Disclaimer: Tsukiuta © Tsukino Talent Production

Written for self satisfaction. Nonprofit purpose.

a/n: [3/3]. Alur maju mundur.

Thanks to: Kazehaya Yukiko (nggak ada yg ngasih spoiler rk yh, haha), Hwang635 (sip, udah dilanjut ;))

XoXo-XoXo-XoXo

Endear © Kiriya Arecia

XoXo-XoXo-XoXo

III

Shun selalu terlihat hanya melakukan hal-hal yang ia sukai dan senangi saja. Itu tidak benar, namun tampaknya ia tidak mempermasalahkan jika orang-orang berpikiran seperti itu. Ia hanya membiarkannya saja, dan lagi-lagi itu terlihat seperti ia sangat santai dalam menjalani hidup.

Namun ada saat-saat dimana orang-orang itu berpikir ia adalah sosok mengagumkan. Ketika ia merapalkan mantra sihir, ketika ia mengucapkan untaian kata indah diiringi senyumannya. Setiap kali ia menggunakan sihir, itu adalah untuk hal penuh kebaikan.

Shun mampu menciptakan suasana nyaman, membuat hujan salju yang indah, membekukan danau, hal-hal menakjubkan lainnya.

Ia juga mampu melihat masa depan.

Ia melihat sebuah masa depan dimana nyala api memenuhi pandangannya, asap hitam menutupi langit, teriakan nyaring dari sana sini dengan ceceran darah dimana-mana. Sementara ia berdiri di atas sebuah bukit, menyaksikan semuanya dalam diam.

Prajurit dengan seragam penuh warna khas wilayah bertempur hingga tiap detiknya nyawa melayang.

Diantaranya, raja Black Kingdom dan White Kingdom saling menghunuskan pedang satu sama lain. Hajime dan Kai.

Itu adalah dunia yang tidak ingin Shun lihat.

Namun mimpi itu datang lagi dan terus berulang.

XoXo-XoXo-XoXo

"Hei, Shun. Ayo bangun. Ini sudah siang, kau tidak melupakan janjimu untuk menikmati waktu minum teh dengan Rui, kan?" sebuah usapan pada surai membangunkan Shun dari tidurnya. Ia menampakkan iris lime green miliknya. Mendapati Ou-sama duduk di tepi kasurnya.

"Wah, lihatlah ini. Bagaimana bisa Ou-sama merepotkan diri untuk membangunkanku. Rakyatmu bisa menangis kalau mengetahui hal ini." Shun berguling di kasurnya, menenggelamkan wajahnya pada bantal.

"Kenapa kau berpikiran begitu? Aku melakukan tanggung jawabku dengan baik demi rakyatku. Aku tidak akan membuat rakyatku menangis." Kai tertawa kecil. "Lagi pula aku melakukan hal ini dengan senang hati."

"Kau bisa saja meminta Yoru membangunkanku, ia tidak akan keberatan. Atau You."

"Yoru memiliki tugasnya sendiri yang harus dikerjakan, You akan protes padaku jika aku memintanya," Kai bangkit dari duduknya, "Cepatlah, Rui pasti menunggumu. Bukankah kau ingin memberikan oleh-oleh yang dibawa dari Black Kingdom?"

"Ya~ lima menit lagi Ou-sama~"

"Sekarang."

"Ah, Kai sungguh tidak sabaran sekali." Shun merenggangkan tubuhnya dengan malas. Irisnya mengarah pada Kai, "Lalu bagaimana hasil pertemuan dengan perwakilan dari wilayah Selatan kemarin, lancar?"

"Masih dalam perundingan. Menjadikan mereka aliansi bukan hal yang cukup bagus. Rui berkata ia tidak menyukai aura mereka. Jadi aku ragu pembicaraan ini akan berjalan sebaik dengan kerajaan Utara. Meskipun serius, Hajime lebih mudah untuk diajak berunding dibanding mereka."

Shun bangkit dari kasurnya, ia menghampiri Kai, meletakkan kedua tangannya di bahu pemuda tegap itu. "Itu karena sejak awal Kuro-ouji tidak ingin perang terjadi. Jika pembicaraan dengan kerajaan Selatan lancar, aku yakin kerajaan Timur juga akan lebih mudah dihadapi. Lagi pula, kerajaan Timur akan diurus oleh Kuro-ouji. Sepenuhnya, aku yakin Kai akan berhasil melakukan perundingan ini dengan baik."

