Aku membuka mataku dan hal pertama yang kulihat adalah langit biru.

Langit biru yang kukenali. Langit ini adalah hal pertama yang kulihat setelah bangun tidur dari ranjangku.

Pada jam ini, seharusnya Ani-ue masuk kedalam kamarku untuk memberikanku sarapan untuk pagi hari.

Apakah ayah sudah bangun 'ya? Aku ingin menunjukkannya hasil penelitianku.

...

...

...

Ah, begitu 'ya. Ini bukan Colchis. Tempat ini adalah tempat dimana Colchis pernah berdiri.
Dengan kata lain, dataran yang luas tanpa pengunjung ini adalah tempat dimana kerajaanku pernah berada. Tetapi semuanya telah berubah menjadi pasir akibat dimakan waktu.

Aku kembali rileks di bantal empuk dibelakang kepalaku.

Haaah, lima belas menit lagi.

Un.

Hmm.

Ugh.

Ini... adalah pangkuan dari Master iya 'kan?

Aku membuka mataku sekali lagi untuk melihat wajah Masterku yang tersenyum melihatku.

Uwaaah, aku malu.

Tunggu, sudah berapa lama aku tertidur? Apakah aku tertidur di atas pengkuannya selama ini? Mengapa dia tidak membangunkanku?

Aaaaah, aku malu sekali. Tanganku aku gunakan untuk menutupi mukaku supaya aku tidak dapat bertatapan mata dengan Masterku.

"Hihihi."

Janganlah tertawa Master! Uuu, Aku malu sekali. Aku ingin berubah menjadi kentang dan menanam diriku kedalam tanah.

Sepertinya suara tawaan dari Master telah berhenti walaupun saat ini tawaan itu digantikan oleh sebuah senyuman lebar yang menempel di mukanya.

Uuuuhhh, apa yang tidak akan kulakukan untuk menghilangkan wajah angkuh itu.

"Kau sudah bangun?"

"...iya."

"Begitu 'ya? Kau tampak sangatlah damai jadi aku tidak ingin mengganggu tidurmu. Jadi aku menghabiskan waktuku dengan menhitung Phi sampai aku bosan."

"Phi?"

"Sebuah urutan nomor dalam matematika. Semua orang di zaman ini mengetahui bahwa nomornya dimulai dengan 3,14. Kemudian 3,1415. Lalu menjadi 3.14159265. Dan seterusnya."

"Kalau begitu bagaimana cara mengetahui itu adalah 3,14 menjadi 3.1415, kemudian 3,14159265?"

Masterku tampak terkejut dan memegang dagunya supaya memasuki pose berpikir. Setelah beberapa saat dia tampak mengetahui sesuatu berdasarkan ekspresinya yang serius tetapi antusias dan tangannya yang menghantam satu sama lain.

"Jadi?"

"Aku tidak tahu."

JANGAN MENGATAKAN HAL ITU DENGAN MUKA YANG LURUS ITU!

Ahhh, Master. Aku tidak tahu bagaimana cara untuk mengklasifikasikan dirimu dengan semua orang yang pernah kutemui.

Jika aku terus seperti ini aku akan menumbuhkan sebuah rambut putih ketika Perang ini sudah berakhir.

"Medea-chan?"

Ah, iya. Aku hampir lupa.

Apabila kita tidak membuat strategi maka kita akan disingkirkan dengan cepat di perang ini. Dan mengingat Parameter, Skill, dan Noble Phantasm-ku, perlawanan melawan Saber atau Lancer akan menjadi sangatlah sulit.

"Iya Master?"

"Bisakah kau bangun? Aku tidak keberatan apabila kau ingin tidur lag—"

"T-Tidak! M-Maksudku adalah kita perlu mengumpulkan informasi mengenai Master lainnya dan Servant apa yang mereka akan panggil. Master berapa lama lagi hingga Perang-nya dimulai?!"

"Eh? 3 Minggu lagi 'sih—"

"—Kalau begitu kita akan gunakan 3 Minggu itu untuk mengumpulkan kekuatan untuk melawan mereka semua. Ayo Master!"

Aku menggeret tangan Masterku dan mulai berlari dari tempat yang kami gunakan sebagai tempat bersantai itu.

Mulai dari sini pertarungan yang sangat penting dan besar akan terjadi. Supaya mendapatkan keuntungan untuk bertarung kita perlu bertahan hidup. Mulai dari menempatkan posisi Workshop hingga membuat Mystic Code yang akan membantu pertarungan kita.

