Sebuah esok memasuki sebuah dunia.
Dunia itu tidak memiliki pagi maupun malam.
Tidak ada panas maupun dingin.
Tidak ada gerakan dari ruang dan waktu.
—Memang semua itu tidak akan terjadi apabila aku tidak mengizinkannya. Lagipula apabila seorang dewa tidak bisa menguasai daerah kekuasaannya maka apa gunanya dewa itu?
Tentu saja masih ada banyak dewa yang lebih baik dan sempurna daripada diriku, jadi aku tidak boleh terlalu sombong.
Dan di dalam semua itu ada diriku yang sedang duduk disebelah jendela yang mengarah ke arah pemandangan indah didepanku. Pegunungan yang tinggi, danau seperti kaca, pepohonan yang rimbun, berbagai jalam setapak dengan batu bata yang berastetis indah.
Ada banyak sekali hal yang tersebar di pemandangan ini aku tidak bisa melakukan apapun kecuali menikmati pemandangannya. Walaupun aku mengetahui dunia ini bagaikan telapak tanganku sendiri aku selalu saja tidak dapat melakukan apapaun kecuali merasakan rasa takjub akan tempat ini.
Oblivion. Sebuah dimensi dimana seorang Pangeran Daedra tinggal. Kebanyakan dari Oblivion adalah perwujudan dari eksistensi dari Pangeran Daedra itu sendiri. Bagi mereka yang pemarah sebuah lautan lava, bagi mereka yang jahil sebuah taman teka-teki, bagi mereka yang baik sebuah surga dimana segala keinginan terpenuhi.
Aku bukanlah sebuah pengecualian dalam ketiga aspek itu. Tetapi punyaku—jauh lebih damai dan jinak daripada Pangeran Daedra lainnya yang lebih eksentrik.
Punyaku adalah sebuah proyeksi dari Nirn, hanya saja Oblivionku hanya mewakili suatu aspek tertentu—
—dan menghilangkannya sekaligus.
"Sangatlah cocok bagi seseorang sepertiku."
—Sudahlah, memikirkan sesuatu yang sudah lama terjadi tidak akan berguna sama sekali denganku.
Saat ini aku harus maju kedepan tanpa perlu melihat kebelakang.
Sebuah aksi harus aku lakukan dan yang akan memulai itu adalah aku.
"Alasan aku melawanmu adalah aku pikir itu menarik."
Lagipula aku hanya melakukan apapun yang membuatku tertarik pada awalnya iya 'kan?
Sama seperti kemarin.
Beberapa Jam Sebelumnya.
Ruang Rapat.
Setelah membuat para Servant mengenal ruangan mereka untuk beristirahat, membuat mereka mengenal inti dan skematik dari tempat ini(atau dunia ini), dan mengambil beberapa makanan kami akhirnya kembali di ruangan dimana kami bertemu bersama-sama untuk pertama kalinya.
Wujud dari mereka semua dalam berbagai model pakaian yang kusiapkan sangatlah menyenangkan hatiku.
Lagipula semua pakaian itu adalah buatanku, bukankah seorang pembuat barang akan merasa senang apabila barang yang dibuatnya itu dipakai bukan?
"Baiklah semuanya sudah berkumpul iya 'kan? Kalau begitu kita akan memulai informasi yang kita miliki saat ini."
Di setiap bagian meja yang para Servant gunakan mengeluarkan sebuah cahaya biru. Dari cahaya itu munculah sebuah tumpukan kertas. Kertas-kertas itu agak tebal tetapi tidak begitu tebal hingga dapat mengisi bahkan sebuah buku kecil.
Di kertas-kertas tersebut terdapat berbagai informasi-informasi mengenai berbagai calon Master dengan beberapa aktivitas mereka belakangan ini.
Ketika para Servant melihat didalam kertas itu ada beberapa nama dari berbagai Magus dan nama dari kemungkinan Servant yang akan mereka panggil.
