ANOTHER YOU
Summary : "mereka berbeda namun terlahir sama, sama bukan berarti satu begitu pun jalan hidup keduanya ,perasaan manusia sangatlah klasik dapat berubah setiap saat "Dia bukan kekasih mu, kekasih mu telah meninggal ,dia Jungkook mereka kembar identik"
Main cast :
Kim Taehyung-Kim Jungkook
Park Jimin-Min Yoongi
Kim Namjoon-Kim Seok Jin
And other
Warning : BL, Alur membingungkan, jalan cerita abal, TYPO.
Enjoying~
Chapter 2
Setangkai bunga, tidak dapat memilih dari bibit yang mana, dan di tempat seperti apa ia tumbuh.
That's how life is...
.
.
Kejadian itu terjadi delapan belas tahun yang lalu..
.
.
.
"Jinie sampai jumpa~"
Dengan semangat dan senyum khas bocah, anak kecil itu melambaikan tangan kearah teman sebayanya.
"Sampai jumpa Njun." Membalas lambaian tangan sobat karibnya dengan antusias.
Mereka siswa sekolah dasar yang hendak pulang menunggu jemputan orang tua atau supir pribadi masing-masing.
Bocah yang dipanggil Jinie itu rupanya terbiasa pulang seorang diri dengan dalih kedua orang tuanya tengah sibuk bekerja. Njun atau Namjoon pernah bertanya, kenapa tidak supir pribadinya saja yang datang untuk menjemput? namun jinie kecil menjelaskan jika keluarganya bukan dari kalangan yang mampu, jangankan supir pribadi, mobil saja ia tidak punya. Namjoon hanya menganggukan kepalanya pertanda mengerti, berbeda dengan dirinya yang memiliki keluarga kaya raya tergolong konglomerat.
Mereka teman dekat, ntah bagaimana awalnya, yang jelas Jinie menyukai Njun karena kepintaranya dan Njun menyukai Jinie karena wajah imutnya, mereka sudah dekat semenjak menginjak bangku kelas satu sekolah dasar hingga sekarang duduk dikelas empat. Tapi tak dipungkiri, karena perbedaan nasib mengharuskan mereka dekat hanya dilingkungan sekolah saja, ingat kesibukan mereka berbeda.
"Eoh aboeji? Kenapa aboeji yang menjemput? Kemana paman ahn.?" Tanpa menjawab pertanyaanya, Ayah Namjoon meraih pergelangan tangan anak itu menuju mobil.
"A-aboeji ada apa? Kenapa terburu-buru.?" Bocah itu kebingungan bahkan ketika ayahnya mendudukan dirinya dikursi samping pengemudi.
"Dengar Namjoon-ah," Memegang bahu Namjoon dengan tatapan serius. "Saat ini ibumu dan paman Ahn dalam bahaya kita akan kekantor polisi sekarang." Dan dengan cepat selfbelt itu sudah terpasang dibadan Namjoon.
"Eomma.. kenapa? apa yang terjadi.?"
Ayahnya menutup pintu mobil kemudian berjalan tergesa memasuki jok pengemudi tanpa menghiraukan pertanyaan putranya.
"Kita berdoa saja."
Pria dengan seragam polisi membawa mereka menyusuri lorong panjang menuju sebuah ruang kantor kepala polisi utama didaerah itu . Mata kecil Namjoon melihat papan nama di atas meja tersebut, tertulis jelas.
Kepala Kepolisian Daegu Lee Soo Hyuk
Namjoon tidak mengerti dengan pertanyaan-pertanyaan yang ayahnya lontarkan kepada kepala polisi tersebut, tapi Namjoon yakin itu pasti berhubungan dengan ibunya.
"Lokasi Mobil istri anda sudah ditemukan dengan posisi menabrak tiang pembatas jalan. Namun, tidak ada seorangpun di dalamnya, detektif kami sedang menyelidiki lebih lanjut. Kasus ini termasuk kedalam manipulasi kendaraan juga penculikan, kami menduga mobil istri anda di sabotase hingga tidak bisa dikenadalikan."