"Jika kau berkata seperti itu. Aku yakin bisa menanggapinya dengan tenang." Kai menampilkan cengirannya lalu tersenyum lebar. Ia mengacak surai Shun yang berantakan.

"Oh~ aku suka senyuman itu, Ou-sama. Gunakan senyumanmu itu untuk menghadapi mereka."

"Untuk sebuah senyuman, milikmu lebih menawan."

XoXo-XoXo-XoXo

"Ini…" Rui terpana dengan hadiah yang diterima olehnya.

"Boneka kelinci khas dari Black Kingdom." Ujar Shun dengan nada bangga. "Namanya Kuroda."

"B—besar sekali…" Yoru terkesima saat menatap boneka kelinci berwarna hitam besar dalam dekapan Rui.

"Tenang saja, untuk Yoru juga ada. Kain khas dari Black Kingdom bermotif Kuroda!"

"W—wah…" Yoru benar-benar terkesan. "Terima kasih Shun-san…. aku akan membuatnya sebagai pakaian—ah, sepertinya selimut lebih cocok? Atau mungkin tirai kamar?"

"Lucu sekali." gumam Rui sambil memeluk boneka yang didapatnya. "Black Kingdom sepertinya adalah yang tempat indah. Ada aroma hutan dan salju juga kebaikan darinya."

"Itu benar, rakyatnya adalah orang-orang baik dan santun. Bahkan para ksatria penjaganya juga ramah."

"Kuro-ouji adalah raja yang hebat sekali ya? Mampu membuat negara hebat seperti itu."

"Fufufu, tidak hanya itu, Hajime juga adalah orang yang sangat tampan dan bersahaja. Melihatnya dari dekat akan membuat semua orang terpesona—"

Yoru yang memotong cake menggeleng pelan, "Shun-san sangat menyukai raja dari Black Kingdom ya."

"Sangat!"

"Jawaban yang cepat sekali!"

"Namun aku juga menyukai kalian semua dan tentu saja, White Kingdom!"

"Karenanya, Shun akan tetap berada di sini? Meskipun kau sangat menyukai Kuro-ouji?"

"Karena ini adalah tempat yang ditakdirkan untukku~"

"Apa Shun bahagia berada di tempat ini?" Rui menumpu wajahnya pada kepala sang boneka, memiringkan kepalanya.

"Bagaimana menurutmu?" Shun mengerling padanya.

XoXo-XoXo-XoXo

"Shun-san, apa ku mengganggumu?" pintu dibuka sebagian, menampilkan Yoru yang berkunjung ke kamarnya.

"Yoru, ada apa?" pemuda itu terlihat menyahut dari balkon kamar. Pintu balkon terbuka lebar hingga angin malam membuat tirai tertiup angin. Ia sedang menikmati langit malam.

"Ah, aku menyeduhkan teh hijau dan membawa kudapan."

"Kau bisa membawanya kemari."

Yoru melakukan seperti yang diminta seraya memperhatikan sang penyihir. Pemuda itu tampak menumpu tangannya pada railing, apa yang ada di hadapan mereka adalah langit malam berbintang dan laut di bawahnya. Desiran ombak terdengar jelas, bulan berpendar meskipun sebagian dirinya disembunyikan oleh awan.

Shun beralih dari tempatnya, duduk pada kursi yang tersedia di balkon. Tidak mempermasalahkan udara malam yang semakin dingin. Ia menikmati tehnya sambil kembali menatap laut.

"Yoru, duduk dan temani aku." Ucap Shun kemudian.

"Ahh—ya, tentu." Yoru menyahut dengan nada kikuk. Ia segera duduk, tangannya terkepal di kedua paha, memberikan kesan sungkan walaupun sesekali melirik gerak-gerik Shun.

"Apa ada yang ingin kau tanyakan hingga kau memperhatikanku seperti itu?" Shun melirik Yoru.

Yoru segera menggeleng, mengibaskan kedua tangannya cepat, "T—tidak juga. Aku hanya ingin berterima kasih atas segala bantuan Shun-san, akhirnya aku dapat bekerja di istana sekarang."

Sebenarnya memang bukan ini hal utama yang ingin Yoru ucapkan. Mungkin lain kali, Yoru membatin.

Yoru, pemuda itu telah bekerja dua bulan di istana. Sepuluh tahun semenjak pertemuan pertama mereka, ketika Shun menolongnya dan You yang berstatus sebagai korban peperangan. Mereka mengenyam pendidikan atas perintah dari Shun hingga akhirnya mendapatkan kesempatan untuk dapat bekerja di istana.

