Sasuke keluar dari mobilnya, menyapa teman-temannya yang sudah berkumpul lebih dulu, kecuali Sai yang tidak terlihat berada di sana. Ini adalah pertengahan musim gugur yang begitu dingin.
"Apa kalian sudah memberikan penghormatan terakhir?" Sasuke memasukan ponselnya ke dalam saku.
Kiba membenarkan dasinya, "Si bodoh ini bersikeras menunggmu."
"Sepertinya Sai tidak akan ikut bersama kita, dia masih terjebak di udara." Naruto merapikan jasnya.
Mereka berempat mulai memasuki rumah duka, sebenarnya Sasuke tidak begitu suka mengikuti acara-acara seperti ini, bukan karena apa jujur dia tidak senang dengan suasana duka yang begitu larut seperti ini. Naruto memilih untuk memberikan penghormatan terakhir lebih dulu, Sasuke melirik Kiba yang duduk di sampingnya dengan tenang.
Setelah memberikan penghormatan terakhir Sasuke memilih untuk mengikuti Naruto, "Aku tidak menyangka akan secepat ini."
"Ini tidak secepat yang kau katakan Sasuke, Kaa-san sudah banyak menderita, mungkin ini jalan yang terbaik."
"Apa penyakit itu begitu menyiksa Ba-san?" Shikamaru menatap Neji. "kau tidak perlu menjawabnya, aku tahu."
Meski pun sama-sama berasal dari klan Hyuuga, Neji bukan termasuk kerabat dari Uchiha, entah apa yang membuat itu terjadi Sasuke tidak pernah bertanya kepada orang tuanya, dia sudah senang Neji menjadi sahabatnya.
"Ba-san sudah berjuang keras melawan kanker payudaranya, mungkin kali ini Tuhan membiarkannya istirahat," Kiba mendekat ke arah Neji dan membuka kedua tangannya lebar. "kemarilah, hanya kali ini aku membiarkanmu menangis di pelukanku."
Naruto menarik kerah belakang Kiba agar dapat menjauh dari Neji. "Aih~ kau lebih menjijikan dari pada aku, apa kau tidak sadar seperti pasangan homo Neji? Dia masih jomblo, single! You know? Apa yang akan kerabatnya pikirkan tentang Neji nanti, mungkin setelahnya dia akan di jodohkan oleh Ji-san karena kau."
"Apa kau tidak merasa kita semua di sini jomblo? Bahkan Uchiha berengsek ini juga jomblo, ah! Kecuali bajingan Sai yang langgeng bersama Yamanaka, aku hanya ingin menghiburnya rubah sialan."
"Setidaknya hilangkan bahasa menjijikanmu itu Kiba. Ini rumah duka."
"Woo Shikamaru. Aku setuju denganmu." Naruto mengacungkan kedua jempolnya pada Shikamaru. "Neji bukan membutuhkan pelukan, lagi pula sejak kapan kita punya budaya memberikan pelukan, kita ini yanke! Neji membutuhkan yang lain."
Naruto melirik ke arah Sasuke dengan senyuman mesum.
Sasuke menyeringai mendengar ucapan Naruto, dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, ia memutuskan berbalik pulang bersama yang lainnya hingga di ambang pintu mereka berhenti sejenak.
Menolehkan kepalanya ke arah Neji yang tengah menatap mereka datar, "Kami menunggmu di klub bajingan."
It's Me
.
.
.
It's Me
Disclimer : Om Masashi Kishimoto.
Author : Hanna Hoshiko
Pairing : Sasuke U. – Sakura H.
Rated : T+
Genre : Romance/Hurt/Comfort/Drama/Friendship.
.
.
.
Warning!
Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author
Cerita ini akan update setiap author gak lagi sibuk di RL dan gak lagi kena WB.
Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.
.
.
.
Don't Like Don't Read.
.
.
.
Mempersembahkan.
Sasuke membaca dengan berjalan, hari ini dia mempunyai kuis yang sangat penting di salah satu mata kuliahnya, belajar bukan hal sulit baginya mau pun kakaknya, mereka sudah terbiasa sejak kecil. Fakultasnya terlihat agak sepi dari tempatnya berdiri sekarang, itu mungkin faktor banyak mahasiswa fakultasnya yang memilih cuti lebih awal.
Hidupnya masih sama seperti dulu, populer dan banyak digilai perempuan, tapi Sasuke memilih untuk merubah dirinya, dia tidak lagi bermain-main dengan para perempuan yang tergila-gila padanya.
Bruk. Buku Sasuke terjatuh.
"Maafkan aku, aku sama sekali tidak melihatmu tadi, aku sibuk mencari ponselku di dalam tas."
Sasuke tidak beraksi apa pun, kepalanya sedikit ia miringkan dan sebuah seringaian muncul di wajahnya. "Hn. Senang bertemu denganmu."
Buk. Bunyi bukunya yang tertutup seolah menjadi suara yang sangat keras.
Mereka berdua rival.
"Senang bertemu denganmu lagi Uchiha," Kouji berdiri dan mengulurkan buku Sasuke, sebuah senyum palsu terukir di bibirnya. "aku kembali."
Sasuke memasukkan kedua tangannya. "Aku senang kau kembali, supaya kau sadar di mana posisimu."
"Aku selalu tahu di mana posisiku Uchiha, di sini," Kouji menunjuk dadanya menggunakan buku Sasuke. "aku selalu berada di dalam hati Sakura, hubungan kami tidak sesingkat yang kau bayangkan begitu pula dengan kenangan kami berdua."
