Kouji memegang pagar pembatas balkon Kamarnya. "Maaf mengganggumu malam-malam begini. Apa liburanmu menyenang 'kan?"

"Tentu saja. Tidak biasanya kau menelponku malam-malam begini, apa kau sudah makan?" Kouji tersenyum pedih, suara DJ terdengar begitu keras di sambungan teleponnya, sejak kapan sahabatnya menjadi penghuni tempat malam itu.

"Ya, sekarang kau ada di mana?"

"Sekarang? Aku sedang uhm... di pesta temanku. Apa ada masalah?"

Sudah satu tahun dia tidak pernah bertemu Tayuya lagi, semenjak keluarganya memilih untuk pindah ke Kyoto, dia meninggalkan semua kenangan dan orang-orang masa lalunya di Tokyo, saat itu dia pergi tanpa pamit. "Jangan berbohong padaku Tayuya, aku tahu sekarang kau berada di mana,"

"apa yang membuatmu ke sana?" nada suaranya begitu kecewa. Di balik tanpa pamit itu terselip beberapa harapan di hatinya, angan-angan jika Sakura akan mencarinya dan menghentikannya saat di Stasiun hanyalah sebuah mimpi indah yang tidak pernah terwujud, hanya ada Tayuya yang melepas kepergiannya dengan air mata, gadis itu memukulinya habis-habisan karena akan pergi tanpa pamit.

Tidak ada lagi suara keras musik DJ. "Mencari kesenangan, Karin-chan yang mengajakku ke sini Kou-chan," Kouji mendengus geli mendengar panggilan kesayangan Tayuya untuknya. "sebenarnya aku bertemu Sakura di kampus, dia satu fakultas dengan Karin-chan, aku tidak menyangka gadis itu sekarang menjadi monster lemak dan dia juga berani menggoda Sasuke-kun. Ups! Apa Kou-chan kau... masih menyukainya?"

"Apa aku masih harus menjawabnya?" Tayuya sebenarnya gadis yang lucu dan perhatian, karena sifat itulah dia menggilai sahabatnya itu dulu tapi semenjak bertemu Sasuke gadis itu mempunyai kepribadian lain. "ku rasa kau hanya belum bertemu Sakura yang asli. Ini sudah cukup malam sebaiknya kau pulang."

"Baiklah. Kapan Kou-chan ke Tokyo, aku merindukanmu sangat sangat."

"Kita akan bertemu di semester baru nanti," Kouji tertawa pelan. "kau bisa memelukku setiap hari jika merindukanku."

"Apa maksudmu?"

Kouji memandang bulan di langit, "Aku akan tinggal bersamamu di Tokyo ah~ dan juga kuliah bersama, bagaimana?"

"Hee~ tinggal bersamaku? Aku tidak akan mengijinkanmu tinggal di Rumahku."

"Kenapa?" tawa Kouji kali ini lebih keras. "apa kau malu jika kita tinggal bersama? Lagi pula Ji-san dan Ba-san sudah mengijinkanku, kau tidak bisa berbuat apa-apa lagi."

Terdengar suara helaan napas dari sebrang sambungan teleponnya. "Kenapa kau kembali? Apa itu karena Sakura lagi? Perempuan sialan itu bahkan membuangmu, kenapa kau masih saja berharap untuk kembali padanya! Kau ini bodoh atau apa ha?! Buang pikiranmu untuk kembali ke Tokyo Kou-chan, dia sudah tidak mengharapkan apa pun lagi darimu!" Tayuya berteriak padanya.

Kouji tertegun.

"Kenapa..." Kouji memejamkan matanya. "memangnya kenapa dengan itu?!"

"Karena aku tidak suka," Kouji tersenyum meremehkan. "kenapa kau masih saja menyukainya Kou-chan? Hampir dua tahun sejak hubungan kalian berakhir, harusnya kau sudah melupakannya, dia adalah orang yang sudah membuangmu. Kali ini kau harus tahu... karena sekarang Sasuke-kun selalu bersamanya, karena Kou-chan masih saja menyukainya, karena Kou-chan masih saja berharap padanya, karena nantinya Kou-chan yang akan tersakiti, karena itu aku tidak suka."

