It's Me
.
.
.
It's Me
Disclimer : Om Masashi Kishimoto.
Author : Hanna Hoshiko
Pairing : Sasuke U. – Sakura H.
Rated : T+
Genre : Romance/Hurt/Comfort/Drama/Friendship.
.
.
.
Warning!
Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author
Cerita ini akan update setiap author gak lagi sibuk di RL dan gak lagi kena WB.
Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.
.
.
.
Don't Like Don't Read.
.
.
.
Mempersembahkan.
Pintu ruangan praktiknya terbuka, tidak ada suara lagi setelah derit pintu terbuka, dengan aura bersemangat dan juga senyum ceria dia menatap ke arah pintu, kepada pasien yang tidak pernah dia duga. "Selamat pagi Dokter Sakura."
Aura bersemangat itu luntur dalam dirinya.
Wanita itu masih secantik dulu, hanya saja yang berbeda ada seorang anak laki-laki kecil di sampingnya, menggenggam erat tangan Ibunya, dan juga sang adik yang masih dalam kandungan.
Dirinya tersenyum, kejutan apa lagi ini? selalu, jika berhubungan dengan Sasuke, semua hal tak terduga mulai menghampirinya seperti mimpi buruk.
Wanita itu berjalan perlahan, menatapnya dengan serius, suara pintu tertutup menjadi backsound.
"Apa masalah anda Ryuuzetsu-san?"
Wanita itu diam dalam duduknya, masih menatapnya, hingga kedua tangannya mengeluarkan koran-halaman utama, Sakura memejamkan matanya, mengatur napas yang keluar dari mulut.
"Aku ingin mendengarnya... cerita indah ketika kau bertemu dengannya lagi." Tangannya menyentuh potret Sasuke pada koran. "Dokter Sakura."
"Tidak ada yang spesial di pertemuan kami."
"Sejak kapan?"
Sakura merogoh sakunya, memberikan lolipop yang tersisa di sana pada anak di samping Ryuuzetsu, "Ku harap kau menyukainya manis," Kedua matanya beralih pada Ryuuzetsu. "Beberapa waktu lalu, kami bertemu setelah 13 tahun dan dia melakukan perjodohan dengan keluargaku tanpa sepengetahuanku, aku senang-tentu saja, tapi ku pikir dia memang sedikit keterlaluan hahaha."
"Selamat atas pernikahan kalian-" Ryuuzetsu tersenyum. "-Aku yang merubah Sasuke-kun dan kau-Terima kasih sudah mengubahnya kembali, seperti Sasuke-kun yang ku cintai."
"Apa yang terjadi padamu?"
"Aku?"
Ryuuzetsu tertawa, "Setelah kepergianmu, aku melakukan segala cara untuk membuat Sasuke-kun berpaling padaku, tapi Naruto benar, jika Sasuke tidak akan pernah melupakanmu, sebenarnya aku juga tidak akan menyerah semudah itu tapi aku memilikinya-" Ryuuzetsu memeluk putranya. "-Aku hamil di luar pernikahaan, kini aku mencintai suami dan keluargaku tapi Sasuke-kun bukan orang yang bisa kulupakan begitu saja."
"Tidak ada yang salah dengan itu,"
Sakura melirik sebuah foto kecil yang tertempel di monitor komputernya, salah satu foto yang berderet di sana. "Sampai sekarang juga aku masih menyukainya, senyuman milik cinta pertamaku, tapi hanya sekedar itu, karena mengingatnya lebih jauh bukan hal yang baik."
"Aku tidak berharap lebih dengan hubungan kita yang kurang harmonis, tapi aku harap kita sama-sama bahagia."
Sakura tersenyum lembut, matanya tertutup saat mendengar derit pintu yang kembali menutup, dia menyandarkan punggungnya, dan menghela napas kasar.
.
.
.
It's Me.
.
.
.
Bibirnya terkatup rapat, tidak ada lengkungan manis ketika melihat wanita itu berdiri di depan mansionnya, tidak ada juga raut bahagia yang menyelimuti wajah wanita itu, yang di lakukan wanita itu hanyalah diam dan menatap mansionnya.
Dia membukakan pintu, menimbulkan suara sunyi yang khas. "Masuklah."
"Terima kasih."
