Dari sebuah tempat yang tidak mengenal waktu ataupun ruang. Tempat tiada siang maupun malam. Ada dan tidak ada. Sebuah paradox yang hampir menghancurkan dirinya sendiri apabila tidak diuntai dengan tali takdir yang sangatlah kuat.
Dari tempat tersebut namanya adalah Singgasana Pahlawan. Tempat itu tidak berbentuk. Jika seseorang akan menjelaskan bentuk tempat itu maka itu hampir mirip dengan menghitung suatu perhitungan yang tidak bisa dijelaskan secara numeris.
Tempat tersebut hanyalah sebuah data yang menyimpan influks informasi yang sangat banyak berupa sejarah dari suatu individual dan jiwa-jiwa dari individual tersebut.
Dari tempat itu salah satu orang yang masuk kedalam Singgasana Pahlawan adalah seorang wanita yang kejam, jahat, dan tidak berbasa-basi. Tetapi dia adil, teratur, dan mandiri. Dia pintar, cantik, dan kreatif. Tetapi dia juga licik, berbisa, dan menakutkan.
Seorang setengah dewa yang ditinggalkan oleh ibunya, seorang dewi ikan bernama Derketo dari Syria. Bukan karena dia membencinya melainkan karena dia tiddak bisa menumbuhkan cinta terhadap anaknya sendiri maka dia meninggalkannya.
Dia kemudian dibesarkan oleh merpati hingga ditemukan oleh seorang penggembala bernama Simmas. Dari dia ia belajar parfum, kecantikan, dan pada akhirnya siapa dirinya sendiri. Beberapa tahun berlalu dan dia menikahi seorang Jendral tua bernama Onnes.
Kehidupan tampak bahagia bagi dirinya. Tetapi hal baik tidak bisa bertahan selamanya.
Raja dari Onnes, Ninus melihat wujudnya. Penuh hasrat dan keserakahan dia mengambil dan memiliki dirinya dari suaminya. Tetapi ia tidak bermasalah. Malah tanpa sepengetahuan mantan suaminya yang dipenuhi oleh kesedihan sehingga ia mengakhiri nyawanya, ia tidak merasakan kesedihan maupun kepedihan.
Waktu dengan Onnes memang tenang dan penuh bahagia. Tetapi dia merasa lebih bahagia lagi setelah mendapatkan suami baru yang memiliki kekuasaan yang lebih besar daripada dirinya.
Tapi, itu tidak cukup. Tidak, apapun terasa tidak cukup olehnya. Oleh karena itu dengan senyuman manis dan kata-kata penuh madu ia membunuh Ninus dengan racun yang dia terima dengan bahagia.
Seorang orang bodoh akan selalu menjadi orang bodoh.
Dia menguasa kerajaannya dengan tangan besi, tetapi dengan sekaligus memberikan kemakmuran kepada rakyatnya. Dia juga tidak melupakan siapa yang telah membesarkannya, jadi dengan karung penuh gandum dan hewan ternak ia berikan kepadanya seseorang yang sanggup ia panggil sebagai keluarganya.
Dia mati dengan rasa angkuh tetapi puas. Tidak ada apapun lagi yang dapat ataupun mau dilakukan.
Itulah kehidupan dari Ratu Asyria, Semiramis.
Itulah kehidupanku.
Perasaan dipanggil oleh seorang Magus untuk bertarung di sebuah Perang—mengesalkan. Sangatlah mengesalkan.
Tetapi yang mati tidak punya hak dari yang masih hidup.
Jadi dengan hati yang memendam rasa kesalku aku melihat kearah orang yang akan menjadi Masterku dalam Perang ini.
Oho? Sepertinya kekuatanku melebihi ekspektasi dari perkiraan awalku.
Dan tanah ini, daerah ini.
Ahh, ya ampun. Apakah ini adalah hasil dari segala kerja kerasku? Gurun dan pasir yang melambangkan kekuasaanku yang dimakan waktu.
Hmph, yang berada di masa lalu biarkan di masa lalu. Saat ini maju kedepan tanpa menoleh kebelakang.
Tetapi, sudah waktunya untuk menjawab ekspektasi dari Masterku ini.
"Tidak sebagai gelar aku sebagai peracun pertama... apakah engkau yakin bisa mengendalikan Ratu Assyria, Semiramis?'
Seseorang yang kuharap adalah Masterku adalah seorang Pria.
Rambut pirang pencapai pundaknya, wajah yang tampan, janggut pendek dan tipis membuat pipi dan rahangnya berwarna pirang sama seperti rambutnya.
Postur tubuhnya besar, jauh melebihi siapapun yang pernah aku lihat. Tidak besar akibat kegendutan melainkan besar akibat tubuhnya dipenuhi oleh otot yang mengembang didalam bajunya yang berusaha untuk tidak robek demi menahan tubuh asli dari pria ini.