"Bagiku itu tidak penting, kau tidak pantas mengatakan itu sampai Sakura memilihmu lagi."
"Dia pasti memilihku."
"Keyakinan busuk macam apa yang keluar dari mulutmu?" Sasuke mengambil bukunya dengan kasar. "kau hanya tidak lebih dari seorang pembual dengan otak udang."
Kouji tertawa pelan. Bug.
Pukulan Kouji bukan mengenai wajah Sasuke, tapi justru mengenai buku yang dijadikan tameng, Sasuke tertawa pelan dan mengintip ekspresi kesal Kouji dari balik bukunya. Kouji menarik tangannya kembali, dan memandang Sasuke garang, ekspresi kesombongan Sasuke begitu kuat terpancar dari wajahnya.
Tangan Sasuke membersihkan sampul bukunya, "Kau tidak perlu berusaha terlalu keras. Kita di sini tahu siapa pemenangnya," Sasuke memandang Kouji dengan sorot mata datar, seolah tidak pernah terjadi apa pun di antara mereka beberapa menit yang lalu, dia membuka bukunya lagi.
Menaikkan bukunya setara dengan wajahnya, dan berjalan perlahan melewati Kouji, sebuah seringaian muncul begitu saja di wajah Sasuke, ketika melewati Kouji Sasuke menyempatkan untuk berbisik sebentar. "itu aku."
.
.
.
Jejak Kaki.
.
.
.
"Akhirnya musim dingin!" Sakura berteriak keras ketika melihat salju pertama turun. "yosh! Ini akan menjadi liburan ternyaman~"
Ino mengurungkan niatnya untuk kembali menggulung pasta itu masuk ke dalam mulutnya. "Kenapa kau begitu senang? Ini hanya musim dingin biasa, ku rasa kita perlu rencana berlibur."
"Apa kau gila?" Sakura menatap Ino dengan wajah bosan. "sadarlah~ perempuan gila, ini musim dingin, dingin! Apa kau tidak tahu artinya? Ha~ kau membuatku gila dengan otak gila belanjamu itu."
"Hee! Kenapa memang dengan musim dingin?!" Ino memperhatikan Sakura dari atas ke bawah. "kau benar, mungkin otak gila belanjaku membuat orang sepertimu menderita, kau bahkan tidak tahu gaya musim dingin. Cih!"
"Apa?! Babi hutan kau saja yang tidak mengerti arti indahnya musim dingin, ini adalah musim yang tepat untuk hibernasi hahaha." Sakura menatap Ino dengan mata yang membara, dan menunjuk Ino dengan telunjuknya.
Ino menatap Sakura tajam. "Aku. Tidak. Akan. Membiarkan. Itu. Terjadi."
"Aku tidak membiarkanmu merusak hibernasi indahku." Sakura memincingkan kedua matanya.
"Hoam~ kali ini aku setuju dengan Sakura-chan,"
Hinata keluar kamar dengan mengucek kedua matanya. "musim ini begitu pas untuk bermalas-malasan, di atas ranjang dan di temani secangkir coklat hangat, beberapa cemilan, dan membaca manga. Kita tidak perlu keluar ah! Suhunya sangat dingin, jadi hilangkan rencana jahatmu Ino-chan."
"Oh~ Hinata kita satu kubu sekarang hm? Oke, Pig hilangkan recana nistamu pada kami."
Ino sedikit membenarkan masker tomat di wajahnya.
"Apa kalian berdua gila?!" teriak Ino kesal. "makhluk macam apa kalian ini? kalian berdua seharusnya pergi berkencan dan menikmati malam dengan adegan erotis, ho! Kulitku bisa keriput lebih cepat."
"Itu tidak masalahkan Hinata," Sakura menggandeng tangan Hinata. "kita bisa jadi pasangan hahaha."
Ino menaruh piringnya di atas tumpukan piring kotor. "Jangan percaya padanya Hinata, aku punya cinta lebih besar untukmu dari pada milik Forehead, jadi ayo kemarilah~ Bidadari ini akan menunjukkan liburan musim dingin yang sempurna."
"Bidadari pantat gorilla,"
Sakura memakai mantel dan membuka pintu balkon untuk menata ulang tanaman mereka. "mulutnya tidak jauh beda dengan sales."
Sakura masuk dengan terburu-buru, Ino yang masih berusaha menyingkirkan masker dari wajahnya dan sesekali memandang ke arah kedua temannya, Hinata terlihat cuek-cuek saja dan mengabaikan pertengkaran kecil antara Sakura dan Ino.
"Berhentilah membuat diri kalian semakin terlihat seperti idiot."
"Hoo~ babi hutan kau harus sadar diri, kau terlihat lebih idiot dariku saat pingsan di bar, kau beruntung memilikiku," Sakura mengambil posisinya nyaman di atas sofa. "aku selalu rela menjemputmu di tempat menjijikan itu."
"Dia tidak bisa minum. Itu penjelasan singkatnya." Sahut Ino cuek dan mendekat ke arah Sakura.
Hinata memeluk Sakura. "Oh~ Sakura-chan tidak bisa minum, aku akan mengajari Sakura-chan minum bagaimana? Aku juga pro dalam hal ini."
Hinata mengedipkan matanya bangga. Sakura hanya meliriknya aneh.
