Hinata membuka payungnya, "Apa semuanya sudah ku beli?"
Ia melihat wadah plastik besar di hadapannya, mencoba mengingat semua barang belanjaannya, salju terus menumpuk pada permukaan payung, setelah sekian lama ini pertama kalinya Hinata mencoba belanja sendiri, biasanya tugas ini Sakuralah yang mengerjakannya.
Hinata terus saja berjalan dengan mengingat barang belanjaannya. Hingga ujung payungnya menyentuh punggung seseorang.
"A-ah! Maafkan aku, aku sedang tidak fokus berjalan,"
Hinata membungkukkan badannya. "apa ada yang terluka?" Hinata mencoba memandang orang yang di tabraknya.
"Aku baik-baik saja hehe, memangnya apa yang akan terjadi padaku, itu hanya sebuah payung tidak akan melukaiku-" lensa biru laut laki-laki itu melirik ke arah belanjaannya. "sepertinya itu berat, kau mau aku membantumu?"
Mata laki-laki itu kembali bergulir menatap dirinya. "Uhm... Nona, apa kau mendengarkanku?"
"Eh?!"
Sepertinya ada yang salah dengan dadanya, "Ti-tidak, aku bisa mem-membawanya sendiri." Sebenarnya ada apa dengan dadanya, apa dia terkena asma? He... dia bahkan tidak mempunyai riwayat penyakit itu.
"Kau baik-baik saja Nona? Kau membuatku khawatir, apa kau demam?" tangan laki-laki itu menyentuh dahinya, "Oh! Maaf rupanya tidak-" laki-laki itu menjauhkan tangannya. "tapi kau benar-benar baik-baik saja 'kan? Wajahmu sangat merah, jika kau sakit aku bisa mengantarmu ke Rumah sakit."
Kenapa sekarang laki-laki ini terlihat mencurigakan, jangan-jangan laki-laki ini seorang penjual organ tubuh manusia, ha~ kenapa semuanya berubah menjadi menakutkan seperti ini. padahal beberapa menit lalu ia merasa bertemu dengan seorang pangeran, cih.. dia harus kabur sekarang, sebelum dia menjadi makhluk yang paling di takuti Sakura.
Laki-laki itu tertawa keras kemudian tersenyum lebar. "Apa aku membuatmu takut? Aku tidak bermaksud apa-apa, aku tinggal di situ-" laki-laki itu menunjuk gedung apartemennya. "namaku Naruto. Apa kau juga tinggal di situ?"
Hinata mengangguk. "kalau begitu ayo! Kita bisa ke sana bersama," Naruto berjalan di depan dan Hinata mengikutinya di belakang. "hm... Nona aku belum tahu namamu, apa aku boleh mengetahuinya?"
"Tentu saja, namaku Hinata senang berkenalan denganmu Naruto-san."
"Apa kita pernah bertemu sebelum ini?"
Hinata menatap Naruto. "Sepertinya tidak, aku baru bertemu dengan Naruto-san sekarang," perempuan Hyuuga itu tersenyum kecil, kali ini dia benar-benar bertemu dengan seorang pangeran dari negeri dongeng.
"mungkin saja itu orang lain."
"Hm... benar 'kah? Aku merasa tidak asing denganmu Hinata-san. Tapi aku senang bertemu denganmu hari ini." Naruto tersenyum lebar membuat pipi Hinata kembali bersemu merah.
Mereka memasuki lift, tidak ada satu pun dari mereka yang memulai pembicaraan, mereka berdua tenggelam dalam pikirannya masing-masing, seulas senyum kembali terlihat muncul di wajah mereka. Hari ini mereka tenggelam dalam impian negeri dongeng mereka.
Hinata mulai berpikir inikah yang dirasakan Sakura saat bertemu Kouji, dan saat Ino bertemu dengan Sai, inikah rasa yang tidak pernah ada di setiap makanan yang pernah dia makan. Dia menyukainya.
"Naruto-san, Apartemenku di lantai ini, senang bisa berkenalan denganmu-" Hinata sedikit membungkukkan badannya. "-maaf atas ketidaknyamanan saat awal pertemuan kita tadi."
Naruto tertawa keras. "Tidak masalah-" Pintu lift mulai tertutup, "aku justru bersyukur payungmu menabrakku, sampai bertemu lagi."
Pintu lift tertutup sepenuhnya sebelum Hinata sempat memberikan jawaban.
"Ya... aku juga bersyukur payungku menabrakmu."
It's Me
.