1. Tohsaka Tokiomi
Servant: Belum diketahui. Kemungkinan dari area sekitar Babilonia
2. Matou Kariya
Servant: Belum diketahui. Kemungkinan dari area sekitar Prancis
3. Kayneth El-Melloi Archibald
Servant: Alexander Agung. Bukti menyimpulkan bahwa sebuah paket dari Macedonia telah dikirim ke kediaman Archibald
4. Kotomine Kirei
Servant: Belum diketahui. Tidak ada informasi
5. Emiya Kiritsugu
Servant: Raja Arthur. Bukti menyimpulkan bahwa keluarga Einzbern telah mengambil sebuah artifak dari Inggris di daerah Cornwall. Artifak itu telah diidentifikasikan sebagai Avalon, sarung pedang dari Pedang Excalibur
6. Waver Velvet
Servant: Belum diketahui. Tidak ada informasi
7. ?
Servant: Belum diketahui. Tidak ada informasi
Di halaman selanjutnya mereka bisa menemukan informasi lebih detail mengenai setiap individual yang telah berada di dalam daftar tersebut. Mulai dari sejarah, kemampuan, hubungan dan sebagainya.
Bagi orang biasa menemukan informasi yang jujur saja kurang dari 75% ini mungkin tidak akan memuaskan. Tetapi, bagi Servant dan Master yang mempertaruhkan nyawa mereka di medan pertarungan setiap informasi dan data sangatlah penting untuk mengalahkan musuh.
Semiramis melihat daftar ini dengan agak curiga dan serius.
"Master, apakah anda yakin ini saja informasi yang anda dapatkan?"
"Iya, walaupun koneksiku kecil mereka telah memberikan informasi secara akurat hingga detail terakhir."
Semiramis mengangguk dan mulai diam kembali.
"Baik, kalau begitu aku akan menanyakan pendapat kalian semua akan orang-orang yang akan kita nanti lawan. Apakah ada pertanyaan?"
Tangan yang naik secara heran datang bukan dari Medea, Semiramis, ataupun Scáthach. Melainkan itu datang dari tangan sang Roh Pahlawan yang mungkin saja terkuat diantara kumpulan Roh Pahlawan ini.
"Aku punya satu."
Achilles melambaikan tangannya dengan agak lambat.
"Apa itu, Achilles?"
"Master, jika apa yang kami dengar dari ceritamu itu benar... maka bukankah sebagai seorang Dewa sepertimu kau dapat mencari tahu informasi jauh lebih banyak?"
Hmm. Dia membuat sebuah argumen yang benar. Dewa di dunia ini tidaklah berbeda dengan dewa diduniaku. Mereka mempunyai kekuatan yang luar biasa dan tidak terbatas. Bahkan varietas mereka jauh lebih banyak pula.
Seorang Roh Dewa dengan kaliberku pasti bisa mendapatkan informasi seperti itu dengan mudah seperti menjentikkan jari. Seperti dengan melihat waktu ke masa depan.
Hanya saja—
"Kau benar Achilles. Tetapi masalahnya—
"—aku tidak bisa mengakses kekuatan Dewaku."
Sebuah tatapan yang serius datang dari mataku selagi aku melihat kearah Achilles untuk memberikan jawabannya.
Alasan aku tidak bisa mengakses kemampuan Dewaku bukanlah karena aku kehilangan sumber energi atau ketidadanya orang yang menyembahku. Masalahnya datang dari diriku sendiri.
Aku tidak mau menggunakan kemampuan dewaku.
Alasannya adalah Gaia dan Alaya. Kedua kesadaran yang mewakili Bumi dan Manusia. Mereka berdua adalah entitas yang kuat dan aku telah mengalahkan berbagai Counter Force yang ingin melawanku atas perintah mereka sebelum aku berteman dengan mereka.
Pada dasarnya Gaia tidak ingin aku mengakses kemampuanku karena itu bisa saja membuat Zaman Dewa terjadi kembali. Walaupun aku tahu dia hanya tidak ingin aku menghancurkan apapun akibat kekuatanku yang besar karena sebuah akibat dari bertarung sesuatu.
Dan Alaya tidak ingin aku menggunakan kekuatan sejatiku karena dia tidak ingin orang lain terluka akibat dari hasil pertarunganku.
