Sakura meminum jusnya, matanya sibuk mengawasi trotoar jalan, begitu longgar di siang hari, memangnya siapa yang mau jalan-jalan di siang bolong, apalagi pada musim panas di Jepang, Sakura menghela napas pelan, menaruh kembali gelasnya.
"Jadi apa? Ku rasa kita tidak mempunyai urusan-" Sakura menatap angkuh mata pria di depannya. "-kau terlihat sedang berselingkuh denganku."
"Haa~ Sakura-chan! Aku ingin berbicara tentang yaa~ sesuatu hahaha."
"Tidak ada yang perlu dibicarakan di antara kita, Naruto."
Bukannya dia membenci pria yang duduk di depannya, hanya saja sifat dinginnya tidak bisa di kontrol, entahlah kenapa, padahal dia suka tipe orang seperti Naruto, mungkin saja topik yang Naruto bawa saat menemuinya.
Naruto menatap serius pada Sakura. "Aku tahu kau mengerti apa yang ingin ku bicarakan denganmu, jika Hinata mau memberitahuku aku juga tidak akan bertanya langsung padamu, aku mengenal kalian berdua-meski aku lebih dekat dengan Teme," Naruto menautkan tangannya di atas meja, "13th lalu apa yang membuatmu pergi?"
"Itu privasi Naruto bodoh."
"Aku tahu Sakura-chan, tapi ku mohon, beritahu aku," Naruto menatap nyalang dirinya. "Aku tidak bisa membiarkan dirimu kembali pada Teme dengan semudah itu. Sakura-chan, kau tidak tahu semenyedihkan apa Teme waktu itu."
Sakura menatap Naruto dingin. "Itu urusan Sasuke bukan urusanku, lagi pula aku juga masih tidak ingin menikah, Sasukelah yang mencariku-dia yang mengusulkan pertunangan kami."
"Karena dia mencintaimu Sakura-chan!" Geram Naruto kesal. "Karena dia tidak ingin kehilanganmu lagi, karena Teme sudah menganggap kau sebagai kehidupannya, karena itu ku mohon biarkan aku tahu."
"Aku tahu dan tidak peduli semenyedihkan apa Sasuke waktu itu, kau tahu Naruto-" Sakura melirik Naruto dari sudut matanya. "-Seseorang memiliki penderitaannya masing-masing, semenyedihkan apa pun mereka, kau tidak boleh menyalahkan orang lain sebagai penyebab penderitaan seseorang,"
Sakura tersenyum hangat pada Naruto. "Kau bahkan tidak tahu apa yang sudah di lewati orang yang kau salahkan."
"Maafkan aku Sakura-chan, aku lepas kendali."
"Tenang saja, aku akan memberitahumu, asal kau tidak mengatakannya pada Sasuke."
"Aku akan menyimpannya sendiri, Sasuke... biar dia bertanya langsung padamu."
Sakura kembali menatap jalan, mengingat kejadian di depan ruang rawat Sasuke, mengingat kembali wanita berambut putih penyebab kepergiannya, "Waktu itu Ryuuzetsu-san," Naruto menatap Sakura tidak percaya.
"Kau pasti tahu, wanita berambut putih yang katanya cinta pertama Sasuke, dia memberiku sebuah tawaran, jika aku bersedia menjadi buih-dia akan menceritakan masa lalu Sasuke, jika aku mau waktu itu aku bisa saja mengabaikan tawarannya, tapi aku juga seorang gadis yang naif. Ryuuzetsu-san bahkan berlutut padaku, sebenarnya aku juga marah, kenapa wanita sepertinya begitu mencintai seorang Sasuke sampai sedalam itu?"
Sakura tertawa pelan. "Aku memintanya untuk menceritakan semuanya lebih dulu, cinta pertama, sifat dingin Sasuke, persahabatan kalian, kerterlambatan Sasuke menyadari perasaanya sendiri, dan juga pengorbanannya. Aku sudah tahu semuanya, kisahku dengan Kouji membuatku mengerti, cinta tidak selalu memiliki, tidak ada cinta yang tulus selain milik para orang tua,"
Sakura kembali tersenyum hangat.