.
.
It's Me
Disclimer : Om Masashi Kishimoto.
Author : Hanna Hoshiko
Pairing : Sasuke U. – Sakura H.
Rated : T+
Genre : Romance/Hurt/Comfort/Drama/Friendship.
.
.
.
Warning!
Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author
Cerita ini akan update setiap author gak lagi sibuk di RL dan gak lagi kena WB.
Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.
.
.
.
Don't Like Don't Read.
.
.
Saran : ketika membaca dengarkanlah lagu yang menurut kalian cocok dengan scene.
Mempersembahkan.
Sakura meletakkan kedua tangannya di pagar pembatas balkon, kedua bola matanya menatap sosok perempuan di sebrang jalan, perempuan yang di temuinya di kuil seminggu yang lalu, yang berkemungkinan besar adalah perempuan masa lalu Sasuke.
Sudah dua hari yang lalu dia selalu tidak sengaja melihat perempuan itu, menatap gedung Apartemen di sebrang jalan, sebenarnya dia juga penasaran siapa perempuan itu, apa hubungannya dengan Sasuke, dan apa yang perempuan itu cari di sekitar sini, setahunya Sasuke tidak tinggal di sekitar sini.
"Sakura Haruno! Bukankah kau harusnya belanja saat ini?!"
Sakura menghela napas, kemudian tersenyum lebar, sejauh apa pun rasa penasarannya itu bukan urusannya, dia sudah bersyukur hidupnya penuh kebahagiaan seperti sekarang.
"Aku akan berangkat dasar nenek sihir."
"Apa?!" Ino mengintip dari balik tembok dapur. "dasar jidat sialan."
Salju masih sibuk mengguyur Tokyo, meski tidak selebat beberapa hari lalu, tapi setidaknya cukup membuat Sakura menggunakan payungnya. Beberapa hari lagi perayaan tahun baru akan di gelar, Sakura berharap salju berhenti turun dan memberikannya tahun baru yang indah.
Setidaknya tahun baru kali ini Sakura berharap bisa menghabiskan dengan seseorang yang disayanginya.
"A-ano! Apa kau mengingat aku?"
"Kau yang ada di Kuil waktu itu 'kan?" Sakura tersenyum manis, perempuan ini terlihat lebih cantik di lihat dari dekat.
"Namaku Ryuuzetsu, sebenarnya aku sedang mencari Rumah seseorang tapi aku malu untuk bertanya pada orang yang tidak ku kenal-" perempuan berambut putih itu berjalan mendekat ke arah Sakura. "dan akhirnya aku tidak sengaja melihatmu."
Sakura mengulurkan tangannya, "Begitu, perkenalkan namaku Sakura, Ryuuzetsu-san. Semoga aku bisa membantumu."
"Ku harap begitu-" Ryuuzetsu membalas uluran tangan Sakura. "-saat di Kuil aku lihat kau kenal dengan Sasuke-kun, apa benar dia tinggal di sini?" tangan Ryuuzetsu menunjuk gedung Apartemen di sebrang gedung Apartemen Sakura.
Sakura terdiam.
Ternyata dugaannya benar, perempuan ini mencari Sasuke, dia bisa merasakan ikatan perempuan ini dengan Sasuke sekarang, itu terlihat ketika perempuan itu mengucapkan nama Sasuke. Ternyata orang seperti Sasuke juga punya masa lalu.
"Ku rasa aku tidak bisa membantumu Ryuuzetsu-san."
"Kenapa?"
Cahaya mata perempuan di depan Sakura meredup seketika. "apa Sasuke-kun yang melarangmu memberitahuku?"
"Bukan seperti itu,"
Sakura menghela napas pelan, dan menatap Ryuuzetsu dengan rasa bersalah. "aku memang mengenal Sasuke, tapi aku tidak tahu di mana dia tinggal, maaf."
"Kau mengenalnya bukan? Sakura-san bisakah kau bertanya pada Sasuke di mana dia tinggal sekarang," Ryuuzetsu menggenggam tangan Sakura dengan erat. "ku mohon Sakura-san."
"Ku mohon maafkan aku Ryuuzetsu-san, bukannya aku tidak mau memberitahumu alamat Sasuke, tapi aku tidak bisa bertanya padanya, aku memang mengenal Sasuke, dan pertemanan kami baru terjalin. Ku harap kau tahu maksudku."