Aku setuju dengan pengecualian ketika aku ingin mengalahkan seseorang atau sesuatu yang diatas kemampuanku sebagai Naga biasa.
Ahh, anjing*[1] itu sangatlah memuaskan. Pertarunganku dengannya sangatlah menyenangkan, lagipula untuk hanya seekor makhluk yang dapat membasmi manusia dia ternyata cukup tangguh. Lain kali aku akan mengajaknya bertarung.
Setelah menjelaskan itu ke Achilles dan Servant lainnya sebuah tangan terangkat dari Medea.
"Master, aku tahu anda adalah seorang dewa. Aku tidak akan menanyakan anda sekuat apa sebagai salah satunya. Tetapi, bagaimana anda menjadi dewa?"
Oh? Oh?! Oh!? OH!
Gawat, aku lupa menjelaskan itu. Aku kemarin hanya menjelaskan mengenai diriku sebagai Raja Naga dan Kaisar dari Tamriel. Tetapi aku ternyata melupakan sebuah aspek paling penting di hidupku.
"Maaf aku belum menjelaskan itu dengan benar 'ya?"
Medea mengangguk secara tidak bersalah.
...apakah hanya aku saja atau aksi kecil itu tampak sangatlah kawaii sekali.
"*ahem*. Baiklah akan aku ceritakan. Ceritanya tidak begitu lama 'sih."
Dari meja nya keluar cahaya proyeksi lagi. Warna birunya mengisi ruangan dengan cahaya yang amat dikenal oleh Servant disini.
"Setelah aku selesai mengalahkan Alduin aku terluka cukup parah, lagipula aku hanyalah seorang Setengah Dewa dan yang telah kukalahkan adalah seorang Dewa Kehancuran."
Gambaran dari proyeksi itu menggambarkan aku yang sedang terbaring dengan baju zirahku yang menempel di tubuhku.
Tetapi bukan itu yang penting. Melainkan yang penting adalah kondisi dimana aku terbaring tersebut. Tulang-tulangku patah, hampir seluruh otot-ototku robek, salah satu tanganku hilang, dan...
...sebuah lubang ada di dadaku.
Kebanyakan orang tidak akan selamat dari luka itu. Itulah pemikiran dari setiap Servant diruangan itu.
"Setelah penjaga dari dunia kematian, Tsun, mencapaiku dia mengatakan bahwa dia tidak bisa melakukan apa-apa. Bahwa satu-satunya hal yang bisa ia lakukan hanyalah mengembalikanku ke dunia nyata supaya aku bisa disembuhkan oleh teman-temanku dan keluargaku yang menunggu disana."
Gambarannya berubah dan kali ini seorang pria yang sebesar Troll duduk disebelah tubuhku yang teluka itu dan sedang mengatakan perkataan meringankan kesakitan dan menenangkanku sebanyak yang dia bisa.
Dia kemudian berdiri dan mengucapkan sebuah mantra.
Setelah itu aku menghilang dari tempat yang tampak seperti medan perang. Kawah dalam berbagai ukuran memenuhi lapangan, hutan-hutan terbakar hangus, dan gunung-gunung telah hancur menjadi bubuk debu.
Hal yang membedakan itu dari medan perang sungguhan adalah ketidakadanya mayat-mayat prajurit yang seharusnya disana. Yang ada hanyalah aku yang telah menghilang dari tempat itu—
—dan sebuah mayat tulang-belulang dari Alduin yang melebihi gunung tertinggi di Sovngarde.
"Hanya saja, aku tidak mencapai Nirn. Tidak, aku ternyata terambang disebuah ruang yang nampaknya tidak ada apapun."
Gambarannya memperlihatkan aku mengambang di sebuah tempat yang amat gelap dan tidak ada cahaya maupun apapun. Yang ada hanyalah aku—dan sebuah cahaya yang mengambang tepat diatas kepalaku.
Proyeksinya memperlihatkan aku membuka mataku dan mulai mengangkatnya ke arah cahaya merah itu.
