Dia tidak lagi tinggal di Apartemen, dia sudah pindah beberapa tahun lalu, memilih sebuah mansion kecil yang sangat jauh dari peradaban, dari balkon saja dia bisa melihat semuanya, danau buatan minimalis di pekarangan belakang mansionnya, pohon-pohon sakura yang sengaja di tempatkan mengitari danau, beberapa pohon lainnya mengikutinya di samping. Di balik pagar pembatas bisa dilihat sebuah bukit, dan juga kuil kecil, dia sudah beberapa kali ke sana, ketika suasana hatinya sedang kondisi buruk.

Ia menyeruput es coklatnya, kakinya bergerak pelan membuat sandal rumah yang dipakainya juga ikut bergoyang.

Tok... tok... bola matanya bergerak pelan, mengikuti arah ketukan pintu pada kamarnya, tidak banyak orang yang tahu jika dia tinggal di sini, hanya beberapa.

"Masuklah."

Pria dengan jaket kulit hitam masuk begitu saja, beberapa debu juga terlihat di sana-jaket kulitnya. "Aku sudah menyelesaikannya, kau ingin aku membacakannya?" pria itu bersiap untuk membuka map hitam di tangannya.

"Tidak." Ia kembali meneguk minumannya, segurat senyum nampak ketika map hitam itu di taruh pada meja di sampingnya, ia melirik map itu sekilas, sebuah gurat memuaskan terpancar di wajahnya. "Kerja bagus."

"Aku juga menemukanmu di sana-di dalam data-data itu," pria itu berbalik akan tetapi dia menahan langkahnya. "Kau terlihat sangat bahagia di sana Sasuke." Dan pria itu menghilang di balik pintu.

Sekarang Sasuke dengan terang-terangan memperhatikan map hitam itu, wajahnya sangat datar, ia memutuskan untuk bangkit, dan berjalan menuju ke dalam kamarnya, menutup pintu balkon serta menyeret gorden hingga tertutup rapat. Meninggalkan map hitam dan secangkir es coklat yang masih tersisa setengah di luar balkon, bersama udara malam musim panas.

It's Me

.

.

.

It's Me

Disclimer : Om Masashi Kishimoto.

Author : Hanna Hoshiko

Pairing : Sasuke U. – Sakura H.

Rated : T+

Genre : Romance/Hurt/Comfort/Drama/Friendship.

.

.

.

Warning!

Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author

Cerita ini akan update setiap author gak lagi sibuk di RL dan gak lagi kena WB.

Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.

.

.

.

Don't Like Don't Read.

.

.

.

Mempersembahkan.

Ino terlihat sibuk di meja dapur, dia memenuhi sendoknya dengan bubuk kopi hitam, di tangan lainnya secangkir susu siap untuk dituangkan, terlihat Sakura yang sedang menonton sebuah film di TV, dan Hinata yang sedang mengecat kukunya di atas sofa, kebiasaan mereka tetap sama seperti saat mereka masih tinggal bersama, kini hanya tertinggal Sakura dan Ino yang tinggal bersama, Hinata sudah akan menjadi nyonya Uzumaki.

Remah roti kunyahan Sakura berjatuhan di matras. "Aku bertemu Sasuke 8 hari yang lalu-" Sakura masih dengan santai menonton TV. "-Dia sepertinya mengantar Karin di hari penyambutannya, kami juga bertemu lagi-"

Semua gerakan dua orang wanita lainnya terhenti otomatis. "-Seminggu setelahnya, tidak ada yang istimewa, kami hanya saling pandang lalu kembali berjalan lagi seperti orang asing."

"Itu berarti kemarin kau bertemu Sasuke Uchiha. Dimana?"

Sakura menoleh bosan pada Ino. "Di tengah jalan raya, memangnya ada apa? Kami hanya berpapasan di jalan." Sakura terlihat kesal mengunyah cemilannya.

"Apa yang terjadi saat kalian pertama bertemu-hari penyambutan Karin, Sakura-chan?"

