Jangan mengetahui segala tentangku.

.

.

.

Risih.

Sejak jam pertama dimulai orang yang duduk di pojokan itu terus menatap ke arahnya. Meskipun Jongin diam tidak menengok sama sekali, tetapi pasti semua orang memiliki insting kala ia dipandangi, bukan?

Sebenarnya tidak ada masalah sama sekali. Tapi ekor matanya menangkap tatapan aneh dari mata sipit orang itu.

Kring kring

"Oke, kita lanjutkan minggu depan."

"Gamsahamnida."

Ahn soengsanim pergi setelah merapikan buku dan peralatan lainnya yang mendukung materi matematika. Diikuti gerombolan murid lainnya yang langsung menuju kantin.

"Jongin!"

Jongin menolehkan kepalanya dan mendapati Sehun yang berdiri dengan jarak tiga meter dari tempatnya berdiri. Menaikan alisnya sebagai respon atas panggilan lelaki pucat itu.

Oke, Jongin menatap heran Sehun yang malah terdiam.

Tanpa mau menunggu, Jongin melanjutkan jalannya menghiraukan Sehun yang panik dibelakangnya.

"Shit, kenapa jadi grogi," gumamnya setelah Jongin menjauh

.

"Ayolah jangan pacaran di sini."

"Apa masalahmu?" protes lelaki jangkung di sampingnya itu.

"Lagian sedang ngumpul begini kau malah sendirian. Salah sendiri," dukung lelaki jangkung bernama Namjoon yang duduk di seberangnya

"Hm, seperti tidak punya kekasih saja. Panggil Kyulkung sana," suruh Seongwoo diangguki Daniel, kekasihnya.

"Aku jadi merindukan wanita cantik itu," ujar Baekhyun, "pasti ia tahu gossip terbaru," lanjutnya.

Mendengar nama wanita itu membuat Sehun mendengus sebal. Pasalnya ia tengah menghindari Kyulkyung.

Mengabaikan kekasihnya, Chanyeol memperhatikan Sehun yang langsung berubah moodnya, heran. Biasanya sahabatnya ini senang mendengar nama wanita Tiongkok itu apalagi berkencan. Sehun satu-satunya yang normal diantara mereka.

"Ada masalah?"

Pertanyaan dari Chanyeol sukses membuat keenam pasang mata menatapnya penasaran. Yang ditatap malah menggoyangkan kotak yoghurt strawberrynya asal. Tidak menanggapi.

"Mungkin," bisik Baekhyun pelan.

"Kau tahu apa, Baek?" Tanya seokjin sembari menyeruput susu pisang di genggaman Baekhyun.

"Yak! Jangan asal minum punya orang!" satu tepakan berhasil dilayangkan tangan mungil Baekhyun ke bahu seokjin.

"Sakit, Baek,"

"Apa pedulik-"

"Jadi Kyulkyung kenapa baek?!" interupsi Seongwoo.

"Kalem, Ma Ongie~~"

"Baek." Aegyo tidak mempan untuk Seongwoo sepertinya. Daniel yang memperhatikan terkekeh dibuatnya. Menggemaskan sekali kekasihnya ini.

"Baiklah-baiklah. Daniel! Bilang pada kekasihmu ini jangan galak-galak kepada-"

"Byun Baekhyun kapan mulai bicaranya jika kau terus mengomel begitu!" ledakan Ong dibalas delikan sinis seorang Byun.

"Yak! Kau yang terus mengomel! Bagaimana aku bisa cerita jika kau malah memotongnya!" kesal Baekhyun membuatnya terdiam.

Semuanya diam menunggu Baekhyun. Begitujuga Sehun yang diam-diam menantikan apa yang Baekhyun ketahui tentang kekasihnya itu.

Bukannya berbicara Baekhyun malah menyandarkan kepalanya malas ke bahu lebar Chanyeol.

"Baekhyun."

"Apa?!"

"Galak seka-"

"Lanjutkan bodoh!" ong memulai.

"Enak saja mengataiku bodoh,"

"Ayolah, apa yang kau ketahui tentang kekasihku?" Tanya Sehun malas mendengar perdebatan antara ongbaek.

"Aku dengar dari si ratu gossip, kekasihmu kencan dengan Junhui malam minggu kemarin," ujar Baekhyun setia dengan posisinya.

Tatapan tidak suka berhasil dilayangkan pada orang termungil yang berada di meja luar kantin saat ini, "dimana?"

Baekhyun memandang Sehun santai, tidak takut sama sekali dengan tatapan dan aura hitam yang menguar dari tubuhnya.

"Itaewon. Aku juga sempat melihatnya tapi tidak terlalu yakin karena mungkin aku hanya melihat orang yang mirip dengannya tapi ketika doyeon bilang ia juga melihat ditempat yang sama. Itu tandanya aku tidak salah lihat," jelas Seongwoo menambahkan.

"Oh? Jadi yang kau lihat itu Kyulkyung? Kukira orang itu" kaget Daniel.