"Betapa salahnya aku saat itu. Tsun tidaklah mengirimku ke Nirn atau Tamriel. Tetapi dia mengirimku dengan tidak sengaja ke sebuah makam.
"Makam dimana seorang dewa dulunya menipu seluruh dewa lainnya untuk menciptakan alam semesta."
Tanganku menggenngam cahaya itu. Setelah itu, apakah karena sebuah insting, panduan, atau keinginanku sendiri aku mengarahkan cahaya itu kearah hatiku.
"Secara tidak sengaja, yang kugunakan saat itu bukanlah cahaya penolong dari perintah para dewa atau semacamnya. —Melainkan, yang kudapatkan adalah kekuatan yang melebihi para dewa itu sendiri."
"J-Jangan-jangan."
Aku tersenyum. Melihat kearah Medea dan Servant lainnya yang paham atas arah ceritaku ini.
Benar, bagimana seseorang bisa dengan keberuntungan yang gila dapat mendapatkan jantung dari dewa Primordial yang menciptakan alam semesta?
"Sejak saat itu, aku kembali bukan sebagai setengah dewa lagi. Melainkan, sebagai seorang Dewa dari Penciptaan."
...
Keheningan. Itulah yang terjadi ketika aku berhasil menceritakan kisahku. Kebanyakan orang yang mendengarkan ceritaku akan bereaksi sama dengan mereka. Kebanyakan akan merasatakjub sementara yang lainnya akan merasa tidak percaya akan kisahku itu.
Sebelum mereka diingatkan kembali oleh kemampuanku yang kumiliki.
"I-Itu seharusnya—"
"—tidak mungkin? Aku tahu, jumlah influks kekuatan yang akan mencambuk kembali ke seluruh tubuhku seharusnya cukup untuk membuat keberadaanku untuk dihapus dari alam semesta. Aku rasa alasanku bisa masih hidup setelah itu adalah saat itu aku berada di ambang kematian. Jadi jiwaku yang seharusnya lebih kuat dan menempel oleh jangkar yang menyambungkannya dengan tubuhku itu berubah menjadi lemah, jadi kebanyakan Prana murni itu tidak membanjiri apa yang sudah ada. Melainkan itu hanya memenuhi apa yang sudah kosong."
Medea ingin mengatakan sesuatu tetapi dengan cepat menutup mulutnya sambil menggumamkan 'mengapa aku tidak terkejut?'.
Siegfried melihatku dengan tatapan aneh sebelum megangguk.
Beowulf memberiku sebuah siulan, senyuman, dan jari jempol.
Arjuna menatapku dengan serius bagaikan dia ingin melihat apakah aku berbohong atau tidak.
Achilles melihatku dengan tanpa emosi sama sekali. Walaupun aku bisa merasakan aura... cemburu?
Semiramis melihatku dengan curiga. Kurasa dia belum mempercayai ceritaku.
Dan Scáthach menyilangkan tangannya, tersenyum dan mengangguk kearahku.
...mengapa aku merasa terancam sekali dengan individual yang terakhir daripada dengan lainnya?
"Dan itulah ceritaku menjadi Dewa. Jujur saja, aku tidak diterima dan dipercayai sebagai seorang dewa sebelum aku membunuh 2 dewa lainnya dengan sebuah kibasan pedang."
"Yah, itu saja ceritaku."
Aku mengakhirinya dengan sebuah senyuman dan menikmati setiap ekspresi yang Servant-ku buat.
"Kalau begitu, karena aku sudah memberikan kalian ceritaku. Bagaimana apabila kalian memberikan cerita kalian mengenai Cawan Suci. Atau secara spesifik, keinginan apa yang kalian inginkan dengan cawan suci itu."
Perkataanku memecahkan es yang mulai membeku didalam ruangan ini. Setiap Servant mulai melihat satu sama lain.
—Sebelum Siegfried berdiri dari kursinya.
Aku melihatnya dengan tatapan ingin tahu—
"Aku tidak punya keinginan apapun."
—sebelum menghantamkan kepalaku ke meja akibat rasa terkejutku. Sebuah tawaan kecil datang dari mulut Medea.