"Fufufu, kuharap kau tidak akan bosan karena kita lebih sering bertemu dibandingkan dahulu."

"Kurasa setiap waktuku akan penuh hal mengesankan berkat Shun-san!"

"Aku menganggapnya sebagai pujian." Shun menatap Yoru, "Aku orang yang merepotkan lho."

"Aku tahu itu, Shun-san. Tapi aku akan melakukan yang terbaik!" pemuda itu mengepalkan tangannya. Ia berucap dengan senyuman dan mata yang tampak seperti bulan sabit.

Sikap Yoru membuahkan senyum simpul di wajah Shun, "Ini malam yang indah."

"Eh?"

"Langitnya dipenuhi cahaya, teh yang enak dan aku dikelilingi orang-orang baik."

[Endear]

Shun sedang berada di kamarnya, mengajari Rui beberapa sihir ringan ketika Kai membuka pintu kamarnya dengan suara yang keras. Sang raja masuk tergesa membuat pandangan Shun langsung tertuju padanya, dan Rui yang sedang mencoba membuat buku melayang dengan sihir terkejut. Buku itu jatuh ke atas meja.

Wajah sang raja terlihat penuh ekspresi hingga Shun langsung bangkit dari kursinya.

"Kai? Ada apa? Ada masalah dengan perundingan—"

Ucapan Shun terputus. Sang raja memeluknya begitu erat, membuat Shun terdiam. Kai melepas pelukannya, kedua tangannya memegang bahu sang penyihir erat. Ia memperlihatkan wajah yang gembira. "Perundingan kita berhasil. Perjanjian damai telah dipastikan!"

"Itu kabar yang menggembirakan—"

"Ya!" Kai kembali memeluknya, mengangkatnya begitu mudah seraya berputar hingga Shun memegang erat bahu Kai karena kakinya tidak lagi menyentuh lantai. Memperlihatkan itu adalah moment yang begitu membahagiakan.

Rui yang memperhatikan mereka meraih ujung pakaian Kai. "Aku juga ingin dipeluk."

"Ou-sama, kenapa anda harus berlari seperti itu—" You memasuki kamar Shun dengan napas terengah, pemuda itu terkejut ketika sang raja malah bergegas menuju ke kamar Shun ketika perundingan selesai. Ia berkedip beberapa kali.

"Oke…? Kenapa ini terlihat seperti momen sebuah keluarga yang sedang berbahagia?"

Matanya menangkap adegan dimana Kai berputar dengan Shun dipelukannya, dan Rui yang sekarang turut memeluk pinggang raja mereka.

Kai berdehem kemudian, berjalan menghampiri sang penasehat. "Perundingan berjalan lancar. kita berhasil mempertahankan perdamaian."

You mengangguk-angguk paham, "Anda mengagumkan Ou-sama."

Kai merentangkan tangannya dihadapan You dengan senyuman lebar.

"Maaf? Ou-sama?" You mengerutkan alisnya.

"Mari berpelukan." Ujar Kai.

"Ah, tidak—aku—"

Kai merangkul pemuda bersurai merah itu, menepuk-nepuk bahunya kuat, membuat You terbatuk. "Mari tetap berjuang dengan semangat."

"T—tentu."

"Saya mendengar suara yang keras berasal dari sini, apa yang terjadi?!" Iku melihat pelukan manly antara Kai dan You.

"Iku, ksatria mudaku!" sebuah pelukan kembali terjadi, dilakukan oleh sang raja pada Iku.

Sementara You bisa bernapas lega, Iku membeku di tempat, "Eh? Eh? Ada apa ini Ou-sama?"

Yoru berlari dengan cepat, "Saya mendengar ada—"

"Yoru." Sebuah rangkulan kembali terjadi. Kai merangkul Iku dan Yoru bersamaan hingga membuahkan kekehan ringan dari Shun.

Rui melirik ke arah Shun, "Kai sepertinya sangat senang."

"Hmm~ Ia merangkul semua orang dengan hangat." Shun mengiyakan.

"Ia sangat senang karena berhasil mewujudkan hal yang Shun harapkan."

"Ya, itu benar."

Dunia yang damai.

Dunia yang Hajime harapkan.

XoXo-XoXo-XoXo

Brak!

"You! Kudengar Kuro-ouji akan singgah kemari! Benarkah hal itu?!"

Kejutan yang diterima You membuat laporannya tercoret tinta. Mengakibatkan laporan itu tidak lagi layak untuk digunakan. Ruangan kerja pribadinya dimasuki Shun begitu saja.