Wajah ayahnya terlihat begitu murka atas penjelasan kepala polisi Lee. dengan kalap ayahnya menarik kerah baju Lee Soo Hyuk, dia bahkan tidak memperdulikan tindakannya yang sangat tidak sopan itu.
"CEPAT TEMUKAN ISTRIKU! dia sedang mengandung, apapun akan aku lakukan, bila perlu gunakan pasukan kususmu untuk mencari istriku.!"
"Tenanglah tuan Kim." Mencoba melepaskan cengkraman dibajunya, Kepala polisi Lee menghela nafas. "Baiklah, akan ku kerahkan pasukan kususku mencari istri dan anak anda, namun harus anda ketahui..."
"Berapapun biayanya akan aku berikan, kau meragukan ku? Kau tau bukan siapa aku.?"
"Baiklah."
Mereka melupan anak kecil yang sedari tadi mendengarkan percakapan dengan menahan tangis, hingga ketika Namjoon kecil benar-benar meledakan tangis nya.
"HIKS EOMAAA."
"Namjoon-ah Ibu dan adik mu akan baik-baik saja, percayalah."
Namjoon terus menangis di dalam gendongan ayahnya. sayup-sayup ia mendengar tangisan wanita dan anak lelaki lainnya yang menangis dan menyebut nama Ahn Baekjae supir ibunya sebelum jatuh tertidur karena Lelah menangis.
Entah sudah berapa lama Namjoon tertidur, kejadian yang terjadi hari ini begitu banyak, kepalanya mencoba mengingat kejadian yang terjadi hari ini, hingga ia sadar jika ibu dan adiknya yang masih dalam kandungan menghilang.
"Hiks….hiks.. Eomaa.. eodigaaa."
"Tuan muda anda sudah bangun, apa anda membutuhkan sesuatu.?"
"Paman Jung.. aku mau eoma, hiks dimana eoma.."
Melihat perihatin, Jung Haekyun asisten pribadi sekaligus tangan kanan ayahnya mendekap Namjoon menenangkaan.
"Ibumu baik-baik saja tuan, ibu mu sudah ditemukan."
Mata sembab itu seketika berhenti mengalirkan cairan bening, Menatap harap-harap cemas kepada asisten ayahnya.
"B-benarkan? Paman sedang tidak berbohongkan?."
"Aku berkata yang sesungguhnya tuan, para detektif yang dikerahkan Tuan besar berhasil menemukan nyonya Kim karena mereka belum jauh melarikan diri."
"Lalu dimana eoma sekarang.?"
"Nyonya Kim ada di Rumah sakit untuk proses bersalin, ketuban nya pecah karena benturan saat kecelakaan."
Mengerjap tidak mengerti, Namjoon cemberut, kenapa paman Jung menjelaskan hal yang rumit pada anak sepuluh tahun.
"Apa eoma akan melahirkan adik ku.?"
"Benar tuan."
"Antar aku menemui eoma."
Daegu Medical Center (DMC) merupakan rumah sakit terbesar di daerah Daegu, dulu ayah Namjoon pernah membawanya ketempat ini untuk menghadiri rapat pemegangan saham. Di usianya yang masih muda Namjoon sering diajak untuk menghadiri rapat perusahaan atau sekedar rapat penanam saham di berbagai tempat termasuk DMC ini, ayahnya pernah bilang jika rumah sakit ini besar karena uang nya. tedengar sombong memang namun Namjoon mengerti sifat sombong harus ada untuk mereka kaum konglomerat, tak terkecuali sang pewaris.
Dia melihat ayahnya berdiri di depan pintu VIP ruang bersalin, raut wajahnya terlihat cemas dan khawatir.
"Aboeji.."
Seakan tertarik kedunia nyata, ayahnya langsung tersenyum menghampiri Namjoon sebelum menggendong bocah itu dipelukannya.
"Tuan apa persalinan nyonya berjalan lancar.?"
"Aku berharap begitu, mereka masih di dalam sanah." Senyum tadi sudah hilang berganti dengan kekhwatiran yang terlihat jelas.
Tiba tiba pintu dibelakang mereka terbuka. Perempuan berpakaian putih-putih terlihat setelahnya.