Ryuuzetsu melepaskan genggamannya. "Aku mengerti, maaf sudah memaksamu seperti itu Sakura-san, terkadang aku memang suka lupa diri jika menyangkut tentang Sasuke-kun, aku akan mencoba bertanya pada teman-temannya-" Ryuuzetsu membungkukkan badannya. "terima kasih."
Perempuan bernama Ryuuzetsu itu terasa sangat penuh kasih sayang.
Tapi entah kenapa ketika sisi lupa diri yang dikatakannya muncul, Sakura merasa kesan kasih sayang yang selalu terlihat di luar menguap begitu saja, Sakura melihat punggung Ryuuzetsu dengan senyum kecil.
"Memang apa buruknya itu, dia juga manusia."
.
.
.
Aku, kau, kita, dan dia.
.
.
.
"Kouji?"
Tayuya membuka pintu kamar Kouji, seketika ia merapatkan pakaiannya, Kouji membiarkan kamarnya gelap dan sangat dingin, gorden balkon bergerak perlahan tertiup angin malam. Tayuya menghampiri Kouji yang tengah menatap langit malam dari balkon.
"Kouji? Apa yang sedang kau lakukan di sini?" uap-uap udara keluar dari mulut Tayuya, sesekali rambutnya juga tertiup angin. "kau membuat kamarmu sangat dingin, itu bisa membuatmu sakit."
"Apa pernyataan cintamu sukses?"
Kouji menutup matanya dan mendongak ke arah langit. "aku penasaran orang yang berhasil membuatmu jatuh cinta."
"Kau ingin tahu?" uap-uap udara kembali keluar dari mulut Tayuya.
Tayuya tersenyum manis. "dia cinta pertamaku yang datang terlambat-" Kouji membuka kedua matanya. "-untuk pertama kalinya di hidupku, aku melihatnya menatap seseorang selain aku, saat itulah aku sadar, ah~ aku menyukainya, sangat... sangat. Bahkan saat aku tahu dia tidak akan bisa lagi aku miliki, aku masih menyukainya, aku menyedihkan bukan?"
"Apa kau tahu rasanya menyukai orang yang tidak bisa kau miliki?" perlahan air mata Tayuya mulai menetes. "dulu aku bisa melakukan apa pun padanya tapi sekarang bahkan untuk berbicara dengannya itu menyakitkan untukku ha... ha... ha..." suara tangisan Tayuya mulai terdengar.
Badan Kouji menegang melihat kondisi Tayuya di sampingnya.
Dia menangis dengan tubuh menggigil kedinginan, kenapa Tayuya masih kuat berdiri di luar dengan baju pendek seperti itu, bahkan perempuan gila itu masih sempat-sempatnya bercerita.
Kouji membuka coatnya, membawa Tayuya ke dalam pelukannya dan memeluknya erat. "Jangan seperti ini, aku tidak bisa melihatmu menangis."
Pelukan Kouji terasa begitu hangat dan menenangkan, begitu memabukkan.
"Ha.. ha.. ha... jangan seperti ini, aku tidak bisa jatuh lebih dalam lagi padamu Kouji." Tayuya mendongak menatap wajah Kouji yang begitu terkejut. "ku mohon."
"Jadi laki-laki berengsek itu aku?" Kouji merenggangkan pelukannya. Setelah delapan tahun lamanya, akhirnya cinta pertamanya berbalas, tapi ketika semua telah berubah.
"Apa kau tahu rasanya menyukai orang yang tidak bisa kau miliki? Ah~ sekarang seharusnya kau tahu-"
Tayuya menatap Kouji tajam. "-kau tidak bisa lagi memiliki Sakura, bagaimana rasanya?"
"Kau ingin tahu jawabanku?" Kouji membalas tatapan Tayuya dengan pandangan lembut. "aku... pernah menyukai seseorang selain Sakura, dia adalah cinta pertamaku, untuk selalu bersamanya aku sudah melakukan apa pun yang ku bisa, hingga pada akhirnya aku tahu jika aku hanya menyukainya seorang diri, hanya aku yang berjuang... kau tahu kenapa? Karena dia berjuang untuk orang lain,"
Air mata Kouji jatuh di atas pipi Tayuya. "Sasuke Uchiha berhasil membuatku mengakhiri cinta pertamaku sendirian."
"Ka-kau menyukaiku?"
Tayuya menggenggam erat sweater Kouji. "apa ini berarti perasaanku terbalas?"
"Maafkan aku Tayuya, semuanya sudah sangat terlambat, Sakura sudah membuatku membuang semuanya."
