Suatu saat kau akan mengetahui akibatnya
.
.
Chanyeol berhenti kala menyadari Sehun tidak ada di sebelahnya. Memutar badannya, di sanalah Sehun berada. Terdiam menatap langit. Mempersilakan kekasihnya pergi duluan menuju kelas lalu berjalan kembali mendekati Sehun yang maasih terdiam.
Hangat. Tidak asing dengan sensasi ini. Berhasil membuatnya menjauh dari seseorang yang tengah menyandarkan kepala dari bahunya.
"Aku normal," dengus Sehun ketika mendapati Chanyeol tengah sedikit membungkukan badannya.
"Tidak usah diberitahu pun aku sudah tahu," jawab Chanyeol cuek.
Sehun memutar bola matanya malas lalu mengabaikan Chanyeol, melanjutkan jalan setelahnya.
"Tapi aku tidak tahu jika kau tidak memberitahuku tentang mengapa kau tiba-tiba terdiam memandang langit?" kejar Chanyeol berusaha menyamakan langkah kaki Sehun.
"Ingin." Sangat singkat.
"Huh?" kerutan di dahi Chanyeol tak bisa disembunyikan mendengar jawaban tak menarik dari temannya itu.
Berhenti kembali mengabaikan ramainya koridor sekolah, Sehun memandang Chanyeol dengan tatapan andalannya. Flat, "Hanya ingin," kedua tangannya bergerak memasuki kedua kantung celana seragamnya sembari menunggu reaksi Chanyeol yang kadang-
"Jawaban tidak ku terima. Sulit sekali menarik perhatianmu asal kau tahu kecuali Kyulkyung. Maka dari itu aneh jika kau terdiam tiba-tiba di koridor. Tidak mungkin 'hanya ingin' menatap langit. Ada yang menarik perhatianmu tuan oh?" –berlebihan. ya Chanyeol seseorang yang terlalu berlebihan dalam segala hal.
"Hilangkan over thinking mu Chanyeol."
"Bukannya seperti itu! Aku mengenalmu sejak JHS, Sehun," ngotot Chanyeol.
"Apakah harus ada alasan khusus untuk menatap langit, PARK CHANYEOL? Jangan beri aku pertanyaan bodoh tak berbobot. Ayolah," malas meladeni Chanyeol dengan segera Sehun berjalan menuju kelasnya. Menghindari Chanyeol yang sangat menyebalkan ketika sifatnya itu mulai keluar. Over thinking tingkat dewa.
"Sehun!"
Baiklah, Sehun sudah dalam puncak kesabarannya, "Aku melihat meteor jatuh dan kuperkirakan meteor itu akan menuju rumahmu yang akan menghancurkan kamarmu dengan segala alat-alat serta buku aneh tak berguna mu itu!" dan Chanyeol terdiam. Sehun tersenyum miring.
"Kau gila Sehun!" teriak Chanyeol
"Idiot! Apa yang kau lakukan berteriak sendiri di koridor, hyung?"
Suara halus dan terkesan dalam itu berhasil mengagetkan Chanyeol. Jongin tengah berdiri di sampingnya dengan tumpukan buku dibawa kedua tangannya, "kelas XII-1?" Chanyeol menganggukp tanpa sadar, "segera masuk. Ada tugas dari Na seongsanim," pandang Jongin sinis lalu melanjutkan jalannya.
Dan seketika terhenti memutar kembali badannya, "Hyung? Kenapa aku bodoh sekali," Jongin kembali mendekati Chanyeol yang masih terdiam itu, "Karena kelasmu ada di atas dan aku malas. Maka aku titip ini, uhh berat sekali," tanpa menunggu persetujuan, Jongin dengan santainya memberikan tumpukan buku itu pada Chanyeol, "untuk tugasnya ada di sini. Ku selipkan, hehe, jangan lupa untuk mengerjakannya, hyung. Oh ya. Dikumpulkan hari ini, di meja Na seongsanim, kalau tidak kalian tau akibatnya. Dia bilang begitu sungguh. Terimakasih banyak hyung. Aku ke kelas dulu."