Dulu suasana di antara mereka berdua tidak sekaku ini, wanita itu selalu berkomentar sinis yang membuatnya ingin menjawab, tapi sekarang mereka hanya berjalan dalam diam. "Apa aku harus tinggal di sini? Rumah ini sedikit menakutkan."
"Tentu saja, kau boleh mengubahnya sampai membuatmu nyaman tinggal di sini."
"Aku?"
"Hn."
"Wah~ memang, rumah ini terlalu suram-" mata wanita itu meneliti dirinya. "-Mungkin juga karena aura pemiliknya sudah suram," wanita itu berbalik dan menaiki tangga. "Kita bahkan belum menikah, kenapa harus tinggal bersama?"
Sasuke meletakkan koper besar Sakura di depan sebuah kamar.
Dia mencari kemana Sakura pergi, wanita itu tanpa bertanya sekali pun sudah menjelajahi mansionnya, bahkan di area yang tidak seorang pun boleh melihatnya-ruang kerjanya.
"Kenapa di sini banyak fotoku?"
"Karena aku merindukanmu."
Sakura tersenyum mendengar perkataannya. "Kau harusnya mencariku jika merindukanku, bukannya memajang fotoku seperti psikopat seperti ini-kau terlihat menakutkan Sasuke." Senyuman Sakura menghilang, di antara foto yang tertempel, Sakura melihat sebuah foto dengan pandangan lembut, jemarinya menyentuh sosok dalam foto, itu bukan dirinya-itu cinta pertama Sakura, yang tidak sengaja ikut terfoto waktu itu.
"Kau masih mencintainya?"
"Kouji?" Sakura tertawa pelan. "Apa kau masih cemburu padanya? Ku harap itu tidak terjadi, Kouji sudah menikah dengan Tayuya, tapi... aku masih menyukainya-senyumannya, itu adalah salah satu dari Kouji yang tidak bisa kulupakan, hanya itu yang tersisa dari cinta pertamaku."
Sakura menatapnya dengan pandangan lembut. "Apa yang tersisa dari cinta pertamamu Sasuke?"
"Tidak ada yang tersisa," tatapan Sakura padanya berubah datar.
"Tidak ada harapan untuk yang tersisa, cinta pertamaku bukan lagi seseorang yang kusukai dulu, tidak ada kisah yang istimewa dari cinta pertamaku jadi tidak perlu aku ceritakan."
"Aku ingin mendengarnya," Sakura duduk di kursi kerjanya. "Cinta pertama Sasuke Uchiha." Wanita itu tersenyum ceria padanya. "Aku tidak ingin tahu siapa cinta pertamamu, hanya ingin mendengar bagaimana kau mencintainya."
Sasuke bersandar di ambang pintu.
"Dia perempuan yang ceria, hangat, mempunyai banyak teman laki-laki-dia tomboy, bodoh, dan selalu menggangguku. Kami berteman sejak kecil, kami melewati waktu bersama cukup lama," dia tersenyum. "Aku benci mengakuinya ketika aku tahu-aku menyukainya, dia bahkan tidak terlihat tertarik denganku, akhirnya aku memilih berpacaran dengan kakak kelasku untuk membuatnya cemburu, tapi dia meninggalkanku beg-"
"Stop!"
"Apa?"
"Aku tidak ingin mendengarnya lagi," Sakura berdiri, angin bertiup pelan dari balkon, beberapa bunga sakura juga ikut menyelinap masuk bersama angin. "Kau masih menyukainya-cinta pertamamu, kau masih menyimpan sisa itu Sasuke."
.
.
.
It's Me.
.
.
.
Sakura melihat langit-langit kamarnya yang begitu besar, berwarna merah muda yang begitu pudar, kedua tangannya menggenggam erat selimut tebal berwarna hitam di atas tubuhnya, matanya bergulir ke samping, semua barang yang berada di sini seperti di siapkan khusus untuknya.
Dia bangkit dari posisi tidurnya, dia masih belum terbiasa tidur di tempat baru, melihat jam yang menunjukkan tengah malam.
Sakura membuka pintu kamarnya pelan-pelan, dia takut jika Sasuke terbangun.
Mansion ini begitu luas untuk di tempati sendirian, apakah Sasuke tidak kesepian? Hawa dingin menyapa kulitnya, kakinya terus berjalan menuju pintu ruang tengah, pintu ruang tengah memang tidak sebesar pintu utama, tapi masih bisa dikatakan besar juga.