"Tuan Kim, bisa ikut kami masuk kedalam?." Suster bertanya dengan tatapan khawatir.
Samar-samar tangis bayi derdengar dari celah pintu setinggi 2m itu.
"Oke" ayah Namjoon menurunkannya di kursi, "kamu tunggu disinih dengan paman Jung ya." Anggukan kecil membuat kim kangin melangkahkan kakinya mengikuti suster.
"Paman.." tarikan di ujung jaket memfokuskan penglihatan Jung Haekyun pada tuan mudanya.
"Iya tuan?." Ia ikut mendudukan diri disamping Namjoon.
"Aku ingin pipis"
"Bawa dia pergi."
Jung Haekyun menyerngit tidak mengerti dengan perkataan tuan nya, setelah selesai mengantar Namjoon ke Wc terdekat ia mendapat pesan untuk mencari Ruang lily no. 1 karena nyonya Kim sudah dipindahkan.
"Dia cacat, bawa dia pergi dari sini."
"Aboj-"
"Namjoon-ah.." sang ayah mensejajarkan tubuhnya dengan Namjoon, "Masuklah, kau bisa menemui ibumu."
Namjoon menganggukan kepalanya, detik berikutnya ia berlari memasuki pintu dibelakang ayahnya melupakan perkataan yang akan ia lontarkan, "Jung kau ikut aku."
Perkataan tuannya adalah perintah mutlak yang harus ia laksanakan.
"Eomonim…"
Namjoon berdiri di samping ranjang ibunya , ibunya masih terbaring lemas pasca melahirkan.
"Namjoonie."
Ibunya memaksakan diri duduk di ranjang ,dengan tangan gemetar ibu nya meraih kedua tangan Namjoon.
"Namjoonie.. anak ku, berjanjilah pada eoma, kau akan menjadi kakak yang baik untuk nya, jangan membenci nya, lindungi dia karna kau kakaknya"
"Eoma apa adik ku benar-benar cacat?."
"Kau memiliki dua adik sekarang dia tidak cacat, adik laki-laki mu hanya terlahir kurang sempurna."
Sebenarnya Namjoon kurang paham dengan penjelasan yang ia terima dari ibunya. Yang pasti Namjoon memiliki adik kembar dengan kelamin berbeda, yang perempuan lahir pertama dengan sehat, namun Adik keduanya mengalami gangguan paru-paru yang mempengaruhi organ vital termasuk otak.
"Dia tidak menangis saat lahir." Air mata mengalir dipipi ibunya.
Namjoon ingat, saat ayahnya akan memasuki Ruang bersalin, hanya satu tangisan yang terdengar.
"Eoma..." Namjoon memeluk ibunya. Ia masih bocah, namun bukan berarti ia tidak paham situasi ini.
Adiknya akan bermasalah pada perkembangan otaknya.
Adiknya akan berbeda dengan anak-anak seusianya jika besar nanti.
Adiknya... akan cacat.
Namjoon bingung ketika ibunya berpesan untuk adil menjaga kedua adiknya.
"Tapi... aku tidak mau memiliki adik idiot eomonim."
"Namjo-"
"Ya kau benar anak ku, kau tidak akan memiliki adik yang cacat."
Suara ayahnya menyahut tiba-tiba memotong perkataan ibunya.
"Apa maksudmu yeobbo?."
"Aku tidak mungkin mengakuinya di depan publik, apa kau tau kelahiran anak cacat itu akan membawa pengaruh buruk dan mencoreng Nama keluarga Kim yang terpandang."
Air mata makin deras bahkan sesekali isakan terdengar di telinga Namjoon.
"Tapi dia anakmu-"
"Ibumu akan membawanya dia yang akan mengurus nya."
Semuanya terjadi begitu cepat, yang Namjoon ingat saat itu ibunya memberi nama Kim Junhee dan Kim Jungkook. Sebelum ayahnya membawa pergi sang adik laki-laki ke rumah neneknya di daerah pedesaan Daegu.