Kouji terdiam. Sebuah senyum mengembang di wajahnya, "Aku tidak masalah dengan semua itu."

"Apa kau sudah gila?!"

"Hahaha tidak, dia hanya membuatku sedikit tidak waras."

"Kau benar-benar sudah gila!"

Tuttt~ panggilannya terputus sepihak. Kouji melihat layar ponselnya.

"Tayuya..." Kouji memasukkan ponselnya ke dalam saku, dia menutup matanya dan mencoba merasakan angin malam yang membuai tubuhnya. "kau juga dulu membuatku gila."

It's Me

.

.

.

It's Me

Disclimer : Om Masashi Kishimoto.

Author : Hanna Hoshiko

Pairing : Sasuke U. – Sakura H.

Rated : T+

Genre : Romance/Hurt/Comfort/Drama/Friendship.

.

.

.

Warning!

Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author

Cerita ini akan update setiap author gak lagi sibuk di RL dan gak lagi kena WB.

Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.

.

.

.

Don't Like Don't Read.

.

.

.

Mempersembahkan.

Tas Sakura jatuh begitu saja, Hinata tersenyum manis padanya, sedangkan Ino sudah tergeletak tak sadarkan diri. Inikah yang disebut keadaan darurat milik Hinata, dia siap depresi sekali lagi sekarang, Sakura akan benar-benar membawa Ino ke psikiater setelah semua ini, perempuan itu begitu tergila-gila dengan minuman.

"Sebenarnya berapa botol yang dia minum Hinata?"

Hinata menusuk-nusuk pipi Ino dengan telunjuknya, "Aku tidak begitu ingat, dia marah pada Shimura-san di telepon karena tidak bisa menyusulnya kemari," Hinata menenteng lebih erat tas jinjing mereka. "dia tidak minum terlalu banyak mungkin... hanya empat?"

"Apa?!" Sakura menghadap sepenuhnya pada Hinata. "apa kau sudah gila membiarkannya minum sebanyak itu?"

"Aku tidak bisa mencegahnya Sakura-chan~ aku hanya membantunya minum ups!"

"Jadi berapa banyak?" Sakura menatap Hinata yang wajahnya bersemu merah bosan.

Hinata mencubit pipi Sakura gemas. "Jangan menatapku seperti itu~ kami hanya menghabiskan delapan botol saja."

Sakura melirik Ino yang sudah tidak sadarkan diri, "Apa kau perempuan Hinata?" Sakura memposisikan Ino di punggungnya. "aku harap malam ini aku pulang dengan manusia."

Hinata berjalan agak terhuyung, ini kali keduanya Ino berhasil membuatnya menjemput perempuan itu ketika tidak sadarkan diri, lebih parah lagi Hinata masih terlihat baik-baik saja setelah meminum empat botol sendirian. Dia bukan jago makan saja sepertinya, Hinata mirip seperti Ayahnya yang kuat minum.

"Ah! Taksi, ayo Hinata bantu aku menurunkan Pig," tidak ada sahutan berarti dari Hinata. "Hinata? Ku harap dia masih menjadi manusia."

Sakura menoleh ke belakang. "Ku rasa kami bisa pulang sendiri."

"Sekarang apa lagi? Berhentilah menyiksaku di liburan kita." Sakura berusaha menurunkan Ino dan memasukkannya ke dalam taksi. "Masuklah Hinata sayang, setidaknya aku belum gila membiarkan kalian berdua pulang sendirian."

"Ayolah Sakura-chan~ aku tidak tega melihat saudaraku seperti itu terus,"

Sakura melihat samping dengan tatapan horror, "Benar 'kah?" raut wajahnya mendadak tegang. "kau benar-benar bisa melihat arwah saudaramu yang mati penasaran di sini?!"

"Ku rasa dia juga mabuk," Hinata tersenyum miring melihat reaksi Sakura. "dia ingin berbicara dengan Sakura-chan."

"He?!" Sakura menoleh kaku pada Hinata, "cepat masuk sebelum dia menculikku Hinata!" Sakura mendorong cepat Hinata masuk ke dalam taksi.

Hinata memandang jalanan belakang yang tidak begitu terang. "berhenti menatap ke belakang Hinata, itu akan membuat arwah saudaramu mengikuti kita."