Sakura menutup mulutnya tidak percaya. "Kenapa banyak sekali pohon sakura di sini?"
"Karena aku merindukanmu."
Sakura membalikkan badannya dengan kaget, melihat Sasuke berdiri tidak jauh darinya, dengan tampang acak-acakan, "Karena aku tidak bisa bertemu denganmu."
Air mata mulai menggenang di kedua matanya. "Dasar bodoh."
.
.
.
It's Me
.
.
.
Dia sudah merencanakan semuanya, ya... semuanya, bahkan tentang keberadaan Sakura di mansionnya, tentang pertemuan keluarga mereka, semuanya sudah tertata rapi di dalam otaknya, dan berjalan lancar.
Melihat Sakura di setiap dia bangun tidur adalah kesenangan tersendiri, jika dia bisa, dia akan membuat Sakura hanya untuk dirinya, menjadikan perempuan itu sebuah rahasia yang hanya menjadi miliknya, menyembunyikannya dari dunia.
"Apa kau akan terus duduk di sana?"
Dia tersenyum tipis melihat kepala perempuan itu menyumbul di ambang pintu kamarnya.
Semua mimpi-mimpinya selama 13 tahun menjadi kenyataan, melihat Sakura terus berjalan mondar-mandir di sekitarnya, berbicara padanya, marah padanya, dan terkadang membuatnya kesal setengah mati.
Perempuan itu berjalan mendekat.
"Tuan makanan anda sudah siap, dan aku tidak bisa menemanimu sarapan," dengan wajah tidak paham Sasuke menarik Sakura hingga terjatuh di pangkuannya.
Dia merapatkan tubuh mereka berdua.
"aku ada jadwal operasi Sasuke."
Sasuke melesakkan kepalanya ke arah Sakura, dia sangat membenci pekerjaan Sakura yang harus meninggalkannya, dia juga butuh Sakura, bukan hanya mereka saja.
"Tunggu sebentar,"
Cup. Sebuah ciuman singkat. "aku akan mengantarmu."
Sakura tertawa pelan. "Kau mengambil bayaranmu di awal tuan." Sakura berdiri dari pangkuannya. "kau tidak perlu mengantarku, nikmatilah sarapanmu."
"Kuantar atau menikmati seharian bersamaku diatas ranjang?"
Dia melirik nakal ke arah istrinya, sebenarnya dia ingin sekali tertawa-keras melihat ekspresi Sakura saat ini, wajah perempuan itu memerah karena kesal dengannya.
Menggoda Sakura memang hobi yang paling disukainya.
"Kau mau mengambil tawaranku yang terakhir? Aku juga setuju dengan itu." Dia menopang wajahnya, dia yakin-100 persen yakin jika saat ini dirinya terlihat seksi dan menawan.
Sakura menghela napas. "Kenapa kau sangat mesum? Sialnya aku menyukainya," decih Sakura pelan. "baiklah antarkan aku."
.
.
.
It's Me.
.
.
.
"Kau pernahkah melihat kejadian yang belum kau alami?"
Sasuke membuka kedua matanya, di dalam matanya guguran kelopak bunga sakura berayun lambat karena angin malam, "Kurasa."
"Aku mengalaminya," Sakura menatapnya. "setelah kecelakaan kita waktu itu."
Dia terdiam.
Dia juga mengalami halnya sama, di tempat dan waktu-waktu tertentu, sebuah ingatan yang bahkan tidak pernah ia miliki muncul, dia dan Sakura ada di dalam sana, meski dia tidak merasa memiliki ingatan itu tapi semua ingatan aneh itu tidak asing baginya.
Seolah-olah semua ingatan itu milik reinkarnasinya.
"Mungkin dia ingin mengingatkanmu?"
"Siapa?"
"Sakura yang lain," Sasuke menatap Sakura. "Sakura yang hidup sebelum dirimu, Sakura yang mencintai Sasuke dari masa sebelumnya, Sakura yang ingin mengingatkanmu jika Sakura hanya bisa mencintai Sasuke."
Pipi Sakura merona tipis. "Ba-bagaimana kau tahu?!"
