Dirinya tersenyum pedih pada Sakura yang terbaring di atas tempat tidur, mengecup pelan kening Sakura, "Ku mohon bangunlah. Aku akan menjadi seperti yang kau inginkan, berhenti berjuang sendirian seperti ini. Aku tidak suka, Aku memang laki-laki berengsek yang hanya bisa menyakitimu,"
Sedikit menggeser tubuh Sakura, ia naik ke atas tempat tidur, berbaring pelan di samping Sakura. "bahkan melihatmu seperti ini aku tidak bisa berbuat apa-apa, maafkan aku. Laki-laki tak tahu diri yang masih berani mencintaimu."
Kedua tangannya perlahan memeluk Sakura.
Setetes air mata turun dari matanya yang perlahan mulai terbuka, sudut-sudut bibirnya sedikit terangkat ketika melihat Sakura tengah tersenyum padanya, rupanya perempuan itu juga memotong rambutnya. Sayang sekali.
"Sa-Saku... ra."
Karena saat itu adalah terakhir kali dia melihat Sakura.
It's Me
.
.
.
It's Me
Disclimer : Om Masashi Kishimoto.
Author : Hanna Hoshiko
Pairing : Sasuke U. – Sakura H.
Rated : T+
Genre : Romance/Hurt/Comfort/Drama/Friendship.
.
.
.
Warning!
Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author
Cerita ini akan update setiap author gak lagi sibuk di RL dan gak lagi kena WB.
Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.
.
.
.
Don't Like Don't Read.
.
.
.
Mempersembahkan.
13 tahun kemudian.
Ia meminum kopinya dengan tenang, kedua matanya sibuk membaca sederet kalimat dalam buku yang berada di pangkuannya, sesekali ia juga melirik jalanan, melihat begitu sibuknya jalanan kota Tokyo di hari senin.
Sedangkan ia terdampar di sini, padahal dia juga mempunyai sederet agenda yang memenuhi jadwalnya, jabatan sebagai Direktur Eksekutif cabang Tokyo membuatnya terpaksa memiliki jadwal yang begitu padat.
"Uchiha Sasuke... –san?"
Tapi Ibunya menghalalkan segala cara hanya untuk membuatnya mengikuti kencan buta. Menyebalkan.
"Hn."
"Haaa~ maafkan aku, aku membuatmu menunggu-" wanita itu tertawa. "-kau bukan orang yang suka menunggu bukan? Cih! Dasar Uchiha."
Ia tersenyum miring melihat dandan wanita di depannya, dengan dua tato berbentuk segita panjang di pipinya, oh! Ia pikir Ibunya mulai lelah mencarikan wanita untuknya, haa~ bau anjing yang ditutupi parfum. Ini masih hari senin kenapa harus separah ini, Ibunya harus bertanggung jawab padanya, wanita ini sangat bertolak belakang dengannya. Jauh. Jauh!
Ia melirik jam tangannya.
"Mau sarapan eh..."
"Hana Inuzuka,"
Sekarang wanita ini menjadi tidak asing dengannya, Inuzuka... apa Ibunya gila menjodohkannya dengan kakak perempuan Kiba, rasanya kepalanya sekarang berdenyut pelan. "kau teman Kiba bukan? Aku baru mengingatmu, Kiba pernah menceritakan tentangmu dulu, si bajingan beruntung."
Oh shit. Manusia anjing sialan.
"Mungkin."
"Aku tidak menyangka kita akan bertemu seperti ini."
"Hn."
Ia menghela napas bosan memandang wanita di depannya, sedari tadi pertemuan ini hanya diisi ocehannya tentang Kiba, bahkan dia tidak sempat menyimak semua isi ceritanya, mungkin beberapa tentang Kiba tergila-gila dengan wanita yang lebih tua? Atau apa pun itu dia sudah tidak pernah lagi berkumpul dengan teman-temannya semenjak 3th lalu, hingga dia tidak tahu apa-apa tentang mereka.
Kursi belakangnya terdengar bergerak pelan.
"Hari senin memang menyebalkan."
Kini dia tidak lagi fokus membaca buku, suara wanita di belakangnya menyita semua perhatiannya, suara yang selalu dirindukannya, wanita yang selama ini datang ke dalam mimpinya. Wanita yang menghilang 13th lalu dari hidupnya.
"Kau tidak lihat kantung mataku? Karena Dai aku harus begadang."
Ia juga mengenal suara pria itu, pria yang begitu dikagumi wanita di belakangnya. "Dia pasti menangis tengah malam, aish! Mengertilah sedikit dia pasti takut-" helaan wanita itu terdengar keras. "-terutama saat melihat wajah mengerikan ayahnya."