"Baiklah, kau memang ahlinya dalam hal ini,"
Sakura melepaskan pelukan Hinata dengan paksa, memberikan senyuman aneh pada Hinata yang masih memasang wajah bangga. "kau juga lebih mengerikan dari pada babi gila ini."
.
.
.
Jejak Kaki.
.
.
.
Tayuya tersenyum memandang keluar jendelanya. "Kau benar, salju-salju cantik itu mulai turun. Jadi musim dingin sudah tiba ya?" Tayuya sedikit membuka jendelanya.
Melihat ke beberapa tempat di sekitar rumahnya. "mereka mulai menyelimuti bunga kesanyanganku," Tayuya tertawa pelan hingga matanya tiba-tiba melihat Kouji yang tengah berdiri di luar. "sepertinya musim dingin kali ini mungkin lebih hangat."
Tayuya menutup sambungan teleponnya, mengambil mantel dan turun dari kamarnya, ia tersenyum kecil melihat Kouji yang asik memandangi salju. Mungkin ia bisa mencoba bergabung.
Setelah melewati pintu Tayuya berhenti melangkah mendekati Kouji. "Kami tumbuh terlalu cepat."
Tayuya menghela napas dan membuat senyum sinis.
"Apa kau anak kecil? Mengagumi salju seakan mereka barang antik,"
Kouji berjalan mendekat ke arah Tayuya. "aku bahkan lebih cantik dari mereka." Lanjut Tayuya.
"Ku kira Nyonya besar sepertimu tidak akan keluar kamar di cuaca yang seperti ini," Kouji mengelus kepala Tayuya gemas.
Kouji berjalan menjauh dari Tayuya, kembali memandangi butiran salju yang mulai menumpuk di permukaan telapak tangannya, laki-laki itu tertawa pelan melihat hal itu terjadi. "dulu kita tidak terasa sejauh ini."
Kouji tersenyum pada Tayuya.
Tayuya terdiam.
"Apa kau melantur? Kita serumah sekarang," Tayuya mendekat ke arah Kouji. "haa~ aku berpikir apakah ini akan menjadi musim dingin paling buruk."
"Maksudmu karena aku berada di sini? Dasar perempuan jahat. Kenapa kau bisa seperti itu padaku.. apa kau sedang patah hati?"
"Kau bisa membacanya?"
"Aku mengenalmu lebih lama dari pada semua teman yang kau punya," Kouji masih mengumpulkan butir-butir salju di tangannya. "hanya melihat gelagatmu aku tahu. Kau tidak lebih menyedihkan dari aku harusnya kau bahagia, kau biasanya lebih senang melihatku menderita bukan? Dasar."
"Apa aku terlihat seperti itu?"
Tayuya menatap Kouji. "bukankah aku sudah memberitahumu, jika semuanya sia-sia dan akhirnya hanya menyakitkan."
"Apa kita masih perlu berdebat lagi mengenai itu?" raut wajah Kouji berubah serius.
"Ku rasa itu tidak perlu, tidak ada gunanya,"
Tayuya menatap langit, bicara dengan Kouji tentang Sakura sama halnya berbicara dengan pagar rumahnya, sepertinya Kouji akan membela wanita itu sampai mati. Itu membuatnya tidak rela, "itu menyakitkan kau tahu." Lanjut Tayuya pelan.
"Apa? Sebenarnya dengan siapa kau patah hati, Sasuke? Atau masih ada laki-laki lain yang belum aku ketahui."
Tayuya melirik Kouji.
"Cintaku hanya bertepuk sebelah tangan, apa kau berpikir aku bisa mengakhirinya sendirian?" Tayuya tertawa pelan sambil memperhatikan salju yang turun di depannya. "setelah semua yang ku lihat, sepertinya aku ingin mengakhirinya."
Puk. Kouji melempar sebuah bola salju pada Tayuya.
Tayuya menatap Kouji kesal, "Aku tidak tahu siapa yang sedang kau bicarakan tapi apa kau sebodoh itu?! Apa kau sudah menyatakan perasaanmu padanya? Ah! Itu tidak mungkin egomu itu mengerikan, kau bahkan tidak tahu perasaannya padamu-"
Wajah Tayuya berubah kaget mendengar ucapan Kouji, sisa-sisa salju yang masih menempel di wajahnya perlahan jatuh ke tanah. "-setidaknya akhiri bersamanya, bukankah dia yang sudah membuatmu menyukainya."
"Menurutmu seperti itu?"
Wajah Tayuya melembut. "Tidak segalanya tentang kesendirian berarti kuat." Kouji mendekat ke arah Tayuya, tersenyum lembut dan kembali mengelus kepala Tayuya. "Aw!"
Dengan wajah kesal Tayuya menginjak kaki Kouji sekuat-kuatnya. "Kau tidak pantas mengatakan itu padaku bodoh."
.
.
.
Jejak Kaki.
.
.
.
Neji datang dengan wajah serius, Sai memandang Neji yang datang dari arah pintu masuk dengan wajah datar, ia meletakkan sketsa yang tengah ia buat di atas meja. Beberapa jam lalu Neji membuat mereka berkumpul di galeri lukis miliknya, Sai tidak begitu tahu apa yang membuat Neji mengumpulkan mereka seperti ini, laki-laki itu tidak memberitahunya apa pun mengenai itu.
Naruto terlihat menyusul di balik punggung Neji.
"Apa Sasuke belum datang?"
Shikamaru memilih untuk kembali duduk. "Mungkin dia masih dalam perjalanan, memang ada apa?"