Jongin pamit setelah memberikan senyuman manis miliknya. Tak megijinkan Chanyeol untuk menjawab sekata pun pada yang telah ia ucapkan. Meninggalkan Chanyeol yang masih loading. Dasar lemot.
.
.
Langit dilukis kembali oleh Sang Pencipta. Rutin. Tidak pernah lengah menunjukan pada dunia jika hari sudah beranjak sore. Bel sekolah sudah berbunyi sekitar lima menit yang lalu. Kelas XI-1 pun sudah sepi.
Sehun memainkan ponselnya memutar sembari menunggu seseorang datang. Sudah bosan sebenarnya. Hanya saja jika ini menyangkut 'masa depannya', bagaimana mungkin ia bisa mengatakan tidak?
Derap langkah terdengar memenuhi koridor yang sudah menyepi hingga Sehun pun bisa mendengarnya. Semakin jelas dan tiba-tiba menghilang kala derapnya dirasa sangat dekat dengan kelas Sehun.
Pandangan datar dilayangkan pada pintu tak berdosa yang tertutup apik di sana.
"Oh? Jongin?" bingung Sehun.
"Hm? Oh! H-Hai!" kaget Jongin.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Sehun
"Lebih baik pertanyaan itu dilayangkan untukmu," bukannya menjawab Jongin malah berjalan menuju bangkunya dan menunduk mengambil sesuatu di kolong mejanya.
"Well- aku sedang menunggu seseorang," tanggap Sehun sembari mengindikan bahunya tak yakin.
"Lebih baik bukan berarti aku akan melakukannya," ujar Jongin santai membuat Sehun mengalihkan pandangan dari Jongin.
Hening menyelimuti keduanya. Jongin yang sibuk sendiri dengan barang yang dicarinya sedangkan Sehun malas memandang Jongin karena ucapannya tadi.
"Jongin berikan padaku buku yang kau pinjam dari seorang yang idiot!"
"Bagaimana kau tahu namaku?"
"Jongin!"
Jongin berada di ambang pintu ketika Sehun memanggilnya. Belum sempat menggeser pintunya. Namja dengan tubuh indah itu diam menunggu apa yang akan dilakukan Sehun.
"Apa kau mengenalku?"
Aneh. Jongin mengeryitkan dahinya lalu memandang Sehun tanpa minat, "lalu?"
"Apanya?" kini Sehun lah yang bingung.
"Aku tidak akan menjawab pertanyaan tak bermutu jika bukan dari orang yang ku kenal," kedua tangan kurus yang terlapisi jas seragam sekolahnya bergerak menyilang didepan dadanya.
"Whut? Kau bilang pertanyaanku tak bermutu?"
"Aku tidak bilang pertanyaan tak bermutu itu milikmu," jawab Jongin secepat kilat mengabaikan Sehun yang salah tingkah sekaligus emosi dan hendak pergi meninggalkan kelas itu jika-
"Lalu!"- Sehun kembali menghalanginya untuk pergi.
Merasa Jongin akan mendengarkannya, namja pucat itu tak menyia-nyiakan kesempatannya.
Baru saja membuka mulutnya- "jika tentang selama pelajaran kau memandangiku dan ingin minta maaf, aku tidak peduli tentang itu, hanya kuanggap debu lewat. Asal kau jangan lakukan lagi!"- ia sudah dipotong oleh Jongin.
Terkejut. Pasti. Ia terciduk! "bagaimana?-"
"Aku punya mata dan feeling. Sudahlah!" kembali dipotong pemirsaaaaa.
"Jongin!" tak mau kehilangan kesempatannya. Sehun beranjak dari posisi nyamannya menghampiri Jongin yang ingin pergi lagi itu, "Buru-buru sekali?"
Dengusan sebal dikeluarkan begitu saja oleh Jongin. 'sebenarnya apa maumu itu?'