"Saat itulah aku merasa menjadi Tuhan-memberikannya kesempatan kedua."
"Kenapa kau memberikannya?"
"Karena aku wanita aku juga mengerti-ok! Jangan bahas soal wanita, kita pikir saja menggunakan logika, siapa yang mau berlutut hanya untuk seseorang? Selain dia benar-benar mencintai orang itu, dia bahkan membuang ego dan rasa malunya, aku sadar, jika itu aku-aku tidak akan bisa."
Naruto tersenyum lebar pada Sakura. "Terima kasih karena memberikannya kesempatan kedua, Sakura-chan," Naruto menghela napas pelan. "Kini giliranmu untuk bahagia."
It's Me
.
.
.
It's Me
Disclimer : Om Masashi Kishimoto.
Author : Hanna Hoshiko
Pairing : Sasuke U. – Sakura H.
Rated : T+
Genre : Romance/Hurt/Comfort/Drama/Friendship.
.
.
.
Warning!
Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author
Cerita ini akan update setiap author gak lagi sibuk di RL dan gak lagi kena WB.
Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.
.
.
.
Don't Like Don't Read.
.
.
.
Mempersembahkan.
Seseorang mengetuk pintu ruangannya, membuat tangannya berhenti mengetik, hari ini jadwalnya begitu padat, banyak dokumen yang harus di cek dan di setujui, tanpa ia suruh, orang yang mengetuk pintunya masuk.
Juugo membawa nampan berisi kopi, "Kopimu."
"Hn. Terima kasih."
"Kau terlihat senang sekali-" tangan Juugo membalik foto yang bertengger di samping komputernya. "-Sudah ku duga, wanita ini, apa semua berjalan lancar kemarin malam Sasuke?"
Ia menyandarkan punggungnya, "Dia terlihat tidak terkejut."
"Kenapa kau tidak bertanya saja," ia menatap Juugo. "Alasan yang sebenarnya, kau tahu di data-data yang ku berikan padamu, tidak ada satu pun alibi yang masuk akal untuk membuatnya pergi 13th lalu."
"Kau benar. Terasa aneh."
"Kau harus bertanya padanya."
"Dia tidak akan memberitahuku."
Juugo berjalan ke arah jendela. "Dia pasti memberitahumu-" pria itu tersenyum. "-Sesulit apapun nanti usahamu meyakinkannya, dia pasti memberitahumu, Haruno-san bukan wanita sejahat itu. Yang ku tahu."
Sasuke tertawa pelan. "Dia hanya sedikit dingin."
"Persis sama sepertimu."
Dia terdiam, mencoba mengingat kejadian kemarin malam, Sakura bahkan tidak terlihat terkejut melihatnya, wanita itu tidak mengeluarkan alibi apa pun untuk menolak pertunangan mereka, itulah yang justru membuatnya bingung, bukankah wanita itu membencinya? Karena dia adalah penyebab mereka mengalami kecelakaan, harusnya wanita itu menolak menikahinya.
Itu justru membuatnya tenang.
Akan lebih menakutkan jika seperti ini, Sakura yang menerima segalanya dalam diam, itu membuatnya agak ragu dengan semua usahanya kali ini, dia sungguh tidak ingin menyakiti Sakura, tapi dia juga tidak ingin kehilangan wanita itu lagi, sampai kapan pun.
Juugo mengetuk pintu dengan tangannya, "Ku bilang, tanyakan padanya U-chi-ha-sama."
.
.
.
Rintik buih.
.
.
.
Ino meremas gulungan koran di tangannya, khusus hari ini dia menutup toko bunganya.
Dia menghentak-hentakkan sepatu berhaknya, tidak peduli orang di sekitar melihatnya aneh, berita di koran pagi kali ini serasa membuatnya ingin mengeluarkan semua sarapan paginya, beberapa perawat yang mengenalnya mencoba untuk menyapa, tapi dia menghiraukan semuanya.