Keringat dingin mulai bermunculan di dahi Sakura.

"Dia tidak akan mengikuti kita, dia hanya mengikutimu Sakura-chan."

"Kau sedang bercanda denganku 'kan? Ha ha apa dia tampan?" tawa Sakura bisa di pastikan garing seratus persen.

"Dia idola wanita."

"Aku tidak menyangka hantu juga menyukaiku."

"Sakura-chan ingin melihatnya?"

Sakura kembali tertawa, taksi mereka mulai berjalan perlahan. "Baiklah, ini penghargaan untuknya karena sudah mencintaiku sampai mati."

"Dia hantu yang tampan bukan?"

Sakura menolehkan wajahnya perlahan, melihat sosok yang tengah berdiri tidak jauh dari posisinya sekarang, dan menyeringai menyebalkan. "Hmm... kau benar dia benar-benar hantu yang sangat tampan."

.

.

.

Teman Rahasia.

.

.

.

"Auh! Kepalaku pusing sekali." Ino memijat dahinya dengan hati-hati. "minum berapa botol aku kemarin Hinata?"

Hinata melirik Ino, "Empat botol."

"Haa~ ini gara-gara Sai sialan itu, beruntung kau yang membawaku pulang kemarin he~ aku tidak bisa membayangkan jika Forehead yang membawaku pulang kemarin," Ino melihat pintu kamar mereka. "dia pasti akan mengamuk padaku seharian penuh seperti dulu."

"Ah~ itu masuk akal kenapa Sakura-chan kemarin begitu kesal." Hinata mengedipkan matanya beberapa kali.

"He?! Kau pasti masih sangat mabuk Hinata ha ha."

"Kenapa? Dia yang membawa kita berdua pulang."

"Perempuan gila."

Ino menatap horror pada Hinata, "Kenapa? Sakura-chan tidak akan semengerikan yang kau bayangkan Ino-chan." Hinata menyesap teh hangat yang dibuatnya.

"Ku rasa kita harus segera pergi sebelum Forehead bangun, aku tidak ingin mengalami perang dunia lagi Hinata," Ino menyeret Hinata dengan cepat, padahal sekarang masih begitu pagi untuk memulai liburan di hari terakhir mereka. "Auh! Kepalaku pusing sekali."

Mereka berjalan agak terhuyung terutama Ino, ia tidak mencari masalah dengan Sakura yang super duper cerewet seperti ibu-ibu gila diskon, Hinata tampak baik-baik saja dengan segenggam es krim di tangannya. Mungkin dia akan kembali setelah hari agak beranjak sore, dan Sakura sudah melupakan semua yang terjadi kemarin malam.

"Bisa kita bicara sebentar nona-nona?"

Mata Ino mengerling dingin ke arah Sasuke, "Kami tidak punya urusan denganmu Uchiha," Ino menggandeng tangan Hinata. "dan berhenti mengikuti Sakura." Langkah Ino terhenti tempat di samping Sasuke.

"Suruh Sakura mengembalikan yang telah dicurinya padaku," Sasuke melirik wajah Ino yang mengeras dari ekor matanya. "aku janji tidak akan mengikutinya lagi."

"Apa yang dia curi darimu berengsek?!"

Sasuke memejamkan kedua matanya.

"Dia... mencuri kehidupanku." Sasuke membuka kedua matanya, tatapannya begitu tidak bersahabat pada Ino. "apa dia bisa mengembalikan itu? Aku begitu mencintai kehidupanku sebelum tahu tentang Sakura."

"Bukankah seharusnya kau bertanya pada dirimu sendiri? Siapa yang mencuri kehidupan kesayanganmu itu."

Ino terlihat sangat marah dengan ucapan Sasuke yang seolah menyalahkan semuanya pada Sakura, memangnya laki-laki itu tahu apa tentang Sakura? Dia bahkan tidak tahu apa pun yang harus Sakura lewati selama ini.

"Siapa?"

"Dirimu sendiri sialan."

Sasuke mendekatkan wajahnya pada Ino. "Apa kau sedang bercanda denganku Yamanaka? Kau tidak ahli melawak Yamanaka."