"Begitu 'kah?" Tayuya memeluk erat. "aku yang seharusnya minta maaf padamu, aku sangat terlambat mengatakan semuanya, jika saja aku menyadarinya lebih cepat, aku tidak akan membuatku menderita seperti itu."
"Ya, jika saja aku tidak pengecut waktu itu, sekarang aku tidak akan melihatmu menangis seperti ini-"
Kouji mengelus kepala Tayuya. "berhenti menjadi pengagum gila Uchiha itu, sekarang fokuslah untuk hidupmu sendiri, kau pasti bisa menemukan seseorang yang tidak pengecut sepertiku."
"Aku..." Tayuya tersenyum manis.
"akan berhenti membohongi diriku sendiri," cup. Tayuya melumat pelan bibir Kouji, air mata Tayuya kembali menetes. "aku tidak ingin menyerah."
Bibir Tayuya terasa begitu dingin, Kouji menahan tubuh Tayuya yang mulai merosot ke bawah, perempuan itu kehilangan kesadaranya, sekarang dia harus seperti apa? Melihat Tayuya seperti ini kenapa hatinya harus begitu sakit, Kouji mengangkat tubuh Tayuya dan membawanya ke dalam.
Kouji menutup pintu balkon kamarnya, menyalakan penghangat ruangan, dan menutup semua tubuh Tayuya dengan selimut, dia berharap Tayuya tidak akan flu setelah ini. Kouji menyingkirkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah Tayuya, beberapa saat lalu dia telah menolak cinta pertamanya, menyakiti sahabat kecilnya, hanya untuk seorang perempuan yang telah membuangnya.
"Kenapa aku terlihat begitu jahat sekarang,"
Kouji tersenyum lembut dan membawa dirinya keluar. "jika aku bisa, aku ingin menyukaimu seperti dulu."
.
.
.
Aku, kau, kita, dan dia.
.
.
.
Sakura mengepang rambutnya ke samping, memberikan hiasan bunga berwarna ungu tua di sudut poni rambutnya, tangannya tidak berhenti di situ saja, sekarang dia mulai melepasi bibirnya dengan lipstik berwarna peach, dan sedikit memberikan perona pada pipinya. Sakura berdiri, merapikan lagi kimononya, hari ini mereka akan merayakan malam tahun baru dengan berdoa di Kuil, sekaligus menemani Hinata untuk berburu makanan.
"Oh~ Forehead kau cantik sekali-" Ino menyenderkan tubuhnya di pintu Kamar Sakura. "-seperti babi hutan."
Urat-urat dahi Sakura mengeras mendengar ucapan Ino. "Kau lebih mirip babi hutan dengan semua boneka babi di Kamarmu Pig," Sakura meletakkan alat make up-nya. "malam ini aku akan berdoa untuk bertemu seorang ikemen dan hidup bahagia selamanya."
"Dasar tante girang!"
Hinata mengintip dari balik badan Ino. "Ayo berangkat!"
Ino memakai kimono berwarna kuning dengan ornamen daun-daun berwarna hijau cerah, dia juga mencepol bawah rambutnya, begitu berbeda dengan kimono Sakura yang berwarna ungu gelap dengan ornamen kupu-kupu berwarna pastel, selera mereka kali ini sangat bertolak belakang. Sedangkan Hinata lebih memilih kimono berwarna merah muda dengan ornamen bunga-bunga berwarna merah, rambutnya ia cempol tinggi ke atas, dan menyisakan poni yang membingkai wajahnya.
"Ingat jangan sampai hilang, aku tidak akan mencari kalian berdua-" Ino mengarahkan telapak tangannya ke hadapan Sakura. "ayo kita nikmati semua makanan ini!"
"Bukannya kau ratu diet?"
Ino memandang Sakura bosan. "Ada kalanya dietku harus libur Forehead-" Ino menggandeng paksa tangan Sakura. "-cepatlah, gandeng Hinata juga."
Begitu banyak orang yang memenuhi jalanan kuil.
Sakura tersenyum senang, ini pertama kalinya dia merayakan tahun baru bersama Hinata, dia merasa kebahagiaan juga akan datang lebih banyak, dia selalu ingin tahun-tahun berikutnya dipenuhi tawa seperti tahun ini. bertemu Hinata, berteman dengan Sasuke, bertengkar dengan Ino, dan perlahan dia juga melupakan Kouji.
"Hinata..."