Ino menarik rambut berwarna merah muda itu dari belakang. "Akh! Sialan-lepaskan!"
"Ceritakan padaku sekarang!"
Mata Sakura melebar melihat Ino-yang memegang rambutnya dengan kuat dari belakang. "Apa yang kau lakukan bodoh?! Lepaskan aku!"
Ino mencengkram lebih erat rambut Sakura. "Aku tidak akan melepasnya-" Ino menunjukkan halaman utama koran yang di bawanya. "-Jelaskan! Apa kau gila saat menerimanya melamarmu?!"
"Ck. Aku juga tidak tahu sialan!"
Ino melepaskan cengkramannya. "Kau tahu, nyawaku serasa melayang saat melihat Sasuke masuk dengan gaya menyebalkannya itu, berhentilah mengingatkan aku tentang itu, aku harus menenangkan diri."
Kini mereka berada di kafetaria Rumah Sakit, jemari Sakura menyentuh ujung sedotan minumannya, sebenarnya dia tidak ingin membicarakan bertunangannya dengan Sasuke sekarang, semuanya terasa mendadak-sejujurnya membuatnya syok dan semacamnya.
"Jadi?"
"Kaa-san yang merencanakan itu semua-tidak! Mereka semua yang sudah merencanakannya, hanya aku di sana yang tidak tahu apa-apa, aish! Semua ini membuatku frustasi." Sakura memasang wajah suntuk.
"Kapan kau akan menikah?"
"Apa kau gila?! Kau tahu, aku masih tidak ingin menikah dan aku juga tidak tahu apa-apa, tapi entahlah, aku juga tidak tahu-" Sakura mengaduk minumannya malas. "-Beruntung kemarin mereka hanya melakukan pengenalan, berbicara ini-itu, dan lebih parahnya lagi di sana-aku berpura-pura tidak mengenal Sasuke,"
Sakura menidurkan kepalanya di atas meja. "Bisa kau culik aku Pig?"
"Apa aku gila menculik calon menantu keluarga Uchiha."
Ino tersenyum dan melihat Sakura dengan lembut. "Bukankah ini memang yang seharusnya terjadi Sakura? Setelah 13th Sasuke masih mencintaimu, dia bahkan tanpa bertanya kau mencintainya atau tidak, dia langsung melamarmu-hahaha meski dia sedikit keterlaluan, dia hanya tidak ingin kehilanganmu saja, bukankah ini akhir yang bahagia?"
"Yaa~ aku tahu, tapi, aku hanya sedikit takut saja."
"Pada siapa?"
"Diriku," Sakura memejamkan matanya. "Setelah 13th akhirnya dia menemukanku, ku pikir aku sudah bukan lagi Sakura 13th lalu, aku yakin itu juga berlaku pada Sasuke, yang ku takutkan adalah aku yang sekarang akan membuatnya kecewa, nyatanya aku bukan Sakura yang disukainya 13th lalu."
"Biarkan Sasuke yang menjawabnya." Ino tersenyum, dia menyentuh tangan Sakura dengan lembut.
.
.
.
Rintik buih.
.
.
.
Sasuke menatap gedung tinggi di depannya, tiba-tiba rasa gugup menyerang, ini tidak seperti Uchiha sekali, ia menghela napas pelan, mencairkan suasana hatinya, hanya Sakura yang bisa membuatnya seperti ini. Keluar dari batas normal Uchiha.
Dia berjalan sesantai mungkin, kedua mata di balik kacamata hitamnya sibuk mencari keberadaan Sakura, wanita itu tidak ada di area lobi, mungkin sedang bertugas di UGD, tapi dia tidak ingin ke sana, pasti ada pasien korban kecelakaan-dia tidak ingin melihatnya.
Sasuke masuk ke dalam lift, hanya menunggu beberapa saat untuk keluar.
