kekasihku."
Kouji menatap Sasuke dingin. "makhluk sepertimu tidak pantas untuk Sakura."
"Begitu 'kah?" Sasuke menghentikan sebentar kegiatan memakan ice creamnya.
Dia menyeringai menatap Kouji, Sasuke tidak ingin mencari ribut malam-malam seperti ini, menikmati liburannya dengan Sakura jauh lebih indah dari pada harus menghajar Kouji sekarang juga, karena dia tahu siapa pemenangnya. Laki-laki itu bukan tandingannya terutama urusan baku hantam.
Sasuke kembali memakan ice creamnya. "kalau begitu apakah dirimu pantas? Dasar bajingan tidak tahu diri."
"Jika aku tidak pantas Sakura tidak akan menyukaiku dulu," Kouji menyeringai. "kau tidak tahu apa pun tentang kami berdua Uchiha."
"Aku memang tidak ingin tahu apa pun tentang kalian berdua. Yang ku inginkan hanya Sakura."
"Sakura hm? Kau juga harus menerima masa lalunya dan aku berada di sana, menjadi kenangan yang sulit untuk dilupakannya."
Sasuke mendecih pelan. "Kau hanya akan menjadi kenangan pahit. Apa kau masih saja tidak sadar? Sebenarnya kau gunakan untuk apa saja otak kecilmu itu."
"Aku pasti akan membunuhmu Uchiha." Desis Kouji marah.
"Memangnya aku peduli?" Sasuke berjalan melewati Kouji. "jika aku mau aku bisa membunuhmu sekarang juga."
.
.
.
To be Continued.
A/N :
Apa ini? -_- saya sempat kehilangan arah buat nerusin ini cerita, akhirnya saya memutuskan untuk berhenti dulu dari pada ceritanya mala ngawur dan gak punya feel yang kena. Hmm... itu saja kali ini _-_ kesan dan pesan jangan lupa ya.
Balasan reviews :
Bang Kise Ganteng : sayangnya mulai chapter ini Kouji juga bakalan nongol, terima kasih udah review ya.
Dianarndraha : jangan sedih ficnya gak bakalan ngilang kok :v terima kasih udah review.
Shaulaamalfoy : terima kasih udah review.
Hyuugadevit-Chery : Sakura kayaknya butuh tabokan buat sadar, terima kasih udah review.
Mustika447 : iya itu Kouji, terima kasih udah review.
echaNM : terima kasih udah suka / ada aja kok nanti jodohmu maksudnya muehehehe, terima kasih udah review.
Hanazono yuri : terima kasih udah review.
Daisaki20 : terima kasih udah review.
Raizel's wife : kalo buat wajah sih kayaknya pakek gelatin prosthetics biar keliatan kayak gendut, kalo tubuh sih sumpalannya terserah bisa aja pakek apa ya? Kain di isi kapuk? Eh! Tahu kapuk gak ya hahaha :v lupakan de, mungkin 80 kilo sekitar segitu de... kalo 60 kilo itu masih keliatan kurus. Terima kasih udah review.
UchiHaruno Sya-chan : semoga aja tetep nyante, terima kasih udah review.
Widya-Sslovers22 : entahlah saya belum ngalami tapi pengen sih punya yang kayak gitu :v kalo Kouji udah masuk, fokusnya bakalan bagi-bagi de _-_ terima kasih udah review.
Williewillydoo : heee? Yang nggak mungkin Ino 'kan? Dia udah punya Sai buat apa suka sama Kouji. Terima kasih udah review.
Ardiyanthi : perlahan, Sasuke juga nggak bakalan ngebiarin Sakura tampilannya gitu aja :v terima kasih udah review.
