Disclaimer: Tsukiuta (c) Tsukino Talent Production
Written for self satisfaction. Nonprofit purpose.
a/n: [2/3]. Alur maju mundur.
thanks to: Shimoarika Kaiki, Hwang635 ;)
XoXo-XoXo-XoXo
Endear © Kiriya Arecia
XoXo-XoXo-XoXo
II
White Kingdom, kastil megah itu berada di wilayah yang terkenal dengan pemandangan laut memukau. Ketika menatap keluar jendela berteralis di kastil, langit dan laut dengan warna senada akan menyilaukan pandangan. Dari kejauhan, terlihat batu karang yang dihantam air laut dan pulau-pulau kecil kehijauan penuh misteri. Walau samar, terkadang terdengar bunyi deburan ombak yang menerpa tebing. Ketika langit menyentuh warna merah kejinggaan, akan terdengar suara-suara burung camar.
Tempat terindah di wilayah White Kingdom adalah lautnya yang mempesona, daya tarik bagi para pengunjung dari berbagai negeri. Raja mereka, Kai memiliki warna mata yang sama seperti lautnya, jernih dan lembut. Begitu pula sosok itu dikenal, baik hati dan ramah tamah.
Shun membuka mata dan mendapati iris sebiru lautan menatapnya. "Kai?"
"Maaf membuatmu terbangun, Shun."
Dengan segera Shun menyadari bahwa sang raja menggendongnya menuju ke dalam kastil. Rupanya mereka telah tiba di kastil. Bukannya terkejut, ia justru menggeliat beberapa saat, menyamankan diri dan memejamkan matanya lagi. Membuat Kai hanya bisa menggeleng pelan.
"Tidakkah raja kita terlalu memanjakannya?" You mendesah pelan saat melihat sang penyihir diperlakukan seperti tuan putri.
Iku menggendikkan bahu lalu tertawa hambar, "Begitulah raja kita dan penyihirnya. Memang, sepertinya hanya di kerajaan kita yang unik seperti ini."
"Terkadang aku bingung, siapa yang raja dan pelayannya."
"Shun-san …. mungkin adalah ratunya."
"Kau pasti bercanda! Aku tidak ingin punya ratu sepertinya! Hidupku akan semakin merepotkan!"
XoXo-XoXo-XoXo
Langit biru menyilaukan membuat Haru menyipitkan mata, tangannya terangkat untuk melindungi wajahnya dari terpaan cahaya matahari yang menyelinap dari balik dedaunan.
"Aku ketiduran…?"
"Meskipun harusnya kau yang membangunkanku."
Haru segera menoleh ke sampingnya, ia mendapati Hajime duduk bersila dengan menumpu tangan di kaki kiri. Pemuda itu sedang memegang buku yang tadi dibawanya. Sepertinya Hajime membaca buku miliknya.
Dengan tergesa Haru segera meraih jam sakunya, memperhatikan waktu yang telah berlalu tanpa disadarinya. "Ah, maaf, suasananya terasa tenang, jadi aku merasa mengantuk…"
"Tidak apa. Mari bersantai untuk sejenak. Kau terlihat lelah."
"Menurutku, Ou-sama terlihat lebih lelah. Harusnya aku berusaha membuat jadwal yang lebih efisien."
Hajime mempertemukan dahi mereka dengan cepat, bersentuhan satu sama lain. Iris mereka bertemu, "Haru, kau sudah berusaha dengan baik."
Haru mengangguk pelan. Meresapi pujian yang Hajime tujukan padanya. Hajime pasti membaca jadwal dan catatan-catatan kecil di bukunya. Buku itu penuh coretan penyesuaian jadwal pekerjaan sang ou-sama.
"Kita sudah berusaha dengan baik."
"Ya. Itu benar. Kita sudah berusaha dengan baik."
XoXo-XoXo-XoXo
"Khh—Shun."
"Ya, aku bersamamu, Kai." Shun menepuk bahu pemuda yang sdang memeluknya erat. Begitu erat hingga sesak rasanya bagi Shun. Rasa nyeri dan sakit menerpa lehernya. Sebuah gigitan dilancarkan Kai padanya.