"Sialan."
Wanita itu tertawa membuatnya ikut mengembangkan senyum tipis, akhirnya ia menemukannya, tapi untuk sekedar berbalik saja dia tidak bisa, dia mulai meragukan dirinya sendiri. Tanpa melihat pun dia tahu wanita di belakangnya ini semakin mempesona, sedangkan dirinya? Bahkan tidak berubah sama sekali.
Pekerjaannya menyita semua waktu yang dimilikinya, perubahan yang tersisa saat ini hanya rambutnya yang bergaya comma, hanya itu! Tidak ada yang bisa dibanggakannya. Lagi pula dia tidak ingin bertemu dengan situasi seperti ini, matanya kembali fokus pada buku tapi tidak untuk semua perhatiannya.
Senyumannya mengembang.
.
.
.
Better Day
.
.
.
"Akhirnya! Aku bisa pulang." Sakura melepas masker operasinya lalu membuangnya ke dalam bak khusus, ia meregangkan badannya, operasi selama 5 jam tadi sungguh menguras tenaga.
"Dokter Sakura!" Rin melambaikan tangannya.
Sakura tersenyum sumringah dengan melambaikan tangannya juga. "kau terlihat lelah sekali, kau operasi dengan dokter Kouji lagi? Ahh~ kau terlihat selalu terjebak bersamanya."
"Entahlah, Kouji bukan termasuk dokter yang begitu tenang di meja operasi, dia selalu bicara ini itu tidak penting sama sekali"
Mereka mulai berjalan keluar dari area ruang operasi.
Sakura menggandeng tangan Rin. "nasib sial apa yang aku punya? Hingga harus menjadi asistennya."
"Hahaha apa yang kau bilang Sakura-chan, kalian terlihat serasi sekali-" Rin membalas gandengan tangan Sakura. "-terutama saat kalian mulai berkelahi. Sesekali mengalahlah, dokter Kouji lebih tua darimu."
Sakura melirik wanita di sebelahnya dengan tajam. Tua? Mereka berdua bahkan satu angkatan saat sekolah!
"Oi.. Obaa-chan kau lebih tua dari kami," Rin melotot mendengar ucapan Sakura. "tapi herannya kenapa kau selalu melekat padaku, bagaimana dengan pria Uchiha yang kau ceritakan waktu itu?"
Sakura menatap Rin dengan genit.
"Sejujurnya aku tidak terlalu tertarik dengan para Uchiha."
"Mereka kaya-" Sakura tertawa konyol. "-tampan. Apa yang salah? Oh! Apa Rin-chan jatuh cinta padaku?" Sakura mendekatkan bibirnya ke telinga Rin.
Pak! Buku kontrol yang dipegang Rin sekarang sudah menempel di wajah Sakura.
"Sialan."
Pak! Lagi.
"Berhentilah memukulku wanita tua!" Sakura melepaskan gandengannya, menjauh beberapa langkah dari Rin yang menatapnya tajam.
"Jaga bicaramu dokter Haruno." Rin sedikit mengangkat dagunya, dengan sebuah senyum remeh di wajahnya.
"Cih! Ekspresimu saat ini membuatku geli, hentikan-" Sakura kembali menggandeng Rin. "-memangnya ada apa dengan Uchiha?"
Rin tersenyum tipis, raut wajahnya tidak seceria tadi membuat Sakura terdiam melihatnya, mungkin Rin juga begitu, memiliki masalah dengan pria bermarga Uchiha sama sepertinya.
Rin menghela napas pelan. "Dulu aku pernah menyukai seorang pria Uchiha juga, waktu itu aku masih SMP tapi sayang aku merasa seperti menjadi pelarian saja, padahal aku menyukainya dengan tulus, pria itu begitu dingin tapi aku menyukainya."
Sakura terdiam.
"Kau takut untuk memulai lagi dengan Uchiha?"
"Ya."
Uchiha. Mereka tampan, kaya, populer, dan sempurna bagi semua orang, tapi sayang mereka di mata Sakura tidak sesempurna itu. Rin adalah contohnya, dengan semua yang Uchiha miliki mereka masih berani menyakiti wanita seperti Rin, apa yang kurang dari Rin? Wanita itu bahkan jauh lebih sempurna darinya. Uchiha memang menyebalkan.
"Kenapa kau takut? Jika Uchiha itu menyakitimu panggil aku-"
Sakura tersenyum lebar. "-aku akan menghajarnya."
"Hahahaha... kau preman atau dokter hn? Baiklah-baiklah, bagaimana jika ku traktir makan malam Sakura-chan?"