Hinata menatap punggung Sakura.

"Aku tidak mengenalinya, mengingat wajah Karin membuatku jijik, berhenti membicarakannya Hinata."

"Kami ingin berbicara serius denganmu Sakura."

"Oh ayolah Pig! Aku tidak sedang ingin di introgasi, aku melaporkan semua itu agar kalian tahu, jika tidak ada yang istimewa." Sakura menatap kedua orang di belakangnya dengan tidak berminat.

Ino meminum kopinya, "Kau sudah hidup seperti buih selama 13th, dan sekarang kalian-orang asing!" Ino menghela napas pasrah. "Aku tidak mengerti jalan pikiran kalian berdua, yang ku lihat sekarang adalah Sasuke sudah mempunyai wanita lain-mengakhirimu seperti akhir kisah putri duyung."

"Aku tidak bisa mengatakan jika Ino-chan salah, setahun terakhir Sasuke-san tidak pernah menanyakan keberadanmu lagi, ku pikir-"

Sakura terdiam. "-Mungkin Ino-chan benar."

"Terima kasih sudah mengkhawatirkanku, aku menerima tawaran menghilang seperti buih-meletup dan menjadi transparan seperti udara, tidak terlihat tapi selalu berada dekat dengannya, itu resiko yang harus ku tanggung."

Sakura kembali melahap cemilannya santai. Ino mendesah kesal, "Kenapa kau santai sekali Forehead!"

Sakura melirik Ino.

"Jodoh itu tidak kemana Pig-" Sakura menyesap minumannya. "-Jika Sasuke memang ditakdirkan untukku lantas, wanita lain yang kau ributkan bersama Hinata tadi itu bisa apa?"

"Percuma Ino-chan, Sakura-chan sedang menikmati hidupnya sebelum penyesalan datang hehe." Hinata tertawa hambar.

"Yaa.. bisa dikatakan begitu." Sahut Sakura pelan.

Setelah itu mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing, meski Sakura terlihat fokus pada film di layar TV, setelah perdebatan kecil dengan kedua wanita di belakangnya tidak membuatnya memiliki perasaan ragu, perasaan itulah yang membuat penyesalan datang semakin cepat. Dia sekarang sudah dewasa, keraguan justru semakin membuat semuanya yang awalnya maju menjadi mundur kembali.

Sakura melirik ponselnya yang berdering, disana tertulis nama lebay yang Ibunya beri sendiri.

.

.

.

Letupan buih.

.

.

.

Sasuke berjalan dengan membawa sekotak donat di tangannya, ponselnya bergetar pelan, "Aku? Di bawah, aku akan sampai di sana sebentar lagi."

Beberapa wanita bahkan gadis menoleh hanya sekedar untuk melihatnya, rona kemerahan mulai muncul di wajah beberapa orang, Rumah Sakit memang selalu penuh dengan orang, entah itu sakit atau hanya sekedar berkunjung, sepertinya.

Pintu lift terbuka, tapi dia tidak ingin masuk ke dalamnya, di sana, dengan jarak 100 meter dari tempatnya berdiri, ada sosok wanita berjalan seorang diri-berbicara dengan ponselnya, wanita itu adalah tujuannya selalu berkunjung ke Rumah Sakit dan membawakan Karin makanan.

Dia berbelok, membiarkan pintu lift tertutup, dia sadar, dia mengikuti kemana wanita itu pergi.

"Kau mau aku bantu berjalan?"

Hari ini wanita itu menguncir kuda rambut panjangnya, menyisakan beberapa helai anak rambut, Sasuke melepaskan kacamata hitam yang di pakainya, ia tersenyum melihat wanita itu begitu tenggelam dalam kegiatannya, hingga membuat Sasuke tidak masalah jika terlihat seperti penguntit.

"Apa masih sakit Sora?"

"Mungkin tidak sesakit kemarin."

Ponselnya kembali bergetar.

"Apa kau tersesat lagi Sasuke?!" teriakkan Karin menggema di ujung sana.