"Apa kau bisa mengurusnya? Aku tidak bisa kembali tanpa bertemu dengannya-" mata Sasuke menelusuri area Taman, di bawah pohon-entah apa namanya dia tidak tahu, ada Sakura, berdiri dan memandangi anak-anak kecil bermain.
"-Aku menemukannya, ku tutup." Sasuke memasukkan ponselnya, dia juga melepas kacamatanya.
Kini Sakura menghadap ke arah pohon, helaian rambutnya bergoyang pelan tertiup angin, membuat Sasuke tidak enggan lagi berjalan pelan ke arah Sakura, sebuah senyum tipis terukir di wajahnya.
Dia berhenti dengan jarak lumayan jauh.
"Dokter Karin... akan mengiramu tersesat lagi lo." Wanita itu berbicara pelan dengan nada yang menggoda.
Tapi-tunggu! Apa wanita itu sedang berbicara padanya? "Aku berbicara padamu, memang ada siapa lagi di belakangku selain dirimu, kali ini makanan apa yang kau bawakan-donat?"
Sasuke terdiam, Sakura menyadari keberdaannya, saat ini atau pun di waktu yang sudah terlewatkan, dan dia tidak merasakan apa pun, senyumannya semakin lebar, Sakuranya memang tidak memberikan kesempatan untuknya berharap, wanita itu selalu menciptakan keajaiban-hal yang tidak disangkanya.
"Aku hanya mengacuhkanmu, kau datang untuk menemui Karin."
"Untuk melihatmu."
Rambut panjangnya bergoyang, mata emerald itu menatapnya, "Kau menguntitku?" kini wajah polos dewasa milik Sakura tengah melihatnya.
Sasuke tertawa pelan. Dia tertawa, hanya mendengar Sakura bertanya, aneh, dia memang aneh.
"Untuk apa menguntitmu, itu hal konyol yang pernah ku dengar," Sasuke bergerak maju. "Uchiha tidak pernah menguntit." Apa yang dia berbicarakan sekarang, padahal dulu-saat SMA dia selalu mengikuti Sakura kemana pun, bukankah itu juga menguntit.
"Pernah, kemarin. Wah~ ternyata Sasuke Uchiha sekarang sangat pintar sekali bicara, hmm~ itu aneh, orang-orang berkata-ah tidak! Wanita-wanita itu berkata-" senyuman Sasuke mulai luntur, dan beberapa kerutan muncul di dahinya. "-Jika Sasuke Uchiha adalah pria dingin, menyebalkan, dan tidak mudah di dekati. Wah~ bukankah ini keajaiban?"
Sakura berbalik, wanita itu tersenyum lebar ketika melihat wajahnya, ada gurat kesenangan di sana.
"He! Omong kosong apa yang sedang kau bicarakan? Siapa yang berani membohongimu sampai seperti itu?" Sasuke berjalan mendekat ke arah Sakura.
Perlahan tapi pasti.
"Ibumu-"
Wah, Ibunya memang hebat, menceritakan hal tidak berguna pada makhluk seperti Sakura, dia terus berjalan mendekati Sakura, hanya tinggal selangkah-dia berhenti berjalan, tangannya terangkat untuk menggapai Sakura.
Sakura tersenyum manis. "Lama tidak bertemu Sasuke."
.
.
.
Rintik buih.
.
.
.
"Ini tidak sesuai dengan perjanjian yang sudah di sepakati, aku tidak akan menyetujuinya." Sasuke melemparkan sebuah map ke mejanya. "Aku ingin ini di selesaikan dengan waktu yang sudah direncanakan, tanpa perubahan apa pun."
"Kau yakin dengan itu?"
Juugo mengambil mapnya. "Tentu saja. Aku tidak menerima kerugian." Ponselnya bergetar, sebuah panggilan video call tertera di sana, dengan nama pemanggil yang sudah tidak asing lagi. "Kau bisa pergi."
Klik.