Kai pasti berusaha keras mengendalikan kekuatannya. Wujudnya kali ini jauh berbeda dari kata normal. Telinga runcing, mata berkilat dengan warna keemasan beserta gigi dan jari-jari yang tajam. Siapa yang menduga, raja White Kngdom memiliki saat-saat dimana ia kesulitan dengan berkah yang dimilikinya.
Shun membiarkannya. Meskipun ia harus menahan rasa sakit, tangan kanannya mencengkram erat sprei kasur. Aura putih di sekelilingnya tetap stabil, melindungi Kai dan dirinya. Sementara aura biru sang raja terlihat kacau karena kekuatannya. Shun mengelus helaian kecoklatan itu dengan lembut, menenangkan. Ini selalu terjadi, dan hanya Shun yang bisa menanganinya dengan baik. Karena jika tidak dilakukan dengan baik—mungkin akan ada yang jadi korban.
Sebentar lagi fajar akan menyingsing dan ketenangan akan menyapa mereka. Ketika bulan purnama menghilang karena kemunculan cahaya di ufuk timur.
Kekuatan berelemen air penguasa kastil White Kingdom selalu meluap ketika bulan penuh, dan itu merupakan hal yang sulit dikendalikan oleh Kai. Shun menyadari pelukan yang diberikan Kai semakin lemah, berarti bahwa malam panjang bagi mereka telah berakhir. Barrier sihir berlapis yang diciptakan Shun menghilang perlahan. Shun menepuk punggung pemuda itu.
"Kau sudah berusaha dengan baik, Kai."
[Endear]
"Seandainya aku bisa mengendalikannya dengan lebih baik…" sesal Kai ketika melihat bekas gigitannya berada pada leher Shun. Tidak hanya satu, dan terlihat menyakitkan karena warnanya merah membiru. Kemeja pemuda itu tampak kusut berantakan.
"Apa aku melukaimu di bagian lain?" Kai meraih pipi Shun, memperhatikan dengan seksama.
Shun terkekeh, menahan tangan Kai yang berada di pipinya, "Kau pikir sudah berapa lama hal seperti ini terjadi? Tenang saja, ini akan menghilang dengan cepat."
"Ou-sama, izinkan aku mengganggu—" You sepertinya harus memastikan mendapat izin dahulu sebelum membuka pintu dengan kesan lancang. Melihat kedua orang itu dengan pakaian berantakan dan tangan saling menggenggam, otak You langsung terjerumus pada pikiran sesat. "—apa aku sedang mengganggu sesuatu?"
Shun yang duduk pada sisi ranjang melipat kakinya, "Ini tentunya tidak seperti yang sedang kau pikirkan, You."
You terdiam sejenak. Oke, setidaknya mereka berpakaian lengkap, meskipun berantakan. Berarti memang tidak terjadi hal yang tadi sempat ia pikirkan, tapi—what the—apa yang terjadi di sini? Ruangan itu terlihat begitu berantakan, vas bunga pecah dengan kelopak bunga yang berhamburan, tirai satin jendela sobek seperti terkena cakaran makhluk buas. Namun You yakin, malam tadi semuanya baik-baik saja, dan tidak terdengar kegaduhan sama sekali. Lalu, apa yang terjadi?
"Ah ini… karena aku sedang mencoba belajar sihir baru dari Shun, dan ternyata cukup sulit mengendalikannya. Sehingga tempat ini jadi sedikit kacau...?" Kai bermaksud menjelaskan.
"Sedikit kacau? Ou-sama, kau belajar sihir di ruanganmu?" You mengernyitkan alisnya.
Shun melirik Kai, menyadari Kai memang tidak berbakat dalam berbohong. Ia tersenyum tipis seperti biasanya, mengingat You baru saja menjabat menjadi penasehat tinggi kerajaan selama tiga bulan. Tentu saja ia tidak mengetahuinya, terlebih lagi kejadian ini memang bukan hal yang dapat diumbar begitu saja.
"Oh, ini kadang terjadi. Kai tidak sesempurna yang kau pikirkan. Kau harus meminta pelayan utama untuk membersihkannya nanti—dan kau harus menyampaikan sesuatu bukan? Kau terlihat terburu-buru."