Ada banyak hal yang harus dilakukan tetapi aku tidak merasakan keberatan dari tugas tersebut.

Tetapi, setelah aku mengeluarkan semuanya tadi. Setelah aku mengetahui kesalahanku. Dan Setelah aku mengetahui aksi Masterku yang walaupun kecil telah memberikanku sebuah api yang berkobar untuk mencapai kemenangan.

Kali ini, aku tidak akan gagal. Aku akan menang dan membuat keinginan Masterku terpenuhi.

Itulah keinginanku.


Ya ampun, anak-anak kecil. Mereka mempunyai energi untuk melakukan segalanya 'ya?

Jujur saja aku merasa bersalah. Aku berniat untuk memanggil Medea dalam wujudnya ketika dia telah menjadi dewasa. Tetapi yang kudapat adalah seorang gadis yang belum mengalami tragedi dari kisahnya.

Mungkin seperti ini lebih baik. Apabila aku mendapatkan dia yang lebih tua maka kita tidak akan bekerja satu sama lain dengan baik. Tetapi...

Ya ampun, dia sangatlah mengingatkan aku dengan diriku yang masih muda.

Setidaknya sebagai seorang kakak aku perlu melindunginya.

Baiklah, petualangan apa yang akan kita dapatkan nantinya 'ya?
Aku tidak bisa sabaran lagi.

—Tetapi sebelum itu!

"Medea?"

"Hm?"

"Kau tahu kearah kemana kau berlari?"

Dengan tiba-tiba tubuh kecil Medea yang dapat menyeret pria dewasa seperti aku secara tiba-tiba berhenti.

Asap keluar dari telinganya, aura hangat datang dari mukanya dan berasal dari darahnya yang mengakibatkan mukanya memerah.

Oops, sepertinya dia tidak memikirkannya.

"Fu- Fuhahahahaha, ahahahahaha, hihi hihihi hahahahahaha!"

Aku tertawa tebahak-bahak. Gawat, aku sampai menangis.

Saat ini Medea sedang melihatku sambil menginjak-injak kakinya ke tanah. Begitu imutnya wajahnya ketika dia marah. Ahh, aku ingin menggodanya jauh lebih lama lagi.

"M-Master! Jangan menertawaiku!"

"Ma-Maaf ahahaha."

Ahh, sepertinya tawaanku telah berhenti. Ya ampun, sudah lama sekali sejak aku tertawa sekeras ini. Terakhir pasti beberapa dekade yang lalu iya 'kan? Sepertinya begitu jika ingatanku benar.

"Maaf-maaf. Sebagai gantinya aku akan membawamu ke rumahku."

Dan setelah itu mata yang tadinya biru tersebut berubah menjadi merah dan dengan sekejap—

—kami menghilang dari tempat ini.


"—dan itulah kisah kami."

Setiap Servant yang berada di ruangan ini melihat kearahku dan Medea sebelum mengangguk-angguk sambil menggumamkan "jadi mereka juga 'ya?" atau semacamnya.

Kami sedang berada di ruang makan dari rumahku. Ruangannya besar dan berbagai makanan ada di atas meja bundar yang berdiameter 2,5 meter. Di bagian tengahnya dapat diputar supaya makanan dapat dibagikan tanpa perlu bergerak sama sekali dari meja.

Saat ini Scáthach dan Arjuna sedang memakan berbagai makanan dan terutama salad dan sayuran atau sup yang berada di meja ini. Siegfried dan Medea telah menghabiskan makanan mereka dan mulai memakan dessert yang berupa Cream Cake Strawberry yang diberikan sedikit lapisan madu dan Cherry diatasnya dan Pancake yang memiliki lapisan madu juga dan parutan keju diatasnya.

Semiramis sedang menikmati Sundae rasa Cokelat yang diberi berbagai topping untuk membuatnya terasa jauh lebih enak.

Sementara Achilles dan Beowulf saat ini telah membawa segalanya yang bertema daging dan memakannya dengan rakus.

Secara keseluruhan semuanya tampak senang. UMU, dengan kemampuan kulinerku maupun dewapun dapat aku buat puas dengan masakanku yang hebat.

