Yang dikenal atau pun asing.
HunKai
Hun!seme Kai!Uke
Temukan cast sendiri di dalamnya
Tentukan genre yang pass sendiri karena aku bingung
OOC!
Rate T
.
.
Happy reading
Ditemani kopi hangat yang mengepul bersama roti bakar dengan selai coklat di dalamnya aku menempatkan bokong indahku di sofa putih panjang yang berada di depan tv 42in.
Terus ku ganti channel yang sangat membosankan sampai salah satu berita utama bertuliskan "Bocah Pembunuh" menarik perhatianku.
Lumayan lama aku menunggu berita itu dibacakan sampai suara bel menjadi hal yang paling utama ku kerjakan mengalahkan berita yang kutunggu tunggu kini sedang dibacakan.
Meletakan piring dengan seperempat roti bakar pada meja kecil penengah sofa dan tv lalu beranjak menuju pintu utama apartmentku.
Sebelum ku buka pintunya, lewat lubang kecil dari dalam pintu, ku lihat seorang lelaki berkulit putih pucat sedang berdiri memandang datar ke depan. Entah apa yang ia lihat. Aku mengernyit bingung. Siapa dia? Atau bagaimana dia mengenalku? Aku tidak pernah melihatnya.
Sekian lama aku tetap melihatnya lewat lubang sampai bel kembali dibunyikan bersamaan dengan suaranya yang terkesan, manly? Aku tidak yakin, "ada orang tidak?" tanyanya sama seperti wajahnya.
Ku hembuskan napas secara perlahan sebelum ku buka pintunya dan terpampanglah lelaki bertubuh kokoh yang tinggi.
Tubuhnya dibaluti jaket baseball berwarna merah marun dan celana jeans hitam panjang yang senada dengan kaosnya. Untuk sejenak aku terpesona olehnya. Sangat pas dan tampan.
"JongIn berikan padaku buku yang kau pinjam dari seorang yang idiot!"
Aku tersentak kaget hingga tanpa sadar mataku membulat. Jari telunjukku refleks menunjuk kepadanya.
"Bagaimana kau tahu namaku?" tanyaku sangsi mengabaikan kata idiot pada akhir kalimatnya.
"Orang yang meminjamkan bukunya padamu," jawabnya datar.
Aku mengangguk mengerti dan menatap kewajahnya penasaran. Apa hanya ekspresi itu yang bisa ia tunjukkan pada semua orang?.
"Tunggu apalagi? Cepatlah!"
Kembali aku tersentak. Shit menyebalkan sekali orang ini. Takut membuatnya menunggu dengan cepat aku berbalik arah masuk ke dalam apartment tanpa menutup pintunya dan kembali membawa paper bag yang berisi buku sejarah serta buku hitungan.
Ku ulurkan tanganku untuk memberikan paper bag kepadanya. Secara bersamaan ia membalas uluran itu.
Aku bisa melihat dengan jelas perbedaan warna kulit serta bentuk tanganku dan tangannya. Jika ia sangat putih pucat maka aku gelap seperti kelebihan pigmen. Jika ia seperti terlihat kokoh dan kekar -karena lengannya tertutup jaket-maka tanganku terlihat kecil dan kurus.
Dengan cepat ia menyentakkan tangannya sembari menggenggam tali paper bag membuatku dengan cepat kembali menatapnya sebal.
Bukannya berterima kasih laki laki yang lebih tinggi dariku sedikit itu berjalan menuju lift tanpa mengucapkan kata sedikit pun.
Aku mendengus kasar. Dasar tidak tahu sopan santun, bagaimana ChanYeol bisa kenal dengannya? Argh. Entah mengapa aku memerdulikannya secara acuh aku memasuki apartment dan menggebrak pintu sedikit keras yang berhasil menimbulkan gemaan di seluruh ruangan.
Kembali pada kegiatan awalku di pagi hari. Menonton dan bersantai.
'… seorang balita telah membunuh orang dewasa mengunakan kayu balok yang mustahil untuk seumurannya melakukannya tidak hanya itu kepulan asap yang berasal dari tungku di bawahnya masih terlihat. Pergelangan tangan yang merah beserta rantai yang menggantung menandakan wanita itu di panggang dengan tangan terikat.'
Mataku menatap jeli pada benda elektronik yang menayangkan seorang reporter membacakan berita sembari memakan sisa roti bakar yang sempat ku abaikan sebentar. Setengah lusin mobil polisi serta sebuah mobil ambulan dan garis polisi yang membentang di daerah tertentu menjadi background di belakangnya.
Hanya rasa antusias yang menyelimuti seluruh benak ku.