"Orang itu? Siapa? Kau melihatnya dimana?" Tanya Chanyeol.

"Di Itaewon juga. Jadi,

Setelah Seongwoo dan Daniel membeli ice cream yang ada di salah satu toko Itaewon, keduanya kembali berjalan menuju toko sepatu untuk Daniel. Sesuai tujuan awal mereka datang ke sini.

Memasuki toko sembari bercanda ringan mengundang tatapan iri dari gadis yang melihatnya. Tak jarang juga terdengar ucapan sayang karena lelaki tampan seperti mereka harus berkencan dengan lelaki tampan juga.

Berjalan ke etalase sepatu dengan logo tiga batang di sisi samping setiap sepatunya. Membiarkan Daniel mencari sendiri sepatu yang menjadi incarannya. Bukannya tidak mau membantu, masalahnya Seongwoo tidak tahu seperti apa sepatunya itu karena Daniel lupa memotretnya bulan kemarin.

Sembari menunggu di samping Daniel, ia memperhatikan ke sekeliling dan matanya mendapati seseorang yang sangat familiar baginya dan juga kekasihnya. Maka dari itu ia menepuk lengan kekar Daniel pelan.

"Why, Kitten?"

"Kau melihatnya?" tunjuk Seongwoo keluar toko yang hanya dibatasi kaca, "seseorang yang kita kenal?"

Daniel mengikuti arah telunjuk Seongwoo dan tatapan keduanya bertemu. Jongin tersenyum kearahnya. Terlihat manis dan tertutup dengan jaket hitamnya

"Kenapa dia begitu sekali ya? Dasar," Seongwoo menggelengkan kepalanya heran.

Daniel membalas senyuman Jongin, "sepertinya dia juga mengetahui keberadaan kita, makanya begitu" pikir Daniel.

"Hm?" Seongwoo yang tengah melihat kembali sepatu-sepatu yang tersusun rapi di etalase setalah menunjuk pada seseorang menolehkan kepalanya dan memandang Daniel yang tersenyum entah pada siapa.

Kini Seongwoo lah yang mengikuti arah padangan mata Daniel, "dia tersenyum padaku, kau tidak membalas senyumnya?," pertanyaan Daniel semakin membuat Seongwoo mencari keberadaan Kyulkyung yang menghilang dengan lelaki Tiongkok yang ia ketahui bernama Junhui itu.

"Tersenyum?"

"Iya, dia sudah pergi,"

Seongwoo menaikin sebelah alisnya, "Ah mungkin, saat kau melihatnya ia juga melihat kearah kau sedangkan aku tidak."

"Bisa jadi," Daniel kembali mencari sepatunya tidak terlalu peduli, "nah! Ini dia. Untung masih ada."

"Menurutku lebih pas yang di tangan kirimu karena yang satunya terlihat lebih kecil,"

Daniel terkekeh menatap Seongwoo yang menyelidiki sepatu yang ia pegang. Tidak salah dugaanya, "sengaja. Ukuran sepatumu kan lebih kecil dariku. Aku beli couple."

"-lalu aku membayarnya masih dengan omelannya kare-"

"Aku tidak mau mendengar alasannya Daniel. Kenapa bisa ada Jongin disana?" potong Chanyeol cepat.

"Ya mungkin ia sedang jalan-jalan. Apa salahnya, kan?" ujar Seokjin menepis pikiran buruk Chanyeol tentang namja manis itu.

"Kan Jongin suka menari juga. Makanya ia berkeliling mencari toko sepatu di sana. Kebetulan melihat Daniel, sedangkan Ong tidak." Timpal Namjoon.

"Tapi mengapa aku tidak melihatnya?"

"Kau melihat ke arah mana?" Tanya Chanyeol.

"Sesuai yang Ong tunjuk," jawab Daniel polos.

"Kalau begitu seharusnya aku juga melihat Jongin,"

"Sudahlah kan Jongin jalannya cepat. Ia menutupi Junhui dan Kyulkyung mungkin sehingga yang Daniel lihat Jongin," ogah-ogahan Sehun menyebut nama lelaki yang bersama kekasihnya itu. Membuat semuanya terdiam setuju.

"Ngomong-ngomong tentang Jongin. Ada yang ingin ku tunjukan pada kalian," senyuman Namjoon menarik perhatian semua pasang mata.

"Apa?"

Kring kring kring

"Datang saja nanti malam. Aku kirim alamatnya di group," ujar Namjoon buru-buru menuju kelas karena memasuki jam kimia yang diajar Choi-killer-seongsanim. Diikuti Daniel.

Sedangkan yang lain berjalan santai dengan berdiskusi apa yang ingin Namjoon tunjukan pada mereka karena mereka berbeda kelas.

Di tengah perjalanan, Entah perasaan Sehun saja atau memang benar ia sempat melihat keberadaan seseorang di atas atap sekolah tadi. Memandang ke arah mereka dan berbalik setelahnya.

TBC