"Yo! Apa aku tertinggal sesuatu yang seru di sini?!" Kiba datang dengan membawa beberapa bungkus ramen instan.
"Kiba! Kenapa kau baik sekali hari ini," Naruto menghampiri Kiba dan mencoba membantu membawakan barang bawaan Kiba. "aku belum sempat makan siang saat ke sini tadi, cuaca lebih senang membuatku tidur di kasur, dan kau penyelamatku hari ini."
"Kau berhutang padaku rubah."
Kiba dan Naruto sibuk membuat makanan mereka, Sai mengambil kembali sketsanya. "Apa kau akan bicara saat Sasuke tiba?" Sai bukan tipikal orang yang benar-benar ceria, tapi dia orang yang hangat.
"Karena ini masa lalunya." Neji memandang ke arah jendela.
"Ini hanya masa lalu Sasuke kenapa kau harus mengumpulkan kami semua, bicara saja dengan Sasuke berdua, itu sudah cukup," Sai menghembuskan napas pelan. "kau tahu yang kau lakukan ini sia-sia."
"Apa kau sedang datang bulan Shimura? Kita berbagi masa lalu selama lebih dari empat tahun." Shikamaru meminum tehnya dan membuang wajahnya ke arah lain.
Sai menatap tajam Shikamaru.
"Apa kau pernah membayangkan jika dia tidak ingin ada yang tahu tentang masa lalunya? Karena itu begitu memalukan dan menyakitkan untuk diketahui oleh orang lain," Sai kembali menghembuskan napasnya pelan. "kita tidak bisa membaca pikiran orang lain bahkan setelah kita mengenalnya bertahun-tahun."
"Ku rasa kau benar kali ini Sai,"
Naruto datang dengan beberapa ramen instan panas di atas nampan. "tapi kau mengenal kami dengan baik dan juga kami mengenalmu dengan baik, terkadang aku juga merasakannya. Masa lalu yang membuatku malu pada orang lain... tapi itu tidak masalah asalkan itu kalian."
"Kita semua tidak ada yang mengalami masa lalu yang sempurna, tapi berkat itu kita semua berada di sini," Kiba menyenderkan punggungnya, sebuah senyum remeh ia tunjukkan pada seseorang yang berada di ambang pintu. "bukan begitu Sasuke?"
Sasuke menggantungkan mantelnya.
Berjalan ke arah dapur sederhana milik Sai. "Kalian sedang bergosip tentangku atau kau sedang menjadi orang tua lagi bersama Naruto, Kiba?" Sasuke menjatuhkan beberapa sendok bubuk coklat ke dalam gelasnya. "kita ini laki-laki, kenapa kalian bergosip seperti perempuan, hei Hyuuga kau tahu jam ini jam apa?"
Karena terkadang laki-laki juga sama seperti perempuan, karena mereka memang hanya manusia.
"Kenapa aku harus tahu. Ini juga tentang dirimu."
"Ini jam Sakura melihat tanaman-tanamannya!" Sasuke meminum coklat panasnya. "aku sudah seminggu tidak bertemu dengannya."
"Tapi yang ini kau tidak bertemu dengannya selama lima tahun," Sasuke menghentikan gerakannya untuk kembali minum. "kau yakin tidak merindukannya Uchiha?"
"Kenapa aku harus merindukannya?!"
"Kau merindukannya Teme," Naruto mengarahkan sumpit ke depan wajah Sasuke lalu memutarnya asal. "itu terlihat di situ. Dasar laki-laki dingin."
"Kau akan mengambil kembali ucapanmu Naruto, ketika melihat Sasuke bersama Sakura. Cih!" Sai tertawa pelan.
"Kau pernah melihatnya?" tanya Shikamaru dengan malas.
Sai meletakkan lagi sketsanya, tidak ada gunanya meneruskan pekerjaannya jika sedang bersama mereka. "Aku tidak perlu mencari tahu, Ino melihat semuanya... dengan detail. Dia selalu menyuruhku menjauhkan Sasuke dari Sakura, karena laki-laki dingin ini selalu mengikuti tuan putrinya hampir setiap saat, dan itu membuat Ino kesal."
"Temari juga sudah kembali Shikamaru," Neji memasukkan ponselnya ke dalam saku. "aku mendengarnya dari juniorku, orang-orang dari masa lalu kalian berdua sekarang sudah kembali. Apa yang akan kalian lakukan?"
Shikamaru meregangkan otot-otot tangannya, mengambil mantelnya dan berjalan keluar.
"Memangnya harus apa lagi? Aku sudah menunggunya selama lima tahun untuk kembali-"
Shikamaru berdiri di ambang pintu, membuat beberapa salju menerobos masuk ke dalam ruangan. "-bukankah aku harus menyambutnya lebih dulu dari yang lainnya?"
"Kau tidak ingin menyambutnya juga Teme?"
Sasuke masih bergerak tenang di kursinya. "Dia sudah mempunyai keluarga untuk menyambutnya."
"Ku pikir rasa menyesalmu itu masih tersisa, apa kau benar Sasuke yang aku kenal dulu?" Neji mengambil minumannya.
"Rasa itu mungkin masih ada," Sasuke tertawa pelan. "tapi jika memang rasa itu masih benar-benar ada... Sakura tidak akan pernah bisa membuatku seperti ini."
"Aku tidak ingin Sakura... kau tahu maksudku Sasuke. Jika memang rasa yang kau maksud itu masih ada, tinggalkan Sakura." Sai menatap tajam ke arah Sasuke.
