"Always Beside Me"

Kuroko no Basuke by Fujimaki Tadoshi

Story by GreenPsycho ーCho

Pair: MidoKise

Genre: Tragedy? Angst?

Warn: Typo, kata non baku, OOC.

Enjoy Reading~

Suara dentingan antara piring dan permukaan tempat pencuci malam itu terdengar. Surai hijau yang bergerak bersama dengan gerakan sang pemilik. Tangan besar mengusap permukaan piring dengan sabun dan membilasnya. Ia sengaja melakukan aktifitas aktifitas dimalam hari untuk membuat nya terjaga. 4 hari telah berlalu dari orang 'itu' tinggal disini. Tidak ada kenaikan mental yang signifikat.

Deru pemanas di ruangan membuat didalam nya tak membeku, derap langkah kaki berjalan menuju pintu coklat, ketukan lembut mengalun membuat empu didalam nya terkejut. Tangan kurus yang awal nya memegang besi penyangga di beranda di urungkan setelah melihat pintu di geser dan menampakan wajah pemilik tempat ini.

"Kise?" Surai hijau menatap melalui kaca yang ia kenakan. Surai keemasan milik Kise yang bergerak tertiup angin malam yang dingin.

Apa yang ia lakukan

"Midorimacchi" senyum yang tidak tulus namun bukan senyum palsu. Namun senyum itu—

Apa yang kau pikirkan.

"Tidak boleh Midorimacchi. Seharusnya kau tidak masuk sekarang" ー senyum seseorang yang putus asa dalam kehidupan.

Menyedihkan.

Midorima tentu bukan orang bodoh. Tatapan mata itu ia tahu. Tatapan ingin menyudahi hidup.

"Lakukan saja...-" tidak mungkin ia akan bertanya semacam 'Apa yang kau lakukan?' karena posisi yang sudah menunjukan akan terjun mengikuti gravitasi bumi.

"...- karena aku tidak perduli"aku perduli pada mu. Namun kata itu hanya ia ucapkan dalam hatinya. Kalah oleh gengsi, dan tatapan jade itu mendingin menatap lurus ke manik kaca itu. Topaz itu membulat tak percaya, tak menduga, merasa salah mendengar ia mengkorek kuping nya. Namun...

"Hee... Midorimacchi... lakukan ap-"

"LAKUKAN!" Ucapan terpotong dengan bentakan Midorima.

"Lakukan yang ingin kau lakukan nodayo" lanjutnya, Bibir tipis model itu bergetar, Kise menggigit bibir bawah nya. Keyakinan yang awal nya ia ragu untuk dilakukan akhirnya membulat. Memaksanya. Mendorongnya. Entah kenapa, tangan itu bergetar saat memegang besi dingin itu.

Dingin

Suara, atmosfer, angin, semuanya terasa dingin. Bahkan tatapan yang biasa teduh itu mendingin. Jade yang biasanya menatap jengah, kesal. Hijau klorofil yang biasanya akan mengalihkan pandangan saat dalam mode tsuntsun nya.

"Ke... napa?" suara yang lirih menggema pelan, otak nya yang menyuruhnya untuk langsung terjun. Namun dia seperti terikat tak bisa bergerak. Pikiran nya sudah tak beres, benar benar ingin terjun... Namun. Disudut hati nya ia ingin ia merasa takut.

"Lakukan jika kau tidak perduli dengan keluarga mu nodayo"

Deg

Ucapan itu telak mengenai hatinya. Keluarga, keluarga nya sudah tidak ada. Untuk apa perduli, toh mereka sudah tidak ada. Yang tersisa hanya kenangan belaka, masa masa penuh cahaya. Namun sekarang hanya ada

Kegelapan.

"Apa perduli mu. Mereka sudah tidak ada. Jadi untuk apa aku memperdulikan mereka" Kise menatap nyalang kearah mata hijau, yang membalas menatap nya melunak.

'Kenapa... Kenapa kau menatap ku selembut itu'

" Kau perduli dengan mereka Kise. Karena jika kau melakukan aksi mu ini maka... " ttapan itu menatap bya miris, sekaan mengasihani nya "... Tidak ada yang akan mengenang mereka lagi."

Deg... Tes

Spontan air mata yang dibedung tumpah mengalir dipipi sang model. Midorima benar, jika ia melakukan ini keluarga nya akan benar benar menghilang, tanpa ada yang mengenang nya.

Kaki yang melemah membuatnya jatuh terduduk dan terisak, genggaman pada besi dilepas dan menutupi wajah nya yang mulai memerah akibat mengeluarkan emosi. Kesunyian malam terpecah dengan isakan dan gumaman lirih dari Kise yang terus terus mengatakan maaf, terus terus menyebut nama kedua kakak dan orang tua nya.

Midorima sendiri hanya berdiri menatap kearah Kise tanpa beranjak sedikit pun. Memberikan waktu kepada Kise untuk menangis sejadi jadi nya. Karena Midorima tahu, ia tidak pernah mengalami apa yang dialami oleh Kise saat ini. Dan ia tidak akan tau perasaanya. Lebih tepat nya ia tidak mau tahu.

Bulan sabit dan langit berawan saat itu menjadi saksi nya.

-Always Beside Me-

"Ryou-chan katakan Onee-chan"

"Yada. Tante penyihil celam"

"Hahaha Nee-san dibilang tante pfft"

"Urusai mou."

"Maa maa kalian membuat Ryouta takut" usap lembut surai kuning milik bocah yang sedang memeluk erat tubuh nya itu. Sang bocah yang terisak kecil menjulurkan lidah kearah kedua kakak nya.

Suasana hangat merambat di ruang tamu itu, canda tawa yang mengudara membuat Ryota kecil tak henti henti nya tertawa.

