Mataku terbuka.
Rasa dari udara memasuki paru-paruku. Rasa darah mengalir di pembuluh darahku. Rasa detak jantungku yeng memberi energi ke tubuhku. Dan rasa od yang berada di Sirkut Sihirku.

Tidak bisa dipatahkan lagi. Aku telah hidup kembali.
Tetapi, bagaimana? Dan mengapa?

Seakan-akan untuk menjawab pertanyaanku aku melihat sebuah sosok dari seorang pria yang berada di dekatku. Dia mempunyai rambut pirang, mata biru, dan tubuh yang besar dan berotot.
Entah mengapa, aku mempunyai perasaan bahwa dia mirip dengan seseorang yang dulu kukenal.

Aneh. Entah mengapa aku merasakan sebuah koneksi. Bagaikan seutas tali...

...hm? Tunggu tadi aku dipanggil dari Singgasana Pahlawan iya 'kan? Berarti saat ini aku—
—tenangkan dirimu, diriku. Apabila bibi Circe mengetahui kau langsung panik dalam situasi seperti ini maka dia akan memarahimu tanpa ampun.

Oke, maju dengan kepala dingin.

"Ahem, namaku adalah Medea. Kelas Servant Caster. Semoga aku menjadi bantuan bagimu Master."

Pria yang kuharap adalah Masterku ini melihatku sebelum tersenyum. Pria yang aneh. Mengapa dia tersenyum tanpa alasan? Apakah aku penyebabnya 'ya?
"Baiklah Caster 'ya? Namaku Vale Coldheart. Senang bertemu denganmu."

Dia mengatakan itu dengan membungkuk kearahku.
H-Heh? Mengapa dia begitu? Aku tidak mengerti. Aku tidak tahu banyak mengenai dunia luar maupun selain kastil kerajaan Colchis tetapi mengapa orang yang seharusnya jauh lebih besar daripada diriku dalam posisi malah merendahkan dirinya sendiri?

S-Sudah kuduga pria ini aneh sekali.

"M-Master, kau tahu aku siapa iya 'kan?"
"? Tentu saja aku tahu. Mengapa?"
"Kalau begitu... mengapa anda memanggilku?"
"Hm? Orang mana yang tidak menginginkan seorang Magus dari Jaman Dewa untuk menjadi Servant Caster?"

Eh? Jadi...
Ah, begitu 'ya. Iya, seharusnya seperti itu. Untuk diriku takdir seperti ini sudah pasti iya 'kan?
Untuk digunakan sebagai alat. Untuk dipakai hingga fungsiku sebagai benda mencapai masa berakhir.
Ah, sakit sekali. Tetapi jika dia tahu maka aku akan dihukum atau dikenai dengan sesuatu yang lebih buruk.

Tenanglah Medea, jangan panik. Gunakan wajahmu supaya mengelabuhi orang ini. Janganlah sampai dia tahu supaya kau tetap hidup.

"Heh? Begitu 'ya? Kalau begiu aku akan menggunakan segala kemampuanku untuk membantumu, Master."

Aku mengatakan hal itu dengan senyuman dan penuh ekspresi.
Pria ini sepertinya tidak sadar. Karena dia cuma tertawa dan ikut menjawabnya dengan kata-kata yang terlumuri oleh madu.

"Baiklah, terima kasih, Medea."
'Sama-sama' adalah kata yang aku ingn gunakan tetapi aku langsung mengingatkan diriku supaya jangan mempercayai orang ini.

Oleh karena itu aku hanya tersenyum saja.

"Baiklah, sebelum kita pergi ke tempatku apakah ada pertanyaan yang ingin kau tanyakan?"
"Eh?"
"Kau pasti memiliki sesuatu yang kau simpan di hatimu 'kan? Semua wanita yang kutemui melakukan hal yang sama yang kau barusan lakukan. Seperti: 'mengapa orang ini sangat menakutkan?' atau 'mengapa dia begitu kasar?' atau semacamnya."

—ah, apakah... dia tahu?

Tetapi, bagaimana? Setahuku aku tidak merasakan ada mantra yang diarahkan kearahku. Lalu bagaimana—

"Wajahmu menjelaskan segalanya."

Hah?
Apa... maksud dari itu?