You tersentak, "Benar—aku ingin menyampaikan bahwa perwakilan dari raja wilayah Selatan telah tiba. Ia ingin bertemu dengan Ou-sama segera. Mereka ingin membentuk aliansi dengan kerajaan kita."
Bagi Kai, ini bukan kabar yang bagus untuk memulai pagi.
XoXo-XoXo-XoXo
Angin yang terasa semakin bertiup dengan kencang, membuat jubah putihnya berkibar, surai keperakan menutup wajahnya. Ombak mencapai pesisir pantai, namun tidak mampu menyentuh jejak langkah kaki yang diciptakan Shun. Mereka menghilang menjadi buih-buih putih setelah sampai membawa wujud gelombang kecil.
"Shun~"
Suara panggilan membuatnya menoleh, tampak Rui dan Yoru berjalan menghampirinya yang berada di pinggir pantai.
"Hm? Kalian mencariku?" Shun tersenyum kepada Rui.
"Rui mencarimu, Shun-san. Katanya ia tidak menyukai aura pemuda perwakilan dari wilayah Selatan." Yoru menjelaskan.
"Apakah kerajaan kita akan bekerja sama dengan mereka? Aku tidak mau itu terjadi. Aura mereka gelap dan menakutkan." Rui meraih lengan Shun.
Shun meraih helaian surai Rui dengan perlahan, "Keputusan itu ada di tangan Ou-sama. Tentunya, aku meyakini ia akan memilih yang terbaik untuk negeri ini."
"Kau yakin?"
"R—Rui, kita tidak boleh meragukan raja kita!" Yoru mengepalkan kedua tangannya.
Shun terkekeh, "Seperti yang Yoru katakan. Semua akan baik-baik saja. Tentunya—karena aku Maou-sama, sang penyihir hebat ini berada di sisi kalian, fufufu." Ia mengucapkannya dengan nada bangga.
Rui memeluknya erat, membuat Shun terkesiap sesaat karena tidak menduga hal itu akan terjadi. "Aku senang, Shun memilih berada di White Kingdom."
Shun masih tersenyum saat membalas pelukan dari Rui, namun matanya terlihat sendu. Dan yang menyadari hal itu hanya Yoru seorang.
"Angin semakin kencang, bagaimana kalau kembali ke istana untuk menikmati teh dan kudapan?" Yoru menginterupsi, "Aku telah membuat kue yang banyak—"
"Yoru…" Rui menatapnya dengan mata berbinar.
"Ah—Yoru selalu mampu membuat hati merasa nyaman. Benar-benar istri idaman—"
"Shun-san!" Yoru mengerutkan dahinya begitu mendengar godaan dari sang penyihir, memasang wajah cemberut.
"Fufufu. Mari kita kembali."
"Shun. Aku juga akan berusaha untuk membuatmu merasa nyaman berada di sini." Rui mengucapkannya dengan nada serius.
Senyuman Shun terlihat hangat. Aku tahu.
"Terima kasih, Rui~"
[Endear]
Di tebing besar bagian selatan, tidak jauh dari tepi laut terdapat tugu memorial. Ada beberapa makam di sana. Delapan belas jumlahnya, begitu pula dengan nama-nama yang terukir di tugu itu. Kai berdiri tepat di depannya, dengan sebuket bunga lili putih. Ia terlihat khidmat, sementara Shun berdiri tidak jauh dari sana, kedua tangannya bertautan dibalik punggung.
Mereka, yang telah tenang di sana adalah orang-orang yang terbunuh saat kemampuan Kai tak terkendali. Waktu itu ia masih sangat muda, belasan tahun saat mendapatkan berkahnya sebagai penerus tahta. Sebelum Shun datang padanya, malam purnama akan ia lalui berada di penjara bawah tanah istana, dengan rantai penuh mantra pada kaki, tangan dan lehernya. Melalui waktu selama tiga hari dengan rasa takut dan sakit. Takut akan melukai orang di sekitarnya, takut akan ada nyawa yang melayang karenanya. Ia ketakutan.