Sasuke kembali memakai kacamata hitamnya, kemudian berbalik, berjalan meninggalkan objek pengamatannya, meski dia tidak tahu pasti kenapa wanita itu meninggalkannya 13th lalu, hingga membuatnya terjebak dengan cinta pertamanya, itu tidak begitu masalah, karena kini, setelah 13th dia menemukan lagi apa yang sudah hilang 13th lalu.

Sasuke kembali menebar senyum tipis. "Hn."

.

.

.

Letupan buih.

.

.

.

Sakura melihat jam tangannya, sudah hampir waktu pertemuan mereka-kencan buta yang sudah diatur Ibunya, sebenarnya dia tidak begitu mengerti kenapa Ibunya selalu melibatkannya dalam kencan buta-yang menurutnya tidak penting, dia masih muda, dia juga masih tidak ingin menikah.

Seorang laki-laki bergaya kasual mendekat ke arahnya, meski pun dia tidak begitu berminat selama kencan buta yang Ibunya atur, tapi Sakura selalu bersikap sopan dan membuang jauh-jauh sifat dinginnya, beberapa pria sangat menyenangkan-maksudnya untuk menjadi teman bicara, dan ada beberapa pula yang ya.. terlalu kaku, pemalu, dan menjijikan.

"Haruno Sakura-san?"

Sakura tersenyum tipis. "Yahiko-kun. Benar?" pria kali ini lebih bisa di bilang seperti kembaran Naruto.

Berambut orange-orange kuning, wajahnya cukup lumayan tampan, terlihat dari gelagatnya seperti orang yang mudah akrab dengan siapa saja, dia juga menyukai orang-orang tipe Naruto, terutama untuk teman bicara dan jalan-jalan.

"Sebenarnya.. aku tidak begitu suka kencan di Restoran, berbicara tentang aku dan kau, kemudian saling tertawa canggung. Bagaimana jika ku tawarkan untuk jalan-jalan saja? Hari ini pekerjaanku lumayan membuatku lelah."

"Tidak masalah."

Mereka mulai beranjak dari sana.

Sakura tidak bisa menolak ketika Yahiko mengajaknya berjalan-jalan di Taman-tempat yang paling dihindarinya, cukup menyenangkan dan beruntung ingatan-ingatan yang selalu menganggunya itu tidak muncul, dia menikmati kencan buta kali ini.

"Kau bisa menungguku di sini, aku akan mengambil minuman untuk kita."

Yahiko berjalan pelan menuju mesin penjual minuman, hari lumayan terik di dalam Taman, baju musim panasnya mulai terasa panas, perlahan matanya mulai mengamati sekitar, Taman ini tidak terlalu buruk juga, pas untuk semua suasana, hingga matanya melihat seorang pria yang duduk di depannya.

Pria itu tampak duduk dengan malas, bertopi, masker, kacamata hitam, jaket tebal, dan sangat misterius, yang di pikiran Sakura hanya-apakah orang itu tidak merasa kepanasan?

Genggaman Sakura tiba-tiba menguat, terdengar lagi.

Lagi, dan lagi.

"Arigatou ne, Sasuke-kun." Hanya satu kalimat berisi ucapan terima kasih, tapi nada itu menulikan pendengaran Sakura, terasa sangat menyakitkan di dalam dadanya.

Terus terulang, hingga kedua matanya mulai terasa panas, rasa yang terbawa pada suara itu membuatnya ingin menangis, setetes air mata turun, dua, dan tiga, Sakura mencoba menghapus jejak air mata yang turun.

Seseorang menyentuh bahunya, "Kau baik-baik saja?"

Sakura mendongak, itu pria yang duduk di depannya, kini wajahnya terasa begitu dekat, begitu tampan, begitu sempurna dengan ekspresi cemasnya, seseorang yang pernah dia tinggalkan.

Seseorang yang dirindukannya. "Eh?"

.

.

.

Letupan buih.

.

.

.

