Title: Always Beside Me

Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi
Genre: Tragedi? Angst?
Cast: MC: Midorima Shintarou, Kise Ryota

Chapie 1

... Enjoy ...

"Kecelakaan pesawat H-xxxx memakan korban jiwa. Seluruh penumpang serta awak pesawat itu tak terselamatkan..." TV di ruang tengah itu hidup tanpa ada yang menonton. Rumah yang sedang itu sepi ditinggal pemiliknya yang beberapa detik yang lalu pergi tanpa mematikan TV.

-Always beside me-

Midorima Shintarou. Pemuda jangkung yang sudah berkepala dua, dan seorang dokter disalah satu rumah sakit terkenal di Tokyo itu menambah laju kendaraan menuju bandara Narita Tokyo, beberapa menit yang lalu ia di telpon oleh petugas bandara untuk datang ke bandara. Di detik yang sama saat ia menghidupkan TV dan berita jatuhnya Pesawat H-xxxx di laut antara pulau Okinawa sedang di tayangkan. Tak pikir panjang Midorima segera keluar dari rumah tanpa mematikan TV.
Sesampainya di Bandara Narita yang dipenuhi oleh beberapa mobil dari stasiun televisi dan juga keluarga korban yang menunggu kabar baru. Memarkirkan mobil tepat didepan bandara, Midorima didatangi oleh petugas bandara dan dituntun untuk menemui kepala bandara.

-SKIP-

Disini lah Midorima berada. Didalam helikopter untuk mengantisipasi jika masih ada korban selamat dan sgera di tangani. Sudah beberapa jam mencari korban dan sekarang hari semakin gelap. Posisi jatuh nya pesawat memang telah ditemukan. Tetapi kebanyakan para korban masih belum di temukan.

Puing puing dan badan pesawat belum tenggelam sepenuhnya. Para Tim pencari masih bisa masuk kedalam dengan perlengkapan menyelam untuk mencari korban. Midorima hanya mengamati dari atas helikopter berharap masih ada beberapa Korban yang selamat.

"ADA KORBAN SELAMAT, TURUNKAN TANDU" Sebuah teriakan dari tim pencari di bawah sana mengembalikan kesadaran Midorima yang sempat pergi. Segera Midorima membantu menurunkan tandu yang telah diikatkan oleh tali dan menurunkannya dari helikopter. Kerja sama saat menarik korban naik ke helikopter tak sia sia. Korban itu berhasil di naikan dan sukses membuat Midorima Membulatkan mata tak percaya dengan yang ia lihat. Surai kuning emas, bulu mata lentik, dan kulit yang mengkriput akibat terlalu lama berada di air. Dan juga seragam pilot yang basah dan robek di beberapa sisi mengeluarkan darah segar. Midorima segera mengambil tindakan pertama dengan merobek baju itu. Mbersihkan luka luka dan memberikan alkohol untuk mensterilkan luka sang korban. Setelahnya Midorima melilitkan kasa dan perban utuk menutup luka itu yang juga ada pada wajah tampan model serta mantan teman serta tim nya. Siapa lagi kalau bukan Kise Ryouta.

.

2 bulan bersilam setelah kecelakaan besar itu terjadi, dan sejak itu juga Kise Ryota masih berada di Rumah Sakit Tokyo yang di awas langsung oleh Midorima Shintarou. Rekan rekan yang sudah mengetahui kanar ini sudah sering menjenguk keadaan Kise yang masih belum siuman dari tidur nya.

Kejadian itu ternyata bukan hanya merenggut seluruh nyawa penumpang di dalam pesawat itu, kejadian itu juga merenggut nyawa keluarga dari Kise Ryota. Orang tua serta saudara nya sedang ada di dalam yang ia pilot kan saat itu. Tragis? Memang, garisan takdir tidak bisa di prediksi dengan akal yang dimiliki manusia.

Sejak kejadian itu, jika memiliki waktu luang, Midorima selalu datang ke ruang ICU untuk memeriksa keadaan Kise. Midorima memang tidak ingin mengakui nya karena sifat Tsundere nya telah mendrah daging. Tapi dari lubuk hati nya ia sangat khawatir dengan mantan rekan setim nya ini. Bayangkan Kise yang notabene seorang yang ceria kelewat batas sekarang sedang berbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan alat medis yang menutupi tubuh putih yang memucat itu, badan atletis nya sekarang sudah di penuhi oleh jahitan dan tulang yang mulai terlihat. Miris memang. Tapi itu lah yang sedang Kise Ryota alami sekarang.

"Midorima" Suara bariton khas dengan sedikit kecemprengan tertangkap oleh Indra pendengaran Midorima, mendongakan wajah dan melihat Pria crimson dengan iris mata Delima masuk dan berjalan mendekat.
"Bagaimana keadaan Kise?" Tanya pria yang bermarga Akashi itu, mantan kapten tim dan juga teman satu sekolah mereka. Akashi Seijuurou. Pria berperawakan ini memang sering datang tiap Minggu nya untuk menanyai keadaan Kise. Bukan hanya Akashi saja, anggota generasi keajaiban dan juga tim basket kaijou dulu juga sering menjenguk Kise.