Dan berdasarkan jumlah Prana yang ia berikan kepadaku–eh?
Tunggu, apa-apaan ini? Aku sudah melihat berbagai macam Magus, baik dari darah dewa dan rakyat jelata. Dan jumlah mereka menghasilkan Prana cukup mengesankan.
Tetapi Pria ini. Pria ini yang nampaknya hanyalah seorang pendekar barbar tanpa disiplin memiliki jumlah Prana yang–astronomis.
Sangatlah banyak dan sangatlah murni.
"Aku bisa, wahai Ratu Asyria. Karena aku yang mengetahui diriku sendiri lebih baik dari orang lain yakin bahwa aku bisa mengendalikanmu."
Dia mengatakan itu dengan menaruh tangannya didadanya dan setengah membungkuk layaknya seorang ksatria.
Hmm. Yang ini mengenal kepercayaan diri... atau kebodohan. Tidak apa-apa. Orang bodoh masih bisa dipergunakan dengan bagus apabila kau mengetahui caranya.
Selain masalah mengenai Prananya, aku perlu mengetahui dirinya lebih lanjut.
"Bangunlah Master. Ini tidak membantu di perang apabila engkau memberikan kesopanan kepada musuhmu."
"Baiklah."
Dengan begitu dia bangun dengan tegap.
Hmm, dia jauh lebih tinggi dari yang aku kira. Ini sudah ketiga kalinya aku terkejut dalam pemanggilan pertamaku dan aku menyukainya.
"Kalau begitu Ratu Semiramis maukah anda pergi ke tempatku untuk menyiapkan strategi dan saling mengenal satu sama lain?"
"Iya, dengan baik hati aku akan menerima permintaanmu, Master."
Hmm, sepertinya dia tidak sebodoh yang aku pikirkan. Bagus, dengan begini aku bisa mendapatkan sebuah pengikut yang setia dan berkualitas.
"Kalau begitu, wahai Masterku. Mau ke arah mana kita akan pergi?"
Apabila itu jauh maka aku berharap dia mempunyai alat transportasi supaya mempercepat perjalanan untuk pergi dari tempat menyedihkan ini.
Untuk sejenak ia tidak menjawab hanya tersenyum sebelum ia menaruh tangannya didepannya.
Tepat mengarah kearahku.
"Ratu Semiramis, kita akan pergi ke tempat yang agak jauh. Tetapi janganlah khawatir. Aku sudah menyiapkan jalan untuk kita."
Sebuah senyuman yang tidak berniat bagus.
"Tolong jaga kaki anda."
"Eh?"
"Tolong jaga kaki anda!"
Dan dari tangannya itu sebuah lingkaran sihir terbentuk. Dibawah kakiku juga sebuah lingkaran sihir berwarna biru mulai berkilau.
Aku ingin mempertanyakan apa yang terjadi tetapi aku tidak bisa menanyakan apapun setelah melihatnya.
Secara spesifik, matanya.
Mata biru yang indah dari Masterku terah berubah menjadi merah darah. Merah bagaikan dewa-dewa lainnya.
Pada suatu saat kami berada di tengah gurun.
Dan pada saat berikutnya kami berubah menghilang dari muka bumi bagaikan kami tidak pernah berinjak kaki disana. Meninggalkan jejak kaki bagaikan hantu gurun.
Kami berteleportasi di sebuah ruangan yang tampak seperti lorong. Ukiran dan potongan kayu menutupi lantai, Tembok tebal yang terbuat dari material aneh dan kokoh menutupi segala sisi tempat ini. Furnitur mulai dari vas dan lukisan-lukisan menghiasi tempat ini.
Lampu-lampu yang dianyalakan oleh api yang nyala akibat Rune kuno menerangi ruangan selama waktu yang sudah diprogram oleh pembuatnya.
Dan diujung lorong tersebut adalah sebuah pintu biasa dengan bahan dari Mahoni yang kupotong dan kuukir sendiri.
Aku menengok kebelakang untuk melihat wujud Semiramis yang masih kebingungan setelah merasakan teleportasi.
Tentu saja, hal seperti ini sudah masuk ke alam Sihir Agung atau Magic.
"Ratu Semiramis."
Aku memanggilnya dengan suaraku. Semiramis yang tadinya masih kebingungan akibat belum pernah merasakan hal seperti ini melihat kearahku dengan tatapan yang tersesat.
Aku menjulurkan tanganku supaya kepadanya.
"Kesini. Tepat di belakang pintu itu."
Aku menunjukkan ke arah pintu mahoni coklat diujung lorong itu untuk menjelaskan niatku. Dia tampak terdisorientasi tetapi entah karena rasa takut ataupun rasa percaya kepadaku dia mengambil tanganku dan kami berjalan menuju pintu tersebut.
Di belakang pintu itu ada sebuah ruangan yang mirip seperti ruang rapat yang megah.