Meskipun kekuatannya itu selalu dipuji ketika berada di medan perang.
Suatu hari saat ia duduk sendiri di penjara dengan rantai yang telah terbiasa ia gunakan di kala bulan nyaris penuh, seorang pemuda berada di hadapannya, tanpa rasa takut sedikitpun. Mata keemasan Kai menatap nyalang, giginya bergemerutuk, berharap dengan begitu pemuda itu menjauh darinya.
Pemuda bersurai keperakan itu pernah ia lihat, bersama raja muda dari Black Kingdom.
"Kau pasti sangat menderita ya, Kai." Pemuda itu berjongkok, meraih rantai penuh mantra segel. Ia melepaskan rantai itu dengan mudah.
"K—kau! Apa yang kau lakukan?!" Kai mencengkram lengannya. "Khh—Aku berbahaya, apa kau tidak tahu?! Kau akan mati jika berada di sini—"
Pemuda itu justru tersenyum padanya, "Oh ya, kita sudah pernah bertemu. Namun aku akan memperkenalkan diriku sekali lagi. Shimotsuki Shun. Aku adalah penyihir."
Mata Kai berkilat.
Shun menatapnya, "Ini adalah tempat yang tidak pantas untukmu, Ou-sama."
Kai menggeram, jari-jari tajamnya membentuk guratan di lantai. "Kau tidak tahu apapun."
"Kau bisa menahan kekuatanmu dengan lebih baik. Aku tahu kau bisa." Shun lanjut melepaskan rantai ke sekian yang digunakan untuk menahan pergerakan Kai.
"Aku—tidak bisa. Aku berbahaya. Aku akan membunuh lagi—"
Shun mendekapnya, "Kau bisa. Akan aku pastikan itu. Karena aku akan selalu berada di sisimu mulai sekarang."
Kai mempercayai ucapan pemuda itu. Kendati beberapa detik setelahnya, ia nyaris menancapkan kuku tajamnya pada wajah Shun. Meskipun Shun mengatakan ia adalah penyihir. Ia tidak melakukan apapun ketika Kai menindihnya, membuatnya terlihat tidak berdaya.
"Kau mungkin saja mati saat itu, jika aku tidak berhasil mengendalikannya."
"Tapi kau berhasil. Dari tiga hari, sekarang kau hanya kesulitan di hari ke empat belas saja, Ou-sama." Shun mengucapkan dengan nada santai.
"Berkat dirimu. Tanpamu, mungkin aku tidak akan bisa melakukannya."
"Ah~ Kai sedang memujiku. Itu membuat hatiku senang."
"Aku akan melakukan apa saja supaya kau merasa bahagia, kau tahu itu kan? Mungkin terdengar jahat, tapi aku melakukannya agar kau selalu berada di sisiku." Kai meliriknya, "Egois sekali bukan?"
"Aku tidak tahu bagian mana yang terdengar jahat dari hal itu?" Shun menatapnya.
"Maksudnya adalah aku ingin memilikimu untuk diriku saja."
XoXo-XoXo-XoXo
Shun menyenangi bermacam hal yang dapat dilakukan dengan santai, menikmati waktu tanpa melakukan hal yang menurutnya merepotkan. Hajime masih mengingat hal itu dengan baik. Ia pernah menjalani masa lalu beriringan dengan pemuda itu.
"Pekerjaanku sudah selesai. Ingin minum teh bersama?" Kuro-ouji melontarkan pertanyaan.
Shun tersenyum simpul, "Bagaimana mungkin aku menolak ajakan Kuro-ouji. Dengan senang hati."
Tanpa banyak kata, Hajime keluar dari ruang kerjanya diiringi oleh Shun. Sebagian melihat dengan tatapan bingung, namun bagi para pelayan lama, mereka tidak akan terkejut mendapati kehadiran Shun dan senyumannya yang khas itu. Shun melambaikan tangannya dengan santai pada mereka.
Momen minum teh itu berlalu dengan khidmat, karena memang tidak ada hal penting yang dapat dibicarakan. Namun Shun mengakhiri ketenangan di taman itu seraya menatap bunga-bunga yang dulunya tidak ada di sana.