Sasuke memasuki ruang kerjanya, "Halo Kaa-san? Aku mengirimkan sebuah berkas pada Kaa-san, mungkin sebentar lagi Kaa-san akan menerimanya," ia berjalan semakin ke dalam.

Ruang kerjanya tidak gelap-maksudnya cat atau perabotan di dalamnya, di sana lebih banyak foto-foto berukuran kecil yang menempel, foto-foto candid orang-orang yang ada di hidupnya, meski warna merah muda lebih mendominasi.

"Kaa-san sudah menerimanya? Aku tidak ingin melakukan kencan buta lagi, aku sudah memilih seseorang-ku pikir Kaa-san tahu wanita itu,"

Sasuke tersenyum tipis. "Ku harap Kaa-san bisa menerimanya, dia seorang dokter, dia juga orang yang keras kepala sama seperti Kaa-san."

Sasuke menutup sambungan teleponnya.

Tangannya menggapai sebuah foto di kaca jendela, foto wanita berambut merah muda sedang menatap sebal ke arah pria yang menampilkan ekspresi super jail, apakah sikap wanita itu akan tetap sama seperti dulu? Sikap yang selalu berhasil membuatnya marah, sebal, tapi itu semua membuatnya bahagia.

Karena itu dia tidak bisa melupakannya.

.

.

.

Letupan buih.

.

.

.

"Kaa-san! Ku bilang aku tidak ingin dijodohkan!" Sakura menghentikan mobilnya ketika lampu bernyala merah.

Kini raut wajahnya terlihat begitu masam dan aneh, tangannya sibuk memegang setir dan yang lainnya sibuk memegang ponsel, dia tengah tersambung dengan Ibunya di telepon. "Kenapa sekarang Kaa-san justru memaksaku bertunangan?! Ku bilang aku bisa mencari pria sendiri,"

Mobilnya kembali berjalan. "Dan juga aku masih muda, cantik, seorang dokter, dan juga seksi, apa yang Kaa-san khawatirkan. Aku tidak mau! Aku tidak akan datang ke sana."

Suara teriakkan Ibunya terdengar di seberang telepon. "Baiklah!" Sakura membuang ponselnya ke belakang.

"Aku benci. Sangat. Memangnya siapa dia berani sekali ingin menjadi suamiku, cih! Haa! Ini membuatku kesal dan ingin menabraknya."

Sakura memarkirkan mobilnya di depan sebuah Restoran keluarga.

Ah~ auranya tidak begitu mengenakan untuk masuk ke dalam Restoran, dia tidak ingin masuk, dia ingin pulang, dan yang paling diinginkannya adalah menghajar pria yang berani-berani ingin menikahinya, dia masih tidak ingin menikah, mungkin pria itu memang ingin merasakan tinjunya.

Ibunya terlihat tertawa bersama beberapa-dua orang, yang terlihat berkelas, sama-sama mengenakan pakaian hitam, oh! Dia pikir mereka sedang melayat, meski mereka terlihat menawan mengenakannya, setidaknya mereka harusnya memakai warna lain yang tidak membuat moodnya bertambah buruk.

"Oh! Sakura-chan, kemarilah."

Malaikat kematiannya tengah memanggilnya dengan keras-tersenyum layaknya kucing, sedangkan dirinya? Tentu saja hanya tersenyum pasrah, entah keluarga mana lagi yang Ibunya bawa malam ini. "Selamat malam, Sakura... Haruno." Dia membungkuk.

"Ah~ kau terlihat cantik, duduklah,"

Wanita itu begitu cantik, Sakura harus mengakui itu. "Sekarang aku mengerti kenapa putra bodohku ngotot sekali ingin menikah dengannya, lihatlah-dia seperti idol."

"He he, maaf~ tapi sayangnya aku tidak begitu pintar menari."

Wanita itu tertawa keras. "Apa masalahnya dengan itu? Hahaha, kau pintar menarik hati dingin putraku," wanita itu meminum tehnya. "Entah apa yang terjadi tapi setelah putraku mengalami kecelakaan bersama kekasihnya 13th lalu, dia menjadi jauh lebih dingin, menyebalkan dan sangat sulit di dekati, ku dengar kekasihnya juga meninggalkannya atau menghilang-aku tidak tahu mana yang benar."