Aksesoris dari emas menutupi beberapa peralatan. Meja bundar rkasasa yang dapat memuat lebih dari 14 orang. Lampu gantung yang terbuat dari berbagai kristal yang indah.
Secara dasarnya sebuah ruangan yang mewakili kemewahan itu sendiri. Karena aku ingin menciptakan ruangan dengan konsep itu aku membuat ruangan ini.
Tentu saja, semua ini tampak sangatlah mahal, bagi manusia normal.
Bagiku? Ini adalah bentuk dari kesederhanaan.
Aku mengujar Servantku supaya duduk di salah satu kursi setelah aku menarik salah satu kursi di meja bundar itu untuk didudukinya.
Dia mengangguk dan langsung duduk di kursinya.
"Apakah ada pertanyaan Semiramis-sama?"
Semiramis melihatku dan menjawab pertanyaanku bagaikan itu adalah hal yang paling natural.
"Ada banyak sekali yang kurasa perlu kutanyakan kepada dirimu Master..."
Oh?
"Mulai dari bagaimana kau bisa membawa kita kesini hingga caramu membawaku kesini. Tetapi, aku akan menanyakan itu nantinya."
Umu, begitu 'ya? Baiklah aku akan menunggu pertanyaan apa yang akan dia tanyakan.
Sekarang. Pada jam segini mereka seharusnya sudah datang.
Dari 5 pintu yang mengelilingi dinding hexagonal ini masing-masing mengetuk pada waktu bersamaan.
Aku tersenyum. Nah, coba kita lihat siapa yang mereka bawa.
"Masuklah."
Setelah aku mengatakan itu dari belakang kelima pintu tersebut mengatakan "Permisi." Sebelum mereka terbuka secara bersamaan.
Dari dalam pintu tersebut adalah lima figur yang sangat mengejutkan.
Lima figur itu adalah—tidak lain dari aku sendiri.
Mereka semua memiliki pakaian yang sama dan emosi wajah yang sama ketika mereka masuk.
Dibelakang mereka ada 5 figur yang melihat ruangan ini dengan hati-hati.
Seorang pria, berkulit cokelat, bermata hijau, dan berambut panjang platinum. Dia memakai sebuah baju zirah yang melindungi pundak dan lututnya. Di dadanya ada sebuah cahaya hijau yang mencapai pipi kanannya. Dia memiliki sebuah Pedang besar di punggungnya.
Seorang wanita, berkulit putih, bermata merah, dan berambut merah-violet pajang. Dia memakai sebuah pakaian ketat yang memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya. Dia memegang 2 buah tombak panjang berwarna merah di kedua tangannya.
Seorang pemuda yang akan menjadi pria, berkulit cokelat tetapi jauh lebih cokelat dari pria pertama, bermata hitam, berambut hitam-cokelat pendek. Dia mengenakan sebuah pakaian yang mewah berwarna putih. Di tangannya ada sebuah panah berwarna putih dengan tali transparan berwarna biru.
Seorang pria, berkulit putih, bermata oranye, dan berambut hijau pendek tetapi agak berduri. Dia memakai baju zirah yang menutupi torsonya dan lututnya yang berwarna abu-abu. Di tangannya adalah sebuah tombak hitam dengan tiga mata pedang.
Dan terakhir seorang pria, berkulit merah kecoklatan, bermata cokelat, dan berambut pirang. Dia hanya mengenakan celana kulit dan sebuah rantai yang merantai kedua pergelangannya. Di kedua tangannya ada dua buah pedang hitam yang berbeda.
"-"
"-"
"-"
Kelima figur yang dapat disimpulkan adalah Servant ini sedang melihat satu sama lain dengan waspada.
Figur pertama melihat melihat ruangan dan mengawasi 4 figur lainnya sambil berdiri didepan Masternya.
Figur kedua hanya memandang Servant lain tanpa haus darah tetapi siapapun bisa melihat bahwa dia telah memastikan genggamannya terhadap tombaknya menjadi lebih erat.
Figur ketiga melihat keempat figur lainnya dengan waspada dan dengan sunyi menyentuh tali busurnya.
Tetapi sementara itu figur keempat dan kelima...
"Hahahaha, jadi lima pahlawan akan langsung melawanku 'ya? Bagus, akan kubawa kalian semua ke Elysium."
"Oi oi, jangan meremehkanku 'lho. Aku bisa saja meremukkan semua tulangmu dan membawamu ke Valhalla."
Mereka melihat satu sama lain dengan rasa haus darah dan senyuman lebar terpasang di bibir mereka.
Uwaah. Sepertinya akan terjadi konflik jika aku tidak melakukan sesuatu. Tidak ada pilihan lain, sebelum ruangan ini rusak poranda akibat miskomunikasi aku mulai mengambil aksi.
Aku membersihkan tenggorokkanku yang dimana kelima diriku yang lain melakukan hal yang sama.