"Apa?!" penuh penekanan. Terlihat tidak emosi. Tapi sebenranya Jongin sangat emosi.
'Kemana sifat manisnya itu pergi?' ini Sehun.
"Aku minta maaf soal memandangimu. Aku tidak sengaja-" tahu reaksi Jongin? Bosan, "-aku hanya penasaran. Saat diapartmentmu itu," Sehun berhasil. Berhasil menarik perhatian Jongin yang kini menatap langsung ke mata tajamya itu.
"Kau bertanya bagaimana aku bisa mengetahui namamu," satu alisnya terangkat menunggu reaksi Jongin, namun masih sama, "kenapa? Bukan kah kita sekelas, Kim Jongin?"
"Sudah?" alis Sehun terangkat semakin tinggi. Memandang bingung Jongin.
Menghela napas sejenak, "pertama, apa kau pernah merasa berbicara atau bertemu denganku sebelum kau ke apartmentku?" Sehun terlihat berpikir.
"Apa yang-"
"Tingggal jawab saja," ujar Jongin ketus dan dijawab gelengan oleh Sehun.
"Kedua, apa kita pernah sekelas sebelumnya?" Sehun menggeleng.
"Ketiga, sudah berapa lama kita masuk sekolah setelah liburan?"
"Hmm, menuju dua minggu," Jongin semakin malas.
"Kapan kau ke apartmentku?"
"Aku tidak yakin pastinya, tapi ketika liburan."
"Simpulkan sendiri." Dan kali ini Jongin benar-benar pergi sembari membawa kunci ke dalam saku celananya.
Diam. Hening. Kelas terasa gelap. Cahaya matahari tidak lagi menyinari ke kelasnya. Hanya langit berwarna jingga yang memberikan penerangan di ruangan itu. Sehun sama sekali tak bergeming. Memikirkan betapa bodohnya dia.
'Mengapa aku tidak ingat! Bodoh,' rutuk Sehun dalam hatinya.
"Sehunnie?" Kyulkyung di sana. Di depannya. Memandang bingung kearahnya yang terdiam.
Merasa namanya dipanggil Sehun segera mengaburkan lamunannya dan menatap wanita cantik di depannya. Wanita yang dirindukannya.
"Hm?" kerinduan itu musnah sudah. Ucapan temannya tadi istirahat kembali terngiang di dalam benaknya. Sedikit malas sebenarnya. Tapi bagaimana lagi, dia cinta. Ya kan?
"Aku minta maaf, mungkin-"
"Tak usah dibahas," potong Sehun cepat dan jangan lupakan bagaimana datarnya suara putra bungsu keluarga oh itu.
"Aku mengerti. Aku bukan pria humoris sebagaimana tipe mu yang sering kau bicarakan padaku hingga kau lebih memilih pergi bersamanya dibanding denganku. Aku paham kau butuh hiburan, dan merasa bebas dari suasana monoton seperti saat bersamaku. Bagaimana? Apa suasana dengannya lebih berwarna?" Sehun tersenyum. Lebih ke menyeringai. Apakah itu bagus? Tentu saja tidak.
"Sehunnie-"
"Tidak apa. Bukan hanya kau yang merasa seperti itu. Temanku bahkan merasa seperti di dalam sel yang dingin tiap kali bersamaku."
Namja dengan wajah datar itu berjalan mengambil tasnya dan membawanya asal, "bersenang-senanglah dengannya. Jika kau mulai merasa garing dengan humornya. Kau bis akembali kepadaku," tatapan tajam dilayangkan pada gadis tiongkok itu.
"Itu tidak akan terjadi," teriak Kyulkyung kala Sehun berjalan menjauh.
Menghiraukan teriakan itu, Sehun mengambil langkah ketika sampai di tikungan. Baru berhenti setelah ia berhasil menghilang dari pandangan kekasihnya di sana. Menyandarkan tubuh kekarnya pada tembok sekolah yang terasa dingin.