"Apa kau sedang bercanda denganku Sai?" raut Sasuke begitu dingin, ia tahu apa yang dimaksudkan Sai tapi dia tidak bisa menerimanya, karena dia tidak bisa lagi meninggalkan Sakura. "aku tidak semiskin yang kau pikirkan, jika aku mau aku bisa mengejar perempuan itu dan menyatakan semuanya dulu, kalau aku salah, menyesal, dan tergila-gila padanya. Nyatanya aku tidak pernah melakukan itu, karena aku takut-"
Sasuke menatap ke arah Sai. "-takut jika dia bukan yang aku inginkan."
"Kau dulu juga tidak mencari Sakura-chan Teme."
"Sakura, dia sepertiku. Berkecenderungan bersikap dingin pada orang lain, aku juga putus asa karena masih menyukainya padahal hampir satu tahun aku tidak bertemu dengannya lagi, aku juga berpikir mungkin dulu aku harus mencarinya, menanyakan bagaimana perasaannya setelah berpisah dengan Kouji, tapi kau tahu aku juga labil saat itu."
Sasuke menyesap minumannya. "Aku lebih banyak memikirkan diriku dan bagaimana cara mendapatkan Sakura, saat itu aku menganggap diriku sudah dewasa tapi ternyata aku hanya anak-anak, karena itu aku tidak mencari Sakura. Aku tidak pernah ragu Sakura bukan apa yang aku inginkan, hidup dengan serba berkecukupan, Sakura menjadi satu-satunya hal yang benar-benar aku inginkan. Aku mempersiapkan diriku agar pantas saat bersamanya, kalian lihat sendiri-"
"-dari perempuan itu dan Sakura, mana yang membuatku lebih terlihat bodoh." Sasuke tersenyum hangat.
.
.
.
Jejak Kaki.
.
.
.
Sakura mengarahkan kepalanya ke samping. "Kau bisa membawa ini semua Haruno-san?
"Tidak apa-apa, aku bisa membawanya ha ha,"
Semuanya hanya kebohongan, perempuan waras mana yang bisa membawa berlapis-lapis pakaian dari loundry, bahkan melebihi kepalanya. Ya.. mungkin ada perempuan waras yang bisa melakukan itu, Sakura Haruno. "anda tidak perlu khawatir."
"Aku bisa membantumu Haruno-san."
Lihat betapa sombongnya Haruno tunggal itu, dia berjalan sendirian di pagi hari dengan setumpuk pakaian bersih di tangannya, tersenyum lelah dan menyesali keputusan untuk menolak bibi loundry. Sifat sombongnya kenapa begitu mengerikan seperti ini! harusnya Ino membeli apartemen lebih dekat dengan tempat cucian sialan itu.
Kenapa juga dia harus menderita di pagi hari saat musim dingin seperti ini. bruk... semuanya begitu sempurna.
"Ah! Sial.. lutut kesayanganku!," Sakura melihat pakaian bersihnya berceceran di jalan. "lain kali aku akan membawa troli."
Lututnya berdarah dan sekarang ia harus menyusun lagi semua pakaian sialan itu.
"Pip! Pip! Ambulance datang,"
Sakura menghentikan gerakannya memunguti pakaian, melihat laki-laki tampan dengan senyum bodoh, dia juga menenteng sekantong obat-obatan. "sebenarnya berapa IQ-mu? Kenapa kau bodoh sekali, memakai pakaian pendek seperti itu di musim dingin, kau hanya akan membuat puas laki-laki hidung belang karena melihat paha mulusmu itu."
Sakura merembut pakaiannya yang berada di genggaman laki-laki yang dianggapnya sudah tidak waras.
"Haa~ Tuan yang terhormat aku bisa melakukannya sendiri," Sakura mendecih pelan. "beraninya dia menghina IQ-ku, dia pikir dirinya juga bukan laki-laki hidung belang."
"Oh! Aku merasa terhina dengan itu Nona."
Sakura menatap benci pada Sasuke. "Benar, aku memang menghinamu, apa anda akan melaporkanku ke polisi? IQ pantatmu."
"Wah~ sekarang kau mengumpatiku Nona?" Sasuke mendekat ke arah Sakura. "hatiku sakit mendengarnya, asal kau tahu aku orang yang pintar saat SMA dulu, bagaimana bisa aku melaporkan perempuan secantik dirimu ke polisi."
"Kalau begitu menyingkirlah,"
Sakura berhasil menyusun kembali tumpukan pakaiannya. "kau menghambat pekerjaanku."
Sakura berjalan melewati Sasuke, melihat itu Sasuke dengan cepat merogoh kantong obatnya, meneteskan sedikit cairan di atas kapas untuk mensterilkan luka Sakura, berlari pelan mengejar Sakura yang terlihat kesusahan membawa setumpuk pakaian.
Sasuke berdiri tenang di depan Sakura. "Tunggu sebentar Nona."
"Lagi... anda tahu, anda berhasil membuat moodku hari ini jelek," Sakura kembali mendecih. "ku harap wajahmu seperti moodku hari ini."
Sasuke berjongkok di depan Sakura, "Hei~ aku terlahir sebagai seorang Pangeran-" Sasuke menyentuhkan kapas yang di bawanya ke luka Sakura.
bruk! bruk! bruk! "Ah! Apa yang kau lakukan Sasuke bodoh?! Kau menyentuh lukaku~"
semua pakaian yang di bawa Sakura jatuh menimpa kepala Sasuke satu-persatu. "Harusnya kau membawanya, kenapa kau menjatuhkan semuanya ke kepalaku?!"