Ah ya~ taman ini dibuat karena ia yang meminta.
"Halaman ini menjadi taman yang mengagumkan, Ou-sama. Aku sangat terkesan ketika melihatnya."
"Ya," Hajime turut menoleh, "Bunga-bunga itu di dapat dari berbagai wilayah. Perlu waktu lama memeliharanya. Namun mawar biru sangat sulit untuk tumbuh. Hanya mawar merah saja yang berhasil mekar."
"Sepuluh tahun memang waktu yang lama, Kuro-ouji. Aku merasa berduka karena kau sepertinya tidak sedikitpun rindu padaku. Meskipun dahulu kita pernah menghabiskan banyak waktu bersama." Shun menyentuh pipinya dengan kesan melankolis.
"Begitu?" Hajime menyesap tehnya, "Apa wajahku yang terlihat senang karena kedatanganmu tak tampak di matamu?"
Shun tampak tak menduga Hajime akan berucap seperti itu, "Ah~ jadi ini adalah wajah senang Hajime? Kau tidak membalas pelukanku tadi pagi."
"Sebenarnya, aku hanya tak menduga akan bertemu denganmu. Aku terkejut kurasa."
"Fufufu, meskipun kedatanganku sebenarnya bukan aku tujukan sebagai kejutan. Bagaimana mungkin aku melewatkan kesempatan untuk bertemu yang mulia Kuro-ouji! Setelah sekian lama!"
"Aku senang karena kau terlihat baik-baik saja. Tidak banyak yang berubah darimu."
"Hajime juga masih terlihat sama—hm~ tidak, kau terlihat semakin tampan dan keren!"
Hajime menghela napas, "Shun."
"Aku mengatakan hal yang sebenarnya, Ou-sama! Aku sanggup memperhatikanmu selama mungkin, menyimpannya dalam ingatanku. Mengagumi figurmu yang mempesona sungguh kebahagiaan untukku."
"Kau terdengar melebih-lebihkan."
"Tapi kau tahu, apa yang kukatakan adalah sebuah kesungguhan."
"Jadi, apa kau merasa menyesal karena telah meninggalkan sisiku?"
"Tidak." Shun tersenyum lembut, "Meskipun tentu saja, sebuah kebahagiaan besar jika dapat berada di samping Ou-sama."
"Kau tidak ingin kembali kemari?"
"Ah, Ou-sama, jika saja takdir mengizinkannya." Shun berujar. "Tapi kau tahu, ini adalah jalan terbaik yang aku pilih."
Hajime terdiam sejenak, memperhatikan kupu-kupu yang hinggap di kelopak bunga mawar, lalu terbang.
"Aku tidak bisa marah padamu karena aku tahu hal itu benar."
[Endear]
"Sudah lama kita tidak bertemu, Haru."
"Shun." Haru tersenyum, ia menunduk sekilas, "Lama sekali. Sosok mengagumkanmu selalu berkesan hingga tidak dapat terlupakan olehku, namun kau terlihat lebih menawan."
Di antara taman bunga mawar merah, pemuda bersurai putih itu terlihat memukau. Ia memang cocok bersanding dengan segala hal yang indah, setidaknya itu yang ada dalam pemikiran Haru.
Shun tertawa ringan, "Kita masih sangat hijau waktu itu, sekarang—kau juga terlihat mengagumkan tuan penasehat." Ia mengangkat tangannya, seakan sedang mengukur perbedaan tinggi mereka. "Namun aku masih orang yang sama, jadi dengan penuh harapan, aku ingin kau menemaniku berjalan-jalan di kota ini."
"Aku?" Alis Haru terangkat. Shun tentunya tahu kalau ia adalah salah satu orang tersibuk di kerajaan. Atau justru karena itu?
"Ya~ kau mengerti alasannya bukan? Lihat kerutan di dahimu dan auramu yang mulai terlihat suram. Hajime dan Haru sudah bekerja dengan begitu keras untuk negeri ini." Shun memainkan jari telunjuknya, mengarahkannya ke kanan dan ke kiri dengan pelan,"Namun jangan cemas, ada Aoi dan Arata yang bisa mengurus tugasmu untuk hari ini, jadi mari bersenang-senang denganku~"
Ah, Haru bersimpati pada Aoi dan Arata.