Kemudian bagaikan Musa yang membelah laut merah seluruh ketegangan diruangan ini menghilang.
Bagus, aku tidak ingin ada pertarungan di hari pertama bertemu.
Para kelima diriku mulai berbicara dengan Servant mereka untuk menjelaskan sesuatu. Setelah mereka selesai para Servant mulai menghilangkan hawa membunuh mereka tetapi tidak membiarkan pandangan mereka lengah sedikitpun.
Kelima Servant mulai mengambil kursi di meja tetapi kelima diriku mulai berjalan dan berdiri disampingku yang berada ditengah-tengah perhatian mereka.
Setelah melihat diriku dan kelima diriku mereka mulai tampak kebingungan untuk beberapa mereka.
Aku tersenyum. Aku suka melakukan trik seperti ini kepada orang lain untuk membingungi lawanku.
Tetapi waktu bermain sudah berakhir dan waktu serius harus dimulai. Aku mulai menepuk tanganku untuk mengambil perhatian mereka. Setelah perhatian mereka terfokuskan kepadaku aku membiarkan diriku saja yang berbicara dan memerintahkan diriku yang lainnya untuk diam untuk sementara waktu.
"Ahem, kalau begitu akan kumulai. Senang bertemu dengan kalian semua para pahlawan. Nama kami adalah Vale. Vale Coldheart. Kami berenam bersama satu lagi adalah Master kalian. Ada pertanyaan?"
Tangan dari pemuda pemilik busur naik keatas. Aku mengangguk untuk membiarkannya menanyakan pertanyaannya.
"Pertanyaanku ada satu. Apakah kalian Homunculus yang memiliki jiwa yang sama?"
Hou? Jadi pengguna Busur ini yang kuasumsikan sebagai Servant kelas Archer dapat melihat jiwa seseorang 'ya? Mengejutkan. Tetapi apabila mengingat lagi mengenai legendanya dan orang-orang disekitarnya maka hal itu sudah diduga.
Tetapi matanya sangatlah jeli.
"Tidak, Archer-san. Karena kami bukanlah Homunculus dan sebenarnya–"
Kelima diriku menyentuh pundakku dan dari tubuh mereka mulai bersinar.
"–tidak ada 'kami'. Kami sebenarnya adalah–"
Selama cahayanya bersinar mereka mulai terhisap kedalam tubuhku. Setelah cahayanya berhenti bersinar aku membuka mataku yang berubah dari biru ke merah dan menggulungkan lengan kananku, memperlihatkan 6 Mantra Perintah yang kumiliki.
"–satu orang saja. Mulai dari awal kalian hanya memiliki satu Master. Yaitu aku."
Setelah perkataanku setiap Mantra Perintah ditanganku bersinar merah dan aku merasakan kontrakku kepada lima Servant tersebut. Secara gantinya mereka berlima dapat merasakan kembali hubunganku kepada mereka.
Semiramis yang tadinya diam saja juga bisa merasakan kontrakku kepadanya.
"Sulit dipercaya."
Archer mengatakan hal itu dengan mata tak percaya. Sepertinya dia tidak pernah bertemu dengan seseorang yang dapat membelah diri seperti aku 'ya?
"Dengan kata lain, kau adalah Master dan pemimpin dari kita berlima termasuk dengan wanita berbaju hitam disana?"
"Betul."
Aku menjawab pertanyaan pria berambut hijau itu dengan kejujuran.
"Aku punya pertanyaan."
Aku melihat kearah wanita berambut merah itu.
"Iya? Ada apa Lancer-san?"
"Servant adalah makhluk yang memerlukan Prana untuk berada di dunia ini. Selain Archer yang memiliki Independent Action, kami masih memerlukan Prana yag cukup banyak untuk menjaga keberadaan kami. Magus biasa akan kehabisan Prana hanya dengan menjaga 2 Servant yang paling lemah.
Jadi demi menjaga kontrak dengan kelima kami kau harus memiliki jumlah Prana yang sangatlah besar. Sesuatu yang nampaknya tidak mungkin bagi Magus jaman sekarang."
Hmm, semua dari itu memang benar. Tetapi...
"Apa intinya?"
"Intinya adalah entah kau bukan Magus biasa atau kau mendapatkan pasokan Prana dari cara yang lainnya."
"Dan 'cara yang lainnya' apa yang anda implikasikan, Lancer?"
Dalam sekejap sebuah tombak merah yang menyamai kedua tombak di tangannya itu muncul dan menyentuh leherku.
Semua Servant yang bangun dari kursinya dan mengarahkan senjatanya kearahnya.
Aku melihat kearah Lancer yang melihatku dengan mata ingin yang sedang memikirkan bagaimana caranya untuk memotongku menjadi beratus-ratus bagian.
Walaupun ditengah berbagai macam Noble Phantasm dia tidak ketakutan maupun ragu. Justru ia tidak peduli bagaikan senjata-senjata itu tidak ada disana pada awalnya.