"Karena kau memilih menyukai Sakura yang akan kau dapatkan hanya sebuah penyesalan," Ino mengambil satu langkah mundur. "jadi lupakan saja sahabatku, dia tidak pantas untukmu." Tatapan Ino perlahan melembut.

"Jika aku bisa aku pasti akan melakukannya sebelum dia membuat hidupku seperti ini."

"Kau bisa memulainya dari sekarang."

Hinata menyentuh bahu Ino. "Semuanya sudah terlambat bagi Uchiha-san, Ino-chan. Sekarang dia tidak bisa lagi mundur tentang Sakura-chan bukan begitu Uchiha-san?"

"Aku beruntung memiliki saudara sepertimu Hyuuga," angin musim panas sedikit menyapa mereka. "sekarang aku sudah tidak bisa melepaskan Sakura. Aku tidak mampu. Aku sudah memikirkan semuanya setelah kembali bertemu lagi dengan Sakura,"

Sasuke melirik ke arah Ino. "aku tahu ada yang tidak beres tentang Sakura, tapi aku tidak ingin mendengarnya darimu, biarkan dia sendiri yang mengatakannya padaku. Aku tidak memaksamu percaya padaku hanya saja... percayalah pada hati sahabatmu." Lanjut Sasuke tenang.

"Ha.. ha.. kau perayu yang hebat Uchiha." Ino masih saja menatap Sasuke garang.

"Kau tahu betul reputasiku dulu Yamanaka," Sasuke menyeringai. "tenang saja aku tidak sudi merayumu."

Hinata tertawa pelan.

"Ino-chan, Uchiha-san bukan pembicara yang baik. Kita sudah membicarakan ini bukan?" Hinata memeluk Ino erat, hanya sekedar menguatkan hati sahabatnya.

"Apa kau bersekongkol dengannya berkedok saudara Hinata? Ha! Kau membuatku ingin muntah." Sekarang Ino terlihat seperti Sakura versi dua.

"Apa efek minuman kemarin belum hilang? Ah~ harusnya sudah hilang, tenang saja aku akan segera menanyakannya pada Sakura-chan."

Hinata berniat kembali ke kamar hotel.

"Tidak-tidak! Itu lebih membahayakan nyawaku Hinata."

Sasuke terdiam melihat perilaku kedua perempuan di depanya, sebenarnya persahabatan tolol macam apa yang Sakura jalani bersama kedua perempuan aneh ini, lain kali Sasuke tidak akan menyalahkan Sakura jika dirinya mulai tertular keanehan kedua sahabatnya.

"Jadi bagaimana Ino-chan kau menerima Uchiha-san?"

Jika dilihat jurus bujuk Hinata adalah yang terampuh, "Menerima? Memangnya dia meminta apa padaku?!"

"Ha~ Uchiha-san hanya meminta Ino-chan percaya padanya, apa Ino-chan tidak menyadarinya? Itu semua sudah tersirat hanya saja sekali lagi... dia bukan pembicara yang baik dan Ino-chan yang tidak mau mengerti Uchiha-san. Ayolah Ino-chan ini semua demi Sakura-chan hm?"

"Apa kita harus berdebat lagi Yamanaka?" Sasuke menatap bosan pada Ino.

"Lakukan sesukamu."

Ino berlalu begitu saja dan menyisakan kedua saudara itu. "Dia percaya padamu, kami percaya Uchiha-san bisa membuat Sakura-chan bahagia, ku harap kau selalu seperti apa yang kami harapkan."

"Aku tidak bisa menjanjikan apa pun." Sasuke tersenyum hangat.

"Kami tidak perlu janji darimu, kami hanya perlu melihatmu selalu ada untuk Sakura-chan. Itu saja sudah cukup."

Hinata mulai berjalan meninggalkan Sasuke, berjalan menyusul Ino yang sudah agaknya terlihat jauh di depan, persahabatan mereka bertiga mengingatkannya pada Naruto dan yang lainnya. Persahabatannya mungkin tidak seerat milik Sakura tapi dia yakin teman-temannya juga akan melakukan hal yang sama jika dia ada di posisi Sakura.