"Oh! Teme! Lihatlah hadiah yang ku berikan padamu!"
Naruto bertelanjang dada dan memakai celana pantai, sinar matahari menyinarinya-terlihat begitu panas, pasir juga terlihat menempel di sekitar wajahnya, dengan masih setia mengarahkan kamera ke arahnya, pria itu berjalan ke arah bibir pantai.
Mata Sasuke membulat kaget, "Kau ada di mana?" geramnya rendah.
"Pantai!"
Terlihat Sakura tertawa sambil memeluk bola voli, begitu menikmati suasana yang sedang terjadi di sana, bahkan sangat santai dengan bikini berwarna peach yang di pakainya. "Aku tahu yang kau pikirkan Teme. Kemarilah! Bergabunglah bersama kami."
"Sialan."
Sakura berjalan ke arah air untuk mengambil bola, hari ini dia ingin menikmati masa liburannya, tidak ada salahnya pergi ke pantai di musim panas, bermain bersama para wanita menyebalkan di sana-Ino dan Hinata.
Dia tertawa pelan ketika Ino melemparkan pasir padanya. "Ah~ sialan kau Pig." Dia memeluk bolanya dengan erat.
"Kau yakin tidak ingin mengajaknya ke sini?"
"Sasuke? Aku masih waras Pig untuk mengajaknya ke sini-" Sakura berjalan ke arah Ino dan Hinata, tidak jauh dari sana terlihat Naruto yang sibuk dengan ponselnya. "-dia tidak akan membiarkanku memakai ini." Sakura melirik tali bikini di bahunya.
Merek berdua-Ino dan Hinata tertawa, yang bagi Sakura masih terasa hambar dan menyebalkan.
"Dasar Uchiha."
Decihan Ino tentang tunangannya membuat Sakura tertawa-keras, meski tidak terlalu lama, hingga sebuah handuk super besar menutupi tubuhnya, itu jelas saja membuat tawanya berhenti mendadak, tidak ada yang tertawa, mata Ino melotot kaget dan Hinata? Menutup mulutnya kaget-konyol.
"Teme! Aw! Kau membuat Sakura-chan terlihat aneh."
Naruto berdiri di samping Hinata.
"Hai-Uchiha." Sapa Ino garing.
"Lama tidak bertemu Yamanaka," Sakura melirik Sasuke jengah, pria itu mengenakan setelan santai-di pantai! Yang benar saja, oh mungkin saja pria itu vampir, itu hanya sedikit kemungkinan aneh yang terpikir oleh otaknya. "Kau terlihat cantik memakai itu."
"Apa?" tanya Sakura garang. "Aku seperti sedang sauna memakai ini di pantai-" Sakura melepaskan handuk super besar-yang bisa di pastikan Sasuke yang membawanya, pria itu adalah pencemburu garis keras, warna merah, dan besar. "-Ini ku kembalikan."
Sakura melipat handuk dan menaruhnya di genggaman Sasuke.
"Ku pikir kau harus memakainya lagi Sakura-chan, kau tahu... Teme sedikit-" Naruto terlihat gugup.
Sakura berlari ke arah air. "Apa?! Mungkin kau ingin mengatakan sedikit gila karena memakaikan handuk di musim panas-di pantai!" Sakura berhenti dengan wajah sombongnya. "-Pulanglah! Aku sedang tidak ingin bertemu denganmu."
Sasuke menatap datar ke arahnya.
Sakura mengabaikan itu, dia terus berlari semakin jauh, "Eh~ Forehead aku pasti akan membawakan barang-barangmu! Pasti!"
Sakura menoleh ke arah Ino, raut wajah Ino menunjukkan keanehan yang menjalar padanya, dengan wajah datar Sasuke berjalan ke arahnya, membuat ujung celananya terkena air laut, di tangannya handuk tergenggam erat, pria itu kini terlihat menyeramkan.
Dengan sebuah cengiran tidak berarti Sakura mundur perlahan, "Tunggu... apa yang ingin kau lakukan?"
