Dragon Ball Super
Original : Akira Toriyama
.
.
.
Menjadi saudara satu-satunya bukan perkara yang mudah.
Melewati satu tahun hidup di jalanan adalah kebiasaan si kembar. Mereka pernah beberapa kali mencuri baju. tapi untuk kali ini, baju mereka sobek lagi karena berbagai kejadian. Satu-satunya yang tidak pernah sobek adalah syal oren milik Lapis.
Tapi nampaknya, mereka tidak mencuri baju dulu. yang saat ini mereka butuhkan adalah makanan dan uang.
Lazuli sangat mengamati langkah adiknya. setiap kali Lapis bertindak, Lazuli akan mengingatkannya. setiap kali Lapis ingin melakukan ini dan itu, Lazuli akan membantunya.
Tidak ada yang lebih baik di dunia ini kalau mereka sudah saling memiliki.
Si kembar duduk meringkuk di pinggiran dinding retak, menaruh satu gelas kosong di hadapan dan beharap belas kasih semua orang yang berlalu lalang lewat di depan mereka.
Tapi tak sedikit pun yang menaruh simpati pada keduanya. seolah tak melihat dua insan kecil tengah duduk meringkuk di bawah kaki mereka. Keduanya cukup bersabar, setidaknya mendapat beberapa logam saja sangat bersyukur.
"Lazuli?" panggil Lapis.
"Apa?"
Lapis agak terdiam sejenak, tapi dia membuka mulutnya lagi. "Kau pernah berpikir, kalau suatu hari kita akan di adopsi?"
Mata Lazuli agak melebar dengan pertanyaan itu. tapi nampaknya, Lapis seperti menginginkan sebuah jawaban.
"Hmmm... tidak, aku tidak penah berpikir seperti itu" gumamnya.
"Kira-kira, orang tua mana ya yang mau berbaik hati merawat kita?" tanya Lapis lagi.
si Pirang menghela nafas ringan, tangannya sibuk mengusap-usap rambut adiknya.
"Tidak akan ada yang mau mengadopsi berandalan seperti kita, Lapis. yang kita lakukan sekarang adalah bertahan hidup"
"Memangnya kenapa?"
"Kalau kita di adopsi, pasti kita akan di pisahkan. aku tidak mau begitu" tambah Lazuli lagi. "Pokoknya, kau harus bersamaku"
"Tapi kalau ada orang tua, kita bisa meminta apa saja pada mereka kan?" Lapis bertanya lagi.
"..."
Lapis, kau terlalu berharap banyak... pikir Lazuli.
"Kalau kita punya orang tua lagi, kita tidak akan seperti ini! di luar sana ada orang yang akan merawat kita, aku yakin pasti ada yang menyayangi kita kok!"
Lazuli menghembus nafas tipis, dia hanya berharap agar Lapis tidak melontarkan kalimat konyol seperti ini.
Tring!
Satu logam jatuh tepat di dalam gelas mereka.
"Lihat Laz! satu logam Zeni!" kata Lapis, nampak senang.
Tapi bagi Lazuli, ini sangat kurang. mereka sudah duduk disini hampir 3 jam. "Tapi itu hanya satu, kita belum mendapatkan banyak"
"Apa kita harus pindah tempat?"
"Bukan hanya pindah dari sini, tapi... kita harus pindah ke kota lain" ucapnya.
Lapis agak berkedip heran. pindah? ke kota lain?
Lazuli sudah memikirkan ini sebelumnya, dia memang berniat pindah. kota ini terlalu keras untuk anak-anak jalanan seperti mereka berdua. jadi, pilihan yang tepat sekarang adalah, mereka harus mencari tempat yang lebih baik.
"Kita akan pindah kemana, Laz?" tanya Lapis lagi.
"Ke Kota sebelah, kita bisa menumpang kendaraan dan pergi dari sini"
"Kota sebelah kan jauh, naik mobil pasti butuh waktu berhari-hari"
"Kita bisa naik truk, yang pasti kita bisa menyelinap ke sana dan segera pindah dari sini"
Lapis berkedip lagi. terkadang, Lazuli selalu mempunyai ide cemerlang yang dapat mengubah jalan hidup mereka.
"Baiklah... kita akan pergi" jawabnya, pelan.
"Sekarang, kita cari makanan lagi ya"
Di sebuah pasar...
Seperti biasa, si kembar akan mencuri makanan disaat kesempatan tiba. mereka berdua merangkak dari kolong ke kolong, mengambil makanan di atas meja secepat kilat tanpa ketahuan sang pemilik.
Mereka merangkak lagi ke sebuah meja yang kolongnya tertutup taplak, Lapis ingin mengambil semua tusuk daging kuda dan segera membawanya kabur.
"Cepat ambil dagingnya, Lapis. kita tak punya banyak kesempatan" bisik Lazuli, dia mengangkat sedikit taplak meja, memastikan tidak ada yang melihat.
Tangan kecil si rambut hitam itu masih berusaha meraih. "A-aku sedang mencoba..."
"Ambil yang banyak, supaya bisa jadi persediaan kita" tambahnya lagi.
Lapis sedang mencoba, sudah ada 10 tusuk daging yang dia ambil, kali ini dia akan mengambil lebih banyak. tangannya menyentuh sesuatu yang besar, wajah Lapis langsung berbinar-binar.
"Waah! ini pasti ukurannya besar!"
Ketika ia segera menariknya ke bawah, Lapis merasa tangannya tidak dapat di gerakkan.
"...Ugghh!?"
"Ada apa Lapis? cepat turunkan tanganmu" sahut Lazuli.
"A-aku sedang mencoba! tapi tanganku tidak bisa bergerak di atas" Lapis mulai panik.