Setelah ibunya melahirkan, keluarga Kim pindah ke seoul. Ayahnya membangun perusahaan baru di seoul, dan hidup tanpa membahas adik laki-lakinya seakan Jungkook tidak pernah lahir. Bahkan Junhee pun tidak mengetahui jika dirinya memiliki saudara kembar .
Namun Namjoon teringat, ketika dirinya sudah duduk di tahun terakhir sekolah menengah atas. saat itu ia pulang larut karena les private menjelang ujian akhir, ia mendengar ibunya bercakap diponselnya dan menyebut nama Jungkook, kemudian wajahnya berubah kalut dan khawatir dan setelahnya bergegas pergi mengendarai mobil ditengah malam.
ketika ditanya ibunya hanya memjawab jika ada urusan mendadak di Daegu.
Tunggu.. Daegu? Ibunya sering ke Daegu selama ini, tapi ia tidak tau apa yang dilakukannya disanah.
Hingga pecahan ingatanya dirumah sakit dulu melebarkan kedua matanya, seseorang bernama Jungkook itu adalah adiknya, adiknya yang ditolak ayahnya dan dirinya, adiknya yang cacat itu.
Namjoon pun segera mengikuti mobil ibunya, persetan dengan dirinya yang tidak memiliki SIM dia harus memastikan apa benar ibunya menemui adiknya yang cacat itu. Sampai pekarangan rumah nenek nya terlihat dihadapanya.
"Eomonim.."
Namjoon memanggil ibunya yang telah keluar dari mobil ,ibunya terkjut mengetahui Namjoon ternyata mengikutinya.
"Apa yang kau lakukan disini Namjoonie? Apa kau mengikuti ku?."
"Aku penasaran apa yang di lakukan ibuku di Daegu tengah malam begini? Di Rumah Halmeoni?"
"A-aku..-"
"Apa adiku ada disini? Bukan kah Halmeoni yang merawat nya?."
Ibunya menunjukan ekspresi kaget.
"K-kau mengingat adik mu?."
"Tentu saja, aku juga mengingat kalau dia cacat."
Ibunya menghela nafas, "Lebih baik kau pulang."
"Tidak, aku juga ingat kalau dulu aku menolak nya, dulu aku masih anak-anak tapi sekarang aku mengerti walau bagaimana pun dia tetap adiku kan."
"Jadi…sekarang kau menerima nya sebagai adikmu?."
ibunya bertanya dengan haru menunggu jawaban Namjoon
"Akan aku coba."
Ibunya menangis ketika mendengar jawaban nya , bersyukur akhirnya jungkook malangnya dapat diterima oleh kakanya.
Untuk pertama kalinya setelah delapan tahun berlalu, Namjoon bertatapan dengan Jungkook, ia tidak berhenti tercengang akan fisik adiknya. Kim Jungkook, adiknya yang terakhir kali ia lihat saat masih bayi kini tumbuh menjadi anak yang sangat manis, kulit putih dan halus ,mata bulat yang indah, gigi kelinci yang sangat menggemaskan semuanya terlihat indah, Namjoon bahkan meruntuki sikap kekanakan nya dulu ketika tidak mengakui Jungkook kecil yang malang.
"Eommonim a-apa itu adik ku?."
"Ya dia adik mu, Kim Jungkook kita."
"Apa kau yakin kau dulu melahirkan anak kembar beda gender? Bukan sepasang anak kembar perempuan?"
Ibunya mengeryit bingung dengan pernyataan Namjon.
"Maksudku lihat... dia sangat menawan dan indah, bahkan Junghee yang perempuan tidak secantik dia walaupun mereka terlihat identik."
Ibunya tersenyum maklum ,semua orang yang baru pertama kali melihat Jungkook pasti akan mengira jika Jungkook adalah anak perempuan dengan rambut pendek.
"Dia laki-laki Namjoonie..dia memang mengagumkan kau mungkin akan jatuh cinta ketika mendengar suara tawanya."
Namun sangat di sayangkan karna pada saat itu Jungkook sedang mengalami demam tinggi , tidak mungkin bisa mendengar suara tawa adik nya itu.
"Bolehkan aku memeluknya?."
Sebuah perasaan sayang yang terbalut penyesalan muncul ketika tangan Namjoon menyentuh rambut hitam Jungkook.