"Kau menyentuh lukaku sialan!"
"Aku mengobatimu bodoh!" Sasuke menutup luka Sakura dengan perban. "Ah! Sudah selesai-" Sasuke mencoba untuk lebih merapikan lagi perban Sakura. "-kau harusnya tidak ceroboh, kau membuatku takut." Sasuke mendongak dengan sebuah senyum lebar.
Sakura menarik satu tangannya ke depan dada, membiarkan satu tangannya lagi menggapai kepala Sasuke, hingga sebelum tangannya menyentuh Sasuke, Sakura mengurungkan niatnya. Tuk!
"Kau harus membereskan ini semua Uchiha-sama."
"Kau!" Sasuke mengusap dahinya. "Kenapa harus menyentilku juga, dasar perempuan jahat, tidak tahu terima kasih."
"Benar! Aku perempuan jahat-" Sakura ikut berjongkok, "-jadi adik kecil bawakan semua pakaian ini untuk kakak cantik ini hm? Aku akan membelikanmu es krim." Sakura mengusap kepala Sasuke cepat.
Sasuke memandang kesal Sakura yang sudah berjalan di depan. "Adik kecil?! Aku bahkan lebih tua darimu."
"Ha~ sebenarnya berapa IQ-mu?" Sasuke mulai memunguti pakaian di sekitarnya. "aku lebih tua dua bulan darimu bodoh! Cepat bawa semua pakaian itu adik manis, kakak cantik ini berjanji akan membelikanmu es krim bukan?" Sakura menolehkan kepalanya pada Sasuke dengan sebuah senyum manis.
Sasuke tertawa pelan.
"Kenapa aku bisa menyukai perempuan bodoh sepertinya Tuhan."
.
.
.
Jejak Kaki.
.
.
.
"Kenapa mereka tidak membangun satu supermarket pun di sana? Kaa-san tahu, anakmu ini harus berjalan 500 meter, hanya untuk membeli makanan-" Sakura memasukkan beberapa makanan ke dalam keranjang belanjannya.
"-kalau ingat seperti ini, aku akan membeli makanan dulu tadi saat perjalanan pulang." Sakura memutuskan sambungan teleponnya.
Sakura tidak pulang sendirian ke rumah besarnya, Hinata juga ikut, mereka hanya bergantian menginap di rumah masing-masing. Lain kali mungkin mereka bisa menginap di Rumah Ino juga, lagi pula mereka sudah terbiasa hidup bersama, dan membagi semuanya bersama.
Sakura menyentuh sebuah jus. "Kenapa jus ini membuatku sedih." Gumamnya pelan.
"Teringat seseorang?"
Dengan cepat Sakura menjauhkan tangannya dari jus yang di sentuhnya, menatap orang yang tengah berdiri di sampingnya. "kau akan membeli itu? Harusnya kau membeli kare saja, itu lebih mengeyangkan."
"Aku tidak membelinya, hanya teringat beberapa kenangan masa lalu saat melihatnya."
"Kau tidak pernah melihat jus instan?"
"Ada seseorang yang selalu membuatkanku makanan sehat, aku sudah jarang membeli barang instan jika ke supermarket."
Laki-laki itu tertawa pelan. "Wah~ aku harap dirimu itu aku, aku bisa makan makanan sehat setiap hari, apa kau mau bertukar kehidupan denganku? Setidaknya nanti kau tahu bagaimana rasanya menjadi aku."
"Kau tidak akan mau bertukar denganku, aku harus membayar mahal hingga bisa bertemu dengannya. Karena itu aku selalu menikmati apa yang di masaknya, aku bisa merasakan perjuanganku di sana."
Sakura tertawa pelan ketika mengingat terkadang Hinata memasakan makanan aneh untuknya dan Ino.
Sakura menatap jalanan lurus menuju Rumah orang tuanya, jika di hitung pulang dan pergi dia berjalan hampir 1 kilometer, ini juga salahnya kenapa tidak membawa sepeda saja tadi.
"Aku akan mengantarmu Sakura."
Sakura tersenyum tipis. "Tidak perlu Kouji, itu akan merepotkanmu, lagi pula Rumah kita tidak bisa dibilang dekat."
"Kau tidak meminta aku mengantarmu, tapi aku yang mau mengantarmu-" Kouji menghembuskan napasnya pelan. "kita bisa berbicara beberapa hal dalam perjalanan."
Kouji tersenyum tipis, Sakura juga ikut tersenyum melihat itu, dulu sekali dia terpikat dengan senyum Kouji yang seperti ini, senyum itu yang menuntunnya masuk ke dalam dunia laki-laki itu. Tapi sekarang senyum itu tidak terlihat seindah dulu.
"Boleh aku bertanya?" Kouji menganggukkan kepalanya. "Tayuya... apa kau sangat menyukainya?"
Kouji melirik Sakura. "Kami berasal dari desa yang sama, karena pekerjaan... keluarga kami sama-sama pindah kemari, seakan kami tidak mempunyai teman lain, kami lebih banyak bermain bersama-" Kouji menghela napas menciptakan kepulan asap kecil di depan mulutnya.