"Aku tahu kau masih di sana. Maka dari itu dengarkan baik-baik!" hening sejenak.
"Aku tidak akan kembali ke suasana monoton lagi. Karena aku hanya akan menetap di suasana berwarna. Tidak akan lagi melihat ke belakang. Ijinkan aku untuk keluar dari kemonotonanmu. Akhiri sudah ini semua. Aku-hiks- kita putus."
Helaan napas panjang keluar dari bibir tipisnya. Tebakannya akurat. Kandas sudah hubungannya dengan wanita yang benar-benar ia cintai.
.
.
"Mana?"
Dua jam telah berlalu sia-sia. Sehun yang dasarnya sangat menghargai waktu dibuat kesal karena Namjoon belum juga menepati janjinya. Bukan hanya Sehun, mereka yang datang pun kesal apalagi Chanyeol yang sangat bersemagat bahkan ia datang tiga puluh menit sebelum yang lain datang.
Yang tadi lelaki jangkung bertelinga lebar bertanya untuk kesekian kalinya.
Sehun berdecak malas tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia beranjak dari duduknya mengundang protesan dari teman-temannya.
"Mau kemana?" tanya mereka bergantian sedikit teriak.
Tak digubris sama sekali. Khas seorang oh Sehun.
"Namjoon, kau berbohong pada kami?" yah, Baekhyun teriak karena suara bising khas club berhasil merendam suaranya.
"Tidak! Minggu lalu aku bertemu dengannya!"
"Bodoh!" tepak Daniel, "are u fucking kidding me? Minggu lalu? Minggu lalu, Namjoon?! Oh Shit!" keluarlah jati diri Daniel yang sebenarnya.
"Tak berguna!" gumam Baekhyun menatap datar Namjoon.
"Sudahlah! Daripada menunggu yang tidak pasti lebih baik kita bersenang-senang. Mumpung di sini!" interupsi Seongwoo.
Setelah berkata demikiran Seongwoo dan Daniel menghilang dalam sekejap menuju kerumunan manusia yang rela berdesakan di lantai dansa sana. Sedangkan Seokjin menemani Namjoon minum masih di tempat yang sama membuat Baekhyun berdecak kesal karena harus melihat hal menjijkan. Mereka berciuman. Dan ada dirinya! Wtf. Tak peduli sekitar.
Kalian bertanya kemana Chanyeol?
Saya juga tidak tahu haha.
Mari kita tinggalkan sejenak mereka yang berada di dalam club sana.
.
.
Bunyi bising terdengar kala jari panjangnya memutar kunci mobilnya. Wajahnya memang datar tapi mata elangnya berotasi menelisik seluruh penjuru club. Dilihatnya dua orang berbadan kekar dengan baju hitamnya tengah berdiri memperhatikannya dan memberikan senyuman saat ia menapakan kakinya keluar dari club.
Segar. Hidungnya meresap dalam dalam udara di sana berbeda dengan yang di dalam tadi. Sumpek, sesak dan pengap.
Jalanan masih ramai karena masih jam sebelas malam. Seoul kota yang tidak pernah tidur bukan?
Kaki panjangnya membawanya menuju parkiran. Tapi diurungkannya saat melihat tubuh yang tidak asing sedang duduk di kursi taman yang dekat dari tempatnya berdiri.
Kembali memasukan kunci mobil ke dalam sakunya lalu berjalan santai mendekatinya.
Meong
"Ya kupikir kau sudah dapat."
Butuh tiga langkah lagi. Tapi ia langsung berhenti.
"Sehun?" lelaki itu menoleh ke samping membuat ia berjengit, "Kau kah itu?" tanyanya kembali.
Sehun diam. Mengeryitkan dahinya bingung.
'Bagaimana?'
Jongin memutar badannya ke samping agar bisa melihat seseorang yang berada di belakangnya, "Oh, aku benar. Kemarilah," katanya santai. Berbeda dengan Sehun.