Sasuke juga ikut berjalan dengan arah yang berbeda, "Terima kasih sudah percaya pada bajingan sepertiku."

.

.

.

Teman Rahasia.

.

.

.

Ting! Pintu lift terbuka perlahan, Sasuke tidak begitu memedulikan beberapa orang yang masuk ke dalam, ia masih sibuk membaca pesan grup dari teman-temannya. Sesekali sebuah tawa kecil akan terdengar darinya, hingga beberapa mata mulai sedikit menaruh perhatian, tidak untuk mata emerald milik keturunan Haruno itu.

"Apa yang sebenarnya sedang kau baca di ponselmu?" hanya tinggal lima orang di dalam lift.

"Hm? Kau berbicara denganku nona?"

Posisi Sasuke yang bersandar di belakang tidak memungkin untuk melihat Sakura yang berada di depan, perempuan itu sepenuhnya tertutupi oleh dua orang pria berjas, "Tentu saja aku berbicara denganmu Tampan," perempuan berambut merah itu mengulurkan tangannya pada Sasuke. "Sara."

"Sasuke."

Dengan senang hati Sasuke menyambut uluran tangan Sara. "Oh~ kau tidak terlihat sedingin penampilanmu."

Sasuke tersenyum kecil. "Terima kasih. Apa yang membuatmu seseksi ini pagi-pagi Sara-san?

"Hanya acara pekerjaan sialan yang mengharuskanku memakai pakaian ini, kau tinggal di sini Sasuke-kun?" pakaian Sara memang tidak terlalu terbuka, tapi keketatan baju itu membuat lekuk tubuh Sara terekspos bebas.

"Tidak, sahabatku memutuskan pindah ke sini." Sasuke mengedipkan satu matanya.

"Apa dia setampan dirimu? Harusnya Sasuke-kun saja yang pindah kemari, aku dengan senang hati akan selalu berkunjung ke Apartemenmu."

Ting! Pintu lift kembali terbuka di lantai dua, dua pria berjas yang menutupi Sakura beranjak keluar dari lift, "Tidak ada yang setampan diriku. Aku tidak suka tinggal di sini, aku sudah beruntung mendapatkan Apartemenku saat ini. kau tahu di sana aku bisa melihat malaikat setiap pagi,"

Sasuke menatap punggung Sakura. "bukankah itu menyenangkan?"

"Malaikat?! Mungkin yang kau maksud aku."

Sakura mulai berjalan dengan cepat, Sasuke menyeringai senang ketika Sakura berniat menghindarinya. "Mungkin. Sepertinya sekarang aku harus menyusul malaikatku."

Sasuke akui dia bukan pembicara yang baik, dulu dia hanyalah anak kecil berotak dan antisosial, perkenalannya dengan Naruto membuatnya berhasil menjadi berandalan, tapi tetap saja sifat antisosial itu masih melekat padanya. Bukan antisosial terhadap berbicara dengan orang lain, sifat itu berubah menjadi sifat kejam.

"Kau menghindariku."

Sakura tetap berjalan dan menghiraukannya, "Kau marah karena aku berbicara seperti itu dengan Sara-san?" Sakura tetap diam. "aku tidak suka diacuhkan seperti ini." ucap Sasuke dingin.

"Ayolah, aku tidak menghindarimu."

Mulut Sasuke terkatup rapat ketika menyadari Sakura kembali ke mode gemuknya. "Sampai kapan kau akan berpenampilan seperti ini?"

"Sampai aku puas."

Sekejam apa pun Sasuke, sedingin apa pun hati seorang Uchiha, tapi tidak dengan melihat orang yang mereka cintai seperti ini, cukup sampai di sini. Mengikuti Sakura selama ini bukan hanya aksi iseng semata, kehidupan Sakura yang tidak pernah diketahuinya perlahan mulai ia pahami, dan biarkan kali ini saja dia menjadi orang baik.

"Berhenti, ini semua tidak membuat masa lalumu berubah."

Sakura menatap Sasuke garang. "Kau tidak tahu apa pun tentang masa laluku."

"Aku memang tidak tahu, karena itu kali ini biarkan aku Sakura," Sasuke memeluk Sakura. "aku tidak bisa terus melihatmu berjuang sendirian. Ku mohon, kali ini biarkan aku menjangkaumu."