"Tidak apa-apa. Haru-san memang membutuhkan istirahat. Aku senang jika dapat meringankan pekerjaanmu." Aoi tersenyum hangat.
"Begitulah. Seperti apa yang Aoi katakan." Ksatria utama istana itu turut mengangguk-angguk. "Tapi Haru-san, sebagai bayarannya tolong belikan oleh-oleh dari kota."
"Arata!" Aoi berseru.
Haru tertawa ringan, "Aku mengerti."
Shun mengelus dagunya, "Sikap santai itu, aku mengaguminya, Arata." pemuda itu mendekat pada Arata, menatap iris kehitamannya, "Tapi sesuatu yang baik akan terjadi jika kau lebih serius."
Arata berkedip beberapa saat, "Jika Shun-san berkata seperti itu. Aku akan mengerahkan kekuatanku sepenuhnya hari ini…. apa itu berarti aku akan dapat sekeranjang penuh stroberi?"
"Arata…"
Haru menahan tawanya sejenak, "Baiklah, mari kita bersiap, Shun."
Shun mengikuti langkah Haru menuju kereta kuda yang disiapkan, beberapa pelayan memberikan sapaan dengan ramah. Membuka jendela kereta, Shun memperhatikan para ksatria berlatih giat. Tidak diragukan jika saat ini Black Kingdom adalah pemilik pasukan militer terkuat yang Shun tahu. Mereka disiplin dan memiliki kemampuan berpedang yang mengagumkan. Jika benar perjanjian damai berakhir dan perang akan terjadi, maka Black Kingdom akan menjadi kerajaan yang sulit dihadapi. Belum lagi medan yang sulit untuk melewati wilayah pegunungan untuk sampai kemari. Perbukitannya seakan seperti benteng perlindungan alami wilayah mereka.
Ibu kota dipenuhi dengan keramaian, senyum ramah dari para penjual dan anak-anak yang bahkan tidak tahu apakah kedamaian akan masih berlangsung lama. Hanya orang-orang tertentu yang mencemaskan hal itu.
"Shun-san, lihat! Itu adalah toko roti paling terkenal di sini!" Kakeru melontarkan ucapan penuh semangat. Tangannya menarik lengan Shun tanpa rasa sungkan.
"Oh!" Shun bertepuk tangan.
"Aku menjamin kalau rasa cake, juga croissant nya adalah yang paling enak!"
"Kau selalu memuji setiap toko roti yang ada, Kakeru-san!" Koi berseru.
"Tapi ini memang benar!" Seperti ada sparkle berbentuk bintang di mata Kakeru ketika mengucapkannya. "Mereka bahkan membuat kue dengan coklat yang berbentuk seperti wajah Hajime-sama!"
"Bagaimana kalau kita melihat ke dalam?" Shun menoleh pada Haru, berbinar sama persis dengan mata Kakeru.
"Ya, tentu saja." Haru menyahut, kemudian menepuk bahu Koi. "Bersiaplah menggunakan lenganmu dengan baik, karena banyak barang yang akan kau bawa, Koi."
"Ehh~" Koi menatap beberapa barang yang telah ditenteng olehnya, kebanyakannya adalah milik penyihir White Kingdom. "Sepertinya aku perlu enam tangan."
"Aku bisa mengabulkannya!" Shun berseru.
"Eh?!"
"Tidak, kumohon jangan lakukan itu, Shun." Haru segera mencegahnya.
"Eh~"
Ini akan menjadi hari panjang bagi Haru. Untuk membicarakan apa saja yang telah mereka lalui, tentang yang akan mereka lakukan, dan bahkan untuk sekedar mengenang masa lalu.
XoXo-XoXo-XoXo
"Namanya Shimotsuki Shun."
Anak lelaki yang disebutkan namanya melambaikan tangan dengan ceria, "Salam kenal ya, Haru."
Haru memperhatikan penyihir yang baru saja diperkenalkan Hajime padanya. Tidak mengira Hajime akan merepotkan diri memperkenalkan sang penyihir padanya yang hanya bekerja membantu di perpustakaan istana.