"Shun! Bisakah kau jangan mengagetkan aku seperti itu?! Aku harus mengulang laporan yang hampir selesai ini!"

"Jadi, bagaimana tentang Kuro-ouji?!" pemuda itu mengabaikan protes dari You. Dari meja seberang ia menumpu kedua tangannya, menatap You dengan penuh minat akan kabar yang didengarnya dari para pelayan.

"Ya, itu benar. Dia berkunjung ke wilayah Timur dan akan singgah kemari besok, begitu isi surat dari burung pembawa pesan."

"Kuro-ouji akan kemari! Ah~ ini sungguh kabar yang membahagiakan!" Shun menggenggam erat kedua tangannya.

"Kalau kau sudah selesai dengan urusanmu, tolong biarkan aku menyelesaikan pekerjaanku yang sangat banyak ini."

"Oh, maaf soal coretan itu You." Shun mengarahkan telunjuknya pada lembar dokumen yang bernoda. Dengan sedikit sihir kecil, goresan tak disengaja itu menghilang. Menyisakan You yang memasang ekspresi terkesima.

"Sampai nanti~"

Penyihir itu pergi secepat ia muncul.

You menyandarkan punggungnya pada kursi, "Aku harus mengakui ia adalah penyihir yang sangat hebat. Tapi aku tidak akan mengatakan hal itu di depannya."

XoXo-XoXo-XoXo

"Sebenarnya aku singgah kemari untuk bicara dengan raja White Kingdom." Hajime berujar ketika kemunculannya justru disambut penuh semangat oleh Shun.

"Eh~ tidak denganku?!"

"Kita bisa bicara nanti." Sahut Hajime. "Kita punya banyak waktu."

Shun mengangguk kemudian, ia meletakkan tangan di depan dadanya dan menunduk hormat. "Aku mengerti."

Sang Ou-sama dari negeri tetangga itu berlalu, diiringi oleh sosok-sosok yang Shun kenali. Haru dan Kakeru, juga beberapa ksatria. Seperti biasanya, Haru selalu tersenyum ramah, dan Kakeru melambaikan tangan penuh semangat padanya dengan cengiran lebar.

Mereka semua kembali bertemu di ruangan milik Kai. Shun terlihat tenang meskipun bertemu dengan sang Kuro-ouji. Hal itu membuat You terkesan karena betapa Shun penuh semangat yang melimpah ruah kemarin. Kedua raja membicarakan keberhasilan perjanjian damai. You dengan setia mendengarkan pembicaraan sambil mencatat poin penting dari pembicaraan itu, sama persis dengan yang Haru lakukan. Kakeru berdiri bersama barisan ksatria, sementara Shun duduk elegan di sebelah raja mereka, Kai.

Untuk pertama kalinya You melihat Shun tersenyum dengan begitu indah.

XoXo-XoXo-XoXo

"Meskipun aku berkata kita memiliki banyak waktu. Aku tidak dapat berkeliling di kota Mare." Ucap Hajime, tangannya berada di belakang punggung, dan tatapannya tertuju pada lautan.

"Tentu saja aku mengetahui hal itu, Kuro-ouji." Shun menatapnya. "Lagi pula, yang ingin kutunjukkan hanya satu tempat ini saja."

Tebing yang luas berada di belakang kastil hingga keindahannya tersembunyi, tanahnya tak terlihat karena ditutupi rumput hijau bercampur bunga liar aneka warna. Ada banyak bunga lili putih di pinggir tebing. Deburan ombak menerpa karang terdengar jelas, namun tidak menganggu. Beberapa pohon berada di bagian lain tepi tebing, memberikan tempat berteduh. Jika melihat ke depan, akan terlihat lautnya yang jernih namun sebiru langit di kejauhan, juga awan besar berarak perlahan namun pasti. Bulan yang meskipun tak bersinar terlihat begitu dekat dan besar hingga bagian gelapnya tampak. Seperti dapat digapai dengan tangan kosong.

"Kau tidak akan mengira waktu berlalu dengan cepat meskipun kau hanya diam menatapnya. Ketika tersadar, langit biru disepuh merah oranye."

"Dengan kata lain, ini adalah tempatmu bermalas-malasan."

"Teehee~ Aku menjatuhkan diriku di sini, lalu angin membuaiku. Setelahnya aku akan bangun dengan keadaan yang lebih baik. Ini termasuk mengumpulkan energi dari alam."

"Ini memang tempat yang bagus."