Sakura melihat genggaman tangannya yang kosong. "Ino!" Sakura menarik tangan Ino, kemudian menoleh pada tangan kirinya. "Hinata raib." Sakura menatap Ino dengan sebuah senyum polos.
"Kenapa kau melepaskannya?!"
Sakura membekap mulut Ino. "Tutup mulut sialan! Dia yang melepaskan tanganku, ayo kita cari saja."
Hampir sepuluh menit Sakura dan Ino mencari Hinata, memang cukup sulit mencari seseorang dengan orang-orang yang sedang ramai-ramainya menuju Kuil, mereka berdua cukup kesulitan karena tidak hanya Hinata saja yang memakai kimono berwarna merah muda, Sakura menghentikan langkahnya, Ino pun juga iku melakukan hal yang sama.
"Ingat jangan berteriak Pig-" Sakura tersenyum begitu lebar ke arah Ino. "-tersenyum oke?"
Ino mengikuti Sakura tersenyum lebar. "Aku akan membunuhnya, tarik dia, aku yang akan menggandengnya sialan."
"Hinata!"
Hinata menoleh dengan senyum polos, tangannya penuh dengan bungkus makanan. "ah~ kami mencarimu."
Sakura menarik Hinata mendekat padanya.
"Forehead, berikan dia padaku."
"Ino-chan maafkan aku hm? Mereka semua menarikku." Hinata mengarahkan bungkus-bungkus makanan ke depan wajah Ino.
"Kau harusnya bilang pada kami, kau membuat kami khawatir Hina," Ino mencoba untuk tetap tersenyum lebar. "jika bukan karena Forehead, aku pasti akan membunuhmu sekarang."
Hinata menggenggam tangan Ino. "Jangan marah hm? Ayo!" Hinata menoleh ke belakang untuk menggandeng tangan Sakura. "Sa-Sakura-chan? Tunggu Ino-chan, se-sekarang Sakura-chan yang menghilang."
Sakura memandang tangannya yang di genggam erat Sasuke, laki-laki itu berhasil menculiknya dari teman-temannya, jika saja Ino tahu mungkin wajah tampan milik Sasuke tidak akan utuh, Sasuke selalu saja menghancurkan rencana Ino untuk menghabiskan waktu bersamanya.
Sasuke menghentikan langkahnya.
"Apa kau senang?"
"Eh?" Sasuke menoleh pada Sakura. "y-ya aku senang, ini malam tahun baru bukan?"
"Apa kau senang bisa melewatinya bersamaku?"
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu-" Sakura membalas genggaman tangan Sasuke. "haa~ ayo! Kau beruntung mendapatkan perempuan cantik ini tuan."
Mereka berdua melanjutkan berjalan ke arah Kuil, sesekali Sakura tertawa karena berhasil melompat dari satu anak tangga ke anak tangga lainnya, seiring tawa Sakura terdengar seketika itu pula wajah Sasuke berubah cemas, Sasuke harus siap siaga menangkap tubuh Sakura yang sewaktu-waktu bisa oleng, dan ketika dia menyadari kelakuannya itu, Sasuke ikut tertawa pelan.
Sasuke menarik Sakura mendekat padanya. "Apa yang kau do'akan di Kuil tadi?"
"Rahasia." Sakura menjulurkan lidahnya keluar.
"Aku berdo'a do'amu akan terkabul."
Sakura menoleh pada Sasuke. "Kau tidak perlu melakukannya-" Sakura tersenyum senang. "-aku yakin semua do'aku pasti jadi kenyataan."
"Apa kau pernah berdo'a melupakan Kouji?"
Sasuke melepaskan genggamannya pada tangan Sakura, rambut mereka berdua melambai pelan terkena angin, kali ini biarkan dia berharap jika Sakura juga mempunyai rasa yang sama, yang dia lihat selama ini Sakura hanya menganggapnya sebagai teman.
"Tentu saja aku pernah,"
Sakura menatap bulan di langit. "tapi memang pada dasarnya aku tidak bisa melupakannya begitu saja, aku merasa beruntung cinta pertamaku adalah orang seperti Kouji, aku akan menikmati perasaan ini sampai benar-benar menghilang nanti."
"Dia juga menyakitimu."
Aura Sasuke tiba-tiba saja berubah gelap, Sakura menyadari perubahan aura di sekitar laki-laki tampan di depannya ini, Sakura menyentuh pipi Sasuke dengan lembut. "Orang selembut Kouji tidak akan bisa menyakiti seseorang, dan aku sekarang mulai berpikir jika akulah yang menyakitinya."