Sakura melepaskan pelukannya. "Kenapa kau masih mencintaiku? Setelah semua yang kau lihat padaku."

"Karena dirimu Sakura."

"Jika aku bukan Sakura, apa kau masih mencintaiku?" Sakura tertawa pahit. "cinta tidak semudah yang kau bayangkan Sasuke."

Sasuke menggeleng pelan. "Seberubah apa pun dirimu di kehidupan yang lain, aku pasti akan menemukanmu dan membuatmu jatuh cinta padaku karena aku akan tetap menjadi Sasuke yang mencintai Sakura."

"Mencintaiku adalah kesalahan Sasuke." Air mata Sakura menetes.

"Cinta tidak pernah salah Sakura,"

Sasuke tersenyum hangat. "kau tahu aku tidak pernah mencintai seseorang semenyakitkan ini."

"Lihat, kau tersakiti karena mencintaiku, ku bilang menyerah saja. Itu yang terbaik untuk kita berdua."

"Aku tidak bisa," Sasuke mengacak rambut Sakura. "ini sudah sangat terlambat untuk menyerah, aku tidak ingin membohongi diriku jika aku bisa melupakanmu, cinta tidak sebercanda itu Sakura. Haa~ aku juga ingin kau berhenti membohongi dirimu sendiri."

Sakura menatap polos Sasuke. "Aku tidak pernah melakukan itu."

"Kau melakukannya. Setiap hari."

"Kau tidak tahu apa pun."

"Penampilan ini merupakan yang pertama, kau menyembunyikan dirimu yang asli, apa yang kau takutkan jika orang-orang tahu dirimu yang asli?" Sasuke menyamakan tinggi mereka berdua. "rasa benci itu wajar Sakura, aku juga benci pada sumpalan-sumpalan ini," ekspresi Sasuke berubah cemberut. "karena mereka aku tidak bisa bebas memelukmu. Auh! Sakit Sakura."

Sakura melepaskan cubitannya di pinggang Sasuke.

"Dasar bajingan mesum."

Sasuke menggenggam tangan Sakura, mereka mulai berjalan pelan, Sasuke menatap Sakura dengan senyum tipis. "Tenang saja, aku akan menjadi teman rahasiamu."

.

.

.

Teman Rahasia.

.

.

.

Sakura memandang diam-diam wajah tertidur laki-laki di depannya, wajah yang hanya bertingkah konyol di depannya, dia tidak pernah menemukan ekspresi konyol ketika melihat laki-laki itu bersama teman-temannya. Dia senang laki-laki itu masih mau hadir di hidupnya, bahkan selama ini dia rasa sudah menolak laki-laki itu secara terang-terangan, tapi entahlah dia juga senang masih mendengar laki-laki itu mencintainya.

"Apa kau tidak kedinginan?"

Musim gugur tiba beberapa minggu lalu. "Kenapa? Kau mau menghangatkanku dengan tubuhmu?"

"Berhentilah berpikir seperti bajingan Sasuke." Sakura memakaikan salah satu syalnya di leher Sasuke.

"Apa itu tidak boleh? Cih! Kau pasti akan tergila-gila dengan tubuhku Sakura," Sasuke masih belum membuka matanya, hanya ekspresi sebal yang muncul. "apa kau tidak tahu berapa banyak perempuan yang rela tidur denganku?"

"Bukan urusanku, apa kau tidak mempunyai mata kuliah hari ini? aku berharap kau bosan mengikutiku setiap hari."

"Itu hanya dalam mimpimu Sakura. Aku lebih senang mengikutimu."

Tiga kaleng jus terletak begitu saja di samping Sasuke, Naruto tersenyum dan mengisyaratkan pada Sakura untuk merahasiakan kedatangannya, yang Sakura tahu Naruto adalah sahabat dekat Sasuke. Laki-laki yang selalu ceria dan konyol pada semua orang, menurut Sakura Naruto juga cukup tampan, tapi ayolah jika Sakura adalah penggila laki-laki tampan mungkin dulu ia akan memacari Sasuke dari pada Kouji.