Ia mendengar kabar tentang kedatangan penyihir di kerajaan mereka. Jika penyihir itu memilih untuk tinggal di wilayah mereka, itu berarti menambah keunggulan dalam kehebatan sebuah kerajaan. Setidaknya dalam masa perang seperti ini, wilayah lain akan merasa segan. Namun Haru tidak menyangka, penyihir itu tampak seumuran dengan mereka.
Penampilannya terlihat elegan begitu pula dengan gerakannya. Ada bunga salju yang berjatuhan terlihat dari tangannya, hingga sekian detik Haru ragu untuk menyambut tangan yang ditujukan padanya. Meskipun hanya sedikit lagi hingga tangan mereka saling bersentuhan.
Shun menarik tangannya, "Jangan sungkan padaku, Haru~"
Seperti yang di duga oleh Haru, tangan itu terasa begitu dingin ketika dipegangnya. "Tidakkah kau merasa kedinginan karena salju itu, Shun-san?"
"Oya, ternyata Haru bisa melihatnya."
"Apa itu bukan sesuatu yang harusnya aku lihat?"
"Kau bisa memberikanku sebuah pelukan untuk menghangatkanku~" Shun nyaris memeluk Haru jika Hajime tidak menahan bahunya.
Shun menoleh, "Eh~"
"Jangan melakukan hal yang macam-macam."
"Tapi aku hanya ingin memeluknya saja. Ah! Apakah Hajime juga ingin aku peluk?! Katakan saja jika begitu, aku akan memelukmu dengan sepenuh hatiku!"
"Tidak. Aku hanya tidak ingin kau menjatuhkan Haru dari atas kastil seperti yang kau lakukan padaku."
Haru berkedip, "Menjatuhkan—apa?"
XoXo-XoXo-XoXo
"Begitu banyak hal yang berubah di sini." Shun menatap bunga Blanchefleur di pinggir jalan yang mereka berdua lalui. "Ini menjadi tempat yang indah untuk ukuran wilayah pencipta perang di masa lalu."
"Itu adalah hal yang dilakukan oleh raja terdahulu. Ou-sama tidak berniat untuk mencetuskan perang setelah batas perjanjian damai berakhir. Ia akan memilih untuk memperpanjangnya." Haru menjawab dengan serius. "Ia tidak ingin perang terjadi lagi."
Shun mengangguk pelan, "Aku tahu. Tapi apa kau yakin kerajaan lain berpikiran hal yang sama?"
Haru berpikir sejenak, "Mungkin kerajaan di wilayah Timur dan Selatan perlu diwaspadai. Mereka telah mengalami banyak perubahan selama masa damai ini. Mereka semakin kuat. Bisa jadi kedua negeri itu bermaksud untuk membuat aliansi."
"Lalu bagaimana dengan Wilayah Barat—White Kingdom?"
"Karena Shun berada di sana, kupikir kau tidak akan membiarkan wilayah kita saling berperang. Lagi pula, bukankah ini salah satu alasanmu memilih berada di White Kingdom? Memastikan percikan perang tidak akan muncul di sana."
"Ah, menurutmu begitu? Aku memang lebih menyukai dunia yang damai dan tenang dimana aku bisa menikmati waktu tidur panjang."Shun mengangkat kedua telapak tangannya setinggi bahu.
"Hajime juga menyenangi dunia yang damai." Haru menatap langit, hembusan angin membuat surainya menutupi dahinya, "Karenanya Shun akan membantu menciptakan dunia yang damai. Shun selalu melakukan hal yang Hajime inginkan meskipun ia tidak memintanya."
Ketika menoleh pada sang penyihir, Haru menyadari pemuda itu tersenyum padanya.
"Kaupun juga begitu. Ingin ia bahagia. Karena itulah, kau pantas berada di sisinya."
Kita ingin orang-orang yang kita sayangi bahagia.
XoXo-XoXo-XoXo
[tbc]
XoXo-XoXo-XoXo
12/3/2018
a/n: Sangat kepo tentang cerita rabbit kingdom stage ;(
-Kirea-