"Ryou-chan... Kami sayang Ryou-chan" Dipeluk nya tubuh mungil itu, dari kedua kakak dan juga ibu nya. Entah kenapa membuat Ryota kecil mengeluarkan air mata

"... Se"

.

".. Ise"

.

"Kise!"

Kelopak mata dengan bulu mata lentik itu terbuka, menampilkan Manik emas yang berlinang air mata.

"Are... Midorimacchi?" Kise mengerjapkan mata nya dan memposisikan diri menjadi duduk di atas ranjang. 'Mimpi?' Batin nya saat merasakan air mata mata mengalir dipipinya. Segera Kise menghapus air mata itu dan menatap Midorima yang masih ada di depan nya.

"Kau tak apa?" Tanya Midorima, Manik klorofil nya menatap intens Kise yang mengalihkan pandangan. Kejadian 'percobaan bunuh diri namun gagal' tadi malam kembali terbayang di pikiran Midorima. Dia berpikir apakah Kise akan nekad bunuh diri lagi atau tidak.

"Aku tak apa ssu. Maaf membuat mu khawatir Midorimacchi" Kise tersenyum kecil, terlihat kepedihan dari senyum itu. Midorima mengalihkan mata sembari menatap arloji di pergelangan tangan nya.

"Kita akan keluar, bersiaplah nodayo" Setelah mengatakan itu, Midorima keluar dari kamar, membiarkan Kise untuk bersiap siap. Tatapan manik emas itu menerawang selimut, mimpi yang ia rasakan tadi adalah secuil kenangan hangat nya bersama keluarga. Saat ia masih kecil, kakak nya yang selalu menjahili nya dan Sang ibu yang selalu melindungi nya. Ayah yang selalu tersenyum hangat memaflumi segala tingkah di keluarganya

Kembali, cairan hangat itu mengalir di pipi yang perlahan memerah. Mimpi itu bagaikan mengingatkan nya untuk tetap menjalani hidup nya, bukan mengakhiri dengan cara bodoh. Seperti tadi malam yang ia lakukan. Bunuh Diri.

Sesak

Ia benar benar merasa bodoh, raungan kecil keluar dari bibir yang pucat itu. Menangis di dalam kamar. Midorima yang mendengar itu dari luar hanya dapat menatap sedih lantai di bawah nya.

.

.

.

.

Surai kuning itu muncul dari pintu yang memisahkan antara kamar yang ia gunakan tadi dengan ruang santai. Disana ia melihat pemilik rumah yang terduduk sembari memegang bola baseball (yang Kise yakin itu lucky item nya). Merasa di tatap, Midorima mengalihkan pandangan nya kearah Kise yang sudah siap, dengan kemeja lengan panjang berwarna biru tua yang di buka dua kancing diatas, menampilkan kaos berwarna coklat muda, tak lupa kacamata berlensa bening, yang Midorima yakini itu untuk menyamarkan mata nya yang merah.

"Ayo" Berdiri dari duduk nya, Midorima berjalan duluan menuju pintu depan, diikuti Kise dari belakang. Pintu di buka memperlihatkan dunia luar yang sudah lama tidak Kise pijaki semenjak kejadian itu.

Perlahan Kise menapakan kaki di luar kediaman pemuda bermarga Midorima ini, dan memperhatikan sekeliling. Midorima yang sudah mengunci pintu segera menaiki mobil milik nya kembali diikuti Kise yang naik di kursi sebelah pengemudi.

Mobil itu melaju di jalan yang cukup sepi karena masih pagi, banyak orang yang melakukan aktivitas di pagi hari. Anak anak sekolah yang berjalan menuju halte, juga ada yang mengendarai sepeda. Mereka terlihat bahagia terlihat dari ekpresi nya.

Melewati taman kecil, Manik emas itu terpaku melihat kebersamaan keluarga kecil yang terdiri dari Ibu, Ayah, dan anak perempuan kecil saling bergandengan tangan. Kise tersenyum miris dan kembali menghadap kedepan.

"Ne... Midorimacchi kita akan kemana?" Tanya nya kepada pemuda disebelah yang berfokus mengendarai.

"Hanya berjalan jalan saja nodayo" balas nya sembari membelokan mobil saat ada tikungan. Itu merupakan jawaban yang tak memuaskan untuk Kise, dan ia memilih untuk diam .

Suasana terasa sunyi saat dalam perjalanan. Midorima yang biasanya akan bersyukur dengan suasana seperti ini, mendadak risih karena ini hal yang tidak biasa saat ia bersama Kise. Hingga mobil itu terparkir di sebuah taman, mereka masih saling diam.

Midorima turun duluan dari mobil, dan membuka pintu yang Kise tempati. Bingung, Kise hanya menurut saja dan keluar dari mobil. Mengekori Midorima yang kembali berjalan didepan nya. 'Punggung nya terlihat hangat' pikir Kise ngawur. Tersadar akan pikiran nya dengan cepat Kise menggelengkan kepalanya.

"Maaf lama, nodayo" Midorima yang tiba di sebuah lapangan basket berucap kepada orang yang berada disana. Mereka yang menunggu kedatangan seorang pria. Kise melongo dari belakang Midorima melihat apa yang ada di depan nya, dan sedikit membulatkan mata.

"Kise!"

.

.

.

TBC

.

.

.

.

GAK NYAMBUNG... Ini gak nyambung T.T ... Karena draft nya ilang jadi lupa kerangka awal nya. Ini hasil inget inget dan malah menghasilkan hal yang tidak nyambung

Maaf lama up ff ini. dan pasti gak ada yang nunggu :')

Berterimakasih bagi yang mampir dan membaca.

Dan saya akan sangat senang jika diberi kritik dan saran. Apa lagi jejak :'v

RnR?

Cho~