"Kau terlihat begitu menyukainya-" kedua mata Sasuke berubah sayu.
"-kenapa kau meninggalkannya jika masih sangat menyukainya?"
Hal ini benar bukan? Dia hanya tidak ingin egois tentang Sakura, meski melihat Sakura bahagia dengan orang lain akan membuatnya bahagia juga adalah suatu kebohongan besar, dia ingin mencobanya, mungkinkah itu menjadi solusi yang terbaik? Jika pun itu tidak menjadi solusi yang terbaik, dia juga sama-sama akan tersakiti.
"Memang apa lagi yang bisa ku lakukan?" air mata Sakura menetes. "aku hanya ingin dia bahagia bersama kebahagiaannya yang sebenarnya."
Sasuke menarik Sakura ke dalam pelukannya. Tidak, bukan dia saja yang tersakiti, setiap orang memiliki lukanya masing-masing, dan dirinya pun harus begitu.
Entah kenapa tempatnya berdiri sekarang begitu sepi, dan Sasuke baru menyadari itu.
"Bisakah aku menjadi kebahagiaanmu yang sebenarnya?"
Sasuke mendekatkan wajahnya, mengecup singkat bibir lembab Sakura.
Sakura tertawa pelan. "Apa yang membuatmu begitu menyukaiku?"
"Dulu senyumanmu berhasil membuat hatiku berdebar-" Sasuke mengusap jejak air mata di pipi Sakura. "setelah dua tahun akhirnya aku merasakan lagi jika hatiku berdebar karena seseorang, aku begitu menikmati saat-saat menyukaimu dulu hingga akhirnya kau menghilang, dan saat itu aku juga sempat berpikir, ini hanya rasa sesaat, pasti akan hilang. Hingga saat kita bertemu lagi aku sadar, rasa itu tidak pernah hilang-"
Sasuke tertawa geli. "-bahkan aku sadar jika dirimu sudah bukan Sakura yang cantik dan mempesona, sialnya aku tetap menyukaimu, ku pikir saat itu aku sudah gila menyukai perempuan jelek seperti itu. Tapi bukannya membencimu aku justru merasa sakit melihatmu seperti itu, aku terus saja bertanya, apa yang sudah kau lalui hingga jadi seperti ini, siapa yang membuatmu seperti ini, dan aku mulai sadar... inikah cinta? Ya... ini cinta, aku bisa menerima semua yang ada pada dirimu."
"Kau harusnya tidak mencintai begitu tulus untuk orang sepertiku," air mata Sakura kembali menetes. "apa kau juga sadar Sasuke? Aku hanya menyakitimu selama ini."
Sasuke tersenyum tipis, tidak masalah jika Sakura hanya bisa menyakitinya.
Itu sudah menjadi keputusannya. "Aku tahu tapi aku tidak berdaya."
"Apa kau bodoh?"
Sakura berjinjit dan mengalungkan kedua tangannya di leher Sasuke. "sepertinya aku juga bodoh kerena bahagia mendengarmu tersakiti karena aku."
Sakura mendekatkan wajahnya, melumat pelan bibir Sasuke, perlahan air mata Sakura kembali turun, sadar apa yang Sakura lakukan padanya, Sasuke juga mengeratkan pelukannya dan membalas ciuman Sakura. Satu-persatu kembang api mengembang di langit malam tahun baru, menciptakan bias warna yang begitu cantik, kemudian menghilang diiringi decak kagum dari pasang mata yang melihatnya.
.
.
.
Aku, kau, kita, dan dia.
.
.
.
Sakura memperhatikan kedua kakinya, untuk pertama kalinya ia memakai sepatu berheels, padahal itu hanya sebuah acara duka, kenapa juga dia berdandan begitu cantik seperti ini. Sakura memutuskan meninggalkan Halte tempat Ibunya menurunkannya, ketukan heels seakan menggema di telinganya, dia terlarut dalam lamunannya, Sakura tersenyum tipis ketika kedua emerald-nya menatap Taman.
Seminggu setelah kejadian malam tahun baru itu, dia tidak pernah lagi bertemu dengan Sasuke.
"Tunggu!"
Sakura mendongak, dan buru-buru berbalik. "Kou-ji?" menatap laki-laki yang telah memanggilnya. "apa yang kau lakukan di sini?" Sakura mendekat ke arah Kouji, dan mencoba meraih beberapa kantung plastik di tangan Kouji.