"-dulu Tayuya sedikit tomboy, karena itu dia tidak malu bermain denganku, aku bahagia mempunyai sahabat sepertinya, hingga aku sadar aku tidak lagi menganggapnya seorang teman. Aku menyadarinya saat kelas satu SMP, waktu itu kami berada di kelas yang sama hanya dua tahun ajaran saja, aku begitu menyukainya, aku tergila-gila dengannya," Kouji tertawa keras.
"rasanya tidak pantas mengatakan itu untuk seumuran anak SMP, tapi aku memang begitu menyukainya, aku selalu mencoba untuk mengerjakan semua tugas sekolah bersama Tayuya, makan siang bersama, kami juga menghabiskan hari libur bersama, Rumah kami berdekatan. Semua cara yang aku bisa untuk selalu bersama Tayuya akan aku lakukan, hingga tahun ajaran ke tiga, kami berbeda kelas, sejak saat itu Tayuya terasa begitu jauh dariku-"
Kouji tersenyum pahit. "-dia berada di kelas yang sama dengan Uchiha Sasuke, saat itulah Tayuya berubah, hahaha dia mulai terlihat seperti perempuan, kamarnya yang selalu di penuhi alat musik yang berserakan berganti dengan kosmetik, aku senang Sasuke merubah Tayuya menjadi lebih baik, tapi kau tahu Sakura apa yang menyakitkan? Sasuke merubah Tayuyaku menjadi orang lain. Aku tidak lagi menemukan cara agar bisa bersamanya, dia disibukkan dengan Sasuke dan teman-teman perempuan barunya, perlahan dia mulai melupakanku tanpa tahu aku menyukainya, sedangkan aku hanya bisa melihatnya dari jauh dan mengakhiri semuanya sendirian dalam diam,"
"hingga aku bertemu denganmu."
Sakura menatap Kouji. "Apa yang tidak pantas? Anak kecil itu tergila-gila dengan permen, terdengar sah-sah saja, tidak ada yang aneh. Kau harusnya tidak meremehkan perasaanmu sendiri, kau tergila-gila dengan Tayuya? Itu wajar, kau menyukainya. Dia cinta pertamamu."
"Aku terdengar seperti seorang idiot saat itu."
"Hahaha, kau memang idiot! Harusnya kau mengakui semuanya, keberuntungan seseorang siapa yang tahu, bisa saja dia juga menyukaimu."
"Kau berubah, Sasuke berhasil merubahmu menjadi sedikit hangat-" Kouji menatap Sakura. "-ini bukan berarti aku merelakanmu padanya, dia selalu saja berhasil merubah seseorang."
"Aku berubah atas kemauanku sendiri, bukan karena siapa pun, aku mengatakan ini agar kau tahu, Tayuya juga berubah atas kemauannya sendiri. Dia menyukai Sasuke, untuk membuat Sasuke melihatnya Tayuya merubah dirinya," Sakura tersenyum lebar. "kau harus tahu ini, tidak ada seorang pun yang bisa mengubah orang lain, selain orang itu sendiri yang menginginkan suatu perubahan untuk dirinya."
Sakura berhenti di depan gerbang Rumahnya.
Kouji mengusap kepala Sakura. "Terima kasih, sekarang aku mengerti. Kau masih tidak ingin berteman denganku gadis nakal?"
"Jika bertemu lagi, aku pasti akan menjadi temanmu-" Kouji menjauhkan tangannya dari kepala Sakura. Melambaikan tangannya dan mulai berjalan menjauh. "-dan saat itu akan ingin mendengar ceritamu ketika menyukaiku!"
.
.
.
Jejak Kaki.
.
.
.
"Salju hari turun banyak sekali, bukan begitu Hinata?"
Sakura menatap langit-langit payungnya setelah melirik Hinata.
"Ini awal bulan Desember Sakura-chan, apa saat pulang dari Kuil nanti kita perlu membuat sesuatu?" Hinata melihat punggung Sakura. "mungkin mie. Panas dan berkuah."
"Kau harus berhenti makan-makanan berlemak Hinata-" Sakura berbalik, menatap dada Hinata dengan senyuman mesum. "kau tidak sadar akhir dari semua lemak itu berakhir di mana selama ini," Sakura sedikit memiringkan kepalanya, dan tersenyum idiot ke arah Hinata. "boing-boing."
"Sakura-chan!"
Wajah Hinata bersemu merah. "ke-kenapa kau menatap dadaku seperti itu! Dasar tidak so-sopan. Harusnya Sakura-chan lebih banyak makan-makanan berlemak, lihat-" Hinata menunjuk dada Sakura dengan matanya. "mereka hampir tidak terlihat."
"Hei~ kenapa kau berkata seperti itu Hinata,"
Sakura berjalan mendekat ke arah Hinata, mendekatkan mulutnya ke arah telinga Hinata. "kau sangat tahu jika aku seksi-" Sakura menjauhkan wajahnya. "Bukan begitu? Boing-boing." Tangan Sakura berada di depan wajah Hinata dan bergerak seperti meremas sesuatu.
"Hee~ Sakura-chan!"
"Hahaha."
Yang dikatakan Kouji beberapa hari yang lalu benar, sejak kesembuhannya dia mulai berubah, lebih ceria dan terbuka, ah sepertinya tidak itu saja. Sifat-sifat yang dulu bukan seperti dirinya sekarang begitu melekat padanya, dia bersyukur karena itu meski hanya orang dekatnya saja yang bisa melihat semua sifat itu melekat padanya, hari tenang dan penuh kebahagiaannya dulu benar-benar sudah kembali.