"Sasuke-kun~ ayo buka matamu~"

Naruto mencoba meniru suara Sakura dan berbisik pelan pada Sasuke. "Berengsek. Itu menjijikan Dobe."

"Hee~ kenapa menjijikan?! Saat Sakura-chan yang melakukannya kau pasti akan langsung menciumnya. Aku yakin."

Naruto mendudukan dirinya di samping Sasuke yang masih tetap dengan posisinya. "Sakura-chan?!" geram Sasuke.

"Apa? Memang tidak boleh. Lagi pula aku yang menyukai Sakura-chan lebih dulu," Naruto tersenyum konyol pada Sakura. "Nah Sakura-chan maukah kau meninggalkan Teme demi aku?"

Sasuke membuka satu matanya.

"Apa dia sudah gila mau memilihmu?"

"Hahaha," tawa Sakura membahana membuat kaget Naruto dan Sasuke. "kalian berdua benar-benar serasi, kenapa kalian tidak menikah saja?"

Sasuke dan Naruto saling berpandangan. "Apa aku gila?!" ucap mereka berbarengan.

Naruto berpindah duduk di samping Sakura. "Ayolah Sakura-chan aku tidak kesini untuk menikah dengan Teme." Naruto kembali tersenyum lebar. "duduk di dekatmu seperti ini adalah mimpiku dulu."

"Aku sangat terhormat disukai olehmu ha ha, kau tahu itu hanya bercanda." Raut Sakura berubah datar.

"Pergilah Dobe sebelum aku membunuhmu."

Alis Naruto mengerut mendengar ucapan Sasuke. "Kenapa kau pelit sekali soal Sakura-chan padaku! Dengar Sakura-chan, kau tidak boleh menyukainya, dia itu makhluk kutub."

"Hn."

"Makhluk kutub? Dia lebih mirip kakek-kakek mesum." Sakura menutup bukunya. "apa kau kesini benar-benar ingin melamar Sasuke di depanku?" Sakura menopang wajahnya dengan salah satu tangan.

"Tidak. Aku ingin bertanya tentang seseorang, apa Sakura-chan kenal Hinata? Tou-san menyuruhku mencarinya di fakultas kedokteraan, ku pikir jika mencarimu aku pasti bisa menemukan Hinata itu."

Naruto membuka salah satu kaleng jus yang di belinya.

"Aku tidak tahu Hinata mana yang kau cari di fakultas ini, tapi aku mengenal satu. Kau ingin bertemu dengannya?"

"Ku pikir tidak untuk saat ini. aku ingin menanyakan lebih tentang Hinata-Hinata itu pada Tou-san," Naruto melihat jam di pergelangan tangan kirinya. "aku akan menghubungimu jika aku ingin bertemu dengannya, sekarang aku masih ada kelas, kau tahu aku mahasiswa yang sibuk tidak sepertinya hehe~ Jaa Sakura-chan."

Sakura melambaikan tangannya.

"Cih!" gerutu Sasuke setelah mendengar sindiran Naruto padanya.

Sakura kembali memandang Sasuke yang masih langgeng bersama posisinya, hampir sama persis seperti tadi, tidak ada yang berubah. Dia kembali meneruskan acara berberesnya, tiba-tiba tangannya berhenti memasukkan buku ke dalam tas, dan sebuah senyum jahil tampak menghiasi wajahnya.

Ia mengambil jus kaleng yang di berikan Naruto, dan menempelkannya di pipi Sasuke. "Ah! Itu dingin Sakura~"

Sasuke menatap Sakura kesal, dan menggosok-gosok pipinya yang mendingin.

"Hahahah! Berhentilah tidur Sasuke atau aku akan meninggalkanmu di sini sendirian."

Sasuke kembali ke posisinya semula. "Kau tidak akan melakukan itu."

"Kau meragukan rasa simpatiku?"

Sakura sudah berdiri, dan berniat meninggalkan Sasuke begitu saja, gerakannya terhenti ketika seseorang yang tidak jauh dari mereka mengucapkan namanya dengan gerakan bibir. Kouji tersenyum lembut dan terus saja mengucapkan namanya dengan gerakan bibir, cukup dengan liburannya saja yang hancur, kali ini jangan biarkan laki-laki itu kembali menghancurkan hidupnya lagi.