Mengeryitkan dahiku ketika seorang wanita muda yang ku yakin adalah ibu dari balita itu menangis tersedu-sedu melihat anaknya di tangkap polisi di kediamannya.
Gumaman dan anggukan menjadi satu satunya respon yang aku berikan untuk pandangan drama di depanku.
.
.
Author pov.
Yang ada dibenaknya saat ini adalah cepat sampai di rumah teman seperjuangannya yang sayangnya dia sangat sangat lah idiot melebihi batas orang idiot itu sendiri. Mungkin kalian bingung. Tapi itu lah kenyataannya.
'Balita bernama Do Kyungsoo menjadi tersangka utama meski sulit dipercaya, tetapi bukti yang terkait terbunuhnya Im Yoon Ah cukup menyakinkan bahwa balita itu pantas dijadikan tersangka. Menunggu kemajuan dalam kasus ini, Do Kyungsoo ditangani oleh polisi-'
Tangan panjangnya terulur mengganti ke radio yang lainnya. Merasa bosan karena radio atau tv yang ia dengar dan tonton hanya membahas bocah yang membunuh seorang gadis menggunakan balok.
Heol. Motif apa yang bocah itu lakukan sampai membunuhnya seperti itu.
"Manusia yang semakin bodoh atau manusia telah berubah bahkan bocah bisa menjadi pembunuh," ucapnya sarkatis.
Menatap datar ke jalanan sesekali melirik kaca spion pada kiri kanan serta atas mobilnya. Jenuh dengan seluruh berita yang sama ia dengar hari ini membuatnya tak terpikirkan sedari tadi untuk menyetel lagu di mobilnya.
Terpikir dalam benaknya jika lagu yang menemaninya membuat rute jalan menuju rumah temannya terasa lebih cepat.
Tanpa pikir panjang ia langsung mengarahkan mobilnya memasuki pekarangan mansion berarsitektur eropa dulu.
Membanting pintu mobil lalu bergegas menaiki delapan anak tangga yang menuju pintu utama mansion itu.
Seperti tidak pernah diajarkan sopan santun, dengan tendangan kaki kanannya membuat pintu berwarna putih gading itu terbuka.
Melangkahkan kakinya dengan cepat seperti standarnya ia berjalan melewati ruang tamu yang dipenuhi warna gold mencolok bahkan sampai ke lukisan tergantung di dinding. Mengabaikan bunyi gebrakan pintu yang cukup bergema di seluruh ruangan.
Mata sipitnya menangkap siluet lelaki bertubuh jangkung tengah tersenyum menyambut kedatangannya. Tanpa disadarinya, kakinya bergerak melambat.
"Aku tahu kau bisa di andalkan, SeHun," lelaki di depannya mengambil paper bag yang dibawanya dengan cepat lalu memusatkan perhatiannya ke dalam isi nya.
"Apa yang menarik dari buku-buku itu?" tanya seseorang yang dipanggil SeHun itu.
Menyadari masih ada orang lain di sekitarnya. Ia mendongakkan kepalanya menatap SeHun yang juga menatapnya, "tentu saja ini menarik bagi seorang Park ChanYeol," jawabnya lantang.
Sembari menarik lengan jaket ke sikunya, lelaki pucat itu berjalan menjauhi teman yang mengaku seperjuangan. Langkahnya membawanya ke dapur. ChanYeol mengintilnya dari belakang sambil melihat-lihat sampul buku pemberian JongIn.
Menggeser tubuhnya sedikit untuk melihat secara total yang sedang dilakukan ChanYeol di tempatnya biasa si jangkung itu makan. Kembali meletakan gelas di meja makan setelah menegak sampai habis. Hanya pandangan bingung yang ia buat saat memperhatikan ChanYeol.
"Mengapa tidak ada."
Entah sebuah pernyataan atau pertanyaan yang jelas pada pendengaran SeHun itu kalimat pernyataan. Mengikuti temannya duduk di seberang tanpa mengalihkan perhatiannya.
"Memang seharusnya tidak ada," ujar SeHun santai.
"Tapi aku yakin ini pasti ada," tegas ChanYeol menyakinkan dirinya sendirinya.
"Seorang Pembunuh tidak akan meninggalkan jejaknya dengan mudah, bodoh. Mereka sangat lihai," SeHun mengalihkan pandangannya dengan malas.
"Aku menaruh penuh curiga pada JongIn, SeHun."
"Orang semanis dan ku pikir polos itu tidak mungkin melakukannya," lirih SeHun.
"Berdasarkan-"
"Hentikan omong kosong mu. Semua teman kau pinjamkan buku hanya untuk memeriksa ia seorang psychopath atau bukan. Dari keseluruhan Psychopath, 80% adalah manusia yang melakukan hal biasa. Hanya sisanya yang mengaku dan terbukti, hahh," jelasnya dalam satu tarikan napas.