Mata emerald Sakura memandang wanita di depannya dengan tidak percaya, cerita wanita itu tentang putranya membuatnya terdiam, seakan-akan menceritakan seseorang yang begitu dikenalnya.

"Dia tidak pernah dekat dengan wanita mana pun, kerjanya hanya melihat berkas-berkas menjijikan di meja kerjanya, auh~ itu membuatku kesal, Ibu mana yang mau melihat anak laki-lakinya menjadi bujang lapuk?" wanita itu terlihat sama seperti Ibunya. Mereka sama. Persis. Indentik.

"Akhirnya aku mulai menyuruhnya melakukan kencan buta yang sudah ku atur, tapi anak sialan itu selalu membuat mereka menangis, menyiramkan air ke wajahnya, atau menumpahkan makanan ke rambutnya, dan banyak lagi-aku tidak bisa mengingatnya." Ah~ sebenarnya pria macam apa yang akan di jodohkan dengannya kali ini.

"Itu sangat membuatku kesal, Ah! Itu dia, putraku sudah datang." Wanita itu menoleh ke arah pintu dengan senyum manis.

Di sana, pria dengan santainya berjalan ke arah mereka, dia pria yang tampan, dan Sakura rasa juga sangat mengenalnya, sangat, sangat, sangat mengenalnya, dan akhirnya semua terjawab, pria mana yang berani ingin menikahinya, yaa~ hanya dia.

Pria menyebalkan.

Sakura menghela napas pelan, "Sasuke kemarilah!"

.

.

.

To be Continued.

A/N :

Saya sudah menduga bakalan banyak yang bertanya tentang 2 chapter terakhir, dan untuk sekali lagi saya akan bilang, cerita ini adalah cerita lain dari Teman Lama, karena faktor itu, kedua cerita memiliki alur yang hampir sama dengan konteks yang berbeda. Jangan lupa kesan dan pesan ya! Do'akan saya bisa update kilat awkwkwkw.

Balasan Review :

Embun adja1 : mungkin chapter depan :v yang gak tahu pasti kapan updatenya, terima kasih udah review.

Asuka kazumi : 13th lalu? Bakalan di ceritain kok pelan-pelan biar semuanya ngerti, sekarang semuanya masih jadi misteri hoho, terima kasih udah review.

Kirara967 : oh ayolah, dilihat dari cara Sasu-chan nyela perkataan Karin udah keliatan kalo jelas bukan, di sini udah di ceritain kok, terima kasih udah review.

DaunIlalangKuning : yosh udah up! Terima kasih udah review.

Aoi Yukari : ya seperti itulah, terima kasih udah review.

Raizel's wife : yah, emang dari awal planning begitu si, ya syukur-syukur paham muehehehe, terima kasih udah review.

Uchiha Nazura : mungkin juga si ahahah, terima kasih udah review.

Wu Lei II : sebenarnya si nggak hehehe :v terima kasih udah review.

Risnusaki : hmm gimana ya :v sebenernya cerita ini nggak ada genre humor, tapi kalo lucu ya entahlah hehehe, terima kasih udah review.

Aitara fuyuharu : awkwkw gapapa de, terima kasih udah review.

Diah cherry : sabar ya cin awkwkw mereka lagi galo, terima kasih udah review.

Ardiyanthi : 13th? Mereka berpisah yang jelas :v dan mereka juga nggak hilang ingatan, terima kasih udah review.

Devanichi : sebenarnya itu bukan amnesia, cerita kepotong perasaan saya ya enggak emang porsinya di buat segitu, terima kasih udah review.

Anon : yosh udah up! Terima kasih udah review.

Angel moon : hmm sejujurnya aku lebih nggak ngerti lagi, ke-enggak ngertianmu di ff ini di mana, yaa supaya aku bisa jelasin. Terima kasih udah review.