"Kau tersenyum manis dan imut tetapi aku dapat melihat ketegangan yang berada di pipimu. Selain itu pupil matamu melebar selagi kau melakukan itu. Dengan kata lain—"

Dia mengarahkan jarinya kearahku dan dengan suara dramatis dia mengatakannya.
Sebuah nada dan ekspresi yang lebih patut dimiliki oleh pelawak istana.

"—kau telah berbohong."

Aku memandang orang yang ku sebut Master dengan mata kosong. Kosong karena betapa akurat dan betul pernyataan dan deduksi darinya dan kosong akibat betapa menggelikan dan layak anak-anak dia berpose sambil seperti itu.

Aku tidak tahu apakah aku harus terkejut dan takut atau tersenyum dan tertawa.

"—Fu."

Tetapi sepertinya peran itu telah dicuri oleh pria ini.

"Fuhahaha... ahahahahahaha!"

Dia tertawa bagaikan ada sesuatu yang sangat lucu terjadi.
...sekarang aku agak khawatir mengenai Master-ku memiliki penyakit kejiwaan atau bodoh daripada dia dapat mengambil nyawaku apabila aku melakukan sesuatu dengan salah.

"M-Maaf, ahaha, tadi wajahmu sangatlah lucu aku tidak dapat melakukan apapun kecuali tertawa."

...apakah wajahku yang tidak berkespresi itu sangatlah membuatmu senang, Master?
Haaah, jika ini akan terus berlanjut aku bisa saja mengubah nama Class-ku dari Caster menjadi Jester.

"Hihihi, maaf. Jadi, apakah pertanyaanmu?"

Iya betul. Dia memintaku untuk menanyakan sesuatu 'ya? Etto, apa yang bisa aku tanyakan?
Kemampuannya sebagai Magus? Tidak. Jika apabila dia tersinggung oleh kemampuanku aku akan dihukum. Kekayaannya? Ahh, nanti aku akan disangka sebagai anak manja. Ahh, Hades-sama tolong aku!

"K-Kalau begitu, Katalis apa yang anda gunakan untuk memanggilku?"

Itu dia! Nice, Medea. Dengan begini setidaknya aku menanyakan sesuatu yang berhubungan dengan kontrak kita.

Masterku, Vale Coldheart namanya? Dia melihatku dengan mata yang tampaknya tidak terkejut dan dengan pelan mengeluarkan sesuatu dari dalam jasnya.
Dia melihatku dengan tenang dan menjulurkan tangannya ke segala arah.

"Inilah Katalisku."

Apa?

"Tempat ini hanyalah dataran yang penuh rumput dan bunga tetapi dulu sekali tempat ini adalah sebuah kerajaan."

Dia memberikanku kotak kayu yang dipahat dengan teliti itu. Aku mengambil kotak itu dan melihat sebuah inisgna yang berada di kotak kayu yang tua itu.

Sebuah insigna yang aku ketahui. Bagaimana aku bisa tidak mengenali ini? Aku lahir di kerajaan yang menggunakan insigna ini.

Aku melihat Masterku yang tidak memiliki ekspresi manapun dan kepada kotak ini.

Aku melihat di ukiran kayu itu sebuah kata, Ἄψυρτος.

Apa... ini?

Aku melihat ke Masterku yang saat ini sedang duduk di atas rerumputan.
Ini... ini...

"Aku mendapatkannya di tengah lautan. Lebih tepatnya di arah barat dari kita saat ini. Beberapa hari setelah kau melarikan diri, ayahmu menemukan ini di tengah pantai. Sepertinya prajuritnya tidak begitu teliti dalam mengumpulkan bagian-bagiannya. Jadi dia membuat sebuah kotak dan itu ditaruh didalamnya. Untuk mengenangmu dan... saudaramu."

Aku membuka kotak itu dan menemukan sebuah cincin perak dengan sebuah nama.
Nama yang aku ketahui selama hidupku.

Μήδεια atau dengan nama lain Medea.

Namaku.

Cincin ini adalah Mystic Code pertama yang aku dan kakaku buat bersama saat kami masih anak-anak. Aku ingat memberikan ini kepadanya supaya dia tetap mengingat diriku dan... dan...

Air mata mengalir dari mataku. Bagaikan sungai Styx sendiri membanjiri bola mataku dan membuatku merasakan kepedihan kenyataan.

Mengapa? Mengapa?
Apabila aku tidak sepolos dan selugu seperti saat itu. Maka hal seperti ini tidak akan...