Si pemilik mata bulat membatu. Menatap kosong tepat ke mata sipit disebrangnya, "kau benar," gumamnya pelan.
Seberkas cahaya memasuki kepala SeHun. Tersenyum simpul kala sang sahabat membuka mulutnya kembali, "aku akan melakukan cara lain," serasa disambar petir dan wajah andalannya kembali lagi.
Tanpa memperdulikan tatapan bodoh SeHun, ChanYeol beranjak menjauh menaiki tangga yang ada di rumahnya menuju kamar pribadinya sedangkan SeHun menghela napasnya kasar.
"Aku yakin akan terlibat dalam kegiatan anehnya itu. Lagi," gumam SeHun dalam hati.
.
.
Di bawah rindangnya pohon di situlah JongIn berdiri saat ini. Sesekali ia mengeratkan mantelnya. Musim dingin akan segera selesai. Namun, dinginnya masih terasa sampai sekarang.
JongIn menundukan kepalanya. Kakinya ia gerakan membuat sebuah lubang kecil. Dimasukannya burung yang sudah terkapar tidak berdaya menggunakan kaki kirinya. Menatap datar pada gumpalan tanah yang kini sudah menutupi seluruh tubuh burung malang itu.
Tangannya tetap berada dalam saku mantelnya, tanpa bekerja sedikit pun. Kakinya ia arahkan pada pohon lalu menggesekan pinggir serta telapak sepatunya yang kotor karena tanah.
Menghela napas panjang lalu mengalihkan seluruh perhatiannya pada keadaan sekitar. Sekolah masih sepi. Pandangannya jatuh pada gerbang sekolah yang masih terbuka lebar.
Tepat saat ia memusatkan perhatiannya pada gerbang, terlihat dua namja jangkung yang berjalan beriringan. Hanya hendusan napas kasar yang ia keluarkan.
Menginjak tanah yang mencembung lalu meninggalkan parkiran menjadi satu satunya hal yang harus ia lakukan sebelum mereka mengetahui keberadaannya.
"Selanjutnya apa?" tanya JongIn entah pada siapa.
Langkah kakinya membawanya tak tentu arah. Kembali ia mengalihkan pandangannya ke sekitar sekolah, mulai ramai.
"Mungkin di lapangan ada JaeHyun," monolognya.
Menapaki setiap ubin yang ada di sepanjang lorong sekolah yang kini membawanya pada lapangan basket indoor di sekolahnya.
Sebenarnya JongIn ingat JaeHyun saat melihat beberapa namja di sekolahnya sedang bermain basket di lapangan outdoor, dimana tempat upacara biasa dilaksanakan. Namun, sampai saat ini JongIn tidak suka jika tatapan warga sekolah memusatkan parhatiannya pada pemain basket abal-abal di lapangan outdoor.
Selangkah sebelum memasuki pintu lapangan indoor, gendang telinga JongIn sudah menangkap suara bola yang memantul di lapangan. Tapi ada hal berbeda dari setiap tapakan kakinya membuat JongIn sedikit penasaran.
"Oh my," gumamnya dalam hati.
Benar. Pandangannya langsung tertuju pada mereka setelah beberapa langkah yang ia butuhkan hingga bisa nelihat penghuni di dalamnya.
Ada tiga orang namja sedang sibuk memperebutkan sebuah bola yang didominasi namja berkulit pucat dan dua namja cantik tengah terduduk di pinggir garis lapangan.
Niatnya JongIn ingin meninggalkan lapangan sebelum, "JongIn hyung!" seseorang memanggilnya.
Dengan kikuk ia membalikan tubuhnya. Memperhatikan namja berkulit pucat dengan senyum menawannya sedang berlari kearahnya.
"Mau kemana?" tanyanya.
"Keluar," jawab si kulit gelap.
"Ck, aku melihatmu baru masuk, hyung. Ayo main!" ajaknya sembari menarik tangan kecil JongIn sedangkan yang ditarik hanya pasrah.
'Mereka bukan siapa-siapa. Anggap tidak ada.'
"Oi, SeHun Hyung! Chanye-"
"Dia teman sekelasku JaeHyun-ah," potong ChanYeol mengingatkan.
"Terserah kau. Yongie hyung, BaekHyun hyung kenalkan ini JongIn. JongIn hyung kenalkan ini TaeYong hyung dan BaekHyun hyung," ujar yang dipanggil JaeHyun dengan senang.
Apa-apaan bocah ini. Seenak jidatnya mengenalkan dirinya pada orang asing. Bagi JongIn.
