Naruto menutup gorden balkonnya kasar, dia mulai muak melihat perempuan berambut putih yang selalu di sebrang jalan Apartemennya, Naruto mengambil jaketnya, suhu di luar sudah tidak begitu dingin. Ia mengambil langkah pelan untuk meninggalkan lift, tangan kanannya mengusap rambutnya pelan, hingga semua rambutnya menghadap ke belakang.

"Ryuu."

Perempuan anggun itu menoleh dengan cepat. "Naruto-kun! Lama tidak bertemu," Ryuuzetsu menghampiri Naruto. "aku sangat merindukanmu." Ryuuzetsu memeluk Naruto dalam sekali gerakan.

"Senang melihatmu kembali-" Naruto membongkar pelukan sahabat perempuannya itu. "-kita tidak bisa berbicara di sini Ryuu."

Naruto memandang perempuan di hadapannya, Ryuuzetsu berubah dalam banyak hal rupanya, itu jelas terlihat dari cara berpakaiannya, Naruto menaruh cangkir kopinya pelan, kini ia mencoba tersenyum seperti biasanya. Ryuuzetsu membalas senyuman Naruto dengan sebuah tawa hangat, bahkan perempuan itu menutup mulutnya ketika tertawa, Ryuuzetsu mengalami perubahan yang amat luar biasa.

"Dan... dari mana kau belajar semua itu?"

Ryuuzetsu menurunkan cangkir tehnya. "Itu?" dahinya sedikit berkerut dalam. "ah~ maksudmu semua perubahan ini? yaa... aku hanya terinspirasi dari Rin, menjadi sosok wanita sepenuhnya."

"Aku senang mendengarnya-"

Bibir Naruto tertahan ketika melihat kilatan lain di mata Ryuuzetsu. "-aku harap tidak alasan lain dari perubahanmu selain itu," Naruto mendekatkan cangkir kopinya ke arah mulut, kedua matanya masih tetap menatap tajam pada Ryuuzetsu. "jadi... sejak kapan kau tiba di Jepang?"

Seulas senyum tipis nampak di wajah kalem Naruto.

"Aku tiba sebelum malam tahun baru-" Ryuuzetsu menghela napas kasar. "-Sasuke-kun... apa sekarang dia memiliki kekasih?"

Naruto menghentikan gerakan menyenduh kopinya, "Sekarang tujuanmu terlihat jelas,"

Naruto tertawa pelan, kemudian dengan cepat sorot matanya berubah tajam. "jangan sentuh Sasuke, tidak ada yang bisa diperbaiki dengan akhir cerita kalian, aku tidak bermaksud jahat padamu, ingat... kau yang tidak memberinya kesempatan dan meninggalkannya pergi."

"Kesempatan untuk apa?!" teriak Ryuuzetsu.

"Sasuke berengsek itu yang membuat pilihannya lebih dulu! Kenapa sekarang kau menyalahkanku, aku hanya mencoba mengejar cintaku lagi, apa itu salah?"

Mata Naruto menatap jalan di luar kaca kafe. "Sasuke... dia sangat menyukaimu-" Naruto meminum kopinya lagi.

"-dulu. Sekarang-" mata Naruto kembali menatap ke arah Ryuuzetsu. "-itu hanya menjadi mimpi di musim panas bagimu, aku tidak ingin melihatmu tersakiti lagi, karena aku tahu kali ini Sasuke tidak akan lagi menoleh ke arahmu, sebagai sahabat kalian berdua aku ingin kalian sama-sama bahagia."

"Memangnya... seistimewa apa perempuan itu?"

"Dia perempuan pertama yang berani menolak Sasuke secara langsung," Ryuuzetsu menatap terkejut ke arah Naruto. "kau tidak bisa membandingkannya dengan Rin-chan, sifatnya terkadang sangat kasar seperti dirimu dulu, dia juga orang yang dingin, tapi sangat mempesona-"

Naruto tersenyum lebar. "-kenapa aku tahu? Hahaha... karena aku juga pernah menyukainya."

"Boleh aku tahu namanya?"

Naruto kembali menatap ke luar kaca kafe, sebuah senyum jenaka muncul di wajahnya, ia meminum kopinya kemudian menoleh ke arah Ryuuzetsu, Naruto menghela napas senang. "Sakura-" Naruto menaruh cangkir kopinya kembali.

Cangkir teh milik Ryuuzetsu berhenti tepat di depan bibirnya, gelombang kecil mulai terlihat ketika tangannya bergetar pelan. "-Sakura Haruno."

It's Me

.

.

.

It's Me

Disclimer : Om Masashi Kishimoto.

Author : Hanna Hoshiko

Pairing : Sasuke U. – Sakura H.

Rated : T+

Genre : Romance/Hurt/Comfort/Drama/Friendship.

.

.

.

Warning!

Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author

Cerita ini akan update setiap author gak lagi sibuk di RL dan gak lagi kena WB.

Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.

.

.

.

Don't Like Don't Read.

.

.

.

Mempersembahkan.

"Sakura!"

Salah satu kelopak matanya terbuka, sebuah senyum tipis terbentuk di wajahnya, musim semi yang indah pikirnya. "aku mencarimu kemana pun."

Laki-laki itu berhenti tepat depannya, nampak butiran kecil keringat mengendap di dahinya, ia mengulurkan sebotol air mineral, laki-laki itu terdiam melihat uluran tangannya.

Ia hanya tersenyum lembut. "Kau tidak haus Sasuke-kun?"

Laki-laki bernama Sasuke tersebut terdiam, tidak berkutik melihat perempuan di depannya, tidak ada satu gerakan pun yang dilakukannya, seakan-akan waktunya terhenti saat itu juga. "kau tidak mau?"

"Ulangi,"

Rambut merah muda milik Sakura sedikit bergoyang ketika ia sedikit memiringkan kepalanya.

"sebut namaku lagi."

Kelopak-kelopak bunga sakura yang gugur bergerak perlahan di sekitar mereka.

Sakura tertawa tertahan. "Sasuke Uchiha."

"Bukan yang itu bodoh-" Sasuke menarik Sakura ke dalam pelukannya. "-aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau mengulanginya lagi." Sebuah tawa pelan keluar dari mulut Sasuke.

Sakura membalas pelukan Sasuke.

"Aku harap kau tidak menyesal lebih memilihku, kesempatanmu untuk melarikan diri sudah habis-" Sasuke menaruh dagunya di atas kepala Sakura. "-Aku mencintaimu Sasuke-kun."

Suara tawa Sasuke perlahan terdengar kemudian berhenti.

"Apa sekarang aku boleh mati?"

"Kau harus bertanggung jawab dulu sialan."

Mereka berdua tertawa di saat bersamaan, Sasuke melepaskan pelukannya, "Ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan padamu, ayo!" Sasuke menggenggam tangan Sakura erat.

Ini hari yang indah, dia seorang laki-laki yang sangat dingin tapi saat bersama Sakura dia menjadi orang lain, seperti bukan Sasuke Uchiha dengan segala keburukannya, dia menjadi seorang laki-laki baik dan begitu mencintai Sakura. Dia ingin hari ini berhenti untuk selamanya, sebuah keinginan yang tidak akan terwujud.

Mereka berlari ke arah jalan raya. "Kau akan membawaku kemana Sasuke-kun?"

"Skuternya ada di sebrang jalan, aku ingin kau menaikinya."

"Tunggu!"

Sakura mencoba untuk menghentikan Sasuke lewat genggaman tangan mereka. "Sasuke! Dengarkan aku, ck sialan."

"Apa? Ayo Sakura."

Kedua bola mata Sakura mengecil melihat senyuman Sasuke yang begitu lepas, laki-laki itu terlihat begitu bahagia, hingga tidak menyadari sekitarnya, Sakura sadar jika semua sangat terlambat. Saat ini, atau semuanya.

"Ku bilang tu-" Braaakk!

Sebuah kelopak sakura jatuh di atas cairan merah kental yang terus mengalir, "-sud-ahh~ dah ku bil- lang."

"Maaf."

Sasuke tersenyum tipis, kedua tangan mereka masih saling bertautan meski tak lagi kuat seperti tadi, mobil itu menghantam mereka cukup keras, sebelum Sakura berhasil menghentikan lari Sasuke. Senyum tipis milik Sasuke membuat air mata Sakura mengalir di ambang batas kesadarannya.

Sasuke...

Akankah hari ini berhenti untuk selamanya seperti yang kau ingin 'kan?

.

.

.

Buih.

.

.

.

Beruntung Sakura tidak mengalami luka yang parah, hanya sebuah benturan ringan di kepalanya, sudah dua hari Sakura hanya berbaring di atas ranjang rawatnya, dia bahkan tidak membuat gerakan berarti. Hari ini dia sudah diperbolehkan pulang, kira-kira sudah berapa hari sejak kecelakaan itu terjadi? Dia bahkan belum menjenguk Sasuke, begitu pula sebaliknya.

"Kau harus melihatnya Sakura."

Sakura menatap taman rumah sakit dari balkon kamar rawatnya, angin musim semi menerbangkan helaian rambutnya yang kini hanya sepundak, kecelakaan itu masih membekas di ingatannya. Ketika separuh wajah Sasuke berlumur darah,

Ketika dirinya mulai tidak sadarkan diri.

"Kau pikir dia sedang menungguku Ino?"

Sakura berbalik, "Apa yang kau tunggu Forehead?"

"Aku sedang menungguku diriku," kelopak-kelopak Sakura mulai menyelinap di antara celah pintu balkon, angin berhembus sedikit kencang membuat baju terusan Sakura sedikit terangkat. "tapi terima kasih Ino."