Setelah Medea datang bersama klone-ku dia tampak ketakutan melihat betapa banyak Roh Pahlawan yang berada di satu ruangan. Tetapi, klone-ku telah menenangkannya. Sampai baru saja, dia tidak meninggalkan sisi gadis itu untuk membuatnya tidak bingung dan takut.

Setelah menjadi satu dan mendapatkan memorinya aku mengetahui alasannya.

"Master?"

"Hmm?"

Aku melihat kearah Scáthach yang tampaknya telah menyelesaikan makanannya. Dia tersenyum kearahku.

"Makanannya enak. Terima kasih."

"Sama-sama, Nyonya Scáthach."

Dia mengangguk dan mulai mengambil sebuah bir dari gelasnya.

Setelah semua Servant saling mengetahui satu sama lain untuk sekali lagi aku membawa mereka ke kamar mereka masing-masing dan memberitahu mereka apabila mereka memerlukan diriku maka mereka dapat mengikuti arah Prana yang keluar dari tubuhku.

Baiklah. Saat ini waktunya untuk menunggu.


"Master, bolehkah aku masuk?"

Sebuah suara wanita. Bukan lemah lembut dan bukan keras dan kasar. Melainkan suara yang dapat mendeskripsikan seseorang dengan cara yang tidak dapat membeda-bedakan mereka. Sebuah kategori — kategori yang hanya dikhususkan kepada sebuah kumpulan dari orang-orang.

Dan suara itu sedang diarahkan kepadaku yang saat ini hampir jatuh tidur diatas kursiku setelah membaca 'The Hobbit' lagi.

Dengan diam dan cepat aku mempersiapkan diriku supaya tidak tampak sebagai seseorang yang bodoh.

"Iya."
Sebuah jawaban yang singkat. Jawaban yang cukup untuk membuat pintu yang membuat sebuah pelindung dari kami.

Wujud dari penyihir dari Dun Scaith mengenakan pakaian santai yang kusiapkan memenuhi tempat yang tadinya adalah pintu tersebut.
Dia sedang melihatku dengan sebuah mata yang tajam. Mata yang aku tahu memerlukan sebuah rasa hormat.

Karena dia bukanlah hanya seorang wanita. Dia, lebih dari apapun adalah — seorang pejuang.

"Ada apa Scáthach-san?"
Mataku memegang perhatian dari pejuang itu dengan rasa hormat yang ia inginkan. Karena aku tidak akan memberikan kurang dari kesempurnaan kepada apapun yang akan kulakukan.

"Ini tentang pemanggilanku."
"Hmm? Apa dengannya?"
"Bagaimana caramu memanggilku?"

—ah, jadi itu rupanya. Aku tahu masalah ini akan muncul awal atau nanti. Tetapi untuk selarut ini...
Tidak apa-apa. Ini juga merupakan salahku setelah apa yang kuperbuat dengan 'memanggilnya'.

Dari dalam saku celanaku aku mengambil sesuatu.
Wujudnya seperti tabung. Ujungnya tajam dan memiliki berbagai ornamen dalam bentuk bahwa itu terbuat dari perak murni.

Sebuah anting-anting, yang dengan pastinya bukanlah milik dari wanita ini.

Setelah anting-anting itu aku taruh diatas meja aku melihat Scáthach dengan tatapan yang menjawab pertanyaannya.
Dia tampak tidak terkejut, atau dia memang terkejut hanya saja dia tidak menampilkannya.
Apapun itu yang pasti adalah—

—aku tidak berniat memanggilnya.

Bukan dalam artian bahwa aku membencinya atau tidak menyukainya. Melainkan jawabanku lebih dalam artian bahwa aku tidak berharap bahwa aku dapat memanggilnya pada awalnya.

Karena, bagaimana caramu memanggil seorang Roh Pahlawan yang belum mati?

"—Jadi begitu 'ya?"

Aku mengangguk tanpa berbicara apapun.

"Tetapi, aku yakin benda ini tidaklah cukup untuk menjawab pertanyaanmu tadi. Untuk itu aku akan menjawabnya dengan 'aku tidak tahu'. Aku yakin kamu pasti penasaran bagaimana caranya. Kalau begitu—"

Aku menunjukkan sebuah kursi kosong yang berada di depanku. Kursi yang kusiapkan dengan khusus untuk hal semacam ini.

"—maukah anda menceritakan apa yang anda ingat terakhir kali sebelum anda telah saya panggil?"