"Pernahkah kau berpikir bagaimana keadaanku selama ini, Hajime?"

"Seperti yang kau katakan, sepuluh tahun adalah waktu yang lama. Sesekali aku teringat dan memikirkanmu."

"Yaah~ itu cukup bagiku."

"Mungkin lebih sering dari yang kau kira. Namun aku tahu kau akan baik-baik saja, Shun."

Shun jelas senang mendengar ucapan itu, "Tempat ini, White Kingdom, Black Kingdom, seluruh daratan kita akan diliputi kedamaian untuk waktu yang sangat lama. Baik Hajime, Kai dan yang lainnya tidak akan perlu lagi melukai siapapun. Pedang kalian tidak lagi untuk menghilangkan nyawa. Sebuah masa depan yang indah, bukan?"

Hajime mengelus surai putihnya tanpa Shun duga, "Kau sudah berusaha dengan baik, Shun."

"Ou-sama!"

"Ya, ya, aku refleks melakukannya karena sepertinya kau menginginkannya."

"Ou-sama~ tolong lakukan sekali lagi~"

[Endear]

Mereka melihatnya dari atas kastil, Shun yang menggandeng lengan Hajime dengan erat, berjalan di taman mawar biru. Shun terlihat berceloteh dengan semangat sementara Hajime hanya menanggapinya sesekali. Entahlah apa yang mereka bicarakan.

"Kau tidak mencemaskan Shun yang mungkin saja memilih kembali ke Black Kingdom?" tangan kanan Haru menggenggam jurnalnya erat ketika menanyakan hal itu.

Pandangan Kai masih tertuju pada kedua orang itu, "Tidak juga."

"Hajime sangat menginginkan kedamaian tercapai. Karena itu adalah hal yang diinginkan Hajime, maka itu pula yang Shun ingin wujudkan."

"Karena Shun menginginkannya, aku pun berusaha mewujudkannya." Ujar Kai.

"Hal itu telah tercapai." Tangan kiri Haru meraih railing yang dingin.

"Kau mencemaskan posisimu di samping Hajime akan diambil Shun kembali?"

"Sejak awal itu bukan tempat milikku. Jika ia ingin, aku akan mengembalikannya. Lagi pula, aku bukan penyihir, kami tidak memiliki penyihir semenjak Shun memilih pergi kemari."

Kai menyentuh lehernya sungkan, "Aku berusaha membuatnya nyaman, walau terkadang aku menyakitinya. Meskipun aku melakukan banyak hal, aku tidak tahu apakah aku telah membuatnya bahagia…? Kupikir, jika aku dapat membuatnya bahagia, ia tidak akan meninggalkanku."

Haru mendengarkan ucapan Kai, namun matanya tertuju ke laut lepas.

'Tapi, Shun meninggalkan Black Kingdom untuk membuat Hajime bahagia.'

Mencegah kembali terjadinya perang.

Berusaha menjaga kedamaian seperti yang Hajime inginkan.

XoXo-XoXo-XoXo

Haru ingin tahu, apa yang mereka bicarakan. Apakah tentang laut menakjubkan White Kingdom? Tentang oleh-oleh dari Kota Initium tempo lalu? Tentang apa?

"Oww!"

Sebuah jentikan membuat Haru mengaduh, tidak terlalu sakit. Ia hanya refleks mengucapkannya. Ia menyentuh dahinya sambil mendongak, Hajime menampilkan seringai ke arahnya.

"Kau melamun, Haru."

"Aku hanya sedang memikirkan sesuatu." Haru melirik buku yang sedang dibacanya.

Hajime duduk di sebelahnya, melipat tangan, "Kau selalu memikirkan sesuatu. Apa kau ingin meraih jabatan yang lebih tinggi? Menggantikanku misalnya?"

"Mana mungkin aku ingin hal seperti itu." Haru menjawab cepat.

Hajime tidak menjawab, membuat Haru menoleh padanya. Ia mendapati sang raja berjubah hitam itu memejamkan mata, bersandar pada bahunya.

"Hajime…. Apa kau mengajak Shun kembali ke Black Kingdom?"

Hajime membuka matanya, "Apa kau pikir aku singgah kemari untuk mengajaknya?"

"Aku hanya sedikit penasaran saja…"

"Untuk apa? kami telah mempunyai kebahagiaan masing-masing. Ia senang berada di sini."

"Pernahkah kau berpikir, kalau kau akan lebih bahagia jika bersama dengannya?"

"Aku yang sekarang berbahagia. Sama seperti dirinya."