Kakiku tidak bisa bertahan untuk berdiri dan jatuh mengenai rerumputan dan bunga yang berada disekitarku.

Aku meraung. Setiap kesedihan, kepedihan, dan perasaan lainnya keluar dariɀ dalam hatiku.

Mengapa? Mengapa aku perlu mengalami ini lagi? Apakah para dewa ingin menghukumku atas setiap kesalahan dan dosaku yang kuperbuat?

"Apa salahku? Apakah salahku itu? Aku sudah berbuat baik. Aku tidak pernah membantah perintah siapapun. Aku tidak pernah melukai siapapun sebelumnya. Apa? APA?"

Teriakanku memenuhi tempat ini dan semua binatang yang berada di sekitarku berlari dan terbang dari tempatku berada.

—Meninggalkanku sendirian. Seperti sebuah alat supaya digunakan seseorang. Seperti...

Aku menggerakkan kepalaku keatas dan melihat Masterku yang meraihkan tangannya kepadaku.

Matanya yang biru itu penuh dengan rasa kasihan/rakus, tanganku meraihku untuk memberikanku kenyamanan/kebohongan, dan senyumannya bagaikan senyuman seorang malaikat/iblis.

Namanya adalah Vale/Jason.

Namanya Jason.

Jason.

Tanganku mengambil tongkatku dan mulutku bergerak dengan sendirinya untuk menyanyikan sebuah mantra dengan sebuah bahasa yang sudah lama hilang dari lidah manusia biasa.

"[■■■]."

Dari sekitarku dua buah lingkaran sihir berwarna ungu muncul dari tengah udara.
Mereka adalah salah satu mantraku. Walaupun tidak berguna apabila digunakan kepada seseorang dengan Magic Resistance Rank A, tetapi bagi dia, dia yang telah menghancurkan hidupku, dia yang telah membuatku menjadi jahat, dia... dia!

...

...

...Ya Tuhan, apa yang telah kulakukan?

Lingkaran sihir yang tadinya mengarah ke Masterku itu yang dapat membunuh manusia biasa menghilang begitu saja.

Tanganku bergetar. Jantungku berdetak dengan kencang. Darah yang berada didalam tubuhku berubah menjadi dingin.

Aku... aku... hampir membunuh Masterku akibat kemarahan yang tidak masuk akal.

"Master... a-aku... tadi h-hanyalah—"

Dia tidak mendengarkanku dan mulai berjalan kearahku dengan diam. Tangannya mengepal dan matanya agak kosong.

Aa... begitu 'ya? Alasan semuanya rusak, alasan semuanya hancur... adalah aku 'ya?

Aku hanya diam saja menunggu sebuah pukulan yang akan diberikan oleh Masterku—

—yang tidak pernah datang.

Daripada sebuah tonjokan keras dari kepalannya itu, aku merasakan seseuatu.

Sebuah telapak tangan memang menyentuh kepalaku tetapi bukan dalam bentuk yang aku pikirkan.

Tangannya yang mengusap kepalaku bukan bagaikan seorang kakak, ibu, ayah, atau siapapun. Rasanya berbeda dan asing.
Tetapi... aku merasa begitu tenang.

"M-Maafkan a-aku M-Master."

Tangan itu hanya tetap mengusap kepalaku dengan lembut. Tanpa amarah, tanpa kekecewaan. Yang ada hanyalah... ketenangan dan kedamaian.

Dengan tidak sadar beberapa jam telah berlalu akibat aku tertidur di pelukan dari Masterku.

Tuhan, jika Engkau benar-benar ada. Maka apakah ini adalah rasa dari kebaikanmu?

Aku tidak tahu jawabannya, tetapi aku yakin ini seperti itu.


Anak yang malang.

Ditinggakan oleh seseorang yang benar-benar ia cintai akibat sebuah aksi dari seorang dewi.

Wahai Ayahku, mengapa siapapun tidak bisa mendapatkan kebahagiaan yang abadi? Apa yang membuatku berbeda dengan mereka?

Jika aku telah mendapatkan Cawan Suci, maka... aku akan memberikan permintaan itu kepada gadis ini.

Aku berjanji itu. Aku bersumpah atas namaku bahwa gadis ini akan mendapatkan kebahagiaan dan cinta.