"Tentu, Kau hyung nya maka mulai saat ini lindungi lah malaikat kita ini."
"Ya kali ini aku akan berjanji padamu eomonie."
Pertemuan mereka tidak berlangsung lama, dikarena Namjoon harus kembali untuk sekolah.
Namjoon sangat sibuk karena ujian akhir akan datang, jadi ia cuman bisa mengunjungi Jungkook beberapa kali dalam sebulan, namun hal itu cukup berarti untuk mereka yang cukup lama berpisah.
~~~
"Eoma, oppa..kalian mau kemana?Junie ikut."
Itu Junhee adik perempuan Namjoon sekaligus saudara kembar Jungkook ,dia bertanya ketika menyadari eoma dan oppa nya yang hendak pergi bersama.
"Junie chagiya.. eomma dan oppa mu akan pergi ke Daegu untuk menghadiri rapat penanam saham, jadi Junie tidak bisa ikut, lagi pula bukan kah Junie ada Les menari balet hari ini?"
"Les Ballet sangat membosan kan eoma.. Junie lebih suka jika eomma memasukan Junie pada Les Taewondo HIAA..WAATCAAU."
Anak berumur delapan tahun itu memprotes dan merengek dengan bagian akhir bergaya seperti atlet Taekwondo yang terlatih, lantas ibu dan kaka lelakinya tersenyum gemas dengan tingkah bocah itu.
"Yaaa! Junhee-ah kau ini perempuan atau lelaki? Kenapa ingin masuk Taekwondo?." sang kaka bertanya.
"Ummmm Molla.." menunjukan pose berfikirnya yang imut.
"Wah bagaimana ini, adikku bahkan tidak mengetahui jenis kelaminnya sendiri?." menusuk nusuk kecil pipi adik nya.
"Ummm aku perempuan oppa." Ucapnya sambil menundukan kepala.
"Jadi sekarang Junie sudah mengertikan kalau Junie itu perempuan, dan Taekwondo itu untuk anak laki-laki."
"Bukankah ada atlet Taekwondo perempuan eomma? Kenapa Junie tidak boleh ikut?."
"Eomma bukan nya melarangmu sayang, kau masih terlalu kecil untuk itu, tumbuhlah dahulu hingga tubuh mu mampu menerima latihan semacam Taekwondo, eomma tidak mau kamu kelelahan, lagi pula les mu sekarang sudah penuh satu minggu, tidak ada hari yang kosong." mencoba memberikan pengertian kepada anak nya.
"Eomma dan oppa berangkat ya".
"Dadah Junhee-ah."
Junhee kecil menekuk wajahnya sebal karna di tinggal begitu saja.
Bohong jika mereka akan menghadiri rapat pemegang saham atau apalah itu, yang jelas mereka sekarang menuju ke rumah sang nenek, yang pasti untuk menemui adik lelakinya.
Namjoon ingin memberikan ucapan selamat tingal pada Jungkook, karna ia telah didaftarkan ayahnya melanjutkan kuliah di Amerika. Padahal Namjoon belum cukup waktu untuk berbagi kasih sayang dengan Jungkook, tapi sekarang harus terpisah lagi.
Itulah kejadian delapan belas tahun lalu yang mengerikan hingga merenggut kebahagiaan Jungkook. Sekarang, Namjoon akan menebus kesalahannya dengan melindungi dan menyayangi Jungkook setulus hatinya, ia tidak mau kehilangan hal berharga untuk kedua kalinya.
Jelas alasan kenapa Namjoon membawa Jungkook ke Seoul untuk tinggal bersama
ayah dan ibuny. Hey Bukankah Namjoon bilang? Dia tidak ingin kehilangan Hal berharga lagi dalam hidupnya. Cukup adik perempuan nya Kim Junhee yang meninggal dua tahun lalu ketika dirinya masih berada di Amerika. Junhee meninggal diusia enam belas tahun, saat baru memasuki Sekolah Menengah Atas. Junhee dibunuh, dan sampai saat ini pelakunya masih belum tertangkap.
TBC
RnR~