" Keadaanya 1 bulan terakhir mulai membaik nodayo. Walaupun dia masih belum siuman" jawab Midorima. Memang bisa dibilang Kise membaik, tapi begitulah ia sama sekali belum membuka matanya.
" Begitukah" ucap Akashi singkat. " Jika dia siuman kabari aku. Aku dan yang lain akan datang" tersenyum tipis, Akashi berjalan kembali menuju pintu "Maaf aku tidak bisa lama. Jaa, Midorima. Jaga Kise" postur pendek itu menghilang bersama tertutup nya pintu. Midorima kembali melihat Kise dan pasangannya teralihkan kearah jam yang telah menunjukan pukul 4 sore, yang bisa dikatakan sekarang jam nya untuk bekerja kembali.

.

'Ketinggian pesawat menurun'.'Hampir mendekati 300 kaki'.'Salah satu sayap tidak bisa di kendalikan'.'Segera selamatkan penumpang'.'Lakukan pendaratan darurat'.'Tidak bisa, tidak bisa di kendalikan'.' Hampir mendekati laut'.'Selamatkan diri'.'Duuar'
Untuk sekian lama nya Kise terbangun dari tidur nya setelah mengalami mimpi yang sangat buruk. Mengerjap mata, keringat dingin mengalir di tubuhnya. Nafas tidak karuan dan terdengar suara orang samar yang bergegas masuk kemari. Merasa risih dan tidak kuat dengan semuanya. Kise memberontak hingga ia tenang setelah di beri suntikan penenang. Dan kembali terlelap akibat efek obat.

Suara kicauan burung bergema di kala pagi itu, embun embun yang berada di permukaan daun, serta angin yang meniup lembut membelai wajah tampan serta surai kuning pria itu. Matahari yang muncul dari ufuk timur menandakan awal dari hari ini. Setelah satu Minggu dari dia pertama kali siuman, Kise telah di perbolehkan untuk berjalan hanya saja untuk daerah sekitar rumah sakit. Disini lah Kise sekarang. Menggunakan baju pasien dengan tiang infus ia pedang, menatap kearah langit biru cerah. Tatapan nya yang biasa ceria sekrang hanya terlihat sendu. Cahaya itu menghilang kala ia mengingat kejadian yang sudah lewat dua bulan yang lalu.

"Disini kau rupanya" kaki jenjang sang dokter hijau berjalan pasti kearah pasien nya. Midorima memukul kepala Kise dengan papan yang ia bawa pelan. "Sudah kukatakan untuk tidak berkeliaran saat bukan jam nya nodayo" ah ya. Kise memang sudah boleh berjalan. Tapi itu memiliki jam sendiri. Dan Midorima selalu kerepotan saat mencari pasien nya yang satu ini.
" Maaf ssu. Aku hanya ingin melihat langit dan menikmati udara disini, Midorimacchi" reaksi yang tidak diharapkan dari sekrang Kise. Suara ceria nya menjadi terkesan datar dan normal, jika ia dulu bisa seperti ini Midorima Akan senang. Beda lagi jika setelah kejadian itu. Semua teman nya akan sangat khawatir.

"Sudah lah kembali ke ruangan mu. Akan ku antar. Jangan salah sangka, aku melakukan ini Karena kau pasien ku dan aku tidak ingin kerepotan" ucap Midorima yang tak lepas dari gaya Tsundere dengan menaikan kacamata

"Aku kembali sendri ssu. Maaf merepotkan mu Midorimacchi" Kise membalas nya sembari berjalan pelan menuju kamar nya kembali. Midorima hanya mengikuti Kise dari belakang. Sifat Kise seperti ini sangat menganggu pikiran Midorima. Kise siuman dan perkembangan mental nya menurun. Dan yang sangat si takuti Midorima jika kepribadian Kise akan terpecah seperti halnya Akashi dulu. Dan itu tidak akan dibiarkan terjadi.

"Kise, kau tinggal di rumahku" Kise terdiam mendengar perkataan midoima yang baru saja masuk kedalam ruangannya. Mengerjapkan mata dan Kise menatap Midorima bingung.
"Eh? Aku tidak ingin merepotkan mu Midorimacchi. Aku akan kembali kerumah... Orang tua ku" ucap Kise yang sendu saat menyebutkan kata terakhir itu. Midorima paham yang Kise rasakan sekarang maka dari itu Midorima menyuruh Kise tinggal di tempatnya. "Aku menyuruh mu tinggal bersama ku bukan berarti aku ingin, tapi itu juga karena aku akan mengamati perkembangan mu nodayo" rona merah samar tercetak pada pipi porselen Midorima, menaikan kaca mata dan membuang wajah.
"Bersiap lah. Setelah shift ku selesai. Aku akan mengantar mu" setelah mengatakan itu, ia langsung balik badan dan berjalan sedikit cepat keluar dari ruangan itu.

Sementara Kise hanya menatap datar kearah pintu keluar tanpa membalas perkataan Midorima. Bayang bayang kejadian itu masih tercetak jelas diingatan. Kise tidak mungkin bisa melupakannya. Ia merasa sangat bersalah atas kecelakaan itu, kecelakaan yang menewaskan seluruh penumpang dan kecuali dirinya. Apa aku pantas hidup? Dan menerima kebaikan ini? Itu lah yang dipikirkan Kise hingga ia selalu menolak dan menjadi Kise yang pendiam.

TBC


Ffn permintaan maaf ku :'v maaf semuanya. aku akan melanjutakan ff yang lain

minta pendapat, saran, dan kripik yang membangun senpai tachi ^^

yoroshiku

Cho~