"Ku rasa lain kali, Kaa-san menyuruhku pulang, mungkin dia akan menjodohkanku lagi. Bye! Rin-chan."
"Bye Sakura-chan!"
Sakura memakai sepatu berheelsnya, ia juga melepas ikatan rambut sambil berjalan keluar, kemudian membenarkan tatanan poni barunya, hari ini dia sengaja tidak membawa mobil, dia lelah untuk menyetir. Kebetulan dia ingin membeli ice cream di dekat Taman, lagi pula di sana juga dekat stasiun kereta bawah tanah, rumah orang tuanya memang lumayan jauh dari rumah sakit tempatnya bekerja.
"Tolong Ice cream blueberry satu."
Salju turun di sekitarnya, dirinya melepaskan syal rajut yang menggantung di lehernya, "Kau pasti bisa sukses. Kau jenius bukan?" ia melilitkan syal rajut itu pada Sasuke, membuat Sasuke menggenggam tangannya.
"Apa... Apa jika Naruto yang menghentikanmu. Kau tetap tinggal?"
Dirinya hanya bisa tersenyum lemah, ia melepaskan genggaman Sasuke. "Aku tetap akan pergi. Maafkan aku." dirinya memeluk Sasuke.
Matanya mengerjap pelan, karena ingatan tidak jelas inilah ia tidak pernah pergi ke Taman lagi, mungkin sudah hampir 12th, ingatan tentang Sasuke dan dirinya yang tidak pernah ia tahu. Semua itu muncul sejak kecelakaan 13th lalu bersama Sasuke.
"Nona? Ice cream anda."
"Terima kasih."
Ketika ingatan-ingatan aneh itu muncul, yang bisa dilakukannya hanya melupakannya seperti tidak pernah terjadi apa pun, bahkan dia tidak pernah ingin penasaran dengan semua ingatan aneh itu, semua ingatan itu akan muncul jika dia melihat Taman. Persetan dengan Taman, Ice cream yang di genggamannya jauh lebih menarik.
.
.
.
Better day.
.
.
.
Klik. Sasuke menutup semua halaman media sosial di komputernya, ia menghela napas pelan, tangannya kembali memegang mouse, mencetak beberapa dokumen, bahkan menscreen shot sebuah halaman media sosial. Ia membuka laci terakhir di mejanya, mengeluarkan sebuah pigora kecil berwarna hitam, dan meletakkannya di samping layar komputer.
"Juugo kau ada di luar?"
Kepala Juugo menyumbul di antara pintu. "Kau butuh kopi?"
"Masuklah-" Sasuke memilih menyatukan punggungnya dengan sandaran kursi. "-ada sesuatu yang harus kau lakukan."
Juugo membuka pintu ruang kerja Sasuke sedikit lebih lebar, ia meninggalkan jas kerja di kursi, hingga hanya setelan kemeja yang membalut tubuhnya, tidak berbeda jauh dengan Sasuke. Pria dingin itu juga sangat memperhatikan fashion stylenya, tapi sayang kehidupan pribadinya begitu sepi dari para wanita.
Sasuke melempar sebuah map, isinya sedikit berserakan keluar akibat lemparan Sasuke.
Juugo memperhatikan sebuah foto wanita. "Wanita itu bernama Sakura Haruno, dia seorang dokter sekarang-" Juugo melirik Sasuke. "-cari semua yang berhubungan dengan wanita itu."
Juugo memperhatikan pigora foto di samping komputer Sasuke, senyum tipis mengembang, ia membungkuk singkat untuk pamit.
"Seperti yang kau perintahkan Uchiha-sama."
.
.
.
Better day
.
.
.
"Berhentilah berteriak padaku sialan! Aku mendengarmu-" Sakura berlari pelan dengan sepatu berhaknya, raut wajah terlihat begitu kesal. "-aku sedang berada di depan lift, cih! Dokter baru menyebalkan."
Ia menutup sambungan teleponnya dengan Kouji, ia menekan tombol pada lantai paling dasar, beberapa hari lalu Rin sebagai atasannya sudah mengkonfirmasi jika akan datang dokter baru yang nantinya berada di departemen kandungan, lalu kenapa harus dia dan Kouji yang menyambutnya, itu tugas Rin bukan tugasnya.
Ia merapatkan jas dokternya, merapikan beberapa helai rambutnya yang terasa berantakan.
Ceklek. Di sana terlihat Kouji yang mencoba untuk tersenyum lepas padanya, kenapa raut mengerikan itu yang Kouji tunjukkan, ia menghela napas pelan untuk mempersiapkan dirinya.