"Contohnya dengan mengambil jiwa-jiwa dari magi lainnya atau jauh lebih buruk lagi, orang-orang tidak bersalah yang kau gunakan sebagai pengisi prana kami atau pranamu sendiri. Dan berdasarkan jumlah prana dari Servant-Servant disini, jumlahnya pasti mencapai ribuan."
Tombak itu mulai menggali kedalam kulitku. Walaupun itu tidak mengeluarkan darah sedikitpun, apabila kubiarkan maka akan ada darah dalam kuantitas tubuh manusia dalam 1 detik saja.
"Jadi jawablah dengan jujur. Jelaskan caramu memberikan kami Prana. Apabila dengan 'implikasiku' yang kedua kau menjawabnya anggap saja kau mati. Dan jangan coba-coba berbohong."
Oh, begitu 'ya? Pahlawan ini tidak hanya memiliki kemampuan dalam Thaumaturgi tetapi juga memiliki jiwa penegak keadilan 'ya? Walaupun pada eksteriornya dia tampak seperti orang yang dingin dia ternyata cukup baik.
Ahh, ini alasannya aku menyukai manusia.
Kalu begitu, aku akan menjawabnya ah.
"Aku adalah Makhluk Phantasmal."
Jawabanku mengguncang Servant lainnya. Setelah melihatku yang menjawab itu dengan nada santai tanpa terintimidasi oleh tombak yang berkesempatan melubangi trakea-ku mereka menyimpulkan bahwa aku pasti berkata dengan jujur.
Jawaban itu seharusnya menuaskan mereka. Tetapi Lancer masih belum mempercayai aku.
"Jenis apa?"
"Dragon."
Jawabanku membuat matanya melebar. Matanya dan mata dari Servantku yang lain menjadi jauh lebih lebar akibat melihat kedua sayap reptil muncul dari punggungku.
Setelah penatapan mata antara Lancer dan aku yang berlanjut selama beberapa saat kemudian, tombak merah itu menghilang.
Fiuh~. Tadi bisa saja berakhir dengan jalan yang jauh lebih buruk.
Lancer sepertinya sudah tenang. Tetapi kedua Servantku yang memakai baju zirah dan berambut platinum dan yang menggunakan celana kulit malah menjadi tegang ketika melihatku.
Yah, mengingat kedua legenda mereka hal seperti ini sudah sepatutnya terjadi.
"Jangan khawatir, aku bukanlah dragon yang jahat kok. Aku tidak pernah membakar kota dan desa manapun atau mencuri dan mengumpulkan emas dalam kuantitas yang banyak."
Aku mengatakan hal itu kepada kedua Servant itu dengan sedikit lelucon dan sarkasme. Tetapi mereka mengetahui apa yang kumaksud.
Dengan pelan mereka mengambil senjata mereka dan menurunkannya disamping mereka.
Uwaah, apa-apaan tadi? Apakah tadi adalah aktualisasi dari pepatah "Keluar dari panci goreng dan masuk kedalam api." 'ya?
Terserahlah, lagi pula semuanya tidak ada yang terluka.
Aku mengambil tempat duduk disamping Semiramis dan melihat kearah Servant-Servantku yang masih memperhatikan kepadaku.
Secara spesifik lagi, sayapku.
Kalau begitu...
"Sebelum terjadi konflik lagi aku akan memperkenalkan tentang diriku secara detail. Apabila ada pertanyaan selagi aku menjelaskan maka tolong akngkat tangan anda."
Setelah tidak ada masalah dan kesulitan lagi aku melihat kearah mata Servant-Servantku dan menjelaskan kehidupanku.
"Namaku adalah Vale Coldheart. Anak dari Bjorn Coldheart dan Lagertha Stormhorn. Ayahku adalah mantan prajurit dan pandai besi dan ibuku adalah seorang magus yang memiliki spesialitas dalam sebuah divisi magecraft bernama [Alteration].
"Aku lahir pada era keempat, di sebuah daerah di pinggiran batas kekaisaran yang bernama Kekaisaran Cyrodil, yang dikuasai oleh Kaisar Titus Mede II."
Aku melihat kearah Servant-Servant-ku untuk melihat reaksi dan pertanyaan yang akan datang kepadaku. Secara terkejut, aku tidak mendapatkan semacam itu. Hanya sebuah kebingungan saja.
Sistem Cawan Suci membuat Servant mendapatkan informasi minimal dan akal sehat akan bagaimana dunia berfungsi di dunia modern.
Saat ini mereka pasti menggunakan informasi itu untuk mencari tempat dan orang yang kusebutkan tadi. Tetapi, berdasarkan ekspresi mereka aku sudah dapat mengetahui apa yang mereka dapatkan.
"Sebelum aku melanjutkan, aku akan menanyakan sesuatu. Apakah kalian mengenal entitas bernama Gaia?"