"Kau tahu persediaan di sini jauh lebih lengkap, aku mengantar Tayuya tapi dia sepertinya meninggalkanku-"
Setelah tiga kantung berpindah ke tangan Sakura, Kouji masih saja kewalahan membawa dua kantung plastik dan sebuah kantung kertas besar. "-aku berniat ke Halte bus, dan aku melihatmu lebih dulu."
"Kau merindukanku?"
"Aku mau menagih janjimu dan aku sedang butuh teman bicara."
Sakura mengangguk mengerti. "Carilah tempat duduk, aku akan membeli minuman dulu."
Sakura berjalan menjauh, dia memperhatikan isi barang belanjaan Kouji, tidak salah lagi Kouji memang orang yang baik, dia benar-benar bersyukur Kouji adalah cinta pertamanya, meski akhirnya bukan menjadi yang terakhir. Sakura mendekatkan kedua telapak tangannya ke depan mulut, sedikit mengeluarkan uap dari dalam mulutnya, kemudian menggosok-gosok kedua tangannya.
Ia menatap kedua kopi yang berada di genggamannya, helaan napas pelan keluar dari mulut Sakura.
"Belakangan ini aku merasakan banyak tekanan."
"Tayuya?"
"Kau tahu ha ha." Kouji memperhatikan pantulan dirinya di dalam gelas kopi yang tengah di genggamnya.
"Jangan pernah ragu lagi, atau kau akan kehilangan segalanya-" Sakura menyesap kopinya. "-aku memang harus mengatakannya sekarang haa~" Sakura menatap Kouji dari sudut matanya. "aku bersyukur kau adalah cinta pertamaku."
Kedua mata Sakura menyipit karena tersenyum.
"Aku masih berharap kau menjadi cinta terakhirku Sakura..." genggaman Kouji pada gelas kopinya mengerat.
"Meski aku terlihat dingin tapi kau tahu jika aku ini polos, karena itu kau menyentuh hatiku selembut yang kau bisa, aku menyadarinya sudah sangat lama, tapi karena kepolosanku aku mengabaikan masa lalumu dan menikmati semua cinta yang kau berikan padaku,"
Sakura menghela napas keras untuk menguatkan dirinya. "saat itu mungkin kita sama-sama tidak sadar, tapi belakangan ini aku berpikir... meski hubungan kita berjalan lama apa kau benar-benar bahagia saat bersamaku? Saat mendengar ceritamu waktu itu, aku sedikit mulai memahaminya."
"Percayalah... aku benar-benar bahagia jatuh cinta padamu,"
Kouji menyentuh tangan Sakura. "aku tahu kau mendengar pembicaraanku dengan Tsunami, kau pasti bertanya kenapa jika aku tahu semauanya aku tidak mencoba menjelaskannya padamu, waktu itu aku berubah menjadi seoarang pengecut lagi, dan... membiarkanmu menangis. Aku menyukaimu sebagai Sakura bukan Tayuya, kau bahkan sama sekali tidak mirip Tayuya,"
"kepribadian kalian sangat bertolak belakang-" Kouji menatap Sakura. "-kau begitu dingin dan menutup dirimu dari dunia luar, tapi aku menyukaimu, aku terpesona dengan Sakura yang seperti itu. Kau membuatku lupa tentang Tayuya, membuatku berharap lagi, ketika aku ingin mengatakan semua ini padamu waktu itu, aku terlanjur melihatmu tersakiti karenaku."
"Aku tahu..."
Sakura tersenyum lemah pada Kouji. "saat kau bercerita tentang perasaanmu pada Tayuya, aku mulai yakin orang selembut Kouji tidak akan bisa menyakitiku, saat itu juga aku tidak pernah mendengar semuanya langsung darimu, jadi aku berpikir akulah yang menyakitimu, maafkan aku Kouji."
"Aku bahkan tidak merasa jika kau menyakitiku Sakura."
"Kau tidak akan sempat berpikir untuk menyalahkanku, karena kau sibuk menyalahkan dirimu sendiri, aku... benar-benar bahagia saat bersamamu, meski kita memiliki akhir yang tidak begitu baik, setidaknya kau harus mengetahuinya. Terima kasih Kouji."
Sakura menaruh minumannya, "Berdirilah Kouji,"
"setidaknya aku ingin mendapatkan pelukan terakhir dari cinta pertamaku-" Sakura menyandarkan kepalanya di dada bidang Kouji. "-aku tidak akan pernah melupakan cinta pertamaku, ku harap dia menemukan kebahagiaannya yang sebenarnya."