"Selamat pagi, maaf aku terlambat. Ada pasien di lantai atas yang harus ku periksa-" kini Sakura sudah berdiri di samping Kouji, "-perkenalkan aku..." bibir Sakura berhenti ketika melihat mata di balik kacamata itu melihatnya remeh.
Dengan perasaan sedikit kaget, Sakura menaikkan salah satu sudut bibirnya. "Sakura Haruno. Dokter Karin Uzumaki." Sakura mengulurkan tangannya kepada Karin.
"Dan anda?"
Arah uluran tangan Sakura kini berganti, mata Sakura sedikit terbius dengan laki-laki tampan di samping Karin, mata laki-laki itu melihatnya dengan kilatan yang tidak biasa, tapi wajahnya hanya memandang Sakura dengan ekspresi datar, membuat Sakura sedikit canggung.
Karin tertawa sinis. "Dia? Dia adalah keka-"
Sebelum ucapan Karin selesai, laki-laki itu membalas uluran tangannya dengan erat. "Sasuke Uchiha."
.
.
.
Better day.
.
.
.
"Apa aku mempunyai janji setelah ini?" mata Sasuke masih fokus pada ponselnya.
Juugo menaruh sebuah foto di hadapan Sasuke. "Ini dari Mikoto-sama, pertemuannya 30 menit dari sekarang, di kafe sebelah Rumah sakit Tokyo."
"Haaa~ aku tidak akan pergi."
"Anda harus pergi, atau Mikoto-sama yang akan membuat anda pergi."
Sasuke berdiri, kemudian memakai jas kerjanya, "Baiklah-" ia memakai kacamata hitam juga. "-kejutan apa lagi yang Kaa-san berikan padaku."
Sasuke memilih memarkirkan mobilnya di area Rumah sakit, lagi pula nantinya dia akan berkunjung untuk melihat Karin di hari pertamanya kerja, meski itu bukan alasan sebenarnya dia memasuki Rumah sakit Tokyo, Sasuke menghela napas pelan. Setelan kerja yang di pakainya sedikit membuatnya gerah, musim panas memang menyusahkan.
Sasuke menghentikan langkahnya ketika lampu merah menyela.
Di sisi lain jalan, "Aku baru selesai makan siang, aku akan berada di sana 5 menit lagi, jika aku belum sampai di sana selama 5 menit hubungi dokter Kouji. Mengerti?" Sakura kembali berjalan.
Dengan kaget langkahnya langsung terhenti. Mereka berhenti di tengah jalan raya.
Sasuke melepaskan kacamata hitamnya, sedangkan Sakura hanya terdiam melihat Sasuke, setelah pertemuan seminggu yang lalu mereka tidak pernah bertemu lagi, bahkan saat itu ia tidak mengenali Sasuke. Pria itu sudah banyak berubah, Sasuke terlihat lebih dingin dari sebelumnya, bukankah Uchiha memang seperti itu? Pemikirannya membuat Sakura tertawa pelan.
Sasuke tersenyum sangat tipis, ia kembali memasang kacamatanya.
Setelah bertatapan cukup lama, mereka berdua memilih untuk kembali berjalan tanpa berkata apa pun.
.
.
.
To be Continued.
A/N :
Yosh! Yosh! Akhirnya chapter 10 kelar, mumpung punya hari libur jadi langsung di kebut, dan inspirasinya lagi lancar-lancarnya, alhasil berasa gak jelas banget muehehehe. Jangan lupa kesan dan pesan yaaa minna!
Balasan Review :
Embun adja1 : yosh! Udah up dan lebih panjang. Terima kasih udah review.
Uchiha Nazura : ok. Ini udah up, doa'in aja chapter depan kayak chapter sekarang mueheheh, terima kasih udah review.
Kirara967 : mungkin bakalan berubah sedikit :v karena sifat kasar Sakura nggak bisa dihilangin gitu aja, lagi pula itu adalah konsep awal pada ketiga cerita yang saling berhubungan nantinya ini hahaha, terima kasih udah review.
DaunIlalangKuning : yosh lanjut. Terima kasih udah review.
Diah cherry : awkwkw setelah berabad baru update yang nunggu ceritanya sampek lapuk semua akwkwkw, terima kasih udah review.
Ardiyanthi : hmmm entahlah saya masih belum memperkirakan bakalan jadi berapa chapter, saya nggak bisa gitu aja maksain ceritanya selesai dengan ukuran chapter sedikit, terkesan memaksa nantinya. Tentu sudah panjang he he, semoga endingnya nggak gantung, terima kasih udah review.
Bang Kise Ganteng : yoo! Lama gak ketemu bang, saya lagi nggak mau mainan sama amnesia kok bang. Terima kasih udah review.
Sqchn : yosh! Udah lanjut. Terima kasih udah review.