Hmph, lain kali kau akan kubalas Medea-chan.
Selanjutnya Scáthach maju.
"Aku ingin mati."
"..."
—Kali ini aku mulai mempertanyakan apakah aku memanggil kumpulan Roh Pahlawan yang waras atau tidak.
Apa-apaan tadi? Bagi seseorang yang kuat dan hebat sepertinya untuk menginginkan kematian... itu agak sedih.
Tetapi, kurasa dia juga sama denganku. Terlalu bosan dengan kehidupan.
Begitulah takdir bagi seseorang yang tidak dapat mati.
Kemudian Arjuna maju kedepan.
"Aku tidak mempunyai permintaan apapun kecuali untuk bertarung dengan Roh Pahlawan lainnya."
Hmm, permintaan yang mulia. Bagi seorang kshatriya dan prajurit seperti Arjuna, sebuah medan pertarungan adalah perwujudan dari permintaan yang dia ingin kabulkan.
Hidup sebagai kshatriya dan melakukan dharma.
"Uwaah, permintaannya sama 'ya?" "Kita sama 'ya!"
Kedua Roh Pahlawan yang merupakan pecandu bertarung sedang berseringai dengan satu sama lain atas kemiripan mereka semua akan permintaan mereka.
"Kalian juga, Achilles, Beowulf?"
Mereka berdua hanya tersenyum dan mengangguk.
Yang selanjutnya maju adalah Semiramis.
"Aku awalnya ingin menguasai sebagai Ratu lagi di zaman ini. Tetapi, aku berubah pikiran."
"Oh?"
"Aku ingin menikmati setiap kenikmatan yang ada di zaman ini. Dengan kata lain... hiburan."
Umu, jadi yang ini menginginkan untuk menjadi seorang hedonis. Sasuga*[2] orang Babilonia. Tidak heran mereka dinamakan kota dosa—bukan berarti aku akan mengatakan itu 'sih.
Setelah meninggalkan apa yang nampaknya adalah sebuah ejekan dari kepalaku aku melihat seorang calon partisipan selanjutnya yang belum maju sama sekali.
Ayolah, janganlah malu.
Dengan sebuah mata yang dipenuhi oleh ketidakpastian, Medea melihat kearahku kemudian kearah Servant lainnya.
"A-Aku..."
Dengan suara yang gemetar dia mengambil napas untuk menenangkannya. Setelah menjadi santai dia mengucapkan apa yang saat ini sedang dipikirkan di kepalanya.
"A-Aku... Aku tidak tahu!"
"—"
"—"
"–––"
"–––"
"..."
"..."
Semua orang tampak terkejut akan apa yang gadis kecil ini ucapkan. 'Bagaikan ikan yang keluar dari air' adalah refrensi yang dapat menggambarkan wajah-wajah semua orang diruangan.
Hampir semua orang ingin menatapkan kepala mereka di meja, mendesah, atau semacamnya.
Hampir semua orang, tentunya.
"—"
Aku yang disitu hanya tersenyum. Senyuman itu bukanlah untuk mengutuk, mengejek, atau mencemooh Servant kecil ini. Melainkan, sebuah senyuman yang selalu kupakai apabila berhadapan dengan individual satu ini.
Senyuman nostalgia.
Ya ampun, dia memang mirip denganku.
Kemudian Medea kembali duduk di kursinya sambil menyentuh dadanya yang mengancam untuk keluar dari dadanya. Sepertinya mengatakan hal yang jujur saja agak konyol itu pasti akan merasa malu atau semacamnya.
Hmm, semua orang memiliki permintaan baik. Kebanyakan dari permintaan itu masuk akal dan yang beberapa yang lainnya mulia. Dan ada yang bahkan tidak tahu permintaannya itu apa.
—Yang meninggalkan aku sebagai orang terakhir. Semua mata melihat kearahku dengan ekspresi antusias dan ingin tahu.
Hmm baiklah, bukan berarti aku akan tertinggal begitu saja.