Semua Roh Pahlawan terkejut tetapi mereka tetap mengangguk.
Bagus.
"Aku tidaklah datang dari Gaia. Secara singkatnya aku datang dari dunia lain."
"—Master ketika anda mengatakan 'dunia lain'—"
Sebuah pertanyaan datang dari Achilles. Scáthach juga melihatku dengan intens hingga aku dapat merasakannya melihat tembus dari jiwaku.
Bukan berarti aku akan mengizinkannya tetapi dia bisa tetap mencoba.
"—Dulu-dulu sekali, ada dua Dewa Primordial. Anu dan Padomay. Dari darah mereka dewa-dewa lain tercipta. Diantara dewa-dewa itu ada yang namanya Lorkhan. Dia adalah seorang dewa yang menginginkan untuk diciptakannya alam semesta. Maka dia meminta dewa-dewa lainnya untuk membantunya."
Aku memunculkan sebuah gelas terbuat dari emas dari angin kosong. Didalamnya ada bayanganku dan mataku yang tampak melihat segalanya dengan nostalgia.
"Kebanyakan setuju, yang lainnya tidak. Yang setuju diberi nama adalah Aedra dan yang tidak setuju atau menolak diberi nama Daedra. Di Pantheon Aedra ada seorang Raja Dewa bernama Akatosh. Dewa dari Naga dan Waktu. Dewa itu sangatlah baik hati dan ramah. Sangatlah baik hati hingga dia berkali-kali membantu kami para makhluk fana untuk melawan kekacauan yang sering terjadi di dunia."
Sebuah gambaran dari kota-kota terbakar memasuki ingatanku. Orang-orang yang terbunuh, terluka dan melarikan diri dari kekejaman Krisis Oblivion tidaklah sedikit.
Krisis Oblivion, sebuah kejadian dimana Dewa Kehancuran, seorang Pangeran Daedra bernama Mehrunes Dagon melakukan perang untuk berinvasi ke Mundus untuk menyerang dan menguasai dunia. Kekejaman dan kepedihan dari perang itu belum terhapus sepenuhnya setelah 2 era selanjutnya.
Begitu banyak kematian, yang nantinya dihentikan oleh Akatosh.
"Beowulf, aku yakin kau mengetahui sebuah kisah bernama Ragnarök?"
Beowulf yang saat ini melihatku dengan wajah terkejut mengangguk.
"Kalau begitu siapa yang dapat dipanggil Monster yang mengakibatkan akhir dunia pada saat itu?"
"Hmm."
Sebuah wajah penuh pemikiran terpajang di wajah pejuang dan Raja dari Geats. Sambil menaruh tangannya didagunya dia menjawab.
"Itu pertanyaan yang sulit. Secara teknis, semuanya adalah salah Loki. Tetapi jika kau perlu mengidentifikasikan mereka sebagai Monster maka... Fenrir, Jörmungandr, dan Surtr akan masuk pikiran iya 'kan?"
"Betul, di duniaku ada sebuah kisah akhir dunia seperti itu. Ada sebuah monster yang ingin mengakibatkan akhir dunia dan ada seorang pahlawan yang ditakdirkan supaya mengakhirinya."
Sebuah cahaya datang dari meja. Cahaya itu membuat sebuah gambar sedikit demi sedikit dan bagian demi bagian. Hampir seperti sebuah teka-teki dalam bentuk gambaran.
"Ketika ketidakadilan terjadi di 8 ujung dunia
Ketika Menara Perunggu berjalan dan Waktu dibuat ulang
Ketika ketiga-yang-diberkati gagal dan Menara Merah gemetar
Ketika Penguasa Dragonborn kehilangan tahtanya, dan Menara Putih jatuh
Ketika Menara Salju menjadi terpisahkan, tanpa raja, berdarah
Sang Pemakan-Dunia akan bangun, dan Roda Takdir bergerak menuju Dragonborn terakhir."
Setelah aku mengatakan semua itu berbagai gambaran dari peristiwa di Tamriel terbuat dan tergambar bak seperti rekaman atau lukisan. Mulai dari runtuhnya Kaisar, letusan gunung, kematian dewa, perang besar, senjata agung dan mematikan. Semua itu tergambar ulang di proyeksi ini dengan detail yang sangat besar.
Dan ingatan dan pengetahuan dari peristiwa itu juga mulai masuk kedalam kepala mereka.
Di tengah-tengah itu ada suatu benda. Bentuknya segi empat dengan beberapa lingkaran mengelilinginya. Benda itu mengeluarkan sebuah cahaya yang tanpa diragukan bersifat magis. Dan ditambah lagi, sebuah suara yang menyamai nada yang sangatlah mekanis.
Lexicon, sebuah sumber memori yang diciptakan oleh para Dwemer untuk menyimpan pengetahuan mereka. Sesuatu yang dapat membuat murid dan Profesor dari institusi manapun menjadi bingung atau gila.