Ino mengulurkan tangannya. Sedangkan Hinata bersiap untuk membuka pintu.

"Aku akan mengantarkanmu padanya."

"Dia pasti sedang menunggumu Sakura-chan."

Mata Sakura mengintip dari celah pintu ruang rawat Sasuke, matanya terasa kabur.

"Kau akan pergi?" dirinya mengangguk, raut wajah Sasuke berubah drastis. "Amerika? Kau selalu berhasil membuatku tampak menyedihkan," Sasuke menghela nafas kemudian memandang langit. "Kau manusia teregois yang pernah ku temui."

"Apa itu penting bagimu? Itu yang ku harapkan." Dirinya tertawa pelan.

Air mata Sakura mengalir begitu saja, kedua tangannya mengepal erat, kedua orang itu terlihat seperti dirinya dan Sasuke. Tapi kapan? Dia bahkan tidak pernah ke Amerika, jadi ingatan siapa yang dia ingat?

Mungkinkah...

Sakura tersenyum.

"Haruno Sakura-san?"

Mata Sakura beralih, aura hangat perempuan itu menyadarkan Sakura. "Ryuuzetsu-san? Ohayou." Sakura membungkukkan badannya.

Ryuuzetsu terlihat mencoba tersenyum pada Sakura. "Sakura-san sudah sadar rupanya, ku dengar Sakura-san tidak terluka parah, sebenarnya aku penasaran tentang sesuatu-" mata Sakura menajam melihat perubahan dratis di wajah Ryuuzetsu. "-apa yang sebenarnya yang ada di pikiran Sakura-san sehingga membiarkan mobil itu menabrak Sasuke-kun."

"Ehm... mobil itu juga menabrakku Ryuuzetsu-san."

Sakura mencoba untuk berbicara sebiasa mungkin. Hingga mata Sakura melebar melihat Ryuuzetsu tiba-tiba saja berlutut di depannya.

Kepala perempuan itu menunduk dalam, "Ku mohon-"

Perlahan kepala Ryuuzetsu terangkat ke atas, tatapan benci begitu kuat dari sinar matanya. "-menghilanglah." Kedua tangan yang mengepal erat di atas kain rok bergetar pelan.

"Maaf. Aku tidak bisa."

"Kenapa?" Ryuuzetsu tersenyum meremehkan. "apa aku juga harus bersujud padamu?"

Sakura menghela napas pelan. "Mungkin Ryuuzetsu-san sudah mendengar jika aku adalah perempuan dingin, jika saja... jika saja aku mau aku bisa lebih kejam padamu, karena itu ku mohon jangan membuatku marah."

"Jadi ku mohon..."

Sakura tersenyum ketika menatap Sasuke yang berada di dalam ruangannya, "menghilanglah seperti buih."

.

.

.

To be Continued.

A/N :

Setelah sekian lama akhirnya, sebenarnya mau di panjangin lagi tapi ah~ gak bakalan ke update muehehe kalah sama tugas kuliah, dapet segini pun masih nyempet-nyempetin nulis di sela sibuknya kuliah. Buat info juga Fanfic ini adalah versi ke-2 dari Teman Lama, bisa dibiling terusannya gitu. Ok... jangan lupa review guys.

Balasan Review :

Laifa : mungkin masa lalu Sasuke nggak bakalan di tampilin secara spesifik, liat aja chapter kedepannya kayak gimana, terima kasih udah review.

Hanazono Yuri : yosh! Lanjut. Terima kasih udah review.

Zarachan : yosh! Lanjut. Terima kasih udah review.

Diah Cherry : gomen gomen... berharap bisa lebih panjang, apa daya cuman segini doang, disini kayaknya udah resmi sih awkwkw. Di usahain updatenya cepet tapi resiko cerita panjang mungkin bakalan ngaret lagi. Terima kasih udah review.

Kirara967 : yosh! Lanjut. Terima kasih udah review.

daunIlalangKuning : wah.. ini masuk kuliah bisa dipastikan updatenya bakalan selalu ngaret. Terima kasih udah review.

TheLimitedEdition : yosh! Lanjut. Terima kasih udah review.

Hyuugadevit-Cherry : gomen-gomen ngaret ini updatenya awkwkw :v selamat menunggu buat kelanjutannya ya, terima kasih udah review.

OnlyOne : yosh! Lanjut. Terima kasih udah review.

Ardiyanthi : Maklum-maklum akunya lagi sibuk RL, ngurusin tugas sana-sini jadinya pekerjaan nulisnya terlantar begitu aja, yosh! Terima kasih udah review.

Fujy : yosh! Salam kenal juga, belum ngerti ya :v gpp de pelan-pelan aja ceritanya masih panjang kok awkwkw becanda, terima kasih udah review.

Taeoh : yosh! Lanjut. Terima kasih udah review.