"Sebetulnya aku tidak mempunyai permintaan. Tetapi jika aku memiliki permintaan maka... aku ingin melihat akhir dari Perang ini."
Dulu sekali, di sebuah kerajaan ada seorang pangeran.
Pangeran itu tampan, kuat, pintar, dan berbakat. Seseorang yang sempurna.
Dimana kebanyakan keluarga akan kelaparan di musim dingin, dia mendapatkan kenyamanan dan keamanan dari segala kesulitan berkat darah biru bangsawannya.
Meskipun begitu—dia berjuang.
Sebagai bangsawan; sebagai ksatria; sebagai pria—dia bertarung.
Dia melatih diri dan menguasai kemampuan bertarung dan seni pedang di umur yang masih muda. Dia belajar politik dan berdagang untuk menguasai daerah kekuasaannya. Dia menikahi wanita yang cantik dan baik untuk memastikan keamanan kerajannya.
Dia bertarung bukan demi dirinya sendiri. Melainkan dia bertarung demi orang lain.
Dia akan mengambil pedang supaya menghancurkan siapapun yang ingin mengancam tahtanya. Dia menguasai bidang untuk memimpin supaya warga-warganya tidak menderita dan mengalami kesulitan. Dia mencintai seseorang supaya orang itu bahagia.
Sungguh seorang pahlawan.
Tetapi, apakah aku sanggup menanggung gelar itu 'ya? Sang Pria itu memikirkan segala yang dia capai. Segala yang dia raih. Segala yang dia dambakan.
Semuanya ditelan waktu dan hanya meninggalkan sebuah cerita tragis dari seorang istri yang kehilangan kekasihnya dan dimakan oleh amarah.
Saat ini, sang pahlawan dari Nibelung itu sedang melihat langit dari dunia miniatur Masternya.
Seorang Master yang jujur saja menyamai dia lebih dari siapapun.
Seorang Master yang dapat melakukan apa yang dia tidak bisa lakukan.
Seorang Master yang saat ini berada di belakangnya.
Setelah pemikiran itu masuk kedalam kepala Siegfried dia melihat kearah Masternya. Dia sedang membuat sebuah wajah yang tidak bisa ditebak, namun ini adalah akibat dari dia yang saat ini sedang berkonsentrasi—walaupun Siegfried tidak tahu mengenai itu.
"Master?"
Rambut pirang, mata biru, dan wajah kaukasia pria itu membuat Siegfried mengingat ciri khas dari kebanyakan rakyatnya. Mereka dan kebanyakan orang-orang yang hidup bersama dan disekitar Siegfried juga memiliki fitur seperti dia. Hal itu membuat sebuah ingatan nostalgia memasuki kepalanya.
"Hn? Ah maaf, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan."
Dia mengatakan hal itu sambil tertawa bak seorang teman yang mengenalnya sejak dia lahir. Sebuah aura yang hangat dan ramah—dia yakin bahwa jumlah teman dari pria ini tidaklah sedikit.
Tetapi saat ini pemikirannya harus terfokus terhadap apa yang Masternya ingin katakan. Dengan diam dia mengikuti Masternya ke arah suatu tempat di dalam istana yang luas ini.
"Siegfried."
Pria itu memulai percakapan sambil melihat-lihat berbagai benda-benda yang memenuhi lorong dimana mereka berjalan.
"Ada hal yang ingin kutanyakan mengenai Noble Phantasm-mu."
Noble Phantasm. Sebuah senjata atau konsep yang membuat seorang Roh Pahlawan untuk dimiliki. Noble Phantasm itu bisa dalam bentuk pedang, tombak, pelindung, dan bahkan saja dalam bentuk sebuah menara-pun saja ada.
"Di legenda-mu, setelah kau mengalahkan Fafnir kau bermandikan dengan darahnya. Dan pada hasilnya kau mendapatkan kulit yang tidak bisa ditembus oleh senjata apapun."
「Armor of Fafnir」. Sebuah baju zirah yang bukanlah sebuah baju zirah. Bongkahan besi yang Siegfried gunakan sebagai baju zirahnya itu bukanlah Noble Phantasm sejatinya. Noble Phantasm-nya adalah kulit yang berubah menjadi coklat akibat dari darah Naga Jahat tersebut.