Sebuah wajah dari seorang mage di dekat Winterhold yang memberiku informasi mengenai sebuah gulungan yang penting memasuki pikiranku tetapi aku berusaha untuk tidak mengingatnya.
Setelah itu semua berakhir, proyeksi itu menggambarkan sebuah peristiwa.
Peristiwa yang aku kenal lebih dari siapapun.
Sebuah Naga. Tubuh raksasa, bersisik tajam, mata merah, dan warna hitam.
Semua Servant yang ada disana hanya bisa melihat makhluk ini dengan tercengang. Walaupun mereka tidak disana mereka bisa merasakan apa yang semua orang rasakan ketika mereka melihat wujud dari makhluk ini—tidak, dari Dewa ini.
Kehancuran.
Tidak ada yang lain, yang ada selanjutnya hanyalah sebuah takdir yang tidak bisa dipungkiri maupun dibantah oleh siapapun. Mereka tahu bahwa untuk melawan makhluk yang dapat membuat para Dewa-pun ketakutan adalah untuk melawan akhir dari kehidupanmu itu sendiri.
Jika kau melawannya kau akan kalah. Menyerah dibawah perintahnya atau mati. Janganlah bertarung.
Makhluk ini bukanlah sesuatu dengan kekuatan yang dahsyat melainkan makhluk ini adalah kekuatan dahsyat itu sendiri. Sebuah inkarnasi dari kekuatan absolut.
—Tetapi, bagaikan sebuah cahaya yang terang, sesuatu sedang berdiri didepannya. Dia berdiri disana bukan untuk tunduk dibawah kekuatannya melainkan dia berdiri supaya dapat mengalahkannya.
Seorang pahlawan dengan kekuatan yang dalam bentuk dan jumlah manapun jauh lebih lemah daripada makhluk itu. Dengan kibasan sayapya dia akan terbang dan jatuh ke kematiannya. Dengan gigitan rahangnya dia akan termakan supaya memuaskan laparnya. Dengan raungannya dia akan pergi berlari untuk menyelamatkan nyawanya.
—Lalu?
Apabila dia jatuh maka dia akan bangkit lagi, Apabila dia termakan maka dia akan menghunuskan pedangnya didalam tenggorokannya. Apabila dia berlari maka dia akan mengumpulkan perlengkapan dan rekan-rekannya untuk bertarung sekali lagi.
Di tidak akan kalah. Dia tidak dapat kalah. Dia tidak mau kalah.
Dan ketika mereka melihat wajahnya mereka merasa terkejut sekali lagi. Wajahnya, seringainya, dan tubuhnya. Semua itu tampak sangatlah mirip dengan—
"Dov-ah-kiin."
Sebuah semburan angin memasuki ruangan.
Tidak—itu bukanlah sebuah semburan angin. Itu adalah sebuah mantra. Sebuah bahasa yang sudah jauh terlupakan oleh orang-orang.
Itu adalah kekuatan itu sendiri dalam sebuah kata.
"Namaku adalah Vale Coldheart. Dragonborn. Anak dari Raja Dewa Naga Akatosh. Pembunuh dari Dewa Penghancur Alduin, Mehrunes Dagon, dan Molag Bal. Kaisar dari Tamriel. Dewa Naga dari Kehancuran."
O
Setelah 2 jam dari menjelaskan sejarah hidupku dan beberapa tanya-jawab dari Servant-Servantku aku akhirnya mendapatkan kepercayaan dari Servantku.
[Hubunganmu dengan semua Servantmu telah bertambah, Lvl 1 - Lvl 3]
Umu, ini semua karena karismaku sebagai pemimpin 'ya?
"Kalau begitu setelah menjelaskan sejarah diriku bagaimana jika kalian memperkenalkan nama kalian?"
Semua Servantku melihatku dengan ekspresi terkejut.
Tetapi tidak ada yang mengatakan ketidaksetujuan mereka dari pernyataanku.
Suara dari kursi dimundurkan dan seseorang berdiri datang dari pria berambut hijau tadi.
"Kelasku Rider. Nama sejatiku adalah Achilles dari Yunani. Anak dari Pahlawan legendaris Peleus dan Dewi Laut Thetis. Seorang setengah dewa sama sepertimu Master."
Rider atau Achilles duduk kembali ke kursinya. Dan kemudian ksatria yang berzirah tadi berdiri.
"Kelasku Saber. Nama sejatiku adalah Siegfried dari Xanten. Pangeran dari Belanda. Pembunuh dari Naga Jahat Fafnir. Sejarahmu dengan sejarahku agak sama 'ya Master. Dan mohon maaf apabila aku menyamakanmu dengan Fafnir."
"Tidak apa-apa Siegfried dari Xanten. Aku, Kaisar dari Tamriel memaafkanmu."