Ekspresi Sakura berubah datar. "Aku harap bisa membunuhnya." Gumam Sakura pelan.

"Siapa?" tanya Sasuke polos.

Dengan berdirinya Sasuke otomatis membuat pandangan Sakura terhadap Kouji terhalangi sepenuhnya, Sakura terdiam ketika wajah Sasuke perlahan mendekat padanya, "Biarkan aku yang membunuhnya."

Wajah Sakura kembali melembut ketika mendengar nada canda dari Sasuke.

Sebenarnya apa yang perlu dia khawatirkan jika Kouji kembali, keadaanya sudah berbeda dengan dulu begitu juga dirinya, Kouji sudah menjadi orang luar di hidupnya, jika memang kenangan tentang mereka berdua memaksa Sakura untuk kembali menyukai Kouji, dia tidak perlu takut karena sudah ada seseorang yang begitu semangat ingin membunuh kenangannya bersama Kouji. Laki-laki yang kelewat pintar hingga jatuh cinta dengannya.

"Kau bisa membunuhnya?"

Sasuke menggenggam tangan Sakura dan memasukkan genggaman mereka ke dalam saku coatnya, dia melirik Sakura dengan sebuah seringaian. "Dengan menjadikanmu milikku."

.

.

.

To be continued.

A/N :

Setelah lama akhirnya rampung juga, saya sibuk banget di RL sampek sempet sakit segala, butuh revisi hingga empat kali buat satu scene aja yang ngebuat ceritanya lama jadi, lebih parah lagi revisinya nggak langsung tapi berhari-hari awkwkw :v dan saya juga mikir cerita ini bakalan panjang jatuhnya nanti, entah sampai berapa chapter saya juga nggak tahu. Hampir dua bulanan cerita ini nggak di update semoga nggak pada lupa aja wkwkw :v mohon pencerahannya ya.

Balasan Review :

Bang kise ganteng : waktu liburan jelas nggak lah, selama aku berkarya nggak pernah ada kepikiran buat nge-disc sebuah fic itu kalo emang murni buatan aku sendiri, lain hal kalo lagi ngolab. Terima kasih udah review.

UchiHaruno Sya-Chan : Awkwkw janganlah kasian sama Tayuya-nya. Terima kasih udah review.

Widya-Sslovers22 : gak bakalan hiatus mungkin update ceritanya bakalan molor kayak permen karet. Terima kasih udah review.

Wowwoh geegee : terima kasih udah review.

Embun adja1 : terima kasih udah review.

Flower on the spring : oke bakalan aku jelasin, disana ada empat orang, Sakura, Karin, Tayuya, Tsunami. Kalo Sakura ketemu Karin sih gpp, yang Sakura gak mau temui adalah dua orang itu, Tayuya yang jadi cinta pertamanya Kouji dan Tsunami yang jadi orang yang ngungkapin kebeneran tentang KoujiTayuya dan Tsunami juga suka sama Kouji. Sampai sini bisa ngerti nggak? Kalo masih nggak bakalan aku jelasin lagi de akwkwkw. Terima kasih ya udah review.

Hyuugadevit-Cherry : Awkwkwk :v warbyazah. Terima kasih udah review.

Mustika447 : korban civil wur ini mah. Terima kasih udah review ya.

Raizel's wife : bukan di pause tapi digantungin sebentar, ya jelas ketahuan wong Sasuke fanatik sama Sakura. Terima kasih udah review.

Nathalie ichino : sebenernya Sakura itu kurus, cantik, sekseh, bak malaikat maut awkwkwk :v lol. Karena masalahnya sama Kouji jadi di malah putar otak buat jadi jelek, jelas bisa dong kurus semalam la wong sumpalannya pada dilepas semua. Terima kasih udah review.

Uchiha Javaraz : ini udah lanjutin. Terima kasih udah review.

Hideko megumi : awkwkw Ino di sini aku buat agak-agak mirip sifatnya Naruto, hmm... sebenarnya bukan bodoh awal pemikiran buat karakter Hinata di sini dulu hanya kelewat polos dan ngeselin hati. Terima kasih udah review.

Brokoro : terima kasih udah review.