"Aku juga mengalaminya,"
"pada awalnya aku juga bingung," lanjutnya tenang. "ingatan siapa yang terlintas di kepalaku, semua ingatan itu menceritakan tentang kita yang tidak pernah aku tahu, tentang bagaimana hubungan Sasuke dan Sakura pada masa itu, setelah kupikir mungkin mereka ingin aku tidak melepaskanmu."
Sasuke menghembuskan napas pelan. "Lebih tepanya, Sasuke terus mengingatkanku agar tetap mencintaimu, dia tidak ingin kehilangan Sakura saat itu atau pun saat ini, dan itu benar saja jika Sasuke di dalam ingatan itu benar-benar aku, aku akan melakukan halnya sama pada diriku di masa depan nanti. Untuk tidak melepaskanmu..."
Sasuke tersenyum. "Dan selalu menjadi orang yang mencintaimu lebih dulu."
.
.
.
It's Me.
.
.
.
Dia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku, berjalan tenang seperti melewati lorong yang sepi, dibalik kacamata hitam matanya menatap lurus ke depan, dia bahkan tidak berniat tersenyum pada perawat-perawat Rumah Sakit yang mencoba tersenyum padanya.
Kegiatan barunya di penghujung sore adalah memastikan Sakura pulang dengan selamat di bawah pengawasannya.
Langkahnya berhenti.
Melihat orang di depannya dengan sebuah senyum remeh.
"Menyapaku?" tanya Sasuke.
"Selamat atas pernikahan kalian," pria itu tersenyum tipis padanya. "aku menitipkan Sakura padamu, kau tahu... kau harusnya datang lebih cepat," pria itu tersenyum lembut padanya.
Sedetik dia terpaku. Inikah senyuman yang tidak bisa di lupakan Sakura? Senyum hangat dari pria yang sedang berdiri di depannya, pria yang dulu begitu dicintai wanitanya, pria yang dulu sanggup membuat wanitanya hancur.
"Sakuraku sudah menunggu terlalu lama, aku pikir dia tidak akan pernah menikah," pria itu memasukkan tangannya ke dalam saku jas dokternya. "hanya karena menunggumu."
Ia tersenyum tipis pada pria di depannya.
Tanpa berkata apa pun dia melangkah, "Terima kasih karena sudah menjaganya." Setelah mengatakan itu Sasuke melewati Kouji begitu saja.
.
.
.
End.
A/N :
Udah lama banget. Kayaknya sangat sangat sangat lama akwkwkw :v saya harus fokus dengan kegiatan kampus mangkanya jarang bisa ngetik terus kemalasan yang sering menyerang karena banyak tugas, sebenernya saya mau buat satu chapter lagi tapi saya mikir kok agak aneh, karena emang ceritanya udah selesai dan nggak ada yang bisa diceritain lagi. Belakangan ini juga saya lebih minat nulis oneshoot ketimbang multichap kayak gini, mungkin projek multichap yang belum selesai bakalan luama banget selesainya.
Dan buat kedepannya mungkin saya nggak bakalan lagi up buat multichap karena kebanyakan oneshoot, untuk dukungannya selama ini saya ucapkan terima kasih banyak dan maaf juga kalo endingnya kayak maksa bued, akhir kata sampai di projek selanjutnya.
Balasan Review :
PantatAyam BerjidatLebar : cerita ini aslinya projek satu ide di bagi jadi 3, ceritanya saling berkaitan satu sama lain dan cerita ini yang nomer 2 tapi mungkin yang ketiga gak bakalan ada akwkw karena alasan yang udah aku bahas diatas. Terima kasih untuk dukungannya selama ini.
CEKBIOAURORAN : terima kasih untuk dukungannya selama ini.
Hanazono Yuri : udah tamat, terima kasih untuk dukungannya selama ini.
Aitara Fuyuharu : aku juga turut bahagia karena chapter ini tamat, terima kasih untuk dukungannya selama ini.
Diah Cherry : apa aku upnya kelamaan :v kemarin juga habis tahun baru 2018 tapi awkwkw, terima kasih untuk dukungannya selama ini.
Ardiyanthi : terima kasih untuk dukungannya selama ini.
Sqchn : terima kasih untuk dukungannya selama ini.
Annisa61149 : terima kasih untuk dukungannya selama ini.
Sasusakuflower : terima kasih untuk dukungannya selama ini.
Risnusaki : terima kasih untuk dukungannya selama ini.