XoXo-XoXo-XoXo

"Sepertinya sekarang Kuro-ouji melewati Kota Pluvia. Ia pasti melihat banyak bunga hydrangea di bawah rintik hujan."

"Karena Shun-san yang mengatakannya. Aku yakin hal itu benar." Yoru menyahut, Pluvia dikenal sebagai kota hujan, hujan nyaris terjadi setiap saat di sana. Seperti biasa ia menemani waktu santai sang penyihir bergelar Maou-sama. Menuangkan teh untuknya.

Yoru duduk berhadapan dengan Shun, dengan cangkir yang juga berisi teh. Ia mengiringi arah pandangan Shun. Shun menatap taman bunga mawar biru yang bermekaran.

"Shun-san, kau sangat menyukai Kuro-ouji."

Shun menanggapi ucapan Yoru dengan kekehan kecil, "Bukankah hal itu sangat jelas?"

"Pernahkah kau berpikir, kalau kau akan lebih bahagia jika bersama dengannya? Bukan dengan kami." Yoru menatap bayangannya di cangkir teh. Menghindari tatapan mata saat bertanya. Ini adalah hal yang sangat ingin ia katakan pada Shun.

"Tentu aku akan berbahagia jika dapat berada di sisinya. Namun, aku lebih menginginkan Hajime bahagia dan kebahagiaan bagi semua orang."

"Itu—"

"Terdengar aneh diucapkan olehku? Aku ingin ia bahagia, meskipun aku bukan bagian di dalamnya."

"Itu adalah harapan yang begitu besar. Namun, bukankah itu terdengar menyedihkan?"

"Aku hanya ingin membuatnya terdengar dramatis." Tawa ringan mengiringi ucapan Shun. "Kau tahu, jika kita membuat orang yang kita sayang bahagia, kita akan turut merasakan kebahagiaan itu."

"Kupikir, rasanya akan menyakitkan ketika orang yang kita sayang dapat berbahagia tanpa kita di dalamnya. Jika bisa, aku ingin bahagia bersama-sama."

"Kamu tidak bisa mengukur kebahagiaanku dengan standar milikmu. Karena kebahagiaan memiliki banyak bentuk."

"Kalau begitu, aku ingin bertanya padamu, Shun-san."

"Silakan."

"Apa sekarang kamu bahagia, bersama kami di sini?"

Shun kembali terkekeh, sebuah senyum terukir di wajahnya, ia menyentuh surai kehitaman Yoru, "Tentu saja, dan itu semua berkat kalian."

XoXo-XoXo-XoXo

Shun berbaring pada rerumputan tepi tebing yang tinggi. Menikmati cahaya matahari sore hingga lelap di sana. Sebuah bayangan kemudian menutupinya.

Kai berjongkok, "Hei, sleeping beauty."

Pemuda itu tak bergeming. Ia masih terlelap, tidak terganggu dengan rerumputan yang sesekali bergoyang menerpa wajahnya, pipinya mengenai bunga liar berwarna ungu.

Kai mendaratkan diri di rerumputan, duduk bersila. Irisnya menatap Shun, tangannya menjauhkan beberapa helai rumput yang mengenai wajah pemuda itu.

"Apakah aku sudah membuatmu bahagia?"

"Semua orang begitu perhatian padaku." Shun menyahut, ia menampilkan iris lime green yang berkilau di penglihatan Kai. "Menanyakan apakah aku bahagia atau tidak."

Kai menjauhkan tangannya, ia meletakkan kedua tangannya di pahanya yang terlindung jubah biru. "Jadi, jawabanmu?"

Shun menggapai lengan Kai, menariknya begitu kuat hingga sang raja berbaring tepat di sebelahnya. Kai menoleh pada pemuda itu. Shun telah menatapnya terlebih dahulu dengan lengkungan kurva manis di bibirnya.

"Aku bersama orang-orang yang kusayangi sepenuh hati di dunia penuh kedamaian. Sekarang, aku bahagia lebih dari yang kamu duga."

Shun bermimpi melihat sebuah masa depan, dimana raja Black Kingdom dan raja White Kingdom saling menghunuskan pedang.

Mimpi itu telah berakhir.

XoXo-XoXo-XoXo

[End]

XoXo-XoXo-XoXo

a/n: akhirnya Shun bisa tidur dengan nyenyak tanpa mimpi buruk setelah sepuluh tahun. wwwww

terima kasih sudah meninggalkan jejak di ff ini \(o)/

7/4/2018

-Kirea-