"Membereskan sesuatu." Sasuke tersenyum tipis.
Itu menakutkan! Bagi Sakura, hingga dia terjatuh dengan posisi duduk, membuatnya melihat senyuman Sasuke terlihat lebih lebar, dan semakin mengerikan. "Tidak ada yang bisa melihat milik Uchiha." Tangan Sasuke menariknya berdiri, membungkus tubuhnya lagi dengan handuk, dengan sekali angkat, dia merasanya tubuhnya melayang di udara.
"Tunggu!" posisinya tidak elit, seperti karung beras.
"Pig! Aku di culik! Uchiha sialan turunkan aku! Pig!" Sakura menatap Ino yang hanya tersenyum pahit-tanpa berbuat apa-apa! Melihatnya di bawa pergi Sasuke-tunangan gilanya, "Sasuke! Turunkan aku! Narutoooo!"
Teman-teman sialannya. Kini dia merindukan 13th damainya-tanpa tunangan gilanya ini.
Sial.
.
.
.
Rintik buih.
.
.
.
Sakura memakan es krimnya, agak belepotan, dan dokter itu tidak menghiraukannya, dia masih asyik menjilati gumpalan es krim berwarna ungu, bukan rasa kesukaannya memang, setidaknya cukup menyegarkan di musim panas.
Pekerjaannya hari ini membuatnya suntuk, dengan satu operasi panjang pagi tadi.
Brak!
Dia kaget-memangnya siapa yang tidak kaget jika mejanya di gebrak begitu saja, dengan mata marah Sakura melihat pelakunya, dia menghembuskan napas pelan, terlihat menenangkan diri.
"Apa?"
"Jelaskan."
Dia melirik koran, halaman utama tepatnya, terdapat fotonya dan foto pria kolongmerat di sana, lama-lama terlihat seperti majalah gosip yang selalu Ino baca, dan selalu berhasil membuatnya ngumpat pelan. "Mungkin mereka melakukan kesalahan, kau tahu typo 'kan?"
"Ku rasa mereka tidak segila itu." Pria di hadapannya terdengar jengkel. "Apa yang tidak ku ketahui?"
Pria itu kini duduk di depannya. "Banyak, hingga aku sendiri tidak bisa mengingatnya, tapi itu tidak penting, bisa bicarakan yang lain? Aku sedang tidak ingin mengingatnya."
Dia menggigit es krimnya. "Aku menolak."
"Sialan-" Sakura melihat pria di depannya. "-Apa? Bukan kau, maksudku Sasuke, dia pasti tersangka utama dalam berita di koran itu, aku sudah bilang untuk tidak mempublikasikannya. Kau tahu menjadi tunangan orang terkenal itu menyusahkan."
"Kau-tunangan?!"
"Dia memaksaku Kouji,"
Sakura kembali memakan es krimnya. "Kau tahu semuanya, terutama buih-biuh bodoh itu-eh! Kau ingat kami pernah bertemu, tapi tidak sedikit pun aku menunjukkan ketertarikan lebih, kisah kita membuatku sedikit trauma, jadi ku pikir lebih baik aku tidak menyentuh apa pun tentang Sasuke untuk sementara, meski kami selalu berdekatan-dan hanya Sasuke yang tidak tahu itu."
"Biarkan Uchiha yang menjawabnya Sakura." Kouji tersenyum lembut.
Senyuman yang masih Sakura sukai hingga sekarang, lagi-lagi dia merasa beruntung pernah menjadi milik Kouji, tapi dia tidak ingin mengingatnya lebih dalam, mungkin akan sedikit terasa menyakitkan nantinya-terutama di akhir hubungan mereka yang lumayan suram.
"Ino juga mengatakan itu, aku tahu Sasuke serius, meski seperti yang ku katakan tadi-aku selalu berada di dekatnya, tapi aku tidak pernah menunjukkan ketertarikan lagi tentang Sasuke, aku bahkan tidak tahu tentang kabar Ryuuzetsu-san setelah di rumah sakit 13th lalu, jika di lihat sekarang mungkin wanita itu memiliki waktu yang lebih sulit dari pada aku," Sakura menyandarkan punggungnya.