Sebuah Noble Phantasm yang membuat serangan terkuat menjadi hanya sebuah goresan saja. Sungguh Noble Phantasm yang kuat.
Tetapi, apabila dia sekuat itu maka mengapa dia mati pada awalnya?
"Benar, tetapi pada akhirnya saya dikhianati dan diserang di satu tempat dimana saya tidak berdaya."
Sambil bermandikan darah Naga itu, Siegfried tidak menyadari sesuatu.
Sebuah daun dari pohon linden. Daun itu jatuh di punggungnya dan menutupi satu-satunya tempat dimana darah itu tidak bisa mengalir. Dan akibatnya, dia dibunuh di satu tempat itu. Sebuah akhir yang menyedihkan bagi seorang pahlawan sepertinya.
Mengapa Master ingin...
"Apakah aku pernah mengatakan bahwa aku adalah seorang pandai besi?"
"? Iya, apabila saya tidak salah ayah anda adalah seorang pandai besi iya 'kan?"
"—dan seorang mantan prajurit. Tapi, iya betul."
Mereka berhenti. Siegfried akhirnya melihat didepannya. Dan matanya terbuka lebar.
Sebuah pintu. Pintu itu terbuat dari campuran besi yang mirip dengan tembaga dan perunggu, tetapi Siegfried tahu itu bukanlah keduanya.
Tetapi bukanlah itu yang membuat Siegfried terkejut. Yang berada didalamnya adalah sesuatu yang menakjubkan.
Di dalam ruangan yang memiliki lebar sekitar 8 meter dan panjang 20 meter yang menyamai sebuah lorong, terdapat berbagai kotak kaca disetiap sisi dinding. Senjata, pelindung, baju zirah, miniatur katapult, dan berbagai benda-benda yang berkaitan dengan seni perang hingga benda-benda biasa seperti piring dan garpu berada didalamnya. Tetapi bukan itu masalahnya.
Semua ini... Noble Phantasm?
Setiap dari benda-benda ini mengeluarkan sebuah energi sihir yang menyamai Noble Phantasm biasa. Apabila Siegfried harus menebak semuanya memiliki Ranking antara E~C Rank Noble Phantasm. Sebuah koleksi yang sehrusnya tidak dimiliki siapapun.
"Hebat iya 'kan? Semua ini adalah buatanku. Walaupun hanyalah barang palsu."
Barang... palsu?
"Setiap benda yang kaulihat disini hanyalah imitasi dari barang-barang yang asli. Oleh karena itu, kualitas dan energi sihir dari setiap benda disini hanyalah rata-rata. Silahkan dilihat-lihat."
Siegfried kembali mengikuti Masternya yang mulai berjalan lagi kedepan sambil dengan takjub melihat benda-benda yang dipamerkan. Mulai dari pisau ornamen penuh batu permata hingga palu perang yang penuh duri.
Semuanya mengeluarkan aura agung yang biasa dimiliki oleh sebuah Noble Phantasm.
...dan semua ini diciptakan oleh Master... sebagai barang pameran?
Siegfried tidak tahu cara pemikiran seorang Dewa. Dia tidak pernah diberkati maupun bertemu dengan seorang dewa. Dia hanyalah seorang ksatria biasa.
Tetapi dia mulai bertanya-tanya apakah kemampuan membuat Noble Phantasm itu ada di jaman ini?
Ia tidak tahu. Sekali lagi, ia adalah seorang ksatria bukanlah seorang magus, pemahat, atau pandai besi. Jadi dia tidak akan mempertanyakan hal ini lebih lanjut.
Kami maju hingga mencapai dua buah pintu. Kami mengambil pintu yang berada di kiri dan kembali berjalan.
Didalamnya adalah...
"Selamat datang di bengkel besi-ku."
Sebuah tungku pembakar besar yang memiliki berbagai ukiran indah, peralatan-peralatan untuk menempa dan mengasah, dan berbagai barang yang Siegfried asosiasikan dengan barang-barang dan peralatan seorang pandai besi.