Aku mengatakan hal itu dengan agak dramatis tetapi aku dapat melihat dari ekspresinya dan postur tubuhnya bahwa ia benar-benar berterima kasih dan lega bahwa aku memaafkannya. Apakah ia mengkuti kode ksatria 'ya?
Selanjutnya pria raksasa berpirang tadi.
"Kelasku adalah Berserker. Namaku adalah Beowulf. Raja dari Geats. Pembunuh dari raksasa bernama Grendel, ibunya, dan seekor naga api. Maaf 'ya? Aku tadi juga menuduhmu sebagai naga yang pernah aku tarung."
"Tidak apa-apa 'kok Beowulf. Aku sudah terbiasa dengan hal seperti itu. Lagipula semuanya hanyalah kesalahpahaman saja."
Beowulf mengangguk dan tersenyum lebar kemudian duduk ke kursinya lagi.
Selanjutnya adalah Archer yang tadi.
"Kelas, Archer. Arjuna adalah namaku. Anak dari Kunthi dan Dewa Penghancur Shiva. Pemanah dari perang Mahabarata."
Semua mata pergi kearah Archer yang mengidentifikasinya sebagai Arjuna.
Semua Pahlawan mengetahui nama Arjuna dan kemampuannya di Perang Mahabarata. Perang yang hampir paralel dengan Perang Troja yang Achilles pernah masuki dalam jumlah dewa yang ikut campur dan anak-anak mereka yang berpartisipasi.
Selain itu jumlah kekacauannya setara dengan Perang Troja.
"Anda telah mengalahkan dewa yang setara dengan Ayahanda saya. Oleh karena itu, anda mendapatkan kehormatan penuh dari saya. Tolong perintah saya sesuka hati anda."
Dia membungkuk layaknya seorang ksatria kepadaku dan kembali duduk.
Selanjutnya adalah Semiramis.
"Kelasku Assassin. Namaku Semiramis. Ratu dari Asyria."
Dia mengakhirinya dengan cepat.
Tunggu sebentar, mengapa Semiramis tidak mengucapkan nama dari ibunya yang juga seorang Dewi? Oh iya, dewi itu meninggalkannya ketia dia masih kecil 'ya. Pasti dia memiliki masa lalu yang buruk dengan ibunya.
Selanjutnya wanita yang tadinya ingin membunuhku.
"Kelas Lancer. Namaku Scáthach. Penyihir dari Dun Scaith. Ratu dari Negeri Bayangan. Guru dari Anak Cahaya Irlandia, Ksatria setengah dewa dari Dewa Matahari Lúgh, Cú Chulainn. Anjing Ganas Ulster."
Saat ini setiap pahlawan dan bahkan diriku tertarik kepada wanita itu.
"Guru 'ya? Kau dan Chiron-sensei pasti akan menjadi teman baik."
"Aku setuju. Kau mengingatkan aku dengan guruku, Drona."
Achilles dan Arjuna mengatakan kedua perkataan itu. Scáthach melihat kearah mereka dan memberikan sebuah senyuman hangat.
Setelah Scáthach duduk Semiramis menyentuh pundakku.
"Master, aku tidak ingin bersikap kasar. Tetapi aku punya pertanyaan."
Hmm? Apa ini? Dimana sikapnya yang layaknya seorang Ratu tadi? Dimana aroganisme yang tadi?
"Ada apa, Semiramis-sama?"
"Panggil saja aku dengan Semiramis. Tidak perlu '-sama'. Yang ingin kutanyakan adalah... apakah ada Servant lagi yang belum kau panggil?"
Eh? Yang belum aku panggil? Siapa–
"Oh... OOOOOHHHHH!"
Suaraku memenuhi ruangan ini dan menggetarkan beberapa gelas akibat aku memukul mejanya terlalu keras.
"Sial! Aku lupa. Masih ada satu Servant lagi yang perlu aku–"
Dan pada saat itu pula salah satu pintu dari ruangan ini terbuka dan salah satu copy dari diriku memasuki ruangan. Dia sedang memakai wajah yang penuh dengan perasaan 'maaf aku mengacaukan sesuatu'.
Aku tidak paham dan melihat kearah seseorang yang bersembunyi dibelakang punggungnya.
Semua Servant yang berada disitu juga melihat kearah belakang punggung bayanganku.
Setelah apa yang nampaknya sebuah perkataan pemberi semangat dari diriku yang lain sesuatu mulai bergerak dari belakang punggungnya.
Sebuah mantra yang membuat penggunanya tidak terlihat.
Dan ketika penggunanya memutuskan untuk berhenti bersembunyi dia menampilkan wujudnya kepada kami semua.
Dibalik dari diriku itu adalah seorang gadis tidak lebih dari umr 14 tahun.
Rambut lavender. Mata ungu. Dan gaun terbuka tetapi menutupi bagian pentingnya.
Tetapi bukan itu yang menjadi masalah. Dia saat ini sedang bergetar ketakutan.
Dan sumber ketakutannya datang dari diriku.