Kouji membalas pelukan Sakura.
"Aku tidak menyangka kau akan mengatakannya secepat ini."
"Ini tidak secepat yang kau kira-" Sakura menghela napas panjang. "selamat tinggal Kouji."
Satu tetes air mata jatuh di pundak Sakura. "Aku benar-benar bahagia saat bersamamu, terima kasih Sakura," Kouji mengusap jejak air matanya. "selamat tinggal juga Sakura."
Mereka melepas pelukannya.
Sakura mengulurkan tangannya, sebuah senyum hangat muncul di wajah cantiknya.
"Sakura, Salam kenal."
Kouji tertawa mendengar ucapan Sakura. "kau membuatku malu, harusnya aku yang mengajakmu berteman lagi lebih dulu-" Kouji membalas uluran tangan Sakura dengan sebuah senyum lebar. "-Kouji, senang bisa mengenalmu."
.
.
.
Aku, kau, kita, dan dia.
.
.
.
"Ah~ jadi benar kau tinggal di sini."
Sasuke menghentikan langkahnya, memasukkan ponselnya ke dalam saku, di depannya berdiri sosok perempuan anggun dengan dress panjangnya, dan setengah rambutnya yang diikat ke belakang. Kedua mata berbeda warna itu saling menatap satu sama lain, perempuan itu terlihat bahagia bisa bertemu dengan Sasuke, tapi sepertinya tidak untuk Sasuke, aura laki-laki itu terlihat begitu dingin.
Perempuan berambut putih itu mendekat ke arah Sasuke. "Aku sudah menduganya, akhirnya aku bisa bertemu lagi denganmu."
"Pergi."
Sasuke melewati perempuan itu begitu saja. "Kau tahu apa yang harus ku lewati agar bisa bertemu denganmu lagi Sasuke-kun?!" perempuan itu berlari dan menghadang jalan Sasuke. "aku bahkan harus mati kedinginan di luar sini."
"Aku tidak peduli,"
Sorot mata perempuan itu seketika redup. "aku benci melihatmu."
Tas selempang perempuan itu merosot ke bawah, rambut panjangnya sedikit terayun ketika Sasuke melewatinya, perlahan kepalanya juga ikut menoleh mengikuti arah Sasuke pergi.
.
.
.
To be continued.
A/N :
Huft~ akhirnya selesai juga, mungkin setelah chapter ini updatenya bakalan lebih lama lagi karena saya udah mau masuk kuliah, jangan lupa kesan dan pesannya ya minna!
Balasan Review :
Widya-SSlovers22 : ah~ laki-laki yang nyapa Sakura di supermarket itu Kouji, aku emang baru nyebutin namanya saat mereka baru keluar supermarket. Terima kasih udah review.
Kirara967 : awkwkw jangan nangis dong nanti bang Sasu sedih, terima kasih udah review.
Hyuugadevit-Cherry : yosh! Ini udah update lagi, jangan pasang sarung tinju sekarang de :v chapter depan aja awkwkw, terima kasih udah review.
Embun adja1 : terima kasih udah review.
Laifa : sejauh ini kayaknya masih belum ya, tunggu chapter depan aja ya neng, terima kasih udah review.
DeidaraTamvanJualPetasan : hmm... semoga ceritanya gak mengecewakan ya, terima kasih udah review.
Zarachan : terima kasih udah review.
Diah cherry : hmm... bisa juga begitu, yosh! Salam kenal juga ya Di-chan, terima kasih udah review.
Uchiha Sakura 99 : yang pasti manusia awkwk bukan hantu, makhluk jejadian atau semacamnya, terima kasih udah review.
DaunIlalangKuning : syukur de kalo udah gak bingung lagi, awkwk kalo kaguya mah aku rasa imagenya terlalu lembut banget dan rada ngeri secara bersamaan, terima kasih udah review.
Mustika447 : sabar sabar, kita ungkap satu-satu tu tu awkwk jadi ikut gema nih suara, terima kasih udah review.
Aitara fuyuharu1 : kenapa aku buat karakter Sasuke di sini kayak gitu itu karena ku pikir kalo di manga dia punya sifat itu karena kondisi keluarganya, dan di sini kondisi keluarganya jauh lebih baik, jadi kenapa nggak sifatnya sedikit lebih jadi terbuka tentu hanya untuk orang-orang terdekat aja. Terima kasih udah review.
Hikari Rin : alay njiir :v makesong reviewnya.
Ardiyanthi : terima kasih udah review.