Dengan langkah ragunya, Sehun duduk di samping Jongin. Dan Matanya langsung menangkap kandang yang berada di pangkuan Jongin.
Jongin mengikuti arah pandangan teman sekelasnya. Tersenyum kecil setelahnya, "ini tadi sore sehabis pulang sekolah di dekat halte bus aku bertemu dengannya. Yahh, ia sangat kedinginan. Dan ku lihat dia terluka maka dari itu aku membawanya pulang," jelas Jongin tanpa diminta.
Menghiraukan penjelasan yang sedikitnya membuat Sehun penasaran. Kini mata sipitnya memperhatikan dari atas hingga ke bawah tubuh Jongin. Tidak secara terang-terangnan memang. Entah lah mungkin bisa dikatakan seprti itu. Lagi pula jika Sehun benar memperhatikan terang terangan, namja manis ini tidak akan menyadarinya. Lihat saja mata bulat itu, entah memandang kemana. Ke pasangan yang tengah bercumbu di seberang snaa mungkin.
"Sedang apa sendirian di sini?" Sehun menyamankan tubuhnya di sana. Entahlah. Perasaan Sehun saja atau memang hawa Jongin itu sangat berbeda dari orang kebanyakan.
"Mencari orang," jawabnya singkat.
"Malam-malam di taman begini?"
"Yah, begitulah. Appaku alergi kucing dan menyuruhku untuk membuangnya saja. Tapi aku kasihan dengannya. Terlalu kecil untuk menjadi kucing liar tak terurus. Padahal dia menggemaskan sekali."
Tersentuh? Sedikit sih. Sehun itu dingin hatinya. Tapi selalu saja menghangat kalau berususan dengan binatang. Ditambah lagi nada memelas dan seperti orang tersesat yang dikeluarkan Jongin.
"Lalu bukankah kau sudah mendapatkannya?" sempat Sehun mendengar ucapan Jongin tadi kini ia memastikan.
Miauw
Cengiran yang menjadi balasannya. Namja di sebelahnya ini meletakan kandang yang dibawanya ke kursi, menjadi pemisah jarak antar keduanya.
"Kalau kau tidak keberatan," masih dengan cengirannya.
Sehun menimbang. Pandangannya terbagi antara kucing yang menatapnya seperti memohon dan juga Jongin.
Grasuk grasuk miaw srek miaw
"Ia menyukaimu. Sehun, bantu aku," mohon Jongin.
Tangannya bergerak menggaruk pipinya. Ia bingung, Man. Kalau ia membawanya pulang dan memeliharanya, Tiffany Noona itu alergi bulu kucing! Tapi kalau tidak, kasihan kucingnya. Arggh.
"Hmmm," kini kepalanya yang ia garuk.
"Pleaseeee," oh benarkah ini Jongin si anak pendiam dikelasnya? Apa dia sekarang sedang melakukan aegyo? Ah sudahlah.
"Baiklah," finalnya. Ragu sih. Tapi demi kucing. Urusan Tiffany Noona belakangan.
"Yee. Gomawo Sehun. Kalau begitu rawat Kimka dengan baik, ok?" semangat sekali anak ini. Sehun jadi tersenyum melihatnya.
"Namanya Kimka?"
"Hemm," angguk polosnya menjadi jawaban.
"Ngomong-ngomong aku suka sepatu dan parfumu." Aku Jongin dengan malu.
"Kalau begitu, aku pulang dulu ya. Appaku pasti mencariku hehe. Bye Sehun!"
Jongin pergi meninggalkannya. Setelah Sehun membalas lambaian tangannya.
"Rawat dia dengan baik!" teriaknya. Tak disangka memang. Jongin sudah jauh, tapi masih sempat-sempatnya ia berteriak.
.
"Good Sehun. Mari kita lihat."
Senyuman Sehun menjadi akhir dari penglihatannya. Membalikan badannya saat di rasa Sehun sudah berdiri sembari membawa kandang itu.