"Sasuke pasti menolaknya-tidak! Mencoba menyingkirkan wanita itu sejauh mungkin yang dia bisa."
"Sasuke melakukan penolakan, itu wajar, secara tidak sadar, Ryuuzetsu-san yang membuatnya kehilanganmu Sakura," Kouji menatap serius pada Sakura. "Dari dulu Sasuke selalu serius dengan dirimu yang selalu ragu, yang ku pirirkan adalah setelah kalian menikah dan kau mulai ragu lagi, kau akan menceraikannya, itu membuatku ingin tertawa sekarang."
"Entahlah."
"Ku harap kau tidak melakukannya, Sasuke pasti akan bunuh diri, dan aku akan mengirimkan mayatnya padamu."
Sakura bergidik ngeri. "Hentikan imajinasi konyolmu, Sasuke tidak sebodoh itu untuk bunuh diri."
"Kau benar."
"Kita tidak akan tahu apa yang terjadi nanti, mungkin saja Sasuke yang mulai ragu-" Sakura melirik Kouji. "-Melihatku yang sekarang, siapa yang tahu kecuali Tuhan."
"Jika itu terjadi, panggil aku, aku akan menghajarnya untukmu hahaha."
Mereka berdua tertawa, dengan mendadak suara Sakura berhenti, "Terima kasih, bukankah ini waktumu juga untuk bahagia? Kau harus mencarinya, Tayuya juga pasti menunggumu dan anak kalian, dia marah karena kau selalu berputar-putar di sampingku seperti lalat,"
"Sekarang aku sudah ada Sasuke, aku yakin dia tidak akan membiarkanku terluka, dia bahkan tidak ingin miliknya di lihat siapa pun ahahaha."
Sakura memegang tangan Kouji. "Ini giliran kita bahagia."
.
.
.
To be Continued.
A/N :
Halooo! Pengumumannya kali ini adalah siap-siap untuk menuju ending, awkwkw gak kerasa udah mau ending aja, jangan lupa kesan dan pesan ya minna!
Balasan Review :
Uchiha Nazura : yosh! Update, terima kasih udah review.
Asuka kazumi : kelihatannya seperti itu, terima kasih udah review.
DaunIlalangKuning : yosh! Update, terima kasih udah review.
Hanazono Yuri : yosh! Update, terima kasih udah review.
Nurulita as Lita-san : akhirnya nyangkut awkwkw, yosh! Update, terima kasih udah review.
CEKBIOAURORAN : hubungannya indomie itu apa awwkkwk, yosh! Update, terima kasih udah review.
Ardiyanthi : yosh! Update, terima kasih udah review.
Kirara967 : hilang ingatan? Sepertinya tidak, Sakura masih ingat Sasuke dan masa lalunya, yosh! Update, terima kasih udah review.
Aitara fuyuharu : yosh! Update, terima kasih udah review.
Saskey saki : mungkin di chapter depan bakalan di ceritain lebih detail, yosh! Update, terima kasih udah review.
Diah cherry : pindah ke mansion? Wajar dong, udah ada penghasilan yang lebih, tidak ada alasan yang spesifik dia pindah ke sana, Sara? Karin? Aku gagal paham dengan mereka, Sara hanya muncul kalo gak salah Cuma satu scene di sini, Karin? Mungkin beberapa, oh~ maaf RL lagi sibuk dengan tugas kuliah, yosh! Update, terima kasih udah review.
Dillakozo : yosh! Update, terima kasih udah review.
Devanichi : inti dari cerita ini adalah renkarnasi itu aja, yosh! Update, terima kasih udah review.
Rumput hijau : yosh! Update, terima kasih udah review.
Sqchn : yosh! Update, terima kasih udah review.