"KENA KAU PENCURI KECIL!"
"HAAAAAAAAH!?"
Sang pemilik yang membungkuk ke kolong meja mengejutkan si kembar.
"Pantas saja daganganku ada yang hilang! jadi pencurinya kalian, Hah!"
Dia langsung menyeret si kembar keluar dari kolong meja. memegang pergelangan tangan mungil mereka erat-erat sehingga si kembar tak bisa kabur.
"Kalian bisa makan di kantor polisi, ayo ikut aku!" ucap si pedagang.
Lapis dan Lazuli terus meronta.
"Lepaskan kami! Lepaskan kami!"
"Hei! berhenti memberontak, dasar berandalan!"
Kehebohan ini menarik perhatian semua orang di pasar. memperhatikan si kembar berpakaian kusut berantakan dan tubuh kurus, memandang keduanya dengan tatapan sinis dan jijik...
"Mereka ini kan yang suka mencuri?"
"Iya! mereka berdua ini berandalan nakal, mereka pernah mencuri uang"
"Anak menyedihkan, siapa sih orang tua mereka?"
"Mereka tidak punya orang tua, lihat saja... mereka kurus sekali!"
Lazuli meringis. tatapan mata semua orang yang memandanginya begitu mengerikan. seolah Lapis dan dirinya adalah sebuah kesalahan di dunia ini. tak tanggung dia juga mendengar sedikit sorakan meledek dari anak-anak kaya seusianya.
Lazuli merasa tak mampu hidup jika saja pedagang ini akan membawanya ke kantor polisi.
Tak ada pilihan lagi
Lapis dan Lazuli bersama-sama menggigit tangan si pedagang dan langsung kabur.
"Adduhh!?"
"Ayo Lazuli!" teriak Lapis, sekalian dia membawa satu baskom tusuk daging kuda. si kembar akhirnya berhasil melarikan diri.
"TUNGGU! KEMBALIKAN DAGANGANKU!"
Ramai sekali...! Lazuli bergumam panik. dengan banyaknya orang-orang di pasar ini, tentu jalan mereka untuk kabur semakin terhalang. apalagi pedagang lain juga ikut mengejar.
"Mereka berdua itu berandalan yang suka mencuri makanan! cepat tangkap!"
"Ayo ayo ayo!"
Mata Aquamarine Lazuli melirik ke kanan dan ke kiri, tak ada jalan bagi mereka untuk bersembunyi. semuanya benar-benar tertutup dengan keramaian orang.
"Lazuli! jangan menoleh kebelakang! kita harus lari!" sahut Lapis.
"Hahh...! hahh...!"
Lazuli melihat sebuah mobil box dengan pintu terbuka kebetulan parkir di sebrang. si pirang langsung menggenggam tangan adiknya dan membawanya pergi kesana.
"Ayo lari ke truk!"
"Seseorang! tangkap mereka berdua!" teriak si pedagang dari belakang. kini mereka benar-benar ganas.
Sedikit lagi!
Si kembar berlari ke pintu mobil box yang masih terbuka sebagian, mereka naik ke dalam dan Lapis langsung menutupnya rapat-rapat.
BLAAMMM!
"hahhh! hahhh... hahhhh... hahhhh..."
Saking terburu-burunya, satu baskom tusuk daging kuda berhamburan di lantai mobil.
"Mereka... hahhh... me-mereka... tidak akan... menemukan... kita disini.. hhh" ucap si pirang sambil terengah-engah.
"Ughh... kalau kita tertangkap, kita akan di hajar massa" sambung Lapis. tangannya memungut kembali beberapa tusuk daging yang jatuh di lantai mobil.
"Ini masih bisa di makan?" tanya Lazuli.
"Tenang saja, belum 5 menit kok"
Brmmmmm~!
"Ah!?"
Lazuli dan Lapis terjatuh karena getaran mobil box yang mulai melaju.
Kini, mereka terkurung di mobil tersebut. entah akan membawa kemana mereka pergi.
Lazuli sedikit mengintip dari balik kaca mobil, para pedagang pasar nampak beramai-ramai mencari dirinya. tapi beruntung, Lazuli bernafas lega. jika saja tidak ada mobil ini, mungkin dia dan Lapis akan masuk penjara.
"Ngomong-ngomgong, ini mobil apa ya?" tanya Lapis.
Lazuli mengamati setiap sudut mobil. ini adalah mobil box, disini hanya banyak kotak-kotak terkunci. tapi..
hhmmm...
Bau ini...
Lazuli mencium aroma tajam dari kotak tersebut. kebetulan, ada yang masih terbuka sebagian.
"Laz, apa yang kau lakukan?" tanya Lapis.
Lazuli membuka paksa kotak tersebut. seketika, pasang matanya melebar. seperti melihat sebuah keajaiban yang belum pernah ia rasakan dengan kepala sendiri.
"Waaahh... ini.. MAKANAN!"
"WAAH!?"
Tidak tanggung-tanggung, ini adalah mobil box pengangkut makanan. Potongan Roti dan Sosis menjadi rejeki mereka.
"Kita beruntung hari ini!" Lapis berteriak girang, tapi Lazuli langsung membekap mulut adiknya.
"Sshh! diam, nanti suara kita terdengar supir. sebaiknya kita makan sekarang!"
Lapis mengangguk cepat.
"Kita buka kotak lain, siapa tahu ada makanan lebih banyak lagi"
"Yang ini juga banyak!"
Mereka bersama-sama melahap makanan yang ada di dalam mobil itu. ini adalah hari keberuntungan di bawah musim hujan. kemanapun mobil tersebut membawa si kembar pergi, mereka akan tetap bersama.
TO BE CONTINUED