"Oh, kau Kim JongIn sunbae? Ketua klub dance itu? Sunbae-nim, aku ingin mendaftar masuk. Namun, aku sedikit ragu meminta tolong pada yang lain. Bisakah kau membantuku?" JongIn hanya menaikan satu alis sembari memandang namja dengan mata yang berbinar terang itu.
Anggukan kecil menjadi jawaban untuk namja berbinar itu. Oke, JongIn mulai merasa aneh.
"JongIn, kenalkan aku Byun BaekHyun kau bisa memanggilku BaekHyun. Aku kelas XII-2," ujar namja cantik di sampingnya yang tersenyum membentuk eyesmile lucu.
"Hm, JongIn," balas JongIn pelan sembari menundukan kepalanya sedikit menghiraukan tatapan kecewa atau entahlah dari BaekHyun dan TaeYong.
"Nah, kau sudah kenal semua orang di sini, kan? Ayo main bersama mereka," tunjuk JaeHyun pada kedua namja bertubuh tiang yang tengah asik merebut bola.
"Badan ku tidak mendukung saat ini, mungkin lain kali saja. Lagipula ada tugas yang belum tuntas ku kerjakan," tolak JongIn mecoba sehalus mungkin.
JaeHyun mendesah kecewa. Lalu berganti menjadi tatapan khawatir pada JongIn. Tangan putihnya meraba tubuh JongIn membuat JongIn kebingungan.
"Wae?"
"Bagian mana yang sakit? Kau sudah sarapan, hyung? Atau kau melewatkan makan malam mu lagi?" sembur JaeHyun dengan pertanyaan bertubi-tubi.
Kekehan terdengar dari si bibir tebal. Rambut lepek karena keringat bertambah berantakan kala JongIn mengacak rambut JaeHyun, "sungguh, kau ini lucu sekali. Aku tidak dalam keadaan yang sangat buruk JaeHyun. Hanya malas saja dan biarkan aku menyelesaikan tugas dulu lalu aku bisa bebas melakukan apapun."
JaeHyun menyipitkan matanya yang semakin sipit, "yasudah, kalau urusanmu selesai ayo kita main atau bertanding? Cukup untuk dua lawan dua," tawar JaeHyun.
JongIn menoyor pelan kepala JaeHyun. Melalui ekor mata JongIn bisa melihat jika kedua namja cantik itu tengah menatap ke arahnya. Masa bodoh untuk itu. Namun, di belakang JaeHyun meski kabur tapi JongIn bisa melihat ketika mata elang itu mencuri pandangan ke arahnya. What the?
"Jangan hanya bola bundar itu saja yang ada dipikiranmu, pabbo! Ingat belajar! Bye!"
JongIn dengan cepat melangkahkan kakinya setelah JaeHyun membalas salamnya. Ah, JongIn teringat sesuatu. Ia Memberhentikan langkahnya lalu membalikan badannya. Daaan. Orang itu, yang dua hari ke apartmentnya sedang menatap kearahnya. I got you.
"JAEHYUN-ah! AKU SUDAH TAU MEREKA SEMUA! JANGAN BERLAGA AKU LAH PENGHUNI BARU SEKOLAH INI!" teriak JongIn menggelegar kemudian dengan secepat kilat membalik kan tubuhnya kembali dan berjalan cepat keluar lapangan.
Seluruh penghuni menatap bingung pada punggung sempit yang sedang berjalan kilat meninggalkan gedung. Begitupula SeHun. Seseorang yang dari tadi mencuri pandangan ke arah JongIn.
"Omo! Chakkaman! Dia bilang tahu kita semua? Berarti JongIn sunbae mengenalku? Omo! Omo! Omo! BaekHyun hyung lakukan sesuatu! Aku harap ini bukan-"
PLAK!
"Mimpi," lanjut TaeYong lirih.
Suara tamparan yang menggelegar sesisi ruangan mendapat perhatian seluruh pasang mata. Bagaimana tidak. Begitu kerasnya tamparan itu hingga telapak tangan BaekHyun tercetak jelas pada pipi TaeYong tetapi TaeYong malah tersenyum idiot.
"Ya Tuhan, Hyung ini bukan mimpi!" histeris TaeYong.
"Chagiya?! Sadarlah!"
Tbc
Alhamdulilah selesai hehe. Maaf banget telat updatenya, terimakasih reviewnya, ternyata banyak yg suka. InsyaAllah secepatnya/semampu aku cepat di update, lagi sibuk beneran mau ujian hehe, sama nyusul2 ulangan huwaaa abis sakit juga, mian mian *malah curcol #plak. Buat yg fav/review dll terimakasih banyak. Silent readers juga makasih udah mampir. Maaf kalau ga nyambung.