Siegfried mengenali perasaan ini. Ketika dia masih kecil dia selalu pergi ke seorang paman baik yang selalu memperbaiki perisai dan pedang milik ayahnya. Dia sering disuruh oleh ayahnya untuk melakukan itu setelah pulang dari ekspedisi perang dan setelah itu mereka bermain pedang-pedang layaknya ayah dan anak.
"Mengagumi pemandangan?"
Master-nya telah mengenakan pakaian yang lebih cocok untuk bekerja selagi Siegfried masih dalam pemikirannya sendiri. Walaupun pakaian itu agak terlalu lebih mewah daripada pakaian biasa yang sepatutnya digunakan.
"Iya, ada yang kupikirkan barusan."
"Hmm, begitu 'ya. Apabila kau sudah selesai bisakah kau mengenakan baju zirahmu sekali lagi Siegfried?"
Siegfried mengangguk dan dalam sebuah semburan debu cahaya, pakaian yang ia tadinya gunakan digantikan oleh pakaian yang dia telah gunakan sepanjang hidupnya sebagai seorang ksatria.
Master mulai memutari Siegfried. Matanya melihat kesegala fitur, aspek, detail yang dimiliki oleh Siegfried. Siegfried hanya diam saja seperti patung tanpa berkedip... karena dia tidak tahu apa yang akan Master-nya lakukan apabila ia tidak bergerak bahkan untuk sejenak.
Tetapi, Siegfried merasa sangat tidak nyaman. Tidak, 'tidak nyaman' bukanlah kata yang pantas untuk menjelaskan apa yang dia rasakan saat ini; terbuka, tembus pandang, dan rentan. Seperti seekor kucing yang bermain dengan makanannya atau seperti ular berbisa yang melilit ditubuhmu. Kau yakin bahwa itu sudah dijinakkan tetapi fakta bahwa itu berada sangat dekat denganmu dan racun berbisa mematikan yang dapat membunuhmu, mendekat sedikit demi sedikit... hingga dia berada dilehermu...
Siapapun pasti akan lumpuh. Bukan karena racun ataupun kekuatan lilitannya, melainkan antisipasi dari apa yang akan dilakukan oleh ular itu: apakah itu akan menggigit dan mengakhiri hidupku atau apakah itu akan bergerak kearah lainnya untuk mencari mangsa lainnya atau pergi dari kamu.
Siegfried tidak tahu. Yang dia tahu adalah... sensasi ini sangatlah tidak nyaman.
"Baiklah, aku sudah selesai."
Suara dari Master-nya menyadarkan dia dari pengalaman mati-hidupnya. Sebuah ilusi yang tidak menyenangkan, Siegfried pikir. Semoga hal seperti ini tidak terjadi.
"Terima kasih, Siegfried."
"—sama-sama, Master."
Siegfried mengatakan itu dengan agak kaku. Sedikit kaku dari biasanya.
"Maaf Master, tetapi apakah ada alasan anda membawa saya disini?"
Ada hal yang Siegfried ingin tanyakan. Hal itu cukup simpel. Sangatlah simpel dia tahu jawabannya. Tetapi apabila pameran didepan sudah memberi contoh apa yang dapat Master-nya lakukan. Maka...
"Aku ingin membuat sebuah Noble Phantasm untukmu."
"Untuk... ku?"
"Iya, untuk menutupi kelemahanmu itu Siegfried. Aku akan menciptakan sebuah set baju zirah mencegah bagian punggungmu untuk diserang."
Itu... cukup bagus. Apabila Master dapat meminimalisir jumlah kerusakan yang dapat ditanggung oleh Armor of Fafnir maka itu dapat menambahkan keuntungan dari faksi ini.
"Terima kasih, Master."
Master hanya tersenyum ketika dia mendengar itu.
"Vale. Panggil saja aku dengan Vale."
"Baiklah. Terima kasih, Vale."
*[1] = Primate Murder atau Anjing dari Gaia
*[2] = Bahasa jepang dari 'seperti yang kuduga'.