Sakura menghentikan langkahnya, melihat jejak-jejak kaki di tangga Kuil yang juga menuju Kuil, ini membuatnya mengingat masa lalu, ketika dulu dia selalu mengikuti jejak kaki Ibunya dari belakang.
"Sepertinya ini jejak kaki laki-laki, jejak kakiku terlihat mungil di situ."
Sakura terus saja mengikuti jejak kaki itu, meninggalkan Hinata di belakang, "Oh! Aku menemukan pemiliknya," Sakura berjalan naik ke samping pemilik jejak kaki yang diikutinya. "Jejak kaki itu milikmu ya pantat ayam!"
"Kenapa kau tidak memakai payung, salju turun begitu banyak hari ini, kau bisa botak karena membiarkan salju menutupi kepala ayammu itu." Sakura meninggikan sedikit payungnya hingga memayungi tubuh mereka berdua.
Sakura mengikuti pandangan mata Sasuke, "Sasuke..."
Di sana berdiri seorang perempuan berambut putih dengan kulit coklat menawan, perempuan yang terlihat sangat anggun dengan gaun panjang hijau tua, di balut dengan sebuah sweater dan sebuah cardigan tebal. Wajah Sasuke terlihat begitu dingin, berbanding terbalik dengan wajah perempuan itu yang menatap Sasuke dengan raut bahagia.
Perempuan itu tidak terlihat seperti perempuan yang sedang jatuh cinta pandangan pertama pada Sasuke seperti yang lainnya, sirat matanya menggambarkan suatu kebahagiaan yang berbeda, mungkin saja dia orang dari masa lalu Sasuke, orang yang pernah di cintainya, mencintainya, menyakitinya, di sakitinya, membahagiakannya, dan di bahagiakannya. Kemungkinan itu muncul dalam benak Sakura.
Karena tidak ada yang tidak mungkin, dia tidak mengenal Sasuke begitu dalam hingga bisa melakukan penyangkalan, Sakura menghela napas dan menimbulkan asap kecil.
Sasuke akhirnya melirik ke arah Sakura yang tiba-tiba saja tidak bersuara lagi setelah memanggil namanya, Sakura tertawa hingga ke dua matanya menyipit, payung yang di pegangnya sedikit bergoyang karena dia tertawa.
"dia perempuan yang cantik." Sakura menoleh ke arah Sasuke dengan sebuah senyum lebar hingga kedua matanya menyipit lagi.
.
.
.
To be continued.
A/N :
Alhamdulillah minal adzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin. Akhirnya rampung juga... karena saya udah ngasih tahu cerita ini bakalan sedikit panjang, saya bisa lebih mengembangin lagi scene dan konfliknya, meski saya nggak terlalu suka konflik yang berat-berat. Karena efek cerita yang jadi sedikit panjang untuk chapternya juga bakalan saya panjangin juga. Semoga tidak mengecewakan, jangan lupa kesan dan pesan ya :v
Balasan Review :
Yuinee5 : aku lebih suka karakternya Hinata sih di sini, terima kasih udah review.
Embun adja1 : yah karena kesibukkan yang begitu membelenggu awkwk, terima kasih udah review.
Bang Kise Ganteng : jangan abang Sasu ama author aja awkwkw :v sabar ya sob, karena aku udah konfirmasi ceritanya bakalan rada panjang jadi kita lihat jalan ceritanya santai aja, sambil tiduran juga boleh itu. Terima kasih udah review.
Hyuugadevit-Cherry : huhu terima kasih udah review dhe-chan \'o'/
Nurulita as Lita-san : terima kasih udah review.
Mustika447 : eakk abang Sasu emang selalu buat dekdekser awkwkw :v terima kasih udah review.
DaunIlalangKuning : Konbanwa! Yosh salam kenal juga ya, ah rupanya kamu rada bingung ya, di beberapa chapter sebelumnya sudah di jelasin jika Sakura gendut karena sumpalan, bukan asli gendut berlemak :v daku rasa tak tega awkwkw. Setiap scene di sini memang di buat dengan situasi yang berbeda, misalnya jika scene teratas adalah hari senin, dan scene ketiga adalah hari jum'at, setiap scene kebanyakan tidak di ambil hari yang sama, jika rentang waktunya tidak begitu jauh aku nggak akan menampilkan keterangan waktu mungkin hanya musimnya saja. Untuk scene Sasuke dan Kouji di cerita sudah terlihat jika itu sudah malam hari dan Sasuke pergi ke supermarket sedangkan untuk scene SasukeSakuraKouji itu scenenya di pagi hari dan berada di Kuil. Dari keterangan di atas sudah jelas jika kedua scene itu tidak dalam waktu yang sama dan tempat yang sama, yosh tenang aja :v jika ada pembaca yang bertanya soal apa pun tentang cerita, aku dengan senang hati bakalan nerangin bagian mana yang membuat mereka bingung, terima kasih atas reviewnya ya Da-san semoga balasan ini bisa membantu.
Uchiha Sakura 99 : terima kasih udah review ya :D
Laifa : aku nggak bisa ngebuat Sakura langsung suka sama Sasuke, perlahan tapi pasti. Terima kasih udah review.
Chiko akira : terima kasih udah review yak.
Brokoro : terima kasih udah review.
Tsurugi De Lelouch : aku memang tidak begitu ahli dengan diksi selevel penulis novel atau author senior di sini, dan lebih nyaman dengan gaya menulis seperti ini. terima kasih udah review.
